Tampilkan postingan dengan label TemanTeman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TemanTeman. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Desember 2011

Menonton Efek Rumah Kaca


Apa lagi yang lebih membahagiakan daripada menonton konser band kesayangan, bersama teman-teman terbaik pula. Saya rasa sudah tidak ada. Jumat malam ini saya dan banyak teman menghadiri Shopping Concert Chambers Yes 2011. Headliner utama pada konser kali ini adalah band yang paling berpengaruh dalam hidup saya, Efek Rumah Kaca (ERK). Ini kali keempat saya menonton mereka. Tiga kali di Makassar dan sekali di Jakarta. Bagi saya, tak pernah ada kata bosan untuk mendengarkan dan menyaksikan mereka.

Konser kali ini terasa istimewa karena beberapa hal. Selain karena menonton bersama teman-teman, setelah konser saya juga harus membuat semacam ulasan tentang gigs kali ini untuk sebuah webzine potensial asal Tarakan East Borneo, Abodmu (saya sudah sering mengatakan ini di postingan sebelumnya kan). Jadi, ketahuilah, saat kalian sedang asyik saja menonton dan sing a long sepanjang konser, disaat bersamaan saya harus telaten menyimak setiap sudut stage dan memperhatikan apa saja yang terjadi selama pertunjukan berlangsung.

Tapi alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Saya bisa menikmati jalannya konser namun tetap bisa membuat ulasan, tepat sesuai dengan waktu yang diharapkan. Hasil liputan amatiran saya bisa disimak disini

Sebenarnya saya tidak akan membahas banyak tentang ERK disini. Sepertinya semuanya juga sudah tahu, Efek Rumah Kaca ada sebuah jaminan mutu untuk setiap konser yang memasang mereka sebagai penampil (apa saya terlalu berlebihan ya?). Tapi kali ini saya mau lebih banyak bercerita tentang teman-teman saya yang turut serta pada konser malam tadi. Ada teman-teman serumah di Asrama Tarakan: Asdi, Rusdi, Gepeng, Memet dan Kodir. Juga ada teman-teman akrab di kampus: Arif, Cua, Isak, Bon dan Okky.

Untuk teman-teman asrama, okelah, rata-rata mereka sudah menyukai ERK sejak lama. Kecuali Memet yang sedari dulu adalah fans militan dari unit menye-menye, Ungu dan Kodir (sebenarnya nama asli orang ini adalah Chaidir teman-teman) yang saat ini sepertinya sangat berhasrat menjadi anggota boy band ibukota. Tapi baiknya, mereka tampak menikmati konser malam tadi. Khusus untuk Rusdi, terimakasih atas pinjaman BB-nya untuk saya mengambil gambar.

Nah, kalau teman-teman kampus punya kisah tersendiri. Cerita mereka mau menonton konser yang mengahadirkan ERK cukup berwarna. Oke, saya ceritakan saja satu-persatu. Dimulai dari Arif. Sebelum mengenal saya, Arif adalah Ungu Cliqers (Sebutan untuk fans setia band Ungu) terbesar dari Kota Sorong. Sama dengan Memet, Arif sepertinya akan rela mati demi band yang satu itu. Ketika mulai akrab, saya menjejalinya dengan musik-musik kesukaan saya semacam ERK dan Frau. Alhamdulillah beberapa musisi hasil rekomendasi dari saya telah terpasang di playlist-nya. Walau masih saja dia tetap setia dengan Ungu-nya. Lihat saja jejaring sosialnya kalau tidak percaya. Segera lupakan band berwarna janda itu Arif!

Kalau Cua lain lagi. Ia adalah teman yang paling berhasil saya pengaruhi dalam hal mendengarkan musik kesukaan saya. Tercatat, sudah tiga kali saya berhasil mengajak serta Cua ke acara konser musik. The Trees And The Wild, Frau dan ERK adalah band yang sudah sempat ia saksikan bersama saya. Semasa SMA Cua adalah seorang personil kelompok nasyid. Menurut cerita, ia sudah sempat tampil di beberapa tempat di Maros maupun Makassar. Sungguh pencapaian yang luar biasa. Tapi seorang penyanyi nasyid yang juga menjadi penikmat musik berkualitas adalah pencapaian yang lebih luar biasa lagi. Percayalah itu cua!

