Tampilkan postingan dengan label Gigs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gigs. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 November 2013

Rock In Celebes 2013 di Depan Mata



Setelah diserbu oleh gigs jazz di bulan November, kini giliran musik keras yang siap menutup akhir tahun Kota Makassar. Rock In Celebes, pesta rock tahunan yang telah mendapat pengakuan sebagai festival rock terbesar di Indonesia Timur telah kembali. Dihelat selama empat hari, 12-15 Desember 2013, festival ini sungguh sangat siap memanjakan para penikmat musik berisik Kota Daeng.

Ada beberapa perbedaan yang akan ditampilkan Chambers Entertainment selaku penyelenggara pada Rock In Celebes 2013 ini. jika biasanya digelar pada pertengahan tahun, tahun ini Rock In Celebes sengaja diadakan pada bulan Desember bersamaan dengan helatan Celebes Clothing Fest. Kedua kegiatan besar ini disatukan waktu pelaksanaannya dan dibungkus dalam satu perayaan bernama Chambers 10Th Festival. Kegiatan ini sekaligus untuk merayakan ulang tahun ke-10 unit usaha Chambers.

“Untuk di tahun ini, karena spesial di tahun ke-10 kita, kita menggabungkan dua event ini  (Rock In Celebes dan Chambers Clothing Fest) dalam satu gelaran. Seperti kita tahu, akan diadakan selama empat hari, 12 sampai 15 Desember di Celebes Convention Center,” Kata Hardinansyah Putra Siji selaku Project Director Chambers 10Th Festival, pada press conference, Selasa 26 November 2013.

Bersamaan dengan waktu pelaksanaan yang diperpanjang menjadi empat hari, Rock In Celebes 2013 juga akan menghadirkan lebih banyak penampil. Setidaknya akan ada 40-an band yang siap hadir memanaskan moshpit, baik yang bertaraf lokal, nasional sampai Internasional. Dasboard Confessional, unit rock emo asal Florida, Amerika Serikat dipercaya sebagai penampil utama alias headliner. Akan ada juga belasan band nasional yang akan menjadi co-headliner, seperti The S.I.G.I.T (Bandung), Burgerkill (Bandung), Seringai (Jakarta), Inlander (Jakarta), Navicula (Bali), Down For Life (Solo), The Experience Brother (Bekasi) sampai Kapital (Tenggarong).

Selain headliner dan co-headliner, Rock In Celebes 2013 juga akan memberikan porsi tampil yang cukup besar pada band-band lokal Makassar. Setidaknya ada 25 band lokal potensial yang siap tampil sebagai supporting band. Hal ini dimaksudkan untuk ikut mengangkat semangat skena lokal Makassar.

“Setiap tahunnya band lokal pasti mendapat porsi yang lebih banyak. Karena memang event ini (Rock In Celebes) kontribusinya untuk memotivasi anak-anak band di Makassar dan sekitarnya,” Jelas Ardy, sapaan akrab Hardinansyah Putra Siji.

Perbedaan mencolok lainnya adalah, Rock In Celebes 2013 ini akan memakai dua panggung pertunjukan. Panggung utama akan diisi oleh penampilan band-band dan satu panggung tambahan akan diperuntukan khusus bagi penampilan Disc Jockey alis DJ.

“Ada satu hal yang mungkin orang-orang masih kurang tahu bahwa kita, di Makassar, banyak memiliki potensi DJ. Talent DJ di Makassar itu termasuk paling banyak di Indonesia. Dan tahun ini kita akan memberikan kesempatan kepada DJ-DJ lokal untuk tampil,” Kata Ardy.

Ekspektasi besar akan pertunjukan musik rock bermutu tentu hadir dari dari penjelasan press conference dan press release Rock In Celebes 2013 tersebut. Jadi siapkan diri kalian. Pesta sudah di depan mata.

Sabtu, 23 Juni 2012

I Remember Mocca Live In Concert: Konser Perdana Mocca Pasca Vakum

I Remember Mocca Live In Concert
Friday 22nd June 2012
@WoodsyGab Foodcourt Makassar

Setelah vakum sejak sekitar setahun yang lalu, Mocca akan kembali mengadakan konser reuni mereka di beberapa kota. Hal ini dilakukan setelah sang vokalis, Arina berkesempatan kembali mengunjungi Indonesia. Memang saat ini Arina lebih memilih menjadi seorang ibu rumah tangga. Setelah menikah Ia memutuskan untuk menetap di Long Beach, Amerika Serikat bersama sang suami. Dan beruntunglah Kota Makassar karena dipilih Mocca sebagai kota pertama tempat pelaksaan konser mereka pasca sang vokalis pulang.

