Baca disini
"These are the postcards from a young man. They may never be written or posted again." - Manic Street Preachers
Tampilkan postingan dengan label Makassar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makassar. Tampilkan semua postingan
Kamis, 07 Januari 2016
Rabu, 17 Desember 2014
Tamasya Musik Keras di Rock In Celebes 2013
Setelah diserbu oleh gigs jazz di bulan November, giliran
musik keras yang menutup akhir tahun Kota Makassar. Rock In Celebes (RIC),
pesta rock tahunan yang telah mendapat pengakuan sebagai festival rock terbesar
di Indonesia Timur kembali dihelat. Selama empat hari, 12-15 Desember 2013,
festival ini sungguh memanjakan para penikmat musik berisik Kota Daeng.
Ada beberapa perbedaan yang ditampilkan Chambers
Entertainment selaku penyelenggara pada RIC 2013 ini. jika biasanya digelar
pada pertengahan tahun, tahun ini RIC sengaja diadakan pada bulan Desember,
bersamaan dengan helatan Celebes Clothing Fest. Kedua kegiatan besar ini
disatukan waktu pelaksanaannya dan dibungkus dalam satu perayaan bernama
Chambers 10Th Festival. Kegiatan ini sekaligus untuk merayakan ulang
tahun ke-10 unit usaha Chambers.
Bersamaan dengan waktu pelaksanaan yang diperpanjang menjadi
empat hari, RIC 2013 juga menghadirkan lebih banyak penampil. Setidaknya ada
40-an band yang hadir memanaskan moshpit, baik yang bertaraf lokal, nasional
sampai Internasional.
Setiap hari, waktu main para penampil dibagi menjadi dua
sesi. Siang untuk band voting dan band lokal. Sedangkan untuk malam hari
giliran headliner dan co-headliner yang memanaskan stage. Hal ini membuat
distribusi penonton untuk setiap penampilan tidak merata. Penonton sangat
sedikit pada sesi siang dan baru mulai ramai ketika malam hari yang diisi oleh
band-band yang memang sudah punya nama.
Di hari pertama, Kamis, 12 Desember 2013, gemuruh musik
mulai terdengar sejak pukul dua siang. Beberapa band lokal dipercaya menjadi
pembuka di hari itu. Bonzai yang biasanya memainkan pop manis, kali ini
membawakan set rock mereka. Lagu-lagu seperti “Kawan Lama” dan “OMG” dimainkan
dengan sedikit lebih keras. Mereka juga sempat meng-cover hits “Still In To You” milik Paramore.
Selain itu ada juga band rock progresif The Finalist yang
tetap bersemangat memainkan setlist mereka walau penonton belum terlalu banyak.
Empat karya sendiri, “Taklukkan Dunia”, “Bila”, “Malaikat Cinta” dan “Berhasil”
cukup memanaskan pembukaan RIC 2013. Setelahnya ada Paniki Hate Light, unit
post-hardcore yang sudah cukup punya nama di skena metal Makassar. Band ini
cukup ditunggu oleh beberapa penonton yang langsung merapat ketika nama mereka
dipanggilkan. Sayang, karena kesalahan teknikal di bagian bass, mereka hanya
sempat memainkan dua lagu, “Survival” dan “Time Travel”.
Sebelum rehat maghrib, ada Galarasta yang memberikan warna
yang berbeda di RIC 2013 ini. Tetap konsisten dengan musik Raggae, band ini
berhasil mengajak penonton untuk bergoyang santai. Nomor “Woyyo” serta dua lagu
cover, “Beautiful Disaster” milik 311
dan “Anak Pantai” dari Imanez sukses membuat enjoy penonton sebelum istirahat.
Pada sesi malam penonton mulai terlihat ramai. Mulai pukul tujuh
malam, arena konser langsung dipanaskan oleh unit metal kebanggaan Kota Solo,
Down For Life. “Prosa Kesetaraan” dipilih menjadi lagu pembuka. Langsung saja moshing dan head-banging terjadi di muka stage. Nomor-nomor andalan seperti “Kami
Adalah Api”, “Pesta Partai Bar-Bar” dan “Menuju Matahari” sukses memanaskan
arena moshpit. Hits “Pasukan Babi Neraka” sukses menutup penampilan Down For Life
yang total membawakan sembilan lagu malam itu.
Selanjutnya ada C.U.T.S, band elektro rock asal Kota
Kembang, Bandung. Minus salah satu vokalisnya, penampilan C.U.T.S tetap
beringas malam itu. Ykha Amelz, sang vokalis utama tampil casual dengan kemeja putih dan celana panjang hitam. Tapi jangan
salah, penampilan perempuan berambut panjang ini tidak sesantai dandanannya.
Aksi panggungnya sangat atraktif. Ia berhasil memimpin penonton berjingkrak dan
bernyanyi bersama. Lagu yang paling banyak perhatian, apalagi kalau bukan hits “Beringas”.
Malah, lagu ini sempat dimainkan dua kali. Kendala teknis di bagian instrumen
elektro membuat penonton meminta “Beringas” kembali dimainkan. Kali ini dalam
set yang lebih sempurna. Penampilan menawan C.U.T.S ditutup dengan hits pertama
di album terbaru mereka, “Teriak Gila”. Penonton betul-betul berteriak gila di
bagian ini.
RIC 2013 hari pertama ditutup oleh headliner utama, Chris Carrabba.
Diluar dugaan penonton, Dashboar Confessional yang dikonfirmasi sebagai
penampil internasional batal datang dengan full tim. Chris Carrabba, vokalis
band rock emo tersebut terpaksa tampil solo dengan set akustik. Lagu hits
seperti “Vendicated” dan “Stolen” tetap dibawakan, namun tentu dengan rasa yang
berbeda. Beberapa penonton terlihat tidak bersemangat. Namun beberapa tetap
bertahan di depan panggung. Mungkin mereka adalah penggemar berat Dashboard
Confessional atau malah pemuja Chris Caraba yang tampil sangat klimis malam itu.
Di hari kedua, konser dibuka oleh beberapa band lokal
potensial seperti Wild Horse, Kemenyan, Pop Is Dead, juga Unremains. Wild Horse
yang mengusung Rock and Roll seperti melakukan warming up kepada penonton yang menunggu penampil utama malam itu,
The SIGIT. Sedangkan penampilan Kemenyan mengingatkan penonton kepada band
Black Metal legendaris, Kiss. Semua personel mereka juga mengecat wajah menjadi
putih dengan pola hitam.
