Tampilkan postingan dengan label Racauan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Racauan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Agustus 2013

Segenggam Syukur untuk Juli

Tentu akan selalu ada hal yang perlu disyukuri dan sedikit disesali dari bulan-bulan yang telah berlalu. Tapi saya tak tahu pasti, dimana harus memposisikan semangat-menyelesaikan-skripsi-yang-masih-kembang-kempis. Sudah pasti saya tak pernah menyukirinya, pun tidak pernah berpikir untuk menyesalinya. Yang sedikit saya sayangkan adalah saya pernah ikut-ikutan latah untuk segera merampungkannya.

Hal yang perlu disyukiri di bulan Juli kemarin tentu saja ada banyak doa yang tertuju kepada saya tepat di hari kelahiran. Walau saya tak pernah mengharapkannya, saya merasa perlu untuk berterimakasih kepada kawan-kawan, guru-guru, teman-teman dampingan yang telah meluangkan waktunya untuk mengharapkan kebaikan bagi saya. Saya tak bisa membalas banyak kecuali berharap yang terbaik pula bagi mereka semua.

Juli juga membawa saya untuk sedikit bernostalgia dengan kesukaan saya akan sastra, khususnya puisi. Suatu sore di pertengahan bulan ini saya tiba-tiba mengamini ajakan seorang teman untuk mengikuti kompetisi bernama #DuetPuisi. Jadilah saya seorang penyair selama kurang-lebih sepuluh hari. Secara bergantian, setiap harinya kami membuat satu buah puisi yang saling berbalasan. Untuk mempermudah pembuatannya, kami mengarahkan puisi kami kepada tema “Ke-Indonesia-an”. Sangat sok-sok-an memang. Tapi, lagi-lagi yang harus disyukiri adalah saya bisa menunaikan tugas tersebut sampai hari terakhir. Diluar dugaan saya sendiri, saya bisa membuat puisi (lebih kepada meracau sebenarnya) secara marathon selama dua hari sekali selama sepuluh hari tanpa henti. Padahal, setelah saya ingat-ingat lagi, terakhir kali saya membuat puisi adalah untuk sebuah tugas sekolah di tahun 2006 ketika masih duduk di kelas dua SMA. Benar-benar sesuatu yang harus disyukuri bukan.

Hasil dari meracau, eh #DuetPuisi saya bisa dilihat disini. Dan karya rekan duet saya bisa dibaca disini. Dengan catatan; yang memulai #DuetPuisi tersebut adalah rekan saya dan dilanjutkan oleh saya di hari berikutnya lalu dibalas lagi oleh rekan saya tersebut. Begitu seterusnya sampai kurang-lebih sepuluh hari.

Selain itu, minggu terakhir Juli kemarin saya juga mulai magang di Yayasan Konservasi Laut (YKL) Makassar. Disana, saya bersama Dede akan belajar banyak tentang kerja teman-teman YKL dalam melakukan pendampingan terhadap masyarakat pesisir di Kabupaten Maros dan Takalar. Sejauh ini saya cukup menikmati proses tersebut. Saya mendapatkan teman-teman baru yang seru juga seorang pembimbing magang yang sangat banyak membantu.

Hari Jum’at minggu lalu, belum cukup sepekan masuk saya sudah diajak untuk melakukan pendampingan di Pulau Tanakeke, Kabupaten Takalar. Selama lima hari saya banyak belajar disana. Tentang bagaimana melakukan pendekatan kepada masyarakat kemudian mengajak mereka untuk berbuat sesuatu. Kak Winda, pembimbing saya sekaligus pendamping regular beberapa kelompok masyarakat disana menunjukkan bagaimana melakukan pendekatan kepada masyarakat pesisir. Di banyak pertemuan saya lebih banyak diam untuk menyimak. Tapi di luar itu saya banyak berbincang, terutama dengan salah satu kepala desa tentang beberapa peraturan desa yang telah dan akan mereka buat.

