Tampilkan postingan dengan label Dialog Dini Hari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dialog Dini Hari. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Januari 2015

Album Lokal Favorit 2014



Mungkin saja 2014 terbuat dari keadaan yang sangat menjengkelkan. Mulai dari proses pemilu yang menguras emosi hampir sepanjang tahun juga waktu yang tak juga berjodoh untuk mempertemukan saya dengan Dosen Pembimbing Skripsi. Masya Allah, malah curhat. Untung saja masih ada musisi kesayangan yang tahun lalu terus menghasilkan lagu-lagu yang enak didengar. Untuk itu, saya pilihkan beberapa yang menjadi favorit saya.

 Kalau sedang lowong silahkan dibaca dan ikut mendengarkan. Tabe’

Tentang Rumahku – Dialog Dini Hari

Dialog Dini Hari adalah cinta pertama saya terhadap musik folk Indonesia. Rasa suka itu semakin bertambah lewat Tentang Rumahku. masih dengan kekuatan yang sama, musik sederhana nan menenangkan dan lirik puitis yang begitu menyenangkan. Yang berbeda adalah album ini terasa lebih berenergi, baik dari beat dan cerita yang diusung. “Gurat Asa” misalnya, selalu memberikan begitu banyak semangat bagi saya. Sangat enak didengarkan di pagi hari menjelang beraktifitas. “Hiduplah Hari Ini” lain lagi. Lagu ini adalah ajakan untuk selalu bersyukur. Dengan segala tantangan hidup yang kita hadapi sudah seharusnya kita selalu berusaha untuk “damaikan diri…”. Lahirkan keajaiban dari tanganmu” pada penutup lagu ini adalah favorit saya. Coba pula dengarkan “Tentang Rumahku” dan “Lagu Cinta” yang dinyanyikan bersama Kartika Tjahja, maka album ini adalah teman yang ampuh untuk menghadapi hari.

Alkisah – Theory Of Discoustic

Sungguh bukan karena band ini berasal dari Makassar hingga saya memasukkannya di daftar ini. Saya mendengarkan mereka pertama kali pada akhir 2010 saat menjadi band pembuka The Trees and The Wild di Unifa. Lama tak terdengar, mereka muncul kembali dengan membawa Dialog di Ujung Suar, mini album yang begitu matang. Belum terlalu bosan dengan Dialog di Ujung Suar, mereka kembali merilis EP Alkisah. Masih dengan interpretasi atas budaya Bugis-Makassar, namun mini album ini terasa lebih serius, baik dari segi musikalitas juga proses penggarapannya. Jika Dialog di Ujung Suar hanya disebarkan via internet, Alkisah dirilis dalam bentuk fisik, walau sangat sederhana.

Lagu favorit saya di album ini adalah “Satu Haluan” dan “Lengkara”.  “Satu Haluan” bercerita tentang para pelaut ulung yang katanya nenek moyang orang Indonesia. Lagu ini jelas adalah bentuk lain dari semboyan kuno pelaut Bugis-Makassar: Le’ba kusoronna biseangku, kucampa’na sombalakku, tammamelokka punna teai labuang (telah ku kembangkan layarku, telah ku pasang kemudiku, lebih baik tenggelam daripada melangkah surut). Sedangkan “Lengkara” adalah penerjemahan atas tradisi Mappalili, ritual kepercayaan yang dilaksanakan setiap awal masuk musim tanam. “Seruan awal hari bernyanyi merasuk pusaka/Sambut awal masa berganti merayu musim kesuburan”, Lirik lagu ini sangat menggambarkan bagaimana semangat masyarakat petani dalam menyambut ritual tersebut.

Tak pernah mudah menulis lirik berbahasa Indonesia. Tapi Theory of Discoustik kembali membuat lagu berlirik Bahasa Indonesia yang menyenangkan. Lewat EP Alkisah ini mereka membuktikan bahwa paduan musik dan lirik yang menarik bukanlah hal yang mustahil. Keduanya tentu harus digarap serius untuk menghasilkan lagu yang baik. Saya sepakat dengan seorang teman, album ini sangat enak didengarkan dalam sebuah perjalanan jauh. Musik dan liriknya akan menyatu dengan pemandangan alam yang kita lewati.