Setelah itu giliran gerombolan Punk Rock, Pop Is Dead yang memanaskan
panggung. Band ini tampil unik dengan memasukkan unsur instrumen tradisi
Sulawesi Selatan ke dalam musik mereka. Suling Bugis-Makassar dan Gandrang Bulo
menyatu dengan raungan musik keras yang menjadi akar bermusik Pop Is Dead. Athem penyemangat “My Father Punk Rock”
menjadi pembuka. Sing along massal terjadi ketika mereka membawakan “Enter
Sadman” milik Metallica. “Angin Mammiri” dalam tempo yang sangat cepat menjadi
penutup istimewa band yang akan melakukan tur lima kota pada Februari tahun depan
ini.
Selepas break maghrib,
kebisingan dibuka oleh band mengejutkan asal Kota Palu, The Box. Mengejutkan
karena penonton tidak pernah menyangka ada band sematang mereka yang berasal
dari kota seperti Palu. Sebenarnya mereka memainkan modern rock yang besar di
awal tahun 2000-an. Yang menarik dari The Box adalah mereka memadukan dasar
musikal mereka tersebut dengan alat musik tradisional Palu. Tidak terkesan
dipaksakan, bunyian alat musik tiup dan jejeran gamelan menyatu pas dalam musik
keras yang mereka mainkan. “melihat penampilan mereka, seperti menemukan harta
karun musik di pulau Sulawesi,” kata Wendi Putranto, wartawan majalah Rolling
Stone Indonesia.
Lagu yang paling menarik perhatian adalah “Sampai Mati” dan “Tadulako”.
“Sampai Mati” dibuka dengan teriakan etnik yang sangat magis lalu disusul oleh
music rock yang sangat apik. Sementara itu “Tadulako” dipilih menjadi lagu
penutup. Hits yang bercerita tentang pahlawan lokal Kota Palu ini menggunakan
bahasa daerah pada bagian lirik.
Berikutnya ada duo The Experience Brother yang siap
melanjutkan kebisingan RIC 2013 hari kedua. Hanya memainkan gitar dan drum
sudah cukup bagi mereka untuk menampilkan musik ciamik yang sangat berisik.
Nomor andalan seperti “Young Man”, “Little Pony” dan “She’s Allright” sukses
membuat penonton bersenang-senang lalu bertepuk tangan di akhir lagu.
The SIGIT tampil sebagai penutup RIC 2013 hari kedua.
Gerombolan Rock and Roll dari Bandung ini memainkan dua belas lagu, termasuk
yang diambil dari album teranyar mereka, Detourn. Hits “Detourne” sendiri
dimainkan sebagai lagu pembuka. Langsung saja gerombolan pemuda ugal-ugalan
mendominasi muka panggung. Penampilan prima The SIGIT malam itu ditutup dengan anthem pengundang sing along, “Black
Amplifier”.
Hari ketiga RIC 2013 menghadirkan ZORV, grup grunge dari
Surabaya yang juga mengejutkan. Kwartet pemuda ini memainkan musik alternatif
rock 90-an dengan sangat baik. Lagu-lagu dari album pertama mereka seperti
“Believe”, “Wealth”, “Lore” dan “Mud” cukup untuk memanaskan festival di sore
hari. Tepat sebelum rehat maghrib band yang akan vakum dalam waktu dekat ini
mengakhiri pertunjukannya.
Sesi malam hari ketiga dibuka oleh Inlander. Band ibukota
ini sangat menarik perhatian dengan sound punk rock yang mereka mainkan.
Lagu-lagu sosial-politis seperti “Bombardir”, “Bangkit Melawan” dan “Ekstrimis”
dibawakan dengan tempo yang sangat cepat. Total dua belas lagu dimainkan oleh
Inlander sebelum menutup penampilan perdana mereka di Makassar.
Setelahnya, kita diajak untuk sedikit menurunkan tempo oleh
Suri. Tetap keras, namun musik stoner rock yang mereka mainkan seolah ingin
terlihat lain dari beberapa penampil sebelumnya. lagu-lagu seperti “Sjahwat”,
“Journey”, “Gendats”, dan “Imago” dibawakan sebagai pengantar sebelum penonton
menyaksikan penampil utama malam itu.
Band penutup di hari ketiga adalah unit rock oktan tinggi,
Seringai. Para Serigala Militia (sebutan untuk basis penggemar mereka) sudah
terlihat berkumpul sesaat sebelum mereka naik panggung. “Dilarang di Bandung”
menjadi pembuka kemudian disusul dengan “Kilometer Terakhir” serta hits pertama
dari album Taring, “Tragedi”. Langsung saja para begundal-begundal mendominasi
moshpit. Lagu-lagu dari album Serigala Militia, seperti “Citra Natural”,
“Serigala Militia” dan “Amplifier” juga dibawakan. Sebagai penutup, lagu
pengundang sing along massal, “Mengadili Persepsi” yang dimainkan. Kepalan
tangan di udara dan teriakan “Individu Merdeka…” langsung riuh sebelum akhirnya
Seringai meninggalkan panggung.
Hari terakhir, Minggu, 15 Desember, menjadi puncak keramaian
RIC 2013. Di sore hari tampil duta Blues Makassar, The Blues Fresh. Mereka
tampil sangat prima dalam tempo tampil lebih dari satu jam. Masih dengan gaya
yang sangat genit, vokalis mereka terus menggoda penonton untuk ikut menikmati
musik The Blues Fresh yang memang sangat menarik.
Setelah rehat maghrib, malam terakhir RIC 2013 dibuka oleh
Kapital, metalhead dari tanah Kalimantan. Mereka mengawali penampilan mereka
dengan rekaman lagu “Indonesia Tanah Air Beta”. Cara yang sangat ampuh untuk
memancing semangat penonton. Langsung saja “Konsepsi Imajinasi” dimuntahkan
sebagai pembuka. Menyusul kemudian “Sistem Munafik”, “Melawan Setan Kesedihan”
dan “Restorasi Dua Sisi” dimainkan. Band ini ternyata sudah punya cukup banyak
penggemar di Makassar. Riuh crowd tak pernah berhenti di sepanjang penampilan
mereka.
