Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 September 2014

Ibu Ani, Suaminya dan Sepuluh Tahun Wafatnya Munir

Hari ini Ibu Ani tampak sibuk sekali. Pada sebuah potret di media sosialnya, Ia ingin memberi tahu kita semua bahwa Ia sedang berkemas. Di dalam sebuah kamar yang tentunya istana, Ibu Negara ini menyusun beberapa box yang berisi barang-barang pribadinya. Sepertinya beliau dan keluarga sedang bersiap untuk pindah tempat tinggal. Ya, hampir sepuluh tahun ini Ibu Ani beserta keluarganya mendiami istana negara. Tentu saja itu berkat suaminya, Susilo Bambang Yudhoyono yang lebih gaul dipanggil SBY, terpilih dan terpilih lagi menjadi Presiden Republik Indonesia pada Pilpres 2004 dan 2009.

Seperti biasa beragam respon selalu hadir pada setiap foto yang Ibu Ani unggah di akun media sosialnya. Ada yang mengucapkan salam perpisahan, ada yang bersedih, ada pula yang menanggapi secara datar saja. Tapi mungkin banyak dari kita yang tidak menyadari bahwa foto tersebut bukan hanya sebuah persiapan salam perpisahan. Bagi saya foto tersebut juga pertanda bagi kita untuk segera melupakan sebuah harapan yang pernah kita titipkan pada SBY, suami tercinta sang empunya foto. Kita harus segera mencabut harapan bahwa presiden kita satu itu bisa mengungkapkan siapa pembunuh Munir sebenarnya.

SBY dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia saat banyak orang masih berduka karena wafatnya Munir. Kematian yang sangat mendadak tersebut mendapat perhatian yang sangat besar kala itu. SBY pun gagap lalu berpidato: “kematian Munir adalah sebuah test of  our history”. Tentu banyak yang berbesar hati dengan pernyataan tersebut. Tidak sedikit yang berharap besar SBY akan mengungkap dan menangkap dalang pembunuhan Munir.

Tapi tentu saja waktu yang mengungkap ketidakbenaran SBY. Pernyataan menggetarkan itu ternyata hanyalah omong kosong belaka. SBY tak mampu bahkan tak punya keinginan serius untuk mengungkap dan menangkap dalang pembunuhan Munir!

proses penyelidikan hingga persidangan memang dilaksanakan, tapi itu semua jauh dari harapan kita yang mencari keadilan yang terang benderang. Polycarpus, satu-satunya pelaku yang dihukum hanyalah seorang eksekutor. Sedangkan intellectual dader dari kasus ini tidak pernah kita ketahui. Ia masih bebas di luar sana entah dimana.

Sepuluh tahun perjuangan dalam mencari kebenaran dalam kasus pembunuhan Munir ini tentu saja bukan waktu yag singkat. Berbagai cara telah dilakukan. Tapi apalah arti perjuangan tanpa henti jika tidak diikuti oleh keinginan yang baik dari aparat negara selaku penentu kebijakan. Dan selama menjabat sebagai Presiden sepuluh tahun ini SBY tidak punya keinginan yang baik untuk mengungkap kasus pembunuhan Munir ini.

SBY sangat benar saat menyatakan pembunuhan Munir adalah sebuah ujian bagi sejarah kita. Wafatnya Munir bukan hanya peristiwa matinya satu orang. Wafatnya Munir adalah sebuah kehilangan besar, terutama bagi mereka yang memimpikan perdamaian dan penegakan hak asasi manusia di negara ini. ketika kasus ini tidak menemukan keadilannya sejarah akan mencatatnya sebagai sebuah kegagalan negara untuk memenuhi harapan para pencari kebenaran.

Sekali lagi saya ingin meyakinkan orang-orang, foto Ibu Ani yang diunggah hari ini adalah sebuah pertanda. Foto berkemas tersebut menandakan kita juga harus segera menyimpun dan menarik kembali harapan untuk mengungkap dalang pembunuhan Munir yang pernah kita titipkan pada SBY. Untuk sementara biarlah harapan itu kita genggam untuk kemudian kita berikan pada Presiden berikutnya, Joko Widodo.

Jokowi sudah pernah berjanji untuk memberikan perhatian khusus pada masalah penegakan hak asasi manusia. Tapi kita tentu tak boleh percaya begitu saja. Kita sudah pernah dikecewakan oleh kata manis tanpa pembuktian. Malah kita harus terlebih dulu harus tidak percaya pada si ceking ini, sebelum ada tindak nyata yang Ia lakukan ketika menjabat nanti.

Saat SBY sedang bekerja lebih giat di sisa masa jabatannya, Ibu Ani memang sudah mulai berkemas. Banyak barang keluarga yang harus dipindahkan dari Istana Negara ke Cikeas yang tentram. Tapi saya yakin, semua hal tentang pembunuhan Munir tidak akan masuk di dalam box-box Ibu Ani. Bisa murka suaminya nanti kalau masih menemukan serpihan peristiwa tersebut.