Gajah – Tulus

Karir Tulus begitu mulus sebagai solois pendatang baru di jagat musik Indonesia. Tentu saja bukan sebuah keberuntungan, karena memang Tulus sangat bertalenta di bidang ini. mendapat begitu banyak perhatian di album perdan, Tulus memantapkan posisinya sebagai salah satu solois sekaligus singer-song writer terbaik di negeri ini lewat album Gajah. Dibuka dengan ”Sepatu” yang lansung menjadi hits sejak diputar serentak di radio seluruh Indonesia. Lagu ini memberikan perumpamaan yang begitu pas pada cerita cinta yang tidak bisa bertemu. “Kita adalah sepasang sepatu selalu bersama tak bisa bersatu.” Sadis! Lalu ada “Gajah”, lagu yang terinspirasi dari masa kecil Tulus. Tema cinta yang berbeda hadir dari “Jangan Cintai Aku Apa Adanya”. Lagu ini semacam bantahan atas gombal murahan “cintai aku apa adanya”. “Jangan cintai aku apa adanya. Jangan/Tuntutlah sesuatu biar kita jalan kedepan.”

Album pertama adalah pembuktian, album kedua adalah ujian atas eksistensi. Tulus melaluinya dengan mulus dalam waktu singkat.

Fateh – Morgue Vanguard x Still

Rapper paling berbahaya di Indonesia kembali! Pasca bubarnya Homicide pada tahun 2007, Herry Sutresna a.k.a Morgue Vanguard begitu dirindukan. Setelah hanya menjadi “tamu” di lagu “Abrasi” milik BRNDLS dan  berkolaborasi dengan EyeFeelSix di lagu “Mimpi Basah Pembangkang Sipil”, Morgue Vanguard akhirnya kembali dalam sebuah album utuh. Bersama Still Ia melontarkan kemuakannya (tentu juga kemuakan banyak orang) lewat sebuah Collabo EP, Fateh.

Secara garis besar album ini bercerita tentang permasalahan akut yang masih terjadi hingga saat ini: konflik agraria dan penindasan oleh aparat. Dibuka dengan “Volume 1, Bagian 8, Bab 32” yang menampilkan beberapa aksi demonstrasi sebagai latarnya. Lalu disusul kemudian oleh “Fateh” dan “Kondor Terjaga” yang melontarkan bait yang begitu panas secara bertubi-tubi. Favorit saya di album ini adalah “Dol Goldur”. Tak seperti biasanya, Morgue Vanguard terdengar lebih birirama di bagian ini.

Fateh adalah sebuah comeback yang cukup menendang. Semoga berlanjut, Bung Ucok.

Sneakerfuzz – Morfem

Tentu menyenangkan mendapati band kesukaan sangat produktif menghasilkan karya-karya berkualitas. Itulah yang terjadi pada Morfem. Tak berjarak begitu jauh dari album Hey, Makan Tuh Gitar!, unit fuzz-rock ibukota ini kembali merilis Sneakerfuzz, sebuah mini album berisi enam lagu. Hal ini terjadi setelah Morfem memenangi sebuah kompetisi yang diadakan oleh Converse. Hadiah dari kompetisi tersebut ya pembiayaan penuh atas pembuatan EP Sneakerfuzz ini.

Kesemua lagu di album ini begitu menyenangkan. Perpaduan musik 90-an kesukaan Pandu fuzztoni dan 70-an andalan Jimi Multazham berpadu menghantam telinga yang mendengarkannya. “Kubikal Rock” adalah pembukaan yang langsung mengajak untuk berjingkrak. Disusul dengan “Planet Berbeda” yang liriknya membuat saya berdecak kagum. Lirik story-telling yang dibangun oleh Jimi adalah kekuatan lagu ini. “Kami dari planet berbeda/Berjumpa di tengah samudra/Aku memilih Bob Dylan/Sedang dia Mumford and Son/Namun kita tak terpisahkaní”.

Favorit lainnya adalah “Tak Punya Rasa Ketakutan” dengan sound yang terpapar punk 70-an. Kemudian ditutup oleh nomor anthemic “Rayakan Pemenang”, sebuah lagu yang didedikasikan untuk para pejuang hidup, siapapun dia saya rasa.

Panjang umur, Morfem.

***


Selamat tahun baru. Semoga musik Indonesia tetap keren tahun ini!

Senin, 15 Juli 2013

Akhir-Akhir Ini...



