Tampilkan postingan dengan label Desa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Desa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Oktober 2017

Saat Buku Bertemu Pembacanya



Perahu fiber bermesin 15PK berjalan pelan mengantar kami ke Kampung Yepem. Laut teduh, langit mendung dan hamparan hutan mangrove menjadi teman sepanjang perjalanan. Pak Paskalis, teman yang pagi itu menjemput kami, sengaja melambatkan laju perahunya yang bergerak di tepian pesisir. “Kita jalan di pinggir mangi-mangi (mangrove dalam Bahasa lokal di Papua) saja ya, pak. Saya mau mengambil video untuk dokumentasi perjalanan kita dari Agats ke Kampung Yepem,” instruksi Regis, salah satu fasilitator Buku untuk KampungYepem.

Kami berkunjung ke Kampung Yepem pada penghujung September tersebut untuk membawa donasi berupa buku, majalah, dan bahan bacaan lainnya yang dikirim dari berbagai tempat. Sudah sejak April 2017, kami, tim Blue Forests yang bertugas di Asmat, Papua, bersama masyarakat Kampung Yepem, sedang menginisiasi pembangunan sebuah rumah baca di kampung tersebut. Dan setelah melalui proses pengiriman donasi yang cukup rumit akhirnya buku-buku tersebut bisa sampai juga di Kampung Yepem untuk menemui para pembacanya.

Setelah prosesi penyerahan kepada Kepala Kampung Yepem, segera saja anak-anak mengerubuni boks-boks yang kami bawa. Mereka memilih bahan bacaan masing-masing kemudian tenggelam pada halaman demi halamannya. Tidak semua anak-anak Asmat di Kampung Yepem bisa membaca. Tapi hari itu semua tampak bersemangat memilih buku atau majalah. Mereka seperti bocah yang mendapatkan mainan baru.

Anak-anak di Kampung Yepem memiliki tenaga yang sangat melimpah untuk bermain sepanjang hari. Mereka seperti tidak pernah kehabisan daya untuk terus berlari, menyemplung ke kali, berenang, sampai mendayung ci (perahu tradisional Asmat). Bahkan pada saat ikut mencari makan bersama orang tua di laut atau di hutan, kreatifitas mereka untuk bermain tetap berlanjut. Di dalam hutan, anak-anak ini malah memperoleh bahan yang melimpah untuk mencipta peranti permainannya sendiri.

Energi yang melimpah dari anak-anak itulah yang mendorong kami untuk membuat semacam rumah baca atau perpustakaan di Kampung Yepem. Berawal dari obrolan santai saat saya menginap di rumah adat jew, gerakan ini kemudian menjadi sedikit lebih serius. Dari obrolan tersebut lahirlah kemudian gerakan bernama Buku untuk Kampung Yepem. Kiki, rekan kami di Makassar, membuat lalu menyebarkan poster daring untuk menggalang donasi berupa bahan bacaan dan keperluan rumah baca lainnya. Kiki juga yang mengkoordinasi pengiriman donasi yang berasal dari berbagai daerah tersebut. Titik kumpulnya di Makassar kemudian dikirimkan ke Asmat lewat rekan yang kebetulan berkunjung ke Papua. Cukup ribet, tapi tiap kali ada donasi yang masuk rasanya menyenangkan sekali.

Tanggapan atas ajakan berdonasi lewat dunia maya tersebut cukup ramai. Tidak hanya dari Makassar dan sekitarnya, donasi berupa buku, majalah, sampai seragam sekolah berdatangan dari berbagai daerah di Jawa. Adapula yang mentransfer dana dengan amanah dibelanjakan bahan bacaan dan keperluan lainnya. Sumber dana yang masuk bahkan ada yang berasal dari luar negeri. Kalau saya tidak salah ingat, dari teman-teman PPI Utrech di Belanda dan PPI Inggris. Sungguh ajaib rasanya upaya kecil ini direspon begitu luas. Tentu kami berterima kasih sekaligus merasa bertanggung jawa untuk melaporkan kegiatan Buku untuk Kampung Yepem secara regular. Kami pun kemudian membuat akun media sosial untuk melaporkan jumlah donasi dan perkembangan kegiatan. Dengan begitu kami juga bisa terus berinteraksi dengan para donatur.

Respon yang tidak kalah serius juga datang dari masyarakat Kampung Yepem itu sendiri. Lewat Leonardus Jiwem, Kepala Kampung yang sudah menjadi rekan kami sejak pertama kali berkegiatan di kampung tersebut, menjanjikan pembangunan fisik rumah baca dengan menggunakan dana desa. Sedangka  untuk proses pengerjaannya dilakukan secara swadaya oleh penduduk kampung.

“pembangunan rumah baca ini su jadi sa pu cita-cita sejak sebelum jadi Kepala Kampung. Jadi rumah baca ini harus jadi sebelum Desember (tahun 2017). Biar sudah, pakai dana pembangunan sa pu rumah saja dulu. Sa pu rumah bisa bangun nanti saja,” kata Pak Leo, sapaan akrab pria yang juga mahir mengukir ukiran Asmat ini.