Kamis, 02 Mei 2013

Tan Malaka dan Dua Hari di Awal Mei

Gambar dipinjam dari sini

Sudah sejak beberapa tahun ini, Mei telah menjadi semacam penanda akan dua peringatan penting. Diawali dengan peringatan Hari Buruh Internasional pada tanggal 1 Mei, lalu dilanjutkan dengan perayaan Hari Pendidikan Nasional di hari berikutnya. Berbicara dalam konteks kesejarahan Indonesia, tidak bisa tidak, kita harus mengenang jasa seorang martir untuk dua hari besar itu. Dialah Ibrahim Datuk Tan Malaka.

Tan Malaka adalah seorang yang keras dalam perjuangannya. Baginya tidak ada kompromi bagi kemerdekaan Indonesia: harus secara penuh, tanpa syarat apapun dan sesegera mungkin. Untuk perjuangan besar itu, Tan Malaka melaluinya dengan dua jalan, perbaikan nasib buruh dan penyediaan pendidikan yang layak bagi anak tidak mampu Indonesia.

Jauh sebelum maraknya demo buruh belakangan ini, Tan Malaka telah memimpin beberapa pemogokan kerja di jaman kolonialisme. Setibanya dari Belanda pada tahun 1919, Tan Malaka ditawari menjadi guru bagi anak-anak kuli di Deli, Sumatera Utara. Persentuhan langsung dengan masyarakat kelas pekerja inilah yang menggerakkan hatinya untuk membela kaum buruh. Terinspirasi dari perjuangan tokoh panutannya, Sun Yat Sen, ia mulai menanamkan arti penting penuntutan penghidupan yang lebih layak bagi kaum buruh. Baginya, pekerja harus sama sejahteranya dengan pemilik modal. Karena pekerjalah yang berperan lebih besar dalam proses produksi. Dengan kata lain, pemilik modal lah yang lebih membutuhkan buruh, bukan sebaliknya.

Hanya dua tahun menjadi guru di Deli, Tan Malaka berhenti dari pekerjaannya itu. Rasa tidak suka dari beberapa petinggi perusahaan membuatnya merasa tidak cocok untuk bertahan. Di tahun itu juga ia berangkat menuju Pulau Jawa. Pada kongres Serikat Islam di Yogyakarta ia bertemu dengan beberapa tokoh pejuang lainnya seperti HOS Cokroaminoto, Agus Salim dan Semaun. Nama terakhir yang kemudian mengajak Tan Malaka menuju Semarang untuk melanjutkan perjuangan dengan jalan pendidikan. Melalui idenya dan beberapa tokoh komunis Indonesia, lahir cikal bakal pendidikan dasar di negeri ini, yaitu Sekolah Rakyat. Sekolah Rakyat, bagi Tan Malaka, ditujukan bagi anak-anak Indonesia yang nantinya akan menjadi seorang “pemimpin revolusioner”. Di sekolah inilah anak-anak dan pemuda Indonesia yang tidak mampu diajarkan untuk lebih peka terhadap nasib bangsa, tahu akan hak dan tanggung jawab serta, yang paling utama, kesadaran untuk membebaskan bangsa dari penjajahan dan penindasan.

Tidak begitu lama, sekolah model Tan Malaka ini langsung menyebar ke berbagai penjuru di Pulau Jawa. Ia mulai berkeliling untuk membuka Sekolah Rakyat di daerah lain. Tujuannya tentu saja untuk menanamkan arti penting pendidikan bagi masyarakat. Sayang, perjuangan tersebut tak berlangsung lama. Tan Malaka ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda setelah terjadi pemogokan buruh pelabuhan di Bandung pada tahun 1922. Demonstrasi tersebut dilakukan oleh serikat bernama Vaksentral-Revolusioner, sebuah organisasi dimana Tan Malaka menjabat sebagai wakil ketua. Sejak saat itu ia dibuang ke Belanda lalu mulai bergerilya ke beberapa negara.

Hal yang patut kita sayangkan dari hal ini adalah, betapa perjuangan Tan Malaka tidak pernah diaplikasikan dengan baik dan benar oleh bangsa ini. Malah, ia sempat dilupakan di masa orde baru pimpinan diktator Suharto karena dianggap sebagai dedengkot penyebar ajaran komunis di Indonesia. Padahal, bagi Bapak Republik Indonesia ini, komunisme-sosialisme hanya sebuah alat untuk membebaskan negeri ini dari belenggu kolonialisme waktu itu.

Ditengah carut-marut masalah perburuhan dan pendidikan nasional, kita seharusnya banyak belajar dari perjuangan Tan Malaka. Buruh haruslah sejahtera, karena mereka merupakan roda penggerak utama dalam proses perekonomian kita. Jangan lagi ada permufakatan jahat antara pengusaha dan pemerintah untuk merancang aturan yang merugikan pekerja.

