Tampilkan postingan dengan label Pulau Sebatik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pulau Sebatik. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Juni 2015

Ramadhan di Pulau Sebatik

Atri, Saya, Cheper, dan Tajrim di posko Kecamatan Sebatik Utara.

Marhaban Yaa Ramadhan. Selamat menjalankan ibadah puasa kepada teman-teman yang melaksanakan.

Mumpung lagi bulan Ramadhan, Saya ingin mengenang masa KKN (Kuliah Kerja Nyata) Saya yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan tiga tahun lalu di Pulau Sebatik. Ya sekalian berbagi pengalaman kepada teman-teman yang sebentar lagi akan menunaikan tugas KKN pada bulan Juni – Juli nanti lah.

Kami tiba di Pulau Sebatik pada bulan Juni, Saya lupa tanggal pastinya, setelah terombang-ambing di atas Kapal Tidar milik Pelni selama dua hari dan sempat singgah semalam di Nunukan. Saya baru tahu akan ditempatkan di Desa Sei Pancang bersama tiga teman lainnya pada saat bermalam di Nunukan. Jadi belum ada gambaran sama sekali dan serba menerka-nerka akan seperti apa daerah penempatan kami itu. Saya bernasib satu posko dengan tiga lelaki tangguh tapi tetap lucu-lucu; Tajrim dari Fakultas Ekonomi, Atri dari Fakultas Teknik, dan Rahmat Cheper (seharusnya “Ceper” tapi ditambah huruf “h” biar jadi keren katanya. Hehehe.) dari Fakultas Pertanian. Untuk angkatan pertama ini, jumlah peserta KKN Unhas di Pulau Sebatik berjumlah (hanya) dua puluh orang. Dua puluh orang ini dibagi dalam lima posko di lima Desa. Jadi masing-masing posko akan dihuni oleh empat orang peserta. Namanya juga angkatan pertama, semua serba meraba soal daerah penempatan masing-masing. Tapi malah itu yang membuat KKN ini menyenangkan karena semua hal yang dilakukan akan memberikan efek kejutan dan membawa pengalaman baru.

Kalau tidak salah ingat, kami mendapati bulan Ramadhan pada pertengahan masa KKN. Hal ini membuat persiapan berpuasa menjadi lebih enak karena kami sudah mengenal medan juga orang-orang di sekitar. Pulau Sebatik yang mayoritas penduduknya adalah pendatang yang  bersuku Bugis juga menjadi hal yang membuat proses adaptasi menjadi lebih mudah. Bahkan kami merasa seperti sedang tingal di salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan saja. Selain bahasa yang sudah berakulturasi dengan bahasa Melayu Serawak, hampir semua kebiasaan khas Bugis-Makassar masih akrab disana.

Seperti kebiasaan masyarakat Bugis-Makassar, sehari sebelum memasuki bulan Ramadhan masyarakat Pulau Sebatik juga mengadakan semacam syukuran yang biasa disebut sebagai Baca Doang (membaca doa). Berbagai makanan seperti sokko’ (nasi ketan), ayam kari, ayam goreng juga sup menjadi sajiannya. Kami mendapat beberapa undangan untuk singgah dari beberapa orang yang sudah kami kenal di Kantor Desa atau Kantor Kelurahan. Disini enaknya ber-KKN di desa. Masyarakat masih sangat ramah apalagi terhadap orang-orang pendatang. Kalau cuma ajakan singgah untuk makan hampir setiap hari didapat. Hehehe.

Sehari sebelum Ramadhan juga Tajrim dan Cheper mengajak untuk berbelanja kebutuhan untuk sahur. Saya dan Atri yang pengalaman dapurnya cuma sampai di sajian indomie goreng telur tentu mengiyakan saja. Beras, beberapa lauk-pauk juga sayuran menjadi pilihan. Cheper yang secara meyakinkan mengaku pandai memasak dilipih jadi tukang masak utama. Sialnya, makanan yang  biasa dibuat oleh cheff kami ini adalah masakan dengan cita rasa pedas. Sayur pedas, tempe goreng super pedas, telur dadar juga pedas. Tinggal nasi putihnya saja yang tidak pedas. Kami murka. Atri pun mengutuki Cheper subuh itu. Beruntung, lagi-lagi datang kiriman makanan dari tetangga. Yang paling rajin mengirimi kami makanan adalah Kak Badriah yang biasa dipanggil Kak Bade’. Baik pada saat sahur ataupun berbuka puasa, kami sangat sering dikirimi atau diajak makan di rumahnya yang terletak persis di depan posko kami.