Selanjutnya giliran grup Green Grunge Getlemen yang membuat
kebisingan. Ini adalah penampilan pertama untuk Roby, Dangkie, Made dan Gembul
di Makassar. “Hitung Mundur” dimainkan sebagai pembuka. Selanjutnya, lagu-lagu
dengan tema lingkungan seperti “Orang Utan”, “Bubur Kayu” dan “Metropolutan”
turut dibawakan. Yang paling menarik perhatian adalah “I Refuse To Ferget” yang
didedikasikan khusus untuk pejuang HAM Munir.
Dan tibalah bagi Burgerkill untuk menutup festival RIC 2013
yang tidak terlalu terasa sudah berjalan selama empat hari. Sama seperti
Kapital, mereka juga membuka penampilan dengan cara yang sangat nasionalis. Hits
legendaris milik Puppen, “Atur Aku” dimainkan sebagai pembuka. Selanjutnya
lagu-lagu dari album Venomous seperti “Under The Scars” dan “Only The Strong”
juga sukses memanaskan crowd. Meski sempat terjadi sedikit insiden kericuhan
antara penonton dan polisi, Burgerkill tetap melanjutkan konser dan menutup RIC
2013 dengan sangat mengesankan.
Sekitar pukul dua belas malam seluruh rangkaian RIC 2013
resmi berakhir. Seiring dengan itu, hadir kebanggaan bagi metalhead Kota
Makassar bisa memiliki festival rock sebesar RIC 2013. Sampai jumpa di Rock In
Celebes 2014. Tabik!
*Ditulis untuk Majalah Opium Edisi Februari 2014. Diposting kembali di blog ini demi dokumentasi.
Jumat, 10 Oktober 2014
MTGF 2013: Lupakan Umur, Ayo Bermain!
Untuk merayakan kecerian masa kanak-kanak, Komunitas
Jalan-Jalan Seru Makassar kembali menggelar Makassar Traditional Games Festival
(MTGF) 2013. Kegiatan yang telah
memasuki tahun keduanya ini masih dilaksanakan di Benteng Somba Opu, Makassar
pada Minggu, 27 Oktober 2013. Masih dengan semangat yang sama yaitu pelestarian
budaya permainan tradisional dan tentu saja mengembalikan keceriaan masa kecil.
Tepat pukul dua belas siang kerumunan pengunjung telah
memadati arena bermain yang berada di pusat Benteng Somba Opu. Terik matahari
tak sedikitpun mengurangi animo peserta untuk
merasakan kembali sensasi permainan tradisional yang sudah sangat jarang dimainkan
saat ini. Melalui press release-nya,
panitia pelaksana telah menyiapkan dua belas jenis permainan: Maccukke, Ma’benteng, Ma’goli’, Ma’gebo’,
mallogo, Massanto’, Lompat Karet,
Mangasing, Lambasena, Ma’dende’, Beklan, Ma’getta, dan Mallongga’.
Semua terlihat bersemangat memainkan permainannya, dengan
satu tujuan yang sama: mengembalikan kesenangan dan kegembiraan melalui
permainan tradisional yang sudah sangat jarang dimainkan. Saat bermain, beberpa
peserta terlihat seperti melupakan umur mereka yang sudah tidak anak-anak lagi.
Berlari semangat, teriakan seru lalu ditimpali dengan tertawa lepas tak henti-hentinya
hadir dari orang-orang yang hadir. Bahkan, hujan yang sempat turun di tengah keasnyikan
bermain tidak cukup untuk mengurangi antusias peserta.
“Intinya sih kita ingin menggali kenangan masa
kecilnya teman-teman lewat permainan yang mungkin sudah jarang ditemui lagi.”
Jelas Asril, salah satu panitia, tentang tujuan diadakannya MTGF 2013 ini.
“MTGF 2013 ini juga semacam pengenalan budaya permainan tradisional kepada
adik-adik sekarang.” Lanjut Asril.
Memang MTGF tahun ini tidak hanya menjadi milik orang dewasa
yang memutar memorinya ke masa lalu. Anak-anak yang datang bersama keluarga
juga terlihat antusias di beberapa arena permainan. Dalam hal ini, MTGF menjadi
semacam jembatan penghubung pewarisan
permainan tradisional di era maraknya permainan konsol yang serba instan dan
cenderung individualistic saat ini.
Dari berbagai sisi, terlihat jelas MTGF tahun ini telah
lebih baik dibanding pelaksanaannya di tahun lalu. Persiapan yang memakan waktu
kurang lebih satu bulan dimaksimalkan panitia untuk mematangkan konsep dan
teknis pelaksanaan. Penunjuk arah ke arena permainan, stan merchandise hingga pusat jajanan telah tampak tersedia. Diakui
panitia, peserta tahun ini juga jauh lebih banyak dibanding tahun sebelumnya.
“Kalau tahun lalu itu murni karena spontanitas. Tahun ini sudah ada cukup
persiapan dan lebih terorganisir.” Kata Ipul Gassing dari Komunitas Blogger
Makassar, salah satu komunitas pendukung kegiatan ini.
MTGF 2013 resmi berakhir setelah panitia membagikan hadiah
undian yang berasal dari beberapa sponsor. Sekitar pukul 17:00 Wita para
pengunjung mulai meninggalkan lokasi permainan. Tentu dengan membawa pulang
keceriaan juga harapan yang sama; semoga festival seperti ini akan terus ada di
masa yang akan datang.
Lupakan umur, ayo bermain!
Kamis, 17 April 2014
Wildhorse
Salah satu band yang tampil dalam “Solidarity Gigs Bebaskan
Satinah!” adalah unit Rock and Roll Wildhorse. Dalam banyak kesempatan mereka sering
membawakan lagu sendiri yang bernuansa keras dan liar, seperti nama mereka.
Namun pada penampilan di Kedai Buku Jenny tersebut mereka bermain dalam set
yang sedikit minimalis. Tanpa distorsi yang berlebihan mereka membawakan tiga
lagu yang masih bernafaskan Rock. Salah satu lagu yang mereka mainkan adalah
“White Sun”. Nomor berirama blues balada ini terdengar berbeda dari lagu-lagu
mereka yang lainnya.
Setelah penampilan Wildhorse di aksi solidaritas musisi
Makassar untuk Satinah tersebut, kami berkesempatan menemui mereka. Lewat
interview yang akrab kami mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang akan lebih
mengenalkan Wildhorse kepada pembaca OPIUM.
Berikut petikan wawancaranya. Selamat berkenalan dengan unit
Rock and Roll yang cadas dan liar ini.
