Tampilkan postingan dengan label Jogja Hip-Hop Foundation. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jogja Hip-Hop Foundation. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Februari 2013

Band Indonesia yang Seharusnya Manggung di Makassar Tahun Ini


Ini tentang Makassar dan Musik Independen. Dari pandangan saya kota ini sedang bergairah dalam hal seni pertunjukan bebunyian dengan semangat DIY tersebut. Hampir tiap bulan, ada saja gigs yang dihelat. Mulai dari panggung mini yang memainkan skena lokal, sampai venue raksasa yang mendatangkan musisi berlabel internasional. Sungguh semarak.

Saya kira hal ini tak lepas dari kencangnya perkembangan informasi yang membuat semuanya serba mudah. Batas teritori seakan tak ada lagi. Bagaimana seorang musisi yang baru merilis karyanya, dalam sekejap seluruh nusantara sudah dapat mendengarnya. Lingkaran komunitas yang terbangun di dunia maya juga sangat membantu. Jalinan antara pembuat karya dan penikmatnya akan melahirkan hubungan yang sama-sama menguntungkan. Bahkan, bagi musisi, mereka akan mendapatkan promosi gratis dari para pendengarnya.

Hal lainnya adalah, berkembangnya Event Organizer (EO) yang fokus pada pengembangan bidang ini, seperti Chambers, Immortal, dll juga sangat membantu. Bagi saya mereka adalah pahlawan. Merekalah roda penggerak pengenalan musik-musik non-mainstream bagi masyarakat Makassar.

Tapi di tengah bergairahnya pertunjukan musik independen di Makassar, rasa-rasanya kok ada yang salah ya. Entah ini cuma kecurigaan tak beralasan atau apa, tapi saya merasa pendengar di Makassar cenderung monoton. Mereka terkesan terlalu nyaman untuk mendengarkan segelintir musisi saja. Misalkan saja Efek Rumah Kaca (ERK). Band ini (walaupun saya akui, ERK adalah band paling berpengaruh dalam hidup saya) sudah terlalu sering bermain di Kota Daeng. Saya mencatat, sejak 2009, hampir setiap tahun ada saja gigs yang memasang mereka sebagai headliner. Bukan apa-apa, dengan materi yang itu-itu saja (album Efek Rumah Kaca dan Kamar Gelap) apakah penikmat musik Makassar tidak bosan.

Ah sudahlah, Inti dari semua ini, besar harapan saya agar penikmat musik juga EO yang notabene yang merancang pertunjukan itu sendiri, dapat mengajak musisi yang lebih bervariatif kesini. Tentu kualitas musikal mereka tak kalah dengan band-band yang sudah keseringan main di Makassar.

Nah, lewat perbincangan dengan beberapa teman yang juga penikmat musik independen, saya (beserta teman-teman saya tersebut tentunya) merumuskan lima band yang seharusnya manggung di Makassar di tahun 2013 ini. Tak berlama-lama lagi, ini dia kelima band itu:
Melancholic Bitch
Dalam suatu kesempatan, Cholil, vokalis Efek Rumah Kaca pernah menyebut musik yang dimainkan oleh Melancholic Bitch (biasa disingkat Melbi) sebagai musik Efek Rumah Kaca untuk tingkat yang lebih advanced. Saya rasa Cholil tak berlebihan. Gaya musik Melbi memang mengingatkan saya dengan ERK, namun dalam versi yang lebih serius. Saya kira alirannya masih tergolong pop, namun di beberapa bagian cenderung gelap dengan nuansa psikedelik. Tema yang mereka usung juga tak jauh dengan apa yang sering diangkat oleh ERK, isu sosial dan sindiran-sindiran keras tentang kehidupan. Album terakhir mereka yang berjudul Balada Joni dan Susi sungguh menarik bagi saya. Bagaimana Melbi dapat mengikat kesemua lagu di dalam album tersebut menjadi satu jalinan cerita yang utuh dan tetap membahas isu-isu yang saling berbeda.

Sudah cukup lama band ini vakum. Hal itu disebabkan beberapa personel mereka sedang memiliki kegiatan masing-masig. Sang vokalis, Ugoran Prasad juga sedang berkonsentrasi untuk menyelesaikan studinya di luar negeri. Namun, kabar terbaru yang saya dengar, Ugo sedang berada di Indonesia dan akan tinggal selama setahun untuk suatu keperluan. Saya rasa ini momen bagi Makassar. Saya dengar mereka akan kembali bermusik bersama di beberapa daerah. Semoga ada EO yang menangkap kesempatan langka ini.
Dialog Dini Hari
Diawal kemunculannya band ini digadang-gadang sebagai supergrup. Ini disebabkan karena unit akustik-folk-blues ini adalah gabungan dari orang-orang yang telah lebih dulu bermain di beberapa band besar di Bali; Navicula, The Hydrant, Rokavatar. Walau Dialog Dini Hari pada awalnya hanya sebuah side-project, namun mereka tak pernah main-main menggarap sisi musikalitasnya. Musik minimalis namun sangat nyaman untuk didengar ditambah lirik lagu puitis nan menyentuh. Sungguh menyenangkan mendengarkan mereka.

