Tampilkan postingan dengan label Bangkutaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bangkutaman. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 November 2014

Tujuh untuk Jokowi


Saya selalu bersikap apatis bahkan skeptikal tiap kali menjelang Pemilu. Bagaimana tidak, nuansa pesta demokrasi di negara ini sungguh tidak menyenangkan. Mulai dari proses pemilihan calon yang tidak jelas, sampai penempatan kita sebagai penentu yang hanya dijadikan objek dari dari Pemilu tersebut. Sikap feodal partai politik yang terus dipelihara, bahkan setelah lima belas tahun sesudah reformasi, melanggengkan proses-proses kotor tersebut.

Namun ada yang berbeda pada Pemilu 2014 yang baru saja berlalu. Sosok Jokowi datang membawa jawaban atas kemuakan kita terhadap kebanyakan pemimpin saat ini. Kebaruan adalah kata kunci disini. Bagaimana metode dan sikap yang diterapkannya adalah perlawanan dari apa yang terlanjur melembaga: elitis, berjarak, serba tertutup.

Jokowi adalah tokoh protagonis di dunia politik beberapa tahun ini hingga Pemilu 2014 yang lalu. Sejak kinerjanya sebagai Walikota Surakarta terendus, langkahnya seakan mulus menuju istana. Dengan etos satu katanya, “kerja!”, Ia memenangkan hati rakyat, yang mayoritas masih berkategori wong cilik.

20 Oktober yang lalu menjadi salah satu batu penanda dalam perjalanan sejarah Indonesia. Setelah Sukarno, kita kembali memiliki Presiden yang “diangkat” dan “diantar” oleh rakyat. Harapan juga optimisme tentu kita titipkan. Dan semoga amanah tersebut dijawab dengan baik oleh Bapak Presiden Jokowi.

Sebagai pengantar Jokowi dalam mengarungi lima tahun pertamanya sebagai Presiden, saya ingin membuat daftar lagu khusus untuknya. Daftar ini berisi tujuh lagu dari musisi yang sangat bersemangat dan tentu saja saya sukai. Tak ada lagu metal, musik kesukaan Jokowi, tapi ketujuh lagu ini tentu sangat bisa menumbuhkan harapan dan optimisme Jokowi juga kita semua. Ini dia, Tujuh untuk Jokowi.

Juara Dunia – Sir Dandy

Lagu ini sebenarnya dibuat Sir Dandy khusus untuk petinju kebanggaan Indonesia, Chris John. Tapi saat mendengarkannya kala kontestasi pilpres yang lalu saya jadi teringat sosok Jokowi. “Berbadan kecil seperti Maradona//Menari lincah seperti balerina.” Sangat Jokowi bukan lirik ini? ceking namun lincah kesana kemari.

Jadi, untuk Indonesia yang lebih baik, ayo, Sikat, Jok!

Nyala – Pure Saturday

“Percayalah terang akan datang di saat yang tidak terduga.” Lirik pembuka lagu ini langsung membawa sebuah optimisme yang manis. Siapa sangka harapan bernama Jokowi itu datang begitu cepat. Hanya dalam waktu tiga tahun, sejak kinerjanya mulai terpantau, Ia sekarang jadi pemimpin kita.

Semoga kinerja Jokowi kedepan akan mengagumkan seperti vokal Iyo di lagu ini: tinggi tapi tetap lembut, tanpa harus berteriak-teriak.

Langkah Baru – Bangkutaman

Jokowi adalah sebuah penanda bahwa kita semua akan mengambil langkah baru dalam membangun Indonesia. Lupakan cara-cara elitis yang diterapkan Presiden terdahulu. Jokowi datang dengan janji akan lebih dekat kepada rakyat. Saya rasa tak sulit bagi Jokowi merealisasikan itu. Dan lagu folk rock dinamis dari Bangkutaman ini siap menemani Bapak Presiden memulai hari untuk kerja kerja kerja. Hehehe.

Berjalan Lebih Jauh – Banda Neira

Lagu ini dapat mewakili ajakan Jokowi kepada masyarakat untuk tidak tinggal diam. Setiap kita harus mengambil peran, sekecil apapun itu, dalam proses pembangunan. “Bangun//Sebab pagi terlalu berharga ‘tuk kita lewati dengan tertidur//Bangun//Sebab hari terlalu berharga ‘tuk kita lalui dengan bersungut-sungut.”

