Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 April 2017

Buku untuk Kampung Yepem


Kampung Yepem terletak di Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Provinis Papua. Di sana hanya terdapat satu Sekolah Dasar (SD) dengan tujuh tenaga pengajar yang terdaftar, tapi hanya satu guru yang aktif mengajar. Untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi (SMP dan SMA), anak-anak harus ke Agats, ibukota Kabupaten Asmat. Belum ada fasilitas dan sarana pembelajaran yang sederhana di sana untuk menumbuhkan hobi membaca dan belajar berbagai macam hal.

Untuk itu, dengan dukungan masyarakat, Blue Forests dan Forum Komunikasi Pelajar Mahasiswa Tarakan - Tarakan Study Club (FKPMT-TSC) berinisiatif untuk membangun rumah baca pertama di Kampung Yepem. Rumah baca ini diharapkan membawa perubahan kecil bagi generasi muda dari Kampung Yepem.

Kita bisa sama-sama membuat perubahan tersebut dengan mendonasikan buku, majalah, alat tulis, seragam sekolah, atau uang.

Sekecil apapun itu.

Caranya:
Kirimkan donasi ke salah satu alamat berikut:

#BlueForests Home Office
Jl. Pengayoman Komp. Mawar A 17-18 Makassar 90222
atau
Asrama Mahasiswa Tarakan
Jl. Perintis Kemerdekaan VI No. 14 Makassar

Kami siap menjemput donasi Anda dengan menghubungi 0852-4244-7870 (WhatsApp a.n. Kiki) atau 0853-961-20602 (a.n. Opu).

Ayo menjadi bagian dari perubahan!

Ndormom!

Kamis, 23 Februari 2017

Buku Inovasi Daerahku


Buku ini berisi cerita inovasi dari berbagai daerah di Indonesia, salah satunya dari Kampung Atsj, Kabupaten Asmat, yang saya tulis. Silakan menghubungi bitread_id untuk mendapatkannya. Jika ingin membaca tulisan saya di buku ini klik di "Berjalan Dalam Keseimbangan di Kampung Atsj."

Minggu, 15 Maret 2015

Merayakan Makanan a la Laksmi Pamuntjak


“Kami tahu bagaimana harus hidup dalam kapsul masing-masing, dan karena kami bukan sepasang kekasih, kami jarang menggunakan keheningan sebagai alasan untuk memulai pertengkaran. Tapi begitu makanan mengejawantah di wajan, menghias piring, mengisi ruang, yang ada hanya percakapan.”

Tidak bisa terbantahkan bahwa budaya kuliner Indonesia sangatlah kaya. Khazanahnya terbentang dari Aceh sampai Papua, dengan ciri khas dan cita rasanya masing-masing. Beberapa diantaranya bahkan telah diakui sebagai makanan terenak di dunia.

Tapi sayangnya belum terlalu banyak yang membahas kekayaan kita yang satu ini. Belakangan memang muncul beberapa program televisi tentang ragam kuliner Indonesia. Tapi keseringannya penonton hanya dibuat terpana pada pembawa acaranya yang berbodi aduhai dan berpenampilan cool dengan tato di sekujur lengan. Ada pula acara jalan-jalan sambil makan-makan yang sayangnya hanya berakhir pada kata “maknyus” yang kemudian menjadi ikonis. Kesemuanya belum terfokus pada si makanan itu sendiri.

Angin segar baru muncul pada tahun 2014 lalu. Upaya mainstreaming makanan sebagai pusat pembahasan suatu topik mulai nampak.  Dimulai dengan film Tabula Rasa yang bercerita tentang kelezatan masakan Padang, Majalah Tempo yang membuat Edisi Khusus Antropologi Kuliner Indonesia, juga sebuah novel dari Laksmi Pamuntjak, Aruna dan Lidahnya. Judul buku yang terakhir yang kemudian akan diulas dalam tulisan ini.

Aruna dan Lidahnya berkisah tentang Aruna, seorang perempuan yang bekerja sebagai Epidemologist (namun ia lebih senang disebut sebagai “ahli wabah”). Ia memilki dua orang sahabat dengan status yang sama dengan dirinya: belum niat menikah di usia yang sudah kepala tiga. Bono sang chef dengan spesialisasi Nouvelle Cuisine serta Nadezhda, penulis perjalanan dan makanan yang namanya sudah sering muncul di majalah dan web ternama. Ketiganya dipersatukan dalam obsesi yang sama: makanan.

Saat Aruna diberi tugas untuk menyelidiki wabah penyakit di beberapa kota di Indonesia, Ia mengajak kedua temannya tersebut untuk sekalian mencicipi kuliner daerah yang dikunjungi. Bono dan Nadezhda yang lebih akrab dengan western food, sangat tertarik lantas mengiyakan ajakan tersebut. Banyak hal yang mereka temui di balik makanan yang mereka santap, mulai dari sejarah lokal, agama dan kepercayaan, sampai resep makanan baru yang benar-benar tidak terduga. Semuanya mengalir dalam balutan kisah yang manis sekaligus mengharukan.

Dibanding dengan novel sebelumnya, Amba, kisah yang dibangun oleh Laksmi Pamuntjak dalam novel ini terasa lebih mudah untuk diselami. Narasi dan dialognya sederhana walau dibumbui dengan istilah-istilah teknis yang perlu dipahami lebih lanjut. Laksmi sangat pandai merancang kisah dan membangun dialog yang begitu mengena kepada pembacanya. Setiap masakan diceritakan secara mendetail hingga kita seperti bisa merasakannya juga. Produksi air liur saya meningkat di beberapa bagian novel ini.

Bagi yang tidak akrab dengan dunia epidemologi seperti saya, novel ini mungkin akan sedikit membosankan di bagian awal. Namun setelah itu cerita mengalir begitu menyenangkan. Bukan hanya kisah percintaan dan pengkhianatan yang disajikan, kita juga disuguhi dengan berbagai pengetahuan yang sangat bernutrisi. Laksmi memperindah novel ini dengan kutipan dari beberapa penulis dunia, mulai dari Brillant-Savarin hingga Micheal Pollan.

Sungguh seperti ajakan untuk merayakan makanan yang lebih dari sekedar makan sampai perut terasa kenyang.

Rabu, 26 Maret 2014

Kedai Buku Jenny: Menggiatkan Literasi Meragamkan Metodologi

Sawing (pertama dari kiri) dan Bobhy (keempat dari kiri) berfoto bersama personel Bangkutaman di Kedai Buku Jenny
pada salah satu edisi KBJamming.