Bisa perkenalkan Wildhorse kepada pembaca OPIUM?
Hai, kami Wildhorse. Saya Remi Setiawan pada vokal sekaligus
main gitar, terus dua teman saya, Azhary Salam pada gitar melodi dan Naldy
Rachman sebagai bassist.
Bagaimana awalnya Wildhorse terbentuk?
Awalnya dari pertemanan ji. Saya sama teman-teman sekolah
sering ngumpul-ngumpul terus kami main-main gitar. Pada tahun 2009 terpikir,
“kenapa kita tidak bikin band saja?”. Nah dari situ kita mulai ngeband dan coba
bikin lagu sendiri dalam bahasa Inggris. Sampai sekarang kita sudah punya
beberapa lagu yang sering kita bawakan kalau ada yang mengundang untuk main.
Musik seperti apa yang kalian mainkan?
Pada dasarnya kami memainkan Rock and Roll, musik-musik yang
berkembang pada 60-an, 70-an. Tapi pada perkembangannya kami juga sering memasukkan
unsur lain pada musik kami, seperti Blues, Progresif. Musik-musik yang sesuai
dengan semangat kami lah.
Apakah ada musisi yang menginspirasi kalian dalam bermusik?
Tentu saja ada. Kalau musisi, atau band yang meng-influnce
kami itu ada beberapa. Kalau dari luar negeri itu ada Led Zeppelin dan
sejenisnya. Kalau dalam negeri sendiri kami banyak mendengarkan dan terpengaruh
dari The S.I.G.I.T.
Sejauh ini karya apa saja yang telah Wildhorse hasilkan?
Rencananya dalam waktu dekat ini kami akan merilis EP
(Extended Play) perdana kami. Mungkin bulan April nanti. EP tersebut akan
berisi empat lagu. Liriknya bahasa Inggris semua. Temanya sih beragam. Tentang
lingkungan, sosial sampai cinta. Pokoknya isu-isu yang sehari-hari kami temui
lah.
Bagaimana kalian melihat perkembangan musik Makassar saat ini?
Perkembangan industri musik Makassar, terutama scene indie
sudah sangat bagus ya. Sudah banyak band yang terus menghasilkan karya. Genre
yang dimainkan juga sangat beragam. Tapi yang kami rasa masih kurang itu malah
label record-nya. Entah cuma saya saja yang kurang tahu, tapi masih sangat
susah mencari tempat untuk memfasilitasi band-band yang ingin merekam karya
mereka. Tentu akan sangat bagus lagi kalau ada orang, pengusaha yang mau
membuat label record disini.
Terakhir, kenapa kalian tertarik untuk berpartisipasi dalam Solidarity
Gigs ini?
Secara naluriah kami terpanggil ya. Naluri kami
sebagai musisi tergerak ikut berpartisipasi ketika tahu dan diajak di kegiatan
ini. Semoga dengan musik kami dan sedikit donasi yang kami berikan bisa
membantu Satinah. Harapan kami sih semoga kasus seperti ini tidak terulag lagi.
Rabu, 26 Maret 2014
Kedai Buku Jenny: Menggiatkan Literasi Meragamkan Metodologi
| Sawing (pertama dari kiri) dan Bobhy (keempat dari kiri) berfoto bersama personel Bangkutaman di Kedai Buku Jenny pada salah satu edisi KBJamming. |
Semua orang yang terlibat dalam aktifitas literasi di Kota
Makassar pasti sepakat kalau dunia membaca-menulis-berdiskusi di kota ini
sedang bergairah. Sudah beberapa tahun belakangan ini kegiatan tersebut sedang
bergerak menuju ke arah yang positif. Mudahnya akses pada ilmu pengetahuan
kemudian melahirkan semakin banyak ruang bersemainya ide-ide kreatif.
Masyarakat kini disuguhkan pilihan tempat yang semakin bervariatif, tidak
melulu tempat yang sudah terlalu umum dan menggunkana cara-cara yang sangat
transaksional.
Salah satu geliat literasi tersebut datang dari Kedai Buku
Jenny. Toko buku minimalis yang namanya sering disingkat menjadi KBJ ini tidak
hanya menjadi tempat transaksi jual-beli. Lebih dari itu mereka juga
menghadirkan cara-cara lain untuk lebih mendekatkan masyarakat pada dunia
membaca-menulis-berdiskusi. Lewat beberapa event
yang rutin mereka laksanakan kegiatan yang selama ini terkesan kaku tersebut
dibuat menjadi lebih groovy.
KBJamming misalnya. Event
yang rutin dilaksanakan setiap bulan ini mengajak siapa saja untuk menikmati
musik sambil turut serta dalam diskusi yang banyak membicarakan tentang
problematika kota. Kegiatan semacam ini tentu masih sangat baru di Makassar. Bagaimana
KBJ bisa mempertemukan orang-orang yang berkegiatan di bidang seni dengan mereka yang selama ini menggandrungi diskursus perkotaan.
Pada suatu sore yang mendung, saya bertandang ke KBJ untuk
bertemu kemudian mengobrol dengan kedua pendirinya, Bobhy dan Sawing. Dengan sangat
ramah, mereka menjawab semua pertanyaan yang saya ajukan secara mendetail.
Bisa ceritakan ide awal untuk membuat Kedai Buku Jenny (KBJ)?
Bobhy: kita
berdua ini sama-sama bermimpi untuk punya toko buku. Dulu, sekitar tahun 2005 saya
sama beberapa teman pernah membuat tempat serupa KBJ ini. Dulu namanya Idefix.
Tempatnya itu di depan UKIP (Universitas Kristen Indonesia Paulus). Itu
dibangun bersama teman-teman aktivis kampus. Tapi Idefix itu tidak terlalu lama
ji bertahan. Kemudian waktu 2011,
saya cerita-cerita dengan Sawing, “ayo deh bikin toko buku.” Mumpung waktu itu
kita lagi sekolah di Jogja, bisa dapat banyak buku. Kita wujudkan mi mimpi itu. Awalnya kita yang beli
buku di Jogja terus dikirim ke Ridho, salah satu awak KBJ. Dia disini yang
jalankan ini KBJ.