Selain itu, pendidikan yang benar-benar mendidik mutlak harus tersedia bagi seluruh anak bangsa. Tentu Rakyat sudah bosan dengan tindakan pemerintah yang saban hari mengutak-atik sistem pendidikan tapi rasanya tak ada perubahan yang berarti. Seharusnya pemegang palu kebijakan sudah mendapatkan ramuan pengajaran yang mampu merangsang peserta didik untuk terus belajar. Bukan seperti sekarang, sistem pendidikan yang berjalan hanya membuat siswa menjadi manusia-manusia pragmatis yang terus mengharapkan hasil-hasil instan.

Saya rasa, perbaikan nasib buruh dan penyediaan pendidikan yang bermutu mutlak untuk dilakukan sekarang juga. Karena, tanpanya kita hanya akan menjadi bangsa yang berjalan di tempat, tak akan pernah kemana-mana.

Makassar, 1 Mei 2013

Minggu, 03 Februari 2013

Perbatasan Tak Mudah Panas


Ditengah hingar-bingar pemilihan Putri Indonesia dan kontes menyanyi X-Factor, Pada Jumat (1/2), Kick Andy on Location bercerita tentang masyarakat perbatasan lewat Inspirasi dari Jantung Borneo. Talkshow  ini menjadi menarik karena menampilkan apa yang selama ini tak pernah kita lihat. Bagaimana kehidupan masyarakat perbatasan Indonesia-Malaysia dapat hidup rukun di jantung Pulau Kalimantan, tepatnya di Krayan, Kalimantan Timur.

Saya jadi teringat obrolan panjang saya dengan seorang teman pada masa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Pulau Sebatik, Kalimantan Utara. Bermula pada sebuah observasi awal untuk menentukan program kerja KKN, saya berkenalan dengan Yusuf, seorang penduduk lokal Sei Pancang, salah satu daerah teramai di Pulau Sebatik. Yusuf bekerja sebagai Tukang Ojek yang sehari-hari mengantar penumpang keluar-masuk Dermaga Sei Pancang. Jika penumpang sedang sepi, ia akan duduk santai di dermaga. Disanalah kami berkenalan. Hampir setiap pagi dan petang kami bertemu lalu mengobrol apa saja. Dari percakapan intens tersebut saya tahu Yusuf memiliki wawasan yang luas. Ia, misalnya, dapat menjelaskan dengan baik biota laut yang ada di sekitar Perairan Sebatik karena rajin menonton National Geographic Channel, akunya.

Hal lain yang membuat saya betah berlama-lama mengobrol dengan Yusuf adalah perspektifnya dalam memahami hubungan masyarakat perbatasan Indonesia-Malaysia. Mungkin bukan hanya Yusuf, saya rasa banyak masyarakat Pulau Sebatik yang memiliki cara pandang cerdas dalam menilai relasi kedua negara. Masyarakat di perbatasan memaknai hubungan mereka dengan sederhana. Mereka menganggap interaksi mereka sehari-hari sebagai sebuah simbiosis mutualisme. Kebutuhan bahan pokok warga Indonesia terpenuhi dari negara jiran, sebaliknya kebutuhan produksi industri di Tawau dan Sabah, Malaysia sebagian didapatkan dari perairan dan kebun-kebun di Pulau Sebatik bagian Indonesia. Sesederhana itu. Mereka tak pernah memikirkan bermacam konflik yang pasti akan menarik urat emosi yang berlebihan.

"Saya juga heran, masyarakat di kota selalu ribut kalau ada masalah di perbatasan. Padahal kami disini tenang-tenang saja. Walau ada masalah, kami tetap bersaudara", Jawab Yusuf  ketika saya menanyakan perihal reaksi masyarakat perbatasan ketika ada konflik yang muncul diantara kedua negara.

Tentu kita masih ingat, bagaimana masyarat di pusat-pusat kota akan segera bereaksi apabila media mulai mengompori dengan isu konflik kedua negara yang selalu berulang-ulang. Pencaplokan wilayah, klaim budaya bangsa dan yang terbaru, olok-olokan yang sempat dilontarkan kepada mantan pemimpin negara kita seakan menjadi legitimasi bagi kita untuk segara marah lalu saling menghina. Kalau sudah begitu pekikan "Ganyang Malaysia!" akan kembali ramai diteriakkan. Seolah-olah Kalimat andalan Presiden Soekarno tersebut lahir dari masalah sepele saja.

Tapi coba bayangkan kembali, kemana kita disaat hubungan tersebut sedang baik-baik saja? Pernahkah kita sekedar untuk tahu, lebih-lebih mencoba mencintai segala hal yang diklaim negara tetangga tersebut. Lagu Rasa Sayange misalnya, sebelum dipakai sebagai backsound promo pariwisata Malaysia, pernahkah kita menyanyikannya lagi. Saya rasa tidak. Rasa Sayange menjadi semacam mayat hidup, ia terbenam di salah satu rak di Lokananta, Kota Solo, tanpa pernah diputar lagi.