Tentu tanggapan dari Kepala Kampung dan masyarakat Kampung Yepem tersebut adalah kabar baik, bukan hanya untuk kami tapi juga untuk Kampung Yepem itu sendiri. Keswadayaan masyarakat dalam turut aktif pada sebuah program adalah bukti sebuah penerimaan. Keterlibatan langsung mereka menjadi pertanda bahwa program pembangunan rumah baca di Kampung Yepem adalah kerja bersama. Saat ini tiang pancang rumah baca sudah berdiri. Setelah Pesta Budaya Asmat akhir Oktober nanti, masyarakat sudah akan menyelesaikan perpusatakaan berbentuk rumah tradisional Asmat tersebut. Kami juga sudah mempersiapkan beberapa nama yang nantinya akan dipajang di plang rumah baca. Kesepakatan kami, nama rumah baca Kampung Yepem nantinya sebaiknya dalam Bahasa Asmat. Semoga segera rampung dan kami bisa membagikan kabar-kabar menyenangkan selanjutnya.

suasana belajar bersama di teras yang berhadapan langsung dengan kali (foto oleh Regista)

Sembari menunggu rumah baca Kampung Yepem tersebut rampung, saat ini kami melakukan proses belajar bersama di rumah rekan kami lainnya, yaitu Mama Fransina dan Mama Katarina. Mama berdua mempersilakan teras belakang rumahnya untuk dipakai sebagai tempat berkumpul kami. Posisi teras yang dipinjamkan sangat menyenangkan karena berhadapan langsung dengan Kali Jomboth dan diteduhi oleh pohon kelapa. Tempat yang sangat nyaman untuk menghabiskan halaman-halaman bacaan.

Pada pengiriman donasi tahap pertama ke Kampung Yepem, kami sekalian menggelar beberapa buku bacaan anak-anak di teras rumah mama tersebut. Kemudian kami memanggil beberapa anak yang terlihat sedang bermain. Awalnya malu-malu, lapakan berubah menjadi riuh beberapa saat kemudian. Anak-anak lain yang sebelumnya tidak kami lihat juga turut datang. Rumah Mama Fransina ramai betul sore itu. Tapi saat buku dan beberapa majalah sudah di tangan, suasana berubah menjadi hening seketika. Semua menjadi asyik sendiri dengan bahan bacaan masing-masing.

Ada anak yang terlihat memegang buku bercerita “Mangrove Si Pohon yang Menakjubkan” dan mengamatinya dengan serius. Entah membaca atau sekedar memperhatikan gambarnya, tapi sepertinya buku tersebut begitu menarik baginya karena cerita dan gambar yang disajikan sangat akrab dengannya. Kampung Yepem yang terletak di pesisir selatan Papua adalah ekosistem hutan mangrove yang sangat sehat. Anak-anak sudah terbiasa berinteraksi dengan tanaman yang biasa mereka sebut dengan pohon-pohon mangi-mangi tersebut.

Di sudut lain ada yang sedang sibuk membuka halaman demi halaman Majalah Bobo. Walaupun hanya majalah bekas, informasi dan cerita yang ia dapatkan sore itu saya kira sangat berkesan. Pada beberapa halaman majalah, anak tersebut sesekali mengajak temannya untuk turut melihat apa yang ia temukan. Seperti tidak rela untuk melihat sendiri sesuatu yang baru pertama kali ia lihat.

Buku cerita bergambar seperti seri menjelajah samudra atau tentang sejarah manusia purba menjadi bacaan paling laris pada hari itu. Tentu saja karena buku-buku jenis tersebut bisa diterima oleh banyak anak, bahkan bagi mereka yang masih terbata-bata atau tidak bisa membaca sama sekali. Tapi bagi anak yang sudah lancar membaca, ada pula yang memilih buku dongeng yang berasal dari berbagai daerah. Cerita-cerita rakyat semacam itu, terutama yang berkaitan dengan asal-usul leluhur, sering mereka dengarkan di dalam rumah. Tradisi Orang Asmat yang masih bertahan di Kampung Yepem adalah proses pengajaran adat yang berlangsung di masing-masing keluarga.

Belajar bersama sore itu berakhir bersamaan dengan terbenamnya matahari. Sebelum pulang ke rumah masing-masing beberapa anak berinisiatif untuk merapikan kembali posisi buku yang telah ditinggal pembacanya. Pemandangan sepanjang sore tersebut tentu membuat kami bahagia. Teman-teman bisa turut merasakan kebahagian yang kami rasakan lewat video berikut:

Video oleh Regista

Sekian dulu cerita perdana dari kegiatan Buku untuk Kampung Yepem ini. Semoga cerita menyenangkan selanjutnya akan datang dalam waktu dekat.

Ndormom.

Kamis, 17 Agustus 2017

Menjaga Sang Pelindung Taman Nasional Lorentz

Paulus Animamea (8 tahun) sedang menyelam mencari ikan di Kali Muanapea, Kampung Nayaro. Kampung Nayaro yang didiami masyarakat Kamoro berperan penting sebagai daerah penyangga bagi Taman Nasional Lorentz dari ancaman tailing atau sisa tambang PT. Freeport.
Salah satu kampung yang menjadi daerah dampingan Lorentz Lowland Landscape LESTARI saat ini adalah Kampung Nayaro yang terletak di Distrik Mimika Baru, kabupaten Mimika, Papua. Kampung ini merupakan salah satu kampung yang masuk dalam wilayah konsesi PT. Freeport Indonesia (PTFI). Jaraknya cukup dekat dari Kota Timika. Namun dibutuhkan waktu sekitar satu setengah hingga dua jam perjalanan dengan bus untuk sampai kampung ini. Dari Kota Timika, kita harus menuju arah utara kemudian menyeberangi Sungai Otomona yang dijadikan daerah aliran tailing atau material sisa pasir tambang PTFI, lalu memutar kembali ke arah selatan, sebelum sampai di daerah pemukiman Kampung Nayaro. Untuk memudahkan akses masyarakat, PTFI menyediakan dua buah bus yang setiap hari mengantar masyarakat keluar masuk kampung.

