Tampilkan postingan dengan label Efek Rumah Kaca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Efek Rumah Kaca. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 November 2014

Tujuh untuk Jokowi


Saya selalu bersikap apatis bahkan skeptikal tiap kali menjelang Pemilu. Bagaimana tidak, nuansa pesta demokrasi di negara ini sungguh tidak menyenangkan. Mulai dari proses pemilihan calon yang tidak jelas, sampai penempatan kita sebagai penentu yang hanya dijadikan objek dari dari Pemilu tersebut. Sikap feodal partai politik yang terus dipelihara, bahkan setelah lima belas tahun sesudah reformasi, melanggengkan proses-proses kotor tersebut.

Namun ada yang berbeda pada Pemilu 2014 yang baru saja berlalu. Sosok Jokowi datang membawa jawaban atas kemuakan kita terhadap kebanyakan pemimpin saat ini. Kebaruan adalah kata kunci disini. Bagaimana metode dan sikap yang diterapkannya adalah perlawanan dari apa yang terlanjur melembaga: elitis, berjarak, serba tertutup.

Jokowi adalah tokoh protagonis di dunia politik beberapa tahun ini hingga Pemilu 2014 yang lalu. Sejak kinerjanya sebagai Walikota Surakarta terendus, langkahnya seakan mulus menuju istana. Dengan etos satu katanya, “kerja!”, Ia memenangkan hati rakyat, yang mayoritas masih berkategori wong cilik.

20 Oktober yang lalu menjadi salah satu batu penanda dalam perjalanan sejarah Indonesia. Setelah Sukarno, kita kembali memiliki Presiden yang “diangkat” dan “diantar” oleh rakyat. Harapan juga optimisme tentu kita titipkan. Dan semoga amanah tersebut dijawab dengan baik oleh Bapak Presiden Jokowi.

Sebagai pengantar Jokowi dalam mengarungi lima tahun pertamanya sebagai Presiden, saya ingin membuat daftar lagu khusus untuknya. Daftar ini berisi tujuh lagu dari musisi yang sangat bersemangat dan tentu saja saya sukai. Tak ada lagu metal, musik kesukaan Jokowi, tapi ketujuh lagu ini tentu sangat bisa menumbuhkan harapan dan optimisme Jokowi juga kita semua. Ini dia, Tujuh untuk Jokowi.

Juara Dunia – Sir Dandy

Lagu ini sebenarnya dibuat Sir Dandy khusus untuk petinju kebanggaan Indonesia, Chris John. Tapi saat mendengarkannya kala kontestasi pilpres yang lalu saya jadi teringat sosok Jokowi. “Berbadan kecil seperti Maradona//Menari lincah seperti balerina.” Sangat Jokowi bukan lirik ini? ceking namun lincah kesana kemari.

Jadi, untuk Indonesia yang lebih baik, ayo, Sikat, Jok!

Nyala – Pure Saturday

“Percayalah terang akan datang di saat yang tidak terduga.” Lirik pembuka lagu ini langsung membawa sebuah optimisme yang manis. Siapa sangka harapan bernama Jokowi itu datang begitu cepat. Hanya dalam waktu tiga tahun, sejak kinerjanya mulai terpantau, Ia sekarang jadi pemimpin kita.

Semoga kinerja Jokowi kedepan akan mengagumkan seperti vokal Iyo di lagu ini: tinggi tapi tetap lembut, tanpa harus berteriak-teriak.

Langkah Baru – Bangkutaman

Jokowi adalah sebuah penanda bahwa kita semua akan mengambil langkah baru dalam membangun Indonesia. Lupakan cara-cara elitis yang diterapkan Presiden terdahulu. Jokowi datang dengan janji akan lebih dekat kepada rakyat. Saya rasa tak sulit bagi Jokowi merealisasikan itu. Dan lagu folk rock dinamis dari Bangkutaman ini siap menemani Bapak Presiden memulai hari untuk kerja kerja kerja. Hehehe.

Berjalan Lebih Jauh – Banda Neira

Lagu ini dapat mewakili ajakan Jokowi kepada masyarakat untuk tidak tinggal diam. Setiap kita harus mengambil peran, sekecil apapun itu, dalam proses pembangunan. “Bangun//Sebab pagi terlalu berharga ‘tuk kita lewati dengan tertidur//Bangun//Sebab hari terlalu berharga ‘tuk kita lalui dengan bersungut-sungut.”

Lagi-lagi harapannya kita bisa “berjalan lebih jauh//menyelam lebih dalam//jelajah semua warna//bersama.” Ya, Bersama. Bukan sekelompok orang saja tapi semua elemen masyarakat, pemilik sah negara ini.

Rayakan Pemenang – Morfem

“Lagu ini Jokowi sekali.” Saya mengamini perkataan seorang kawan saat pertama mendengar lagu ini. Kita patut mencurigai bahwa Morfem menciptakan lagu ini khusus untuk kemenangan Jokowi pada Pemilu lalu. Lagu ini sebenarnya bertema “from zero to hero” yang sangat umum. Tapi Jimi Multhazam, seperti biasa, bisa menyusun lirik yang sanga memesona. Dengan balutan fuzz rock membuatnya klop menjadi anthem bagi kemenangan Jokowi, Kemenangan rakyat, kemenangan kita semua.

Menjadi Indonesia – Efek Rumah Kaca

Jokowi sudah sempat mendengarkan lagu ini belum ya? Kalau ia cuma sibuk mendengarkan lagu-lagu metal, saya sarankan padanya untuk rehat sejenak kemudian mendengarkan lagu ini. Menjadi Indonesia adalah lagu nasionalisme yang sangat mengena dengan keadaan negara kita saat ini. Tidak ada penjelasan historis-filosofis ala Parakitri Simbolon atau kata indah selangit khas Goenawan Mohamad. Hanya ajakan sederhana “lekas bangun dari tidur berkepanjangan” kemudian “menjelma dan menjadi Indonesia”. Hanya seperti itu. Sederhana dan, ya itu tadi, sangat mengena.

Tolong, seperti itu lah, Pak. Kami tahu kok, anda sudah tahu caranya.