Lagi-lagi harapannya kita bisa “berjalan lebih jauh//menyelam lebih dalam//jelajah semua warna//bersama.” Ya, Bersama. Bukan sekelompok orang saja tapi semua elemen masyarakat, pemilik sah negara ini.

Rayakan Pemenang – Morfem

“Lagu ini Jokowi sekali.” Saya mengamini perkataan seorang kawan saat pertama mendengar lagu ini. Kita patut mencurigai bahwa Morfem menciptakan lagu ini khusus untuk kemenangan Jokowi pada Pemilu lalu. Lagu ini sebenarnya bertema “from zero to hero” yang sangat umum. Tapi Jimi Multhazam, seperti biasa, bisa menyusun lirik yang sanga memesona. Dengan balutan fuzz rock membuatnya klop menjadi anthem bagi kemenangan Jokowi, Kemenangan rakyat, kemenangan kita semua.

Menjadi Indonesia – Efek Rumah Kaca

Jokowi sudah sempat mendengarkan lagu ini belum ya? Kalau ia cuma sibuk mendengarkan lagu-lagu metal, saya sarankan padanya untuk rehat sejenak kemudian mendengarkan lagu ini. Menjadi Indonesia adalah lagu nasionalisme yang sangat mengena dengan keadaan negara kita saat ini. Tidak ada penjelasan historis-filosofis ala Parakitri Simbolon atau kata indah selangit khas Goenawan Mohamad. Hanya ajakan sederhana “lekas bangun dari tidur berkepanjangan” kemudian “menjelma dan menjadi Indonesia”. Hanya seperti itu. Sederhana dan, ya itu tadi, sangat mengena.

Tolong, seperti itu lah, Pak. Kami tahu kok, anda sudah tahu caranya.

Bangunlah Putra-Putri Pertiwi – Iwan Fals

Yang mengagumkan dari Iwan Fals (sebelum Ia menjadi duta produk kopi tentunya) adalah Ia memilih jalan kritik untuk mencintai negaranya. Tak terhitung lagu berlirik pedas yang Bang Iwan ciptakan untuk menegur rezim yang tidak berpihak pada rakyat. Namun pada lagu Bangunlah Putra-Putra Pertiwi Iwan memilih jalan lain. Jelas Ia menghembuskan semangat positif di dalam liriknya.

“Terbanglah garudaku//singkirkan kutu-kutu di sayapmu//berkibarlah benderaku//singkirkan benalu di tiangmu//jangan ragu dan jangan malu//tunjukkan pada dunia bahwa sebenarnya kita mampu.”

Saat menciptakan lagu ini mungkin Iwan Fals hanya berseru pada rakyat, tidak pada pemerintah yang selama ini selalu menjadi oposisinya. Tapi kali ini Iwan, juga tentu saja kita semua, dapat menyerukannya juga pada Jokowi, Presiden yang saat ini menjadi tumpuan harapan kita dalam bernegara.


Selasa, 17 Januari 2012

Resolusi Konser 2012


Saya suka mendengar/menonton musik Indonesia... Ah, klise. Sudah sangat sering saya katakan itu. Tak usah dibahas lagi.

Salah satu keinginan saya di tahun 2012 ini adalah lebih banyak menonton konser band-band kesukaan. Ada banyak band/musisi keren (menurut saya) Indonesia yang belum saya datangi pertunjukan live-nya. Alasannya lebih kepada karena mereka belum sempat main di Makassar sih. Kalau saya yang mendangi konser mereka di Jawa kan berat di ongkos. Jadi untuk sementara bersabar saja dulu, sambil berharap ada promotor yang mau mengajak mereka main ke Makassar.

Ini dia daftar resolusi konser saya di tahun 2012:

Dialog Dini Hari

Mereka adalah trio supergrup dari kancah musik Bali. Personilnya datang dari band-band yang lebih dulu eksis di ranah musik pulau dewata tersebut. Dankie (Navicula), Michael Bronzio (eks The Hydrant) dan Putu Deny Surya Wibawa (Rokavatar). Bertiga mereka bersekongkol untuk memainkan musik yang tidak tersalurkan di band sebelumnya. Album pertama Beranda Taman Hati yang berasa folk-blues langsung membuat saya jatuh cinta sejak pertama mendengar. Dialog Dini Hari, tahun ini kita harus bertemu!