Bertempat di WoodsyGab Foodcourt Makassar, Mocca siap mengobati rasa rindu semua Swinging Friends (sebutan untuk para fans setia Mocca) yang sudah membuncah lewat sebuah Konser bertajuk I Remember Mocca Live In Concert. Sedianya konser akan dilaksanakan mulai pukul 9 malam. Namun sebelum Arina (vokal/flute), Riko (Gitar), Toma (Bass) dan Indra (drum) beraksi di atas panggung mini, para penonton terlebih dulu disuguhi sebuah film dokumenter berjudul Life Keeps On Turning. Film bergenre rockumentary (rock documentary) ini bercerita banyak tentang saat-saat terakhir Mocca waktu akan memutuskan untuk vakum di tahun 2011 lalu. Semua gambaran perasaan para Swinging Friends juga personel Mocca tergambar di film berdurasi kurang lebih 80 menit ini.

Konser dibuka dengan pemutaran film Life Keeps On Turning
Selepas itu, MC langsung memanggil keempat personel Mocca yang memang telah bersiap di tengah-tengah penonton. Suara penonton langsung membahana memenuhi ruangan WoodsyGab yang memang tidak terlalu luas.

“Halo, apa kabar Makassar?” Sapaan pertama Arina yang langsung ditimpali tepuk tangan meriah oleh semua penonton.

“Makassar selalu memberikan kesan indah kepada kami, terutama kalian semua dan juga makanan ringannya yang selalu membuat kangen.” Lanjut Arina.

Setelah sapa kangen tersebut Mocca baru beraksi. What If langsung dimainkan sebagai lagu pembuka dilanjutkan dengan I Think I’m In Love yang langsung menghadirkan singalong dari penonton. My Only One dimainkan selanjutnya sebelum MC kembali masuk untuk bertanya-tanya perihal kepulangan Arina.

“Saat ini saya memang sedang menetap di Amerika bersama suami. Tapi alhamdulillah ada kesempatan untuk pulang. Beruntunglah Makassar karena menjadi kota pertama tempat konser perdana kami setelah vakum tahun lalu.” Terang Arina soal konser reuni mereka tersebut.

Lagu selanjutnya setelah sesi tanya-tanya tersebut adalah Hanya Satu, lagu berbahasa Indonesia yang menjadi soundtrack film Untuk Rena.  Kemudian, kembali sebuah lagu yang menjadi soundtrack film Catatan Akhir Sekolah, I Remember. Kedua lagu tersebut, walaupn tenang namun menghadirkan cukup banyak singalong dari penonton.

Konser semakin intim saat This Conversation dibawakan. Selain bernyanyi bersama, beberapa pasang penonton terlihat semakin mesra. Lalu Arina mengajak semua penonton untuk bernyanyi bersama di lagu Do What You Wanna Do. Jelas saja penonton tak ragu untuk bernyanyi saat disodorkan mic.

“Ini yang membuat kami selalu ingin kembali bermusik. Terimakasih karena telah bersemangat untuk terus mendukung kami.” Kata Arina kepada seluruh penonton yang sungguh bersemangat malam itu.

Lagu tentang pemuja rahasia, Secret Admirer dimainkan selanjutnya. Hyper Ballad, lagu dari musisi nyentrik Bjork pun turut dibawakan. Lagu ini dimainkan dengan rasa berbeda sesuai dengan musik khas Mocca. Setelah lagu Me And My Boy Friend dan Life Keeps on Turning semua personel Mocca sudah tampak ingin pamit untuk mengakhiri konser. Tentu saja ini ritual klasik musisi pada setiap konser. Penonton yang belum rela untuk melihat konser berakhir akan meminta tambahan lagu. Mocca mengabulkan encore. Dua lagu tambahan pun dimainkan. Lagu Swing It Bob menjadi penutup konser. Tiga penonton wanita beruntung diajak bernyanyi oleh Arina diatas panggung pada lagu tersebut.

“Terimakasih sudah datang. Terimakasih sudah bernyanyi bersama kami. Terimakasih juga karena terus mendukung kami. Konser hari ini tak akan berarti tanpa dukungan kalian. Sampai berjumpa lagi.” Tutup Arina, sebelum meninggalkan panggung dan diikuti seluruh personel Mocca yang lain.


 Total tujuh belas lagu dimainkan Mocca pada konser malam itu. Permainan seluruh personel sungguh prima. Suara Arina yang lembut dan selalu menyenangkan masih terjaga. Semua penonton terlihat puas dengan pertunjukan tersebut. Pukul 12 malam konser berakhir. Selanjutnya Mocca akan tampil di Singapura sebelum melaksanakan konser tunggal mereka di Bandung.

*Sumber gambar: @WoodsyGab 

Selasa, 17 Januari 2012

Resolusi Konser 2012


Saya suka mendengar/menonton musik Indonesia... Ah, klise. Sudah sangat sering saya katakan itu. Tak usah dibahas lagi.