Alternatif tempat sahur kami jika sedang malas memasak adalah Rumah Makan Nelayan yang sangat dekat dengan posko kami. Rumah makan ini ternyata buka sampai pagi. Menu yang disajikan serba seafood dan diolah menjadi berbagai jenis masakan; nasi goreng, mie goreng, sup, sampai tom yam. Harganya juga tidak terlalu mahal untuk ukuran mahasiswa seperti kami. Saya ingat hari terakhir di Desa Sei Pancang sebelum pemulangan kami sepakat untuk sahur di Rumah Makan Nelayan ini. mumpung waktu itu “uang hidup” yang diberikan oleh sponsor masih lumayan, subuh itu kami memesan makanan yang lebih banyak daripada sahur-sahur sebelumnya. ya semacam pesta perpisahan dengan posko lah ceritanya.

Setelah salat subuh biasanya Saya dan Tajrim tidak langsung kembali ke posko. Seperti kebiasaan sebelum masuk bulan Ramadhan, kami selalu menyempatkan ke Dermaga Sei Pancang. Kalau sedang cerah matahari terbit di dermaga ini sangat sayang untuk dilewatkan. Sebelum pukul enam pagi di ujung jembatan akan muncul sebulat kuning besar seperti ingin menghampiri kita. Pantulan cahayanya di laut membentuk segaris emas. Waktu pertama kali melihat sunrise di spot tersebut saya langsung takjub dan datang hampir setiap pagi disana. Momen ini bahkan lebih menarik daripada pemandangan Gunung Kinabalu di Tawau seberang.

Matahari terbit di Dermaga Sei Pancang, Pulau Sebatik.

Ketika matahari mulai merangkak naik, momen menarik lainnya juga penting. Sekitar pukul delapan pagi dermaga mulai ramai oleh tukang ojek yang mengantar orang-orang yang akan menyeberang ke Tawau Malaysia. Kebanyakan dari mereka pergi ke sana untuk berbelanja barang dagangan yang akan dijual kembali di Sebatik. Di dermaga ini pula saya berkenalan dengan beberapa orang yang kemudian menjadi informan kami dalam menyusun program kerja KKN. Bahkan beberapa dari mereka sudah menjadi teman akrab yang sesekali masih saya telepon untuk sekedar menanyakan kabar.

Kegiatan pada siang hari sudah kami alokasikan untuk menjalankan program kerja KKN atau membantu beberapa pekerjaan di Kantor Desa atau di Kantor Kecamatan Sebatik Utara. Kami sempat membantu orang-orang kecamatan untuk mempersiapkan Pasar Ramadhan. Selain akan digunakan sebagai tempat berjualan hidangan berbuka puasa, tempat ini juga rencananya akan dipakai sebagai tempat dilaksanakannya beberapa lomba Ramadhan. Sayang kami keburu pulang sebelum tempat tersebut benar-benar digunakan untuk kegiatan yang sudah disusun tersebut.

Masa menjelang berbuka puasa di Desa Sei Pancang adalah saat paling menyenangkan bagi saya. Apalagi kalau bukan karena hadirnya berbagai macam takjil dan hidangan berbuka puasa yang digelar di Pasar Sei Pancang. Di luar Ramadhan, pasar ini hanya buka pada pada hari Senin, Kamis dan Malam Minggu. Tapi selama Ramadhan pasar ini selalu ramai setiap harinya.

Penganan favorit saya adalah Roti Canai Pakcik. Secara penampilan, canai ini biasa saja sebenarnya. Hanya sebongkah roti tipis dengan siraman kari sapi. Sesimpel itu. Tapi soal rasa canai ini juara menurut saya. rotinya empuk dan lembut saat dikoyak. Gurihnya tipis. Ditambah kuah kari sapi, yang walaupun kaya akan bumbu tapi sangat pas di lidah. Canai yang baik bagi saya adalah perpaduan antara roti dan kuah kari yang rasanya sama-sama nyaman di lidah. Dan bagi saya Roti Canai Pakcik ini masih yang terbaik bagi saya. bonusnya adalah kita dapat melihat langsung atraksi si Pakcik saat membuat roti canainya. Bagaimana adonan roti mulai ditakar lalu dilempengkan kemudian digepengkan adalah hiburan tersendiri saat menanti pesanan kita. Harganya pun sangat murah. Sebuah roti canai dengan kuahnya dapat dibawa pulang dengan Rp. 3.000,- atau satu Ringgit saja.

