Tampilkan postingan dengan label Vakansi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Vakansi. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Desember 2012

Terjebak di Pulau Cangke'


Lupakan kiamat yang benar-benar tidak-benar-terjadi. Tanggal 21 Desember yang lalu, saya bersama teman-teman asrama mengunjungi sebuah pulau cantik bernama Cangke’. Kalau Ray D’ Sky begitu bersyukur karena pernah terjebak di pulau yang indah, saya rasa sayapun telah merasakannya ketika berada tiga hari disana.



Pulau Cangke' terletak di gugusan pulau-pulau kecil Sulawesi Selatan. Daerahnya masih termasuk wilayah administrasi Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep). Demi efisiensi waktu dan ongkos kami memulai perjalanan melalui Pelabuhan Paotere Makassar. (Mungkin) satu-satunya moda transportasi yang dapat digunakan untuk mencapainya hanya dengan kapal penumpang tradisional. Belum ada jadwal transportasi reguler kesana. Jadi jika ingin berkunjung kita harus menyewa kapal beberapa hari sebelum keberangkatan. Itupun harus dalam rombongan berjumlah minimal lima orang, kalau saya tidak salah.

Langit sudah gelap ketika kami tiba di Pulau Cangke'. Namun, dari atas dermaga kami masih dapat melihat dasar laut yang tidak seberapa dalam. Bulan memang bersinar cemerlang malam itu. Kami langsung saja menyambangi rumah sang penjaga pulau, Daeng Abu namanya. Pulau ini hanya dihuni oleh empat orang yang sudah cukup berumur. Selain Daeng Abu dan istrinya, masih ada sepasang suami istri lainnya yang masih keluarga dekat Daeng Abu. Kesemua mereka bertugas secara sukarela untuk menjaga dan merawat pulau kecil tanpa tenaga listrik ini.

Hanya sebentar kami berbincang sebelum Daeng Abu menginzinkan kami mencari tempat untuk membangun tenda penginapan. Sisa malam kami lalui dengan menikmati kopi hangat sambil berbincang tentang keindahan pulau yang akan kami lihat esok pagi. Bahkan ada beberapa teman yang mengaku tak bisa tidur saking penasarannya.

Akhirnya pagi benar-benar datang. Langit tak begitu cerah, namun tak menghalangi kami untuk segera masuk ke dalam air. Hari Sabtu itu sungguh menjadi hari yang mewah. Kami serasa memiliki pulau pribadi. Tak ada pengunjung lain. Tak ada ribut ataupun polusi khas kota. Yang ada hanya pantai, matahari dan bersenang-senang.

Semua asyik dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang berenang, ada yang sibuk mengambil gambar dengan kameranya, sedang yang lain bersenang-senang di tengah laut sambil memancing ikan menggunakan perahu kecil. Semua akan kembali berkumpul pada waktu makan. Setelah itu, ya kembali bersenng-senang lagi dengan segala hal yang bisa dilakukan. Begitulah siklus kegiatan kami sampai begitu tak terasa langit berganti gelap.

Malam terakhir tak begitu menyenangkan. Langit mendung, angin kencang dan hujan datang menggangu. Beberapa teman mulai mengungsi ke rumah kosong yang dipinjamkan secara cuma-cuma oleh Daeng Abu. Sedang saya dan beberapa teman yang lainnya tetap kekeuh untuk tidur di dalam tenda. Pukul sepuluh malam kami sudah tertidur. Mungkin karena kecapaian karena aktifitas sepanjang siang sebelumnya.

Tapi sial bagi saya karena terbangun di tengah malam dalam keadaan kelaparan. Kacaunya tak banyak makanan yang tersisa. Ya sudalah, untuk membuang kebosanan karena belum bisa kembali tidur, saya memutuskan untuk berkeliling pulau sendirian. Agak takut juga sebenarnya. Tapi saya penasaran dengan cerita Daeng Abu yang mengatakan bahwa sekarang ini adalah musim bertelur bagi penyu sisik di pulau itu. Tapi setelah berkeliling pulau, yang hanya membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit, saya tak mendapatkan penyu tersebut. Mungkin karena langit sedang tidak cerah.

Karena benar-benar telah kecapaian, saya kembali ke dalam tenda. Kali ini tidur saya pulas sampai pagi.


Bonus hari terakhir di Pulau Cangke’ adalah langit cerah yang menampakkan matahari yang begitu jingga. Sayang, kami harus berkemas karena kapal akan segera datang menjemput pagi itu juga. Kurang lebih pukul sembilan kapal tampak datang. Setelah berpamitan dengan Daeng Abu dan koleganya, kami pun menuju dermaga. Tak beberapa lama kemudian kapal mulai bergerak meninggalkan Pulau Cangke’. Lambaian perpisahan mengiringi kepulangan kami, tentu dengan harapan suatu saat kami akan kembali bertemu dengan keindahan pulau dan kebaikan hati orang-orang disana.