Salah satu keinginan saya di tahun 2012 ini adalah lebih banyak menonton konser band-band kesukaan. Ada banyak band/musisi keren (menurut saya) Indonesia yang belum saya datangi pertunjukan live-nya. Alasannya lebih kepada karena mereka belum sempat main di Makassar sih. Kalau saya yang mendangi konser mereka di Jawa kan berat di ongkos. Jadi untuk sementara bersabar saja dulu, sambil berharap ada promotor yang mau mengajak mereka main ke Makassar.

Ini dia daftar resolusi konser saya di tahun 2012:

Dialog Dini Hari

Mereka adalah trio supergrup dari kancah musik Bali. Personilnya datang dari band-band yang lebih dulu eksis di ranah musik pulau dewata tersebut. Dankie (Navicula), Michael Bronzio (eks The Hydrant) dan Putu Deny Surya Wibawa (Rokavatar). Bertiga mereka bersekongkol untuk memainkan musik yang tidak tersalurkan di band sebelumnya. Album pertama Beranda Taman Hati yang berasa folk-blues langsung membuat saya jatuh cinta sejak pertama mendengar. Dialog Dini Hari, tahun ini kita harus bertemu!

Sir Dandy

Tak perlulah saya menjelaskan lagi. Lesson #1, album perdana orang gila ini, hingga kini masih mampu membuat saya terus tertawa geli tiap kali mendengarkannya. Sir, tahun ini kita harus bertemu! Sikat Jon!

Melancholic Bitch

Mungkin harapan saya untuk menyaksikan band terbaik Jogja ini akan sangat tipis. Akhir Juli tahun lalu mereka telah mengumumkan akan 'rehat' hingga waktu yang belum ditentukan pada sebuah konser yang emosional. Masing-masing personil sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Dalam doa sehabis sholat, saya sering meminta agar mereka segera berkumpul dan mengelar pertunjukan lagi. Tentu dengan harapan saya ada di tengah-tengah konser reuni tersebut. Amin. Om-om Melbi, tahun ini kita harus bertemu!

Jogja Hip-Hop Foundation

Baru kali ini saya benar-benar menyukai lagu hip-hop. Panji-panji Ngayogyakarta Hadiningrat. Merekalah yang telah berhasil membuat saya keracunan musik para rapper dengan lirik berbahasa jawanya itu. Ketika budaya lokal bertemu budaya global. Ketika beat hip-hop bercampur dengan syair tradisional jawa. Ketika batik matching dengan sneaker. Saat itulah anda siap digoyang oleh sekumpulan bernama Jogja Hip-Hop Foundation. Kang mas-kang mas, janji ya, tahun ini kita harus bertemu!

Armada Racun

Lagi-lagi band Jogja. Kota ini memang pencetak manusia-manusia dengan predikat musisi keren. Yang ini band beracun bernama Armada Racun. Mereka sudah menjadi racun bagi saya sejak pertama mendengar lagu Amerika. Belum lagi lagu-lagu lainnya di album Le Peste semacam Tuan Rumah Tanpa Tanah, Lalat Betina dan lainnya. Eh album mereka ini juga masuk dalam album terbaik tahun 2010 pilihan saya loh. Tapi sayang saat ini mereka juga sedang rehat. Dalam masa pengerjaan album sih dengar-dengar. Sungguh saya sudah sangat siap untuk diracun oleh kalian. Kakak-kakak Armada Racun, pokoknya tahun ini kita harus bertemu!

Bangkutaman
Salah satu penyesalan saya di tahun 2010 adalah tidak sempatnya saya menyaksikan pertunjukan live unit indie-pop ini pada saat mereka tampil di Makassar. Ada banyak alasan saya harus menyaksikan mereka. Tapi cukuplah dengan fakta bahwa album Ode Buat Kota milik mereka adalah album terbaik 2010 versi Rolling Stone Indonesia. Ah, mas-mas, main ke Makassar lagi dong. Saat itu saya berjanji untuk berada di barisan paling depan untuk menonton kalian. Oke ya, Bangkutaman, tahun ini kita harus bertemu!

The Adams
Sudah sejak SMA saya menyukai mereka. Lagu Konservatif yang menjadi soundtrack film Janji Joni penyebabnya. Belum lagi Halo Beni dan Hanya Kau. Tak usah banyak alasan. pokonya saya harus menonton pertunjukan live mereka. The Adams, tahun ini kita harus bertemu!

Luky Annash
Entah saya saja yang kurang tahu, tapi saya belum pernah mendengar seorang musisi memainkan piano seliar dibanding apa yang dilakukan oleh Luky Annash. Pada bagian lirik lagu juga sangat kuat. Album 180 Derajat yang rilis tahun 2011 adalah album perdana sekaligus perkenalan yang mantap saya rasa. Luky, tahun ini kita harus bertemu!

Raisa
Saat pertama mendengarkan solois ini lewat radio, saya langsung jatuh hati. Suara beratnya sungguh seksi menurut saya. Sekalinya melihat wujud aslinya di televisi, saya semakin jatuh hati. Musik Raisa yang memasukkan bermacam-macam unsur seperti pop, jazz dan balada sangat menarik. Sebenarnya ia juga sudah pernah tampil di Makasar. Tapi entah kemana saya waktu itu. Ayolah Raisa, jangan bikin aku serba salah dong. tahun ini kita harus bertemu!