Jika ada hal yang harus saya kutuki saat ini, tentu saja hal itu adalah kealpaan menuliskan sesuatu hal pun di blog ini dalam kurun waktu dua bulan. Saya merasa seperti orang hilang ketika membukanya lagi beberapa hari yang lalu. Padahal jika diingat-ingat lagi, ada banyak hal menarik yang bisa jadi bahan tulisan di bulan Mei-Juni kemarin. Namun semua itu berlalu begitu saja menjadi ingatan yang sayang untuk dibuang.

Untuk itu, saya ingin mencoba mengingat kembali kejadian remeh-temeh, seperti yang biasa saya lakukan di blog ini. Tentu saja sambil memperbaharui ikrar saya untuk menulis di laman ini, paling tidak sebulan sekali.

Ini dia;

Pendakian perdana

Bukannya ingin ikut-ikutan naik gunung, apalagi trinspirasi film 5 CM yang monumental di adegan g-string-nya itu. Ini murni karena ajakan keroyokan teman-teman angkatan. Walau tidak terlalu serius, latihan fisik tetap saya lakukan selama beberap hari sebelum keberangkatan. Karena ini adalah pendakian perdana dan juga medan yang akan dilalui tidak terlalu berat, saya hanya membawa ransel andalan yang tidak terlalu besar. Isinya pun tak terlalu banyak, cukup beberapa pakaian seadanya juga sebagian persedian kelompok yang saya bawa.

Tiga hari dua malam di Lembah Ramma’ begitu berkesan bagi saya. Tuhan melindungi kami selama pendakian dengan menghadirkan cuaca cerah ceria pada saat perjalanan pergi dan pulang. Kekhawatiran akan cuaca yang sangat dingin tidak terjadi. Kehangatan alam dan keceriaan bersama teman-teman seperjalanan terpaksa membuat saya mengutuki diri sendiri; kenapa pada umur setua ini baru saya menyentuh gunung.

Pendakian ini juga terasa istimewa karena mengakrabkan saya dengan beberapa teman angkatan. Entah kemana saja saya selama tiga tahun ini. Silih berganti nyaris tanpa henti kami bersenang-senang dengan bernyanyi dan saling lempar olok-olokan yang selalu diakhiri dengan tawa lepas. Lelah perjanan tak begitu terasa karena hal tersebut.

Terimakasih kepada Tuhan, alam dan teman-teman baik yang telah menghadirkan pengalaman menyenangkan ini.

Bertemu Idola

Periode Mei-Juni juga menjadi momen untuk bertemu dengan orang-orang yang saya kagumi. Mereka adalah sosok yang mengisi sebagian hidup saya dengan asupan bacaan dan musik yang memang menjadi kegemaran saya.

Diawali dengan kesempatan menonton konser Morfem dan Dialog Dini Hari di Jogjakarta bulan lalu. Konser ini menjadi lebih spesial karena band teman-teman SMA saya, LazyRoom, juga turut berbagi panggung dengan dua grup kesukaan saya itu. Morfem dengan sound dan penampilannya yang selalu bersemangat berpadu dengan Dialog Dini Hari yang lembut dan lirik puitis juaranya. Nah, LazyRoom hadir diantaranya dengan membawakan musik mengawang-awang yang sesekali berteriak. Impian untuk menonton ketiga band tersebut terwujud dalam satu kesempatan. Sungguh anugerah yang patut dikenang.

Kesempatan selanjutnya saya bertemu dengan salah dua penulis favorit saya; Sapardi Djoko Damono dan Agustinus Wibowo. Pertemuan ini juga dalam satu kesempatan yang sama yaitu di Makassar International Writers Festival yang tahun ini memasuki helatan ketiganya. Sapardi adalah alasan saya jatuh cinta dengan Bahasa Indoesia. Bu Ranti, guru sewaktu SMA yang memperkenalkannya kepada saya. hal yang paling saya sukai dari syair-syair Sapardi adalah (lagi-lagi) kesederhaan yang hadir dari perenungan yang mendalam. Karya Sapardi mampu mengambil hati pembacanya dengan mudah. Tak terbatas pada situasional tertentu tapi mampu mengisi sepanjang kehidupan. Abadi.

Agustinus Wibowo lain lagi. Saya menyukainya karena totalitas dalam menyusun sebuah tulisan. Ia yang seorang penulis perjalanan mengandalkan riset yang sangat mendalam dalam menuliskan karyanya. Hal itu sangat mudah kita dapatkan ketika membaca buku-bukunya, mulai dari Selimut Debu sampai yang terbaru Titik Nol. Dari tulisannya kita tak hanya mendapatkan informasi dasar tentang perjalanan tapi sampai pada hal tersembunyi bahkan sesuatu yang tak pernah diungkap sebelumnya.