Sejatinya Isak adalah seorang penggemar film. Namun ketika saya ajak untuk menonton konser ERK ia langsung mengiyakan. Alasannya, tentu saja karena teman-teman yang lain sudah pasti akan turut serta. Kan tidak enak, menonton film lewat notebook dengan keadaan ditinggal sendiri di rumah. Tapi siang sebelum kami akan menonton konser ini, Isak ternyata mempersiapkan beberapa hal. Ia men-download beberapa lagu ERK dan berusaha menghafalnya. Sepertinya Ia tidak mau ketinggalan untuk sing a long. Alhamdulillah Isak juga terlihat menikmati konser hingga usai.

Eh catatan tambahan untuk ketiga teman seperjuangan saya ini. Ada hal yang membuat konser kali ini tambah istimewa. Karena takut terjebak macet, kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju tempat konser. Sialnya, ternyata jalan tidak terlalu macet. Jalanan padat, namun masih kondusif untuk dilewati. Apa lacur, ya kami berjalan kaki sejauh lebih dari satu kilometer pergi-pulang. Untung ada sedikit hiburan dari nikmatnya nasi kuning tengah malam yang kami temui sewaktu pulang.

Konser tadi malam bukan hanya milik laki-laki. Duo Gosip (hahaha... akhirnya saya menemukan nama yang keren untu kalian) Okky dan SriBon juga turut serta. Sebenarnya kedua wanita enerjik ini adalah penggemar musisi barat, semacam Lady Gaga, Maroon 5 dan Panic! At The Disco. Namun sejak saya memperdengarkan ERK, Bon langsung suka. Begitu juga Okky. Katanya Ia suka dengan liriknya. Syukurlah kalian dikaruniai kuping yang peka terhadap lagu-lagu bagus. Hehehe..

Khusus Okky, awal perkenalan saya dengannya juga karena musik. Sekitar tahun 2007 Okky meng-add Friendster saya (ya Friendster teman-teman). Karena saya memasang gambar musisi asal Inggris, Mika, sebagai profil picture waktu itu. Ya, kami sama-sama suka Mika waktu itu.

Sebenarnya saya tidak yakin kedua gadis ini akan datang, mengingat penonton sudah terlalu padat. Tapi tak disangka, hujan dan ancaman akan terhimpit ditengah penonton yang kebanyakan laki-laki tak menghalangi mereka. Mereka datang sesaat sebelum ERK akan tampil. Ketika ERK mulai beraksi, semua menikmati, termasuk kedua teman saya ini. Sampai penonton di bagian tempat kami menonton mulai rese. Mereka mulai saling mendorong satu sama lain. Tak ada pilihan lain, kami harus mundur ke daerah yang lebih tentram.

Kejadian sempat terhimpit tadi ternyata tidak membuat mereka kecewa. Alhamdulillah semua tetap menikmati dan puas dengan konser barusan. Ini terlihat dari kicauan rasa senang  mereka di twitter sesat setelah konser selesai.

Ah, tadi malam itu sungguh berkesan. Tak mudah mendapatkan momen semacam itu. Bagaimana kawan-kawan? Setuju kan dengan saya? :))

Selasa, 06 Desember 2011

Buah Tangan yang Sama

Setahun yang lalu saya berkesempatan untuk mengikuti sebuah pelatihan menulis di Bogor dan Jakarta. Sepulangnya dari sana saya membawa lumayan banyak buku. Ada belasan mungkin. Satu diantara buku yang saya bawa tadi saya berikan kepada teman saya, Yupitasari atau Upi. Waktu itu, selama seminggu saya meninggalkan Makassar, Upi telah menjalankan tugas saya sebagai penanggung jawab pelatihan kepenulisan untuk mahasiswa baru di kampus. Saya masih sangat ingat buku yang saya berikan kepada Upi waktu itu. Catatan Pinggir jilid ke-7, kumpulan esai milik si dukun bahasa: Goenawan Mohamad.