Semua orang yang terlibat dalam aktifitas literasi di Kota Makassar pasti sepakat kalau dunia membaca-menulis-berdiskusi di kota ini sedang bergairah. Sudah beberapa tahun belakangan ini kegiatan tersebut sedang bergerak menuju ke arah yang positif. Mudahnya akses pada ilmu pengetahuan kemudian melahirkan semakin banyak ruang bersemainya ide-ide kreatif. Masyarakat kini disuguhkan pilihan tempat yang semakin bervariatif, tidak melulu tempat yang sudah terlalu umum dan menggunkana cara-cara yang sangat transaksional.

Salah satu geliat literasi tersebut datang dari Kedai Buku Jenny. Toko buku minimalis yang namanya sering disingkat menjadi KBJ ini tidak hanya menjadi tempat transaksi jual-beli. Lebih dari itu mereka juga menghadirkan cara-cara lain untuk lebih mendekatkan masyarakat pada dunia membaca-menulis-berdiskusi. Lewat beberapa event yang rutin mereka laksanakan kegiatan yang selama ini terkesan kaku tersebut dibuat menjadi lebih groovy. 

KBJamming misalnya. Event yang rutin dilaksanakan setiap bulan ini mengajak siapa saja untuk menikmati musik sambil turut serta dalam diskusi yang banyak membicarakan tentang problematika kota. Kegiatan semacam ini tentu masih sangat baru di Makassar. Bagaimana KBJ bisa mempertemukan orang-orang yang berkegiatan di bidang seni dengan mereka yang selama ini menggandrungi diskursus perkotaan. 

Pada suatu sore yang mendung, saya bertandang ke KBJ untuk bertemu kemudian mengobrol dengan kedua pendirinya, Bobhy dan Sawing. Dengan sangat ramah, mereka menjawab semua pertanyaan yang saya ajukan secara mendetail. 

Bisa ceritakan ide awal untuk membuat Kedai Buku Jenny (KBJ)? 

Bobhy: kita berdua ini sama-sama bermimpi untuk punya toko buku. Dulu, sekitar tahun 2005 saya sama beberapa teman pernah membuat tempat serupa KBJ ini. Dulu namanya Idefix. Tempatnya itu di depan UKIP (Universitas Kristen Indonesia Paulus). Itu dibangun bersama teman-teman aktivis kampus. Tapi Idefix itu tidak terlalu lama ji bertahan. Kemudian waktu 2011, saya cerita-cerita dengan Sawing, “ayo deh bikin toko buku.” Mumpung waktu itu kita lagi sekolah di Jogja, bisa dapat banyak buku. Kita wujudkan mi mimpi itu. Awalnya kita yang beli buku di Jogja terus dikirim ke Ridho, salah satu awak KBJ. Dia disini yang jalankan ini KBJ. 

Tapi awalnya kita belum punya nama. Kita belum pakai nama “Kedai Buku Jenny” saat itu. Sampai kemudian saya sama Sawing datang ke sebuah event di Jogja, namanya itu Rock Siang Bolong. Itu event tahunan yang dibuat sama anak-anak ISI (Institut Seni Indonesia) Jogja. Sebenarnya datang karena penasaran ji, karena temanya itu “Fuck Nineties!”. “wis event apa ini, provokatif sekali.” Terus lihat line up-nya, nda ada yang betul-betul kita kenal. Nah disitu kita bertemu pertama kali dengan band yang namanya Jenny itu. Kemudian kita tertarik dengan lagunya: Mati Muda, Maha Oke, dan sebagainya. Terus bertemu di beberapa gig dan akhirnya kita memperkenalkan diri. Sampai suatu waktu pulang liburan kesini, tiba-tiba saja telintas: “kayaknya ini mi nama kedai buku ta!” Dan Sawing juga mengiyakan. 

Walau akhirnya band Jenny berganti nama menjadi Festivalist, kita tetap pakai nama itu. Kenapa kemudia nama Jenny yang kita pakai? Karena dari materi lagu mereka kita mendapatkan tema-tema kesetaraan, tema “bahagia itu sederhana”. Itu semua sangat dieksplorasi di lagu-lagu mereka. Jadi awalnya mungkin Jenny itu bagi kita hanya sebagai band, tapi kemudian dia menjadi sebuah gagasan yang kita rasa cocok untuk kedai buku ini. seperti itu. 

Mengapa berani membuat toko buku minimalis di tengah dominasi toko buku besar saat ini? Bagaimana bisa bertahan sampai sejauh ini? 

Sawing: Jadi KBJ ini tidak pernah diniatkan untuk menyaingi toko buku besar atau yang lain. Konsepnya itu sendiri masih terinspirasi dari Jenny. Jadi Jenny itu kan konsepnya “Almost rock barely art”, hampir rock nyaris seni. Jadi “hampir” dan “nyaris”-nya itu yang kita adaptasi lagi dalam mendesain kedai buku ini. Ya konsepnya KBJ ini “hampir toko buku” dan “nyaris galeri seni”. “Hampir toko buku” berarti KBJ ini tidak seperti kedai buku pada umumnya: anda datang sebagai pembeli, kami layani seadanya, silahkan ambil, kita bertransaksi, yang hubungannya sangat transaksional. Tidak seperti itu. Tapi kita ingin ada interaksi yang lebih berkualitas di dalamnya. Kita ingin berbagi ide atau pun tukar gagasan di dalam hubungan tersebut. Terus “barely art gallery”, Seni itu kan tidak selalu dekat dengan kata “megah”, toh. Jadi seni yang kita maksud adalah setiap sudut itu bisa di-create Menjadi galeri seni tersendiri. Kita ingin ruang-ruang yang nda tampak seperti galeri bisa kita desain sedemikian rupa hingga punya nilai seni. Sehingga bisa membuat orang tertarik.

Kalau bagaimana bisa bertahan? Nah, ini pertanyaan penting ini. Jadi cara yang kita tempuh adalah menjalankan konsep “Jenny” tadi. Terus memang kita berada di lingkungan yang cukup mendukung tempat-tempat seperti ini. perlahan akhirnya kita bertemu dengan Vonis Media, Kampung Buku, ya teman-teman yang memang concern  dengan isu literasi. Selain itu, manajemen harus tertata dengan baik pembagian tugasnya. 