Tapi awalnya kita belum punya nama. Kita belum pakai nama “Kedai Buku Jenny” saat itu. Sampai kemudian saya sama Sawing datang ke sebuah event di Jogja, namanya itu Rock Siang Bolong. Itu event tahunan yang dibuat sama anak-anak ISI (Institut Seni Indonesia) Jogja. Sebenarnya datang karena penasaran ji, karena temanya itu “Fuck Nineties!”. “wis event apa ini, provokatif sekali.” Terus lihat line up-nya, nda ada yang betul-betul kita kenal. Nah disitu kita bertemu pertama kali dengan band yang namanya Jenny itu. Kemudian kita tertarik dengan lagunya: Mati Muda, Maha Oke, dan sebagainya. Terus bertemu di beberapa gig dan akhirnya kita memperkenalkan diri. Sampai suatu waktu pulang liburan kesini, tiba-tiba saja telintas: “kayaknya ini mi nama kedai buku ta!” Dan Sawing juga mengiyakan.
Walau akhirnya band Jenny berganti nama menjadi Festivalist, kita tetap pakai nama itu. Kenapa kemudia nama Jenny yang kita pakai? Karena dari materi lagu mereka kita mendapatkan tema-tema kesetaraan, tema “bahagia itu sederhana”. Itu semua sangat dieksplorasi di lagu-lagu mereka. Jadi awalnya mungkin Jenny itu bagi kita hanya sebagai band, tapi kemudian dia menjadi sebuah gagasan yang kita rasa cocok untuk kedai buku ini. seperti itu.
Mengapa berani membuat toko buku minimalis di tengah dominasi toko buku besar saat ini? Bagaimana bisa bertahan sampai sejauh ini?
Sawing: Jadi KBJ ini tidak pernah diniatkan untuk menyaingi toko buku besar atau yang lain. Konsepnya itu sendiri masih terinspirasi dari Jenny. Jadi Jenny itu kan konsepnya “Almost rock barely art”, hampir rock nyaris seni. Jadi “hampir” dan “nyaris”-nya itu yang kita adaptasi lagi dalam mendesain kedai buku ini. Ya konsepnya KBJ ini “hampir toko buku” dan “nyaris galeri seni”. “Hampir toko buku” berarti KBJ ini tidak seperti kedai buku pada umumnya: anda datang sebagai pembeli, kami layani seadanya, silahkan ambil, kita bertransaksi, yang hubungannya sangat transaksional. Tidak seperti itu. Tapi kita ingin ada interaksi yang lebih berkualitas di dalamnya. Kita ingin berbagi ide atau pun tukar gagasan di dalam hubungan tersebut. Terus “barely art gallery”, Seni itu kan tidak selalu dekat dengan kata “megah”, toh. Jadi seni yang kita maksud adalah setiap sudut itu bisa di-create Menjadi galeri seni tersendiri. Kita ingin ruang-ruang yang nda tampak seperti galeri bisa kita desain sedemikian rupa hingga punya nilai seni. Sehingga bisa membuat orang tertarik.
Kalau bagaimana bisa bertahan? Nah, ini pertanyaan penting ini. Jadi cara yang kita tempuh adalah menjalankan konsep “Jenny” tadi. Terus memang kita berada di lingkungan yang cukup mendukung tempat-tempat seperti ini. perlahan akhirnya kita bertemu dengan Vonis Media, Kampung Buku, ya teman-teman yang memang concern dengan isu literasi. Selain itu, manajemen harus tertata dengan baik pembagian tugasnya.
Tapi awalnya kita belum punya nama. Kita belum pakai nama “Kedai Buku Jenny” saat itu. Sampai kemudian saya sama Sawing datang ke sebuah event di Jogja, namanya itu Rock Siang Bolong. Itu event tahunan yang dibuat sama anak-anak ISI (Institut Seni Indonesia) Jogja. Sebenarnya datang karena penasaran ji, karena temanya itu “Fuck Nineties!”. “wis event apa ini, provokatif sekali.” Terus lihat line up-nya, nda ada yang betul-betul kita kenal. Nah disitu kita bertemu pertama kali dengan band yang namanya Jenny itu. Kemudian kita tertarik dengan lagunya: Mati Muda, Maha Oke, dan sebagainya. Terus bertemu di beberapa gig dan akhirnya kita memperkenalkan diri. Sampai suatu waktu pulang liburan kesini, tiba-tiba saja telintas: “kayaknya ini mi nama kedai buku ta!” Dan Sawing juga mengiyakan.
Walau akhirnya band Jenny berganti nama menjadi Festivalist, kita tetap pakai nama itu. Kenapa kemudia nama Jenny yang kita pakai? Karena dari materi lagu mereka kita mendapatkan tema-tema kesetaraan, tema “bahagia itu sederhana”. Itu semua sangat dieksplorasi di lagu-lagu mereka. Jadi awalnya mungkin Jenny itu bagi kita hanya sebagai band, tapi kemudian dia menjadi sebuah gagasan yang kita rasa cocok untuk kedai buku ini. seperti itu.
Mengapa berani membuat toko buku minimalis di tengah dominasi toko buku besar saat ini? Bagaimana bisa bertahan sampai sejauh ini?
Sawing: Jadi KBJ ini tidak pernah diniatkan untuk menyaingi toko buku besar atau yang lain. Konsepnya itu sendiri masih terinspirasi dari Jenny. Jadi Jenny itu kan konsepnya “Almost rock barely art”, hampir rock nyaris seni. Jadi “hampir” dan “nyaris”-nya itu yang kita adaptasi lagi dalam mendesain kedai buku ini. Ya konsepnya KBJ ini “hampir toko buku” dan “nyaris galeri seni”. “Hampir toko buku” berarti KBJ ini tidak seperti kedai buku pada umumnya: anda datang sebagai pembeli, kami layani seadanya, silahkan ambil, kita bertransaksi, yang hubungannya sangat transaksional. Tidak seperti itu. Tapi kita ingin ada interaksi yang lebih berkualitas di dalamnya. Kita ingin berbagi ide atau pun tukar gagasan di dalam hubungan tersebut. Terus “barely art gallery”, Seni itu kan tidak selalu dekat dengan kata “megah”, toh. Jadi seni yang kita maksud adalah setiap sudut itu bisa di-create Menjadi galeri seni tersendiri. Kita ingin ruang-ruang yang nda tampak seperti galeri bisa kita desain sedemikian rupa hingga punya nilai seni. Sehingga bisa membuat orang tertarik.
