Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Februari 2014

RIP Philip Seymour Hoffman

Philip Seymour Hoffman (1967-2014)

"Dan bagi pemerintah, jangan bermimpi ini sudah berakhir. Tahun-tahun akan datang dan pergi, dan para politisi tak berusaha menjadikan dunia tempat yang lebih baik. Tapi di seluruh dunia, muda-mudi akan selalu bermimpi dan mewujudkan mimpinya dalam lagu. Tak ada yang penting yang akan mati malam ini. Hanya beberapa pria jelek di sebuah kapal rongsokan. Satu-satunya yang menyedihkan malam ini adalah beberapa tahun lagi ada banyak lagu indah yang tak bisa kami putar. Tapi, percayalah padaku, lagu-lagu itu akan tetap dibuat. Lagu-lagu itu akan tetap dinyanyikan dan menjadi inspirasi dunia."

- The Count (Philip Seymour Hoffman) dalam The Boat That Rocked (2009)

Minggu, 14 April 2013

Kapal Rock Pengantar Sejarah

Gambar dipinjam dari sini

"Dan bagi pemerintah, jangan bermimpi ini sudah berakhir. Tahun-tahun akan datang dan pergi, dan para politisi tak berusaha menjadikan dunia tempat yang lebih baik. Tapi di seluruh dunia, muda-mudi akan selalu bermimpi dan mewujudkan mimpinya dalam lagu. Tak ada yang penting yang akan mati malam ini. Hanya beberapa pria jelek di sebuah kapal rongsokan. Satu-satunya yang menyedihkan malam ini adalah beberapa tahun lagi ada banyak lagu indah yang tak bisa kami putar. Tapi, percayalah padaku, lagu-lagu itu akan tetap dibuat. Lagu-lagu itu akan tetap dinyanyikan dan menjadi inspirasi dunia."

Pernah suatu masa Soekarno begitu menjengkelkan bagi para musisi Indonesia. Bagi Putra Sang Fajar ini, kemerdekaan Indonesia yang diraih dengan berdarah-darah harus dimurnikan. Segala sesuatu yang dapat menghalangi jalannya revolusi haruslah disingkirkan. Celakannya, musik yang (katanya) berbau ke-barat-baratan termasuk bentuk kegiatan kontra revolusi. Alhasil, Rock and Roll dilarang beredar, grup Koes Plus diredel, musik mereka tak boleh diperdengarkan sama sekali. Indonesia memasuki masa suram dalam hal musik dan tanpa ikon sama sekali waktu itu.

situasi serupa pernah terjadi di Inggris. Pertengahan 1960-an, dimana menjadi era terpenting bagi perjalanan Rock and Roll di tanah Britania, hadirlah pemerintah menjadi penghadang utama dengan segala peraturan yang serba kaku mereka. Konflik besar itulah yang coba digambarkan dalam film The Boat That Rocked (diproduksi tahun 2009).

Dikisahkan, sebuah radio yang mengudara dari tengah Laut Utara Inggris. Radio Rock, nama yang begitu menggambarkan segmennya, adalah sebuah radio yang menyebarkan frekuensi Rock and Roll lewat sebuah kapal yang cukup besar namun mulai menua. Radio ini mencuat karena momen yang tepat di tahun 1966. Disaat kebanyakan masyarakat mengalami deman Rock and Roll, radio utama Inggris, BBC, tidak memberikan porsi yang cukup bagi jenis musik ini. Saat itulah muda-mudi beralih pada Radio Rock yang memutar Rock and Roll sepanjang hari, 24 jam penuh.

Lebih dari itu semua, nilai tambah Radio Rock adalah persona setiap penyiarnya yang unik dan begitu memukau, sesuai dengan sesi acara mereka masing-masing. Di jajaran itu hadirlah Simon (Chris O’Down) yang mengajak pendengarnya menjadi keren dengan cara sederhana setiap paginya. Ada The Count (Philip Seymour Hoffman) yang menemani pendengarnya untuk menghitung mundur malam hingga capai larut. Lalu ada Mark (Tom Wisdom) yang tak banyak bicara namun selalu dinanti di tengah malam hingga dini hari karena keseksiannya. Juga Bob (Ralph Brown) pria tua berjanggut lebat yang rela mati demi vinyl-vinyl-nya yang senantiasa hadir kala subuh hingga matahari menampakkan diri. Dan yang menjadi terfavorit diantara semuanya adalah Gavin (Rhys Ifans), pria bersuara seksi dengan kelakuan bajingan ala superstar Rock and Roll.

Persona menarik dan selera musik yang menawan membawa Radio Rock mencapai titik puncaknya. Setiap hari mereka dinanti oleh muda-mudi Inggris yang minta diputarkan musik-musik yang hari ini menjadi legendaris semacam The Who, The Kinks, Jimi Hendrix, The Turtles hingga The Beach Boys. kenyataan itu membuat iklan-iklan mengantri untuk masuk.