Tahun ini, teman saya lainnya, Radillah atau Kyo yang berkesempatan untuk mengikuti pelatihan menulis seperti yang saya ikuti setahun yang lalu. Hanya, yang saya dengar konsep dari pelatihan menulis tahun ini sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya. Sepulangnya Kyo dari pelatihan menulis di Jakarta tersebut, saya mendapatkan kabar gembira. Oleh panitia pelatihan menulis tersebut, saya dikirimi sebuah flashdisk dan buku lewat Kyo. Dan kemarin kedua barang tersebut telah saya terima. Sebuah flashdisk berwarna hitam dengan tempatnya yang sebesar tablet pc. Juga sebuah buku yang berjudul Catatan Pinggir jilid ke-7-nya Goenawan Mohamad. Buku dengan judul sama dengan yang saya berikan kepada Upi tahun lalu. Kecewa? Tentu tidak. Saya belum punya buku Goenawan Mohamad yang ini kok. Sudah setahun ini saya menjadi penikmat tulisan-tulisan Goenawan Mohamad.

Saya harus berterimakasih karena telah diberi flashdisk dan buku ini. Terimakasih kepada Kyo yang telah membawakan. Terimakasih kepada panitia Kemah Menulis KEM 2011 yang masih ingat dengan saya dan memberikan buah tangan dari Jakarta ini. Sekali lagi, Terima Kasih. Saya senang sekali :))

Pet War

Make sure your pet be the last one standing triumphant! Move your pet, bump the aim, flee to safety zone.. It's fun, hilarious, and full of revenge...!
Sudah beberapa hari ini saya dan beberapa teman keranjingan sebuah permainan kartu. Bukan kartu remi tentunya ya. Nama resmi permainannya adalah Pet War Card Game. Seorang adik angkatan yang memperkenalkannya kepada kami. Ulfa nama adik angkatan kami itu. Ia mendapat tahu tentang permainana ini dari komunitasnya. Canvas Ranger kalau tidak salah nama komunitasnya itu.

Dari namanya, permainan ini kebaratan sekali ya? Gambar tokoh dan pet-nya pun sangat manga, kartun khas Jepang itu. Manual dari permainan ini juga dalam Bahasa Inggris. Tapi tahukah kalian kalau ternyata permaianan ini asli buatan anak negeri sendiri. Hebat ya, mereka yang punya ide membuat permainan sekeren ini.

Permainan ini sangat seru menurut saya. Saya rasa teman-teman sepermainan juga sepakat dengan saya. Bukti dari serunya permainan ini adalah kami selalu ketagihan untuk terus memainkannya. Tak peduli waktu-waktu saat ini adalah masa Ujian Akhir Semester. Kami tetap menyempatkan untuk bermain. Adapun bagi pasangan Shawir dan Nia yang sedang masa penyusunan tugas akhir, permainan ini berguna untuk mengusir rasa stress. Mereka melupakan sejenak beratnya pengurusan tugas akhir kala bermain bersama kami.

Soal cara bermainnya, tak perlulah saya menjelaskannya disini. Karena permaianan ini cukup ribet untuk dijelaskan. Kalaupun saya menjelaskannya, saya rasa tidak akan efektif bagi kalian. Kalau penasaran langsung saja cari tahu di @PetWarCardGame.

Selamat mencari tahu. Selamat bermain. Dan selamat menjadi anak kecil kembali kawan-kawan :D

Sabtu, 03 Desember 2011

(Masih) Keracunan Cewek Korea

Sudah dua pekan berlalu sejak saya dan empat orang teman bermalam minggu bersama di rumah seorang kawan. Niatan kami ngumpul malam itu adalah untuk bersenang-senang. Bermain PS dan menonton Timnas U23 yang waktu itu melawan Vietnam menjadi agenda utama sebenarnya. Tapi entah setan dari mana yang mengalihkan agenda kami malam itu. PS kami diami. Pertandingan Timnas U23 tidak kami hiraukan. Hanya sesekali kami meliriknya, yaitu pada saat gol terjadi. Malam itu kami tiba-tiba beralih untuk menonton film. Dan tahukah kalian film apa yang kami tonton? Sebenarmya saya malu untuk mengatakannya. Tapi apa boleh buat, kebusukan ini harus dibongkar. Dengan berat hati saya katakan: malam itu kami menonton film Korea teman-teman. Drama korea lebih tepatnya. Alamak!!!