Itu saja mungkin ya. Diaminin dong pemirsa!

Sabtu, 31 Desember 2011

Menonton Efek Rumah Kaca


Apa lagi yang lebih membahagiakan daripada menonton konser band kesayangan, bersama teman-teman terbaik pula. Saya rasa sudah tidak ada. Jumat malam ini saya dan banyak teman menghadiri Shopping Concert Chambers Yes 2011. Headliner utama pada konser kali ini adalah band yang paling berpengaruh dalam hidup saya, Efek Rumah Kaca (ERK). Ini kali keempat saya menonton mereka. Tiga kali di Makassar dan sekali di Jakarta. Bagi saya, tak pernah ada kata bosan untuk mendengarkan dan menyaksikan mereka.

Konser kali ini terasa istimewa karena beberapa hal. Selain karena menonton bersama teman-teman, setelah konser saya juga harus membuat semacam ulasan tentang gigs kali ini untuk sebuah webzine potensial asal Tarakan East Borneo, Abodmu (saya sudah sering mengatakan ini di postingan sebelumnya kan). Jadi, ketahuilah, saat kalian sedang asyik saja menonton dan sing a long sepanjang konser, disaat bersamaan saya harus telaten menyimak setiap sudut stage dan memperhatikan apa saja yang terjadi selama pertunjukan berlangsung.

Tapi alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Saya bisa menikmati jalannya konser namun tetap bisa membuat ulasan, tepat sesuai dengan waktu yang diharapkan. Hasil liputan amatiran saya bisa disimak disini

Sebenarnya saya tidak akan membahas banyak tentang ERK disini. Sepertinya semuanya juga sudah tahu, Efek Rumah Kaca ada sebuah jaminan mutu untuk setiap konser yang memasang mereka sebagai penampil (apa saya terlalu berlebihan ya?). Tapi kali ini saya mau lebih banyak bercerita tentang teman-teman saya yang turut serta pada konser malam tadi. Ada teman-teman serumah di Asrama Tarakan: Asdi, Rusdi, Gepeng, Memet dan Kodir. Juga ada teman-teman akrab di kampus: Arif, Cua, Isak, Bon dan Okky.

Untuk teman-teman asrama, okelah, rata-rata mereka sudah menyukai ERK sejak lama. Kecuali Memet yang sedari dulu adalah fans militan dari unit menye-menye, Ungu dan Kodir (sebenarnya nama asli orang ini adalah Chaidir teman-teman) yang saat ini sepertinya sangat berhasrat menjadi anggota boy band ibukota. Tapi baiknya, mereka tampak menikmati konser malam tadi. Khusus untuk Rusdi, terimakasih atas pinjaman BB-nya untuk saya mengambil gambar.

Nah, kalau teman-teman kampus punya kisah tersendiri. Cerita mereka mau menonton konser yang mengahadirkan ERK cukup berwarna. Oke, saya ceritakan saja satu-persatu. Dimulai dari Arif. Sebelum mengenal saya, Arif adalah Ungu Cliqers (Sebutan untuk fans setia band Ungu) terbesar dari Kota Sorong. Sama dengan Memet, Arif sepertinya akan rela mati demi band yang satu itu. Ketika mulai akrab, saya menjejalinya dengan musik-musik kesukaan saya semacam ERK dan Frau. Alhamdulillah beberapa musisi hasil rekomendasi dari saya telah terpasang di playlist-nya. Walau masih saja dia tetap setia dengan Ungu-nya. Lihat saja jejaring sosialnya kalau tidak percaya. Segera lupakan band berwarna janda itu Arif!

Kalau Cua lain lagi. Ia adalah teman yang paling berhasil saya pengaruhi dalam hal mendengarkan musik kesukaan saya. Tercatat, sudah tiga kali saya berhasil mengajak serta Cua ke acara konser musik. The Trees And The Wild, Frau dan ERK adalah band yang sudah sempat ia saksikan bersama saya. Semasa SMA Cua adalah seorang personil kelompok nasyid. Menurut cerita, ia sudah sempat tampil di beberapa tempat di Maros maupun Makassar. Sungguh pencapaian yang luar biasa. Tapi seorang penyanyi nasyid yang juga menjadi penikmat musik berkualitas adalah pencapaian yang lebih luar biasa lagi. Percayalah itu cua!

Sejatinya Isak adalah seorang penggemar film. Namun ketika saya ajak untuk menonton konser ERK ia langsung mengiyakan. Alasannya, tentu saja karena teman-teman yang lain sudah pasti akan turut serta. Kan tidak enak, menonton film lewat notebook dengan keadaan ditinggal sendiri di rumah. Tapi siang sebelum kami akan menonton konser ini, Isak ternyata mempersiapkan beberapa hal. Ia men-download beberapa lagu ERK dan berusaha menghafalnya. Sepertinya Ia tidak mau ketinggalan untuk sing a long. Alhamdulillah Isak juga terlihat menikmati konser hingga usai.

