Tampilkan postingan dengan label Festival. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Festival. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 November 2017

Menyimak Kisah di Balik Ukiran


Pada sebuah siang yang cerah di rimba Asmat tersaji tiga fragmen cerita. Pada sisi kiri terlihat dua orang yang sedang membuat ci, perahu tradisional Suku Asmat. Ci tersebut berbahan satu buah pohon utuh berjenis ketapang yang baru saja mereka tebang dengan kapak batu. Pada bagian lain, terlihat seorang pria yang sedang mendayung ci mengarungi kali untuk menuju dusun. Dusun atau lokasi hutan keluarga adalah tempat mencari makan bagi masyarakat Asmat. Di sana mereka biasa memangkur sagu, berburu sampai menjerat binatang liar. Sedangkan pada bagian ujung kanan, sepasang suami istri sedang membawa pulang hasil buruan berupa babi hutan untuk dimasukkan ke dalam bivak. Masyarakat Asmat terbiasa membangun bivak atau rumah sementara di dalam hutan pada saat pergi mengumpulkan bahan makanan dalam waktu yang lama. Rumah sangat sederhana itu bisa mereka tempati selama berhari-hari bahkan sampai berbulan.

Ketiga fragmen cerita di atas terukir apik di atas sebuah papan kayu. Pengukirnya adalah Antonius Pompin dari Kampung Amanamkai, Distrik Atsj, Kabupaten Asmat, Papua. Ukiran berbahan kayu besi tersebut dipajang di Lapangan Yos Sudarso Kota Agats saat dihelatnya Pesta Budaya Asmat ke-32 tahun ini. Dengan cekatan pria yang berasal dari rumpun Betcbamu ini menceritakan kisah di balik ukirannya kepada setiap pengunjung yang datang menghampiri.

“tiga cerita di ukiran ini menggambarkan kegiatan utama orang Asmat di dalam dusun. Saya bikin dia berurutan. Mulai dari membuat perahu, lalu dipakai pergi mencari makan di dusun, sampai bawa pulang hasil ke dalam bivak. Orang Asmat begitu sudah. Kami masih lakukan itu sampai sekarang,” kata Antonius.

Antonius dan ratusan woyipits (sebutan untuk pengukir Asmat) lainnya sedang berkumpul di Kota Agats untuk memeriahkan Pesta Budaya Asmat yang tahun ini diselenggarakan pada 19 hingga 24 Oktober. Tidak hanya menampilkan keindahan estetis, ukiran-ukiran yang ditampilkan para pengukir di festival tahunan ini juga memiliki misi lain. Ada pesan-pesan tertentu atau tata hidup tradisional orang Asmat yang ingin terus diperkenalkan kepada masyarakat luas juga para generasi penerus.

Pada sudut lain arena Pesta Budaya Asmat, saya menemui Yeremias Onampits yang berasal dari Kampung Yepem, Distrik Agats. Tahun ini karya Yeremias berhasil masuk dalam daftar 200 ukiran yang akan dilelang. Status tersebut didapatkan setelah melalui proses kurasi oleh tim kurator Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat di tingkat kampung dan distrik.

Ukiran Asmat milik Yeremias bergaya naturalis. Menggambarkan suasana di dalam sebuah rumah tradisional Asmat. Dengan beralas tapin (tikar yang terbuat dari daun pandan), bapak, mama, dan seorang anak sedang menyiapkan makan malam berupa ulat sagu yang dibakar di atas tungku api. Terlihat pula anjing peliharaan mereka yang sabar menunggu diberi makan.

Yeremian Onampits bersama ukiran ceritanya

“Di kampung saya sudah banyak yang lupa cara membangun rumah asli seperti di ukiran ini. Padahal itu tradisi yang diwariskan leluhur. Mereka tahunya menunggu dibangunkan rumah oleh pemerintah. Rumah bantuan itu sebenarnya tidak cocok dengan kami. Kalau siang rasanya panas sekali. Saya tidak betah tinggal di rumah seperti itu,” jelas lelaki paruh baya itu.

Pergeseran bentuk hunian masyarakat adat yang dijelaskan Yeremias memang sedang terjadi di berbagai kampung di Asmat. Fenomena tersebut terutama berlaku pada kampung-kampung yang dekat dengan pusat kabupaten. Pembangunan yang digalakkan oleh pemerintah, khususnya program bantuan pembangunan rumah, kurang memperhatikan kebutuhan dan nilai-nilai yang berkembang pada masyarakat. Bagi mereka yang dapat menyesuaikan diri tidak terlalu bermasalah. Namun bagi yang lain, hal ini membuat mereka tidak betah. Dan yang lebih parah lagi, kemadirian mereka dalam membangun rumah tradisional yang semua bahannya didapat dari hutan menjadi tergerus.