Tulisan ini juga dapat dibaca di Detik Travel

Selasa, 10 Juli 2012

Surya di Pancang

05:57 WITA
06:11 WITA
17:49 WITA
18:07 WITA

Tempat favorit saya di Desa Sei Pancang, Pulau Sebatik ini, adalah Dermaga Pancang, pintu keluar dan masuk Pulau Sebatik di bagian Utara. Dermaga yang sudah terlihat tua ini berhadapan langsung dengan Tawau, Malaysia. Hampir setiap pagi dan petang saya datang kesana. Alasan utamanya, tentu saja untuk melihat keindahan sunrise dan sunset. Sinar matahari timbul dan tenggelam di spot ini sangat memesona. Selalu hangat. Sehangat orang-orang yang beraktifitas di tempat itu.

Kamis, 07 Juni 2012

Ke Malang Kami Kan Pergi #2

Bersama Arasy, metalhead Universitas Brawijaya
Hari pertama pelaksanaan Lingkar Riset Mahasiswa Hukum Indonesia (LRMHI) di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang, saya sudah mendapatkan dua ajakan untuk menonton konser musik. Yang pertama datang dari Pandi, teman SMA yang sekarang sedang berjuang untuk menjadi seorang sarjana di Kota Malang. Ia mengajak untuk menonton konser band kesayangan kami bersama yaitu Sheila On 7 yang akan manggung di Universitas Negeri Malang. Ajakan kedua lebih menggiurkan datang dari Arasy, seorang metalhead asal Gorontalo yang tersesat di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Ia memberi tahu bahwa Seringai, salah satu unit metal terbaik negeri ini akan hadir menjadi penampil utama pada event Kickfest Malang 2012 di hari kedua. Tentu saja saya lebih memilih ajakan yang kedua. Saya terlanjur kesengsem dengan penampilan Seringai yang pertama kali saya tonton di helatan Rock In Celebes tahun 2011 lalu.

Tapi tentu saja halangan terbesar bagi kami untuk menghadiri gelaran Kickfest datang dari jadwal acara LRMHI yang tidak memungkinkan kami untuk kemana-mana. Siang hari saya sudah membuat sebuah permufakatan jahat dengan Arasy: Kami akan kabur dari tempat acara untuk hadir di arena moshing Kickfest Malang. Namun apa nyana, Kami batal datang ke Konser Seringai. Saya masih sibuk untuk mendampingi peserta pada sebuah diskusi. Sedangkang Arasy dihimbau untuk tidak pergi kemana-mana, karena divisinya masih bertanggung jawab atas berlangsungnya acara. Ah, sungguh sayang.

Setelah batal ke Kickfest dihari kedua saya malah kembali mendapat ajakan untuk kesana dihari selanjutnya oleh dua orang teman dekat semasa SMA. Untung saja malam itu seluruh rangkaian kegiatan LRMHI telah usai. Setelah makan malam bersama dan sudah memastikan bahwa penginapan kami untuk dua malam kedepan telah aman, saya, Pandi dan Septian langsung bergegas ke arena Kickfest Malang yang berlangsung di Lapangan Rampal. Sesampainya disana kami langsung menuju both Starcross yang sudah dibanjiri oleh para Sheila Gank (sebutan untuk para fans Sheila On 7). Saya tidak terlalu lama di both itu. Tujuan saya ke KickFest adalah untuk mencari sebuah tas selempang kecil untuk memudahkan perjalanan selama di Malang dan juga untuk bekal KKN nanti. Saya mendapatkan tas tesebut di both Screamous, tentu dengan harga miring.

Hanya sekitar dua jam disana, kami pun beranjak untuk mencari makan. Bersama beberapa mbak-mbak Sheila Gank, kami memilih Nasi Goreng Gandrung untuk dijajal  di tengah malam itu. Konon nasi goreng tersebut telah menjadi waralaba yang sudah memiliki cabang di berbagai daerah. Saya yang belum tahu apa-apa tentang Nasi Goreng Gandrung memilih aman saja. Saya dan Septian memilih Nasi Goreng Gandrung, sedangkan yang lain memilih varian lainnya. Overall nasi goreng ini enak. Rasanya serba pas dengan lidah saya. Lagipula harganya cukup murah meriah, hanya Tujuh Ribu Rupiah untuk sepiring Nasi Goreng Gandrung. Dan yang paling mengenakkan, Nasi Goreng Gandrung plus Jus Jeruk malam itu ditraktir oleh mbak-mbak Sheila Gank yang saya lupa namanya. Aduh, maafkan saya mbak. Maafkan saya.