Bangunlah Putra-Putri Pertiwi – Iwan Fals

Yang mengagumkan dari Iwan Fals (sebelum Ia menjadi duta produk kopi tentunya) adalah Ia memilih jalan kritik untuk mencintai negaranya. Tak terhitung lagu berlirik pedas yang Bang Iwan ciptakan untuk menegur rezim yang tidak berpihak pada rakyat. Namun pada lagu Bangunlah Putra-Putra Pertiwi Iwan memilih jalan lain. Jelas Ia menghembuskan semangat positif di dalam liriknya.

“Terbanglah garudaku//singkirkan kutu-kutu di sayapmu//berkibarlah benderaku//singkirkan benalu di tiangmu//jangan ragu dan jangan malu//tunjukkan pada dunia bahwa sebenarnya kita mampu.”

Saat menciptakan lagu ini mungkin Iwan Fals hanya berseru pada rakyat, tidak pada pemerintah yang selama ini selalu menjadi oposisinya. Tapi kali ini Iwan, juga tentu saja kita semua, dapat menyerukannya juga pada Jokowi, Presiden yang saat ini menjadi tumpuan harapan kita dalam bernegara.


Sabtu, 17 Agustus 2013

Playlist Hari Kemerdekaan




“Sudahkah kita merdeka?”, pertanyaan klise tersebut tentu kembali ramai di bulan Agustus ini. Kalau tolok ukur sebuah kemerdekaan adalah terbebas dari segala tindak agresi dari negara lain, tentu saja kita sudah merdeka. Enam puluh delapan tahun lalu, di ujung senjakala Perang Dunia ke-2, kemerdekaan Indonesia diproklamirkan oleh Soekarno dengan didampingi Hatta.

Lain soal jika pertanyaan tersebut sedikit diperhalus: “Sudah sejauh mana kita merdeka?” Kita bisa berdebat dalam pertanyaan ini, karena akan ada ukuran-ukuran ataupun pencapaian-pencapaian yang akan diajukan disitu. Tentu tidak selalu indah. Negara ini telah mengalami jatuh bangun pasca kemerdekaannya. Ia pernah dianggap sebagai Macan Asia pun tak jarang direndahkan bahkan tidak diperhitungkan sama sekali.

Untuk itu, saya ingin membagikan rangkaian Playlist yang sedikit-banyak menggambarkan keadaan Indonesia di hari kemerdekaannya yang ke-68 tahun ini. Susunan ini akan bercampur baur, antara yang memuji dan yang menyatir. Tentu setiap lagu akan memiliki pesan tersendiri untuk kita renungi bersama. Bukan soal bagaimana kita terus terbang pada setiap pujian dan terpuruk dalam celaan, tapi bagaimana kita bersiap untuk terus memperbaiki dan merawat negara ini terus-menerus.

Ini dia susunan playlist tersebut:

Rencong Marencong – Marjinal

Mari kita mulai daftar ini dengan menyapa kabar rakyat Indonesia yang tersebar di seluruh penjuru. Marjinal, sebuah komunal punk yang berasal dari sebuah lorong di selatan ibukota, menyapa kita dengan lantang. Saya kira sapaan dalam “Rencong Marencong” ini  ditujukan untuk semua kelompok minoritas yang ada dimana saja di negara ini. Di tengah kesulitan hidup dan acapkali dilupakan oleh negara, Lagu ini mengajak kita untuk bersenang-senang dengan cara sederhana.

Lupakan negara yang masih terbata-bata mengeja kebutuhan rakyatnya. Mari bersenang-senang lantas bersyukur dengan segala yang kita punya saat ini.

"Hei bagaimana kabar kawan-kawan
Apakah baik kondisimu disana 
Kami disini sedang bernyanyi kawan 
Akan senandung lagu rindu tentang kamu..."

Menjadi Indonesia – Efek Rumah Kaca

Efek Rumah Kaca lahir di saat yang tepat. Di tengah banalitas dan pengulangan-pengulangan yang menjengkelkan, mereka hadir membawa angin segar. Saat industri memaksa musisi membuat lagu bertema nasionalisme, lahirlah karya yang artifisial semata dan cenderung membosankan. Lain halnya dengan “Menjadi Indonesia”. Nomor ini bercerita dengan jujur tentang kondisi Indonesia saat ini. Tanpa rasa menggurui, lagu ini menyampaikan kondisi Indonesia yang sedang “tidur berkepanjangan”. Di ujung lagu ada nada optimis yang tersisa; “masih ada cara menjadi besar… menjelma dan menjadi Indinesia.” Dengan balutan pop minimalis, tembang ini terasa sangat pas untuk terus menjaga nyala api cinta negara di dalam diri kita.

"lekas,
bangun tidur berkepanjangan
Menyatakan mimpimu
Cuci muka biar terlihat segar
Merapikan wajahmu
Masih ada cara menjadi besar
Memudakan tuamu
Menjelma dan menjadi indonesia."

Juara Dunia – Sir Dandy

“Juara Dunia” adalah lagu nasionalisme yang lain. Sir Dandy menyampaikannya dengan sederhana nan jenaka. Dibuka dengan menyebutkan daftar kebanggaan yang pernah dimiliki Indonesia, mulai dari Allyas Pikal, Alan Budi-Susi Kusuma sampai Ariel dan Luna (nama pasangan terakhir sangat sarkartis saya kira. Hehe). Lagu ini lantas menampilan Chris John, juara dunia tinju milik rakyat Indonesia. Di tengah seretnya prestasi olahraga kita, Si Naga (julukan bagi Chris John) hadir bak oasis di tengah gurun pasir. Hal lain yang juga membuat lagu ini akan terus dikenang adalah keberhasilannya mempopulerkan jargon “Sikat Jon!” yang sungguh mampu menghibur dan membangkitkan semangat.

Dalam sebuah wawancara, Sir Dandy berencana untuk membuat lagu khusus bagi Timnas jika mampu lolos ke Piala Dunia suatu saat nanti. Jadi untuk timnas, Sikat Jon!

"Berbadan kecil seperti maradona
Menari lincah seperti balerina
Melancarkan pukulan ke arah lawan
Menunduk ke belakang sambil melepaskan pukulan

Chris john chris john chris john chris john
Juara dunia dari indonesia..."