Album Beranda Taman Hati adalah alasan saya jatuh cinta dengan Dialog Dini Hari. Mendengarkan lagu-lagu di album tersebut membuat hati menjadi tentram. Saya seperti sedang berbincang dengan seorang kawan lama sambil menikmati teh hangat di hari menjelang pagi.

Dan album terbaru mereka yang berjudul Lengkung Langit tak kalah menawan. Kembali Dialog Dini Hari membuat komposisi musik dan lirik yang mampu memanjakan telinga kita. Sungguh sangat disayangkan, Makassar (termasuk saya) belum berkesempatan menyaksikan penampilan langsung mereka.
Zoo
Saya belum terlampau mengenal mereka. Yang saya tahu, band asal Jogjakarta ini memiliki album bertitel Trilogi Peradaban yang mampu membuat saya terpukau. Nomor-nomor semacam Manekin Bermesin sungguh menarik bagi saya. Liar dan kasar dengan materi musik yang sangat unik. Saya tak mampu mengidentifkasi aliran yang mereka mainkan. Yang jelas saya sangat tertarik untuk menyaksikan penampilan langsung mereka.

Diawal tahun ini, Zoo kembali merilis album baru berjudul Prasasti. Saya belum sempat mendengar album mereka tersebut. Namun dari cerita teman-teman di sosial media yang sempat hadir pada launching album mereka di beberapa kota (cerita-cerita tersebut sangat berhasil membuat saya ini) penampilan Zoo sungguh apik. Bintang lima punya.

Mumpung lagi momen album baru, sudah sepantasnya Makassar mendapat jatah untuk menyaksikan aksi liar manusia-manusia dalam kebun binatang ini.
Jogja Hip-Hop Foundation
Seharusnya tak ada lagi alasan bagi unit hip-hop berbahasa jawa ini untuk bermain di Makassar. Kota-kota di Amerika dan beberapa negara saja telah mereka buat kagum akan penampilan apik mereka. Perihal dominan lagu mereka berbahasa Jawa dan kita disini berbahasa Bugis-Makassar, oh come on. Tak penting kali hal itu dipermasalhkan. Kan musik itu universal. Musik seharusnya menyatukan, bukan mengkotakkan.

Ah, pokoknya lagu mereka semacam Jogja Istimewa haruslah berkumandang di Makassar tahun ini. Itu aja sih.
Morfem
Pilih Sidang Atau Berdamai, lagu kritik terhadap korps kepolisian tersebut sangat kencang diputar di akhir tahun 2011 lalu. Bahkan Majalah RollingStone Indonesia menobatkan video lagu tersebut sebagai video musik terbaik di tahun itu. Tersangka atas semua itu adalah, Morfem.

Morfem adalah projek sampingan dari Jimmy Multazham, yang dikenal sebagai vokalis band new wave indonesia, The Upstairs. Bersama ketiga kawannya ia membentuk sebuah band berirama indie rock dengan efek gitar fuzz yang kental. Tema besar yang mereka usung juga isu-isu sosial. Lagu terbaru mereka yang berjudul Kami Bosan jadi Negara Dunia Ketiga dapat didengar di album kompilasi Frekuensi Perangkap Tikus, proyek keroyokan beberapa musisi dalam rangka kampanye anti korupsi.

Sebenarnya saya sudah pernah menyaksikan aksi panggung mereka secara langsung, yaitu di Lapangan Monas dan Gedung Salihara di Jakarta. Namun sungguh kurang rasanya kalau belum menyaksikan band yang menarik di kota yang tentu juga menarik ini. Semoga secepatnya Makassar berjodoh dengan Morfem.

Selasa, 17 Januari 2012

Resolusi Konser 2012


Saya suka mendengar/menonton musik Indonesia... Ah, klise. Sudah sangat sering saya katakan itu. Tak usah dibahas lagi.

Salah satu keinginan saya di tahun 2012 ini adalah lebih banyak menonton konser band-band kesukaan. Ada banyak band/musisi keren (menurut saya) Indonesia yang belum saya datangi pertunjukan live-nya. Alasannya lebih kepada karena mereka belum sempat main di Makassar sih. Kalau saya yang mendangi konser mereka di Jawa kan berat di ongkos. Jadi untuk sementara bersabar saja dulu, sambil berharap ada promotor yang mau mengajak mereka main ke Makassar.