Banyak pengalaman seru selama kunjungan ke Pulau Tanakeke beberapa hari yang lalu. Sebelum keberangkatan kami sudah diwanti-wanti untuk waspada selama perjalanan. Itu karena angin di perairan Laut Sulawesi sedang kencang-kencangnya. Bahkan kami dibekali pelampung untuk jaga-jaga. Benar saja, kapal yang mengantar kami untuk menyeberang pulau digoyang cukup kencang oleh angin. Padahal kapal yang kami tumpangi adalah kapal pengangkut besi yang cukup besar. Beberapa kali ombak yang cukup besar silih berganti menghantam dari kanan dan kiri kapal. Saya hanya bisa merapal beberapa doa dibuatnya. Untung saja kapal masih bisa bersandar di dermaga Desa Tompo Tana dengan selamat. Tentu hal ini pun sangat perlu untuk disyukuri.

Di Pulau Tanakeke saya juga belajar banyak untuk menghargai air. Dengan kondisi geografi yang dikelilingi oleh laut yang sangat luas, seluruh desa di Pulau Tanakeke memilki debit air tawar yang sangat terbatas. Tak heran air tawar disana dihargai dengan sangat mahal. satu jiregen yang berisi dua puluh liter air dijual seharga 2.500 Rupiah. Tak ada jalan lain selain menghemat. Mandi pun harus disesuaikan, yang biasanya dua kali sehari jadi maksimal hanya sekali sehari. Bahkan untuk berwudhu saya hanya punya jatah satu gayung air tawar. Benar-benar kita harus memperhitungkan tiap tetes air yang digunakan.

Walau begitu tak banyak saya lihat keluhan dari masyarakat setempat. Mesin penawar air laut yang telah ada namun belum bisa berfungsi tak pernah dikutuki. Saya pun diajak untuk belajar bagaimana mengganti keluhan dengan rasa syukur lainnya.

Begitulah. Beberapa syukur memang perlu dirayakan. Bukan berarti tak ada rasa penyesalan selama Juli ini. Tetap ada, hanya saja saya merasa tak perlu untuk membaginya. hehehe...

Senin, 15 Juli 2013

Akhir-Akhir Ini...



Jika ada hal yang harus saya kutuki saat ini, tentu saja hal itu adalah kealpaan menuliskan sesuatu hal pun di blog ini dalam kurun waktu dua bulan. Saya merasa seperti orang hilang ketika membukanya lagi beberapa hari yang lalu. Padahal jika diingat-ingat lagi, ada banyak hal menarik yang bisa jadi bahan tulisan di bulan Mei-Juni kemarin. Namun semua itu berlalu begitu saja menjadi ingatan yang sayang untuk dibuang.

Untuk itu, saya ingin mencoba mengingat kembali kejadian remeh-temeh, seperti yang biasa saya lakukan di blog ini. Tentu saja sambil memperbaharui ikrar saya untuk menulis di laman ini, paling tidak sebulan sekali.

Ini dia;

Pendakian perdana

Bukannya ingin ikut-ikutan naik gunung, apalagi trinspirasi film 5 CM yang monumental di adegan g-string-nya itu. Ini murni karena ajakan keroyokan teman-teman angkatan. Walau tidak terlalu serius, latihan fisik tetap saya lakukan selama beberap hari sebelum keberangkatan. Karena ini adalah pendakian perdana dan juga medan yang akan dilalui tidak terlalu berat, saya hanya membawa ransel andalan yang tidak terlalu besar. Isinya pun tak terlalu banyak, cukup beberapa pakaian seadanya juga sebagian persedian kelompok yang saya bawa.

Tiga hari dua malam di Lembah Ramma’ begitu berkesan bagi saya. Tuhan melindungi kami selama pendakian dengan menghadirkan cuaca cerah ceria pada saat perjalanan pergi dan pulang. Kekhawatiran akan cuaca yang sangat dingin tidak terjadi. Kehangatan alam dan keceriaan bersama teman-teman seperjalanan terpaksa membuat saya mengutuki diri sendiri; kenapa pada umur setua ini baru saya menyentuh gunung.

Pendakian ini juga terasa istimewa karena mengakrabkan saya dengan beberapa teman angkatan. Entah kemana saja saya selama tiga tahun ini. Silih berganti nyaris tanpa henti kami bersenang-senang dengan bernyanyi dan saling lempar olok-olokan yang selalu diakhiri dengan tawa lepas. Lelah perjanan tak begitu terasa karena hal tersebut.