Wilayah Kampung Nayaro yang dimilki secara adat oleh masyarakat Suku Kamoro membentang mulai dari pesisir selatan Papua sampai daerah dataran tinggi di Mile 50 PTFI. Letaknya sangat penting karena berbatasan langsung dengan Sungai Otomona yang menjadi daerah aliran tailing PTFI juga dengan Taman Nasional Lorentz di sebelah timur. Jadi, walaupun belum ditetapkan, Kampung Nayaro dapat dikatakan merupakan daerah penyangga (buffer zone) bagi Taman Nasional Lorentz di bagian dataran rendah hingga pesisir. Terjaganya kualitas alam Kampung Nayaro berarti kabar baik bagi kelestarian Taman Nasional Lorentz. Sebaliknya, degradasi kawasan yang terjadi di Kampung Nayaro merupakan ancaman bagi keberlangsungan taman nasional terluas di Asia Tenggara tersebut.

Letaknya yang strategis dan kualitas alam yang masih baik membuat program LESTARI memilih Kampung Nayaro menjadi salah satu daerah dampingan. Menurut hasil kajian resilian (resilience assessment) yang LESTARI lakukan pada tahun 2016, sistem ekologi Kampung Nayaro masih dalam fase konservatif. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi alam di kampung ini masih terjaga dengan baik. Hutannya yang masih alami dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat untuk pemenuhan pangan dan ekonomi keluarga.

Dengan kondisi alam Kampung Nayaro yang masih konservatif, kajian resilian kemudian merekomendasikan intervensi yang sifatnya membangun atau mempertahankan ketahanan. Dirancang kemudian dua kegiatan aksi, yaitu, Fasilitasi dan Pendampingan Masyarakat untuk Pengelolaan Hutan dan Lahan Secara Berkelanjutan serta Penguatan dan Inventarisasi Masyarakat Hukum Adat. Kedua kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam. selain itu, melalui proses inventarisasi masyarakat hukum adat, diidentifikasi pula kelembagaan adat serta nilai-nilai kearifan masyarakat dalam memanfaatkan alam secara turun-temurun.

Pemetaan partisipatif dengan melibatkan seluruh unsur masyarakat Kampung Nayaro juga dilakukan dalam rangkaian dua kegiatan tersebut. Lokasi-lokasi penting masyarakat dimasukkan di dalam sketsa peta wilayah kampung, mulai dari dusun sagu (wilayah hutan tempat mencari makan), tempat berburu, lokasi pemukiman, sampai yang paling penting, tempat-tempat keramat. Tempat keramat adalah suatu wilayah yang dilindungi secara khusus oleh masyarakat adat di Kampung Nayaro. Menurut Kepala Suku Kampung Nayaro, Paulinus Yamiro, lokasi yang ditetapkan sebagai tempat keramat merupakan lokasi-lokasi yang menjadi bagian dari sejarah leluhur mereka di masa lalu, seperti kampung lama dan pemakaman. “Tempat keramat ini tidak boleh diganggu. Ini bagian dari sejarah kami. Kalau tempat keramat rusak leluhur bisa marah, kita bisa celaka,” kata Paulus Yamiro dalam pertemuan yang dilakukan di Kampung Nayaro.

Dalam peta partisipatif Kampung Nayaro, masyarakat juga membagi wilayah mereka dalam beberapa zonasi tradisional. Dari penyusunan tersebut dihasilkan enam wilayah zonasi tradisional Kampung Nayaro: Zonasi Lindung Kaki Gunung, Zonasi Lindung Keramat Sejarah, Zonasi Pemanfaatan Kayu, Zonasi Pemanfaatn Pemukiman, Zonasi Pemanfaatan Perikanan, Zonasi Pemanfaatan Sagu dan Berburu. Penyusunan zonasi tradisional ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat Kampung Nayaro dalam mengelola sumber daya alam sesuai dengan peruntukannya.

“Peta dan zonasi (tradisional) ini sangat membantu kami di dalam kampung. Ini bisa dipakai untuk menyatukan pemahaman masyarakat dalam mengelola alam dengan lestari. Orang-orang tidak boleh lagi melepas tanah sembarangan,” kata Samuel Betaubun, tokoh pemuda Kampung Nayaro.

Pada bulan Mei 2017, kedua kegiatan pendampingan di Kampung Nayaro tersebut telah memasuki proses akhir. Dalam pertemuan yang berjalan beberapa bulan dihasilkan dokumen Rencana Pengelolaan Sumber Daya Alam (RPSDA) serta profil masyarakat hukum adat Kampung Nayaro. Dokumen RPSDA berisi gambaran situasi kampung (sejarah dan wilayah kampung), potensi, serta kelembagaan dan peluang kemitraan. Sementara profil masyarakat hukum adat menyediakan informasi tentang kelembagaan adat serta nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Kampung Nayaro dalam memanfaatkan alam. Kedua dokumen ini nantinya dapat dipakai oleh Kampung Nayaro sebagai bahan advokasi dalam menyusun program lanjutan di dalam kampung.