Eh catatan tambahan untuk ketiga teman seperjuangan saya ini. Ada hal yang membuat konser kali ini tambah istimewa. Karena takut terjebak macet, kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju tempat konser. Sialnya, ternyata jalan tidak terlalu macet. Jalanan padat, namun masih kondusif untuk dilewati. Apa lacur, ya kami berjalan kaki sejauh lebih dari satu kilometer pergi-pulang. Untung ada sedikit hiburan dari nikmatnya nasi kuning tengah malam yang kami temui sewaktu pulang.

Konser tadi malam bukan hanya milik laki-laki. Duo Gosip (hahaha... akhirnya saya menemukan nama yang keren untu kalian) Okky dan SriBon juga turut serta. Sebenarnya kedua wanita enerjik ini adalah penggemar musisi barat, semacam Lady Gaga, Maroon 5 dan Panic! At The Disco. Namun sejak saya memperdengarkan ERK, Bon langsung suka. Begitu juga Okky. Katanya Ia suka dengan liriknya. Syukurlah kalian dikaruniai kuping yang peka terhadap lagu-lagu bagus. Hehehe..

Khusus Okky, awal perkenalan saya dengannya juga karena musik. Sekitar tahun 2007 Okky meng-add Friendster saya (ya Friendster teman-teman). Karena saya memasang gambar musisi asal Inggris, Mika, sebagai profil picture waktu itu. Ya, kami sama-sama suka Mika waktu itu.

Sebenarnya saya tidak yakin kedua gadis ini akan datang, mengingat penonton sudah terlalu padat. Tapi tak disangka, hujan dan ancaman akan terhimpit ditengah penonton yang kebanyakan laki-laki tak menghalangi mereka. Mereka datang sesaat sebelum ERK akan tampil. Ketika ERK mulai beraksi, semua menikmati, termasuk kedua teman saya ini. Sampai penonton di bagian tempat kami menonton mulai rese. Mereka mulai saling mendorong satu sama lain. Tak ada pilihan lain, kami harus mundur ke daerah yang lebih tentram.

Kejadian sempat terhimpit tadi ternyata tidak membuat mereka kecewa. Alhamdulillah semua tetap menikmati dan puas dengan konser barusan. Ini terlihat dari kicauan rasa senang  mereka di twitter sesat setelah konser selesai.

Ah, tadi malam itu sungguh berkesan. Tak mudah mendapatkan momen semacam itu. Bagaimana kawan-kawan? Setuju kan dengan saya? :))

Senin, 27 Juni 2011

Malam Itu Kami Yang Paling Nge-Rock


Segerombolan muda dengan pakaian dominan berwarna hitam sudah tampak berkumpul ketika saya tiba di Monumen Mandala. Tampaknya mereka sudah sangat siap untuk menyaksikan hajatan di depan mata mereka. Memang hari itu di tempat itu akan dilangsungkan suatu hajatan besar bagi penggemar kebisingan. Suatu hajatan yang menjadi kebanggan baru bernama ROCK IN CELEBES.

Sebenarnya pada media promosi, acara ini akan dimulai pukul 15.00. Saya pun datang kesana sekitar pukul 17.00. Dengan asumsi, dengan terlambat dua jam saya tidak akan terlewat penampilan headliner. Pasti yang akan tampil di awal adalah band pembuka yang diisi oleh band-band lokal. Tapi setibanya di tempat, jangankan kebisingan, penjaga tiket pun belum ada, pertanda pemilik tiket belum dipersilahkan masuk. Apa ini? Acara sebagus ini dinodai oleh masalah klasik yaitu ngaret. Antusiasme saya dan beberapa calon penonton disitu terlihat sedikit kecewa dengan keterlambatan tersebut.

Untung saya bertemu dengan seorang teman dan beberapa orang temannya. Saya jadi punya teman mengobrol untuk membunuh rasa bosan karena menunggu. Tema obrolan kami berkisar tentang acara tersebut dan musik khususnya rock dan metal. Cukup lama kami mengobrol sebelum penjaga tiket muncul untuk mempersilahkan kami masuk sekitar pukul 19.00. Saking semangatnya saya langsung mengambil antrian paling depan untuk masuk. Sekedar tambahan info, Rock In Celebes tahun ini dihadiri oleh lebih dari 5000 penonton.

