Baca disini
"These are the postcards from a young man. They may never be written or posted again." - Manic Street Preachers
Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan
Kamis, 07 Januari 2016
Senin, 09 Maret 2015
Beberapa Harapan di Hari Musik Nasional
Sejak 2013 setiap
tanggal 9 Maret diperingati sebagai Hari Musik Nasional. Dari berbagai
media sosial terlihat topik yang hangat diperbincangkan adalah “masihkah musik
nasional punya harapan?”. Pertanyaan seperti ini sudah sangat klise sebenarnya.
Ia hadir setiap tahun mengisi ruang-ruang diskusi para pemerhati dan pelaku
musik itu sendiri. Bagi sebagian pihak yang sudah mulai putus asa, harapan bagi
musik Indonesia sudah sangat tipis. Di tengah momok utama bernama pembajakan,
ruang gerak para musisi dianggap sudah semakin sempit. Musik Indonesia seperti
tidak berdaya mengikuti era yang serba digital sekarang ini.
Tapi benarkah sepenuhnya demikian?
Mari luangkan sedikit waktu untuk lebih jeli melihat kenyataan.
Ada beberapa harapan yang perlu terus dipelihara agar musik Indonesia terus
hidup dan berkembang. Yang pertama, dan mungkin ini yang paling menggembirakan,
adalah produksi musik di Indonesia semakin merata. Musik Indonesia hari ini
bukan hanya Pulau Jawa. Daerah lain yang dulu tidak pernah terdengar saat ini
mulai menggeliat. Bali semakin memperlihatkan eksistensinya. Sumatra terus
mengejutkan lewat (((AUMAN))), Semakbelukar, dan kawan-kawannya. Sulawesi kini
tak hanya Makassar, ada Kota Palu yang skenanya sangat menjanjikan. Kalimantan
terus berkembang lewat musik Metalnya. Benar-benar gugusan musik yang sangat
layak untuk diperjuangkan.
Kabar baik lainnya, tren membeli rilisan fisik kembali
bergairah. Bukan hanya dalam bentuk cakram CD, kini rilisan dalam bentuk kaset
pita dan piringan hitam atau vinyl kembali
dicari. Hal ini berdampak pada banyaknya pilihan bagi para musisi dalam menjual
karyanya, tentu saja bukan hanya dalam bentuk digital. Belum lagi tren lahirnya
penggemar garis keras yang rela mengeluarkan kocek lebih untuk mengoleksi
berbagai macam merchandise idolanya.
Jika hal ini dimanfaatkan oleh para musisi tentu akan mendatangkan keuntungan
lebih yang sangat lumayan untuk terus menghidupi musik mereka. Seringai mungkin
salah satu contoh terbaik dari suksesnya memaksimalkan semua potensi pendapatan
yang ada.
Mulai meratanya sebaran musisi dan kembali bergairahnya
rilisan fisik turut membawa angin segar bagi festival musik di berbagai daerah.
Bak jamur di musim hujan pesta musik tahunan tumbuh beramai-ramai dan terus
menyebar ke berbagai macam genre. Di ranah musik keras tak kurang dari
Hammersonic, Bandung Berisik, Rock In Celebes, Rock In Solo, dan Kukar Rockin’
Fest terus menghajar telinga para metalhead tanah air. Lalu Jazz diwakili oleh
Java Jazz Festival, Makassar Jazz Festival, Jazz Gunung, hingga Ngayogjazz.
Belum lagi festival lintas aliran yang juga rutin digelar. Hal ini tentu saja
ikut menggerakkan roda perekonomian, bukan hanya bagi musisi itu sendiri tapi
juga bagi daerah yang menyelenggarakan festival-festival tersebut.
Lalu bagaimana mengatasi pembajakan? Bukankah permasalahan
ini yang menjadi momok terbesar bagi perkembangan musik Indonesia? Memang harus
diakui kejahatan kriminal bernama pembajakan menjadi musuh terbesar bagi para musisi
Indonesia. Memang kita telah memiliki Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang
Hak Cipta. Namun penegakan hukum dari aparat harus diakui masih sangat lembek.
Tapi apakah keadaan seperti ini akan terus didiamkan? Tentu saja tidak dong.