Cerita lain yang terselip dari ukiran Yeremias adalah tentang berubahnya pola konsumsi masyarakat Asmat. Sagu sebagai makanan pokok turun-temurun kini mulai terganti oleh beras yang banyak dibawa oleh pendatang. Ketergantungan dan hilangnya kemandirian sekali lagi terjadi pada cerita ini. Yeremias yang tidak ingin melihat kampungnya terlalu jauh melupakan kebiasaan leluhur kemudian menyampaikan pesan lewat ukiran. “lihat itu (menunjuk ukiran) apa yang mereka makan? Sagu, ulat sagu. Itu sudah makanan kami orang Asmat. Sagu ini harta. Sagu memberi kami kehidupan sejak masih kecil,” lanjutnya.

Misi ganda sebagai benda seni yang bernilai estetis tinggi maupun media penyampai pesan kearifan leluhur membuat ukiran Asmat mendunia. Banyak kolektor seni maupun museum di Amerika dan Eropa menjadikan patung Asmat sebagai koleksi. Seorang pengumpul ukiran di Agats yang akrab disapa Om Bahar mengungkapkan keunggulan ukiran Asmat jika dibandingkan dengan ukiran dari daerah lain, misalnya Bali atau Jepara. Menurutnya ukiran Asmat banyak diburu oleh orang luar negeri karena adanya cerita di balik setiap ukiran. “ukiran Bali sama Jepara itu memang lebih halus, tapi ukiran Asmat punya unsur sakral. Ada cerita-cerita tentang leluhur pada setiap patung yang mereka (para pengukir Asmat) bikin.”

Hal ini dijelaskan pula oleh pemrakarsa Pesta Budaya Asmat, Mgr. Alphonse Sowada lewat buku “Asmat: Mencerap Kehidupan dalam Seni.” Menurut Uskup pertama Keuskupan Agats itu, ukiran Asmat tidak hanya indah dipandang mata, tapi juga memberikan gambaran tentang kejadian masa lalu. “Melalui media kayu, seniman Asmat membuat dunia roh dan kekuatan-kekuatan magisnya yang bekerja serasi menjadi kasat indra.”

Namun di balik semua cerita akan keindahan ukiran Asmat tersebut, pelestarian benda budaya ini sempat mendapat tantangan pada tahun 1960-an hingga 1970-an. Saat itu pemerintah setempat melarang segala kegiatan budaya Asmat termasuk mengukir. Rumah adat jew yang menjadi pusat kegiatan masyarakat adat dibakar habis. Proses pemusnahan dijalankan saat itu karena pemerintah menganggap aktivitas kebudayaan Orang Asmat berkaitan dengan pengayauan dan kebiasaan perang antar kampung.

Situasi ini efektif untuk membuat para woyipits menghentikan aktivitas mengukirnya. Kampung-kampung jadi sepi dari kegiatan adat dan budaya. Pihak Keuskupan Agats lewat Uskup Mgr. Alphonse Sowada kemudian menginisiasi kegiatan lomba mengukir bagi masyarakat Asmat. Upaya tersebut berhasil meyakinkan pemerintah untuk mencabut larangannya. Menurut sebuah keterangan yang tertulis di Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat, “Mgr. Alphonse Sowada, Uskup pertama Keuskupan Agats, meyakinkan pemerintah bahwa perang antar kampung dan perburuan kepala (pengayauan) bisa dihentikan tanpa harus melarang kegiatan budaya.”

Inisiasi lomba mengukir tersebut kemudian menjadi cikal bakal dari Pesta Budaya Asmat yang diselenggaran setiap tahun sampai saat ini. Kegiatan ini merupakan upaya bersama Keuskupan Agats dan Pemerintah Kabupaten Asmat, bersama seluruh masyarakat Asmat untuk melestarikan budaya.

Tahun ini Pesta Budaya Asmat mengusung tema “Jangan Padamkan Api Wayir Demi Jati Diri Asmat.” Wayir adalah tungku api utama di dalam rumah adat jew yang menjadi pusat kegiatan sosial dan religi masyarakat adat Asmat. Wayir yang terus menyala adalah lambang semangat orang Asmat untuk terus melestarikan tradisinya.