Mengadili Persepsi – Seringai

Salah satu kejengkelan utama yang sering dipertontonkan Indonesia yang tak lagi muda ini adalah intoleransi antar SARA. Di negara yang mengaku berasaskan Bhineka Tunggal Ika ini masih terlalu sering terjadi pemaksaan kehendak yang dilakukan oleh kaum mayoritas. Dengan alasan itu lah “Mengadili Persepsi” hadir. Lagu milik Seringai, salah satu unit metal terbaik negara ini, berbunyi perlawanan dengan teriakan “Individu Merdeka!”. Lirik ciamik yang sungguh memberikan tamparan keras kepada kelompok intoleran, berpadu dengan suara vokal Arian yang sangat garang. Pertanyaan penutup di lagu ini juga mengajak kita untuk kembali menilai apakah kita sudah benar-benar merdeka.

"Mereka, bermain Tuhan
Merasa benar, menjajah nalar
Dan kalau kita membiarkan saja,
anak kita berikutnya.

Sudahkah Merdeka?..." 

Amerika! – Armada Racun

Saya selalu tertarik dengan band ini. Bukan karena kibordis meraka saat ini adalah kakak kelas saya di masa SMA, melainkan pemberontakan dengan menihilkan instrumen gitar pada formasi mereka. Dan “Amerika!” adalah karya terbaik yang pernah meraka buat.

Di tengah derasnya arus informasi saat ini, Indonesia tampil canggung untuk menahan kencangnya invasi budaya asing. Negara yang diwakili oleh rakyatnya tak punya pilihan untuk merespon selain meniru mentah-mentah segala apa yang masuk. Terjadilah proses imitasi di segala bidang kehidupan. Dengan kondisi demikian kita akan sangat gampang untuk menemui orang-orang yang kehilangan jati diri. Bukan hanya peniruan terhadap Amerika, saat ini negara kita sedang dijajah secara halus oleh banyak negara, sebutlah Korea, Jepang, India dan negara lainnya.

Dengan mempelesetkan teks Sumpah Pemuda, nomor ini menjadi lagu protes yang sungguh mengena dengan situasi saat ini.

"Kami bangsa indonesia mengaku berbangsa satu Amerika
Kami bangsa indonesia mengaku berbahasa satu Amerika
Kami bangsa indonesia mengaku bertanah air satu Amerika
Kami bangsa indonesia mengaku, semuanya Amerika
..."

Ini Bukan Arab, Bung! – Milisi Kecoa

Satu lagi band berideologi punk yang sukses menghasilkan lagu-lagu protes zaman. Milisi Kecoa hadir dari puing-puing kekecewaan yang mereka lihat di sekitar. “Ini Bukan Arab, Bung!” merupakan protes keras yang dilayangkan kepada para bigot-bigot negeri yang tak henti-hentinya memaksakan budaya. Bagaimana para pengobral surga menyebarkan ajaran agama dengan cara memaksa. Meraka tak segan-segan memberi label “kafir bin sesat” karena merasa mendapat legitimasi dari Tuhan.

"Cepatlah kau mati,
tagih pahalamu di surga
Surgamu, nerakaku

Ini bukan arab, bung!"

Kami Bosan Jadi Negara Dunia Ketiga – Morfem

Di lagu ini Morfem bercerita bagaimana sulitnya negara ini berkembang akibat penyakit utama yang menjangkitinya: korupsi. Para pemegang amanat rakyat yang padanya kita manaruh harapan malah membuat permufakatan jahat. Tanpa belas kasihan, mereka memakan kepercayaan dan membaginya hanya kepada kelompoknya sendiri. Nomor ini berteriak keras tentang itu semua. Bagaimana negara yang hampir berumur enam puluh delapan tahun ini masih saja berstatus “negara dunia ketiga”.

Kebosanan akan kondisi dimainkan dengan musik fuzz-rock yang dinamis. Lirik ciamik dari Jimmy Multazham sang vokalis mewakili perasaan kebanyakan rakyat Indonesia. Puncak kejengkelan ada pada bagian terakhir lagu. Suara “Cuuuiiihh..” sangat pas untuk diberikan pada pengelola negara yang sudah cukup berumur ini.

"Bosan kami bosa jadi negara dunia ketiga
Padahal kita hidup di tanah air yang kaya raya
Bosan kami bosa jadi negara dunia ketiga
Tak mungkin jadi negara maju jikalau korupsi ada..."

Minggu, 03 Maret 2013

Kaos Band


Keterangan;
Atas (Kiri-Kanan): Menjadi Indonesia (salah satu judul lagu Efek Rumah Kaca), Baju Panitia Kemah Menjadi Indonesia 2012 | Album Nowhere To Go (Endah N Rhesa), Beli waktu konser Endah N Rhesa di Makassar Tahun 2009 | Album Native Narrative (Lazy Room), dalam rangka peluncuran album baru Lazy Room, band teman-teman saya ini :)) | Sebelah Mata (Efek Rumah Kaca), Dibeli menjelang konser Efek Rumah Kaca di Makassar di akhir tahun 2011 |

Bawah (Kiri-Kanan): Desember (Efek Rumah Kaca), Beli waktu tersesat di Bandung, tepatnya di Omuniuum juga tahun 2012 | Re-Anamnesis 2011 (Melancholic Bitch), Beli di Omuniuum Bandung juga | Frau, Dibeli ketika menonton mini konser pertama Frau di Makassar tahun 2011 | Album Blood Mountain (Mastodon), Dibelikan Usro waktu dia traveling di Jogja |

RIP: Lazy Room, 2010 (Hilang) | Stop Piracy (Nidji), 2009 (Hilang) | Mini Konser Frau Makassar, 2011 (Hilang) | Sheila on 7, 2009 (Dikasi ke teman) | The Upstairs, 2008 (Hilang di Tarakan)

Minggu, 17 Februari 2013

Playlist Februari: Yang Semangat... Yang Semangat...


Lupakan teman cinta yang kian banal saja setiap Februari datang. Bulan ini menjadi semacam titik tolak bagi saya. Ada sesuatu yang harus berubah.