Bobhy: sebenarnya kegagalan tempat-tempat seperti ini kan karena lemahnya manajemen kedai bukunya. Jadi makanya sejak awal kita bilang, ini bisnis. Bahwa dia punya semangat yang coba kita sampaikan lewat banyak media yang kita gagas disini. Tapi untuk menghidupi ini kita harus bingkai dia dalam kerangka bisnis. Agak susah kalau tidak begitu. Karena pelajaran dari sebelumnya itu begitu. Konsepnya pertemanan. Semuanya tidak tercatat dengan baik. Selalu “pakai mi dulu”. Akhirnya ya begitu. Tidak bertahan. Nah, itu yang sejak awal coba kita tata dengan baik. Okelah, dari toko buku kecil apa sih yang bisa diharapkan. Tapi dari hasil yang sedikit itu coba kita catat dengan baik, khususnya di masalah keuangan. Karena kita percaya sekali, agak susah kita mengevaluasi sejauh mana capaiannya kalau hal-hal yang sifatnya manajerial seperti itu juga tidak terurus dengan baik. Makanya hal itu juga menjadi penting. Kita sih optimis saja bahwa manajemen yang relatif bagus yang kita tempuh selama ini bisa menjadi modal untuk membuat KBJ bertahan. Itu obsesi kita. Karena terlalu banyak kebahagian yang kita dapat dari sini, toh. 

Tentang konsep, kan toko buku atau rumah baca seperti ini banyak sekali. Tapi menurut saya tidak banyak yang mengkombinasikannya denga musik, misalnya. Jadi kira-kira segmen yang juga coba kita dekati adalah orang yang bukan pecinta buku dan kita mau bilang ke orang-orang bahwa urusan membaca, urusan literasi sebenarnya bukan pekerjaan yang serius-serius amat. Bukan pekerjaan yang perlu mengernyitkan dahi. Tapi bukan berarti menurunkan kadar bacaan itu sendiri. Misalkan saja KBJamming, jamming  yang kemudian dikolaborasikan dengan diskusi  itu menurutku capaian bagi kita di KBJ. Jadi kita mau kehidupan berliterasi, membaca dan segala macam itu bisa menyentuh segmentasi mana saja. Khususnya mereka yang dianggap tidak dekat dengan buku. 

KBJ ini kan tidak hanya sekedar tempat jual-beli buku, apa sebenarnya tujuan KBJ? 

Sawing: Tujuannya? Masuk surga. Ha-ha-ha. Sebenarnya tujuan KBJ itu, ya yang tadi. Kami mengafirmasi spirit yang dibawa sama Jenny, spirit kesetaraan. Yang kedua, KBJ ingin turut aktif dalam budaya literasi di Kota Makassar ini. Ketiga, kita mencoba terus memperbaharui metodologi. Tujuan-tujuan yang tadi itu kita sampaikan lewat beragam media. Lewat musik, diskusi, tulisan, atau event-event yang kita bikin. Semua itu kan ada gagasannya. Cuma cara menyampaikannya yang berbeda. Saya kira itu penting untuk terus di-explore. Karena kalau monoton, pesan yang baik itu bisa mentok dan menabrak tembok di mana saja. Mentul kesana-kemari dan kembali ke yang ngasi. 

Bobhy: Jadi yang kita lakukan ini ada turunannya. Misalnya kembali menggiatkan sastra, ikut terlibat dalam geliat dunia literasi yang mulai berkembang lagi di kota ini. Dan tentunya juga menggairahkan skena lokal. Itu semua turunan-turunan dari yang disebutkan Sawing tadi. Bagaimana memperbanyak variasi media untuk menyampaikan gagasan-gagasan. Selain itu, kita juga ingin menjadi teman bagi siapa saja yang punya aktifitas. Tidak harus mengeksekusi karyanya disini. Tapi menjadi ruang untuk berbagi dan bertukar pikiran. Itu yang menurut kita penting. 

Apakah tempat-tempat seperti ini di kota lain (Kineruku dan Omuniuum di Bandung, C2O di Surabaya, misalnya) menjadi acuan dalam membangun KBJ? 

Bobhy: Kalau acuan itu berarti refrensi, tentu saja ya. Jogja tentu mi iya, toh. Karena kita sekolah dua tahun disana dan kita bertemu Jenny. Ada temanku bilang kalau Jogja itu setiap sudutnya adalah tempat belajar. Dan itu benar-benar kita rasakan. Disana saya banyak mendapat inspirasi. Kemudian Bandung. Saya itu sama Sawing, pas pertama kali bentuk KBJ diniatkan memang untuk ke Bandung. Kita datangi beberapa tempat. Kita ke Tobucil, ke Kineruku, Omuniuum. Ada juga IMBooks, kemudian datangi Ultimus. Banyak lah pokoknya. Dan semua mereka itu punya polesan yang tidak melulu tentang buku tapi bervariasi. Saya kira itu sedang marak di beberapa kota. Ada juga C2O di Surabaya, apalagi di Jakarta. Di Tobucil misalnya yang memperkaya kegiatannya dengan membuka banyak kelas, mulai dari kelas filsafat, kelas biola, merajut atau kerajinan-kerajinan. Di tempat lain juga seperti itu, bervariasi. Dan hampir semua itu sangat dekat dengan musik. Makanya itu menjadi inspirasi kita. Kemudian packaging tempat itu penting. Menarik orang dengan mendesain tempatnya menjadi senyaman mungkin. 

Apakah KBJ memanfaatkan hubungan dengan komunitas lain atau tempat serupa seperti ini? kalau ya, seberapa besar manfaatnya? 

Sawing: Ya, tentu saja. Sedari pertama kita lakukan itu. Sekarang itu komunitas susah kalau mau sendiri-sendiri. Pasti (butuh) dapat dukungan atau sokongan dari komunitas lain. Kalau di Makassar kita bekerja sama dengan banyak komunitas. Di awal kita dapat banyak bantuan dari Kampung Buku, jadi distributornya Ininnawa. Terus yang paling sering itu Vonis Media lah. Kalau Vonis bikin event pasti KBJ ikut terlibat dan sebaliknya juga seperti itu. Banyak lagi komunitas yang lain, baik di kampus atau tempat lain. Dan biasanya kita dipertemukan dengan cara-cara yang unik. Misalnya bertemu dengan Vonis Media sebelum Malino Land dan disana kita diperkenalkan secara luas sama teman-teman di skena musik lokal di Makassar yang membuka peluang kita untuk segera menggelar KBJamming. Padahal KBJamming itu dulu masih angan-angan. 

Bobhy: Dari luar itu ada beberapa yang coba kita ajak bekerja sama. Mungkin kerja samanya tidak (selalu) konkrit dalam bentuk take and give begitu, tapi dalam bentuk gagasan. Misalnya, beberapa bulan kemarin kita ketemu di twitter dengan komunitas Kecil Bergerak yang ada di Jogja. Mereka itu koor-nya seni dan kebudayaan. Salah satu kelasnya itu namanya Kelas Melamun. Jadi Kelas Melamun itu ada peserta kelas mendatangi satu orang yang punya karya atau gagasan penting yang ada hubungannya dengan seni dan kebudayaan. Kita tertarik untuk mengadopsi itu, cuma belum sempat dieksekusi saja.  Kemudian beberapa hari yang lalu C2O di Surabaya berencana menitip produk. Pokoknya kita terus mencari siapa saja yang bisa diajak bekerja sama. Dan juga konsepnya tempat ini kan siapa saja bisa pakai. 