Kalau bagaimana bisa bertahan? Nah, ini pertanyaan penting ini. Jadi cara yang kita tempuh adalah menjalankan konsep “Jenny” tadi. Terus memang kita berada di lingkungan yang cukup mendukung tempat-tempat seperti ini. perlahan akhirnya kita bertemu dengan Vonis Media, Kampung Buku, ya teman-teman yang memang concern dengan isu literasi. Selain itu, manajemen harus tertata dengan baik pembagian tugasnya.
Bobhy: sebenarnya
kegagalan tempat-tempat seperti ini kan karena lemahnya manajemen kedai
bukunya. Jadi makanya sejak awal kita bilang, ini bisnis. Bahwa dia punya semangat
yang coba kita sampaikan lewat banyak media yang kita gagas disini. Tapi untuk
menghidupi ini kita harus bingkai dia dalam kerangka bisnis. Agak susah kalau
tidak begitu. Karena pelajaran dari sebelumnya itu begitu. Konsepnya
pertemanan. Semuanya tidak tercatat dengan baik. Selalu “pakai mi dulu”. Akhirnya ya begitu. Tidak
bertahan. Nah, itu yang sejak awal coba kita tata dengan baik. Okelah, dari
toko buku kecil apa sih yang bisa
diharapkan. Tapi dari hasil yang sedikit itu coba kita catat dengan baik,
khususnya di masalah keuangan. Karena kita percaya sekali, agak susah kita
mengevaluasi sejauh mana capaiannya kalau hal-hal yang sifatnya manajerial
seperti itu juga tidak terurus dengan baik. Makanya hal itu juga menjadi
penting. Kita sih optimis saja bahwa
manajemen yang relatif bagus yang kita tempuh selama ini bisa menjadi modal
untuk membuat KBJ bertahan. Itu obsesi kita. Karena terlalu banyak kebahagian
yang kita dapat dari sini, toh.
Tentang konsep, kan toko buku atau rumah baca seperti ini
banyak sekali. Tapi menurut saya tidak banyak yang mengkombinasikannya denga
musik, misalnya. Jadi kira-kira segmen yang juga coba kita dekati adalah orang
yang bukan pecinta buku dan kita mau bilang ke orang-orang bahwa urusan
membaca, urusan literasi sebenarnya bukan pekerjaan yang serius-serius amat. Bukan pekerjaan yang perlu
mengernyitkan dahi. Tapi bukan berarti menurunkan kadar bacaan itu sendiri.
Misalkan saja KBJamming, jamming yang kemudian dikolaborasikan dengan
diskusi itu menurutku capaian bagi kita
di KBJ. Jadi kita mau kehidupan berliterasi, membaca dan segala macam itu bisa
menyentuh segmentasi mana saja. Khususnya mereka yang dianggap tidak dekat
dengan buku.
KBJ ini kan tidak hanya sekedar tempat jual-beli buku, apa sebenarnya tujuan KBJ?
KBJ ini kan tidak hanya sekedar tempat jual-beli buku, apa sebenarnya tujuan KBJ?
Sawing: Tujuannya? Masuk surga. Ha-ha-ha. Sebenarnya tujuan KBJ itu, ya yang tadi. Kami mengafirmasi spirit yang dibawa sama Jenny, spirit kesetaraan. Yang kedua, KBJ ingin turut aktif dalam budaya literasi di Kota Makassar ini. Ketiga, kita mencoba terus memperbaharui metodologi. Tujuan-tujuan yang tadi itu kita sampaikan lewat beragam media. Lewat musik, diskusi, tulisan, atau event-event yang kita bikin. Semua itu kan ada gagasannya. Cuma cara menyampaikannya yang berbeda. Saya kira itu penting untuk terus di-explore. Karena kalau monoton, pesan yang baik itu bisa mentok dan menabrak tembok di mana saja. Mentul kesana-kemari dan kembali ke yang ngasi.
Bobhy: Jadi yang
kita lakukan ini ada turunannya. Misalnya kembali menggiatkan sastra, ikut
terlibat dalam geliat dunia literasi yang mulai berkembang lagi di kota ini. Dan
tentunya juga menggairahkan skena lokal. Itu semua turunan-turunan dari yang
disebutkan Sawing tadi. Bagaimana memperbanyak variasi media untuk menyampaikan
gagasan-gagasan. Selain itu, kita juga ingin menjadi teman bagi siapa saja yang
punya aktifitas. Tidak harus mengeksekusi karyanya disini. Tapi menjadi ruang
untuk berbagi dan bertukar pikiran. Itu yang menurut kita penting.
Apakah tempat-tempat seperti ini di kota lain (Kineruku dan Omuniuum di
Bandung, C2O di Surabaya, misalnya) menjadi acuan dalam membangun KBJ?
Bobhy: Kalau
acuan itu berarti refrensi, tentu saja ya. Jogja tentu mi iya, toh. Karena kita sekolah dua tahun disana dan kita bertemu
Jenny. Ada temanku bilang kalau Jogja itu setiap sudutnya adalah tempat
belajar. Dan itu benar-benar kita rasakan. Disana saya banyak mendapat
inspirasi. Kemudian Bandung. Saya itu sama Sawing, pas pertama kali bentuk KBJ
diniatkan memang untuk ke Bandung. Kita datangi beberapa tempat. Kita ke
Tobucil, ke Kineruku, Omuniuum. Ada juga IMBooks, kemudian datangi Ultimus.
Banyak lah pokoknya. Dan semua mereka itu punya polesan yang tidak melulu
tentang buku tapi bervariasi. Saya kira itu sedang marak di beberapa kota. Ada
juga C2O di Surabaya, apalagi di Jakarta. Di Tobucil misalnya yang memperkaya
kegiatannya dengan membuka banyak kelas, mulai dari kelas filsafat, kelas
biola, merajut atau kerajinan-kerajinan. Di tempat lain juga seperti itu,
bervariasi. Dan hampir semua itu sangat dekat dengan musik. Makanya itu menjadi
inspirasi kita. Kemudian packaging tempat
itu penting. Menarik orang dengan mendesain tempatnya menjadi senyaman mungkin.
Apakah KBJ memanfaatkan hubungan dengan komunitas lain atau tempat
serupa seperti ini? kalau ya, seberapa besar manfaatnya?
Sawing: Ya, tentu
saja. Sedari pertama kita lakukan itu. Sekarang itu komunitas susah kalau mau
sendiri-sendiri. Pasti (butuh) dapat dukungan atau sokongan dari komunitas
lain. Kalau di Makassar kita bekerja sama dengan banyak komunitas. Di awal kita
dapat banyak bantuan dari Kampung Buku, jadi distributornya Ininnawa. Terus
yang paling sering itu Vonis Media lah. Kalau Vonis bikin event pasti KBJ ikut terlibat dan sebaliknya juga seperti itu.