Drama Seri yang kami tonton itu berjudul "Love Story in Harvard." Saya rasa semua orang juga sudah menonton drama seri ini. Jadi tak perlulah saya menceritakan tentang cerita dalam drama seri biadab ini.

Pada awalnya saya masih berkonsentarasi penuh dengan makanan saya. Sampai akhirnya saya penasaran juga melihat teman-teman yang begitu serius menonton drama seri ini. Melihat mereka begitu seru sendiri, saya gak mau ketinggalan dan didiami begitu saja dong. Akhinya saya pun ikut serta menontonnya. Film ini biasa-biasa saja sebenarnya. Sampai muncul pemeran utama wanitanya. Saya baru tersadar mengapa teman-teman saya ini tidak mau beranjak dari depan layar laptop. Ternyata mereka telah keracunan pemeran utama wanita dalam drama seri ini. Dan dengan jujur saya juga telah keracunan saudara-saudara. Kalian ingin melihat racun itu. Lihat ni:

Tercantik 3 pekan berturut-turut :p
Bagaimana? Sudah mulai kejang-kejang?

Wanita ini memang luar biasa. Dia bisa merubah persepsi "cantik" teman-teman saya. Ridwan yang dulunya tidak mengenal wanita cantik, rela merengek-rengek kepada Ihksan untuk mendapatkan semua seri drama "Love Story in Harvard" demi melihat perempuan ini. Chua yang sampai hari itu masih beranggapan bahwa wanita idamannya adalah perempuan paruh baya yang ia temui di Jakarta langsung berubah pikiran. Kalau Indra jangan ditanya lagi. Ia sudah menjadi pengamat cewek-cewek Korea sejak jauh hari. Sampai malam itu gadis Korea tercantik yang ada di benaknya adalah para personel girl band SNSD. Tetapi sejak malam itu sepertinya Indra berpikir ulang untuk mengatakan personel SNSD adalah yang tercantik.

Tapi yang paling parah terkena efek racun gadis ini adalah teman saya yang satunya lagi. Dialah Ihksan si pemilik rumah, tempat kami pertama kali jatuh hati pada wanita Korea ini. Sebenarnya di laptopnya lah kami mendapati drama seri "Love Story in Harvard." Tapi ternyata ia juga baru menontonnya malam itu. Sama saja seperti kami, ia langsung terpana malam itu juga. Sepertinya ia langsung lupa bahwa ia telah punya kekasih seketika melihat wanita ini.

Dua pekan berlalu, keracunan wanita Korea ini sudah mulai reda. Gaungnya sudah tidak seheboh diawal. Hanya sesekali kami melihat gambanya yang memang begitu jelita di laman Google. Tapi hal itu tidak berlaku untuk si Ihksan. Sampai hari ini dia masih keracunan ternyata. Tampilan layar laptop dan ponsel-nya terpasang wanita ini.

Tadi pagi saya dan beberapa teman kampus bermain futsal. Ikhsan juga turut serta bersama kami pada acara futsal-an tersebut. Selesai bermain futsal, kami tidak langsung beranjak pulang. Kami beristirahat dulu di arena futsal sambil bercerita mengenai kuliah yang akan memasuki masa ujian akhir semester. Tiba-tiba ponsel Ikhsan berbunyi tanda SMS masuk. Teman-teman spontan bersorak bersama karena mengenali nada dering ponsel pria battala' tersebut. Nada dering ponsel si Ikhsan tak lain dan tak bukan adalah sound track "Love Story in Harvard" yang sangat menye itu. Masa' Awoh..

Satu lagi temuan saya. Saat membuka akun Facebook saya tertawa geli sendiri ketika melihat akun milik si Ikhsan ini. Mau tau apa yang saya temukan. Langsung sedot aja gan:

Akun Facebook seseorang yang tengah keracunan. Selamat nah :p
 Perhatikan dengan seksama gambar di atas. Jelas dong gambar profil-nya kaka? Coba perhatikan yang lain. Di bagian penjelasan profil, tertulis "Bekerja di PPI (PURNA PASKIBRAKA INDONESIA)." Ya, begitulah adanya. Semasa SMA Ikhsan memang seorang paskibraka. Prestasinya di bidang ini bisa dibilang sangat membanggakan. Dari situ kebanyang dong si Ikhsan ini orangnya seperti apa. Berbodi tinggi besar tentunya. Ya begitu adanya Ikhsan. Teman saya ini adalah sosok pria yang begitu gagah. Tapi siapa sangka ia bisa juga luluh oleh hal-hal yang tak terduga sebelumnya.