Selepas dari Warung Nasi Goreng Gandrung, Septian langsung mengantar saya ke penginapan. Pukul 11 malam saya sudah terlalu mengantuk untuk diajak berkeliling Kota Malang. Sebenarnya masih ada beberapa destinasi tengah malam yang ingin diperlihatkan oleh Pandi dan Septian. Namun apa daya tenaganya tak sampai. Maka berakhir pula pertemuan kami di malam itu. Terimakasih kepada Pandi dan Septian yang sudah menjamu saya. Kapan-kapan kalian yang harus ke Makassar.

Senin (04/06/2012), sehari sebelum kembali ke Makassar kami (Saya, Nur dan Rinanti) menyempatkan diri untuk mengunjungi Kota Wisata Batu. Berbekal kenekatan dan bertanya sana-sani, akhirnya sampai juga kami di Jatim Park II. Lokasi wisata ini berjarak 45 menit perjalanan dari Kota Malang. Udara sejuk langsung menyapa kami ketika turun dari angkot. Udara di Kota Batu ini mirip-mirip lah dengan Malino. Hanya saja Kota ini betul-betul didesain untuk menjadi kota wisata. Infrastruktur wisata kota ini cukup mengagumkan. Di Jatim Park II saja terdapat Batu Secret Zoo yang nyaman, Museum Satwa yang mengingatkan saya dengan film Night at The Museum dan juga penginapan unik berbentuk pohon raksasa bernama Pohon Inn.

Tempat pertama yang kami jajal adalah Batu Secret Zoo. Tempat ini begitu nyaman. Memadukan kebun binatang, cafe dan resto juga wahana permainan keluarga. Kebun binatang yang biasanya memiliki kesan kotor dan tidak terawat sama sekali tak terlihat di tempat ini. Bagi saya, yang paling menyenangkan dari tempat ini adalah saya bisa melihat hewan-hewan yang belum pernah saya lihat secara langsung sebelumnya dengan penataan kandang yang enak dipandang. Hewan-hewan yang sering muncul di  film-film kartun juga banyak terdapat disini. Pokoknya Batu Secret Zoo ini sangat saya rekomendasikan bagi yang akan berkunjung ke Kota Malang.

Perjalanan kami berlanjut di Museum Satwa. Museum ini dirancang secara apik dan benar-benar “bertaraf internasional.” Dari luar bentuk bangunannya dirancang dengan gaya eropa kuno. Ketika masuk, kita langsung disambut dengan rangka hewan raksasa Dinosaurus yang gagah. Rangka dinosaurus inilah yang mengingatkan saya dengan film Night at The Museum. Tidak hanya itu, diorama hewan-hewan yang telah diawetkan pun sangat menarik untuk disimak disini. Hanya satu jam saja kami di tempat ini. Waktu terlalu banyak kami habiskan di Batu Secret Zoo. Malam sudah hampir datang. Itu berarti perjalanan kami akan berlanjut ke Batu Night Sensation (BNS).

Hari sudah malam ketika kami sampai di BNS. Kami sempat terkecoh oleh seorang anak kecil yang mengatakan jarak antara Jatim Park II dengan BNS itu dekat saja. Ternyata perkiraan anak itu benar, sangat dekat untuk ukuran dia yang sering berjalan kaki sepertinya. Sedangkan bagi kami, jarak yang sepertinya sejauh lebih dari 1 kilometer itu sungguh berat. Apalagi sudah seharian ini kami berjalan mengelilingi Jatim Park II. Dengan sisa-sisa tenaga akhirnya sampai juga kami di BNS yang sudah ramai dibicarakan itu. Setelah membayar tiket masuk seharga sepuluh ribu rupiah per orang, kami pun siap menjelajah berbagai wahana permainan disana. Tapi ternyata semangat kami telah habis diperjalanan tadi. saya sudah terlanjur tidak berselera menghabiskan teriakan suara di beberapa wahana yang terlihat menantang. Rinanti juga sudah cukup syok setelah diguncang wahana Tsunami di Batu Secret Zoo tadi. Jadilah kami hanya bermain di satu wahana yang tentram saat dimainkan, yaitu Sepeda Terbang. Dengan wahana ini kita bisa melihat keindahan Kota Batu dan Malang dari ketinggian.

Rinanti dan Nur di depan Batu Secret Zoo
Bercengkrama dengan burung-burung cantik
Raja Singa :D
Museum Satwa yang megah

Setelah menikmati Keindahan Kota Batu dan Malang dengan Sepeda Terbang, kami langsung beranjak menuju toko oleh-oleh yang berada dibagian luar BNS. Disana kami memilih penganan khas Kota Malang untuk dibawa pulang sebagai buah tangan untuk teman-teman di Makassar. Setelah dirasa cukup, langsung saja kami menuju terminal terdekat untuk selanjutnya kembali ke Malang. Untung saja masih ada angkot menuju Kota Malang di Pukul 9 malam itu. Sebelum pukul 10 kami sudah tiba di penginapan. Setelah santap malam, kami langsung terlelap karena esok hari akan menuju Surabaya untuk selanjutnya kembali ke Makassar.