Roti Canai Pakcik dari Pasar Sei Pancang

Akhir Juli waktu pemulangan kami tiba. Di spanduk posko kami sempat menuliskan kalimat penolakan "Jangan Pulangkan Kami!". Walau terkesan klise di akhir tiap cerita KKN, namun memang ada rasa berat untuk meninggalkan Pulau di ujung utara Indonesia ini. Betul kata orang, "KKN itu momen menyenangkan tapi tidak untuk diulang". Tapi kalau ada kesempatan untuk kesana lagi pasti kami sulit untuk menolaknya. Saya pribadi berjanji untuk kembali berkunjung kesana untuk bertemu kembali dengan orang-orang yang sudah sangat baik kepada kami selama KKN.

Terimakasih Sebatik. Selamat Berpuasa.

Selasa, 10 Juli 2012

Surya di Pancang

05:57 WITA
06:11 WITA
17:49 WITA
18:07 WITA

Tempat favorit saya di Desa Sei Pancang, Pulau Sebatik ini, adalah Dermaga Pancang, pintu keluar dan masuk Pulau Sebatik di bagian Utara. Dermaga yang sudah terlihat tua ini berhadapan langsung dengan Tawau, Malaysia. Hampir setiap pagi dan petang saya datang kesana. Alasan utamanya, tentu saja untuk melihat keindahan sunrise dan sunset. Sinar matahari timbul dan tenggelam di spot ini sangat memesona. Selalu hangat. Sehangat orang-orang yang beraktifitas di tempat itu.

Sabtu, 07 Juli 2012

Touchdown Sebatik

Jadi begini ya...

Sudah sejak Jumat (29/6) saya dan sembilan belas orang lainnya tiba di Pulau Sebatik untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Tapi berhubung kegiatan yang sangat intens juga akses internet disini masih sangat sulit, maka baru kali ini saya bisa menuliskan kabar.

***


Selasa, 26 Juni 2012

Pagi-pagi sekali saya sudah terjaga. Tidur saya sedikit saja malam itu. Saya memang selalu kesulitan untuk tidur ketika akan melakukan perjalanan jauh. Setelah sholat subuh saya kembali memeriksa barang-barang yang akan saya bawa serta pergi ber-Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Pulau Sebatik. Saya membawa dua tas: sebuah tas ransel yang berisi pakaian dan peralatan lainnya serta tas selempang berkuran sedang yang akan saya pakai beraktiftas selama KKN.

Setelah berpamitan dengan teman-teman di asrama, pukul tujuh lebih sedikit saya sudah bergegas menuju UPT KKN Unhas, tempat berkumpul sebelum menuju pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar. Kami memang dihimbau untuk datang sebelum pukul delapan karena kapal akan berlayar pukul sepuluh. Dan saya datang sedikit lebih awal agar tidak terlambat, pada salah satu hari terpenting selama kuliah: pemberangkatan KKN.

Tapi, ini yang selalu menyebalkan dalam sebuah perjalanan berkelompok: selalu saja ada anggota yang merusak rencana yang telah disusun dengan matang. Untuk yang pertama dalam perjalanan ini pelakunya adalah Arabia (Hukum 2009). Ia telat hampir satu jam. Pak Djumran, dosen pendamping yang akan menemani perjalanan kami tampak mulai geram pagi itu. Sewaktu Ara (panggilan akrab Arabia) tiba Ia hanya diam. Kalian tahu bukan: puncak dari kemarahan itu adalah diam, sebelum meledak-ledak seperti senapan mesin.

Kami masih beruntung tidak ditinggal kapal. Setibanya di pelabuhan semua seperti kebakaran jenggot. Kapal sudah memberikan isyarat akan segera berangkat. Petugas pelabuhan juga ikut sibuk menyuruh kami segera naik. “tangga kapal sebentar lagi diangkat.”