Di tengah popularitas yang kian meninggi itulah datang pengahadang yang begitu menjengkelkan dari pemerintah. Oleh pemerintah Inggris, Radio Rock dianggap merusak moral pemuda. Alasan lainnya, Rock and Roll merusak tatanan musik klasik yang menjadi favorit kaum tua yang cenderung konservatif. Dibuatlah alasan penghancuran melalui peraturan yang dibuat-buat untuk menghentikan dominasi Rock and Roll, khususnya Radio Rock itu sendiri.

Konflik pada usaha untuk mempertahankan Radio Rock itulah yang menjadikan film ini sangat menarik. Disebutkan bahwa genre dari film ini adalah komedi. Namun bagi saya The Boat That Rocked lebih dari sekedar film komedi. Memang adengan yang ujung-ujungnya menarik urat kelucuan banyak disajikan. Namun pada akhirnya film ini bercerita tentang perjuangan, lebih-lebih bentuk sebuah perlawanan pada kemapanan bernama pemerintah. Banyak bagian emosional pada upaya untuk mempertahankan sesuatu yang memang patut untuk diperjuangkan. Untuk itu, favorit saya adalah bagian ketika Bob yang tetap kekeuh untuk mempertahankan boxset yang berisi piringan hitam kesayangannya, padahal kapal mereka sudah hampir tenggelam. Bagian ini lebih mengharukan daripada adegan Jack dan Ross di film Titanic.

Benarlah apa yang dikatakan oleh The Count, yang sempat saya kutip di bagian pembuka di atas; musik bermutu memang tak akan pernah bisa dihalangi untuk terus dibuat dan akhirnya akan sampai pada pendengarnya. Sekeras apapun usaha bodoh itu!

Jumat, 29 Maret 2013

Madre yang kehilangan Daya Magisnya

Gambar dipinjam dari sini
Saya kecewa dengan Film Madre!

Sebagai pembaca yang terkagum-kagum dengan keajaiban cerita Madre (versi buku), film ini sungguh gagal memenuhi ekspektasi saya. Jujur saja, film ini sudah masuk dalam agenda-wajib-nonton saya sejak dua minggu yang lalu. Sungguh saya tak berlebihan untuk ini. Cerita yang dibangun oleh Dewi ‘Dee’ Lestari dalam Madre sangat menggoda saya. Bagaimana tidak, tema cerita yang sangat sederhana, yang mungkin tak pernah kita pikirkan, diangkat oleh Dee menjadi rangkaian petualangan imajinasi yang begitu menakjubkan dan tak terduga. Ajaib.

Sebagai pelengkap kekaguman saya dengan cerita Madre (serta beberapa karya Dee lainnya dalam buku tersebut), saya sempat mencatat Madre sebagai buku terbaik yang saya baca sepanjang tahun 2011 di blog ini. Bisa dibaca disini.

Namun apa yang terjadi untuk filmnya? mari saya ceritakan!

Kekecewaan saya sudah dimulai pada awal-awal film. Vino G. Bastian yang memerankan Tansen gagal menghidupkan tokoh sentral dalam film ini. Dialog, mimik juga emosi yang dibangun oleh Vino gagal mewakili penggambaran tentang sosok Tansen yang diceritakan oleh Dee. Vino terlihat seperti aktor pemula dalam film ini.

Didi Petet pun begitu, tak lebih baik dari Vino. Memerankan Pak Hadi, artisan pengawal biang roti Madre sekaligus mentor Tansen dalam membuat roti, kurang menjiwai tokoh ini. Entah lari kemana keajaiban Didi Petet dalam berakting saat itu.

Scene paling mengecewakan dari film ini hadir di bagian awal film. Adegan ketika Tansen pertama kali bertemu dengan Madre menjadi awal dari gelagat kurang menjiwai dari kedua aktor ini, Vino dan Didi Petet. Pun begitu ketika Tansen mulai diajari membuat roti dari biang Madre. Di kedua bagian ini daya magis yang terbangun pada cerita Dee hilang tak bersisa.

Lalu, bagaimana dengan Laura Basuki yang memerankan Mey? Sudah jelas, tokoh ini hanya pemanis dalam film ini. Cerita utama yang saya harapkan, sesuai dengan cerita buatan Dee yang sungguh memesona itu, adalah tentang membuat roti dan kisah memperjuangkan eksistensi toko roti warisan tersebut. Adapun kisah cinta antara Tansen dan Mey hanya menjadi semacam bumbu pelengkap. Tapi yang terjadi di film ini adalah kebalikannya. Penggambaran hubungan cinta Tansen dan Mey mengambil porsi yang begitu banyak, sampai-sampai menengelamkan inti cerita. Sudah begitu, penggambaran romansa yang dibangun bernilai picisan pula.