Sir Dandy

Tak perlulah saya menjelaskan lagi. Lesson #1, album perdana orang gila ini, hingga kini masih mampu membuat saya terus tertawa geli tiap kali mendengarkannya. Sir, tahun ini kita harus bertemu! Sikat Jon!

Melancholic Bitch

Mungkin harapan saya untuk menyaksikan band terbaik Jogja ini akan sangat tipis. Akhir Juli tahun lalu mereka telah mengumumkan akan 'rehat' hingga waktu yang belum ditentukan pada sebuah konser yang emosional. Masing-masing personil sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Dalam doa sehabis sholat, saya sering meminta agar mereka segera berkumpul dan mengelar pertunjukan lagi. Tentu dengan harapan saya ada di tengah-tengah konser reuni tersebut. Amin. Om-om Melbi, tahun ini kita harus bertemu!

Jogja Hip-Hop Foundation

Baru kali ini saya benar-benar menyukai lagu hip-hop. Panji-panji Ngayogyakarta Hadiningrat. Merekalah yang telah berhasil membuat saya keracunan musik para rapper dengan lirik berbahasa jawanya itu. Ketika budaya lokal bertemu budaya global. Ketika beat hip-hop bercampur dengan syair tradisional jawa. Ketika batik matching dengan sneaker. Saat itulah anda siap digoyang oleh sekumpulan bernama Jogja Hip-Hop Foundation. Kang mas-kang mas, janji ya, tahun ini kita harus bertemu!

Armada Racun

Lagi-lagi band Jogja. Kota ini memang pencetak manusia-manusia dengan predikat musisi keren. Yang ini band beracun bernama Armada Racun. Mereka sudah menjadi racun bagi saya sejak pertama mendengar lagu Amerika. Belum lagi lagu-lagu lainnya di album Le Peste semacam Tuan Rumah Tanpa Tanah, Lalat Betina dan lainnya. Eh album mereka ini juga masuk dalam album terbaik tahun 2010 pilihan saya loh. Tapi sayang saat ini mereka juga sedang rehat. Dalam masa pengerjaan album sih dengar-dengar. Sungguh saya sudah sangat siap untuk diracun oleh kalian. Kakak-kakak Armada Racun, pokoknya tahun ini kita harus bertemu!

Bangkutaman
Salah satu penyesalan saya di tahun 2010 adalah tidak sempatnya saya menyaksikan pertunjukan live unit indie-pop ini pada saat mereka tampil di Makassar. Ada banyak alasan saya harus menyaksikan mereka. Tapi cukuplah dengan fakta bahwa album Ode Buat Kota milik mereka adalah album terbaik 2010 versi Rolling Stone Indonesia. Ah, mas-mas, main ke Makassar lagi dong. Saat itu saya berjanji untuk berada di barisan paling depan untuk menonton kalian. Oke ya, Bangkutaman, tahun ini kita harus bertemu!

The Adams
Sudah sejak SMA saya menyukai mereka. Lagu Konservatif yang menjadi soundtrack film Janji Joni penyebabnya. Belum lagi Halo Beni dan Hanya Kau. Tak usah banyak alasan. pokonya saya harus menonton pertunjukan live mereka. The Adams, tahun ini kita harus bertemu!

Luky Annash
Entah saya saja yang kurang tahu, tapi saya belum pernah mendengar seorang musisi memainkan piano seliar dibanding apa yang dilakukan oleh Luky Annash. Pada bagian lirik lagu juga sangat kuat. Album 180 Derajat yang rilis tahun 2011 adalah album perdana sekaligus perkenalan yang mantap saya rasa. Luky, tahun ini kita harus bertemu!

Raisa
Saat pertama mendengarkan solois ini lewat radio, saya langsung jatuh hati. Suara beratnya sungguh seksi menurut saya. Sekalinya melihat wujud aslinya di televisi, saya semakin jatuh hati. Musik Raisa yang memasukkan bermacam-macam unsur seperti pop, jazz dan balada sangat menarik. Sebenarnya ia juga sudah pernah tampil di Makasar. Tapi entah kemana saya waktu itu. Ayolah Raisa, jangan bikin aku serba salah dong. tahun ini kita harus bertemu!