Perlawanan balik atas aksi pembajakan yang merugikan
seharusnya menemui momentumnya saat ini. Presiden Jokowi yang dikenal sebagai
penggemar musik baru-baru ini membentuk Badan Ekonomi Kreatif. Dalam sebuah
wawancara, Triawan Munaf yang ditunjuk untuk mengepalai institusi ini
mengatakan salah satu prioritas utama Badan Ekonomi Kreatif adalah memberantas
tindak pembajakan. Tentu saja ini adalah sebuah kabar segar. Kampanye anti
pembajakan yang dilakukan oleh pelaku musik tanah air akhirnya mendapat
dukungan nyata dari Pemerintah. Kita tinggal menunggu efektifitas kerja dari
Badan Ekonomi Kreatif ini.
Beberapa harapan untuk musik Indonesia diatas mungkin akan
percuma bila tidak diiringi oleh niat dan dukungan dari para stake holder. Musisi tentu tak bisa
berjuang sendiri. Ia butuh dukungan dari semua pihak, mulai dari pemerintah,
pelaku bisnis, pemerhati sampai penikmat musik itu sendiri.
Selamat Hari Musik Nasional. Semoga lekas berjaya. Kami menunggu dirimu untuk rayakan.
Sabtu, 17 Agustus 2013
Playlist Hari Kemerdekaan
“Sudahkah kita merdeka?”, pertanyaan klise tersebut tentu
kembali ramai di bulan Agustus ini. Kalau tolok ukur sebuah kemerdekaan adalah
terbebas dari segala tindak agresi dari negara lain, tentu saja kita sudah
merdeka. Enam puluh delapan tahun lalu, di ujung senjakala Perang Dunia ke-2,
kemerdekaan Indonesia diproklamirkan oleh Soekarno dengan didampingi Hatta.
Lain soal jika pertanyaan tersebut sedikit diperhalus: “Sudah
sejauh mana kita merdeka?” Kita bisa berdebat dalam pertanyaan ini, karena akan
ada ukuran-ukuran ataupun pencapaian-pencapaian yang akan diajukan disitu. Tentu
tidak selalu indah. Negara ini telah mengalami jatuh bangun pasca
kemerdekaannya. Ia pernah dianggap sebagai Macan Asia pun tak jarang direndahkan bahkan
tidak diperhitungkan sama sekali.
Untuk itu, saya ingin membagikan rangkaian Playlist yang
sedikit-banyak menggambarkan keadaan Indonesia di hari kemerdekaannya yang
ke-68 tahun ini. Susunan ini akan bercampur baur, antara yang memuji dan yang menyatir.
Tentu setiap lagu akan memiliki pesan tersendiri untuk kita renungi bersama. Bukan
soal bagaimana kita terus terbang pada setiap pujian dan terpuruk dalam celaan,
tapi bagaimana kita bersiap untuk terus memperbaiki dan merawat negara ini
terus-menerus.
Ini dia susunan playlist tersebut:
Rencong Marencong – Marjinal
Mari kita mulai daftar ini dengan menyapa kabar rakyat
Indonesia yang tersebar di seluruh penjuru. Marjinal, sebuah komunal punk yang
berasal dari sebuah lorong di selatan ibukota, menyapa kita dengan lantang. Saya kira
sapaan dalam “Rencong Marencong” ini ditujukan
untuk semua kelompok minoritas yang ada dimana saja di negara ini. Di tengah
kesulitan hidup dan acapkali dilupakan oleh negara, Lagu ini mengajak kita
untuk bersenang-senang dengan cara sederhana.
Lupakan negara yang masih terbata-bata mengeja kebutuhan
rakyatnya. Mari bersenang-senang lantas bersyukur dengan segala yang kita punya
saat ini.
"Hei bagaimana kabar kawan-kawan
Apakah baik kondisimu disana
Kami disini sedang bernyanyi kawan
Akan senandung lagu rindu tentang kamu..."