Tuhan memang memiliki banyak misteri. Tak selamanya Tuhan men-setting pria berbadan tinggi-besar-gagah memiliki hati yang keras pula. Terkadang Tuhan mengatur, di dalam tubuh tinggi-besar-gagah terperangkap hati yang begitu lembut atau unyu-unyu kalau kata anak muda jaman sekarang. Subhanallah...


Lantai 3 asrama.
Sambil mendengarkan sound track "Love Story in Harvard". :D

Jumat, 18 November 2011

Kami Tidak Kasar


Saya baru saja pulang dari mengantar teman-teman saya yang akan berangkat ke Kota Solo untuk berlomba. Sekali lagi teman-teman kuliah saya berkesempatan untuk mengukir prestasi mereka. Setelah minggu lalu Indra, Chua dan Flo beraksi di Fakultas Hukum UI, kali ini Arif, Afif dan Upi siap unjuk diri pada Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) yang diselengggarakan oleh Fakultas Ekonomi UNS Solo. Mereka berhasil menjadi salah satu dari sepuluh finalis setelah tulisan mereka berhasil bersaing dengan puluhan tulisan lainnya dari berbagai Perguruan Tinggi ternama di Indonesia.

Ini adalah pengalaman pertama mereka berkompetisi di tingkat nasional. Tentu tidak mudah untuk menang pada kesempatan perdana. Namun, sekali lagi ingin saya katakan, kemungkinan itu tentu masih ada. Selama usaha-usaha untuk itu terus dilakukan.

Tidak banyak yang ingin saya katakan pada kalian teman-teman. Hanya dukungan dan doa yang akan terus saya berikan untuk kesuksesan kalian kali ini. Pesan saya, tunjukkan kemampuan terbaik pada saat presentasi nanti.

Eh ada satu pesan lagi. Kalau peserta lainnya bertanya tentang kampus kita yang sedang kacau itu, jawab dengan jujur sajalah. Akui saja kalau tawuran memalukan itu memang ada. Tapi katakan pada mereka, kita bukan bagian dari oknum pelaku tawuran itu. Karena kita punya cara yang lebih elegan dalam mengaktualisasikan diri daripada sekedar melempar dan membakar kampus.

Selamat bertanding teman-teman. Harumkan almamater kita.

Jumat, 11 November 2011

KITA PASTI BISA!


       

Besok petang, tiga orang kolega saya yang juga jagoan-jagoan LP2KI, yaitu Indra, Chua dan Flo akan bertolak ke Jakarta. Disana mereka akan menjadi perwakilan Fakultas Hukum Unhas pada Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) Sciencesational UI 2011.

Perjuangan untuk merebut juara pada kompetisi kali ini akan sangat berat bagi mereka. Selain karena minimnya waktu untuk latihan, juga karena lawan-lawan yang akan meraka hadapi adalah tim-tim yang lebih berpengalaman pada perlombaan LKTM tingkat nasional. Ada tim tuan rumah, yaitu Universitas Indonesia Depok yang dikomandoi oleh Najmu Laila. Juga ada Universitas Jember dengan mas Ulum sebagai jagoannya. Dan yang sangat tidak boleh dianggap remeh tim Universitas Hasanuddin lainnya yang diwakili oleh dua peraih emas PIMNAS 2011, Tirsa dan Tami.

Tapi apapun itu, peluang untuk menang pasti masih ada. Selama ikhtiar untuk itu masih terus dilakukan. Bukan begitu kawan-kawan?

Oke sebelum tulisan saya semakin mirip ulasan Sea Games, saya sudahi saja ini semua. Yang pasti, siapapun yang membaca ini, mohon dukungan dan doa kalian untuk teman-teman saya ini. Untuk Indra, Cua dan Flo: bawa pulang juara itu. Buat kami bangga dan buktikan apa yang selalu kita dengungkan: KIPAS, KITA PASTI BISA!