Program reguler KBJ, KBJamming banyak mendiskusikan tentang problematika kota. mengapa tema itu yang diangkat? 

Bobhy: Seja awal itu niatannya kita mau menjadi bagian dari upaya membuat kota ini menjadi, seperti yang dikatakan David Harvey, space of hope. Kita mau ada kabar-kabar baik yang muncul, selain menciptakan ruang-ruang alternatif, ruang-ruang bersama yang menjadi suguhan yang lain di tengah hiruk pikuk kota yang serba tidak pasti ini. kalau kata Ucok Homicide, membangun “kewarasan massal”. Kan di kota ini ada dominasi tema. Semuanya tentang politik. Sementara wacana-wacana yang sebenarnya penting hanya bisa kita dapatkan di ruang-ruang marjinal. Kita sih bermimpi tema seni, tema kebudayaan itu bisa menjadi wacana yang sama, yang bisa dikonsumsi oleh siapa saja. Caranya ya hidupkan ruang-ruangnya itu. Dan KBJ ingin sekali menjadi bagian dari itu. 

Sawing: Jadi waktu "Space of Hope" itu ditulis sama David Harvey, idenya ada dalam arena perdebatan, khususnya di kalangan intelektual. Nah, Space of Hope itu menyajikan sebuah mimpi. Jadi optimisme itu bisa lahir dari ruang-ruang terkecil sekalipun. Bisa ruangnya, bisa orangnya. Kalau di Makassar ini ruang itu, baik secara fisik maupun non fisik atau gagasan kan dikelola secara teknokrat. Tidak dikelola secara, sebutlah berbudaya. Alhasil tata kota ini menggerusi ruang bersama. Jalan raya kan tidak perlu selebar itu kalau kita mau silaturahmi seperti biasa. Cuma karena ada kebutuhan ekonomi yang lebih besar, makanya jalan raya itu dibikin jadi sangat lebar biar mobil-mobil bisa berjalan. Kemudia orang-orang terima saja dengan itu. Tapi kemudian muncul Kampung Buku, muncul Filosofia, muncul Kedai Buku Jenny dan tempat-tempat lain yang mencoba menegasikan itu dengan caranya masing-masing. 

Setelah seperti sekarang, apa rencana KBJ yang lain? 

Bobhy: Kalau secara bisnis, kita ingin terus berkembang. Kalau ada orang yang mau jadi investor kita sangat terbuka untuk itu. Koleksi kita tentunya masih sangat terbatas. Makanya kita ingin terus ekspansi disitu. Terus seperti yang saya bilang tadi, kita mau tempat ini semakin menghasilkan banyak karya. Semakin banyak orang kesini untuk berkarya atau menikmati karya. Kita ingin terus mereproduksi banyak ruang, semakin memperbanyak event-event. Tidak perlu event yang besar tapi lebih bervariasi dan segmen yang bisa terlibat juga semakin banyak. Dan hampir setiap hari kita memikirkan itu. Ketemu, duduk terus ngobrol, “aih bagus kayaknya kalau bikin ki begini”. Hampir tiap hari kita begitu. He-he-he. 

Sawing: Kalau bagi saya yang belum kesampaian sampai sekarang itu, KBJ harus punya terbitan. Mudah-mudahan bisa kesampaian dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi. Terbitannya itu bisa dalam bentuk apa saja, majalah atau website. Intinya kita masih jarang nulis. Reportase event-nya KBJ saja lebih banyak ditulis sama Vonis atau Opium. He-he-he. Terus melanjutkan event-event yang sudah berjalan dengan harapan semakin ramai. sebenarnya kita juga mau punya acara tahunan. Ini yang sedang kita bahas. Acara tahunan ini sekaligus sebagai perayaan ulang tahun KBJ. 

Apa saran kalian untuk teman-teman yang ingin membuat tempat seperti ini? 

Sawing: Bikin saja! Ha-ha-ha. 

Bobhy: kalau menurut saya, kalau ada ide langsung eksekusi saja. Pokoknya kalau ada ruangnya, eksekusi, walaupun pelan-pelan. Itu yang paling penting: ada ruangnya. Di awal itu kita tidak punya banyak modal. Sawing punya duit lebih, sama beberapa orang yang menghargai niatan kita terus membantu. Bayangkan, kan kita di Jogja. Siapa yang ngurus? Ada teman tapi nda bisa juga 100 persen. Tapi kita berpikir, kalau belum ada ruangnya ya susah. Tapi kalau sudah ada ruangnya, kita sudah bisa ukur, apa yang perlu kita tambah, apa yang perlu kita kurangi dan segala macam. Kemudian refrensi juga menjadi penting. Soal selera itu kan sering kali bukan hanya sekedar yang ada di kita, tapi apa yang kita dengar, apa yang kita lihat. Itu akan sangat membantu. Selain itu juga harus punya visi besar. Karena kalau tidak punya visi, kegiatan sudah jalan, so what. Biasanya yang seperti ini umurnya akan pendek. 

Sawing: Berani saja meng-explore metodologi. Kalau belum ada yang berani bikin, coba saja bikin. Karena metodologi itu penting. Kita mau bilang apa tapi kalau caranya itu-itu saja, ceramah terus, ya susah, toh. Kalau misalnya ceramah itu betul-betul berhasil, dari dulu mi tidak ada peperangan. Selesai di Sholat Jum’at, coy. Saya kira metodologi harus diperkaya. Dan yang paling penting, memperlakukan tempatnya itu secara selayaknya. Dikelola secara serius. Manajemennya harus rapi, seperti yang terus kita coba, mudah-mudahan semakin rapi. Kalau hanya terus mengandalkan inisiatif-inisiatif yang tidak terstruktur itu takutnya, lagi-lagi nafasnya tidak panjang. Yang seharusnya bisa lama tapi karena pengelolaannya suka-suka jadi, begitu mi. cepat tutup.

Jumat, 30 Agustus 2013

Buku




"Sebaik-baik teman sepanjang waktu adalah buku." 
-Simon Reid-Henry

Senin, 21 Januari 2013

Pemesanan Buku "Surat dari dan untuk Pemimpin"


Halo, Indonesia....
Di suasana sendu akibat banjir boleh ya kami berbagi kabar cerah.