Pesta Budaya Asmat 2017
Tahun ini Pesta Budaya Asmat terasa lebih meriah dengan dihadirkannya atraksi budaya yang belum pernah ditampilkan sebelumnya. Selain pameran ukiran dari seluruh distrik dan demo mengukir, dihadirkan pula beberapa peragaan pesta atau ritual adat Asmat. Pada hari pembukaan (20/10) dilaksanakan eksebisi tungku api wayir sebagai pertanda dimulainya festival. Tungku api tersebut dibiarkan terus menyala sampai hari terakhir Pesta Budaya Asmat.

Pada hari berikutnya eksebisi ritual perahu ci dan manuver perahu (ci mbi) di Kali Aswet menjadi sajian yang paling menyedot perhatian pengunjung. Atraksi budaya ini diawali dengan ritual berupa nyanyian adat dan pukulan tifa sebagai simbolisasi penyemangat prajurit sebelum menuju arena perang. Perahu-perahu kemudian diarak menuju kali. Di atas masing-masing perahu terlihat seorang kepala perang yang meniupkan fu (alat musik tiup tradisional yang terbuat dari bambu) untuk memberikan aba-aba kepada prajuritnya. Sampai di kali, sekitar 20 perahu bermanuver di Kali Aswet untuk menjadi yang tercepat. Sungguh atraksi yang meriah namun tetap terasa sakral.

Ukiran Asmat yang masyhur di penjuru dunia memang tidak bisa dilepaskan dari Pesta Budaya Asmat. Bisa dikatakan ajang tahunan inilah yang paling berperan memperkenalkan karya masyarakat adat yang mendiami pesisir selatan Papua tersebut. Sebaliknya, pameran ukiran merupakan bagian paling banyak menarik perhatian pengunjung festival. “ukiran-ukiran yang dipamerkan merupakan bagian terpenting dalam Pesta Budaya Asmat ini,” kata John Ohoiwirin, salah satu panitia inti Pesta Budaya Asmat.


*Sebelumnya terbit di Locita

Rabu, 19 Oktober 2016

Perayaan Pesona Budaya Asmat

Peserta Pawai Pesta Budaya Asmat 2016
Tidak mudah bagi Mama Mariana Kaisma dan rekan-rekannya untuk datang ke Agats. Dari tempat tinggalnya di Kampung Yefhu, Distrik Awyu, paling tidak Ia harus menghabiskan dua hari perjalanan dengan kapal viber untuk mencapai ibukota Kabupaten Asmat, Provinsi Papua Tersebut. Berangkat pagi dari Kampung Yefhu, sekitar pukul tiga sore mereka harus singgah bermalam di Kampung Atsj, sebelum melanjutkan perjalanan ke Agats keesokan paginya. Terlalu beresiko bagi kapal viber untuk menembus malam di laut dan kali-kali Asmat.

Resiko perjalanan dua hari ditambah ongkos kapal yang cukup mahal tidak menghalangi Mama Mariana untuk hadir di Pesta Budaya Asmat tahun 2016. Ia dan banyak masyarakat Kabupaten Asmat yang berasal dari berbagai kampung rela bersusah payah demi turut merasakan kemeriahan pesta tahunan ini. “Kami tetap harus datang ke sini (Pesta Budaya Asmat). Ini pesta kami juga. Kami juga masih bagian dari Kabupaten Asmat,” cerita Mama Mariana saat saya temui di lapak pasar seninya.

Setelah tertunda pada tahun 2015, Pesta Budaya Asmat edisi ke-31 sukses digelar pada tahun 2016 ini.  Berpusat di Lapangan Yos Sudarso Kota Agats, pesta ini dihelat selama seminggu penuh, mulai Kamis, 6 Oktober hingga Rabu, 12 Oktober. Keuskupan Agats dan Pemerintah Daerah Kabupaten Asmat selaku penyelanggara, merancang kegiatan ini dengan berbagai penampilan, mulai dari atraksi budaya, ritual adat dan keagamaan, perlombaan, hingga pasar seni bagi para pengunjung. Bagian yang paling mendapat perhatian adalah pameran ukiran dan anyaman dari para finalis yang telah lolos seleksi ketat oleh para kurator Museum Asmat.

Hari pertama Pesta Budaya Asmat 2016 digunakan oleh panitia untuk meregistrasi karya-karya para finalis. Tahun ini ada sebanyak 207 ukiran dan 60 produk anyaman yang lolos proses kurasi dan akan dipamerkan kemudian dilelang pada tiga hari terakhir pesta. Setelah proses registasi, karya kemudian dipajang di panggung utama. Para pengunjung yang berasal dari berbagai daerah hingga manca negara mulai dapat mengakses karya-karya terbaik tersebut. Untuk memudahkan para pengunjung, panitia menyediakan buku panduan yang memuat semua informasi tentang Pesta Budaya Asmat 2016, termasuk cerita di balik karya yang dipamerkan.