Beberapa hari lalu saya menghadiri ujian skripsi Afif. Ia salah satu karib saya sedari mahasiswa baru. Di hari ujiannya, Afif tampil sangat memukau. Tak ada satu pertanyaan pun yang ia lewatkan tanpa memberikan jawaban yang tepat pat. Seketika saya membayangkan: kapan kiranya saya akan menjalani situasi seperti itu.

Ujian Afif tersebut menjadi semangat penambah bagi saya untuk terus berkonsentrasi mengerjakan Tugas Akhir. Bulan ini progres pengerjaannya sudah lumayan saya kira. Belum lagi bantuan dari teman-teman, yang ternyata silih berganti datang membantu di saat dibutuhkan.

Sebagai pelengkap semangat tersebut, saya menasbihkan playlist bulan Februari saya dengan memutar lagu-lagu yang sungguh dapat melipat-gandakan spirit saya. Ini dia lima diantaranya;


Selamat mencoba mendengarkan. Semoga semangatnya tertular.

Rabu, 08 Agustus 2012

Tulisan Musik Pertama: "Kamar Gelap - Efek Rumah Kaca"

Ternyata saya mulai coba-coba membuat tulisan musik sejak Agustus 2009. Hal ini saya sadari setelah membuka beberapa catatan di akun Facebook saya. Tulisan musik pertama saya waktu itu adalah tentang album Kamar Gelap milik Efek Rumah Kaca. Tulisan itu sungguh kacau. Saya sampai tertawa geli ketika membaca bagian di beberapa paragraf.

Tapi untuk mengenang tulisan musik pertama, saya akan me-repost tulisan tersebut disini. Selamat membaca. Selamat menertawai.

***

Sebenarnya album kedua dari Efek Rumah Kaca (ERK) ini udah rilis dari akhir 2008 kemarin, tapi aku masih selalu menikmati setiap mendengarkan lagu2 dari album ini. Aku juga masih slalu menemukan hal2 baru dan mendapatkan kenikmatan setiap kali mendengar lagu2 di album ini.

Album kedua ini hanya berselang kurang lebih stahun dengan album perdana mereka. Di dalam album Kamar Gelap ini terdapat 12 lagu yang terdiri dari tema2 yang sangat variatif.

Dibuka oleh "Tubuhmu Membiru Tragis". Kita akan disuguhi lagu yang misterius namun menenangkan. Dengan balutan jazzy yang lembut di awalnya, suara gitar yang monoton membawa kita ke akhir lagu.

Jangan sampai anda tertidur saat mendengarkan "Tubuhmu Membiru Tragis". Karena anda pasti akan dibangunkan oleh lagu "Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa". Ya di lagu ini musik rock akan dimainkan oleh ERK yang mengaku pure pop.

Meneriaki para pemegang kekuasaan lewat "Mosi tidak percaya". Di lagu ini kita diajak untuk menumpahkan sgala kegelisahan ketidakadilan. Menuntut pembebasan kebodohon, kejujuran, perubahan serta teriakan putus asa dari kaum yang tertindas.

"Lagu Kesepian" adalah curahan hati tentang rasa rindu yang mengganggu dan tak kunjung terobati. Dengan lirik yang tidak cengeng serta sangat mewah. Tidak seperti ode pengusir rindu murahan yang sedang bertebaran di negara ini.

"Hujan Jangan Marah" adalah sebuah teriakan minta tolong akan sgala sesuatu yang terjadi di negara kita ini. Negara yang sedang terpuruk. Berharap ada semangat yang masih tersisa untuk bangkit.

Menyinggung kaum puberitas yang terperangkap di tengah era canggihnya informatika lewat lagu "Kenakalan Remaja di Era Informatika". Betapa para remaja seenaknya berbuat negatif tanpa memikirkan sebabnya. Di lagu ini juga ERK ingin menunjukkan diri mereka yang pure pop.

Menggugah semangat nasionalisme yang mulai payah lewat lagu "Menjadi Indonesia". Di lagu ini dijelaskan bahwa masih banyak cara untuk menjadikan Indonesia sebagai sebuah kebanggaan.

"Kamar Gelap" mengajak kita untuk tidak pernah melupakan sejarah hidup. Tapi menjadikan sejarah itu sebagai bagian dari komposisi hidup sekarang. Dengan musik low beat di awal dan mulai bertenaga di tengah sebelum kembali melemah di akhir.

"Jangan Bakar Buku" Menggambarkan musnahnya minat terhadap buku. Buku sebagai pembuka jendela dunia dianggap sudah habis dan hangus terbakar. Distorsi di tengah lagu ini seakan mengajak kita kembali untuk mencintai benda ilmu itu.

Harapan2 semu di kota diceritakan di lagu "Banyak Asap di Sana". Lewat lagu ini pula digambarkan nyatanya diskriminasi. Yang kaya smakin kaya, yang miskin smakin miskin lah ceritanya.

Lagu cinta yang belum pernah terungkap diceritakan di lagu "Laki-Laki Pemalu". Betapa seorang lelaki yang menyukai seorang gadis namun tak memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Hanya bisa terus memuja di dalam rahasia sambil berharap sang gadis mengerti hatinya.

"Balerina" menutup album ini dengan sempurna. Kehidupan manusia diibaratkan seperti seorang balerina yang riang dan gembira.
Kamar Gelap - Efek Rumah Kaca
1. Tubuhmu Membiru Tragis.
2. Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa.
3. Mosi Tidak Percaya.
4. Lagu Kesepian.
5. Hujan Jangan Marah.
6. Kenakalan Remaja di Era Informatika.
7. Menjadi Indonesia.
8. Kamar Gelap.
9. Jangan Bakar Buku.
10. Banyak Asap di Sana.
11. Laki-Laki Pemalu.
12. Balerina.
*Diambil dari catatan Facebook pribadi, disini

Selasa, 10 Januari 2012

Mengganti Adrian ERK

Efek Rumah Kaca: Cholil (Vokal/Gitar) Opu (Bass?) Akbar (Drum)

Pengumuman Penting: untuk sementara saya menggantikan Adrian sebagai basist Efek Rumah Kaca. Tidak percaya. Saya lebih-lebih tidak percaya. Hahaha...

Lekas sehat Adrian!