Selasa (05/06/2012), hangat matahari Makassar sudah kembali kami rasakan. Benar kata Rinanti pada saat konferensi di Universitas Brawijaya, “Malang memang sejuk, tapi kami tetap harus kembali kepada hangatnya Makassar.” Perjalanan 4 hari kami benar-benar baru akan sempurna ketika sudah kembali ke rumah.

Hal pertama yang harus saya lakukan sesaat sampai di asrama adalah mencongkel pintu kamar. Ternyata oh ternyata kunci kamar saya tertinggal di penginapan di Malang bersama sebuah celana denim pendek dan, cangcut cuk. Mama yora...

Senin, 06 Februari 2012

Coto Kuda yang Ternyata Biasa Saja


Dalam suatu perjalanan pulang dari Bulukumba menuju Makassar, akhirnya saya berkesempatan mencicipi salah satu kuliner incaran saya, Coto Kuda. Sudah sejak lama saya mengincar kesempatan untuk mencoba langsung makanan khas Kabupaten Jeneponto ini. Ekspektasi bartambah tinggi tatkala begitu banyak orang yang memuji makanan yang katanya dapat meningkatkan stamina, khususnya stamina pria ini. Dan hasrat saya tersebut telah tersalurkan pada hari Rabu, 01.02.2012.

Ekspektasi yang sudah terlanjur tinggi serta rasa lapar yang telah membayangi selama lima jam perjalanan, membuat saya begitu bersemangat. Beberapa menit kemudian semangkok Coto Kuda yang kali ini ditemani dengan sepiring nasi telah tiba di hadapan, siap untuk disantap. Setelah mencampurkan kecap, garam dan sambal secukupnya, langsung saja suapan pertama terjadi. "ehm, kok biasa aja ni." suapan kedua dan selanjutnya sama saja. Tak ada rasa spesial yang membuat coto kuda ini lebih baik dari coto kebanyakan. Aroma khas daging kuda yang masih kentara malah kurang saya sukai. Dagingnya juga lebih alot dari daging sapi, bahan utama coto kebanyakan. Dan yang paling mengecewakan adalah, harga seporsinya lebih mahal dibanding coto yang lain. Semangkok coto kuda dengan nasi dibanderol dengan harga 16.000 Rupiah.

Jauh lebih baik Coto di Jalan Gagak yang saya santap tahun lalu.

Satu-satunya alasan untuk saya menghabiskan coto kuda malam itu adalah karena saya sudah cukup lapar waktu itu. Ah Coto Kuda, tak ku sangka kau mengecewakanku.

Sabtu, 17 Desember 2011

Libur Semester Ini Mau Kemana?


Ah, libur semester akhirnya datang juga. Lama sekali rasanya. Oke, langsung saja. Mari menyusun rencana atau kemungkinan vakansi bersama. Kalo saya sih rencananya seperti ini:

#Sorowako
Radillah aka Kyo, seorang teman telah berbaik hati menawarkan untuk pergi ke kampung masa kecilnya, Sorowako. Sorowako adalah sebuah kabupaten di ujung barat Sulawesi Selatan. Katanya sih disana asyik. Udara masih asri juga di dekat rumahnya ada sebuah danau yang lumayan untuk bersenang-senang. Paling tidak bisa melepas rasa penat  setelah final semester. Untuk sementara Sorowako masuk dalam list teratas dalam daftar tujuan jejalan libur kali ini.

#Bulukumba
Tuhan merahmati Kabupaten Bulukumba dengan relief alam yang super indah. Untuk saya, Tuhan mengirimkan teman-teman yang berbaik hati dan berkampung di Bulukumba. Setiap ada waktu lowong kala libur, selalu saja ada ajakan untuk berkunjung ke Kota Lopi tersebut. Kalau sudah begitu, saya bisa merasakan liburan yang mewah dengan modal yang sangat minim. Sungguh anugerah. :D

Kalau jadi ke Bulukumba, Bira bukan lagi tujuan utama. Saya ingin merasakan objek wisata lain, yang katanya tidak kalah indahnya. Ada sungai air Jernih. Disana bisa sekalian wisata sejarah. Karena ada makam Datuk Cik Ditiro disana. Selain itu saya juga sangat ingin berkunjung ke kawasan suku kajang. Sudah lama saya tertarik dengan budaya suku yang menolak segala hal yang berbau modernitas ini.

#Tarakan
Tentu Kota ini selalu masuk list setiap kali masuk masa rehat kuliah. Mamak, Bapak dan adik-adik semua ada di kota ini. Tapi pulang kampung ini baru bisa direalisasikan kalau tidak ada kegiatan organisasi di saat-saat libur ini. Karena, mubazir rasanya pulang kesana kalau maksimal cuma seminggu. 