Dari lima kampung yang LESTARI dampingi di Mimika dan Asmat, saat ini Kampung Nayaro menjadi prioritas dalam program collaborative management. Konsep co-management merupakan suatu proses yang bertujuan mendorong para pemangku kepentingan untuk bekerja sama dalam merencanakan, melaksanakan, hingga mengevalusi program di suatu wilayah. Selain masyarakat kampung, pihak pemerintah dan swasta sebagai stakeholder utama di Kampung Nayaro juga diharapkan pro aktif dalam menjaga kelestarian sumber daya alam sekaligus menjamin kesejahteraan masyarakat. Tentu saja dibutuhkan keinginan untuk saling berkolaborasi dalam kedudukan yang setara untuk mewujudkan hal tersebut.

Dengan peran penting yang diemban Kampung Nayaro sebagai benteng pertahanan Taman Nasional Lorentz, sudah seharusnya semua pihak mengambil peran dalam menjaga kelestariannya. Segala potensi juga ancaman bagi keberlangsungan hutan di wilayah kampung ini haruslah dikelola bersama. Alam dan masyarakat dengan segala kearifannya tentu tidak bisa bertahan sendirian dari bahaya kerusakan. Dibutuhkan dukungan dari para pemangku kepentingan lainnya untuk memastikan ruang hidup masyarakat Nayaro ini tetap lestari.

Minggu, 26 Februari 2017

Sehari di Dusun Sagu

Mama Agustina Baspit berdiri di atas pohon sagu yang baru saja ditumbangkannya. 
Melihat aktifitas memangkur sagu di hutan adalah menyaksikan tradisi yang semakin tersisih. Monopoli beras sebagai komoditi utama program ketahanan pangan membuat makanan pokok orang timur ini kian dilupakan.  Di Asmat, Papua, potensi besar ini nyaris tidak dilirik sama sekali. Ia hanya dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat yang masih menjalankan ajaran leluhur.

Rabu pagi, 22 Februari, saya bersama dua orang teman, Regis dan Wawan, sudah berada di dermaga Kampung Kaye. Hari itu kami punya janji dengan Bapak Yanuarius Ombercem untuk berkunjung ke dusun (lahan hutan) sagu milik keluarganya.

Su siap ka?” Sapa pria yang akrab dipanggil Yance tersebut.

“Iya to,” jawab Regis.

Pak Yance kemudian bergegas memanggil semua anggota keluarganya yang akan ikut serta. Sekitar pukul delapan pagi kami semua sudah siap berangkat. Rombongan berjumlah total 16 orang masuk satu per satu ke dalam perahu viber bermesin. Perahu kami sarat penumpang betul waktu itu. Perjalanan ke dusun sagu Pak Yance akan melewati dua kali milik masyarakat Kampung Syuru-Aswet-Kaye, yaitu, Kali Fambret dan Kali Ba.

Tujuan kami ke dusun sagu hari itu adalah untuk memangkur sagu yang akan dijadikan seserahan perkawinan. Seorang keponakan Pak Yance, Daniel Eraman, baru saja mempersunting seorang perempuan yang juga bersuku Asmat. Dalam adat Suku Asmat, seorang laki-laki yang baru menikah harus memberikan persembahan kepada keluarga istrinya. Persembahan tersebut haruslah sesuatu yang berharga, yaitu kapak batu dan sagu. kedua benda tersebut tidak hanya berharga namun juga mempunyai arti simbolik dalam adat Asmat. Kapak batu adalah perkakas utama Orang Asmat dalam bekerja. Sedangkan sagu merupakan makanan utama yang dipercaya memberi kehidupan. Keduanya penting sebagai bekal dalam mengarungi rumah tangga.

Dalam perjalanan kali ini pula, saya kembali menyaksikan ketangguhan perempuan atau mama-mama Asmat dalam bekerja. Dari 16 orang yang turut serta hari itu, ada sembilan orang mama-mama yang membawa semua peralatan mereka sendiri, mulai dari alat pangkur, gagar, parang, serta beberapa peranti kecil untuk menyaring sari-sari sagu. Kesemua peralatan tersebut dijinjing di dalam sebuah tas noken berbahan karung plastik.

Mama Natalia Desnam dan Mama Agustina Baspit yang duduk di dekat kami bertiga di dalam perahu menjelaskan fungsi masing-masing peralatan yang mereka bawa tersebut. “Alat pangkur ini disebut kam (dalam bahasa Asmat), dipakai untuk menghancurkan sagu. Kalau ini om (gagar, semacam tombak yang terbuat dari kayu pohon pinang) dipakai untuk memeriksa pohon sagu itu ada isi atau tidak. Ujungnya ini tidak boleh basah sampai dipakai nanti di dusun sagu. itu pamali,” jelas Mama Natalia sambil menunjukkan satu per satu peralatannya.

Mama Natalia menjelaskan fungsi masing-masing peralatan memangkur sagu yang dibawanya.
Sekitar dua puluh menit menyusuri kali, kami tiba di tujuan. Perahu kami ditambatkan di tepi kali dengan diikat di sebuah pohon bakau. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju dusun sagu. Trek menuju dusun sagu keluarga Pak Yance cukup sulit, harus melalui belukar dan lahan rawa yang basah. Jalan setapak yang telah lebih dulu dibuat sama sekali tidak mulus. Masih banyak duri dari pohon sagu yang sudah tumbang. Kami yang memakai sepatu karet masih kesulitan melalui medan ini. Kaki saya bahkan beberapa kali terbenam di lumpur karena salah berpijak. Tapi, saat melihat mama-mama Asmat, hampir tidak terlihat sama sekali kesulitan bagi mereka melalui jalanan tersebut. Padahal mereka berjalan tanpa menggunakan alas kaki sambil membawa noken berisi peralatan sangkur. Kaki telanjang mereka seperti mengolok-ngolok kaki bersepatu karet kami yang berlangkah berat sekali.