Di atas kapal semua menyinggung keterlambatan Ara. Untung saja Ia membawa bekal makanan yang banyak. Langsung saja teman-teman yang lain memaklumi, karena ingin kebagian makanan gratis dari Ara. Tapi hal itu tidak lantas membuat Pak Djumran berhenti untuk menyindirnya. Tampaknya Pak Djumran masih geram dengan sikap indisipliner yang dilakukan Ara sebelum kami berangkat tersebut.

***

Seingat saya, sudah pernah saya bercerita bahwa perjalanan menuju Nunukan sebelum ke Pulau Sebatik kami tempuh dengan menggunakan moda kapal laut. Ya, kami menggunakan KM Tidar, salah satu armada kapal laut milik PT PELNI yang berasal dari Semarang namun beroperasi di daerah Sulawesi dan Kalimantan. Perjalanan menuju pelabuhan Nunukan ditempuh selama dua hari tiga malam. dalam perjalanan kapal menyinggahi tiga pelabuhan lainnya, yaitu Pelabuhan Pare-Pare, Pelabuhan Balikpapan dan Pelabuhan Tarakan. Memanfaatkan momen, setiap tempat yang disinggahi, kami sempatkan untuk pergi berkeliling melihat wajah kota pelabuhan tersebut.

Pelabuhan pertama yang kapal singgahi adalah Pelabuhan Pare-Pare. Kami belum terlalu bersemangat di Kota ini. tentu saja karena sebagian besar dari kami sudah pernah menginjakkan kaki di wilayah yang masih termasuk bagian dari Sulawesi Selatan tersebut. Kami turun hanya untuk membeli perbekalan yang dibutuhkan.

Antusias untuk berkeliling kota baru meningkat ketika kami bersandar di Kota Balikpapan. Sekitar sepuluh orang, kami langsung menyewa angkot untuk berkeliling melihat wajah kota, yang kata orang-orang sangat bersih ini. benar saja, kota ini memang sangat bersih. Dimana tersedia tempat sampah. Bahkan di dalam angkot yang kami tumpangi tersebut juga tersedia tempat sampah. Baru kali ini saya melihat yang seperti itu. “disini denda tidak punya tempat sampah lebih besar daripada denda karena tidak punya SIM” jelas sang supir.
Tata kota ini juga lumayan teratur. Para perempuan sudah sedari tadi minta berhenti untuk mengabadikan beberapa foto. Akhirnya kami singgah di taman depan kantor PLN kota. Saya lupa nama pasti tempat tersebut. Sepertinya tempat tersebut salah satu tempat nongkrong di Balikpapan.

Setelah dari Kota Balikpapan yang bersih, KM Tidar kembali berlayar selamat 24 jam. Pemandangan lumrah yang kami lihat kembali hamparan air milyaran galon. Sesekali terlihat daratan pulau. Kalau beruntung, di daerah-daerah tertentu kita dapat menyaksikan beberapa makhluk laut, seperti Lumba-Lumba dan Ubur-Ubur sedang asyik menyapa kapal. Tujuan berikutnya adalah kampung kedua saya: Kota Tarakan.

Matahari terang benderang Kota Tarakan menyambut kedatangan kami. Secerah hati saya yang sebentar lagi akan bertemu dengan sang pujaan hati, mama tercinta. Memang sejak sebelum keberangkatan saya sudah mengabari mamak bahwa kapal akan singgah di Pelabuhan Tarakan sebelum lanjut ke Nunukan.dan dengan antusias mamak berjanji akan datang ke pelabuhan pagi itu untuk melihat anaknya ini.

Raut kerinduan terlihat betul di wajah mamak sewaktu kami bertemu. Saya langsung mencium tangannya dan dibalas dengan pelukan hangat. Memang, tak ada yang bisa mengalahkan hangatnya pelukan seorang ibu kawan-kawan. Saya hanya sebentar kami bertemu. Saya tidak sempat ke rumah karena takut akan ditinggal kapal. Tapi, saya berjanji. Setelah KKN selesai saya akan pulang untuk ber-Ramadhan dan berlebaran bersama orang-orang terkasih di rumah. Ijinkanlah ya Allah...