Gazebo Hukum, 11.11.2011
Sambil mendengarkan "Jakarta", lagu milik Luky Annash

Senin, 10 Oktober 2011

#31HariMenulis: Ode Untuk Arief Ungu






















*Laki-Laki Pemalu adalah lagu milik EFEK RUMAH KACA


Arief Ungu (nama sedikit disamarkan) adalah teman saya.  Sebagai seorang lelaki sebenarnya dia punya semua potensi untuk menjadi "penjahat wanita." Tubuh tinggi gagah, kulit putih mulus serta penampilan maskulin. Tapi apa nyana, kuliah semester lima sudah masuk pertengahan tapi tak satupun wanita yang berhasil ia taklukkan. Pernah ada beberapa, tetapi hanya sampai level memuja dalam hati.

Kalau kata Chairil Anwar "Sekali berarti sesudah itu mati", tapi bagi Arief Ungu, "Sebelum berarti lebih baik langsung mati." Entah mengapa dia terlalu takut untuk "berarti" atau menjadi "se-su-a-tu" kata Tante Syahrini.

Dan sejak beberapa bulan yang lalu hingga kini, si Arief Ungu ini sedang sangat-menyukai seorang wanita. Sang wanita adalah teman angkatan kami di kampus. Sebenarnya kurang etis kalau saya menyebut namanya disini. Tapi sebut saja namanya "Whiera." Sejujurnya wanita ini memang jelita. Ditambah attitude yang manis dan jilbab yang anggun, wanita ini memang layak dipuja.

Si lelaki sudah begitu tertarik. Si wanita juga sepertinya sudah memberikan sinyal ketertarikan. Tetapi "penyakit lama" si lelaki kembali kambuh. Baginya melihat senyum manis si wanita dari kejauhan sudah cukup. Tak sadar si wanita butuh "dijemput." Hingga lama-kelamaan rasa suka si wanita mulai menguap. Entah kemana.

Dan kini Arief Ungu tetap saja menjadi seperti dulu. Entah kapan dia bisa mendapatkan keberanian itu. Suram memang kawan-kawan.

Sabtu, 21 Mei 2011

Mengenang Masa (Hampir) Jaya

Di libur semester yang lalu saya dan tiga orang teman bersepakat untuk membuat sebuah Toko Buku. Untuk kepentingan promosi, waktu itu saya membuat sebuah profil perkenalan personil. Seperti ini:
                                                                                                                                                                                                                   
Hai kami adalah Dedi Risfandi a.k.a Fandi, Muarif a.k.a Arief, Wahyudin a.k.a Opu dan Suardi a.k.a Chua. Kami adalah mahasiswa Fakultas Hukum Unhas. Kami satu kampus, satu angkatan, satu organisasi serta satu status yang sama: Jomblo terakreditasi A.

Dan di penghujung tahun 2010 ini kami kembali satu pikiran untuk membuka sebuah Rumah Buku yang secara sepakat kami beri nama Pelita Ilmu.

Mari berkenalan dengan kami:

Dedi Risfandi (Marketing)

Seorang Bugis yang lebih kental Papua-nya, Karena memang lahir dan besar di Pulau eksotis itu. Semua pendidikan wajib belajar 12 tahunnya dilalui di Kota Jayapura. Dan kini ia menempuh pendidikan tingginya di kampus merah Unhas, tepatnya Fakultas Hukum, setelah sempat menganggur setahun di tahun 2008.

Pria bebadan agak tambun ini sangat proaktif di kehidupan kampus. Selain disibukkan dengan bergelut dengan mata kuliah hukum, ia juga sangat aktif di banyak organisasi kampus. eksistensinya di beberapa organiasi tak dapat disangsikan lagi. tercatat hingga saat ini sedikitnya 6 organisasi mencatat namanya sebagai member. LP2KI, Karate Gojukai, HMI, FLP Unhas, Alsa FH UH serta BEM FH UH adalah kendaraan organisasi pria yang akrab disapa Fandi ini.