Belum lagi masalah pulau-pulau kecil di perbatasan milik kita yang sudah terlanjur beralih menjadi bagian dari teritorial Malaysia. Sebelum pulau tersebut lepas, pernahkah kita mengetahuinya. Sipadan dan Ligitan baru diketahui sesaat sebelum konflik ini akan diajukan ke meja Mahkamah Internasional yang lantas mengalahkan kita. Pemerintah dan juga tiap individu di negara ini tak cukup peduli dengan apa yang telah dipunyai. Ketika negara lain melakukan effective occupation terhadap wilayah tersebut, kita hanya bisa gigit jari dibuatnya.

Saya tak pernah cukup bangga dengan nasionalisme yang dibangun oleh negara kita ini. Indonesia mengajarkan warganya mencintai negara dengan cara yang dangkal. Mencintai negara dengan cara artifisial semata adalah cara yang mudah namun rapuh menurut saya. Nasionalisme yang seharusnya ditanamkan oleh negara adalah rasa cinta tanah air karena tanah air itu sendiri mencintai kita. Dengan cara apa? Ya dengan jalan pemenuhan jaminan hidup warga yang memang sudah diatur oleh konstitusi kita.

Seberapapun saya senang mengobrol dengan Yusuf, saya sempat kecewa sekaligus khawatir ketika ia begitu membanggakan negara tetangga. Baginya, Malaysia adalah negara ideal untuk ditempati karena kehidupan warganya telah terjamin dengan pasti. Kacaunya warga negara kita di perbatasan, seperti Yusuf dan kawan-kawanya pun seakan lebih dekat kepada Malaysia ketimbang Indonesia. Jangan sampai budaya dan tanah kita sudah diklaim, warga negara kita pun ikut-ikutan dicaplok. Sungguh mengerikan membayangkan hal tersebut.

Saya kira kunci keluar dari semua ini adalah perhatian lebih. Bukan hanya dari negara tentunya, tapi juga dari tiap-tiap diri kita, pemilik negara ini.

Sabtu, 21 Juli 2012

KEM 2012


“MENJADI INDONESIA adalah menjadi manusia yang bersiap memperbaiki keadaan, tetapi bersiap pula untuk melihat bahwa perbaikan itu tidak akan pernah sempurna dan ikhtiar itu tidak pernah selesai.” (Goenawan Mohamad — Surat dari & untuk Pemimpin)

Yak, Kompetisi Esai Mahasiswa (KEM) 2012 kembali lagi. Kompetisi yang tahun ini sudah masuk pada jilid keempat ini kembali mengajak kita, mahasiswa Indonesia untuk memberikan kontribusi nyata melalui bentuk tulisan esai.

Menjadi Indonesia = (men)dingan (ja)ngan (di)am untuk Indonesia; Sebuah gerakan moral, ajakan berbuat nyata, memberi makna pada Indonesia. Lebih baik menyalakan lilin ketimbang sekadar mengutuk kegelapan.

Pada tahun keempat ini, TEMPO Institute kembali menantang mahasiswa Indonesia untuk menetaskan buah pikiran melalui kompetisi esai. Tuliskan esaimu. Jangan berangkat dari teori yang muluk-muluk. Mulailah dengan mengamati, observasi, kondisi di sekitarmu. Gambarkan permasalahan paling menarik atau paling penting di sekelilingmu, di wilayahmu, di “area kekuasaanmu”.

Ini bukan kompetisi membuat makalah dengan basis teori yang rigid, tapi tentang pendapat subyektif. Tulisan bisa berupa refleksi, observasi mendalam, atau gagasan konkret atas sebuah persoalan nyata di sekitarmu.
*** 

Bocorannya, tahun ini KEM akan semakin menarik, baik dari segi pelaksanaan maupun hadiahnya. Bahkan saya sudah dikabari bahwa tahun ini KEM juga akan mengadakan road show di beberapa kota. tujuannya mensosialisasikan KEM Menjadi Indonesia 2012 dan pembacaan surat dari tokoh yang suratnya ada didalam buku "Surat dari dan untuk pemimpin". Saya dan beberapa teman sedang mengusahakan agar Makassar menjadi salah satu kota tujuan road show. Proposal dalam proses disiapkan. Doakan terwujud.

Untuk info lengkap, sila klik disini

Rabu, 11 Januari 2012

Lomba Review Berita Tempo.co

*Berhadiah Satu Bulan Magang di Tempo Institute

Demi meningkatkan mutu jurnalistik dan pemberitaan, Tempo Institute mengajak teman-teman (pelajar, mahasiswa, umum) untuk bersama memberi komentar atau review atas berita-berita yang dimuat di Tempo.co, selama bulan Januari 2012.

Silakan meneropong, mengritik, dan mereview berita apa saja. Bisa tentang kasus Mesuji, Bima, ironi keadilan sandal buat Aal, kematian tragis Adesagi, olah raga, resolusi kalangan selebritas, atau sepak-terjang pemberantasan korupsi yang maju-mundur.

Komentar dan review ini akan menjadi masukan berharga buat tim redaksi dan juga TempoInstitute Indonesia.