Itu saja mungkin ya. Diaminin dong pemirsa!

Senin, 27 Desember 2010

Album Indonesia Yang Paling Saya Suka Tahun Ini

Aku suka musik. Kesukaan ini sudah terjadi sejak kecil. Sejak kecil aku paling suka nyanyi. Lagu yang paling sering aku nyanyikan sewaktu kecil adalah lagu Malay. Ya lagu Malaysia, karena aku memang pernah tinggal di Malaysia sekitar setahun sebelum pindah ke Tarakan tahun 1996. Waktu itu aku sangat nge-fans kepada Siti Nurhaliza dan band-band Malaysia yang sudah aku lupa namanya. *Masa kecil yang memalukan.
Selera musik mulai berkembang pas di SMA. Teman-teman sepermainan yang memperkenalkannya. Jika sebelumnya aku hanya mendengarkan lagu-lagu yang tersiar di radio ataupun TV, sejak saat itu aku mulai mengenal lagu-lagu dari band-band yang entah dari mana. Awalnya aneh, tapi lama-kelamaan enak juga.

Waktu SMA juga aku pernah nyoba nge-band bersama teman-teman sekolah. Karena tidak pernah menguasai secara sempurna satu alat musik pun, aku pun jadi vokalis di band itu (mantap bukan). tapi lama-kelamaan (tidak terlalu lama kok) aku sadar kalo tidak berbakat di bidang ini. Band anak SMA yang labil itu pun berhenti tanpa berbuat apa-apa di kancah musik anak sekolahan :). Sampai sekarang aku masih suka musik, tapi hanya sebagai penikmat.

Itulah sedikit intermezzo sebelum kita masuk pada inti postingan ini.

Jadi 'Album  Indonesia Yang Paling Saya Suka Tahun Ini' adalah sebuah penilaian subjektif-ku tentang album terbaik  yang dirilis oleh musisi lokal tahun ini. Dari puluhan atau bahkan ratusan rilisan ada 5 album yang aku anggap terbaik untuk tahun ini.

Namanya juga penilaian subjektif, jadi terserah mau setuju atau tidak setuju itu terserah anda. Atau lebih ekstrim lagi, yang tidak setuju boleh bikin tulisan tandingan.

Ini dia 5 album terbaik versi aku itu. cekidot..

1. Frau- Starlit Carousel
Aku berkenalan dengan Frau secara tidak sengaja. pertama kali liat cewek ini waktu nonton live-nya di 'Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa' yang dinyanyikan bareng Ugoran Prasad. Nah, Ugoran Prasad ini adalah vokalis dari band Melancholic Bitch yang lebih dulu aku kenal.

Starlit Carousel adalah proyek solo perdana Frau yang bernama lengkap Leilani Hermiasih Suyenaga ini. Sebelumnya Frau sempat mengeksplorasi kesenangan bermusiknya di Anggisluka serta The Southern Beach Terror, band surf-rock asal Jogja. Album ini sendiri lebih cocok dikatakan mini album (EP) karena hanya terdapat 6 lagu di dalamnya. Semua lagu di album ini hanya mengunakan 2 instrumen yaitu pita suara si Frau dan bebunyian yang dihasilkan oleh piano yang diberi nama Oscar oleh pemiliknya.

Selain lagu 'Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa' yang telah sedikit disinggung di atas, lagu lain yang menjadi favoritku di album ini adalah 'Mesin Penenun Hujan'. Tentram rasanya kalo mendengar lagu ini. Lirinya melankolis namun mewah akan diksi yang dalam. Permainan jemari Frau di tuts-tuts Oscar si piano sangat ciamik. Lagu ini adalah salah satu langganan lagu pengantar tidurku sepanjang tahun ini :)

Track List:
01. I’m a Sir
02. Mesin Penenun Hujan
03. Salahku, Sahabatku
04. Rat and Cat
05. Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di Luar Angkasa
06. Glow

2. Armada Racun - La Peste
Jokjakarta sepertinya tidak akan pernah kehabisan stok musisi berkualitas. Armada Racun adalah bukti bahwa Jokjakarta adalah Kota penghasil musisi yang pantas untuk diperhitungkan di kancah musik Indonesia. Terbentuk pada medio tahun 2006, band ini memilih keluar dari pakem konvensional sebuah band. mereka memainkan musik mereka tanpa alunan gitar. bukannya memasukkan unsur gitar mereka malah memasang dua pemain bass di daftar personilnya.