Terimakasih kepada Tuhan, alam dan teman-teman baik yang telah menghadirkan pengalaman menyenangkan ini.

Bertemu Idola

Periode Mei-Juni juga menjadi momen untuk bertemu dengan orang-orang yang saya kagumi. Mereka adalah sosok yang mengisi sebagian hidup saya dengan asupan bacaan dan musik yang memang menjadi kegemaran saya.

Diawali dengan kesempatan menonton konser Morfem dan Dialog Dini Hari di Jogjakarta bulan lalu. Konser ini menjadi lebih spesial karena band teman-teman SMA saya, LazyRoom, juga turut berbagi panggung dengan dua grup kesukaan saya itu. Morfem dengan sound dan penampilannya yang selalu bersemangat berpadu dengan Dialog Dini Hari yang lembut dan lirik puitis juaranya. Nah, LazyRoom hadir diantaranya dengan membawakan musik mengawang-awang yang sesekali berteriak. Impian untuk menonton ketiga band tersebut terwujud dalam satu kesempatan. Sungguh anugerah yang patut dikenang.

Kesempatan selanjutnya saya bertemu dengan salah dua penulis favorit saya; Sapardi Djoko Damono dan Agustinus Wibowo. Pertemuan ini juga dalam satu kesempatan yang sama yaitu di Makassar International Writers Festival yang tahun ini memasuki helatan ketiganya. Sapardi adalah alasan saya jatuh cinta dengan Bahasa Indoesia. Bu Ranti, guru sewaktu SMA yang memperkenalkannya kepada saya. hal yang paling saya sukai dari syair-syair Sapardi adalah (lagi-lagi) kesederhaan yang hadir dari perenungan yang mendalam. Karya Sapardi mampu mengambil hati pembacanya dengan mudah. Tak terbatas pada situasional tertentu tapi mampu mengisi sepanjang kehidupan. Abadi.

Agustinus Wibowo lain lagi. Saya menyukainya karena totalitas dalam menyusun sebuah tulisan. Ia yang seorang penulis perjalanan mengandalkan riset yang sangat mendalam dalam menuliskan karyanya. Hal itu sangat mudah kita dapatkan ketika membaca buku-bukunya, mulai dari Selimut Debu sampai yang terbaru Titik Nol. Dari tulisannya kita tak hanya mendapatkan informasi dasar tentang perjalanan tapi sampai pada hal tersembunyi bahkan sesuatu yang tak pernah diungkap sebelumnya.

Terakhir, saya cukup senang katika berbincang-bincang singkat dengan Bangkutaman. Kesempatan ini dihadirkan oleh Kedai Buku Jenny lewat program rutinnya, KBJamming. Wahyu Acum dan Dedik bercerita kepada kami tentang proses produksi sebuah lagu khususnya Ode Untuk Kota yang selaras dengan tema diskusi sore itu, Musik dan Kota. Momen paling berkesan pada kesempatan ini tentu saja ketika lagu Ode Untuk Kota dilantunkan. Secara spontan yang hadir langsung ikut bernanyanyi tanpa aba-aba. Sungguh Minggu sore yang menyenangkan.

Tugas Akhir Mulai Jalan Kembali

Untuk ini saya sulit untuk bercerita banyak. Yang jelas, proses revisi pertama proposal sudah masuk ke pembimbing 1. Mohon doa untuk kelancarannya. Agar tak ada lagi basa-basi klise yang sungguh menjengkelkan: “sudah sarjana?”

Sekian dulu. Oh iya, selamat berpuasa bagi teman-teman yang menjalankan. Tetap saling menghormati. Semoga Tuhan merahmati kita semua.

Minggu, 20 Januari 2013

Sedikit Racauan dan Playlist Januari


Awal tahun saya sudah dihampiri beberapa masalah. Diawali dengan mimpi kurang ajar beberapa hari lalu. Suatu malam yang dingin, saya didatangi sesosok makhluk misterius. Tanpa sapa yang sopan, ia langsung melontarkan kalimat horor: "Mana skripsimu?" Sial! mungkin ini mimpi terburuk yang pernah saya alami selama masa kuliah.