Panggung utama
Acara pembukaan baru dilakukan pada Jumat, 7 Oktober 2016. Dalam sambutannya, Bupati Kabupaten Asmat, Eliza Kambu, mengajak semua masyarakat untuk melestarikan dan menghargai warisan budaya Asmat.  menurutnya, salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah adalah mengembangkan pemasaran agar kerja-kerja kesenian ini tetap diminati. “Para pengukir dan mama-mama pembuat noken (anyaman) harus sejahtera, supaya mereka tetap semangat melestarikan budaya ini. Pemasaran produk seni Asmat perlu untuk kita kembangkan. Itu makanya tahun ini saya mengundang beberapa pengusaha, termasuk anggota DPR RI dan Provinsi agar mereka mendengar langsung aspirasi kita. Bandara baru harus sudah selesai dalam waktu dekat. Biar orang-orang (pembeli) gampang datang ke Asmat sini,” Jelas Bupati Asmat.

Pesta Budaya Asmat 2016 kemudian dibuka secara resmi oleh Uskup Keuskupan Agats, Aloysius Murwito. Kemeriahan pun dimulai. Pawai keliling Kota Agats oleh para peserta dan pengunjung menjadi sajian pembuka keramaian. Setelah iringan pawai kembali berkumpul di Lapangan Yos Sudarso, acara dilanjutkan dengan pesta goyang. Disinilah puncak kemeriahan Pesta Budaya Asmat. Semua yang berkumpul di lapangan larut dalam keriaan. Mama-mama dengan kostum dan aksesoris adat terus bergoyang indah seperti tanpa lelah. Pukulan tifa dari para lelaki Asmat menjadi penguasa irama. Mereka mengatur tempo dan jeda agar pesta goyang terus berlangsung dalam suasana gembira namun tetap sakral.

Pria Asmat dengan Hiasan kepala kulit kus kus dan ukiran tombaknya
Asmat cepes dengan kalung manik-manik biji buah hutan dan taring anjing
Fatcin (hiasan kepala) kulit kus kus dan bulu kasuari
Wowpits, ke pesta budaya gaya harus maksimal
Manuver perahu tradisional Asmat atau ci-mbi menjadi sajian paling menarik perhatian pada hari berikutnya. Sejak pagi para pengunjung telah memadati Pelabuhan Feri Kota Agats. Kali Aswet yang berada di depannya menjadi arena ci-mbi. Ada total tujuh belas perahu yang masing-masing dikendarai oleh lima orang pendayung. Mereka menunjukkan skil mendayung perahu melawan arus kali dan beradu cepat untuk sampai ke garis finish. Kostum adat dan seruan kepada leluhur yang didendangkan sepanjang perlombaan menambah eksotisme atraksi budaya ini.


Adu cepat Ci-mbi
Pertunjukan yang tidak kalah menarik pada hari ketiga adalah demonstrasi mengukir dari para wowpits (sebutan lokal bagi pengukir Asmat). Para peserta berkumpul di tengah lapangan, di bawah terik matahari siang, untuk mempertontonkan keahlian mengukir mereka. Yang istimewa adalah waktu yang diberikan untuk menyelesaikan sebuah ukiran sangatlah singkat. Di tangan para pengukir terbaik ini, kayu yang awalnya masih berbentuk batangan sudah mewujud patung manusia hanya dalam tempo tiga jam.

Lomba mengukir cepat
Demonstrasi mengukir
Bagi penyuka seni tari, setiap malam dipentaskan atraksi tarian Asmat yang dibawakan oleh grup budaya dari berbagai kampung. Tarian Asmat memadukan gerakan yang merupakan simbolisasi kisah-kisah leluhur dengan iringan tifa dan nyanyian adat. Hikayat perang antar suku ditampilkan oleh penari dari Kampung Waras, Distrik Fayit. Gerakan dan tempo yang meraka mainkan sangat dinamis. Cepat dan menegangkan di awal, kemudian berubah lambat dengan aura sedih menjelang akhir. Sebaliknya, pesan perdamaian disampaikan oleh para penari dari Kampung Yasiw, Distrik Atsj. Sepanjang gerakan tarian para pemukul tifa juga melantunkan kidung sendu. Terasa sakral namun tetap indah untuk dinikmati.