Cita-cita Fandi tidak main-main. Ia ingin segera menamatkan S1-nya dan segera melanjutkan studi hingga meraih gelar Profesor dengan sesegera mungkin. Satu lagi cita-cita yang sangat ingin diwujudkan pria murah senyum ini, yaitu segera memiliki pasangan yang dapat menghiasi hidupnya yang sebenarnya sudah sangat berwarna, Yang terakhir itu semoga bisa terwujud secepatnya. amin...

Maju terus Fandi. Revolusi sampai kawin :D

Muarif (Yang Punya Rumah)

Yang satu ini hampir sama dengan Fandi. Ia seorang Bugis yang juga kelamaan di Papua. Jika Fandi menetap di ibu kota, Arief terdampar di barat Papua tepatnya di Kota Sorong.

Fakultas Hukum Unhas adalah labuhan pilihan untuk meraih gelar sarjananya. Selain menjalani kewajiban untuk aktif kuliah hukum, ia juga aktif di beberapa organisasi penulisan kampus. Pria ini memang sengaja untuk menambah jam kegiatan di luar kuliah dengan belajar segala hal tentang penulisan termasuk bergaul dengan mahasiswa yang juga aktif di penulisan.

Sebagai seorang lelaki Arif sebenarnya memiliki segala potensi untuk menjadi penakluk wanita. Tinggi mumpuni, wajah tampan, kulit putih bersih dan memiliki kendaraan roda dua yang mewah Ninja RR. Namun das sein dan das sollen tidak berbanding lurus di kehidupan pria yang sangat terobsesi dengan band Ungu ini. Selama menjalani kehidupan kampusnya ia belum juga memiliki seorang yang bisa dipanggilnya 'sayang'. Apa yang salah dengan pria ini? Hingga teman-teman sepermainanya mensinyalir bahwa Ia memiliki kelainan selera seksual (Baca: homo).

Cita-cita-nya juga tidak kalah luar biasa, menjadi seorang corporate lawyer yang dibayar 1000 dolar per jam. Honor segitu mau diapain? Mungkin mau ke Belanda untuk meresmikan ikatan dengan pasangan sejenisnya :D

*dilarang marah

Wahyudin Opu (Kacung tapi Bos 1)
Lahir di Pinrang membuat lelaki cokelat ini juga berdarah Bugis. Baru melepas masa balita-nya Ia langsung hijrah ke negeri jiran mengikuti orang tua. Namun tak cukup setahun di Malaysia, keluarganya kembali berpindah ke sebuah pulau di ujung utara Kalimantan Timur, Pulau Tarakan. Masa sekolah dihabiskan di kota ini. Sampai tiba masa kuliah, ia berjodoh dengan Kota Makassar untuk melanjutkan studinya.

Sastra Indonesia Unhas menjadi persinggahan belajarnya di tahun 2008. Namun karena satu dan lain hal pada tahun 2009 pria yang biasa dipanggil Opu ini memilih kembali mengikuti tes ujian SPMB. Tak dinyana, Opu lulus secara mejik di Fakultas Hukum namun tetap pada almamater yang sama, Unhas. Jadilah hari-hari selama kurang lebih 4 tahun ia habisnya untuk bergelut dengan mata kuliah hukum.

Selain kuliah, Opu juga aktif di beberapa organisasi. Organda Tarakan Study Club (TSC) dan LP2KI menjadi kendaraan untuk belajar lebih di masa kuliah. Dunia organisasi memang sudah akrab dengan Romanisti ini sejak bersekolah.

Cita-cita pria ini sangat sederhana, apapun pekerjaannya kelak, ia ingin menjadi orang kaya. Tentu dengan cara yang legal. menurutnya dengan menjadi orang kaya mungkin ia bisa 'membeli' yang ia inginkan, termasuk wanita idamannya. maybe.

Mustahil mendapatkan wanita idaman dengan keadaannya sekarang, serba kekurangan kasian :D

Suardi (Kacung tapi Bos 2)

Yang ini juga Bugis (bilang ajah dari tadi kalo semua orang disini itu bugis). Tepatnya Bugis Maros. masa kecil pernah ia lalui dengan tawuran di Timor Timur sewaktu masih menjadi bagian nusantara. ekstrim bukan.