Menjadi Indonesia – Efek Rumah Kaca
Efek Rumah Kaca lahir di saat yang tepat. Di tengah
banalitas dan pengulangan-pengulangan yang menjengkelkan, mereka hadir membawa angin
segar. Saat industri memaksa musisi membuat lagu bertema nasionalisme, lahirlah
karya yang artifisial semata dan cenderung membosankan. Lain halnya dengan “Menjadi
Indonesia”. Nomor ini bercerita dengan jujur tentang kondisi Indonesia saat
ini. Tanpa rasa menggurui, lagu ini menyampaikan kondisi Indonesia yang sedang “tidur
berkepanjangan”. Di ujung lagu ada nada optimis yang tersisa; “masih ada cara
menjadi besar… menjelma dan menjadi Indinesia.” Dengan balutan pop minimalis, tembang
ini terasa sangat pas untuk terus menjaga nyala api cinta negara di dalam diri
kita.
"lekas,
bangun tidur berkepanjangan
Menyatakan mimpimu
Cuci muka biar terlihat segar
bangun tidur berkepanjangan
Menyatakan mimpimu
Cuci muka biar terlihat segar
Merapikan wajahmu
Masih ada cara menjadi besar
Memudakan tuamu
Menjelma dan menjadi indonesia."
Memudakan tuamu
Menjelma dan menjadi indonesia."
Juara Dunia – Sir Dandy
“Juara Dunia” adalah lagu nasionalisme yang lain. Sir Dandy
menyampaikannya dengan sederhana nan jenaka. Dibuka dengan menyebutkan daftar
kebanggaan yang pernah dimiliki Indonesia, mulai dari Allyas Pikal, Alan Budi-Susi
Kusuma sampai Ariel dan Luna (nama pasangan terakhir sangat sarkartis saya kira.
Hehe). Lagu ini lantas menampilan Chris John, juara dunia tinju milik rakyat
Indonesia. Di tengah seretnya prestasi olahraga kita, Si Naga (julukan bagi
Chris John) hadir bak oasis di tengah gurun pasir. Hal lain yang juga membuat
lagu ini akan terus dikenang adalah keberhasilannya mempopulerkan jargon “Sikat
Jon!” yang sungguh mampu menghibur dan membangkitkan semangat.
Dalam sebuah wawancara, Sir Dandy berencana untuk membuat
lagu khusus bagi Timnas jika mampu lolos ke Piala Dunia suatu saat nanti.
Jadi untuk timnas, Sikat Jon!
"Berbadan kecil seperti maradona
Menari lincah seperti balerina
Melancarkan pukulan ke arah lawan
Menunduk ke belakang sambil melepaskan pukulan
Menari lincah seperti balerina
Melancarkan pukulan ke arah lawan
Menunduk ke belakang sambil melepaskan pukulan
Juara dunia dari indonesia..."
Mengadili Persepsi – Seringai
Salah satu kejengkelan utama yang sering dipertontonkan
Indonesia yang tak lagi muda ini adalah intoleransi antar SARA. Di negara yang
mengaku berasaskan Bhineka Tunggal Ika ini masih terlalu sering terjadi pemaksaan
kehendak yang dilakukan oleh kaum mayoritas. Dengan alasan itu lah “Mengadili
Persepsi” hadir. Lagu milik Seringai, salah satu unit metal terbaik negara ini,
berbunyi perlawanan dengan teriakan “Individu Merdeka!”. Lirik ciamik yang
sungguh memberikan tamparan keras kepada kelompok intoleran, berpadu
dengan suara vokal Arian yang sangat garang. Pertanyaan penutup di lagu ini
juga mengajak kita untuk kembali menilai apakah kita sudah benar-benar merdeka.
"Mereka, bermain Tuhan
Merasa benar, menjajah nalar
Dan kalau kita membiarkan saja,
anak kita berikutnya.
Sudahkah Merdeka?..."
Amerika! – Armada Racun
Saya selalu tertarik dengan band ini. Bukan karena kibordis
meraka saat ini adalah kakak kelas saya di masa SMA, melainkan pemberontakan
dengan menihilkan instrumen gitar pada formasi mereka. Dan “Amerika!” adalah
karya terbaik yang pernah meraka buat.