#EfekRumahKaca
Kalau saya jadi untuk agenda ini, berarti saya tidak kemana-mana hingga malam perayaan tahun baru. Tetap di Makassar saja maksudnya. Tanggal 30 Desember nanti Efek Rumah Kaca akan ada gigs di Makassar. Sangat sayang melewatkan penampilan mereka.

#Pinrang
Ini destinasi klise tiap libur sebenarnya. Tentu saja desakan keluarga yang selalu membuat saya kesana. Tetapi ada beberapa hal yang saya sukai dari daerah kelahiran saya ini. Letak rumah nenek disana sangat nyaman. Ditengah-tengah daerah persawahan yang sangat luas. Daerah itu akan sangat indah menurut saya ketika sedang musim padi tumbuh. Sekeliling pemandangan akan berwarna hijau cerah. Aktifitas rutin saya disana adalah berjalan-jalan di pematang sawah kala pagi dan bermain bola di lapangan pabrik penggilingan padi kala petang.

Tapi, kalau kesana lagi saya ingin berkunjung ke sebuah pantai yang menjadi pemukiman nelayan disana. Awal tahun lalu, ada seorang keluarga yang dinikahi oleh lelaki yang berasal dari daerah pesisir tersebut. Mereka lalu menetap disana. Kalau berkunjung kesana, saya dijanjikan untuk menikmati hasil laut sepuasnya. (Mulai ngiler :p)

#Pangkep
Tempat ini kampung untuk rehat singkat bagi saya. Karena akhir pekan pun daerah ini bisa saya datangi. Jarak tempuh Makassar-Pangkep hanya memakan waktu satu jam. Disana ada om dan tante juga sepupu-sepupu. Bahkan di rumah mereka tersebut saya memiliki kamar yang selalu saya pakai setiap kali saya berkunjung.

Tapi selama saya ke Pangkep, belum pernah saya mendatangi satupun destinasi wisata. Saya sangat ingin mendatangi pulau-pulau kecil di sekitar Pangkep ini. syahdan, pulau-pulau sekitar daerah ini cukup lumayan. Sekalian saya ingin merasakan kisah Suster Apung yang memang beroperasi di sekitar daerah tersebut.

Ya, itu beberapa rencana tujuan liburan saya yang siap dieksekusi setelah Taman Wisata Ilmiah LP2KI di #Malino. Bagaimana dengan anda?

Sabtu, 10 September 2011

Alasan Pembenaran

Cukup lama tak bercerita disini. bukan gak ngapa-ngapain. Sebenarnya banyak hal yang ingin saya ceritakan. Tapi beberapa ini dulu lah.

Jadi sudah hampir sebulan ini, mulai dari sebelum lebaran kemarin waktu saya lebih banyak tercurah untuk persiapan suatu kegiatan. Bersama teman-teman organisasi di kampus, kami akan mengadakan suatu kompetisi menulis berlevel nasional. Selain untuk kuliah dan lain-lain, waktu harus rela dibagi untuk persiapan acara ini. Mulai dari mengurus masalah pendanaan, publikasi sampai berkas peserta. eh tiba-tiba sudah tinggal satu minggu aja. Yah begitu lah waktu. Terkadang ia datang terlalu cepat ketika kita berharap dia telat.

Kesibukan lainnya?

Gak ada lagi sih. Cuma mulai kuliah lagi setelah lebaran. Tugas sudah mulai menjengkelkan lagi. Tapi kan itu memang tugas utama. Diluar itu saya lagi senang membaca blog milik teman. Terutama yang suka cerita tentang pengalaman jalan-jalan mereka. Saya memang lagi senang-senangnya dengan kegiatan ini. Sungguh keren menurut saya orang yang sering bepergian lalu menceritakan pengalaman tersebut dengan apik dalam bentuk tulisan. Saya sungguh ingin seperti itu. hehehe.. labil ya.

Sedikit bocoran. Saya lagi menabung sedikit demi sedikit ini. Rencananya akhir semester ini saya mau jalan-jalan dengan uang tabungan tadi. Tapi tujuan jangan tahu dulu ya. Nanti tidak jadi saya yang malu. Hehehe..

Rabu, 27 Juli 2011

Bulukumba yang Selalu Memesona

Memanfaatkan libur kuliah yang hampir usai, saya dan beberapa teman kampus bersepakat untuk mengunjungi Kabupaten Bulukumba. Ide jalan-jalan kali ini sebenarnya muncul secara mendadak. Berawal chating saya dengan seorang teman kampus bernama ikhsan yang memang sedang pulang kampung di Bulukumba. Saya iseng berkata bahwa saya dan teman-teman yang lain mau mengunjunginya sekalian liburan. Gayung bersambut, Si Ikhsan yang baik hati ini mengiyakan rencana yang sebenarnya belum saya konfirmasi kepada teman-teman yang lain.