Memasuki dusun sagu, kami diajak singgah terlebih dahulu di titik tempat sakral. Daniel memberi kami bibit buah manis yang baru saja ia cabut. Semua orang yang memasuki dusun sagu tersebut harus meminta izin dengan cara meletakkan bibit buah manis di titik tempat sakral tersebut.

“Dusun ini dusun keramat. Jadi kalau mau masuk kita harus permisi,” Kata Pak Yance.

“Ini tempat moyang. Jadi harus taruh anakan buah manis di sini. Itu tandanya kita permisi sama dorang,” Mama Natalia menimpali.

Ada banyak tempat, terutama lahan hutan, yang dijadikan tempat keramat oleh Orang Asmat. tempat-tempat tersebut dipercaya sebagai lokasi yang dulunya ditempati oleh para leluhur mereka. Dalam kepercayaan Orang Asmat, lokasi keramat tidak boleh dimasuki tanpa izin pemiliknya. apalagi sampai dirusak. Melanggar aturan tersebut adalah sebuah teser, pelanggaran adat kategori berat. Hukumannya adalah kematian.

Tidak terlalu jauh dari tempat keramat, kami sudah sampai di dusun sagu yang menjadi tujuan hari itu. Sejauh mata memandang, pohon sagu mendominasi hutan tersebut. Mama Natalia, Mama Agustina, dan mama-mama yang lain mulai membagi diri menjadi tiga kelompok. Sedangkan Pak Yance bersama tiga mama-mama lainnya melanjutkan perjalanan menuju hutan yang lebih dalam. Kami tidak diizinkan ikut. Entah karena medan dianggap terlalu berat buat kami atau hutan tersebut memang terlarang untuk orang luar. “Kalian di sini saja bersama mama-mama dorang,” Kata Pak Yance sambil tersenyum kepada kami.

Mama-mama yang telah terbagi dalam tiga kelompok tadi kemudian mulai memilih pohon sagu yang dianggap sudah dapat menghasilkan tepung. Sebelum benar-benar ditebang, pohon pilihan mereka diperiksa terlebih dahulu untuk memastikan isinya. Caranya dengan menancapkan kapak dalam-dalam ke batang pohon sagu. setelah dicabut, mereka mengoles jari ke mata kapak. “Nah, pohon yang ini sudah ada isi (sagu). Ini sudah ada bekas (sari pati) sagu di kapak ni,” Mama Natalia menunjukkan kapaknya kepada kami.

Menebang pohon sagu
Setelah dipastikan berisi barulah pohon sagu benar-benar ditebang. Sekuat tenaga mama-mama Asmat mulai menancapkan kapak mereka di pohon yang bagian luarnya sangat keras tersebut. Pohon yang ditebang Mama Agustina tumbang duluan. Beberapa menit kemudian pohon sagu Mama Natalia dan mama di sebelahnya menyusul. Oleh Daniel, kami disuruh menjauh dari lokasi rebahnya pohon-pohon tersebut. Dari pola tebasan kapak, arah jatuhnya pohon sagu yang ditebang sudah bisa diperkiran.

Pohon sagu yang telah tumbang tidak lantas mempermudah pekerjaan. Proses produksi, menurut Mama Natalia, masih sangat panjang sampai dihasilkan tepung sagu. “Kalau cari sagu ini kerja banyak sekali. Kalau potong kayu bakar, kita potong, kita belah, itu gampang. Kalau namanya sagu ini, setengah mati. Untuk satu batang ini biasa kita kerja dari pagi sampai sore,” kata mama yang juga bekerja sebagai petani sayuran ini.

Gelondongan pohon sagu kemudian diidentifkasi isinya dengan menggunakan gagar. Hal ini dilakukan untuk mengetahui keberadaan tepung sagu terdapat di areal mana saja. Caranya mirip seperti saat pohon sagu akan ditebang: gagar ditancapkan dalam-dalam di batang pohon. Jika sari sagu nampak di mata gagar, daerah itulah yang nantinya akan dipangkur. Sebaliknya, jika sari sagu tidak terlihat, maka areal tersebut tidak akan digarap. Tentu hanya akan menghabiskan tenaga saja.

Areal di pohon sagu yang sudah diketahui mengandung tepung sagu kemudian dikuliti. Kulit pohon sagu yang sangat keras harus dibuka di salah satu sisi terlebih dahulu sebelum dipangkur. Mama Agustina langsung mengerjakan tahap ini. Sementara Mama Natalia yang lebih berumur terlihat duduk menarik napas sejenak. Bukan tanpa alasan, dua tahap dalam memproduksi sagu berikutnya, menguliti dan memangkur, adalah bagian paling berat dan memakan banyak waktu.