Review yang diminta adalah : apakah berita tersebut penting bagi publik, menarik, seberapa kuat nilai layak berita di dalamnya, dan apa kekurangan atau kelebihan berita tersebut.

Caranya:
1. Daftarkan diri Anda di Forum Tempo.com (http://forum.tempo.co/)

2. Pilih satu berita di Tempo.co, lalu tulislah review berita itu di Thread "Lomba Review Berita Bersama Tempo Institute)

3. Masukkan tulisan Anda ke dalam New Thread di Kanal itu.

4. Tulisan singkat saja, maksimum 200 kata

5. Tenggat : 5 Februari 2012

6. Pengumuman disampaikan pada 10 Februari 2012

7. Lomba ini berlaku bagi siapa saja, diutamakan mahasiswa dan pelajar.

Hadiah:

1 (satu) penulis review terbaik dari kalangan mahasiswa diberi kesempatan magang selama 1 (satu) bulan di Tempo Institute (transportasi dan akomodasi ditanggung).

10 review pilihan akan diberi bingkisan masing-masing berupa : 1 buku "Kecap Dapur TEMPO" (buku baru terbitan KPG Gramedia), 1 flash disk Tempo.co, dan 1 kaos Tempo.co.

Ayo, mari meneropong berita Tempo.co

Salam, Panitia

Pertanyaan bisa diemail ke institut@tempo.co.id

Senin, 02 Januari 2012

Undangan Menulis

Undangan Menulis Bersama Pusat Studi Demokrasi (PSD) Unhas

Kami mengundang rekan-rekan mahasiswa Universitas Hasanuddin untuk menyalurkan ide dan gagasannya berupa tulisan esai guna memperkuat dan menyehatkan demokrasi di tanah air.
Tulisan terpilih akan diterbitkan dalam sebuah buku bertajuk “Demokrasi yang Galau: Suara Hati Mahasiswa Unhas” kerjasama dengan Penerbit Shofia
Silakan dipilih tema-tema berikut:
- Agama dan Demokrasi
- Perempuan dan Demokrasi
- Kebudayaan dan Demokrasi
- Media dan Demokrasi
- Demokrasi di bidang pertanian
- Demokrasi di bidang hukum dan HAM
- Demokrasi di bidang Kesehatan
- Demokrasi ekonomi
- Demokrasi politik
- Demokrasi dan pengelolaan SDA
- Demokrasi dan arsitektur
Syarat:
Tulisan harus original (bukan plagiat)
Tulisan 5-8 halaman.
Jenis huruf Arial 12pt, kertas A4, margin 3-3-3-3
Tulisan ditunggu paling lambat 30 Januari 2012

Kirim ke fitria_idris@ymail.com/fitrawan.umar@gmail.com/nufachlucu@gmail.com
CP: 085255062961
Kegiatan ini bersifat sukarela. Adapun penulis yang terpilih akan mendapatkan 1 (satu) buku ini nantinya dan diundang pada saat launching.

Senin, 03 Oktober 2011

#31HariMenulis: Kompetisi Esai Mahasiswa 2011 Menjadi Indonesia

Lekas,
Bangun dari tidur berkepanjangan
Nyatakan mimpimu
Cuci muka biar segar
Rapikan wajahmu
Masih ada cara untuk menjadi besar
(adaptasi syair lagu “Menjadi Indonesia”, Efek Rumah Kaca)
Jangan mau terpuruk dihantam kabar buruk yang terus menyungai. Ini Indonesia kita, mari bersama merawat dan membuatnya menjadi Indonesia yang sebenarnya. Indonesia yang bersih dan menjadi tempat bagi Bhinneka Tunggal Ika.

Punya gagasan praktis, terapan, dan membumi untuk membangun Indonesia? Tulis gagasanmu dalam sebuah tulisan esai. Tak perlu muluk bermimpi. Mari perbuat apa yang bisa kita buat demi menyingkirkan korupsi, kemiskinan, kurang pendidikan, sengkarut penegakan keadilan, tergerusnya semangat bhinneka, dll. Jangan mau larut dalam problem yang berkelindan begitu pekat. Nyalakan lilin, jangan hanya merutuki kegelapan.

Memasuki tahun ketiga Kompetisi Esai Mahasiswa Menjadi Indonesia, kami menantang Anda, anak muda Indonesia. Mari bangun optimisme hidup berbangsa. Lontarkan gagasanmu.
Untuk Indonesia yang lebih baik.