Hari kelima, Senin 10 Oktober, adalah hari yang paling ditunggu oleh para pengukir yang telah lolos seleksi. Ini waktunya pengumuman siapa yang berhak menyandang gelar sebagai wowpits terbaik pada enam kategori. Gelar ini selalu menjadi incaran. Selain memperebutkan hadiah sebesar dua puluh juta rupiah di masing-masing kategori, rasa bangga juga akan mengiringi karena karya terbaik akan terpajang abadi di Museum Asmat. setelah melalui penilaian selama tiga hari oleh tiga orang pakar, tiba saatnya panitia menyampaikan pengumuman.

Pada kategori patung kecil, Yakobus Kakewernam dari Kampung Youw, Distrik Betcbamu, berhasil mempertahankan statusnya sebagai yang terbaik pada Pesta Budaya Asmat edisi sebelumnya. Ia dengan sangat detail menampilkan ritual pesta ulang sagu lengkap dengan visualisasi para tetua adat dan jew, rumah adat Suku Asmat. Kategori patung sedang dimenangi oleh Sabinus Tambo dari Kampung Uwus, Distrik Agats dengan ukiran tetua adat yang yang memegang tifa. Sedangkan pemenang untuk kategori patung besar diraih oleh Benediktus Fokoyew dari Kampung Biwar Laut, Distrik Betcbamu. Ia menciptakan ukiran setinggi dua meter dengan desain tiga figur leluhur lengkap dengan hiasannya masing-masing.

Para pemenang dari tiga kategori spesial lainnya adalah Teodorus Kom dari Kampung Yow, Distrik Betcbamu untuk kategori patung cerita, Markus Mbes dari Kampung Er, Distrik Sawaerma, untuk kategori panel, dan Aloysius Ari Bainepe dari Kampung Kairin, Distrik Safan, untuk kategori ukiran tradisional. Jika tiga kategori awal adalah kategori yang mengandalkan inovasi dalam mengukir, maka tiga kategori berikutnya adalah penghargaan bagi para pengukir yang tetap setia dengan kekhasan dan cerita warisan leluhur. Keenam ukiran tersebut semakin istimewa karena merupakan enam koleksi pertama Museum Asmat yang baru. Pesta Budaya Asmat tahun ini juga menjadi penanda berpindahnya Museum Asmat ke gedung baru yang lebih besar dan modern.


Para pemenang
Para pengukir yang gagal menang juga mama-mama pembuat anyaman tidak lantas berkecil hati karena tidak memperoleh hadiah dari panitia. Selepas pengumuman pemenang, karya yang tidak masuk museum kemudian dilelang di hadapan para pengunjung. Dipandu langsung oleh Ketua Panitia, Erick Sarkol, sesi lelang ini berlangsung alot dan seru selama tiga hari. Ini waktunya ukiran-ukiran dan anyaman terbaik bertemu dengan para pembelinya yang kebanyakan adalah pengusaha dan pejabat. Harga terendah dalam sesi lelang ini adalah sebesar lima juta rupiah. Sedangkan untuk harga tertinggi tahun ini diberikan kepada ukiran karya Edoardus Jokpit dari Kampung Yepem, Distrik Agats. Patung yang bercerita tentang lima leluhur yang pergi berperang dengan mengendarai perahu tradisional tersebut laku terjual sebesar tiga puluh satu juta rupiah. Harga yang seragam dengan angka edisi Pesta Budaya Asmat tahun ini.

Penutupan Pesta Budaya Asmat tahun 2016 dirayakan dalam suasana meriah dengan pesta goyang bersama. Guyuran hujan yang turun tepat setelah pukulan tifa dari Bupati Asmat dan Uskup Agats, tidak dianggap sebagai penghalang, melainkan berkah atas kesuksesan penyelenggaran pesta tahunan masyarakat Asmat ini. Upaya bersama untuk terus mempertahankan eksistensi warisan leluhur ini juga menjadi ajang berkumpulnya masyarakat dari seluruh penjuru Kabupaten Asmat untuk merayakan pesona kekayaan budaya mereka.