Di tengah derasnya arus informasi saat ini, Indonesia tampil
canggung untuk menahan kencangnya invasi budaya asing. Negara yang diwakili
oleh rakyatnya tak punya pilihan untuk merespon selain meniru mentah-mentah
segala apa yang masuk. Terjadilah proses imitasi di segala bidang kehidupan. Dengan
kondisi demikian kita akan sangat gampang untuk menemui orang-orang yang
kehilangan jati diri. Bukan hanya peniruan terhadap Amerika, saat ini negara
kita sedang dijajah secara halus oleh banyak negara, sebutlah Korea, Jepang,
India dan negara lainnya.
Dengan mempelesetkan teks Sumpah Pemuda, nomor ini menjadi
lagu protes yang sungguh mengena dengan situasi saat ini.
"Kami bangsa indonesia mengaku berbangsa satu Amerika
Kami bangsa indonesia mengaku berbahasa satu Amerika
Kami bangsa indonesia mengaku bertanah air satu Amerika
Kami bangsa indonesia mengaku, semuanya Amerika..."
Kami bangsa indonesia mengaku berbahasa satu Amerika
Kami bangsa indonesia mengaku bertanah air satu Amerika
Kami bangsa indonesia mengaku, semuanya Amerika..."
Ini Bukan Arab, Bung! – Milisi Kecoa
Satu lagi band berideologi punk yang sukses menghasilkan lagu-lagu
protes zaman. Milisi Kecoa hadir dari puing-puing kekecewaan yang mereka lihat
di sekitar. “Ini Bukan Arab, Bung!” merupakan protes keras yang dilayangkan
kepada para bigot-bigot negeri yang tak henti-hentinya memaksakan budaya. Bagaimana
para pengobral surga menyebarkan ajaran agama dengan cara memaksa. Meraka tak
segan-segan memberi label “kafir bin sesat” karena merasa mendapat legitimasi
dari Tuhan.
"Cepatlah kau mati,
tagih pahalamu di surga
Surgamu, nerakaku
Ini bukan arab, bung!"
Kami Bosan Jadi Negara Dunia Ketiga – Morfem
Di lagu ini Morfem bercerita bagaimana sulitnya negara ini
berkembang akibat penyakit utama yang menjangkitinya: korupsi. Para pemegang
amanat rakyat yang padanya kita manaruh harapan malah membuat permufakatan
jahat. Tanpa belas kasihan, mereka memakan kepercayaan dan membaginya hanya
kepada kelompoknya sendiri. Nomor ini berteriak keras tentang itu semua. Bagaimana
negara yang hampir berumur enam puluh delapan tahun ini masih saja berstatus “negara
dunia ketiga”.
Kebosanan akan kondisi dimainkan dengan musik fuzz-rock yang
dinamis. Lirik ciamik dari Jimmy Multazham sang vokalis mewakili perasaan
kebanyakan rakyat Indonesia. Puncak kejengkelan ada pada bagian terakhir lagu. Suara “Cuuuiiihh..”
sangat pas untuk diberikan pada pengelola negara yang sudah cukup berumur ini.
"Bosan kami bosa jadi negara dunia ketiga
Padahal kita hidup di tanah air yang kaya raya
Bosan kami bosa jadi negara dunia ketiga
Tak mungkin jadi negara maju jikalau korupsi ada..."
Minggu, 14 April 2013
Kapal Rock Pengantar Sejarah
![]() |
| Gambar dipinjam dari sini |
"Dan bagi pemerintah, jangan bermimpi ini sudah berakhir. Tahun-tahun akan datang dan pergi, dan para politisi tak berusaha menjadikan dunia tempat yang lebih baik. Tapi di seluruh dunia, muda-mudi akan selalu bermimpi dan mewujudkan mimpinya dalam lagu. Tak ada yang penting yang akan mati malam ini. Hanya beberapa pria jelek di sebuah kapal rongsokan. Satu-satunya yang menyedihkan malam ini adalah beberapa tahun lagi ada banyak lagu indah yang tak bisa kami putar. Tapi, percayalah padaku, lagu-lagu itu akan tetap dibuat. Lagu-lagu itu akan tetap dinyanyikan dan menjadi inspirasi dunia."