Terakhir, saya cukup senang katika berbincang-bincang singkat dengan Bangkutaman. Kesempatan ini dihadirkan oleh Kedai Buku Jenny lewat program rutinnya, KBJamming. Wahyu Acum dan Dedik bercerita kepada kami tentang proses produksi sebuah lagu khususnya Ode Untuk Kota yang selaras dengan tema diskusi sore itu, Musik dan Kota. Momen paling berkesan pada kesempatan ini tentu saja ketika lagu Ode Untuk Kota dilantunkan. Secara spontan yang hadir langsung ikut bernanyanyi tanpa aba-aba. Sungguh Minggu sore yang menyenangkan.

Tugas Akhir Mulai Jalan Kembali

Untuk ini saya sulit untuk bercerita banyak. Yang jelas, proses revisi pertama proposal sudah masuk ke pembimbing 1. Mohon doa untuk kelancarannya. Agar tak ada lagi basa-basi klise yang sungguh menjengkelkan: “sudah sarjana?”

Sekian dulu. Oh iya, selamat berpuasa bagi teman-teman yang menjalankan. Tetap saling menghormati. Semoga Tuhan merahmati kita semua.

Rabu, 06 Februari 2013

Band Indonesia yang Seharusnya Manggung di Makassar Tahun Ini


Ini tentang Makassar dan Musik Independen. Dari pandangan saya kota ini sedang bergairah dalam hal seni pertunjukan bebunyian dengan semangat DIY tersebut. Hampir tiap bulan, ada saja gigs yang dihelat. Mulai dari panggung mini yang memainkan skena lokal, sampai venue raksasa yang mendatangkan musisi berlabel internasional. Sungguh semarak.

Saya kira hal ini tak lepas dari kencangnya perkembangan informasi yang membuat semuanya serba mudah. Batas teritori seakan tak ada lagi. Bagaimana seorang musisi yang baru merilis karyanya, dalam sekejap seluruh nusantara sudah dapat mendengarnya. Lingkaran komunitas yang terbangun di dunia maya juga sangat membantu. Jalinan antara pembuat karya dan penikmatnya akan melahirkan hubungan yang sama-sama menguntungkan. Bahkan, bagi musisi, mereka akan mendapatkan promosi gratis dari para pendengarnya.

Hal lainnya adalah, berkembangnya Event Organizer (EO) yang fokus pada pengembangan bidang ini, seperti Chambers, Immortal, dll juga sangat membantu. Bagi saya mereka adalah pahlawan. Merekalah roda penggerak pengenalan musik-musik non-mainstream bagi masyarakat Makassar.

Tapi di tengah bergairahnya pertunjukan musik independen di Makassar, rasa-rasanya kok ada yang salah ya. Entah ini cuma kecurigaan tak beralasan atau apa, tapi saya merasa pendengar di Makassar cenderung monoton. Mereka terkesan terlalu nyaman untuk mendengarkan segelintir musisi saja. Misalkan saja Efek Rumah Kaca (ERK). Band ini (walaupun saya akui, ERK adalah band paling berpengaruh dalam hidup saya) sudah terlalu sering bermain di Kota Daeng. Saya mencatat, sejak 2009, hampir setiap tahun ada saja gigs yang memasang mereka sebagai headliner. Bukan apa-apa, dengan materi yang itu-itu saja (album Efek Rumah Kaca dan Kamar Gelap) apakah penikmat musik Makassar tidak bosan.

Ah sudahlah, Inti dari semua ini, besar harapan saya agar penikmat musik juga EO yang notabene yang merancang pertunjukan itu sendiri, dapat mengajak musisi yang lebih bervariatif kesini. Tentu kualitas musikal mereka tak kalah dengan band-band yang sudah keseringan main di Makassar.