Minggu, 01 Januari 2012

Terbaik Terbaik 2011

Hal pertama yang ingin saya lakukan pada catatan kali ini pastilah mengucapkan selamat tahun baru 2012. Semoga 2011 teman-teman menyenangkan. Dan mari berharap, semoga 2012 kita lebih menyenangkan lagi. Amin..

Kalaupun ada momen tidak menyenangkan, menjengkelkan, bikin sakit hati atau apalah itu, pasti tidak akan saya ceritakan disini. Ya, untuk apa juga dicerikan. Toh masih terlalu banyak hal-hal yang baik dan menyenangkan yang sangat patut untuk dibagikan.

Nah, hal itulah yang di hari pertama di tahun baru ini yang ingin saya ceritakan. Ada banyak hal menyenangkan, atau dalam hal ini saya anggap terbaik yang terjadi dalam setahun kemarin dalam hidup saya. Mulai dari musik, buku, film sampai esai. Mungkin terbaik versi saya ini terasa biasa-biasa saja oleh orang lain. Tapi yang perlu saya tekankan disini adalah, pemilihan terbaik ini bersifat sangat personal. Tanpa tendensi dan murni pilihan saya sendiri. Jadi jika ada tidak terima dengan pilihan saya, mari buat ‘Terbaik-Terbaik 2011’ versi kalian sendiri.

Ini dia ‘Terbaik-Terbaik 2011’ versi saya:

Album terbaik: Lesson #1 – Sir Dandy

Rolling Stone Indonesia bahkan tidak memasukkan album ini pada deretan 20 Album Indonesia Terbaik 2011. Tapi kuping saya kok menyatakan rilisan dari Sir Dandy inilah yang terbaik. Lesson #1 adalah tipikal album yang unik. Liriknya bercerita tentang hal remeh temeh yang biasa dijumpai di kehidupan sehari-hari. Mulai dari pertemanan, sosok pahlawan sampai semrawutnya lalu lintas kota akibat bejibunnya jumlah motor di jalanan. Ditulis dalam bentuk jenaka dan diiringi dengan alunan gitar yang begitu sederhana bahkan berkunci itu-itu saja di semua lagu. Beginilah tipikal album yang saya sukai. Sederhana namun tetap cerdas dan pastinya selalu menyenangkan untuk didengarkan.

Lagu Terbaik: Juara Dunia – Sir Dandy

Lagu terbaik tentu hadir dari album terbaik dong. Dan lagu terbaik di album Lesson #1 adalah Juara Dunia. Seperti yang sudah pernah saya katakan, lagu ini adalah lagu nasionalisme yang berbeda. Bercerita tentang petinju kebanggaan masyarakat Indonesia, Chris John. Ditengah rasa frustasi atas menyedihkannya prestasi olahraga kita, Chris John hadir sebagai penyelamat kebanggaan. Dia kan juara dunia tinju yang berhasil mempertahankan gelarnya paling lama dibanding petinju mana pun saat ini. Sungguh Sir Dandy tidak berlebihan membuatkan lagu khusus untuk juara dunia dari Indonesia ini. Sikat Jon!

Konser Terbaik: Shopping Concert Chambers Yes 2011

Tidak banyak konser yang saya datangi selama 2011. Dari sedikit konser yang saya tonton tahun lalu, saya memilih Shopping Concert Chambers Yes 2011 sebagai yang terbaik. Lebih tepatnya, konser yang dilaksanakan pada 30 Desember 2011 ini terasa istimewa bagi saya. Saya menonton konser ini beramai-ramai dengan teman-teman terbaik. Lalu headliner utama pada konser ini adalah band yang paling berpengaruh dalam hidup saya yaitu Efek Rumah Kaca. Satu lagi, untuk konser kali ini juga saya menjalankan tugas pertama saya sebagai kontributor sebuah webzine. Ah, sungguh istimewa konser ini.

Film Terbaik: Insidious

Jumat, 1 Juli 2011 mungkin adalah hari terhoror dalam hidup saya. Hari itu seorang diri saya ke toko buku untuk mencari bahan bacaan untuk seminggu. Tapi entah kenapa saya tersesat ke bioskop yang tepat berada disamping toko buku yang telah saya kunjungi tersebut. Lihat-lihat, akhirnya pilihan saya jatuh pada film setan berjudul Insidious. Film ini sangat pandai mengatur tempo ketakutan penontonya. Di awal, film ini sangat tidak berpontensi menjadi film paling menakutkan. Di pertengahan barulah penampakan mulai terlihat. Itupun masih jarang. Tapi disetiap kemunculan itu mengahadirkan kengerian yang luar biasa. Klimaks dari film ini adalah bagian paling menakutkan. Ketika setan berwarna merah menampakkan dirinya. Hah, waktu itu betul-betul menjadi satu setengah jam paling menakutkan dalam hidup saya.

Video Terbaik: Homeland

Dua tahun belakangan ini saya sangat senang menonton video (film) berdurasi pendek atau kurang dari tiga puluh menit. Video jenis ini sangat menarik menurut saya. Menekankan pada ide cerita dan teknik pengambilan gambar. Untuk tahun ini saya memilih Homeland sebagai video terbaik. Video buatan web travel, Hifatlobrain ini sungguh keren. Bercerita tentang seorang pemuda yang melakukan perjalanan jauh untuk pulang ke rumah. Ditengah perjalanan banyak hal yang ia jumpai. Mulai dari penampakan alam yang indah, sampai keramahan orang-orang yang ia jumpai di perjalanan. Selain itu, video yang dibuat untuk menyambut lebaran ini memiliki gambar yang begitu memesona. Sungguh benar apa yang dikatakan pada video ini, “No one realizes how beautiful it is to travel until he comes home.”

Buku Terbaik: Madre – Dewi ‘Dee’ Lestasri

Saya mulai jatuh cinta dengan tulisan-tulisan Dee ketika membaca Filosofi Kopi. Kumpulan tulisan (cerpen, puisi, prosa) ini sungguh keren menurut saya. Cara bercerita Dee sangat menarik. Sederhana namun tidak terduga sama sekali. Ia sangat menguasai setiap detail cerita yang akan ia bangun. Dan kepandaian Dee dalam bercerita berlanjut pada buku terbarunya, Madre. Seperti pada Filososfi Kopi, pada Madre Dee merangkai cerita dari hal-hal yang sederhana. Tapi dari hal-hal sederhana tadi akan terjalin cerita yang sangat luar biasa. Keempat belas tulisan dalam buku ini sangat layak dibaca dan buku ini wajib berada di rak buku kalian yang mendambakan karya sastra yang keren namun tetap sederhana.