Kabar mengenai surat yang dikumpulkan dari para tokoh yang membentuk wajah negeri saat ini.
Surat-surat yang berisi pesan dan gagasan dari 95 pemimpin.
Penulis surat dalam buku ini antara lain:
Dahlan Iskan, Joko Widodo, Glenn Fredly, Quraish Shihab, Slank, Susi Susanti, Addie MS, Handry Satriago, Emirsyah Satar.

Buku "Surat dari dan untuk Pemimpin" yang dikemas secara ekslusif ini bisa didapatkan senilai
Rp 190,000/eksemplar sebagai kontribusi untuk pengembangan program Menjadi Indonesia.

Teman-teman bisa mendapatkan buku "Surat dari dan untuk Pemimpin" dengan mudah.

Bila teman-teman ingin memesan buku, silakan mengirim email ke lotusina@tempo-institute.org
dengan format:

Nama Lengkap:
No Kontak:
Jumlah buku yang dipesan:
Alamat Pengiriman:

Kemudian, teman-teman akan menerima email balasan terkait pemesanan buku.
Kami akan mengirimkan buku ke alamat pengiriman sesuai dengan data pemesanan via email.

Teman-teman dipersilakan melakukan pembayaran melalui rekening:
Bank Panin KCP Fatmawati - Jakarta
a/c: 109.500.5992
Atas nama: Perkumpulan Aliansi Menjadi Indonesia

Terkait pengiriman, ongkos pengiriman ditanggung oleh pemesan.
Ongkos kirim untuk pemesanan maksimum 2 eksemplar:
Jabodetabek Rp 5ribu
Pulau Jawa Rp 10ribu
Luar P. Jawa Rp 15ribu
(ongkos kirim disesuaikan untuk pengiriman lebih dari 2 eksemplar)

Selamat memesan, temankuuu :)


Via Menjadi Indonesia

Minggu, 05 Agustus 2012

Celoteh Pinggir


Tarakan, 1 Agustus 2012

Yak, akhirnya saya menginjak rumah di Tarakan lagi, setelah dua tahun tak pulang.

Sebelum benar-benar sampai di rumah saya menyempatkan diri singgah di Gramedia terlebih dulu. Sekalian menemani Atri membeli buku untuk teman perjalanan yang masih dua hari lagi sebelum sampai di Makassar. saya sendiri membeli dua buku siang itu. Pertama, Celoteh Soleh, buku yang berisi kumpulan tulisan yang diambil dari blog pribadi pengarangnya, Soleh Solihun. Kedua, Catatan Pinggir 8. Juga kumpulan tulisan, milik Goenawan Mohamad (GM). Tapi ini diambil dari Majalah Tempo yang terbit antara Juli 2005-Juli 2007. Kedua buku inilah yang akan menemani saya selama di Tarakan. Juga sebagai pengganti rasa tidak enak karena belum tergugah untuk membaca Al-Qur’an sepanjang bulan Ramadhan ini.

Selain sama-sama diambil dari kumpulan tulisan yang sudah pernah dipublikasikan sebelumnya, persamaan kedua buku ini adalah pengarang keduanya merupakan penulis favorit saya. Walau karakteristik tulisan diantara Soleh dan GM jelas berbeda.

Tulisan Soleh, sejauh yang saya baca di blog pribadinya atau di Majalah Rolling Stone, bersifat santai. Kekuatan tulisannya terletak pada alur cerita yang mengalir. Membaca tulisan Soleh, kita seperti sedang mendengar seseorang yang bercerita. Penggunaan istilah tulisan, pada bidang musik misalkan (Soleh Solihun adalah seorang Jurnalis Musik) beragam tapi masih bisa dimengerti. Ditambah sesekali selipan lelucon segar membuat tulisan yang dihasilkannya selalu menarik untuk dibaca.

Kalau GM lain lagi. Tulisannya selalu istimewa bagi saya. Oleh Bambang Sugiharto yang menulis catatan pengantar pada Catatan Pinggir 7, GM dijuluki sebagai Dukun Bahasa. Tentu karena kata dan bahasa dalam setiap tulisan GM mempunyai kekuatan, yang “nyaris magis”, kata Bambang Sugiharto. Yak, itulah ciri khas dari tulisan GM. Bagi yang sudah sering membaca tulisannya, pembaca tersebut akan tahu bahwa tulisan yang sedang ia baca adalah milik GM, bahkan sebelum ia melihat nama penulisnya. Saking gaya menulis seperti GM memang sulit mencari padanannya.

Dan, sambil menunggu teman-teman SMA yang belum sampai di Tarakan, Celoteh Soleh dan Catatan Pinggir 8 akan menemani saya.

Rabu, 08 Februari 2012

Bacaan yang Terlantar

Sebaik-baik teman sepanjang waktu adalah buku.
Saya mengamini betul perkataan Simon Reid-Henry tersebut. Makanya sudah beberapa tahun ini saya mengakrabkan diri dengan benda ilmu yang satu itu. Tapi ada satu sifat buruk saya yang menghambat hobi ini. Cepat bosan. Ya, sikap ini yang selalu menghambat saya untuk segera menyelesaikan sebuah bacaan. Ketika baru saja memulai membaca sebuah buku, tak lama kemudian saya sudah tergoda untuk pindah ke judul buku yang lain. Saat buku yang baru itupun baru terbaca beberapa halaman, buku berikutnyapun terlalu menggoda untuk dibaca. Dan ketika sampai pada satu titik jenuh lainnya, saya kembali membaca buku yang yang diawal saya baca. Kira-kira seperti itulah siklus setan membaca saya.

Saat ini, setidaknya saya sedang membaca empat judul buku yang berbeda. Yang pertama adalah buku otobiografi Mohamamad Hatta yang berjudul Untuk Negeriku Jilid 1. Buku ini saya pinjam dari seorang adik tingkat di kampus, Rafika Ramli namanya. Ketika baru sampai pada pertengahan buku, saya sudah mulai tertarik untuk membaca kembali Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Sebenarnya saya sudah dua kali menamatkan buku ini. Pertama pada saat SMA untuk keperluan tugas membaca dan yang kedua pada saat novel ini diangkat menjadi sebuah film. Tapi entah mengapa, dua hari yang lalu saya seperti ditarik untuk kembali membacanya. Memang novel ini adalah salah satu favorit saya.

Tadi pagi, di perpustakaan pusat Unhas saya membaca sebuah buku untuk keperluan mata kuliah HAM Internasional. Buku tersebut adalah sebuah buku terjemahan yang berjudul Hak Asasi Manusia: Sejarah, Teori dan prakteknya dalam pergaulan internasional karya Scott Davidson. Saya baru membaca bagian awalnya saja, tentang pengertian-perngertian umum tentang Hak Asasi Manusia. Ketika rehat sejenak itulah saya teringat sebuah buku bagus yang berjudul Dalih Pembunuhan Massal karya John Roosa. Tentu karena buku yang membahas tentang kudeta 1965 dan peristiwa sadis yang menyertainya ini masih ada kaitannya dengan pembahasan Hak Asasi Manusia tadi. Sebenarnya buku ini sudah saya baca, tapi belum khatam. Selain karena buku ini cukup tebal, alasan lain ya, karena itu tadi, cepat bosan.