Info lengkap sila lihat disini

Kamis, 14 April 2011

Menciptakan Nasionalisme Alternatif Melalui Budaya Lagu Populer

Budaya adalah keseluruhan sistem sosial masyarakat yang merupakan cerminan suatu golongan atau bangsa. Seiring dengan masuknya globalisasi pada seluruh aspek kehidupan termasuk budaya telah mengancam eksistensi budaya itu sendiri. Budaya lagu merupakan jalur alternatif untuk meminimalisir efek negatif dari globalisasi. Karena budaya lagu memiliki sejarah yang panjang serta mudah diterima oleh semua lapisan masyarakat. Budaya lagu dalam konsep populer juga menyampaikan pesan dan semangat positif di era globalisasi ini, seperti semangat nasionalisme dan patriotisme.
Budaya adalah keseluruhan sistem sosial masyarakat yang merupakan cerminan suatu golongan atau bangsa. Dari budaya orang bisa melihat karakteristik sebuah bangsa. Pencitraan sebuah bangsa juga dapat dibangun melalui pencitraan budaya. Memang budaya merupakan salah satu aspek penting dalam interaksi pembangunan sebuah bangsa.

Seiring dengan derasnya arus globalisasi, budaya mendapatkan tantangan yang serius untuk terus menjaga eksistensinya. Globalisasi saat ini telah masuk pada sendi-sendi kearifan budaya. Jika efek negatif mulai merasuki budaya, ia akan merusak sitem budaya itu. Hal ini membuat eksistensi budaya itu sendiri menjadi terancam. Jika salah langkah, suatu budaya akan rusak. Dampaknya adalah rusaknya pula karakter dan citra suatu bangsa.

Efek globalisasi telah terlihat nyata di depan kita. Salah satu efek negatif dari globalisasi adalah terkikisnya rasa nasionalisme dan patriotisme. Rasa cinta tanah air dan rela berkorban apapun demi bangsa telah tergantikan oleh budaya-budaya yang dibawa oleh globalisasi. Masyarakat kini lebih nyaman mengaplikasikan budaya-budaya khas globalisasi, seperti hedonisme dan konsumerisme yang serba instan.

Untuk mencegah hal tersebut terjadi lebih jauh pada diri kita dan bangsa kita, dibutuhkan sebuah saluran alternatif untuk menyalurkan rasa nasionalisme. Saluran alternatif ini diharapkan dapat menjadi saluran baru yang bisa menggantika saluran yang telah buntu, akibat dari tersumbat oleh yang namanya “efek negatif globalisasi”.

Budaya Lagu Sebagai Jalur Alternatif Nasionalisme

Salah satu budaya yang sangat populer di kalangan masyarakat adalah lagu. Lagu merupakan gabungan antara hasil dari harmonisasi beberapa bunyi alat musik dengan alunan syair yang bermakna. Lagu biasanya memiliki pesan tertentu yang ingin disampaikan. Menurut Aristoteles (384 SM-322 SM), lagu mempunyai kemapuan mendamaikan jiwa yang gundah, mempunyai terapi yang rekreatif dan munumbuhkan jiwa patriotisme. Memang lagu merupakan suatu alat yang bisa dipakai dalam berbagai hal.

Sejarah perkembangan lagu sudah dimulai sejak zaman nenek moyang kita. Sangat sulit mencari data yang valid tentang kapan lagu itu pertama kali ada. Yang jelas lagu sudah mengakar membudaya pada banyak komunitas masyaralat di seluruh dunia sejak dulu. Di indonesia sendiri, pada zaman dahulu lagu dimainkan pada upacara-upacara adat ataupun keagamaan. Ini menandakan eksistensi budaya lagu di Indonesia sudah cukup berumur.

Indonesia adalah negara yang sangat heterogen dengan suku bangsa yang tersebar di ribuan pulau. Hal tersebut membuat Indonesia kaya akan lagu-lagu. Lagu khas dari tiap-tiap daerah disebut lagu tradisional. Tiap-tiap lagu tradisional memiliki karakteristik masing-masing dan melambangkan kearifan lokal daerah asalnya.

Di tengah derasnya arus globalisasi, budaya lagu diharapkan bisa menjadi salah satu alat untuk bisa membendung laju efek negatif yang ditimbulkan oleh globalisasi. Lagu bisa digunakan untuk menyampaikan berbagai pesan positif kepada yang mendengarkannya, seperti semangat nasionalisme. Pesan yang disampaikan akan mudah sampai kepada yang dituju karena lagu disampaikan dengar cara yang disukai orang banyak.

Lagu memiliki sifat yang universal. Itu sebabnya lagu dengan sangat mudah diterima oleh berbagai kondisi dan lapisan masyarakat. Dengan sifat universal-nya tersebut, lagu juga menyatatukan orang atau kelompok yang berbeda sekalipun. Itulah sebabnya mengapa lagu menjadi harapan besar sebagai saluran alternatif untuk terus mempertahankan eksistensi budaya lokal kita diantaranya rasa nasionalisme dan patriotisme.