Selang sehari kemudian, langsung saja saya membongkar kembali berkas pengurusan Tugas Akhir yang sudah saya diami selama tiga bulan. Lalu saya masukkan ia ke dalam tas untuk kembali rutin diajak ke kampus. Tapi jalan saya ternyata tak mulus. Masalah-masalah lainnya segera muncul. Sepertinya semesta sedang membuat permufakatan jahat untuk membuat jera orang-orang yang terlalu banyak membuang waktu seperti saya.

Laptop yang terserang virus sehingga menjadi tidak berguna menjadi hukuman awal yang lumayan menggangu bagi saya. Memulai untuk menulis skripsi sih masih bisa, tapi tiba-tiba saja ia (si la[ptop) tak bisa terkoneksi dengan wifi. Selain itu virus kurang ajar itu membuat laptop saya jadi enggan menerima USB. Untuk mengobatinya saya berkonsunsultasi kepada seorang senior, Romy namanya. Katanya, satu-satunya jalan untuk masalah itu adalah, laptop saya harus di-install ulang. Terserahlah, Rom. Yang penting si laptop bisa kembali berfungsi dengan baik. Singkat cerita, laptop saya sudah kembali baik. Tinggal butuh di-install beberapa software yang dibutuhkan. Terimakasih kepada Romy untuk penyelesaian masalah ini. Semoga pahalanya semakin banyak.

Masalah lainnya adalah, salah seorang penguji saya ternyata sedang liburan ke Bali,  sehingga tak dapat dimintai tanda tangan berkas persetujuan penguji. Kabarnya beliau baru akan kembali ke kampus diawal Februari. Alamak! Okelah, saya maklumi saja. Toh saya yang salah, terlalu lama mengulur waktu.

Belum lagi hujan yang akhir-akhir ini terus mengguyur Makassar membuat mobilitas menjadi berkurang. Dengan cuaca seperti ini medan magnet kamar juga semakin menguat, terus menggoda saya untuk tidak beranjak. Padahal, selain ke kampus untuk mengurus Tugas Akhir, saya juga harus rutin bertemu dengan teman-teman KontraS Makassar. Sudah hampir sebulan ini saya sedang membantu urusan media disana. Harapannya sih, menambah pengalaman dan (ehem ehem) mereka dapat membantu saya dalam proses pengerjaan skripsi saya yang membahas tentang HAM. Hihihi modus banget ya.

Sudah ah. Saya sudah seperti SBY karena kebanyakan curhat ini. Untuk menemani saya menghadapi bulan Januari (yang penuh cobaan ini), berikut ada lima lagu yang sedang sering saya dengarkan. Ini ini, semoga kalian suka juga lah.