Esai Terbaik: Making Punk A Threat Again – Morgue Vanguard

Banyak orang yang jengkel dengan perlakuan diskriminasi Polisi Syariah Aceh terhadap orang-orang yang tergabung dalam Komunitas Punk disana. Saya termasuk kedalam orang-orang yang jengkel tersebut. Bagaimana tidak, atas nama menegakkan Syariat Islam aparat pemerintah tersebut melanggar hak kebebasan berekspresi seseorang yang jelas-jelas dijamin oleh konstitusi kita. Banyak tulisan yang terbit memprotes tragedi ini. Dari sekian banyak tulisan protes tersebut, saya memilih sebuah esai dari Morgue Vanguard atau dikenal juga sebagai Ucok Homicide sebagai yang terbaik. Esai yang berjudul Making Punk A Threat Again tersebut memandang permasalahan ini dari dua arah. Kalau tulisan sejenis hanya menyalahkan pihak aparat, esai ini juga menyindir pihak Komunitas Punk itu sendiri. Morgue Vanguard menganggap kebanyakan anak punk kini telah kehilangan jati diri mereka. Padahal pilihan untuk menjadi seorang Punk datang dari keyakinan bahwa kemerdekaan diri adalah sebuah keniscayaan. Tapi yang terjadi di Aceh adalah penghianatan melalui jalan terima saja dilakukan seperti itu.

8.             Makanan Terbaik: Coto Gagak

Pada suatu malam entah kenapa saya dan beberapa orang teman keroncongan bersama. Dan malam itu kami begitu kompak untuk mencari makanan istimewa. Pilihan awal jatuh pada Palubasa Serigala yang legend itu. Setibanya di lokasi makan paling hangat dibicarakan itu, ternyata tempat itu sudah tutup. Indra menyarankan kami untuk makan coto saja. Katanya ada coto terdekat yang juga berlabel legend bernama Coto Gagak. Ah, sebenarnya saya punya pengalaman tidak mengenakkan dengan jenis makanan satu ini. Saya pernah tiba-tiba sakit setelah menyantap makanan paling khas Makassar tersebut. Tapi Indra menjamin coto ini beda. Setibanya kami disana langsung saja kami memesan seporsi satu orang. Ketika mencicipinya pertama kali, benar saja, coto ini begitu nikmat walau belum diracik dengan garam dan sambal. Kuahnya memang sudah gurih. Dagingnya terasa lebih nikmat di lidah. Harganya lebih mahal sedikit dari coto lainnya. Tapi itu sepadan kok dengan sensasi nikmat yang disuguhkan. Ah, tak kuat saya membayangkannya lagi.

Nah itulah Terbaik Terbaik dari tahun 2011 versi saya. Bagaimana dengan kalian?

Semoga lebih banyak hal menyenangkan di tahun 2012 ini ya.

Sabtu, 31 Desember 2011

Menonton Efek Rumah Kaca


Apa lagi yang lebih membahagiakan daripada menonton konser band kesayangan, bersama teman-teman terbaik pula. Saya rasa sudah tidak ada. Jumat malam ini saya dan banyak teman menghadiri Shopping Concert Chambers Yes 2011. Headliner utama pada konser kali ini adalah band yang paling berpengaruh dalam hidup saya, Efek Rumah Kaca (ERK). Ini kali keempat saya menonton mereka. Tiga kali di Makassar dan sekali di Jakarta. Bagi saya, tak pernah ada kata bosan untuk mendengarkan dan menyaksikan mereka.

Konser kali ini terasa istimewa karena beberapa hal. Selain karena menonton bersama teman-teman, setelah konser saya juga harus membuat semacam ulasan tentang gigs kali ini untuk sebuah webzine potensial asal Tarakan East Borneo, Abodmu (saya sudah sering mengatakan ini di postingan sebelumnya kan). Jadi, ketahuilah, saat kalian sedang asyik saja menonton dan sing a long sepanjang konser, disaat bersamaan saya harus telaten menyimak setiap sudut stage dan memperhatikan apa saja yang terjadi selama pertunjukan berlangsung.

Tapi alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Saya bisa menikmati jalannya konser namun tetap bisa membuat ulasan, tepat sesuai dengan waktu yang diharapkan. Hasil liputan amatiran saya bisa disimak disini

Sebenarnya saya tidak akan membahas banyak tentang ERK disini. Sepertinya semuanya juga sudah tahu, Efek Rumah Kaca ada sebuah jaminan mutu untuk setiap konser yang memasang mereka sebagai penampil (apa saya terlalu berlebihan ya?). Tapi kali ini saya mau lebih banyak bercerita tentang teman-teman saya yang turut serta pada konser malam tadi. Ada teman-teman serumah di Asrama Tarakan: Asdi, Rusdi, Gepeng, Memet dan Kodir. Juga ada teman-teman akrab di kampus: Arif, Cua, Isak, Bon dan Okky.

Untuk teman-teman asrama, okelah, rata-rata mereka sudah menyukai ERK sejak lama. Kecuali Memet yang sedari dulu adalah fans militan dari unit menye-menye, Ungu dan Kodir (sebenarnya nama asli orang ini adalah Chaidir teman-teman) yang saat ini sepertinya sangat berhasrat menjadi anggota boy band ibukota. Tapi baiknya, mereka tampak menikmati konser malam tadi. Khusus untuk Rusdi, terimakasih atas pinjaman BB-nya untuk saya mengambil gambar.

Nah, kalau teman-teman kampus punya kisah tersendiri. Cerita mereka mau menonton konser yang mengahadirkan ERK cukup berwarna. Oke, saya ceritakan saja satu-persatu. Dimulai dari Arif. Sebelum mengenal saya, Arif adalah Ungu Cliqers (Sebutan untuk fans setia band Ungu) terbesar dari Kota Sorong. Sama dengan Memet, Arif sepertinya akan rela mati demi band yang satu itu. Ketika mulai akrab, saya menjejalinya dengan musik-musik kesukaan saya semacam ERK dan Frau. Alhamdulillah beberapa musisi hasil rekomendasi dari saya telah terpasang di playlist-nya. Walau masih saja dia tetap setia dengan Ungu-nya. Lihat saja jejaring sosialnya kalau tidak percaya. Segera lupakan band berwarna janda itu Arif!