Budaya Lagu dan Semangat Perubahan

Lagu sudah digunakan sebagai alat persatuan sejak zaman pendudukan kolonialisme. Lagu-lagu bertemakan nasionalisme dan patriotisme dipakai sebagai pemompa semangat untuk mengusir para penjajah dari bumi Indonesia. Pada kongres pemuda II tanggal 28 Oktober 1928 bukan hanya dicanangkan sebuah pernyataan nasional yang dikenal dengan Sumpah Pemuda, namun dikumandangkan pula lagu “Indonesia Raya” lewat gesekan biola sand penciptanya, Wage Rudolf Soepratman. Lagu yang kemudian menjadi lagu kebangsaan Indonesia saat ini menjadi salah satu pembakar semangat nasionalisme para pemuda dan seluruh rakyat Indonesia untuk bebas dari derita penjajahan. Walaupun sempat dilarang karena tercium oleh Belanda, namun lagu tersebut terus hidup di hati para pejuang kemerdekaan bangsa.

Hingga pada tanggal 17 Agustus 1945, pada saat proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan, lagu yang berjudul “Hari Merdeka (17 Agustus Tahun 1945)” turut mengiringi Sang Saka Merah Putih mencapai puncak tiangnya. Lagu yang diciptakan oleh H. Mutahar ini, diciptakan khusus untuk memperingati hari paling besar bagi bangsa Indonesia. Lagu tersebut semakin menambah rasa cinta tanah air rakyat Indonesia pada saat itu.
Bukan hanya di Indonesia lagu menjadi alat perubahan. Di berbagai belahan dunia, banyak negara yang menjadikan lagu sebagai alat perubahan. Lagu menjadi senjata pembebasan bagi kaum buruh kulit hitam di Jamaika. Lagu juga menjadi alat untuk mewujudkan pluralisme di Amerika Serikat. Dan masih banyak lagi cerita revolusi dari berbagai negara dengan lagu sebagai salah satu senjatanya.

Di Jamaika pada abad ke -16 terjadi kolonialisme oleh negara Spanyol dan Inggris. Lagu raggae dijadikan sebagai penyemangat oleh kaum kulit hitam jamaika untuk bebas dari praktik perbudakan. Hal tersebut baru bisa terwujud sekitar dua abad kemudian. Jamaika berhasil membuat sebuah revolusi dengan diiringi oleh semangat perubahan musik raggae yang memang mengadung filosofis kebebasan di dalamnya.

Di Amerika Serikat, Michael Jackson (1958-2009) muncul sebagai salah satu pahlawan pluralisme antara masyarakat kulit hitam dengan masyarakat kulit putih. Penyanyi yang dikenal dengan julukan “King of Pop” ini mengkampanyekan persamaan dalam besarnya perbedaan. Dia menyanyikan lagu yang sangat menginspirasi banyak orang untuk saling menghargai perbedaan.

Dengan melihat kejadian dan sejarah dari berbagai negara di atas, bisa ditarik sebuah simpulan bahwa betapa lagu membawa sesuatu yang sangat besar bagi perubahan. Lagu dapat mensugesti orang atau kelompok dari keterpurukan untuk kemudian bangkit dan melawan. Lagu membawa pesan-pesan positif seperti pembebasan atau kemerdekaan serta pluralisme.

Budaya Lagu Populer dan Nasionalisme Alternatif Bagi Indonesia

Jika diatas sudah dijelaskan bagaimana lagu menjadi senjata bagi revolusi Indonesia di zaman kolonialisme penjajah. Lalu bagaimana dengan peran budaya lagu di era globalisme sekarang? Apa peran penting budaya lagu dalam upaya mempertahankan rasa nasionalisme dan patriotisme di Indonesia?

Di era globalisasi dengan teknologi dan informasi sebagai muatan utamanya, budaya lagu mengalami perkembangan yang sangat berarti. Muncul budaya lagu baru yang disebut dengan budaya lagu populer. Lagu populer adalah jenis lagu yang bisa diterima oleh semua kuping orang yang ada di seluruh dunia. Lagu populer bersifat universal dan menyampaikan pesan-pesan yang sedang berkembang di masyarakat. Ada beberapa  jenis lagu populer, diantaranya: pop, rock, jazz, raggae, dance, dll. Di Indonesia sendiri ada sebuah lagu populer dengan iringan musik khas, hasil kreasi anak bangsa yang diberi nama Dangdut.

Pengikisan rasa nasionalisme akibat dari efek globalisasi bisa sedikit tertolong dengan hadirnya lagu populer dengan tema nasionalisme dan patriotisme. Untung masih ada musisi Indonesia yang memiliki kreatifitas tinggi dan masih peduli dengan keadaan nasionalisme bangsa. Mereka masih mau meluangkan fikiran mereka untuk terus menyalurkan semangat nasionalisme dengan cara mereka sendiri. Kebanyakan diantara musisi ini adalah pemuda pada zamannya. Sehingga mereka bisa menebarkan sedikit semangat nasionalisme di tengah dominasi budaya bawaan globalisasi. Semangat nasionalisme lewat lagu bukan hanya ditunjukkan dengan lagu yang terus menayanjung negara, namun juga lagu yang sifatnya mengkritik pemerintah atas ketidakberesan kerja mereka.