Dan 'La Peste' dalah sebuah penantian panjang bagi Armada Racun. Album ini menjadi rilisan perdana bagi mereka setelah 4 tahun terbentuk. Pertanda bahwa mereka tidak asal-asalan dalam melempar album ke pasar. 11 lagu dalam album ini kebanyakan bertemakan kritik sosial. Ada beberapa lagu bertemakan cinta namun bukan cinta yang banal menurutku.

Lagu favoritku di album ini, apalagi kalau bukan 'Amerika'. Lagu ini sebenarnya sudah lebih dulu beredar menebar racun sebelum 'La Peste' rilis. 'Amerika' memplesetkan teks Sumpah Pemuda hingga memberikan argumentasi yang berbeda tentang nasionalisme. ke-amerikaan-an bangsa Indonesia diakui secara blak-blakan di lagu ini. Dengan alunan musik Rock (lebih ke post-rock mungkin ya) lagu ini sangat tegas namun kita dipaksa untuk setuju bahwa kita adalah Indonesia yang ke-amerika-amerika-an atau ke-barat-barat-an.

Lagu lain yang masuk dalam kategori very recomended adalah 'Tuan Rumah Tanpa Tanah'. bercerita tentang betapa tragisnya rakyat yang tergusur di atas tanah air sendiri. Protes  tegas terhadap imprealisme barat yang sudah mempengaruhi otak para petinggi negara ini.

Track List:
1. Sad People Dance
2. Mati Gaya
3. Tuan Rumah Tanpa Tanah
4. Beautiful Dream
5. Drakula
6. Goodnews For Everybody
7. Boys Kissing Boys
8. Amerika
9. Lalat Betina
10. I'm Small
11. Train's Song

3. Sungsang Lebam Telak - Sapuan Feses Waria Meledak
Banyak band dengan format trio yang aku suka. Mulai dari The Police sampai Efek Rumah Kaca. Dan Sungsam Lebam Telak adalah trio yang keluar dari pakem bermusik dengan cara yang ekstrim. Sangat sulit mendeskriptifkan mereka dengan tulisan (lebih baik langsung dengar mereka). Tapi aku akan memberikan gambaran sedikit disini.

Band asal Bandung ini memainkan musik mereka secara bebas tanpa aturan. Tidak ada pola tempo tertentu. Hanya suara-suara yang lazim di temui di instrumen jazz yang saling berbenturan tidak teratur. Ditambah sesekali suara manusia yang lebih mirip orang yang sedang disodomi (maaf).

Oleh pendengarnya aliran mereka disebut sebagai super-jazz. Kata super disini bukan main-main. Percaya tidak Percaya mereka memang super. Mereka pernah memiliki perikangkat lebih baik dari Radiohead di chart lagu avant garde internasional. Super nggak tu.

Pertama dengar 'Sapuan Feses Wria Meledak', aduh apa ini. Satu kata 'aneh'. Apa pantas ini disebut kumpulan lagu? Seperti yang sudah dikatakan diatas, musik mereka tidak beraturan. Suara vokalnya hanya sesekali muncul. Itupun hanya suara teriakan tidak jelas. 

Keganjilan kembali muncul pada judul lagu di album ini yang sangat panjang. 'Tertangkapnya kecepatan wal afiat yang mampu diramalkan setiap kancah', 'Pengharapan semu dapat dirasakan asap-asap alumnus terjembab lompat'. Bagaimana? Pernah menemukan judul lagu sepanjang itu? tidak sampai disitu, durasi lagu mereka juga sangat tidak lazim. Tak ada lagu yang berdurasi sampai 1 menit. bahkan salah satu lagu hanya berdurasi 4 sekon. sungguh abnormal bukan?

Mungkin ke-abnormal-an mereka itulah yang membuat mereka didengar. Penikmat musik yang mulai bosan dengan band mainstream mencari variasi lain dan menemukan Sungsang Lebam Telak. Dan itulah yang terjadi denganku.