*Semua foto oleh Regista

Sabtu, 11 Juni 2016

Kebudayaan untuk Kehidupan: Pesan Pelestarian Lingkungan di Festival Beworpit-Tewerawut


Terik matahari di Kota Agats, Kabupaten Asmat, tidak mengendurkan semangat sekelompok pelajar dari Sekolah Satu Atap Distrik Sawaerma. Siang itu mereka akan tampil dalam perlombaan sosio drama di Festival Beworpit-Tewerawut 2016. Saat giliran tampil, mereka memasuki arena pertunjukan dengan tenang. Tidak ada kesan kepanasan di kaki saat berjalan di atas lapangan yang terbuat dari papan tersebut. Setelah memberikan salam hormat kepada dewan juri dan penonton, para pemeran mulai mengambil posisinya masing-masing. Penampilan mereka dibuka dengan pembacaan prolog oleh seorang siswi:
“Asmat sekarang telah berubah. Sagu sebagai makanan pokok sejak leluhur kini sudah semakin sulit dicari. Pesta-pesta adat yang mengagungkan pohon sagu perlahan mulai ditinggalkan. Bahkan tidak ada niat untuk menanam kembali bibit sagu baru sebagai regenerasi pohon sagu. Lalu jika itu hilang dan musnah dari bumi Asmat, kepada apa kita akan menggantungkan hidup? Sudah lupakah kita terhadap pengorbanan Beworpit dalam menemukan sagu? Bahkan dia sendiri mengorbankan dirinya untuk menjadi pohon sagu yang tumbuh di tanah Asmat tercinta ini. Jika sudah lupa, marilah kita menyaksikan kembali kisahnya dalam sosio drama berikut yang berjudul ‘Asal-Usul Pohon Sagu.’”
Cerita pun bergulir. Dimulai dengan babak saat Beworpit bermimpi menemukan sebuah pohon yang memberikannya makanan. Ia lantas penasaran dan pergi mencari dimana keberadaan pohon yang dijumpainya dalam mimpi tersebut. Berhari-hari Ia berkelana namun belum berhasil menemukan keberadaan pohon impiannya itu. Sampai pada suatu hari, dalam kelelahan berjalan, kaki Beworpit tertusuk duri dari sebuah dahan yang terjatuh. Ia pun terkejut namun langsung takjub ketika melihat pohon dari dahan yang sudah berada di tanah tersebut. Pohon itu persis seperti yang muncul di mimpinya beberapa waktu lalu. Beworpit yang kegirangan berlari pulang ke kampungnya untuk menyampaikan kabar gembira tersebut kepada seluruh anggota keluarganya.

Sejak saat itu pohon berduri tersebut menjadi makanan kesukaan Beworpit dan keluarganya. Mereka tidak pernah lagi kekurangan bahan makanan. Saat merasa lapar, secara berkelompok mereka akan menuju pohon tersebut di dalam hutan. Mereka mengibaratkan pohon itu seperti orang tua yang terus menyediakan makanan bagi mereka anak-anaknya secara cuma-cuma.

Namun kemudian muncul kekhawatiran dari dalam diri Beworpit tentang masa depan ketersediaan pohon duri yang terus mereka tebang. Ia takut suatu saat pohon tersebut akan habis dan berdampak pada berkurangnya bahan makanan bagi keturunannya di masa yang akan datang. Dalam murung Beworpit terus berpikir mencari jalan keluar. Pada suatu malam Ia pun kabur dari kampungnya untuk menuju tengah hutan. Ia terus berjalan menuju lokasi pertama kali menemukan pohon duri yang pertama dilihatnya di dalam mimpi.

Sementara itu para anggota keluarga yang lainnya baru menyadari ketiadaan Beworpit beberapa hari kemudian. Semuanya gelisah karena sang pemimpin telah menghilang entah kemana. Mereka pun memutuskan untuk mencari Beworpit ke segala arah. Sesampainya di tengah hutan mereka menemukan sebuah pohon berduri. Mereka terkejut karena ternyata pohon tersebut dapat berbicara. Alangkah kagetnya mereka karena pohon berduri tersebut adalah Beworpit yang telah mengubah dirinya. Tangisan pun pecah di rimba tersebut. mereka sedih bukan hanya karena kehilangan seorang pemimpin, tapi juga karena kebesaran hati Beworpit dalam mengorbankan dirinya demi kelangsungan hidup anggota keluarga dan keturunannya.

Pohon berduri yang ada dalam cerita tersebut kemudian dikenal sebagai pohon sagu yang menjadi makanan pokok khas bagi orang Asmat juga masyarakat di seluruh tanah Papua. Sekolah Satu Atap Distrik Sawaerma mengangkat kembali cerita kepahlawanan Beworpit karena didorong oleh rasa khawatir atas pergeseran budaya yang terjadi saat ini. Mereka ingin berpesan untuk menghargai jasa Beworpit dengan terus melestarikan tanaman sagu agar dapat terus menjadi makanan pokok masyarakat di Kabupaten Asmat.