Aktif berorganisasi sejak SMA. Pengalaman pernah menjadi ketua OSIS sewaktu SMA membuktikan kemampuan berorganisasi pria pemalu ini sudah sangat  mumpuni sejak usia muda.

Berkuliah di Fakultas Hukum Unhas membuat pria yang akrab disapa Chua ini kembali mempertajam kemampuan berorganisasinya dengan bergabung dengan UKM Fakultas. LP2KI dan Karate Gojukai adalah dua organsiasinya saat ini. Selain dikenal sebagai mahasiswa yang selalu menjadi andalan di kelas, ia juga menajadi andalan bagi teman-teman di organisasinya.

Cita-cita-nya sangat mulia, menjadikan daerahnya Maros bisa lebih dikenal di tingkat nasional atau bahkan internasional. Sungguh niatan yang sangat mulia yang datang dari seorang putra daerah sejati.

Tak mau kalah dengan Putri Indonesia, ia juga punya slogan andalan untuk mempromosikan Maros: 'Maros is beautiful country' (Upss Salaaahh...)

Itulah, dan kami sependapat kami bisa sukses dengan membuka Rumah Buku Pelita Ilmu ini.
                                                                                                                                                                                                                  
Sayang usaha yang sebenarnya potensial tersebut harus berakhir prematur. kami cuma sempat buka selama tiga bulan. Selebihnya, kami lebih sibuk dengan urusan lain, seperti kuliah dan kegiatan organisasi. Sayang sungguh..
Tapi tak mengapa. Mungkin suatu hari nanti bisa lebih serius. Entah bersama ataupun sendiri-sendiri.

Senin, 04 April 2011

Jenderal itu Pattikkeng

Sudah cukup lama tidak menulis sesuatu di blog ini. Dan kali ini aku mau cerita sedikit tentang hobi yang akhir-akhir ini sangat sering aku lakukan bersama teman-teman. Permainan ini sebenarnya permainan lama dan mungkin semua orang sudah pernah memainkannya. Nama umumnya adalah "Kartu Jenderal." Permainan ini menggunakan kartu remi.

Pada awalnya permainan ini tidak terlalu sering kami lakukan. Tapi belakangan ini sangat sering (bahkan keterluan). Karena permainan ini bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. lagi pula permainan ini bisa mengusir rasa bosan dan dapat mempererat tali persaudaraan (yang ini bohong).

Foto-foto dibawah ini mungkin bisa bercerita kepada kalian, betapa tergila-gilanya kami pada permainan "Kartu Jenderal" ini. Mari ki...

Pada mulanya cuma kami lakukan di tempat-tempat privat, seperti di markas.
Mulai berani main di kelas, tapi masih sembunyi waktu dosen belum masuk.
Semakin lama semakin berani blak-blakan, bahkan sampai membongkar kursi kelas.
Ini yang paling parah. Kami main Jenderal di Gedung Ipteks pas lagi ada acara Festival Budaya Jepang. Kurang ajar bukan.
Ini di sekretariat LP2KI. Sekarang sudah diharamkan.

Yah seperti itulah. Permainan ini sangat asik buat kami. Kalau sudah main bisa-bisa bikin lupa waktu. Bisa lupa kerja tugas (Jangan dicontoh adik-adik) bahkan lupa kalau motor Ninja RR sudah diembat oleh maling sialan (Sabar ye yang motornya hilang).

Sebelum mengakhiri postingan ini, aku mau ngasi lihat foto-foto lain yang termasuk foto-foto yang sayang untuk tidak diperlihatkan. Ini dia:

Ini bukti tertulis setiap main. Karena siapa yang kalah dan siapa yang menang bagi kami itu penting (geje)
Permaianan ini tidak membedakan gender. Tidak hanya menjadi dominasi lelaki, ada kalanya perempuan berganti mendominasi.
Ini geng lain yang terpengaruh oleh kami. Meraka secara diam-diam sudah mulai sering juga bermain di kelas.
Sekian cerita-cerita kali ini. Intinya permainan ini sangat asik, tapi lebih asik lagi kalau dengan permaian ini tidak menganggu pekerjaan yang lain. Iya kan?

Salam Jenderal.