Pernah suatu masa Soekarno begitu menjengkelkan bagi para musisi Indonesia. Bagi Putra Sang Fajar ini, kemerdekaan Indonesia yang diraih dengan berdarah-darah harus dimurnikan. Segala sesuatu yang dapat menghalangi jalannya revolusi haruslah disingkirkan. Celakannya, musik yang (katanya) berbau ke-barat-baratan termasuk bentuk kegiatan kontra revolusi. Alhasil, Rock and Roll dilarang beredar, grup Koes Plus diredel, musik mereka tak boleh diperdengarkan sama sekali. Indonesia memasuki masa suram dalam hal musik dan tanpa ikon sama sekali waktu itu.
situasi serupa pernah terjadi di Inggris. Pertengahan 1960-an, dimana menjadi era terpenting bagi perjalanan Rock and Roll di tanah Britania, hadirlah pemerintah menjadi penghadang utama dengan segala peraturan yang serba kaku mereka. Konflik besar itulah yang coba digambarkan dalam film The Boat That Rocked (diproduksi tahun 2009).
Dikisahkan, sebuah radio yang mengudara dari tengah Laut Utara Inggris. Radio Rock, nama yang begitu menggambarkan segmennya, adalah sebuah radio yang menyebarkan frekuensi Rock and Roll lewat sebuah kapal yang cukup besar namun mulai menua. Radio ini mencuat karena momen yang tepat di tahun 1966. Disaat kebanyakan masyarakat mengalami deman Rock and Roll, radio utama Inggris, BBC, tidak memberikan porsi yang cukup bagi jenis musik ini. Saat itulah muda-mudi beralih pada Radio Rock yang memutar Rock and Roll sepanjang hari, 24 jam penuh.
Lebih dari itu semua, nilai tambah Radio Rock adalah persona setiap penyiarnya yang unik dan begitu memukau, sesuai dengan sesi acara mereka masing-masing. Di jajaran itu hadirlah Simon (Chris O’Down) yang mengajak pendengarnya menjadi keren dengan cara sederhana setiap paginya. Ada The Count (Philip Seymour Hoffman) yang menemani pendengarnya untuk menghitung mundur malam hingga capai larut. Lalu ada Mark (Tom Wisdom) yang tak banyak bicara namun selalu dinanti di tengah malam hingga dini hari karena keseksiannya. Juga Bob (Ralph Brown) pria tua berjanggut lebat yang rela mati demi vinyl-vinyl-nya yang senantiasa hadir kala subuh hingga matahari menampakkan diri. Dan yang menjadi terfavorit diantara semuanya adalah Gavin (Rhys Ifans), pria bersuara seksi dengan kelakuan bajingan ala superstar Rock and Roll.
Persona menarik dan selera musik yang menawan membawa Radio Rock mencapai titik puncaknya. Setiap hari mereka dinanti oleh muda-mudi Inggris yang minta diputarkan musik-musik yang hari ini menjadi legendaris semacam The Who, The Kinks, Jimi Hendrix, The Turtles hingga The Beach Boys. kenyataan itu membuat iklan-iklan mengantri untuk masuk.
Di tengah popularitas yang kian meninggi itulah datang pengahadang yang begitu menjengkelkan dari pemerintah. Oleh pemerintah Inggris, Radio Rock dianggap merusak moral pemuda. Alasan lainnya, Rock and Roll merusak tatanan musik klasik yang menjadi favorit kaum tua yang cenderung konservatif. Dibuatlah alasan penghancuran melalui peraturan yang dibuat-buat untuk menghentikan dominasi Rock and Roll, khususnya Radio Rock itu sendiri.
Konflik pada usaha untuk mempertahankan Radio Rock itulah yang menjadikan film ini sangat menarik. Disebutkan bahwa genre dari film ini adalah komedi. Namun bagi saya The Boat That Rocked lebih dari sekedar film komedi. Memang adengan yang ujung-ujungnya menarik urat kelucuan banyak disajikan. Namun pada akhirnya film ini bercerita tentang perjuangan, lebih-lebih bentuk sebuah perlawanan pada kemapanan bernama pemerintah. Banyak bagian emosional pada upaya untuk mempertahankan sesuatu yang memang patut untuk diperjuangkan. Untuk itu, favorit saya adalah bagian ketika Bob yang tetap kekeuh untuk mempertahankan boxset yang berisi piringan hitam kesayangannya, padahal kapal mereka sudah hampir tenggelam. Bagian ini lebih mengharukan daripada adegan Jack dan Ross di film Titanic.