Mama Natalia terlihat mulai mengasah mata alat pangkurnya. Untuk mempermudah penggunaannya, piranti yang terbuat dari kayu tersebut disematkan besi pada bagian ujungnya. Besi yang melingkar dan tajam akan menghancurkan sagu lebih cepat dan halus. Setelah mata pangkur dirasa sudah cukup tajam, mama-mama mulai beraksi. Isi pohon sagu mulai dilepaskan dari batangnya kemudian dihancurkan. Untuk memangkur satu pohon sagu dibutuhkan waktu kurang lebih tiga sampai empat jam. Sungguh tahapan yang lama dan melelahkan.

Memangkur, melepaskan sari sagu dari batangnya (foto oleh Wawan)
Regis yang mencoba ikut memangkur merasakan langsung sensasi beratnya pekerjaan ini. Sari-sari sagu ternayata cukup keras untuk dilepaskan. Mama Natalia hanya tertawa melihanya. “Kalau keras itu bagus. Itu berarti tepungnya banyak.” Pantas saja mama-mama yang memangkur sagu tetap bersemangat bekerja. Ternyata semakin keras sari sagu, semakin banyak pula tepung yang akan dihasilkan.

Tepung sagu yang mulai mengendap. (Foto oleh: Regis)
Tepung sagu di dalam noken karung siap dibawa pulang. (Foto oleh: Regis)
Sementara proses memangkur sagu berlangsung, mama-mama yang lain membuat sumur kecil dan mempersiapkan peranti penyaring. air di dalam sumur tersebut kemudian didiamkan sesaat sampai menjernih. Sari sagu yang sudah hancur diletakkan di atas penyaring yang sudah dirancang sederhana dari pelepah pohon sagu. Sari sagu tersebut kemudian disiram kemudian diremas sampai menghsilkan cairan berwarna putih. Air perasan tadi mengalir menuju tempat penampungan dan dibiarkan mengendap. Tidak lama kemudian gumpalan tepung sagu mulai nampak. Voila.

Proses yang memakan waktu seharian ini tentu setimpal dengan yang dihasilkan. Satu pohon sagu dapat menghasilkan dua sampai tiga noken tepung sagu. Menurut Mama Natalia, jika dikonsumsi sendiri di dalam keluarga, hasil tersebut dapat bertahan sampai satu bulan lebih.

Sekitar pukul lima sore, terdengar suara dari arah rombongan Pak Yance. Itu tandanya aktifitas memangkur sagu hari itu harus disudahi, walaupun masih ada sari sagu yang belum disaring. Pekerjaan baru boleh dilanjutkan esok hari.

Melihat langsung proses memangkur sagu di hutan Orang Asmat adalah pengalaman yang sungguh luar biasa. Saya merasa beruntung sekali diajak untuk menyaksikan pekerjaan yang mulai ditinggalkan ini. Bisa saja tradisi turun-temurun ini akan semakin sulit ditemui pada tahun-tahun yang akan datang.


Semoga tidak demikian.

Kamis, 23 Februari 2017

Buku Inovasi Daerahku


Buku ini berisi cerita inovasi dari berbagai daerah di Indonesia, salah satunya dari Kampung Atsj, Kabupaten Asmat, yang saya tulis. Silakan menghubungi bitread_id untuk mendapatkannya. Jika ingin membaca tulisan saya di buku ini klik di "Berjalan Dalam Keseimbangan di Kampung Atsj."

Jumat, 17 Februari 2017

Pangan Hutan dan Resep Hidup Sehat Orang Asmat

Seorang perempuan Asmat sedang mencari bahan makanan di dalam hutan di sekitar kampungnya. Ketergantungan Orang Asmat terhadap pangan hutan masih cukup tinggi hingga saat ini. (Foto oleh: Regista)

Nene Yohana Bandep menyambut dengan senyum saat kami berkunjung ke rumahnya di Kampung Suwruw, Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Papua. Dengan ramah, perempuan berusia 107 tahun ini menyalami kami satu-persatu. Walau semua giginya telah tanggal dimakan umur, Ia masih mampu bercerita panjang lebar soal kehidupan leluhur di masa lampau. Tujuan kami mengunjungi rumahnya adalah untuk mendokumentasikan kearifan adat Suku Asmat, terutama dalam hal pengelolaan hutan. Adat istiadat Asmat yang dilestarikan lewat tradisi lisan sangat bergantung pada ingatan orang-orang tua seperti Nene Yohana ini.

Saat Nene Yohana mulai bercerita, kami mendapati fakta atas hubungan antara Orang Asmat yang daya tahan tubuhnya cenderung kuat dengan cara mereka memanfaatkan pangan dari hutan. Sebelum agama dan pemerintah masuk ke tanah Asmat, daerah ini adalah arena pengayauan. Orang-orang saling membunuh lantas membawa pulang kepala lawan ke dalam kampung. Cara ini dilakukan untuk menunjukkan kekuatan kepada lawan dan membuktikan kepemimpinan di dalam klan sendiri. Tradisi primitif ini berlangsung di antara kampung-kampung, baik yang berada di dalam maupun luar wilayah Asmat.