Sedangkan agenda untuk berkeliling kota masih ada. Sebagai “tuan rumah”, teman-teman saya ajak pergi melihat rupa Hutan Konservasi Mangrove yang berada di tengah Kota Tarakan. Sayang, keadaan Hutan Mangrove (begitu biasa masyarakat sekitar menyebut tempat ini) sedikit berantakan. Kabarnya, semalam Tarakan dilanda angin ribut. Beberapa batang pohon di daerah tersebut terlihat rusak. Beruntung kami masih bisa menangkap adegan malu-malu dari primata khas hutan ini: Bekantan (Monyet hidung besar).

Hanya sekitar setengah jam di Hutan Mangrove, perjalanan kami lanjutkan untuk mencari kuliner khas Tarakan. Awalnya saya ingin mengajak rombongan untuk merasakan nikmatnya Nasi Lalap Mandor. Tapi ternyata warung yang dimaksud masih tutup. Terpaksa destinasi kami alihkan ke Warung Soto Banjar Sebengkok. Saya sendiri baru pertama kali menyambangi warung makan ini. sepertinya warung ini belum terlalu lama buka. Karena keburu waktu, pesanan diseragamkan saja: Soto Banjar. Saya sendiri tidak pesan makan. Alasannya, harga menu di tempat itu sepertinya sedang bekerja keras untuk dapat membuat pemiliknya naik haji tahun depan. Saya hanya memesan Es Teler, yang sama sekali tidak berwajah es teler. Itupun harganya, sepuluh rebu' boo..

Selepas itu, kami langsung bergegas kembali ke pelabuhan. Sekitar satu jam lagi akan berangkat ke tujuan akhir. “Tuuuuuuut”, tengah hari kapal kembali berlayar untuk menuju Nunukan. Pelayaran menuju Nunukan ditempuh selama kurang lebih empat jam saja. Langit berwarna kemerahan tanda sore, kami sudah berlabuh di Pelabuhan Nunukan. Itu pertanda pelayaran kami dengan KM Tidar telah berakhir. Alhamdulillah kami sampai dengan tidak kekurangan sesuatu hal pun.



Sekian dulu. Cerita soal kebaikan orang-orang selama kami berlayar dan sesampainya kami di Nunukan akan saya tuliskan selanjutnya. Doakan kita sehat semua.

Wassalam...

Foto oleh: Adelin (FIKP 2008)

Senin, 25 Juni 2012

H-1 Keberangkatan


Dan.... Tereteteng...

Bekal sebulan di Pulau Sebatik
Tak terasa besok sudah berangkat KKN. Semoga perjalan dua hari via kapal laut-nya lancar. Semoga KKN lancar. Semoga Pulau Sebatik menyenangkan. Semoga mendapat teman-teman baru yang menyenangkan. Semoga mendapatkan pengalaman baru yang seru. Semoga... Semoga... Amin...

*3 foto di atas oleh: Pak Dahlan Abubakar (Humas Unhas)

Jumat, 22 Juni 2012

KKN Pulau Sebatik

Penampakan Pulau Sebatik. Atas: Malaysia, bawah: Indonesia

Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pulau Sebatik. Pertama kali tahu program ini sekitar setahun yang lalu. Saya langsung tertarik untuk mengikuti program ini saat itu juga. Tetapi berita selanjutnya mengatakan bahwa program ini hanya dikhususkan untuk mahasiswa Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP). Semangat langsung ciut waktu itu. Lalu kabar program ini tenggelam sebelum muncul kembali sebulan sebelum dilaksanakannya KKN reguler angkatan ke-82 tahun ini. Kali ini kabarnya kembali menggembirakan bagi saya. Kepala UPT (Unit Pelayanan Teknis) KKN Unhas, Pak Hasrullah mengatakan program KKN Pulau Sebatik ini dapat diikuti oleh semua mahasiswa dari semua fakultas yang ada di Unhas. “Surat pemberitahuan akan segera dikirim ke setiap fakultas”, kata Pak Hasrullah waktu itu.

Saking tertariknya, hampir setiap pekan saya mengecek secara langsung kabar KKN ini di kantor UPT KKN Unhas. Tidak hanya itu, saya juga berhasil memengaruhi beberapa teman untuk turut serta. Kalau ada teman kan tambah seru tuh.