Kalau Cua lain lagi. Ia adalah teman yang paling berhasil saya pengaruhi dalam hal mendengarkan musik kesukaan saya. Tercatat, sudah tiga kali saya berhasil mengajak serta Cua ke acara konser musik. The Trees And The Wild, Frau dan ERK adalah band yang sudah sempat ia saksikan bersama saya. Semasa SMA Cua adalah seorang personil kelompok nasyid. Menurut cerita, ia sudah sempat tampil di beberapa tempat di Maros maupun Makassar. Sungguh pencapaian yang luar biasa. Tapi seorang penyanyi nasyid yang juga menjadi penikmat musik berkualitas adalah pencapaian yang lebih luar biasa lagi. Percayalah itu cua!

Sejatinya Isak adalah seorang penggemar film. Namun ketika saya ajak untuk menonton konser ERK ia langsung mengiyakan. Alasannya, tentu saja karena teman-teman yang lain sudah pasti akan turut serta. Kan tidak enak, menonton film lewat notebook dengan keadaan ditinggal sendiri di rumah. Tapi siang sebelum kami akan menonton konser ini, Isak ternyata mempersiapkan beberapa hal. Ia men-download beberapa lagu ERK dan berusaha menghafalnya. Sepertinya Ia tidak mau ketinggalan untuk sing a long. Alhamdulillah Isak juga terlihat menikmati konser hingga usai.

Eh catatan tambahan untuk ketiga teman seperjuangan saya ini. Ada hal yang membuat konser kali ini tambah istimewa. Karena takut terjebak macet, kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju tempat konser. Sialnya, ternyata jalan tidak terlalu macet. Jalanan padat, namun masih kondusif untuk dilewati. Apa lacur, ya kami berjalan kaki sejauh lebih dari satu kilometer pergi-pulang. Untung ada sedikit hiburan dari nikmatnya nasi kuning tengah malam yang kami temui sewaktu pulang.

Konser tadi malam bukan hanya milik laki-laki. Duo Gosip (hahaha... akhirnya saya menemukan nama yang keren untu kalian) Okky dan SriBon juga turut serta. Sebenarnya kedua wanita enerjik ini adalah penggemar musisi barat, semacam Lady Gaga, Maroon 5 dan Panic! At The Disco. Namun sejak saya memperdengarkan ERK, Bon langsung suka. Begitu juga Okky. Katanya Ia suka dengan liriknya. Syukurlah kalian dikaruniai kuping yang peka terhadap lagu-lagu bagus. Hehehe..

Khusus Okky, awal perkenalan saya dengannya juga karena musik. Sekitar tahun 2007 Okky meng-add Friendster saya (ya Friendster teman-teman). Karena saya memasang gambar musisi asal Inggris, Mika, sebagai profil picture waktu itu. Ya, kami sama-sama suka Mika waktu itu.

Sebenarnya saya tidak yakin kedua gadis ini akan datang, mengingat penonton sudah terlalu padat. Tapi tak disangka, hujan dan ancaman akan terhimpit ditengah penonton yang kebanyakan laki-laki tak menghalangi mereka. Mereka datang sesaat sebelum ERK akan tampil. Ketika ERK mulai beraksi, semua menikmati, termasuk kedua teman saya ini. Sampai penonton di bagian tempat kami menonton mulai rese. Mereka mulai saling mendorong satu sama lain. Tak ada pilihan lain, kami harus mundur ke daerah yang lebih tentram.

Kejadian sempat terhimpit tadi ternyata tidak membuat mereka kecewa. Alhamdulillah semua tetap menikmati dan puas dengan konser barusan. Ini terlihat dari kicauan rasa senang  mereka di twitter sesat setelah konser selesai.

Ah, tadi malam itu sungguh berkesan. Tak mudah mendapatkan momen semacam itu. Bagaimana kawan-kawan? Setuju kan dengan saya? :))

Sabtu, 03 Desember 2011

Lagu Kala Hujan

Akhir tahun bukan hanya soal persiapan Natal dan Tahun Baru. Bagi masyarakat Indonesia, akhir tahun adalah juga soal akhir dari penantian panjang. Ada yang baru datang di akhir tahun setelah dinanti berbulan-bulan, yaitu hujan. Banyak hal yang datang bersama dengan datangnya hujan: Kesejukan, ketentraman, juga terkadang kegelisahan. Sebaliknya pasti akan ada yang pergi seiring dengan berjatuhannya titik-titik air hujan tersebut.

Ini hasil pengamatan pribadi saya terhadap orang-orang sekitar, baik melalui jejaring sosial maupun kehidupan sesungguhnya. Ada yang begitu bahagia dengan datangnya hujan, karena musim panas telah berlalu. Ada yang mulai (kalau kata anak muda jaman sekarang) meng-galau kala hujan. Bahkan ada seorang teman yang menjadikan momen musim hujan untuk balikan dengan pacarnya. Macam-macam saja ya.

Bagi saya sendiri tidak ada hal spesial di musim hujan. Kegiatan yang saya lakukan pun sama saja dengan kegiatan di musim panas. Di waktu weekday, saya tetap harus bangun pagi, pergi kuliah dan mengerjakan tugas-tugas. Weekend tiba giliran nyuci dan bersih-bersih kamar yang menjadi kewajiban.

Hal yang berbeda mungkin hanya soal musik yang akan rutin didengar. Jika di luar musim hujan, genre musik yang saya dengar lebih bervariatif, nah, di musim hujan ini akan lebih asyik kalau mendengarkan musik yang bertempo lambat. Musik jenis ini sangat mendukung suasana menurut saya. Tapi jangan sampai terbawa suasana dalam beraktifitas. Bisa-bisa semua pekerjaan ikut terganggu.