Banyak lagi komunitas yang lain, baik di kampus atau tempat lain. Dan biasanya
kita dipertemukan dengan cara-cara yang unik. Misalnya bertemu dengan Vonis
Media sebelum Malino Land dan disana kita diperkenalkan secara luas sama
teman-teman di skena musik lokal di Makassar yang membuka peluang kita untuk
segera menggelar KBJamming. Padahal KBJamming itu dulu masih angan-angan.
Bobhy: Dari luar
itu ada beberapa yang coba kita ajak bekerja sama. Mungkin kerja samanya tidak
(selalu) konkrit dalam bentuk take and
give begitu, tapi dalam bentuk gagasan. Misalnya, beberapa bulan kemarin
kita ketemu di twitter dengan
komunitas Kecil Bergerak yang ada di Jogja. Mereka itu koor-nya seni dan kebudayaan. Salah satu kelasnya itu namanya Kelas
Melamun. Jadi Kelas Melamun itu ada peserta kelas mendatangi satu orang yang
punya karya atau gagasan penting yang ada hubungannya dengan seni dan
kebudayaan. Kita tertarik untuk mengadopsi itu, cuma belum sempat dieksekusi
saja. Kemudian beberapa hari yang lalu
C2O di Surabaya berencana menitip produk. Pokoknya kita terus mencari siapa
saja yang bisa diajak bekerja sama. Dan juga konsepnya tempat ini kan siapa
saja bisa pakai.
Program reguler KBJ, KBJamming banyak mendiskusikan tentang
problematika kota. mengapa tema itu yang diangkat?
Bobhy: Seja awal
itu niatannya kita mau menjadi bagian dari upaya membuat kota ini menjadi,
seperti yang dikatakan David Harvey, space
of hope. Kita mau ada kabar-kabar baik yang muncul, selain menciptakan
ruang-ruang alternatif, ruang-ruang bersama yang menjadi suguhan yang lain di
tengah hiruk pikuk kota yang serba tidak pasti ini. kalau kata Ucok Homicide,
membangun “kewarasan massal”. Kan di kota ini ada dominasi tema. Semuanya
tentang politik. Sementara wacana-wacana yang sebenarnya penting hanya bisa kita
dapatkan di ruang-ruang marjinal. Kita sih
bermimpi tema seni, tema kebudayaan itu bisa menjadi wacana yang sama, yang
bisa dikonsumsi oleh siapa saja. Caranya ya hidupkan ruang-ruangnya itu. Dan
KBJ ingin sekali menjadi bagian dari itu.
Sawing: Jadi
waktu "Space of Hope" itu ditulis sama David Harvey, idenya ada dalam arena
perdebatan, khususnya di kalangan intelektual. Nah, Space of Hope itu
menyajikan sebuah mimpi. Jadi optimisme itu bisa lahir dari ruang-ruang
terkecil sekalipun. Bisa ruangnya, bisa orangnya. Kalau di Makassar ini ruang
itu, baik secara fisik maupun non fisik atau gagasan kan dikelola secara
teknokrat. Tidak dikelola secara, sebutlah berbudaya. Alhasil tata kota ini
menggerusi ruang bersama. Jalan raya kan tidak perlu selebar itu kalau kita mau
silaturahmi seperti biasa. Cuma karena ada kebutuhan ekonomi yang lebih besar,
makanya jalan raya itu dibikin jadi sangat lebar biar mobil-mobil bisa
berjalan. Kemudia orang-orang terima saja dengan itu. Tapi kemudian muncul
Kampung Buku, muncul Filosofia, muncul Kedai Buku Jenny dan tempat-tempat lain
yang mencoba menegasikan itu dengan caranya masing-masing.
Setelah seperti sekarang, apa rencana KBJ yang lain?
Bobhy: Kalau secara bisnis, kita ingin terus berkembang. Kalau ada
orang yang mau jadi investor kita sangat terbuka untuk itu. Koleksi kita
tentunya masih sangat terbatas. Makanya kita ingin terus ekspansi disitu. Terus
seperti yang saya bilang tadi, kita mau tempat ini semakin menghasilkan banyak
karya. Semakin banyak orang kesini untuk berkarya atau menikmati karya. Kita
ingin terus mereproduksi banyak ruang, semakin memperbanyak event-event. Tidak perlu event yang besar tapi lebih bervariasi
dan segmen yang bisa terlibat juga semakin banyak. Dan hampir setiap hari kita
memikirkan itu. Ketemu, duduk terus ngobrol, “aih bagus kayaknya kalau bikin ki
begini”. Hampir tiap hari kita begitu. He-he-he.
Sawing: Kalau bagi saya yang belum kesampaian sampai sekarang itu,
KBJ harus punya terbitan. Mudah-mudahan bisa kesampaian dalam waktu yang tidak
terlalu lama lagi. Terbitannya itu bisa dalam bentuk apa saja, majalah atau
website. Intinya kita masih jarang nulis. Reportase event-nya KBJ saja lebih banyak ditulis sama Vonis atau Opium.
He-he-he. Terus melanjutkan event-event yang
sudah berjalan dengan harapan semakin ramai. sebenarnya kita juga mau punya
acara tahunan. Ini yang sedang kita bahas. Acara tahunan ini sekaligus sebagai
perayaan ulang tahun KBJ.
Apa saran kalian untuk
teman-teman yang ingin membuat tempat seperti ini?
Sawing: Bikin saja! Ha-ha-ha.
Bobhy: kalau menurut saya, kalau ada ide langsung eksekusi saja.
Pokoknya kalau ada ruangnya, eksekusi, walaupun pelan-pelan. Itu yang paling
penting: ada ruangnya. Di awal itu kita tidak punya banyak modal. Sawing punya
duit lebih, sama beberapa orang yang menghargai niatan kita terus membantu. Bayangkan,
kan kita di Jogja. Siapa yang ngurus?