Nah, lewat perbincangan dengan beberapa teman yang juga penikmat musik independen, saya (beserta teman-teman saya tersebut tentunya) merumuskan lima band yang seharusnya manggung di Makassar di tahun 2013 ini. Tak berlama-lama lagi, ini dia kelima band itu:
Melancholic Bitch
Dalam suatu kesempatan, Cholil, vokalis Efek Rumah Kaca pernah menyebut musik yang dimainkan oleh Melancholic Bitch (biasa disingkat Melbi) sebagai musik Efek Rumah Kaca untuk tingkat yang lebih advanced. Saya rasa Cholil tak berlebihan. Gaya musik Melbi memang mengingatkan saya dengan ERK, namun dalam versi yang lebih serius. Saya kira alirannya masih tergolong pop, namun di beberapa bagian cenderung gelap dengan nuansa psikedelik. Tema yang mereka usung juga tak jauh dengan apa yang sering diangkat oleh ERK, isu sosial dan sindiran-sindiran keras tentang kehidupan. Album terakhir mereka yang berjudul Balada Joni dan Susi sungguh menarik bagi saya. Bagaimana Melbi dapat mengikat kesemua lagu di dalam album tersebut menjadi satu jalinan cerita yang utuh dan tetap membahas isu-isu yang saling berbeda.

Sudah cukup lama band ini vakum. Hal itu disebabkan beberapa personel mereka sedang memiliki kegiatan masing-masig. Sang vokalis, Ugoran Prasad juga sedang berkonsentrasi untuk menyelesaikan studinya di luar negeri. Namun, kabar terbaru yang saya dengar, Ugo sedang berada di Indonesia dan akan tinggal selama setahun untuk suatu keperluan. Saya rasa ini momen bagi Makassar. Saya dengar mereka akan kembali bermusik bersama di beberapa daerah. Semoga ada EO yang menangkap kesempatan langka ini.
Dialog Dini Hari
Diawal kemunculannya band ini digadang-gadang sebagai supergrup. Ini disebabkan karena unit akustik-folk-blues ini adalah gabungan dari orang-orang yang telah lebih dulu bermain di beberapa band besar di Bali; Navicula, The Hydrant, Rokavatar. Walau Dialog Dini Hari pada awalnya hanya sebuah side-project, namun mereka tak pernah main-main menggarap sisi musikalitasnya. Musik minimalis namun sangat nyaman untuk didengar ditambah lirik lagu puitis nan menyentuh. Sungguh menyenangkan mendengarkan mereka.

Album Beranda Taman Hati adalah alasan saya jatuh cinta dengan Dialog Dini Hari. Mendengarkan lagu-lagu di album tersebut membuat hati menjadi tentram. Saya seperti sedang berbincang dengan seorang kawan lama sambil menikmati teh hangat di hari menjelang pagi.

Dan album terbaru mereka yang berjudul Lengkung Langit tak kalah menawan. Kembali Dialog Dini Hari membuat komposisi musik dan lirik yang mampu memanjakan telinga kita. Sungguh sangat disayangkan, Makassar (termasuk saya) belum berkesempatan menyaksikan penampilan langsung mereka.
Zoo
Saya belum terlampau mengenal mereka. Yang saya tahu, band asal Jogjakarta ini memiliki album bertitel Trilogi Peradaban yang mampu membuat saya terpukau. Nomor-nomor semacam Manekin Bermesin sungguh menarik bagi saya. Liar dan kasar dengan materi musik yang sangat unik. Saya tak mampu mengidentifkasi aliran yang mereka mainkan. Yang jelas saya sangat tertarik untuk menyaksikan penampilan langsung mereka.

Diawal tahun ini, Zoo kembali merilis album baru berjudul Prasasti. Saya belum sempat mendengar album mereka tersebut. Namun dari cerita teman-teman di sosial media yang sempat hadir pada launching album mereka di beberapa kota (cerita-cerita tersebut sangat berhasil membuat saya ini) penampilan Zoo sungguh apik. Bintang lima punya.

Mumpung lagi momen album baru, sudah sepantasnya Makassar mendapat jatah untuk menyaksikan aksi liar manusia-manusia dalam kebun binatang ini.
Jogja Hip-Hop Foundation
Seharusnya tak ada lagi alasan bagi unit hip-hop berbahasa jawa ini untuk bermain di Makassar. Kota-kota di Amerika dan beberapa negara saja telah mereka buat kagum akan penampilan apik mereka. Perihal dominan lagu mereka berbahasa Jawa dan kita disini berbahasa Bugis-Makassar, oh come on. Tak penting kali hal itu dipermasalhkan. Kan musik itu universal. Musik seharusnya menyatukan, bukan mengkotakkan.