Konser baru dimulai setengah jam kemudian. Seperti konser kebiasaan, penampil pertama adalah band-band lokal hasil seleksi panitia. Ada sembilan band lokal yang tampil yang masing-masing membawakan dua lagu. Ternyata beberapa band lokal Makassar punya potensi juga. Salah satu yang paling saya ingat adalah band metal bernama Panniki Hate Light. Mereka sempat meng-cover Poker Face-nya Lady Gaga. Tampaknya mereka juga sudah punya massa tersendiri. Tampak dari ketika nama mereka dipanggil segerombolan orang langsung maju ke depan panggung untuk melakukan head bagging bersama-sama.



Sembilan band pembuka sudah kelar, saatnya untuk headliner yang unjuk gigi. Headliner pertama adalah band elektronik rock eksperimental asal Bandung, Polyester Embassy. Band ini adalah tujuan utama saya mendatangi konser ini. Seperti yang sudah saya bilang, saya sudah terpukau dengan band ini ketika mendengar mereka pertama kali sekitar tahun 2007 waktu masih SMA. Saat nama mereka dipanggil saya langsung tepuk tangan dan sempat berteriak.

Polyester Embassy hanya menjadi semacam warming up malam itu. Memang musik mereka bukan pure rock ataupun metal yang up beat. Musik mereka berisik tapi tetap nyaman untuk didengar. Lagu-lagu lawas mereka seperti Polypanic Room dan Faded Blur serta lagu dari album baru Fake/Faker dimainkan malam itu. Penampilan mereka ditutup klimaks dengan pertunjukan instrumental yang lumayan panjang. Sungguh memuaskan. Rasa penasaran saya yang ingin menyaksikan langsung penampilan mereka terobati sudah.


Penampil selanjutnya adalah band hardcore ibukota, Seringai. Saya masih nyaman berdiri di barisan paling depan sampai nama mereka dipanggil. Segerombolan manusia langsung menyerbu maju ketika musik mereka mulai dimainkan. Saya yang tidak terbiasa menonton konser cadas pun kewalahan. Penonton tiba-tiba menjadi sangat liar dengan moshing yang tidak terkendali lagi. Walaupun panitia sudah melarang untuk membawa minuman keras, tetap saja semerbak bau alkohol tercium. Tapi semangat Seringai malam itu membuat saya tetap enjoy di tengah serbuan asap rokok, bau alkohol dan hawa tidak menyenangkan dari badan penonton sekitar.

Marijuanaut membuka penampilan mereka. Seringai bisa menyamai Black Sabath lewat lagu ini. Lagu Membakar Jakarta sedikit berubah malam itu menjadi Membakar Makassar. Berhenti di 15 menambah panas penonton. Lalu ada lagu yang sangat singkat berjudul Lagu Ini Tidak Sependek Jalan Pikiranmu yang kali ini ditujukan untuk Roy Suryo dan Tifatul Sembiring. Sang vokalis memang doyan akan hal itu. Dan sepasang favorit dari album Serigala Militia, Citra Natural dan Mengadili Persespsi menutup penampilan yahud mereka.

Raungan Arian13 yang walaupun sudah lumayan berumur tetap terasa dahsyat. Ia sangat pintar berinteraksi dengan audiens, termasuk sesekali melemparkan bir-kaleng-nya ke arah penonton. Siapa bilang musik keras menjadi dominasi orang yang berambut gondrong dan bermata tajam. Frontman Seringai ini membantah hal itu. Dengan kepala plontos dan kaca mata minus ditambah dengan slayer andalannya, Arian13 menjadi salah satu rocker tersangar di Indonesia. Malam itu Makassar berhasil dibakar oleh serigala ibukota yang mengaku menolak tua tersebut.

Belum reda panas yang barusan ditimbulkan oleh Seringai, headliner selanjutnya kembali dipanggil. Salah satu band yang paling ditunggu-tunggu malam itu pun keluar. Trio punk rock Jakarta, Netral. Malam itu, mereka satu-satunya band yang punya fans club resmi yang bernama Netralizer Makassar. bendera dukungan mereka terpasang di depan pagar pembatas. Cukup menganggu juga.

I Love You menjadi pembuka. Semua penonton langsung sing a long dengan keras. Keributan kecil sempat terjadi di belakang. Tapi show must on. Penonton kembali di-nina bobo-kan dengan kasar lewat lagu Susu Hangat Rasa Coklat. Lalu beat sedikit mereda kala lagu Sorry dibawakan. Kembali kencang lewat sepasang lagu keras, Pertempuran Hati dan Sountrack Laskar Pelangi, Lintang. Dan klimks sempurna dengan nomor andalan Garuda di Dadaku.

Penampilan Netral sangat prima malam itu. Saya yang penasaran dengan kecanggihan menggebuk drum Eno pun terpuaskan. Om Bagus keren. Tapi Coki dengan rambut dan bulu tak beraturan di wajah menjadi favorit saya malam itu.

And the last but not least, BURGERKILL. Legenda metal Indonesia dari Kota Kembang Bandung. Mereka datang ke Makassar membawa album baru bertajuk Venomous. Dan Rock In Celebes 2011 ini menjadi semacam perkenalan album baru tersebut.