I Know What Love Isn't - Jens Lekman
Ravando, seorang teman yang sedang melanjutkan kuliah di Leiden, Belanda yang pertama kali memperkenalkannya kepada saya. Pertama kali mendengarnya, beberapa waktu lalu, saya langsung jatuh hati. Lagu-lagu musisi asal Swedia ini terdengar tenang dan halus tapi juga tidak terlalu slow. Cocok untuk suasana penghujan seperti sekarang ini. Dan lagu yang membuat saya jatuh hati adalah track I Know What Love Isn't. Jens Lekman yang memainkan gitar membawakan lagu ini dalam format band, yang membuat lagu ini terdengar semakin menarik. Untuk mendengarkannya bisa mulai dengan mengunjunginya disini.
Seni yang Rapuh - Sind3ntosca
Band ini terkenal sebagai salah satu one hit wonders lewat lagunya yang berjudul Kepompong. Tapi ternyata mereka juga mempunyai lagu-lagu yang cukup lumayan, yang mungkin belum sempat beredar luas. Seni yang Rapuh adalah salah satunya yang sedang sering saya dengarkan. Bercerita tentang betapa rapuhnya diri kita saat ditinggal orang yang kita sayangi. Musiknya juga pelan, sama dengan suasana iklim sekarang. Cocok sebagai pengantar tidur. Lagu menarik dari Sind3ntosca ini bisa didengarkan disini.
Shadow Days - John Mayer
Lagu ini paling tepat untuk menggambarkan nasib saya sekarang. Mungkin saya tergolong bebal dalam hal mengakui kesalah pada beberapa keputusan salah yang pernah saya ambil. Saya kurang bisa menyesali sesuatu yang telah saya lewatkan begitu saja. Padahal kalau dipikir lebih seksama hal itu terlalu merugikan. Mungkin saya perlu berdamai dengan diri sendiri untuk memperbaiki hal ini. Ah ngomong apaan sih ini. Langsung saja nikmati Shadow Days dari John Mayer disini.
Sunday Sunday - Blur
Lagu lama sebenarnya, salah satu lagu yang menemani saya melalui masa transisi dari anak-anak menuju usia sekarang. Tapi hari-hari belakangan ini saya kembali rajin mendengarkannya.  Sunday Sunday adalah lagu pengantar untuk bermalas-malasan di hari minggu. Tapi musik yang mengiringinya malah tetap semangat ala Blur yang mewakili generasi 90-an. Kalau kamu kamu generasi indie 90-an seperti saya langsung sedot saja lagu ini disini. Sumpah, kalimat terakhir itu norak sekali.
I Do - Colbie Caillat
Bagi saya kata seksi yang sebenarnya bersinonim dengan Colbie Caillat. Cantik, bermain gitar dan bernyanyi di tepi pantai yang indah adalah pemandangan yang sangat merugikan apabila dihindari. Lihat saja bibirnya ketika melantunkan syair "I do I do I do do do do do do do do...." Di bagian itu keseksian solois Amerika ini bertambah beberapa derajat. Aduh, udah ah, ampuuun... Langsung aja ni dinikmati disini.

Jumat, 05 Oktober 2012

Tanggung Jawab

Sederhana saja sebenarnya. Saya adalah tipe orang yang akan akan sangat sulit untuk berkonsentrasi apabila sudah diperhadapkan pada banyak permasalahan ataupun tanggung jawab.

Mungkin sudah menjadi takdir bagi seorang mahasiswa semester tujuh yang baru saja pulang KKN, ia akan dicecar pertanyaan yang akan selalu mendebarkan: Kapan Sarjana? Kalau sudah begitu, dunia kampus pun segera berubah menjadi tempat yang sangat menakutkan. Seakan-akan ada ribuan zombie yang siap mencekik apabila kita tak segera menemukan pintu keluar. Sungguh mengerikan.

Sudah sebulanan ini saya melihat pemandangan itu. Beberapa teman seangkatan mulai sibuk menenteng map besar nan tebal berisi berkas-berkas persiapan proposal skripsi. Dari langkah mereka, sungguh terlihat perasaan yang tidak santai lagi. Semua serba dipercepat. Seakan-akan mereka memiliki tenaga ekstra untuk terus berjalan. Semua itu demi satu tujuan: Sesegera mungkin keluar dari arus menakutkan tersebut alias lulus.

Sungguh sial, saya pun sempat tertular sindrom itu. Jujur saja, saya juga sempat panik melihat perubahan tersebut. Beberapa langkah persiapan yang tentu saja menguras tenaga dan waktu tersebut sudah sempat saya lakoni. Larut dalam perlombaan Mengejar-Wisuda-Secepat-Mungkin tanpa sadar bahwa ada beberapa tanggung jawab yang telah diambil dan tentu saja perlu untuk ditunaikan.

Dari situ saya tersadar. Seperti bangun dari mimpi buruk, saya segera mencuci muka lalu memantapkan hati untuk menepikan dulu segala tetek-bengek tugas akhir. Judul skripsi yang sudah terlanjur diterima saya endapkan sementara di map besar dan tebal yang juga sudah terlanjur terbeli. Ada hal besar dan tak kalah penting yang harus diselesaikan. Organisasi masih membutuhkan saya.

Tanggung jawab yang pertama dan tentu saja yang paling utama terdapat di LP2KI. Organisasi ini sudah menjadi semacam rumah bagi saya selama masa kuliah tiga tahun di Fakultas Hukum Unhas. Dan setahun belakangan ini saya dipercayakan untuk memimpin rumah ini. walau pada awalnya tanggung jawab ini saya terima dengan berat hati, tapi dalam perjalanan saya terus berusaha seikhlas mungkin mengemban kepercayaan tersebut. Dan itu semua akan selesai di bulan November nanti, pada Musyawarah Besar LP2KI.