Ah, pokoknya lagu mereka semacam Jogja Istimewa haruslah berkumandang di Makassar tahun ini. Itu aja sih.
Morfem
Pilih Sidang Atau Berdamai, lagu kritik terhadap korps kepolisian tersebut sangat kencang diputar di akhir tahun 2011 lalu. Bahkan Majalah RollingStone Indonesia menobatkan video lagu tersebut sebagai video musik terbaik di tahun itu. Tersangka atas semua itu adalah, Morfem.

Morfem adalah projek sampingan dari Jimmy Multazham, yang dikenal sebagai vokalis band new wave indonesia, The Upstairs. Bersama ketiga kawannya ia membentuk sebuah band berirama indie rock dengan efek gitar fuzz yang kental. Tema besar yang mereka usung juga isu-isu sosial. Lagu terbaru mereka yang berjudul Kami Bosan jadi Negara Dunia Ketiga dapat didengar di album kompilasi Frekuensi Perangkap Tikus, proyek keroyokan beberapa musisi dalam rangka kampanye anti korupsi.

Sebenarnya saya sudah pernah menyaksikan aksi panggung mereka secara langsung, yaitu di Lapangan Monas dan Gedung Salihara di Jakarta. Namun sungguh kurang rasanya kalau belum menyaksikan band yang menarik di kota yang tentu juga menarik ini. Semoga secepatnya Makassar berjodoh dengan Morfem.

Jumat, 03 Agustus 2012

Lagu-Lagu Pengantar Pulang

Sungguh tidak terasa, sudah lebih dari dua tahun saya tidak menginjak rumah di Tarakan. Terakhir saya melakukannya pada sebuah libur semester di tahun 2010. Selama kuliah ini, pulang rumah bukan lagi sebuah kebiasaan. Ia sudah menjadi semacam ritual yang begitu sulit dilakukan.
 
Setiap tahun, di waktu-waktu yang memberikan kesempatan untuk kembali ke rumah, selalu saja ada alasan pembenaran untuk tidak pulang dulu. Pekerjaan di organisasi kampus. Kegiatan sosial bersama kawan-kawan. Yang paling klasik, duitnya terlalu mubazir dihabiskan hanya untuk terlalu sering pulang rumah.

Tapi jujur saja, keinginan itu selalu muncul hampir setiap tahun. Antiklimaks memang dengan keinginan menggebu-gebu untuk meninggalkan rumah selepas SMA dulu.

Dan tengah tahun ini saya tak dapat mengelak lagi. Saya harus pulang! Ego besar di luar rumah harus dikesampingkan dulu. Jarak pun tak memungkinkan lagi bagi saya untuk mengelak. Selepas mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Pulau Sebatik, Kal-Tim, ternyata belum ada rencana follow up di Makassar. Jadilah kapal mengantar saya hanya sampai di Pulau Tarakan. Rombongan yang lain akan berlanjut sampai Pare-Pare dan Makassar.

Untuk perjalanan pulang tahun ini saya memilih lima buah lagu yang semakin memantapkan setiap langkah saya menuju rumah. Sebenarnya lagu-lagu ini pulalah yang membuat saya semakin rindu keluarga setiap kali mendengarnya.

Ah, tanpa panjang lebar lagi, berikut lagu-lagu pengatar pulang dari dan bagi saya;

·     Andien – Pulang

Memang tema besar lagu ini adalah tentang kerinduan kepada pasangan. Namun, bagi saya lagu ini sangat mampu untuk membangkitkan romantisme kebersamaan dengan keluarga. Setiap kali mendengarnya, ingin rasanya langsung berada di rumah. Kehangatan kebersamaan dengan orang-orang terkasih sangat terbangun di nomer ini.

Pop-jazzy menambah syahdu tembang Pulang. Suara emas Andien, yang memang salah satu solois wanita terbaik di genre-nya melengkapkan daya tarik lagu ini.
Hari ini sayang aku akan pulang
Berlabuh di dekap cintamu
Karna pelukmu akan selalu
Membuat diriku jatuh cinta

·     Dialog Dini Hari – Ku Kan Pulang

Jika berbicara tentang waktu, terkadang memang tidak pernah terasa, ternyata sudah cukup lama kita pergi dari rumah. Tiba-tiba saja kita akan sampai pada satu titik dan terbersit rasa untuk kembali. Ku Kan Pulang bercerita tentang itu. Tentang bagaimana rasa rindu tiba-tiba saja datang dan terus memanggil kita untuk pulang. Tapi tetap saja kita akan selalu harus mencari waktu yang tepat. Dan waktu yang tepat bagi saya ya saat ini.