Hari Jumat (22/7) saya bertemu dengan Indra, Cua dan Ridwan. Mereka inilah sebagian teman yang mau saya hasut untuk jalan-jalan ke Bulukumba. Ternyata mereka menyambut dengan antusias ajakan tersebut. Tapi masalahnya sekarang adalah dengan apa kami akan ke sana. Terlintaslah nama Fandi yang memang sudah masuk daftar orang yang ingin saya ajak untuk turut serta. Fandi memang memiliki mobil yang cukup untuk memuat enam orang. Selain itu ia memang adalah teman sepermainan kami.

Setibanya di kampus langsung saja saya sampaikan niatan jalan-jalan tersebut. Cukup lama Fandi untuk mengiyakan ajakan tersebut. Dengan rayuan keroyokan yang dilakukan oleh empat orang barulah ia setuju untuk turut serta. Kami pun sepakat untuk berangkat hari Minggu pagi. Rencananya kami akan bermalam dulu di rumahnya Ikhsan. Besok paginya baru kami akan mulai mengunjungi beberapa objek wisata di Bulukumba.

Hari Minggu (24/7) sekitar pukul delapan pagi Fandi dan Cua sudah datang menjemput saya. Di ujung gang rumah ternyata Indra juga sudah datang. Selanjutnya kami akan menjemput Arif yang belum menjawab ajakan kami. Sesampainya di rumah yang dimaksud, dia baru bangun dan menolak ajakan kami tersebut karena kakaknya dari Sorong sedang ada di Makassar. Kami pun langsung menuju ke jemputan selanjutnya, Ridwan yang sudah menunggu. Jadilah kami berlima berangkat ke Bulukumba.

Jarak Makassar-Bulukumba sekitar 150 km. Sepanjang perjanan kesana akan melewati empat kabupaten. Tiap kabupaten yang kami lewati pasti kami kometari. Gowa dengan tagline "Gowa Bersejarah" cukup ramai namun tata kotanya masih berantakan. Lain waktu rencananya kami akan berwisata sejarah di kabupaten tetangga Makassar ini. Kabupaten selanjutnya adalah Takalar. Kabupaten ini belum terlalu maju. pusat kotanya belum terlalu ramai. Yang indah dari daerah ini adalah sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan sawah yang sangat hijau.

Setelah itu kami melintasi Kabupaten yang terkenal sangar yaitu Jeneponto. Menurut cerita, orang Jeneponto itu pa'bambangang (emosional). Dan keadaan alam disana semakin meyakinkan saya akan hal tersebut. Jeneponto sangat panas. Tanahnya terlihat gersang. Jalanan yang kami lewati pun sebagian besar rusak dan belubang. Parahnya lagi jalanan Jeneponto adalah lintasan terpanjang menuju Bulukumba yang akan kami lalui. Sepanjang perjalanan sering sekali kami melihat kuda. memang kabupaten ini terkenal sebagai penghasil hewan kuat tersebut. Makanan khas daerah ini adalah Coto Kuda.

Kabupaten terakhir sebelum memasuki Bulukumba adalah Bantaeng. Fandi selalu kesulitan menyebut daerah ini. Dilidahnya Bantaeng pasti menjadi Banteng. Kalau Jeneponto selalu ia kutuki sebagai neraka, Bantaeng adalah kabupaten terbaik yang kami lewati hari itu. Memang daerah ini lumayan indah. Walaupun matahari sangat terik namun udara di tempat ini cukup sejuk. Ditambah dengan daerah persawahan yang hijau dan sesekali pemandangan pesisir pantai yang ramai dengan petani rumput laut pun tersaji. Yang unik dari kabupaten ini adalah di sepanjang perjanan sangat banyak kami temui kalimat-kalimat himbauan ataupun nasehat agama. "SUDAHKAH ANDA SHALAT?", "RIBA ITU HARAM", "PUASA ITU SEHAT", dan masih banyak lagi. Terasa lucu juga kalimat-kalimat tersebut.

Hampir pukul dua kami sampai di rumah Ikhsan di Bulukumba. Sesampainya disana kami langsung disambut dengan hangat. Orang tua dan keluarga si Ikhsan sangat baik. Kami langsung dipersilahkan masuk. Di dalam rumah, meja makan sudah penuh dengan makanan. Waduh saya sendiri merasa tidak enak. Rencana ke sana sebenarnya cuma untuk numpang barang sehari. Tapi karena perut kami sudah keroncongan, langsung saja kami santap siang saat itu juga. Kami memang tidak singgah makan di sepanjang perjalanan 150 km itu. Hahaha..

Selesai makan dan beristirahat sejenak, sore hari kami menyempatkan untuk berkeliling Bulukumba. Kami mendatangi dermaga yang ramai didatangi orang untuk memancing. Terlihat juga beberapa muda-mudi yang sedang nongkrong atau mungkin sedang pacaran. Setelah itu kami mendatandigi tugu kapal phinisiq di pusat kota. Kapal Phinisiq memang menjadi ikon Kabupaten ini. 