Sementara itu, saya juga masih punya pekerjaan dari ILSA Unhas. Olehnya saya dipercayakan untuk memimpin persiapan sebuah seminar yang bekerjasama dengan perwakilan PBB di Indonesia. Seminar tentang ‘Refugees’ ini akan kami laksanakan pada 17 Oktober nanti. Saya menerima tanggung jawab ini karena suka dengan tema kegiatannya. Selain juga sebagai bentuk terimakasih kepada lembaga ini karena mengajarkan banyak hal dan mempertemukan saya dengan orang-orang baik di dalamnya.

Yang lainnya, saya juga sedang terlibat pada sebuah penelitian beberapa dosen. Berdua dengan Chua, kami membantu mengumpulkan beberapa data penelitian yang dibutuhkan. Tapi sepertinya tanggung jawab saya di sektor ini sudah rampung. Penelitian tersebut sudah masuk pada tahap penyelesaian. Tentu saja ini kabar melegakan.

Ya, begitulah. Semua yang telah dimulai sudah semestinya diakhiri bukan.

Selasa, 24 Juli 2012

Float - I.H.I


lagu ini sedang menjadi favorit saya. Pertama kali dengar sekitar awal bulan lalu, dan masih terus saya dengar hingga awal Ramadha ini. Musiknya menarik, folk-pop ceria, apalah itu. Liriknya sungguh sederhana namun sangat menarik. Seperti lagu-lagu Float yang sebelum-sebelumnya, lagu ini sama menyentuhnya.

Itu aja sih. pokoknya langsung dengar saja. Bisa klik disini 
 
Bersepeda kau kubonceng di depan
Kubilang jok b'lakangnya lenyap semalam
'Ntah apa memang perlu
semua siasat itu


Kucuri hirup wangi rambut barumu
Makin cepat kukayuh pedal s'pedaku
Tawamu berhamburan
Raguku pudar
Yakin kupastikan
harapanku berkembar


Terang saja langitku
masih sempat c'rah biru
meski musim kian tak menentu
Indah hari itu


Di dekat danau itu kita berhenti
Berlomba kau dan aku lari ke tepi
Menghempas diri ke udara
'tuk jatuh lagi
dalam mimpi panjang kita
yang kini s'makin nyata


Terang saja langitku
masih sempat c'rah biru
meski musim kian tak menentu
Indah hari itu

Senin, 09 April 2012

Tentang Kesetian

Hari Sabtu yang lalu, Romi, seorang senior di asrama, begitu bersemangat untuk menonton highlight Liga Italia di Indosiar. Tebak saya: ini pasti karena di pertandingan terakhir Inter Milan, klub sepakbola kesangannya berhasil menang dengan banyak gol. Ya, Romi adalah seorang Interisti (sebutan untuk para penggemar Inter Milan). Akunya, ia telah menjadi seorang Interisti sejak tahun 2001. Ketika saya bertanya mengapa ia masih cinta Inter dengan prestasinya yang sedang hancur-hancuran musim ini, dengan mantap ia menjawab: "Disinilah arti kesetian itu diuji."

Sebagai sesama penyuka klub Lega Calcio, saya senasib dengan Romi. Klub kesayangan saya, AS Roma juga sedang terpuruk musim ini. Jangankan Scudetto, masuk ke zona Liga Champions saja berat. Kedatangan pemilik baru juga pelatih baru musim ini tak membawa perubahan yang berarti. Walau begitu, jangan harap saya mau melepas status saya sebagai seorang Romanisti. Bagi saya, berhenti jadi Romanisti sama berdosanya dengan murtad dalam Islam.

Saya masih ingat perkenalan pertama saya dengan AS Roma. Sekitar tahun 2000, seperti kebanyakan anak laki-laki lainnya saya mulai kecanduan sepakbola. Tidak hanya memainkannya, saya juga tak ketinggalan untuk menonton setiap pertandingan sepakbola melalui saluran TV. Kesukaan saya waktu itu adalah Liga Italia Serie A. Semua juga tahu, waktu itu Liga Italia adalah liga sepakbola nomor wahid di dunia, mengalahkan Liga Premier Inggris dan La Liga Spanyol tentunya. RCTI sebagai TV swasta terbaik di Indonesia, senantiasa menayangkannya setiap akhir pekan, terkadang di tengah pekan.