Berikut ini lima buah lagu kesukaan saya kala hujan tahun ini. Kesemuanya adalah lagu-lagu dari para musisi tanah air. Memang akhir-akhir ini saya lebih suka mendengarkan musik-musik dalam negeri. Empat diantaranya memakai kata "hujan" sebagai judul. Tapi tidak berarti semua lagu yang berjudul menggunakan kata "hujan" saya sukai. Tentu lagi-lagi karena perbedaan selera ya. Tidak perlu diperdebatkan. Karena memang, "Selera tidak dapat diperdebatkan."

Ini dia lima lagu kala hujan favorit saya:

Quasi - Pelangi Selepas Hujan

Bulan lalu, bertepatan dengan awal musim hujan 2011 grup post-rock asal Yogyakarta merilis single baru bebas unduh berjudul "Pelangi Selepas Hujan." Quasi memperhitungkan betul momen untuk membagi secara gratis lagu mereka. Lagu ini langsung klop dengan momen. Jka musim hujan ini adalah sebuah film maka lagu ini sangat cocok untuk  menjadi sound track-nya

Bercerita tentang kebahagiaan dengan datangnya musim hujan yang telah begitu lama dinanti. Suara Iwan Aryanto sang vokalis memang selalu memberikan warna tersendiri pada tiap-tiap lagu Quasi. Pun pada lagu ini, Iwan melaksanakan isian vocal dengan sangat baik. Suaranya cempreng namun sangat enak didengar karena begitu menyatu dengan musik.

Yang saya sukai dari lagu ini adalah, lagu ini tidak terlalu mendayu. Juga musik mengawang khas Quasi masih terasa di lagu ini. Sangat bisa memberikan semangat kala hujan turun.
Telah lama ku nanti musim-mu kan berganti
Memecah rindu membasahi ruang hijau berseri
Seketika indah warnamu membentang sempurna
Frau - Mesin Penenun Hujan

Jika ada wanita yang bisa menghibur saya saat berhadapan dengan hujan yang begitu menjengkelkan, Frau lah orangnya. "Mesin Penenun Hujan" sebenarnya sudah saya nikmati sejak pertama kali dirilis di pertengahan 2010 yang lalu. Lagu ini kembali intens saya dengar setiap waktu senyap termasuk ketika hujan. Lagunya begitu menentramkan.

Lagu ini tercipta dari imajinasi Leilani Hermiasih alias Frau yang membayangkan rintikan hujan sebagai mesin penenun. Lirik lagunya begitu puitis yang memang menjadi ciri khas pada tiap lagu Frau. Ditambah dengan permainan piano yang begitu ciamik membuat lagu ini salah satu lagu kala hujan terbaik bagi saya.
Kau sakiti aku, kau gerami aku
Kau sakiti, gerami, kau benci aku
Tetapi esok nanti kau akan tersadar
Kau temukan seorang lain yang lebih baik
Dan aku kan hilang. Ku kan jadi hujan
Tapi takkan lama, ku kan jadi awan
Koil - Lagu Hujan

Band keras Koil tenyata juga mendapatkan inspirasi untuk membuat lagu tentang hujan. Jika pada lagu-lagu Koil yang lainnya selalu penuh emosi dan bertenaga, lagu ini terdengar berbeda. Dibuka dengan permainan gitar yang menarik. Lalu mulai muncul suara-suara instrumen elektronik yang semakin menambah kaya lagu ini.

"Lagu Hujan" menarik karena bercerita tentang hujan yang menjadi tempat perhentian. Dalam hidup ada kala dimana kita harus berhenti sejenak dari segala rutinitas. Untuk selanjutnya berpindah kepada rutinitas yang lainnya.
belum berhenti…
begitu derasnya hujan ini
mulai terangkai angan
menyusun beling beling kenangan
banyak ilusi...
banyak yang sudah teralami
begitu banyak gembira 
hanya kecewa tertanam di hati

Efek Rumah Kaca - Desember


Tiap tahunnya, "Desember" saya nobatkan sebagai anthem of end year. Lagu ini sangat berkesan sejak pertama saya mendengarkannya ketika SMA. Seperti biasa, Efek Rumah Kaca tidak pernah membuat lagu yang mengecewakan. Cholil, Adrian dan Akbar selalu dapat merangkai musik dan syair menjadi lagu yang enak didengar.

Desember adalah lagu hujan terbaik menurut saya. Juga bagi banyak orang tentunya. Karena memang lagu ini menampilkan perpaduan yang begitu mantap. Antara musik minimalis yang begitu menawan dan syair lagu yang sangat dalam. Lagu ini semacam ode untuk suasana selepas hujan. Hujan memang selalu dinanti. Tetapi klimaks akan selalu terjadi saat setelah hujan.


Aku selalu suka sehabis hujan di Bulan Desember.
Seperti pelangi setia menunggu hujan reda.
Efek Rumah Kaca - Hujan Jangan Marah

Lagu "Desember" memang lagu hujan terbaik. Tapi "Hujan Jangan Marah" memiliki sesuatu yang membuatnya istimewa. Kalau Desember terkesan datar, lagu ini lebih variatif. Pelan di awal namun sangat bertenaga di bagian akhir. Liriknya juga sangat ciamik. Dari segi inilah lagu yang terdapat pada album "Kamar Gelap" ini tidak kalah dengan lagu-lagu Efek Rumah Kaca yang lainnya seperti "Desember" dan "Melankolia." Lagu ini adalah doa. Menurut sumber yang saya baca, lagu ini memang dibuat ditengah bencana banjir besar yang melanda Jakarta ketika itu. Teriakan "Hujan Jangan Marah" pada lagu ini mengambarkan dengan jelas keadaan waktu itu.

Bagian yang paling saya suka dari lagu ini adalah liriknya yang begitu puitis. Tentu tidak mudah membuat lirik lagu seperti ini. Tapi Cholil dkk selalu bisa menciptakan lagu yang keren tanpa kesan sok pintar atau pun sok menggurui.
Lihatkah? aku pucat pasi, sembilu hisapi jemari
Setiap ku peluk dan menangisi hijau pucatnya cemara
Yang sedih aku letih
Dengarkah? Jantungku menyerah, terbelah di tanah yang merah
Gelisah dan hanya suka bertanya pada musim kering
Melemah dan melemah
Hujan, hujan jangan marah...