Ada Gombloh yang terkenal dengan lagu penggugah nasionalisme dan patriotisme berjudul “Gebyar-Gebyar”. Lalu ada grup musik Swami yang digawangi oleh legenda hidup musik Indonesia, Iwan Falls, yang mencoba melawan ketiranian rezim Soeharto lewat lagunya yang berjudul “Bongkar”. Belakangan lagu “Bongkar ini menjadi lagu terbaik sepanjang masa versi majalah Rolling Stone Indonesia.

Di era millenium, lagu bertemakan nasionalisme dipelopori oleh grup band Cokelat. Dengan membawakan lagu yang berjudul “Bendera”. Coklat berhasil membangkitkan semangat masyarakat Indonesia khususnya anak muda. Lagu yang merupakan karya Erros ini juga sempat diusulkan untuk menjadi lagu wajib nasional. Penghargaa dari presiden juga telah didapatkan oleh lagu ini.

Perkembangan berikutnya, semakin banyak musisi yang menebarkan nasionalisme lewat lagu. Ada Slank yang meneriakkan anti korupsi lewat lagunya. Lagu mereka juga dimanfaatkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai salah satu instrumen kampanye anti korupsi di Indonesia. Lalu ada trio Efek Rumah Kaca dengan lagunya yang berjudul “ Menjadi Indonesia”. Lagu ini bercerita tentang semangat untuk bangun dari tidur berkepanjangan dan kembali menjadi besar untuk Indonesia. Lagu ini mengajarkan tentang arti nasionalisme tanpa sok menggurui.

Lalu muncul generasi yang lebih muda, yaitu Netral dengan lagu nasionalisme kentalnya “Garuda di Dadaku”. Lagu yang meminjam melodi lagu tradisonal asal Papua “Apuse” ini memberikan semangat serta rasa bangga yang tinggi sebagai orang Indonesia. Dengan iringan musik metal yang keras, lagu ini semakin membangkitkan  rasa optimisme. Lalu ada band remaja Pee Wee Gaskins dengan lagu mereka yang yang berjudul “Dari Mata Sang Garuda”. Lagu ini mengajak untuk tetap bangga dengan apa yang kita punya sekarang. Dengan melodi khas Pee Wee Gaskins yaitu power pop. Mereka sedikit meyindir mereka yang selalu mengeluh dengan keadaan bangsa ini. Terakhir ada sebuah lagu yang berjudul “Rindu Menyatu”. Lagu ini adalah hasil karya dari beberapa grup band atau solois yang termasuk mainstream di ranah musik Indonesia. Lagu ini menyampaikan pesan tentang ajakan persatuan. Sangat disayangkan di tengah-tengah heterogenitas masyarakat Indonesia, perbedaan selalu dibesar-besarkan.

Hal di atas membuktika bahwa para musisi Indonesia yang kebanyakan adalah anak muda punya cara sendiri untuk memaknai arti nasionalisme. Jika dulu Bung Karno beserta para bapak pendiri bangsa (founding father) kita menempuh jalan berperang untuk menunjukkan rasa cinta tanah air mereka, sekarang keadaannya telah berbeda. Setelah merdeka rakyat Indonesua seharusnnya berkarya dalam bidang yang mereka geluti. Nasionalisme tidak harus kaku, seperti mengikutu upacara bendera setiap hari senin atau hari kemerdekaan. Bukan pula selalu memakai produk yang bertemakan Indonesia. Tapi kita bisa menjadi nasionalisme dengan cara kita sendiri.

Di era globalisasi kita tidak bisa menghindari globalisasi melainkan kita hanya bisa meminimalisir efek negatif yang akan timbul akibat dari globalisasi tersebut. Produk globalisasi tidak semuanya “haram” bagi kita. Ada yang bisa dimanfaatkan dari globalisasi untuk dijadikan sebuah hal yang positif. Kita boleh saja mengonsumsi budaya barat dengan style zaman sekarang, namun tanpa mengurangi rasa memiliki dari tiap hal yang bisa kita banggakan tentang Indonesia. Karena dengan sikap bangga tersebut, paling tidak kita jadi punya semacam tolak ukur untuk mengonsumsi budaya yang kita serap.

*Tulisan ini masuk dalam 20 esai terbaik pada Kompetisi Esai Mahasiswa 2010 "Menjadi Indonesia"

Selasa, 04 Januari 2011

Etos Siri’ na Pacce: Solusi Krisis Kepemimpinan Indonesia

Efek globalisasi telah merubah pola hidup dan budaya masyarakat Indonesia. Mulai dari pelemahan Sumber Daya Manusia (SDM), pengikisan rasa nasionalisme hingga pergeseran pola hidup dan adat istiadat. Untuk mencegah atau merubah kembali efek globalisasi, dibutuhkan figur-figur muda yang memiliki pola pikir dan gaya kepemimpinan yang mapan. Etos siri’ na pacce adalah gaya kepemimpinan yang paling tepat diterapkan. Karena siri’ na pacce sejalan dengan budaya Indonesia yang menganut budaya ketimuran dan menjunjung tinggi asas-asas demokrasi.