Namun kepastian pelaksanaan program ini tak kunjung mendapatkan titik terang. Beberapa pegawai UPT yang saya tanyakan hampir setiap pekan juga tidak berani memberikan jadwal pasti, kapan KKN ini akan dilaksanakan. Bahkan hingga pendaftaran KKN Reguler mulai dibuka, tak kunjung ada surat pemberitahuan tentang program ini yang dikirim ke fakultas saya. “Ya sudahlah, mungkin belum nasib saya untuk ber-KKN di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia itu”, gumam saya.

Lalu kabar mengejutkan itu datang disaat injury time. Akhirnya program ini menemui titik kepastian pada masa pembekalan akhir KKN Reguler, seminggu sebelum penempatan di lima kabupaten. “Yang berminat mengikuti KKN di Pulau Sebatik, silahkan mendaftarkan namanya di kantor UPT”, kata Pak Djumran, salah satu pegawai UPT KKN Unhas ditengah berlangsungnya pembekalan KKN Reguler. Tanpa pikir panjang, saya langsung meninggalkan ruangan pembekalan KKN Reguler dan bergegas menuju kantor UPT KKN Unhas. Dengan gerak cepat saya langsung membubuhkan nama saya di lembaran daftar calon peserta KKN Pulau Sebatik. Saya pendaftar nomor empat waktu itu. Nama yang telah terdaftar tadi bukan berarti otomatis akan diberangkatkan. Saya dan beberapa calon peserta lainnya harus mengikuti tahap seleksi karena hingga hari terakhir masa pendaftaran, ada 65 mahasiswa yang berminat mengikuti KKN ini. Sedangkan kuota yang tersedia hanya untuk 15 orang.

Diadakanlah seleksi dalam bentuk wawancara yang dilaksanakan oleh empat orang yang akan menjadi pendamping kami selama di Pulau Sebatik nanti. Tes wawancara ini dilaksanakan selama dua hari untuk mewawancarai 65 peminat. Saya mendapat jadwal wawancara di hari pertama. Beberapa pertanyaan yang berkenaan dengan alasan dan apa yang ingin kami lakukan disana nantinya ditanyakan. Saya pun dengan tenang menjawab bahwa ada beberapa alasan mengapa saya ingin ber-KKN di Pulau Sebatik. Saya memiliki kenangan tersendiri dengan pulau ini. Sewaktu kecil, saya pernah kesana untuk berkunjung ke rumah seorang keluarga. Saya juga pernah menulis sebuah karya tulis tentang beberapa permasalahan yang dihadapi Pulau Sebatik sebagai salah satu pulau terluar Indonesia. Dan hasil akhir yang saya inginkan dari kunjungan kesana adalah, semoga saya bisa mendapatkan sebuah permasalahan yang dapat dijadikan sebagai bahan tugas akhir atau skripsi nantinya. Hanya sekitar setengah jam sesi wawancara berlangsung. Panitia seleksi berjanji untuk mengeluarkan hasil tes wawancara secepatnya.

Dua hari kemudian hasil tes sudah diumumkan. Saya berada di fakultas waktu seorang teman mengabarkan bahwa nama saya tercantum sebagai salah satu dari lima belas peserta KKN Pulau Sebatik yang baru saja dikeluarkan. Tentu saja saya senang. Tapi saya belum yakin betul waktu itu. Langsung saja saya bergegas menuju kantor UPT KKN Unhas untuk melihat sendiri pengumuman tersebut. Dan benar saja, saya terpilih. Alhamdulillah, terimakasih kepada semua yang telah mendukung dan mendoakan.

Selasa, 26 Juni ini kami akan berangkat menuju Pulau Sebatik. Kabar menyenangkan selanjutnya adalah kami akan menggunakan moda kapal laut untuk menuju kesana. Sudah dua tahun saya tidak naik kapal laut. Perjalanan dengan kapal laut selalu memberikan kesan tersendiri. Selalu saja ada cerita yang bisa dibagi disetiap perjalanan dengan moda ini.

Doakan saja perjalanan kami lancar. Dan saya berjanji untuk membagi cerita selama sebulan di Pulau Sebatik untuk semua disini. :D