Untuk masalah klub, saya menjatuhkan pilihan saya pada klub ibukota, AS Roma. Bukan tanpa alasan. AS Roma tengah berbenah kala itu. Gabriel Batistuta, penyerang paling berbahaya kala itu, didatangkan dari Fiorentina. Fabio Capello yang telah terbukti sukses menangani klub-klub besar pun dipertahankan sebagai pelatih. Mungkin ini adalah tindakan yang timbul dari rasa cemburu karena Lazio, seteru sesama kota, meraih gelar Scudetto pada kompetisi jilid sebelumnya.

Pembenahan sana-sini membuat performa Roma meningkat tajam. Capello pintar betul membangun tim ini. Ia tinggalkan skema klasik 4-4-2 dan mulai membangun taktik baru yang awalnya dianggap aneh: 5-2-1-2. Formasi ini diragukan di awal. Ia dianggap rapuh, karena menumpuk lima bek sekaligus dan hanya menempatkan dua gelandang murni. Tapi hasil berkata lain. Roma berbuat banyak di tengah kepungan klub-klub besar klub Lega Calcio lainnya saat itu: Juventus, AC Milan, Inter Milan, Lazio dan Parma.

Skema 5-2-1-2 ala Capello: Aneh tapi dahsyat
Antonioli mantap di bawah mistar gawang. Trio bek Samuel-Aldair-Zebina sulit ditembus. Sepasang sayap Candella dan Cafu berperan ganda: penyokong pertahanan yang baik sekaligus menjadi pendukung serangan yang mumpuni. Emerson dan Tomassi menjadi penyeimbang yang sempurna. Dan, ini dia senjata paling mematikan Roma saat itu: Tridente Totti-Batistuta-Montella. Capello menemukan posisi baru bagi Totti. Dia yang sebelumnya adalah penyerang murni, ditarik sedikit ke belakang menjadi 'pembantu' bagi duet Batistuta-Montella. Hasilnya, walaupun Totti tidak menjadi pencetak gol terbanyak bagi Roma musim itu, ia menjadi titik sentral permainan tim. Dan di ujung kompetisi Roma berhasil merebut gelar Scudetto yang telah dinanti beberapa dekade.


Begitulah. Tiba-tiba saja ramai orang menyukai Roma saat itu. Termasuk saya dan seorang kawan paling akrab semasa SD, Darwis atau lebih akrab dipanggil Lawe'. Berdua, kami adalah Romanisti berkasta Ultras di sekolah waktu itu. Kala itu, jika ditanya, siapa Romanisti paling merah di SD 018 Karang Rejo? semua telunjuk pasti akan menuju ke arah kami berdua. Dengan sendirinya saya resmi dibaptis menjadi seorang Romanisti mulai saat itu, tahun itu, hingga kini.

Ini Tridente yang memantapkan saya untuk menjadi Romanisti hingga hari ini
Semusim-dua musim berlalu Roma masih bisa bersaing di jalur juara. Tiga musim dan selanjutnya, Roma mulai terseok-seok. Jangankan Scudetto, untuk masuk zona Liga Champions saja selalu sulit. Kondisi naik-turun ini berlanjut hingga musim kompetisi saat ini. Pada kondisi seperti ini, ke-Romanisti-an saya terus diuji. Tapi, entah mengapa saya terlanjur tidak bisa berganti klub kesayangan. Hati ini sudah terlanjur berbentuk Serigala Merah dan mustahil untuk berubah, walau apapun yang terjadi. Berlebihan? Terserah apa kata kalian lah.