Entah apa solusi terbaik untuk masalah saya ini. Yang saya lakukan saat ini adalah membawa serta semua buku yang sedang saya baca tersebut setiap ke kampus. Jadi jika ada jeda kuliah dan sedang mood untuk membaca, ya saya pilih saja sesuai selera saat itu. Terasa berat sih. Tapi itulah cara paling efektif menurut saya untuk menamatkan semua bacaan tersebut.

Sabtu, 07 Januari 2012

Jungle Child


Alam adalah tempat bermainnya,
rimba adalah rumahnya,
dan langit adalah tempat bernaungnya.

***
Sabine Kuegler (tujuh tahun) dan keluarganya tiba di sebuah hutan terpencil di Papua Barat pada tahun 1980. Mereka hidup di tengah-tengah suku Fayu yang baru saja ditemukan. Suku ini sama sekali belum tersentuh oleh peradaban modern. Sabine kecil pun tak lagi bermain boneka, tetapi dengan ular serta busur dan panah sungguhan. Bukan permen yang ia kunyah, melainkan kelelawar panggang dan serangga.

Jungle Child adalah kisah memukau tentang suatu kehidupan primitif. Kehidupan itu terputus ketika keluarga Sabine kembali ke Jerman. Meski akhirnya kembali ke Papua Barat, Sabine (kini terjebak di antara dua budaya) tidak lagi benar-benar merasa nyaman. Kematian teman masa kecil sekaligus kakak Fayu-nya, Ohri, membuatnya memutuskan untuk meninggalkan rimba untuk selamanya.

Di usia tujuh belas tahun, ia masuk sekolah berasrama di Swiss. Melalui proses yang sulit dan menyakitkan, perlahan-lahan ia berhasil menyesuaikan diri kembali dengan budaya barat. Namun, ia tetap mengakui bahwa sebagian dari dirinya akan terus menjadi si anak rimba.

***

Ah, saya benar-benar jatuh cinta dengan buku ini. Nantilah saya ceritakan lebih panjang lagi. Sekarang saya sedang menikmatinya lembar demi lembar.
 

Selasa, 27 Desember 2011

Buku yang Dipinjam

Buku-buku yang masih bersama orang lain.

Tadi pagi saya punya waktu untuk kembali menginventarisir buku-buku yang ada di kamar. Ini semacam ritual akhir tahun saya (padahal baru dua tahun ini dilakukan :p). Ternyata selama setahun ini perbendaharaan buku saya bertambah sekitar 40-an jilid buku. Buku-buku tadi datang ke rak saya dengan cara yang beragam. Ada hasil dari pembelian bulanan, pemberian teman juga menang kuis.

Ada yang datang tentu ada juga yang pergi. Setahun ini ada beberapa buku yang saya relakan untuk orang lain. Ada yang saya sumbangkan ke acara amal ada juga yang saya berikan kepada teman yang lebih membutuhkan. Sepertinya ada belasanan buku yang pergi.

Tapi ada yang menganjal waktu saya mencatat daftar buku saya tadi pagi itu. Ternyata ada beberapa buku yang belum kembali dari masa peminjaman. Ini kekurangan saya. Saya tidak pernah mencatat buku saya yang terpinjam. Untuk sementara ini saya hanya mencatat sebelas orang peminjam. Mungkin masih ada tapi tidak saya ingat. Rata-rata masa peminjaman buku-buku tersebut sudah cukup lama. Ada yang telah berbulan-bulan, bahkan ada yang sudah dipinjam setahun yang lalu.

Memang, kata Simon Reid-Henry "Sebaik-baik teman sepanjang waktu adalah buku." Tapi saran saya jangan jadikan buku orang lain sebagai "teman sejati" kalian kawan-kawan. Camkan itu.

Selasa, 06 Desember 2011

Buah Tangan yang Sama

Setahun yang lalu saya berkesempatan untuk mengikuti sebuah pelatihan menulis di Bogor dan Jakarta. Sepulangnya dari sana saya membawa lumayan banyak buku. Ada belasan mungkin. Satu diantara buku yang saya bawa tadi saya berikan kepada teman saya, Yupitasari atau Upi. Waktu itu, selama seminggu saya meninggalkan Makassar, Upi telah menjalankan tugas saya sebagai penanggung jawab pelatihan kepenulisan untuk mahasiswa baru di kampus. Saya masih sangat ingat buku yang saya berikan kepada Upi waktu itu. Catatan Pinggir jilid ke-7, kumpulan esai milik si dukun bahasa: Goenawan Mohamad.

Tahun ini, teman saya lainnya, Radillah atau Kyo yang berkesempatan untuk mengikuti pelatihan menulis seperti yang saya ikuti setahun yang lalu. Hanya, yang saya dengar konsep dari pelatihan menulis tahun ini sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya. Sepulangnya Kyo dari pelatihan menulis di Jakarta tersebut, saya mendapatkan kabar gembira. Oleh panitia pelatihan menulis tersebut, saya dikirimi sebuah flashdisk dan buku lewat Kyo. Dan kemarin kedua barang tersebut telah saya terima. Sebuah flashdisk berwarna hitam dengan tempatnya yang sebesar tablet pc. Juga sebuah buku yang berjudul Catatan Pinggir jilid ke-7-nya Goenawan Mohamad. Buku dengan judul sama dengan yang saya berikan kepada Upi tahun lalu. Kecewa? Tentu tidak. Saya belum punya buku Goenawan Mohamad yang ini kok. Sudah setahun ini saya menjadi penikmat tulisan-tulisan Goenawan Mohamad.

Saya harus berterimakasih karena telah diberi flashdisk dan buku ini. Terimakasih kepada Kyo yang telah membawakan. Terimakasih kepada panitia Kemah Menulis KEM 2011 yang masih ingat dengan saya dan memberikan buah tangan dari Jakarta ini. Sekali lagi, Terima Kasih. Saya senang sekali :))

Senin, 27 Juni 2011

Buruan

Setelah diburu selama hampir setahun, akhirnya ketemu juga dua barang ini.

Dua barang buruan akhirnya tertangkap
Majalah TEMPO edisi khusus Tan Malaka dan Buku Rolling Stone MUSIC BIZ karangan Wendi Putranto. Ketemunya di Shoping Center Jogja awal bulan kemarin. Yeah senangnya.