Selesai sudah jalan-jalan hari pertama di Bulukumba. Selebihnya, waktu kami habiskan di dalam kamar di rumah si Ikhsan. Kami tidak sempat jalan-jalan malam karena harus beristirahat.

Keesokan harinya, setelah sarapan kami langsung bersiap-siap untuk tujuan utama kami ke Bulukumba, Tanjung Bira. Kami berangkat sekitar pukul setengah sembilan pagi. Tanjung Bira berjarak 50 km dari pusat keramaian Bulukumba. Perjalanan cukup menyenangkan. Satu-satunya yang tidak menyenangkan adalah sebagian jalanan yang tidak mulus. Sangat disayangkan akses menuju ke tempat yang sangat indah belum memadai. Padahal jalanan adalah salah satu fasilitas yang akan dicerita oleh seorang wisatawan yang mengunjungi suatu objek wisata.

Sekitar satu jam perjalanan kami pun sampai di Tanjung Bira. Ini kali kedua saya berkunjung ke tempat ini. Nama resmi pantai di Tanjung Bira ini adalah Pantai Pasir Putih. Tapi lebih dikenal sebagai Pantai Bira. Pantai ini adalah salah satu pantai dengan pemandangan surga yang ada di Sulawesi mungkin juga di Indonesia. Saat pertama kali menginjakkan kaki di pantai ini sekitar awal tahun lalu, saya langsung takjub dan langsung melombat ke dalam air. Kali ini, sama saja. Saya adalah orang pertama diantara rombongan yang masuk ke dalam air. Kali ini pantai terlihat sangat bersih. Katanya ditempat tersebut baru saja diadakan "Festival Phinisiq."

Sarana di Pantai ini juga sudah cukup banyak. Sudah terdapat berbagai macam pilihan permainan seperti banana boat. Tersedia juga perlengkapan untuk aktifitas snorkeling dan diving. Banyak turis asing terlihat berlibur disitu. Beberapa dari mereka bersiap menaiki kapal untuk menyebrang ke pulau sekitar dekat Tanjung Bira. Memang akhir-akhir ini Tanjung Bira sudah mulai dilirik oleh turis mancanegara. Bahkan beberapa sudah mulai menetap disana.

Rugi rasanya kalau ke Tanjung Bira cuma berenang di pinggir pantai. Kami pun mencoba snorkeling. Setelah melalui tawar menawar harga yang alot, akhirnya kami setuju untuk membayar Rp. 200.000 untuk 6 orang. Dengan paket itu kami mendapatkan perlengkapan snorkeling plus kapal untuk mengantar kami ke daerah laut yang dalamnya sekitar 3 meter. Jadilah kami ber-snorkeling untuk pertama kalinya disiang bolong itu.

Ini pertama kalinya saya melihat pemandangan bawah laut. Dan pemandangan bawah laut Tanjung Bira sangat luar biasa. Karang, koral dan ikan sangat ramai disitu. Belum lagi hewan laut lainnya yang belum saya tahu namanya yang berwarna-warni menambah indah. Saking bersemangatnya, kacamata hitamnya Ikhsan tenggelam ke dasar laut. Juga sandal saya dan Indra sudah raib di tepi pantai saat akan menuju ke tempat snorkeling. Ya sudahlah, kehingan tadi tergantikan kok dengan pengalaman luar biasa barusan.


Puas bermain-main di Tanjung Bira, kami beristirahat sejenak untuk kemudian beranjak ke destinasi selanjutnya. Tujuan kami selanjutnya adalah Tana Beru. Tana Beru adalah pusat pembuatan kapal tradisonal Phinisiq di Bulukumba. Sebenarnya Tana Beru telah kami lewati sewaktu menuju Tanjung Bira. Tapi kami sudah mengatur jadwal untuk singgah di Tana Beru setelah ke Pantai Pasir Putih.

Bagi Kalian yang sudah menonton film dokumenter "Dua Tiang Tujuh Layar" yang diproduseri oleh trio The Trees and The Wild, pasti penasaran dan ingin mendatangi tempat pembuatan film tersebut. Tana Beru, Bulukumba memang lokasi utama dalam pembuatan film dokumenter yang bercerita tentang kehidupan masyarakat pembuat kapal tradisonal Phinisiq tersebut. Pertama kali menonton film itu saya pun langsung tertarik ingin kesana. Saya sebagai orang Bugis merasa berdosa jika tidak mengenal lebih dekat kebudayaan nenek moyang saya itu.

Jarak Tana-Beru dengan Tanjung Bira sekitar 10 km. Alhamdulillah akses jalan masuk ke setra pembuatan Phinisiq tersebut sangat baik. Sesampainya disana saya langsung takjub. Sepanjang daerah tersebut terpampang rangka-rangka kapal yang masih dalam proses pembuatan. Saya tidak tahu pasti berapa panjang area tersebut. Yang jelas, kata seorang warga disitu area ini sangat panjang dan dipenuhi dengan tempat pembuatan kapal berbahan kayu yang sangat kuat ini.