Dialog Dini Hari sangat pintar meramu musik dan lirik menjadi sebuah lagu yang begitu menyentuh. Dengan balutan folk minimalis, Ku Kan Pulang dapat menjadi lagu yang memiliki daya bunuh maksimal. Trio asal Bali ini mulai menjadi salah jaminan mutu bagi musik Indonesia saya kira.
...Lamakah aku pergi
Hingga tak sadar beribu kisah ingin ku bagi
Berilah aku waktu sebentar lagi
Ku kan pulang
Pulang ke rumah
Berilah waktu
Sabar menunggu...

·     Quasi – For Mom and Dad & Lazy Room – Take Me Home

Impian terbesar saya selepas lulus SMA dulu adalah pergi sejauh mungkin dari rumah. Rasa bosan dan ingin belajar mandiri menjadi alasan utama. Gayung bersambut, orang tua mengizinkan niatan saya tersebut. “Bebaslah saya”, pikir saya waktu itu.

Namun tak cukup lama sebelum tembok pertahanan saya runtuh. Saya memang bebas untuk melakukan segala kegiatan secara mandiri. Tapi rasa-rasanya kok ada yang hilang. Tak lain hal itu adalah kehangatan keluarga.

Saya rasa hal tersebut juga menjadi latar terciptanya For Mom and Dad dan Take Me Home ini. Dua lagu ini setipikal sebenarnya. Sama-sama bercerita tentang kerinduan dalam kesederhanaan, namun sangat jujur saya kira. Pada divisi lirik dua lagu ini hanya bercerita tentang kerinduan yang mendalam kepada kedua orang tua. Tak bisa dipungkiri, memang orang tua akan selalu menjadi alasan terkuat kita untuk pulang.
I come to the stars
Where are you mom
How are you? How are you?
I come to the sun
Where are you dad
 I miss you. I love you

·     Float – Pulang

Nah, lagu inilah yang menjadi racun bagi saya belakangan ini. Tapi saya selalu saja memutarnya berulang-ulang. Di kala sendiri atau sebelum tidur lagu ini saya mainkan. Dan saat itu pula bayangan rumah beserta semua yang ada di dalamnya langsung tampak jelas.

Pulang versi Float ini bercerita tentang kerinduan yang tak tertahankan lagi. Dengan alunan musik folk-pop khas Float, lagu ini akan menambah keinginan untuk pulang berkali-kali lipat.
Jelajahi waktu
Ke tempat berteduh hati kala biru

Dan lalu...
Sekitarku tak mungkin lagi kini
Meringankan lara
Bawa aku pulang, rindu
Segera  Jelajahi wakt
*Ditulis sambil mendengarkan bapak yang sedang mengaji dan mamak yang sedang mempersiapkan menu berbuka puasa.
Ah, hangatnya rumah...
Jelajahi waktu
Ke tempat berteduh hati kala biru

Dan lalu...
Sekitarku tak mungkin lagi kini
Meringankan lara
Bawa aku pulang, rindu!
Segera!

Selasa, 17 Januari 2012

Resolusi Konser 2012


Saya suka mendengar/menonton musik Indonesia... Ah, klise. Sudah sangat sering saya katakan itu. Tak usah dibahas lagi.

Salah satu keinginan saya di tahun 2012 ini adalah lebih banyak menonton konser band-band kesukaan. Ada banyak band/musisi keren (menurut saya) Indonesia yang belum saya datangi pertunjukan live-nya. Alasannya lebih kepada karena mereka belum sempat main di Makassar sih. Kalau saya yang mendangi konser mereka di Jawa kan berat di ongkos. Jadi untuk sementara bersabar saja dulu, sambil berharap ada promotor yang mau mengajak mereka main ke Makassar.

Ini dia daftar resolusi konser saya di tahun 2012:

Dialog Dini Hari

Mereka adalah trio supergrup dari kancah musik Bali. Personilnya datang dari band-band yang lebih dulu eksis di ranah musik pulau dewata tersebut. Dankie (Navicula), Michael Bronzio (eks The Hydrant) dan Putu Deny Surya Wibawa (Rokavatar). Bertiga mereka bersekongkol untuk memainkan musik yang tidak tersalurkan di band sebelumnya. Album pertama Beranda Taman Hati yang berasa folk-blues langsung membuat saya jatuh cinta sejak pertama mendengar. Dialog Dini Hari, tahun ini kita harus bertemu!