“Jangan sampai hanya karena diberi mie instan dan kopi kita menjadi kelaparan karena lahan sagu kita sudah diambil orang,” pesan penutup dalam epilog sosio drama tersebut. Sebuah singgungan bagi anggota masyarakat yang rela menjual tanah adat mereka kepada pengusaha demi mendapatkan sejumlah uang. Fenomena ini sedang marak terjadi di beberapa kampung di Kabupaten Asmat.

Heroisme Beworpit adalah sebuah cerita tragis namun memiliki pesan yang sangat mendalam dalam menjaga lingkungan. Cerita leluhur Orang Asmat tersebut menjadi salah satu penampilan yang paling menarik perhatian pada Festival Beworpit-Tewerawut 2016. Festival seni ini sendiri merupakan agenda tahunan yang pada perhelatan kali ini telah memasuki edisi kedelapan. Diselenggerakan  sejak tanggal 6 hingga 10 Juni 2016 di Lapangan Yos Sudarso, Kota Agats. Pesertanya kebanyakan adalah pelajar dan pemuda yang terbagi dalam grup-grup yang berasal dari berbagai kampung. Dalam sambutannya, Bupati Kabupaten Asmat menjelaskan tujuan kegiatan ini adalah untuk lebih memperkenalkan budaya Asmat kepada kaum muda. “Agar kebudayaan Asmat yang sudah dikenal dunia tetap lestari dan akrab bagi generasi muda Asmat.”

Panitia festival tahun ini dengan sangat tepat memilih “Kebudayaan untuk Kehidupan” sebagai tema kegiatan. Tidak kebetulan tanggal pelaksanaan festival berdekatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup yang jatuh pada tanggal 5 Juni yang lalu. Dengan dipilihnya tema tersebut bukan hanya misi melestarikan budaya saja yang ditampilkan, namun juga pesan-pesan menjaga lingkungan sebagai sumber kehidupan banyak disampaikan pada festival tahun ini. Hal ini terbukti dari penampilan para peserta yang selalu ada unsur alam atau menyelipkan pesan pelestarian lingkungan pada berbagai macam lomba, mulai dari mengukir, menggambar, parade Burung Cendrawasih, tari kreasi, sosio drama, dan menyanyi.

Selain kisah Beworpit dari Sekolah Satu Atap Distrik Sawaerma, penampilan apik juga ditunjukkan Grup Asmat Aites dari Kampung Syuru pada cabang lomba tari kreasi. Kelompok seni yang dipimpin oleh Bernat Becimpari tersebut menampilkan sebuah sendra tari yang menyajikan cerita persentuhan masyarakat Asmat dengan lingkungannya. Dengan koreografi yang sangat dinamis Grup Asmat Aites menyajikan cerita yang mewakili berbagai macam kegiatan keseharian, mulai dari mendayung ci (perahu tradisional Suku Asmat), menjaring ikan, memangkur sagu, hingga berburu di hutan. Bahkan adegan berperang dengan musuh pun ditampilkan. Kesemuanya itu membuat kreasi tari yang mereka tampilkan menjadi sangat hidup.

Nilai tambah yang membuat Grup Asmat Aites meraih juara pertama pada cabang perlombaan ini adalah mereka membungkus koreografi mereka yang sudah apik dengan iringan musik tradisi Asmat. Tujuh orang pemusik dan penyanyi menyajikan alunan irama yang mengisi gerak kesepuluh orang penari. Mereka mengatur tempo, menciptakan nuansa gembira ataupun murung, dan menjadi penanda perpindahan gerakan. Belum lagi busana dan make up yang mereka gunakan sangat berwarna namun tetap pas. Kesemuanya klop dalam penampilan yang sangat berkesan, baik estetik tari maupun pesan yang disampaikan.

Sesaat setelah keluar dari arena perlombaan, saya menghampiri Bernat Becimpari untuk memberikan selamat dan mengobrol soal proses kreatif mereka. Sebelumnya saya memang sudah berkenalan dengannya dalam sebuah kegiatan penyadartahuan perlindungan sempadan sungai di kampungnya. Bernat adalah salah satu tokoh pemuda di Kampung Syuru yang aktif menggerakkan kegiatan kepemudaan lewat kegiatan seni di sanggar miliknya. Ia juga merupakan guru muatan lokal di salah satu Sekolah Dasar di Kota Agats. Oleh berbagai pihak, Ia sering diajak ke berbagai kota bahkan manca negara untuk memperkenalkan kekayaan budaya Asmat. “Bulan Juli nanti saya akan ke Amerika selama satu bulan untuk mempromosikan kebudayaan Asmat,” kata Bernat dengan semangat.