Benarlah apa yang dikatakan oleh The Count, yang sempat saya kutip di bagian pembuka di atas; musik bermutu memang tak akan pernah bisa dihalangi untuk terus dibuat dan akhirnya akan sampai pada pendengarnya. Sekeras apapun usaha bodoh itu!
Jumat, 03 Agustus 2012
Lagu-Lagu Pengantar Pulang
Sungguh tidak terasa, sudah lebih dari dua tahun saya tidak
menginjak rumah di Tarakan. Terakhir saya melakukannya pada sebuah libur semester
di tahun 2010. Selama kuliah ini, pulang rumah bukan lagi sebuah kebiasaan. Ia
sudah menjadi semacam ritual yang begitu sulit dilakukan.
Setiap tahun, di waktu-waktu yang memberikan kesempatan
untuk kembali ke rumah, selalu saja ada alasan pembenaran untuk tidak pulang
dulu. Pekerjaan di organisasi kampus. Kegiatan sosial bersama kawan-kawan. Yang
paling klasik, duitnya terlalu mubazir dihabiskan hanya untuk terlalu sering
pulang rumah.
Tapi jujur saja, keinginan itu selalu muncul hampir setiap
tahun. Antiklimaks memang dengan keinginan menggebu-gebu untuk meninggalkan
rumah selepas SMA dulu.
Dan tengah tahun ini saya tak dapat mengelak lagi. Saya
harus pulang! Ego besar di luar rumah harus dikesampingkan dulu. Jarak pun tak
memungkinkan lagi bagi saya untuk mengelak. Selepas mengikuti program Kuliah
Kerja Nyata (KKN) di Pulau Sebatik, Kal-Tim, ternyata belum ada rencana follow up di Makassar. Jadilah kapal
mengantar saya hanya sampai di Pulau Tarakan. Rombongan yang lain akan
berlanjut sampai Pare-Pare dan Makassar.
Untuk perjalanan pulang tahun ini saya memilih lima buah
lagu yang semakin memantapkan setiap langkah saya menuju rumah. Sebenarnya
lagu-lagu ini pulalah yang membuat saya semakin rindu keluarga setiap kali
mendengarnya.
Ah, tanpa panjang lebar lagi, berikut lagu-lagu pengatar
pulang dari dan bagi saya;
· Andien – Pulang
Memang tema besar lagu ini adalah tentang kerinduan kepada
pasangan. Namun, bagi saya lagu ini sangat mampu untuk membangkitkan romantisme
kebersamaan dengan keluarga. Setiap kali mendengarnya, ingin rasanya langsung
berada di rumah. Kehangatan kebersamaan dengan orang-orang terkasih sangat
terbangun di nomer ini.
Pop-jazzy menambah syahdu tembang Pulang. Suara emas Andien, yang memang salah satu solois wanita
terbaik di genre-nya melengkapkan daya tarik lagu ini.
Hari ini sayang aku akan pulang
Berlabuh di dekap cintamu
Karna pelukmu akan selalu
Membuat diriku jatuh cinta
· Dialog Dini Hari – Ku Kan Pulang
Jika
berbicara tentang waktu, terkadang memang tidak pernah terasa, ternyata sudah
cukup lama kita pergi dari rumah. Tiba-tiba saja kita akan sampai pada satu
titik dan terbersit rasa untuk kembali. Ku
Kan Pulang bercerita tentang itu. Tentang bagaimana rasa rindu tiba-tiba
saja datang dan terus memanggil kita untuk pulang. Tapi tetap saja kita akan
selalu harus mencari waktu yang tepat. Dan waktu yang tepat bagi saya ya saat
ini.
Dialog Dini
Hari sangat pintar meramu musik dan lirik menjadi sebuah lagu yang begitu
menyentuh. Dengan balutan folk minimalis, Ku
Kan Pulang dapat menjadi lagu yang memiliki daya bunuh maksimal. Trio asal
Bali ini mulai menjadi salah jaminan mutu bagi musik Indonesia saya kira.