Ini dia daftar resolusi konser saya di tahun 2012:

Dialog Dini Hari

Mereka adalah trio supergrup dari kancah musik Bali. Personilnya datang dari band-band yang lebih dulu eksis di ranah musik pulau dewata tersebut. Dankie (Navicula), Michael Bronzio (eks The Hydrant) dan Putu Deny Surya Wibawa (Rokavatar). Bertiga mereka bersekongkol untuk memainkan musik yang tidak tersalurkan di band sebelumnya. Album pertama Beranda Taman Hati yang berasa folk-blues langsung membuat saya jatuh cinta sejak pertama mendengar. Dialog Dini Hari, tahun ini kita harus bertemu!

Sir Dandy

Tak perlulah saya menjelaskan lagi. Lesson #1, album perdana orang gila ini, hingga kini masih mampu membuat saya terus tertawa geli tiap kali mendengarkannya. Sir, tahun ini kita harus bertemu! Sikat Jon!

Melancholic Bitch

Mungkin harapan saya untuk menyaksikan band terbaik Jogja ini akan sangat tipis. Akhir Juli tahun lalu mereka telah mengumumkan akan 'rehat' hingga waktu yang belum ditentukan pada sebuah konser yang emosional. Masing-masing personil sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Dalam doa sehabis sholat, saya sering meminta agar mereka segera berkumpul dan mengelar pertunjukan lagi. Tentu dengan harapan saya ada di tengah-tengah konser reuni tersebut. Amin. Om-om Melbi, tahun ini kita harus bertemu!

Jogja Hip-Hop Foundation

Baru kali ini saya benar-benar menyukai lagu hip-hop. Panji-panji Ngayogyakarta Hadiningrat. Merekalah yang telah berhasil membuat saya keracunan musik para rapper dengan lirik berbahasa jawanya itu. Ketika budaya lokal bertemu budaya global. Ketika beat hip-hop bercampur dengan syair tradisional jawa. Ketika batik matching dengan sneaker. Saat itulah anda siap digoyang oleh sekumpulan bernama Jogja Hip-Hop Foundation. Kang mas-kang mas, janji ya, tahun ini kita harus bertemu!

Armada Racun

Lagi-lagi band Jogja. Kota ini memang pencetak manusia-manusia dengan predikat musisi keren. Yang ini band beracun bernama Armada Racun. Mereka sudah menjadi racun bagi saya sejak pertama mendengar lagu Amerika. Belum lagi lagu-lagu lainnya di album Le Peste semacam Tuan Rumah Tanpa Tanah, Lalat Betina dan lainnya. Eh album mereka ini juga masuk dalam album terbaik tahun 2010 pilihan saya loh. Tapi sayang saat ini mereka juga sedang rehat. Dalam masa pengerjaan album sih dengar-dengar. Sungguh saya sudah sangat siap untuk diracun oleh kalian. Kakak-kakak Armada Racun, pokoknya tahun ini kita harus bertemu!

Bangkutaman
Salah satu penyesalan saya di tahun 2010 adalah tidak sempatnya saya menyaksikan pertunjukan live unit indie-pop ini pada saat mereka tampil di Makassar. Ada banyak alasan saya harus menyaksikan mereka. Tapi cukuplah dengan fakta bahwa album Ode Buat Kota milik mereka adalah album terbaik 2010 versi Rolling Stone Indonesia. Ah, mas-mas, main ke Makassar lagi dong. Saat itu saya berjanji untuk berada di barisan paling depan untuk menonton kalian. Oke ya, Bangkutaman, tahun ini kita harus bertemu!

The Adams
Sudah sejak SMA saya menyukai mereka. Lagu Konservatif yang menjadi soundtrack film Janji Joni penyebabnya. Belum lagi Halo Beni dan Hanya Kau. Tak usah banyak alasan. pokonya saya harus menonton pertunjukan live mereka. The Adams, tahun ini kita harus bertemu!

Luky Annash
Entah saya saja yang kurang tahu, tapi saya belum pernah mendengar seorang musisi memainkan piano seliar dibanding apa yang dilakukan oleh Luky Annash. Pada bagian lirik lagu juga sangat kuat. Album 180 Derajat yang rilis tahun 2011 adalah album perdana sekaligus perkenalan yang mantap saya rasa. Luky, tahun ini kita harus bertemu!

Raisa
Saat pertama mendengarkan solois ini lewat radio, saya langsung jatuh hati. Suara beratnya sungguh seksi menurut saya. Sekalinya melihat wujud aslinya di televisi, saya semakin jatuh hati. Musik Raisa yang memasukkan bermacam-macam unsur seperti pop, jazz dan balada sangat menarik. Sebenarnya ia juga sudah pernah tampil di Makasar. Tapi entah kemana saya waktu itu. Ayolah Raisa, jangan bikin aku serba salah dong. tahun ini kita harus bertemu!

Itu saja mungkin ya. Diaminin dong pemirsa!