Desahan intro mistis mengiringi masuknya mereka ke arena pertunjukan. Langsung saja nomor Darah Hitam Kebencian membuka kemarahan mereka. Setelah lagu itu, Vicky sang vokalis sempat berbicara kepada penonton yang telah hadir dan berterimakasih karena telah mengeluarkan kemarahan mereka. Band penyebar kemarahan rupanya mereka ini. Tapi kemarahan yang keren dong. hehehe..

Dilanjutkan dengan tiga lagu berturut-turut, Under The Scars, Shadows of Sorrow dan House of Greed. selepas itu mereka memanggil teman mereka yang terkenal sebagai vokalis band mainstream Indonesia, Padi. Ya, Fadly memang sempat sepakat berkolaborasi dengan Burgerkill lewat lagu Tiga Titik Hitam. Dan malam itu lagu tersebut disuguhkan untuk publik Makassar.

Lalu Breed-nya Nirvana mereka cover secara apik. Ini bonus yang sangat mantap bagi saya. di dua lagu terakhir, mereka mengajak frontman Seringai yang juga Vokalis Puppen, band underground yang sudah RIP, Arian13. Pertama duet maut ini membawakan lagu Only The Strong. Lalu penampilan mereka ditutup dengan lagu Puppen yang sangat dirindukan, Atur Aku. Komplit sudah. Rock In Celebes 2011 ditutup oleh penampil yang luar biasa dengan membawakan lagu yang luar biasa pula.


Diluar ngaret-nya, Rock In Celebes tahun ini sukses besar menurut saya. Saya bisa mengklaim bahwa Makassar adalah kota paling nge-rock malam itu. Tak peduli besoknya di Pekanbaru ada event musik terakbar Soundrenaline 2011.

Sekian kali ini. Salam \m/

*Sumber foto: Dari beberapa teman dan @ardy_chmbrs

Kamis, 23 Juni 2011

Rock In Celebes: Annual Meeting Rocker Makassar


Mungkin, sebelum tahun 2010 penikmat scene musik rock di Kota Makassar hanya bisa iri pada kota-kota di Pulau Jawa yang punya agenda festival rock tahunan. Tapi sejak akhir tahun 2010 mereka bisa berbesar hati. Kini penggemar rock Kota Daeng punya hajatan tahunan bernama Rock In Celebes.

Rock In Celebes menjadi semacam annual meeting bagi para rocker di Makassar. Festival ini hadir untuk mengimbangi dominasi festival rock tahunan yang ada di Pulau Jawa. Java Rockin Land di Jakarta, Bandung Berisik dan Metal Fest di Bandung, Surabaya Rock Festival dan Rock In Solo di Jawa Timur atau Soundrenaline yang sudah beberapa tahun ini tidak mampir di ibu kota Sulawesi Selatan ini.

Pada penyelengaraan perdananya di tahun 2010, festival ini memasang nama Marduk, band rock legendaris asal Swedia sebagai headliner. Juga Komunal, band metal Bandung serta band-band cadas lokal lainnya. Majalah Rolling Stone Indonesia langsung memberi label sebagai festival musik terbesar di Indonesia Timur pada acara ini waktu itu.

Dan Juni 2011 ini Rock In Celebes jilid 2 akan kembali membuat kebisingan. Tepatnya tanggal 24 Juni di Lapangan Monumen Mandala Makassar. Sengaja dilaksanakan lebih awal dari tahun sebelumnya agar bertepatan dengan waktu-waktu libur. Chambers Entertainment sebagai pelaksana sudah jauh hari mempersiapkan acara ini. EO ini memang terkenal sebagai penggagas beberapa acara musik Cutting Edge di Kota Makassar.

Empat band berskala nasional juga band-band lokal potensial sudah dipastikan akan menjadi penampil. Netral, Seringai, Burgerkill, Polyester Embassy juga Fadly Padi akan berperan dalam memanaskan event ini.

***

Bagi yang masih asing dengan nama-nama penampil di atas, saya akan memberikan sedikit info disini.

Netral
Sudah lumayan terkenal, karena dalam ranah musik mainstream band ini memang sudah punya tempat tersendiri. Terbentuk pada tahun 1992 di Jakarta, Netral sempat mengalami pasang-surut serta gonta-ganti personil sebelum memantapkan formasi trio seperti sekarang ini.

Frontman band ini adalah Bagus yang mengisi Vokal dan Bass. Eno berperan sebagai pengatur ritme dengan permainan drum-nya yang begitu atraktif dan selalu enerjik. Sedangkan Coki yang juga gitaris dari Deadsquad bertanggungjawab atas bebunyian berisik dan lengkingan distorsi gitar.