Sir Dandy

Tak perlulah saya menjelaskan lagi. Lesson #1, album perdana orang gila ini, hingga kini masih mampu membuat saya terus tertawa geli tiap kali mendengarkannya. Sir, tahun ini kita harus bertemu! Sikat Jon!

Melancholic Bitch

Mungkin harapan saya untuk menyaksikan band terbaik Jogja ini akan sangat tipis. Akhir Juli tahun lalu mereka telah mengumumkan akan 'rehat' hingga waktu yang belum ditentukan pada sebuah konser yang emosional. Masing-masing personil sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Dalam doa sehabis sholat, saya sering meminta agar mereka segera berkumpul dan mengelar pertunjukan lagi. Tentu dengan harapan saya ada di tengah-tengah konser reuni tersebut. Amin. Om-om Melbi, tahun ini kita harus bertemu!

Jogja Hip-Hop Foundation

Baru kali ini saya benar-benar menyukai lagu hip-hop. Panji-panji Ngayogyakarta Hadiningrat. Merekalah yang telah berhasil membuat saya keracunan musik para rapper dengan lirik berbahasa jawanya itu. Ketika budaya lokal bertemu budaya global. Ketika beat hip-hop bercampur dengan syair tradisional jawa. Ketika batik matching dengan sneaker. Saat itulah anda siap digoyang oleh sekumpulan bernama Jogja Hip-Hop Foundation. Kang mas-kang mas, janji ya, tahun ini kita harus bertemu!

Armada Racun

Lagi-lagi band Jogja. Kota ini memang pencetak manusia-manusia dengan predikat musisi keren. Yang ini band beracun bernama Armada Racun. Mereka sudah menjadi racun bagi saya sejak pertama mendengar lagu Amerika. Belum lagi lagu-lagu lainnya di album Le Peste semacam Tuan Rumah Tanpa Tanah, Lalat Betina dan lainnya. Eh album mereka ini juga masuk dalam album terbaik tahun 2010 pilihan saya loh. Tapi sayang saat ini mereka juga sedang rehat. Dalam masa pengerjaan album sih dengar-dengar. Sungguh saya sudah sangat siap untuk diracun oleh kalian. Kakak-kakak Armada Racun, pokoknya tahun ini kita harus bertemu!

Bangkutaman
Salah satu penyesalan saya di tahun 2010 adalah tidak sempatnya saya menyaksikan pertunjukan live unit indie-pop ini pada saat mereka tampil di Makassar. Ada banyak alasan saya harus menyaksikan mereka. Tapi cukuplah dengan fakta bahwa album Ode Buat Kota milik mereka adalah album terbaik 2010 versi Rolling Stone Indonesia. Ah, mas-mas, main ke Makassar lagi dong. Saat itu saya berjanji untuk berada di barisan paling depan untuk menonton kalian. Oke ya, Bangkutaman, tahun ini kita harus bertemu!

The Adams
Sudah sejak SMA saya menyukai mereka. Lagu Konservatif yang menjadi soundtrack film Janji Joni penyebabnya. Belum lagi Halo Beni dan Hanya Kau. Tak usah banyak alasan. pokonya saya harus menonton pertunjukan live mereka. The Adams, tahun ini kita harus bertemu!

Luky Annash
Entah saya saja yang kurang tahu, tapi saya belum pernah mendengar seorang musisi memainkan piano seliar dibanding apa yang dilakukan oleh Luky Annash. Pada bagian lirik lagu juga sangat kuat. Album 180 Derajat yang rilis tahun 2011 adalah album perdana sekaligus perkenalan yang mantap saya rasa. Luky, tahun ini kita harus bertemu!

Raisa
Saat pertama mendengarkan solois ini lewat radio, saya langsung jatuh hati. Suara beratnya sungguh seksi menurut saya. Sekalinya melihat wujud aslinya di televisi, saya semakin jatuh hati. Musik Raisa yang memasukkan bermacam-macam unsur seperti pop, jazz dan balada sangat menarik. Sebenarnya ia juga sudah pernah tampil di Makasar. Tapi entah kemana saya waktu itu. Ayolah Raisa, jangan bikin aku serba salah dong. tahun ini kita harus bertemu!

Itu saja mungkin ya. Diaminin dong pemirsa!