Saya kira cinta mati saya kepada AS Roma lahir, tumbuh dan terus berkembang karena rasa yang bernama kesetian. Karena ini masalah kesetiaan, apa sebenarnya parameter untuk mengukur sebuah kesetian? Abstrak ya? Tapi bagi saya mudah saja. Kesetian, bagi saya bukan lahir dari 'seberapa kencang kau bersorak ketika klub yang kau bela meraih kemenangan ataupun gelar juara', atau 'seberapa banyak kemenangan yang kau lalui bersama tim yang kau sokong'. Kesetian yang besar akan teruji dari 'seberapa banyak kekalahan yang dialami oleh klub kesayanganmu, yang dapat kau lalui tanpa ada perasaan untuk meninggalkannya'. Itulah yang terjadi kepada saya, dengan kondisi Roma belakangan ini.

Terkadang saya jengkel dengan orang-orang (banyak di antara mereka adalah teman-teman saya sendiri) yang begitu mudah berganti klub kesayangan. Musim kompetisi yang lalu-lalu mengaku Madridista (sebutan untuk para penggemar Real Madrid), eh belakangan ia beralih menjadi penyokong Barcelona dengan prestasinya yang mentereng belakangan ini. Saya curiga, jika suatu hari nanti, Gijon misalnya, menjadi klub besar, si bunglon ini akan beralih lagi menjadi seorang Gijonista(?). Ah, kacau orang-orang seperti ini. Saya masih respek dengan orang-orang seperti Romi, yang masih terus setia dengan satu klub, apapun kondisinya. Disitulah sesungguhnya letak kenikmatan menjadi seorang suporter klub sepakbola. Seimbang. Terkadang merasakan nikmatnya kemenangan, tentu juga harus mencicipi rasa pahitnya sebuah kekalahan.

Seperti kehidupan saja bukan?

Selasa, 03 April 2012

Pulang

Saya sedang membungkus buku yang kemarin baru saya beli ketika Winamp di laptop memainkan 'Pulang' dari Float. 'Pulang' adalah salah satu lagu rindu favorit saya. Alunan folk dari Float begitu menenangkan. Ditambah lirik lagu yang, sederhana namun begitu menyentuh.

Dan lalu...
Rasa itu tak mungkin lagi kini
Tersimpan di hati
Bawa aku pulang, rindu!
Bersamamu!

Dan lalu...
Air mata tak mungkin lagi kini
Bicara tentang rasa
Bawa aku pulang, rindu!
Segera!

Jelajahi waktu
Ke tempat berteduh hati kala biru

Dan lalu...
Sekitarku tak mungkin lagi kini
Meringankan lara
Bawa aku pulang, rindu!
Segera!

Dan lalu...
O, langkahku tak lagi jauh kini
Memudar biruku
Jangan lagi pulang!
Jangan lagi datang!
Jangan lagi pulang, rindu!
Pergi jauh!

Dan lalu...
Dan lalu...

Seketika terbayang orang-orang terkasih di seberang pulau nan jauh disana. Sosok Mamak yang masih rutin mengantar anak-anaknya ke sekolah setiap pagi. Bapak yang katanya sedang berusaha berhenti merokok dan juga sedang rindu kampung. Uli yang sedang semangat beraktifitas di lembaga kampusnya. Aco yang semakin tinggi. Juga Kandi yang katanya sudah tidak cengeng lagi.

Sudah dua tahun saya tidak pulang. Dulu, sewaktu masih tinggal di rumah, impian terbesar saya adalah sesegera mungkin meninggalkan rumah dan mulai hidup sendiri. Impian itu bisa saya wujudkan ketika lulus SMA. Terpisah dengan keluarga, jauh dari rumah membuat saya puas. Puas untuk sementara waktu tepatnya.

Tidak terlalu lama, sebelum tembok pertahanan mandiri saya runtuh. runtuh seruntuh-runtuhnya. Semakin kesini saya semakin ingin kembali merasakan rutinitas yang dulu sepertinya terasa begitu membosankan. Dibangunkan ketika fajar belum begitu terang. Dipaksa ke sekolah karena sudah hampir telat. dirayu untuk mencarikan uban Bapak ketika sedang asyik bermain Winning Eleven. Dilarang begadang. Dan masih banyak lagi rutinitas rumahan yang jika diingat satu per satu akan semakin membuat mata berkaca-kaca.

Ah, kenapa saya ini.

Yang jelas, saya tidak galau, hanya sedang rindu. Semoga bisa terobati secepatnya.