Track List:
  1. Tertangkapnya kecepatan wal afiat yang mampu diramalkan setiap kancah
  2. Pengharapan semu dapat dirasakan asap-asap alumnus terjembab lompat
  3. Kapan lagi membakar aroma bolpoin di balik karpet musim panas terus
  4. Sebesar usaha kami mencuci kaus ternoda bersama gemericik gledek cemerlang
  5. Kejatuhan rona jiwa yang meronta-ronta dalam estetika psikedelis
  6. Endapan kesalahpahaman bobroknya birokrasi tato rusak
  7. Menyongsong area lampu merah saat anus kembali menyempit dua detik dalam perasaan mabrur
  8. Usurlah partikel cakupan melejitnya adidaya kerupuk dan asam garam politik
  9. Semburan diare langsung ke lidah yang telah terpatahkan oleh teori usang tata-titi bersepeda
4. Bangku Taman - Ode Buat Kota
harian ternama Inggris The Guardian pun pernah menyebut mereka sebagai, 'They are one of the most well-respected bands in Indonesia'. Ini bukti bahwa Bangku Taman bukan band sembarangan. Kembali band trio yang menambah khasanah pengetahuan musikku. Dan band itu kembali berasal dari Jogja (like Jogja kalo soal musik).

Ode buat kota adalah rilisan ke-2 milik band yang beraliran britpop/indiepop ini. Nama album ini sendiri diambil dari judul salah satu lagu yang ada di dalam album ini. Di album ini mereka banyak bercerita tentang ibu kota Jakarta, tempat hunian mereka sekarang setelah hijrah dari Jogja.

Mungkin semua juga akan setuju kalau 'Ode Buat Kota' adalah lagu terfavorit di album ini. Aku juga begitu. Di lagu ini Bangkutaman bercerita tentang kompleksitas kehidupan di Jakarta. Pengambaran sederhana mengalir melalui liriknya.

Hampir mirip dengan 'Ode Buat Kota', 'Jalan Pulang' adalah ungkapan kebosanan terhadap tempat tinggal sekarang. folk-rock sangat kental di lagu ini. Kemudian berturut-turut 'Hilangkan', 'Coffee People', 'Alusi', 'Penat', 'Train Song', 'Dibatas Lelah', 'Menjadi Manusia' dan yang juga favoritku di album ini 'Catch Me When I Fall'.

Jakarta terangkum dengan epik dalam satu album.

5. White Shoes and The Couples Company- Vakansi
Sebenarnya White Shoes and The Couples Company bisa saja memberi nama album ini dengan nama 'Vacation'. Namun mereka lebih memilih untuk menamai rilisan teranyar mereka ini dengan 'Vakansi'. Pribadi, aku sependapat dengan mereka atas pilihan itu. Pasti masih banyak orang Indonesia yang belum tahu bahwa kata 'vakansi' terdaftar di KBBI dengan arti 'libur' atau 'liburan'.

White Shoes and The Couples Company adalah band yang konsisten menurutku. mereka tetap setia bermain-main dengan musik zaman dulu. Sementara banyak band beraliran sama dengan mereka sudah berubah. Rilisan ke-3 ini mempertegas ke-konsistenan-an mereka itu.

Lagu favoritku di album ini masih 'Senja Menggila' yang dibuat versi barunya. kecerian di lagu ini masih sangat kentara. Mendengar lagu ini pasti anda ingin bergoyang. Bahkan om-om yang hidup di medio 70-an atau 80-an juga akan membayangkan masa-muda-penuh-cinta mereka saat mendengar lagu ini.

Track List :
1. Berjalan-Jalan
2. Zamrud Khatulistiwa
3. Senja Menggila
4. Selangkah Keseberang
5. Rented Room
6. Kampus Kemarau
7. Sans Titre
8. Hacienda
9. Masa Remajda
10. Ye Good Ol' Days
11. Vakansi
12. Kisah Dari Selatan Jakarta

Oke itu dia 5 album terbaik tahun ini menurut pribadi sendiri. Ada yang mau protes karena album favoritnya tidak terdaftar? Silahkan di hutan. Kalo nggak setuju dengan postingan ini, bisa bikin postingan atau tulisan tandingan kok. seperti yang sudah dikatakan diatas.

Yah cukup sekian lah. Capek ngetik.

Selamat tinggal 2010, Semoga di 2011 akan lahir lagi rilisan-rilisan yang jauh lebih berkualitas.

Salam Kompak Selalu. Wassalam...