Scene terburuk selanjutnya, hadir dari akting Vino dan Laura. Begitu banyak bagian yang digunakan untuk menampilkan hubungan Tansen dan Mey. Sebenarnya ada bagian yang juga saya tunggu dari jalinan kedua tokoh ini. Bagaimana Tansen dan Mey melalui beberapa percakapan dengan dialog sederhana namun sungguh filosofis. Favorit saya adalah: “kalau bebas sudah jadi keharusan, sebetulnya sudah bukan bebas lagi, ya?” ucap Mey menanggapi gaya hidup Tansen yang begitu bebas. Namun semua itu gagal terbangun, kalau tak mau dibilang tak nampak sama sekali. Di film, semua itu terganti dengan percakapan basa-basi yang tidak lucu diantara keduanya.

Penggambaran cinta picisan antara Tansen dan Mey mencapai puncaknya ketika Tansen menyerahkan Madre kepada Mey yang kemudian berpamitan untuk kembali ke Bali. Adegan bagian ini sungguh murahan menurut saya. Bagaimana keduanya mencoba membuat roti sambil menangis lalu dilanjutkan dengan perpisahan dengan gerakan melambat. Disusul dengan lagu latar dari Afgan (sepertinya) yang juga kurang klop dengan film. Lengkap sudah.

Saya baru saja menonton FTV (bukan film) di sebuah bioskop.

Senin, 14 Mei 2012

Forgetful Lucy


Di atas pasir putih tepi pantai Hawaii. Ditemani lumba-lumba yang bermain-main, turut merayakan cinta malam itu. Mengalunlah sebuah lagu yang baru saja dibuat oleh Henry khusus untuk Lucy;
The Hukilau was the place
Where I first saw your face
We liked each other right away
But you didn't remember me the very next day
Forgetful Lucy
Has got a nice caboosey

I used to trick you into pulling your car over so we could chat

But my favorite time was when you beat the shit out of Ula with a bat
Then we drove up to see Dr. Keats
And found out why Doug always has to change his sheets
Forgetful Lucy
Cracked her head like Gary Busey

But I still love her so

And I'll never let her go
Even if while I'm singing this song
She's wishing I had Jocko the walrus' schlong
Forgetful Lucy
Her lips are so damn juicy

How about another first kiss
***

Bagian ini adalah favorit saya pada film 50 First Dates (2004). Alasannya, tonton sendiri lah.


Jumat, 14 Januari 2011

Wajib Nonton

Kenal siapa lelaki ini? Yang ikut terkena booming tayangan WWF Smack Down di akhir 90-an sampai awal 2000-an pasti kenal dia. Kalo sudah terdengar "If You Smell", semua anak-anak, termasuk aku dulu pasti langsung histeris "THE ROCK....". Dia memang favorit deh. Gayanya cool dengan badan kekarnya itu. sangat lelaki.

Setelah 'pensiun' dari Smack Down ternyata si abang ini main film. Dan aku juga tau kalo nama aslinya tu Dwayne Johnson waktu nonton filmnya yang 'The Scorpion King'. Wah aku semakin suka deh dengan si abang ini. Banyak yang julukin dia sebagai 'The Next Arnold Schwarzenegger'.

Tapi filmnya yang paling aku suka tu 'Walking Tall'. Film ini diangkat dari kisah nyata. Bercerita tentang seorang Sersan Pasukan Khusus Amerika yang pulang kampung setelah 8 tahun. Di kampungnya dia mendapati kenyataan bahwa sudah banyak yang berubah. Pabrik yang dulu menjadi tempat warga bekerja telah berubah menjadi Casino. Dan ternyata Casino tersebut menjadi tempat beredarnya narkoba yang meracuni pemuda disitu termasuk adiknya. Belum lagi Sherif yang seharusnya menjadi penegak hukum malah bersekongkol dengan pemilik casino tersebut dan melakukan praktek korupsi. Nah disini lah si abang The Rock ini ingin membubarkan semua ketidakberesan itu.
Walking Tall (2004)

Anda liat balok yang dia pegang itu? Itulah senjata yang dia gunakan untuk membasmi lawan-lawan-nya yang berjumlah puluhan orang.

Sekarang di bioskop sudah keluar lagi ni film terbarunya. Judulnya 'The Faster'. Katanya sih film action lagi. Sudah dari minggu lalu mau nonton fil ini, tapi belum sempat. Minggu depan harus Nonton :D
Kapan ye bisa bertubuh kekar kaya abang  Dwayne Johnson. hahaha...