Satu kapal berukuran sedang dikerjakan oleh sekitar 3 sampai 5 orang. Lama pembuatannya memakan waktu setahun. Ketika saya bertanya tentang harga pembuatan satu kapal berukuran sedang tersebut, si tukang tak tahu. Katanya yang tahu tentang itu adalah Pak Haji, "kontraktor" pembuatan kapal tersebut. Kapal itu adalah pesanan seseorang dari Flores. Ada juga pesanan kapal yang datang dari Kalimantan. Bahkan kabarnya, orang Eropa dan Amerika juga sering memesan kapal Phinisiq berukuran besar di tempat ini. 


Sayang saya tak bisa bertanya dan bercakap-cakap lebih lama dengan masyarakat disitu. Kami singgah cuma sekitar satu jam. Karena harus sampai di rumah Ikhsan sebelum malam.

Sesampainya di rumah kami langsung terbaring karena kecapean. Rencananya malam harinya kami ingin ke warkop untuk online. Tapi rencana tersebut batal karena kami memang betul-betul sudah tak kuat jalan.

Esok paginya, setelah sarapan kami langsung bersiap-siap untuk kembali ke Makassar. Bulukumba memang selalu memesona. Terimakasih Ikhsan dan keluarganya yang telah memberikan sambutan yang begitu hangat.

Eh info tambahan. Tahun depan Insya Allah saya akan KKN. saya tidak mau KKN profesi di Jakarta atau di daerah lain. Rencananya sih saya mau KKN di Bulukumba saja. Semoga bisa. hehehe..

Rabu, 02 Februari 2011

Vakansi

Hari Senin pekan depan udah masuk kuliah lagi. Kelamaan libur bikin kangen kuliah juga. Padahal kalo udah aktif kuliah rasa bosan akan cepat datang. Apalagi perilaku sebagian dosen dan orang-orang di kampus seakan mendukung untuk kita tidak betah berlama-lama di kampus.

Libur kuliah udah mau berakhir, tapi aku belum merasakan liburan sama sekali. Selama sebulan kemarin, liburanku diisi dengan lumayan banyak kegiatan yang menyita waktu. Padahal waktu sebelum libur, rasanya banyak sekali rencana yang telah disusun. Mulai dari pulang kampung ke Tarakan sampai niatan untuk keliling Jawa-Bali ala backpacker bersama teman-teman kampus. Tapi karena beberapa kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan, jadilah tak satupun dari rencana liburan tersebut yang terealisasi.


Dan rencana liburan kembali disusun. Walaupun waktu liburnya tinggal 5 hari, tak mengapalah. Daripada tidak sama sekali.


Rencananya hari Selasa kemarin teman-teman sudah ngajak buat ke Bulukumba. Tapi karena aku pengen banget nonton Frau yang main untuk pertama kalinya ke Makassar, jadilah tamasya ke Bulukumba diundur jadi besok Kamis. Terimakasih buat teman-teman yang telah berbaik hati untuk ini.


Rencananya di Bulukumba nanti kami akan ke rumahnya si Kanda Shawir sang tuan rumah.  Selama disana kami akan menginap di rumah si kanda ini. Katanya dirumahnya lagi banyak buah karena kebunnya udah panen. asik.


Selain itu kami juga akan ke Tanjung Bira dan beberapa tempat wisata lainnya. Tapi yang paling pengen aku datangi adalah Tana Beru, tempat pembuatan kapal phinisi itu. Disana kami cuma sehari. Hari jumat, siang atau sore kami udah balik lagi Ke Makassar.


Setelah dari Bulukumba, liburan aku mau isi dengan pergi nonton konser lagi. Hari Jumat malam di CCC akan ada The S.I.G.I.T yang ngisi acara indie clothing. Di Makassar masih cukup jarang acara musik yang keren (menurutku) dan murah atau gratisan. hehehe...


Hari Sabtu, kalau tidak ada halangan, bersama anak-anak TSC aku akan ke Malino untuk tamasya bersama. Disana kami juga akan adakan outbound untuk mengakrabkan diri dengan semua mahasiswa asal Kota Tarakan.


Jadi begini rekap kegiatan liburan-ku sebelum masuk kuliah lagi:

  • Nonton Frau di Chambers (Rabu, 02.01.2011)
  • Tamasya ke Bulukumba (Kamis-Jumat, 03-04.01.2011
  • Nonton The S.I.G.I.T di CCC (Jumat malam, 04.01.2011)
  • Ke Malino Bersama TSC (Sabtu-Minggu, 05-06.01.2011)
Yah begitulah. Yang pasti aku harus merasakan liburan di libur semester ini.


Sekian. mau mandi dulu. aku mau ke Chambers nonton Frau men.