Untuk melaksankan tradisi mengayau, seorang Kepala Perang dan para prajuritnya haruslah memiliki tenaga yang kuat. Guna mendapatkan fisik yang prima tersebut Orang Asmat memanfaatkan makanan dari hutan yang tumbuh sehat di kampung-kampung mereka. Tidak asal makan, mereka memilih betul makanan yang mampu memenuhi nutrisi bagi barisan Penjaga Kampung tersebut. “Orang-orang dulu tidak makan sembarangan. Kami hanya makan makanan pilihan dari hutan, seperti sagu, babi hutan, kasuari. Kalau makan itu badan jadi kuat, tidak gampang sakit,” Kata Nene Yohana dalam Bahasa Asmat. sementara itu, ada pula makanan yang pantang dimakan oleh mereka yang bertugas di medan perang. Beberapa makanan yang dianggap karu (pamali) tersebut diantaranya, Ikan Sembilang, Pisang Doaka (Pisang Gepok), Ubi Hutan, dan Karaka Merah. “Kalau makan makanan itu badan bisa jadi lemas.”

Cara pengolahan makanan yang masih sangat sederhana juga menjadi faktor terjaganya nutrisi pada pangan Orang Asmat. selain dimakan langsung, kehidupan tradisional Orang Asmat hanya mengenal dua jenis cara pengolahanan makanan, yaitu, rebus dan bakar. Tentu saat itu mereka belum mengenal bumbu-bumbu masakan yang sarat akan bahan pengawet kimia. Namun saat ini cara pengelohanan makanan sederhana tersebut masih banyak ditemui pada rumah tangga yang hidup di kampung-kampung.

Seiring masuknya para misionaris agama dan pemerintah, masa gelap di Asmat mulai berubah. Perang antar kampung dan praktik mengayau perlahan mulai ditinggalkan. Peradaban luar menyentuh, termasuk pada pola konsumsi akibat masuknya bahan makanan yang dibawa oleh pendatang. Namun ketergantungan Orang Asmat akan pangan hutan masih tetap bertahan. Walau, diakui oleh Orang Asmat sendiri, jumlah mereka yang masih bertahan dengan mencari makanan di alam sudah semakin berkurang. Kemampuan untuk mencari makan di dusun (lokasi hutan yang ditumbuhi sagu) dan sungai-sungai dirasa semakin terbatas hanya pada orang-orang tua saja. Sedangkan kaum muda yang lahir setelah masa terang datang semakin sedikit yang mewarisi kemampuan tersebut.

Berubahnya pola konsumsi pangan ini berdampak pada menurunnya kualitas kesehatan Orang Asmat. Menurut Simon Bakpe, tokoh masyarakat Kampung Suwruw, jika dibandingkan dengan zaman dulu, kini Orang Asmat di kampunnya lebih mudah sakit. Penyakit yang menyerang mereka pun semakin beragam. “Dulu penyakit itu cuma sedikit, tidak banyak macam. Kita cuma kenal sakit panas, sakit kepala, sakit perut, sama bisul. Kalau sakit, kita biasa cari obat di hutan. Di sana banyak tanaman yang bisa dipakai jadi obat,” ungkap pria paruh baya tersebut.

Sebuah keluarga sedang menjaring udang di wilayah pesisir Asmat. Hutan yang masih terjaga menyediakan bahan makanan melimpah bagi rumah tangga yang hidup di sekitar hutan Asmat. (Foto oleh: Regista)
Korelasi antara pangan hutan dan tingkat daya tahan tubuh Orang Asmat ini mungkin kurang masuk akal bagi kita. Namun penelitian ilmiah yang yang baru-baru ini dilakukan oleh CIFOR tentu dapat membantu kita dalam memahami ini. Penelitian yang dipimpin oleh ilmuan doktoral Dominic Rowland tersebut menghasilkan fakta bahwa hutan berperan penting bagi diet keluarga dan masyarakat yang tinggal di dekat hutan tropis. Fakta tersebut dihasilkan CIFOR setelah mendata konsumsi pangan masyarakat yang hidup di sekitar hutan di 37 lokasi di 24 negara tropis. Tidak main-main, riset tersebut diklaim sebagai yang pertama menggunakan metode survei terstandarisasi yang menerapkan kriteria seragam untuk mendapatkan perspektif komparatif global.

“Hutan menghasilkan seluruh jenis makanan, mulai dari siput darat hingga buah liar dan primata. Kami berfokus pada kelompok pangan bernutrisi penting yang sering kurang dalam rata-rata kandungan diet di negara-negara tersebut. Dalam kelompok pangan ini, daging, ikan, buah-buahan, dan sayuran sangat bergantung pada hutan.” Ungkap Rowland.

Hasil penelitian CIFOR ini identik dengan apa yang diungkapkan oleh Nene Yohana Bandep dan Bapak Simon Bakpe di atas. Sejarah panjang pemanfaatan pangan hutan oleh Orang Asmat membawa mereka pada generasi yang berkecukupan nutrisi dan berumur panjang. Perubahan yang kurang arif kemudian menggeser tatanan ini. Orang-orang seperti lupa untuk menghargai jasa hutan dalam menyediakan kehidupan. Demi memenuhi kebutuhan yang dirasa serba mendesak, hutan dieksploitasi tanpa memperhatikan keseimbangannya. Hutan dianggap benda mati yang tidak memberi dampak apa-apa saat diganggu.

Soal menghargai jasa hutan ini, kenangan Bernat Bicimpari (45 tahun), salah satu Wair, Tetua Adat di Jew Dendew Kampung Suwruw, mungkin dapat menjadi ilustrasi bagi kita. Menurut Bernat, saat ayahnya meninggal, Ia hanya meninggalkan satu wasiat: “Jaga hutan kita.” “Waktu bapak mati dia tidak meninggalkan warisan apa-apa untuk kami. Dia cuma berpesan kepada kami untuk menjaga hutan. katanya, hutan ini sudah berjasa besar. Hutan sudah membesarkan kita. Dusun menyediakan makanan untuk kita.”