Sebagian besar lagu mereka berirama punk. Namun kebanyakan orang juga menuduh mereka memainkan rock alternatif. Apapun aliran mereka yang jelas mereka telah berhasil merebut hati banyak penikmat musik keras Indonesia. Sejauh ini Netral telah menelurkan tak kurang dari sepuluh album rekaman. Juga sempat terlibat dalam pembuatan album untuk sound track Film Laskar Pelangi dan Garuda di Dadaku.

Seringai
Konon, dahulu ada sebuah band underground paling berbahaya bernama Puppen. Namun band yang hidup di kota Bandung ini hanya berumur sedasawarsa saja. Tak lama berselang bubarnya Puppen di tahun 2002, pentolan band ini, Arian13 mengajak temannya yang lain untuk ngeband lagi. Terbentuklah Seringai di tahun itu juga dengan formasi awal Arian13 (vocal/throat), Khemod (Drum), Ricky Siahaan alias Chinsaw Rick (Gitar) serta Toan (Bass). Namun dalam perjalanannya Toan keluar dan posisinya digantikan oleh Sammy Bramantyo. Formasi inilah yang bertahan hingga sekarang.

Sejauh ini mereka telah membuat dua album, yaitu High Octane Rock (2004) dan Serigala Militia (2007). Album kedua lah yang membuat mereka lebih dikenal. Lagu-lagu macam Mengadili Persespsi dan Citra Natural banyak didengar oleh kalangan penikmat musik indie maupun mainstream. Di album ini Seringai berasa lebih dewasa dari album sebelumnya.

Seringai adalah band yang berani. Tak hanya dalam musik dan lirik lagunya, diluar itu mereka juga pernah membuat kontroversi. Mereka pernah diintrogasi oleh polisi akibat dianggap menghina korps tersebut lewat desain T-Shirt mereka. Juga, pada Java Rockin Land 2010 yang lalu, sang vokalis, Arian13 mencibir Menkominfo, Tifatul Sembiring.

Burgerkill
Karena ini era kebebasan, pemilik franchise Burgerking tak perlu marah karena nama produk mereka telah diplesetkan oleh segerombolan muda bernama Burgerkill. Ya itulah nama mereka. Sambutlah mereka sebagai anugerah bagi scene metal Indonesia.

Burgerkill adalah band metakcore yang berasal dari Kota Kembang, Bandung. Mereka terbentuk pada tahun 1995 dengan formasi awal Ivan, Eben dan Kimung. Kiprah mereka diawali dengan masuknya salah satu lagu mereka dalam album kompilasi bertitel "Masaindahbangetsekalipisan". Nama-nama seperti Puppen dan Full of Hate menjadi teman seangkatan Bugerkill dalam album kompilasi itu.

Seiring berjalannya waktu, Burgerkill mengalami bongkar-pasang personil. Beberapa nama pernah menjadi line up band ini.  Selain Kimung dan Ivan sang vokalis awal yang meninggal pada tahun 2006, tercatat Dadan dan Ugum juga pernah membela band ini. Hingga kini tinggal Eben yang bertahan, ditambah dengan Vicky, Agung, Andris dan Ramdan sebagai personil tetap Burgerkill sekarang.

Go internasional sudah dirasakan band ini. Perusahaan Rekaman asal Malaysia, Anak Liar Record pernah mengontrak mereka pada tahun 1999. Selain itu Xenophobic Record asal Australia juga pernah memakai jasa mereka. Sepanggung dengan beberapa nama besar scene metal dunia pun pernah dirasakan. Tercatat Black Dahlia Murder, As I Lay Dying dan Himsa pernah berbagi panggung dengan mereka.

Dan kabar gembiranya, Juni 2011 ini mereka akan me-launching rilisan terbaru mereka yang diberi nama Venomous.

Polyester Embassy
Mendengar nama Polyester Embassy, memori saya akan flash back pada masa putih abu-abu. Saya pertama kali mendengar mereka sekitar kelas 2 SMA. Seorang teman yang memperkenalkannya. Lagu macam Polypanic Room begitu asyik terdengar di telinga saat itu.

Polyester Embassy dibentuk oleh lima sekawan pada tahun 2002. Mereka adalah Elang Eby (gitaris/vokalis), Sidik Kurnia (gitaris/synthesizer), Ekky Darmawan (gitaris/sampling), Ridwan Aritomo (bass), dan Givarie MP (drummer). Musik mereka adalah perpaduan yang pas antara musik elektronik dengan rock dengan balutan sound eksperimental. Suara tiga gitar sekaligus namun saling berbeda aransemen membuat nuansa emosional sangat maksimal.

Album pertama mereka yang berjudul Tragicomedy lahir pada tahun 2006. Dan di tahun 2011 ini mereka kembali merilis album yang diberi nama Fake/Faker.

***

Itulah sedikit penjelasan tentang Headliner Rock In Celebes 2011. Yang tertarik, mari pergi menonton bersama. Yang tak bisa nonton doakan saya bisa nonton. Biar bisa bagi-bagi cerita tentang Event ini di postingan selanjutnya.

Sampai Jumpa.