Untuk penampilan yang memukau di Festival Beworpit-Tewerawut tahun ini Bernat melatih anak asuhnya hanya dalam waktu dua minggu. Ia membagi pemainnya dalam beberapa cabang perlombaan dan mengawasinya masing-masing. Mata lomba yang paling Ia perhatikan adalah tari kreasi dan parade Burung Cendrawasih. “dua lomba itu yang paling bergengsi. Biasanyan kalau menang pada dua lomba itu kita akan diutus untuk mewakili Asmat di festival tingkat Provinsi.”

Wajah tegang peserta parade Burung Cendrawasih saat menunggu giliran tampil.

Unsur lingkungan kental dalam kostum para peserta festival.
Dan memang terbukti, Asmat Aites juga menjadi pemenang pertama dalam mata lomba parade Burung Cendrawasih. Sebenarnya dalam lomba ini koreografi dan pesan yang ingin disampaikan semua peserta hampir sama. Bagaimana Burung Cendrawasih yang sudah menjadi simbol tanah Papua terancam keberadaannya akibat perburuan liar. The bird of paradise ini ditampilkan sedang menari-nari dalam  kostum yang penuh warna. Datang kemudian seorang pemburu yang memanah kawanan burung tersebut. salah satu burung pun mati dan nuansa musik berubah menjadi murung.

Diantara keseragaman pempilan para peserta, Grup Asmat Aites kembali menunjukkan nilai lebihnya. Penampilan mereka persis seperti nama yang dipakai, Aites, yang berarti kaum muda yang tangguh dan berbakat. Tidak hanya gerakan dalam parade yang dibuat menarik tapi juga kostum dan musik yang mereka tampilkan sangat menyatu padu dengan keseluruhan unsur dalam parade. Saat musik mengalun cepat, semua penari bergerak lincah. Begitupun sebaliknya. Saat musik berubah pelan penari pun bergerak anggun, sambil memanfaatkan momen tersebut untuk meghimpun panas.

Walau bukan festival terakbar, Bernat dan beberapa pelatih dari berbagai grup cukup serius dalam menghadapi event ini. Bukan hanya soal hadiah dan gengsi, lebih dari itu mereka ingin agar ragam kesenian Suku Asmat menjadi semakin akrab di kalangan anak muda. “Hal ini (kesenian Asmat) penting untuk diperkenalkan kepada anak-anak muda. Jangan sampai budaya kita jadi mati karena cuma tua-tua saja yang menguasai. Anak-anak Asmat harus meneruskan warisan leluhur ini,” kata Bernat dalam obrolan kami. “Bukan cuma peserta yang saya ajak saja yang masih muda-muda, penonton yang datang kesini juga banyak anak-anak Asmat. Semoga mereka terhiubur dan tertarik untuk melestarikan kesenian ini.”


Pada festival ini pula saya kembali menyaksikan korelasi antara pelestarian budaya dan pentingnya menjaga alam raya. Sudah jelas bagi orang Asmat, cara terbaik untuk tetap menghidupkan adat dan budaya mereka adalah dengan cara menjaga bumi dari tangan-tangan serakah. Kesadaran tersebut yang kini diupayakan agar juga tertanam pada diri kaum muda Asmat.

Minggu, 29 Maret 2015

Festival Anti Korupsi Makassar

Simponi di Festival Anti Korupsi MARS, berkampanye soal anti korupsi dan penghentian kekerasan terhadap perempuan lewat musik mereka

Ford Rotterdam tumpah ruah oleh manusia tadi malam. Festival Anti Korupsi penyebabnya. Festival ini diselenggarakan oleh Masyarakat Anti Korupsi Sulawesi Selatan (MARS). Hadir tokoh-tokoh yang selama ini getol menyuarakan pemberantasan korupsi seperti Qassim Mattar, Alwy Rachman, Dadang Trisasongko juga Ketua KPK non aktif, Abraham Samad. Mereka semua memberikan orasi, menyebarkan semangat anti korupsi kepada peserta festival yang didominasi oleh anak muda. Kampanye Anti Korupsi juga dilakukan oleh para pekerja seni. Teater, pembacaan puisi, pembacaan dongeng untuk anak-anak, juga pertunjukan musik. Penampil yang paling mengundang riuh tentu saja Simponi dan Robi, vokalis band Navicula, yang tampil dalam set akustik.

PANJANG UMUR PERLAWAN!