Jumat, 25 September 2015

Mengerti untuk Melawan: Upaya Masyarakat Kepulauan Tanakeke Mencegah Korupsi


Banyak kasus tindak pidana korupsi yang terjadi karena ketidaktahuan, baik ketidaktahuan masyarakat tentang proses penganggaran yang dilakukan oleh pemerintah, juga ketidaktahuan aparat dalam menggunakan anggaran negara. Lemahnya kapasitas pengetahuan kedua unsur ini kemungkinan disebabkan oleh rasa apatisme yang lahir dari buruknya sistem yang selama ini berjalan. Hal tersebutlah yang selama lima tahun belakangan ini ingin diubah oleh masyarakat dan aparat pemerintah desa di Kepulauan Tanakeke, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.

Pulau Tanakeke terdiri dari lima desa dengan sumber daya alam yang sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Pulau ini juga dikenal sebagai penopang keseimbangan lingkungan pesisir Sulawesi Selatan karena memiliki kawasan bakau (mangrove) yang sangat luas. Sampai tahun 1980-an luas hutan bakau di Pulau Tanakeke mencapai 1.776 hektar. Namun pada tahun tersebut terjadi pengalih-fungsian hutan bakau menjadi lahan tambak atau empang secara besar-besaran. Luasan hutan bakau Kepulauan Tanakeke berkurang secara drastis hingga tersisa 500-an hektar saja saat ini. Setelah sekitar 30 tahun berlalu, tambak-tambak yang tadinya berjaya kini menjadi lahan-lahan mati karena perubahan ekosistem dan terdegradasinya kualitas lahan. Keuntungan hanya dirasakan segelintir orang saja. Kebanyakan masyarakat Kepulauan Tanakeke masih hidup dalam kerentanan ekonomi, bahkan semakin sulit karena lingkungan mulai terganganggu. Ketidaktahuan menjauhkan masyarakat dari kesejahteraan!

Belajar dari kejadian masa lalu tersebut, masyarakat juga aparat pemerintah desa di Kepulauan Tanakeke kini berbenah. Sejak tahun 2010, dengan didampingi oleh Yayasan Konservasi Laut (YKL) dan Oxfam Indonesia Tmur, mereka mulai membangun kembali tata kelola kehidupan masyarakat dan pemerintahan yang lebih baik. “Baik” dalam artian pengelolaan desa yang partisipatif, responsif gender dan pro pada masyarakat yang rentan secara ekonomi.

Pengelolaan desa yang partisipatif penting diwujudkan agar pembangunan desa tidak dimonopoli oleh segelintir orang saja. Semua harus terlibat agar proses sumbang saran bisa berjalan efektif dan nantinya manfaat pembangunan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Penyadaran itulah yang mula-mula diberikan kepada masyarakat serta aparat pemerintah desa di Kepulauan Tanakeke. Aparat pemerintah desa dilatih tentang manajemen pengelolaan desa yang baik, masyarakat didorong untuk lebih aktif terlibat dalam pengawasan. Dalam tiga tahun belakangan ini hal tersebut sudah bisa berjalan, walaupun masih perlu terus ditingkatkan.

Kini Musrenbangdes (Musyawarah Rencana Pembangunan Desa) di lima desa di Kepulauan Tanakeke tidak sepi lagi seperti dulu. Masyarakat diizinkan, bahkan diundang untuk datang memberikan masukan dalam pengelolaan dana desa. Apalagi saat ini desa mengelola dana yang cukup besar setelah Undang-Undang Desa mulai berlaku. Masyarakat dan aparat pemerintah desa harus menyadari bahwa pengelolaan dan pengawasan penggunaan dana desa haruslah berjalan dengan baik. Jika tidak begitu, manfaat tidak akan didapatkan dan bisa saja akan terjadi penyalahgunaan anggaran.

Selain itu perspektif pembangunan desa yang lebih peka gender juga sudah mulai terlihat. Misalnya pembangunan beberapa fasilitas umum diharuskan memenuhi kebutuhan yang setara antara perempuan dan laki-laki. Dorongan untuk menyekolahkan anak minimal hingga SMA terus dilakukan di semua desa. Bahkan di Desa Maccini Baji dan Desa Tompo Tana, aparat pemerintah desa melarang perkawinan di bawah umur untuk menghindarkan anak-anak pada dampak buruk di usia dini.

Alokasi Dana Desa yang cukup besar tidak hanya diperuntukan untuk pembangunan fisik saja, tetapi juga untuk pembangunan kapasitas masyarakat. Masyarakat yang rentan secara ekonomi diberikan pelatihan berwirausaha dengan jalan memanfaatkan potensi lokal Kepulauan Tanakeke. Hal ini dilakukan untuk melepaskan masyarakat dari praktek Punggawa-Sawi (semacam praktek rentenir yang berlaku di wilayah pesisir Sulawesi Selatan) yang sangat memberatkan masyarakat. Kesemua hal tersebut dilakukan semata untuk mendistribusikan manfaat pembangunan yang lebih adil.


Secara perlahan kini masyarakat Kepulauan Tanakeke terus membangun kapasitas pengetahuan tentang pengelolaan desa mereka. Karena pengetahuan adalah gerbang menuju kesejahteraan dan portal penghalang bagi terjadinya penyalahgunaan dan tindak pidana korupsi.