Jumat, 06 Mei 2011

Perang Makassar 1669: Mengenang Masa Jaya Kerajaan Gowa

Judul Buku: Perang Makassar 1669: Prahara Benteng Somba Opu
Penulis: S.M. Noor
Penerbit: Kompas
Waktu Terbit: April 2011


"Sesungguhnya karena kesabaran rakyatku bersedia memberikan apa yang mereka inginkan dalam Perjanjian Bungaya melalui aku; tetapi mereka menghendaki jantungku, dan hati ini adalah martabat dan harga diri setiap manusia" (Sultan Hasanuddin) 


Novel sejarah ini dibuka dengan prolog yang menggambarkan salah satu tokoh utama dalam cerita ini, yaitu I Makkuruni. Ia adalah seorang perwira muda yang berasal dari Kampung Bira. Namanya mulai tersohor di seantero Kerajaan Gowa ketika berhasil menenggelamkan lima buah kapal milik VOC/Belanda. Hal tersebut ia lakukan karena VOC sengaja melakukan blokade jalur perdagangan laut yang mengakibatkan kerajaan Gowa merugi dan Bira, kampung I Makkuruni juga terkena imbasnya.

Cerita berlanjut dengan bergabungnya I Makkuruni bersama pasukan perang Kerajaan Gowa. Ia datang dengan membawa18 buah kapal phinisi juga 200 perwira terbaik Kampung Bira untuk membantu pertahanan Butta Gowa. Oleh Karaeng Intang, panglima perang Kerajaan Gowa I Makkuruni lalu dihadapkan pada Sultan Hasanuddin, Yang merupakan Raja Gowa pada waktu itu. Karena keberaniannya yang sudah kesohor I Makkuruni langsung ditunjuk menjadi wakil komandan Karaeng Issong untuk memimpin Galle Karaenta, kapal perang yang dipakai I Makkuruni untuk menenggelamkan lima kapal VOC. Karaeng Issong sendiri adalah putra ketiga Sultan Hasanuddin.

Tanpa sepengetahuan raja, Karaeng Issong bersama wakilnya I Makkuruni juga I Rioso seorang bangsawan Mandar yang juga loyal terhadap Kerajaan Gowa, berencana menghadang kapal VOC yang membawa perlengkapan perang. Dicurigai oleh Karaeng Issong, Kapal tersebut sengaja menimbun perlengkapan perang di Ford Rotterdam untuk menyerang Kerajaan Gowa suatu saat nanti.

Perang pun pecah di perairan Masalembo.

Karena lebih siap akhirnya armada Karaeng Issong memenangi pertempuran tersebut. Pasukan VOC mengalami kekalahan telak dengan terbunuhnya pemimpin misi ke Ford Rotterdam tersebut, yaitu Van Den Lubbers. Beberapa kapal dan peralatan perang disita dan pasukan VOC yang masih hidup pun ditawan.

Perang inilah yang menjadi puncak kemarahan Gubernur Belanda di Batavia, Johansen Joan Maetsuyker. Segera ia lakukan rapat bersama semua pejabatnya untuk merencanakan serangan balik kepada Kerajaan Gowa. Admiral John Van Dam ditunjuk menjadi pemimpin misi ini. Admiral John Van Dam yang memang sedari dulu memiliki dendam tersendiri pada Kerajaan Gowa begitu bersemangat menyambut tugas ini.

Melalui badan intelejennya, Kerajaan Gowa mengetahui dengan cepat niatan VOC tersebut. Tak mau kalah para pejabat Kerajaan pun melakukan rapat untuk melawan serangan itu. Karaeng Intang sebagai panglima perang kerajaan mengatur strategi. Semua perwira terbaik dipersiapkan untuk turut bertarung. Tidak terkecuali trio Karaeng Issong, I Makkuruni serta Karaeng Rioso yang berpengalaman menghantam pasukan VOC di perang sebelumnya

Singkat cerita, pecahlah perang antara Kerajaan Gowa melawan VOC yang telah berhasil membujuk Kerajaan Bone, Kerajaan Buton dan Kerajaan Ambon untuk menjadi sekutu mereka. La Tenritatta Arung Palakka yang memiliki dendam menahun dengan Kerajaan Gowa sangat berhasrat merebut daerah tersebut. Semua upaya maksimal dari kedua kubu pun dikerahkan di medan kombatan ini.

Dengan dibawa sertanya meriam "Anak Makassar" menambah keyakinan para prajurit Kerajaan Gowa. Meriam ini memang adalah meriam andalan Kerajaan Gowa. Biasanya meriam ini dipasang di ibu kota Somba Opu sebagai senjata pertahanan terakhir kerajaan. Ditambah lagi dengan strategi yang begitu jitu yaitu serangan dua arah atau mengepung membuat Kerajaan Gowa unggul di perang yang berlangsung selama berhari-hari ini.

Puluhan kapal telah menjadi bangkai dan tenggelam ke dasar laut. Ratusan prajurit gugur dalam petempuran ini. Belum lagi kerugian materil yang pasti dialami oleh kedua kubu. Memang selalu itulah yang hadir di akhir setiap perang.

***

Selain penggambaran dahsyatnya perang, banyak hal yang menurut saya menarik dari novel sejarah ini. kearifan juga cara bertutur khas masyarakat Bugis-Makassar yang begitu santun tercermin di sini. Contohnya saja tokoh utama I Makkuruni begitu santun bahkan sangat merendah jika berhadapan dengan para petinggi Kerajaan Gowa. Namun sikap itu berubah menjadi sikap yang gagah berani pantang takut jika sudah berhadapan musuh (VOC). Sikap ini tentu adalah aplikasi dari etos siri' na pacce (pesse) yang memang menjadi sikap khas manusia Bugis-Makassar.

Novel sejarah ini juga dibumbui cerita cinta yang menarik menurut saya, bukan cinta yang banal. Walaupun tidak terungkap secara blak-blakan, romansa kasih antara I Makkuruni dengan tuan putri I Patimang sangat indah sekaligus unik. Perasaan cinta mereka tersirat melalui saputangan milik I Patimang yang diberikan kepada I Makkuruni. Memang sang tuan putri telah jatuh hati dan menaruh simpati sejak pertama kali bertemu I Makkuruni. Ia kagum akan keberanian serta kesantunan wakil dari kakaknya tersebut. Namun tidak diketahui akhir cerita dua sejoli tersebut dalam novel ini.

***

Sang penulis, Prof. SM Noor (saya harus memanggil beliau prof. karena penulis adalah dosen saya di Fakultas Hukum Unhas) walaupun berlatar belakang sebagai seorang akademisi, dapat dengan gamblang mengurai cerita sejarah ini dengan sedetail mungkin. Penulis yang seorang guru besar di bidang Hukum Internasional sangat menguasai seluk beluk Perang Makassar yang terjadi pada abad ke-17 tersebut.