...Lamakah aku pergi
Hingga tak sadar beribu kisah ingin ku bagi
Berilah aku waktu sebentar lagiKu kan pulang
Pulang ke rumah
Berilah waktu
Sabar menunggu...
· Quasi – For Mom and Dad & Lazy Room – Take
Me Home
Impian terbesar saya selepas lulus SMA dulu adalah pergi
sejauh mungkin dari rumah. Rasa bosan dan ingin belajar mandiri menjadi
alasan utama. Gayung bersambut, orang tua mengizinkan niatan saya tersebut.
“Bebaslah saya”, pikir saya waktu itu.
Namun tak cukup lama sebelum tembok pertahanan saya runtuh.
Saya memang bebas untuk melakukan segala kegiatan secara mandiri. Tapi
rasa-rasanya kok ada yang hilang. Tak lain hal itu adalah kehangatan keluarga.
Saya rasa hal tersebut juga menjadi latar terciptanya For Mom and Dad dan Take Me Home ini. Dua lagu ini setipikal sebenarnya. Sama-sama
bercerita tentang kerinduan dalam kesederhanaan, namun sangat jujur saya kira.
Pada divisi lirik dua lagu ini hanya bercerita tentang kerinduan yang mendalam
kepada kedua orang tua. Tak bisa dipungkiri, memang orang tua akan selalu
menjadi alasan terkuat kita untuk pulang.
I come to the starsWhere are you momHow are you? How are you?I come to the sunWhere are you dadI miss you. I love you
· Float – Pulang
Nah, lagu inilah yang menjadi racun bagi saya belakangan
ini. Tapi saya selalu saja memutarnya berulang-ulang. Di kala sendiri atau
sebelum tidur lagu ini saya mainkan. Dan saat itu pula bayangan rumah beserta
semua yang ada di dalamnya langsung tampak jelas.
Pulang versi Float ini bercerita tentang kerinduan yang tak
tertahankan lagi. Dengan alunan musik folk-pop khas Float, lagu ini akan
menambah keinginan untuk pulang berkali-kali lipat.
Ah, hangatnya rumah...
Jelajahi waktu
Ke tempat berteduh hati kala biru
Dan lalu...
Sekitarku tak mungkin lagi kini
Meringankan lara
Bawa aku pulang, rindu!
Segera!
Jelajahi waktu*Ditulis sambil mendengarkan bapak yang sedang mengaji dan mamak yang sedang mempersiapkan menu berbuka puasa.
Ke tempat berteduh hati kala biru
Dan lalu...
Sekitarku tak mungkin lagi kini
Meringankan lara
Bawa aku pulang, rindu
Segera Jelajahi wakt
Ah, hangatnya rumah...
Jelajahi waktu
Ke tempat berteduh hati kala biru
Dan lalu...
Sekitarku tak mungkin lagi kini
Meringankan lara
Bawa aku pulang, rindu!
Segera!
Selasa, 17 Januari 2012
Resolusi Konser 2012
Saya suka mendengar/menonton musik Indonesia... Ah, klise. Sudah sangat sering saya katakan itu. Tak usah dibahas lagi.
Salah satu keinginan saya di tahun 2012 ini adalah lebih banyak menonton konser band-band kesukaan. Ada banyak band/musisi keren (menurut saya) Indonesia yang belum saya datangi pertunjukan live-nya. Alasannya lebih kepada karena mereka belum sempat main di Makassar sih. Kalau saya yang mendangi konser mereka di Jawa kan berat di ongkos. Jadi untuk sementara bersabar saja dulu, sambil berharap ada promotor yang mau mengajak mereka main ke Makassar.
Ini dia daftar resolusi konser saya di tahun 2012:
Dialog Dini Hari
Mereka adalah trio supergrup dari kancah musik Bali. Personilnya datang dari band-band yang lebih dulu eksis di ranah musik pulau dewata tersebut. Dankie (Navicula), Michael Bronzio (eks The Hydrant) dan Putu Deny Surya Wibawa (Rokavatar). Bertiga mereka bersekongkol untuk memainkan musik yang tidak tersalurkan di band sebelumnya. Album pertama Beranda Taman Hati yang berasa folk-blues langsung membuat saya jatuh cinta sejak pertama mendengar. Dialog Dini Hari, tahun ini kita harus bertemu!