Ada teman tapi nda bisa juga 100
persen. Tapi kita berpikir, kalau belum ada ruangnya ya susah. Tapi kalau sudah
ada ruangnya, kita sudah bisa ukur, apa yang perlu kita tambah, apa yang perlu
kita kurangi dan segala macam. Kemudian refrensi juga menjadi penting. Soal
selera itu kan sering kali bukan hanya sekedar yang ada di kita, tapi apa yang
kita dengar, apa yang kita lihat. Itu akan sangat membantu. Selain itu juga
harus punya visi besar. Karena kalau tidak punya visi, kegiatan sudah jalan, so what. Biasanya yang seperti ini
umurnya akan pendek.
Sawing: Berani saja meng-explore
metodologi. Kalau belum ada yang berani bikin, coba saja bikin. Karena
metodologi itu penting. Kita mau bilang apa tapi kalau caranya itu-itu saja,
ceramah terus, ya susah, toh. Kalau
misalnya ceramah itu betul-betul berhasil, dari dulu mi tidak ada peperangan. Selesai di Sholat Jum’at, coy. Saya kira
metodologi harus diperkaya. Dan yang paling penting, memperlakukan tempatnya
itu secara selayaknya. Dikelola secara serius. Manajemennya harus rapi, seperti
yang terus kita coba, mudah-mudahan semakin rapi. Kalau hanya terus
mengandalkan inisiatif-inisiatif yang tidak terstruktur itu takutnya, lagi-lagi
nafasnya tidak panjang. Yang seharusnya bisa lama tapi karena pengelolaannya
suka-suka jadi, begitu mi. cepat
tutup.
Jumat, 17 Januari 2014
Dari Pers Room Rock In Celebes 2013
Salah satu fasilitas khusus yang disediakan oleh panitia Rock In Celebes 2013 bagi wartawan adalah Pers Room. Ruangan ini menjadi pusat kegiatan semua peliput festival rock terbesar di Indonesia Timur ini. Mulai dari membuat berita, mengobrol dengan sesama wartawan atau sekedar beristirahat di waktu jeda konser, semua dilakukan di ruangan ini. Agenda yang juga dilakukan di Pers Room, yang akan membuat ruangan ini sangat penuh adalah Press Conference para penampil. Hal ini dilakukan sebelum atau susudah band tampil. Momen ini sangat ditunggu oleh semua wartawan yang bertugas untuk menggali bahan berita dan berfoto bersama dan meminta tanda tangan para idola. Hehehe...
Berikut beberapa foto band yang sempat saya kutip di Pers Room Rock In Celebes 2013. Gambar terakhir adalah sesi foto bersama seluruh wartawan dari berbagai daerah yang bertugas di Rock In Celebes 2013 dengan The Box dari Palu yang penampilannya sangat mengejutkan malam itu.
Sabtu, 30 November 2013
Rock In Celebes 2013 di Depan Mata
Setelah diserbu oleh gigs jazz di bulan November, kini
giliran musik keras yang siap menutup akhir tahun Kota Makassar. Rock In
Celebes, pesta rock tahunan yang telah mendapat pengakuan sebagai festival rock
terbesar di Indonesia Timur telah kembali. Dihelat selama empat hari, 12-15
Desember 2013, festival ini sungguh sangat siap memanjakan para penikmat musik
berisik Kota Daeng.
Ada beberapa perbedaan yang akan ditampilkan Chambers
Entertainment selaku penyelenggara pada Rock In Celebes 2013 ini. jika
biasanya digelar pada pertengahan tahun, tahun ini Rock In Celebes sengaja
diadakan pada bulan Desember bersamaan dengan helatan Celebes Clothing Fest.
Kedua kegiatan besar ini disatukan waktu pelaksanaannya dan dibungkus dalam
satu perayaan bernama Chambers 10Th Festival. Kegiatan ini sekaligus
untuk merayakan ulang tahun ke-10 unit usaha Chambers.
“Untuk di tahun ini, karena spesial di tahun ke-10 kita,
kita menggabungkan dua event ini (Rock
In Celebes dan Chambers Clothing Fest) dalam satu gelaran. Seperti kita tahu,
akan diadakan selama empat hari, 12 sampai 15 Desember di Celebes Convention
Center,” Kata Hardinansyah Putra Siji selaku Project Director Chambers 10Th
Festival, pada press conference, Selasa 26 November 2013.
Bersamaan dengan waktu pelaksanaan yang diperpanjang menjadi
empat hari, Rock In Celebes 2013 juga akan menghadirkan lebih banyak penampil.
Setidaknya akan ada 40-an band yang siap hadir memanaskan moshpit, baik yang
bertaraf lokal, nasional sampai Internasional. Dasboard Confessional, unit rock
emo asal Florida, Amerika Serikat dipercaya sebagai penampil utama alias headliner.
Akan ada juga belasan band nasional yang akan menjadi co-headliner, seperti The
S.I.G.I.T (Bandung), Burgerkill (Bandung), Seringai (Jakarta), Inlander (Jakarta),
Navicula (Bali), Down For Life (Solo), The Experience Brother (Bekasi) sampai
Kapital (Tenggarong).
Selain headliner dan co-headliner, Rock In Celebes 2013 juga
akan memberikan porsi tampil yang cukup besar pada band-band lokal Makassar.
Setidaknya ada 25 band lokal potensial yang siap tampil sebagai supporting
band. Hal ini dimaksudkan untuk ikut mengangkat semangat skena lokal Makassar.
“Setiap tahunnya band lokal pasti mendapat porsi yang lebih
banyak. Karena memang event ini (Rock In Celebes) kontribusinya untuk
memotivasi anak-anak band di Makassar dan sekitarnya,” Jelas Ardy, sapaan akrab
Hardinansyah Putra Siji.
Perbedaan mencolok lainnya adalah, Rock In Celebes 2013 ini
akan memakai dua panggung pertunjukan. Panggung utama akan diisi oleh penampilan
band-band dan satu panggung tambahan akan diperuntukan khusus bagi penampilan
Disc Jockey alis DJ.
“Ada satu hal yang mungkin orang-orang masih kurang tahu
bahwa kita, di Makassar, banyak memiliki potensi DJ. Talent DJ di Makassar itu
termasuk paling banyak di Indonesia. Dan tahun ini kita akan memberikan
kesempatan kepada DJ-DJ lokal untuk tampil,” Kata Ardy.
Ekspektasi besar akan pertunjukan musik rock bermutu tentu
hadir dari dari penjelasan press conference dan press release Rock In Celebes
2013 tersebut. Jadi siapkan diri kalian. Pesta sudah di depan mata.
Langganan:
Postingan (Atom)