Saya pernah membaca alasan beliau menulis novel ini di salah satu harian kota. Alasan beliau menulis sejarah dalam bentuk novel bukan dalam bentuk buku teks atau karya tulis ilmiah adalah agar pembaca dapat menerima cerita sejarah ini dengan mudah. menurut beliau pembaca akan cepat bosan bahkan tidak tertarik membaca apabila sejarah tersebut ditulis dalam bentuk tulisan formal.

Saya kira ini adalah sebuah strategi yang sangat baik dalam masalah metode penyampaian ilmu pengetahuan. Salah satu sebab mengapa minat membaca masyarakt kita sangat rendah karena para penulis kita kurang mampu menghadirkan tulisan dalam bentuk yang menarik, baik dalam bentuk isi maupun metode penyampaiannya. Dan Prof. SM Noor ini melakukan sebuah langkah maju dalam upaya peningkatan budaya literasi masyarakat Indonesia.

Rabu, 20 April 2011

Inventarisasi Buku

DARTAR BUKU PUSTAKA PRIBADI

No.
Judul
Pengarang
Penerbit
Keterangan
46
Apa Kabar Cicit
Aspar Paturussi


57
Dalih Pembunuhan Massal
John Roosa

Sagita
59
10 Kisah Genocide


Ridwan
61
Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme
Budhy Munawar-Rachman

Edwin
19
Hukum Agraria
Aminuddin Salle, dkk
AS Center

45
Football Villains
Owen A. McBall
B First

21
Pengantar Hukum Pengungsi Internasional
Achmad Romsan, dkk
Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa Urusan Pengungsi Perwakilan Regional Jakarta

48
Jurnal Hukum Internasional Jurisdictionary

Bagian Hukum Internasional FH Unhas

36
Alimin & Tan Malaka Pahlawan Yang Diluapakan
Efantino Febriana
Bio Pustaka

39
Mereka Yang Mati Muda
Arifin Surya Nugraha, dkk
Bio Pustaka

17
Menuju Negara Hukum Yang Demokratis
Jimly Asshidiqie
BIP

49
Undang-Undang Dasar 1945 dan Perubahannya

Bukune

24
KUHP
Moeljatno
Bumi Aksara

25
Metodologi Penelitian Sosial
Husaini Usman & Purnomo Setiady Akbar
Bumi Aksara

7
Pemerintahan SBY-JK
M. Sadly
CSIS

14
Ensiklopedia Sejarah Sulawesi Selatan Sampai Tahun 1905

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan

11
Melindungi Negara Dari Ancaman Neoliberal
Erhard Eppler
Friedrich Ebert Stiftung

63
Filosofi Kopi
Dee Dewi Lestari
Gagas Media
Romi
26
Kudeta Mei ‘98
Arwan Tuti Artha
Galang Press

50
Kumpulan Budak Setan
Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, Ugoran Prasad
Gramedia
Kak Atun
13
Creative Junkies
Yoris Sebastian
Gramedia Pustaka Utama

9
Perkawinan Bugis
Susan Bolyard Millar
Ininnawa

31
Seandainya Saya Wartawan Tempo
Goenawan Mohamad
Institut Tempo

23
Perang-Perang Paling Berpengaruh di Dunia
Akhmad Iqbal
JB Publisher

29
Damai Bersama Gusdur

Kompas

56
Menguak Misteri Sejarah
Asvi Warman ADAM
Kompas
Dewi
62
Api Islam Nurcholish Madjid
Ahmad Gaus AF
Kompas
Asra
43
Benny & Mice Lost in Bali 2
Benny Rachmadi & Muhammad Misrad
KPG
Bang Upik
37
Existere
Sinta Yudisia
Lingkar Pena

6
Fidel & Che
Simon Reid-Henry
Literati

35
Penyamaran Terakhir Tan Malaka di Banten 1943-1945
Hendri F. Isnaini
Media Alam Semesta

30
Kota Tanpa Kelamin
Lan Fang
Media Kita

34
Rapot Indonesia Merah
Erros Djarot
Media Kita

47
Islam Komedernan Keindonesiaan
Nurcholish Madjid
Mizan

5
MADILOG
Tan Malaka
Narasi

38
Koleksi Humor Gusdur
Guntur Wiguna
Narasi

41
Manusia Serigala
Abdullah Harahap
Paradoks

27
Rahasia Kecerdasan Yahudi
A.      Maheswara
Pinus

40
Aji Bello

Pustaka Refleksi

22
Hukum Waris
Effendi Perangin
Rajawali Pers

55
Pembaruan Hukum Pajak
Muhammad Djafar Saidi
Rajawali Pers

44
Kamus Lengkap Bahasa Indonesia
Ahmad A.K. Muda
Reality Publisher

12
Che Untuk Pemula
Sergio Sinay dan Agung Arif Budiman
Resist

33
Marxisme Untuk Pemula
Rupert Woodfin & Oscar Zarate
Resist

28
Kupu-Kupu Palestina

Shofia

8
Hal Memberitakan

Tempo

32
Cerita Tentang Akar

Tempo

42
Bahasa

Tempo
Dikasi ke LP2KI
51
Catatan Pinggir 6
Goenawan Mohamad
Tempo

52
Catatan Pinggir 7
Goenawan Mohamad
Tempo
Dikasi ke Upik
58
Zaman Kenisbian
George Soros
Tempo
Chua
60
Cari Angin
Putu Setia
Tempo
Chua
1
Seri Buku Tempo Bapak Bangsa: Sukarno

Tempo - KPG

2
Seri Buku Tempo Bapak Bangsa: Hatta

Tempo - KPG
Atri
3
Seri Buku Tempo Bapak Bangsa: Tan Malaka

Tempo - KPG
Romi
4
Seri Buku Tempo Bapak Bangsa: Sjahrir

Tempo - KPG

10
Orasi Dari Luar Parlemen
Attock Soharto
Tomanurung

18
Pengantar Hukum Administrasi Indonesia
Philipus M. Hadjon et al
UGM

15
Jurnal Ilmu Hukum Amanagappa (Vol. 16 Nomor 1 Maret 2008)

Universitas Hasanuddin

16
Jurnal Ilmu Hukum Amanagappa (Vol. 16 Nomor 2 Juni 2008

Universitas Hasanuddin

20
Kitan Undang-Undang Hukum Perdata

Wacana Intelektual

53
Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia Jilid 1
Harry A. Poeze
Yayasan Obor Indonesia

54
Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia Jilid 2
Harry A. Poeze
Yayasan Obor Indonesia