Sir Dandy
Tak perlulah saya menjelaskan lagi. Lesson #1, album perdana orang gila ini, hingga kini masih mampu membuat saya terus tertawa geli tiap kali mendengarkannya. Sir, tahun ini kita harus bertemu! Sikat Jon!
Melancholic Bitch
Mungkin harapan saya untuk menyaksikan band terbaik Jogja ini akan sangat tipis. Akhir Juli tahun lalu mereka telah mengumumkan akan 'rehat' hingga waktu yang belum ditentukan pada sebuah konser yang emosional. Masing-masing personil sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Dalam doa sehabis sholat, saya sering meminta agar mereka segera berkumpul dan mengelar pertunjukan lagi. Tentu dengan harapan saya ada di tengah-tengah konser reuni tersebut. Amin. Om-om Melbi, tahun ini kita harus bertemu!
Jogja Hip-Hop Foundation
Baru kali ini saya benar-benar menyukai lagu hip-hop. Panji-panji Ngayogyakarta Hadiningrat. Merekalah yang telah berhasil membuat saya keracunan musik para rapper dengan lirik berbahasa jawanya itu. Ketika budaya lokal bertemu budaya global. Ketika beat hip-hop bercampur dengan syair tradisional jawa. Ketika batik matching dengan sneaker. Saat itulah anda siap digoyang oleh sekumpulan bernama Jogja Hip-Hop Foundation. Kang mas-kang mas, janji ya, tahun ini kita harus bertemu!
Armada Racun
Lagi-lagi band Jogja. Kota ini memang pencetak manusia-manusia dengan predikat musisi keren. Yang ini band beracun bernama Armada Racun. Mereka sudah menjadi racun bagi saya sejak pertama mendengar lagu Amerika. Belum lagi lagu-lagu lainnya di album Le Peste semacam Tuan Rumah Tanpa Tanah, Lalat Betina dan lainnya. Eh album mereka ini juga masuk dalam album terbaik tahun 2010 pilihan saya loh. Tapi sayang saat ini mereka juga sedang rehat. Dalam masa pengerjaan album sih dengar-dengar. Sungguh saya sudah sangat siap untuk diracun oleh kalian. Kakak-kakak Armada Racun, pokoknya tahun ini kita harus bertemu!
Bangkutaman
Salah satu penyesalan saya di tahun 2010 adalah tidak sempatnya saya menyaksikan pertunjukan live unit indie-pop ini pada saat mereka tampil di Makassar. Ada banyak alasan saya harus menyaksikan mereka. Tapi cukuplah dengan fakta bahwa album Ode Buat Kota milik mereka adalah album terbaik 2010 versi Rolling Stone Indonesia. Ah, mas-mas, main ke Makassar lagi dong. Saat itu saya berjanji untuk berada di barisan paling depan untuk menonton kalian. Oke ya, Bangkutaman, tahun ini kita harus bertemu!
The Adams
Sudah sejak SMA saya menyukai mereka. Lagu Konservatif yang menjadi soundtrack film Janji Joni penyebabnya. Belum lagi Halo Beni dan Hanya Kau. Tak usah banyak alasan. pokonya saya harus menonton pertunjukan live mereka. The Adams, tahun ini kita harus bertemu!
Luky Annash
Entah saya saja yang kurang tahu, tapi saya belum pernah mendengar seorang musisi memainkan piano seliar dibanding apa yang dilakukan oleh Luky Annash. Pada bagian lirik lagu juga sangat kuat. Album 180 Derajat yang rilis tahun 2011 adalah album perdana sekaligus perkenalan yang mantap saya rasa. Luky, tahun ini kita harus bertemu!
Raisa
Saat pertama mendengarkan solois ini lewat radio, saya langsung jatuh hati. Suara beratnya sungguh seksi menurut saya. Sekalinya melihat wujud aslinya di televisi, saya semakin jatuh hati. Musik Raisa yang memasukkan bermacam-macam unsur seperti pop, jazz dan balada sangat menarik. Sebenarnya ia juga sudah pernah tampil di Makasar. Tapi entah kemana saya waktu itu. Ayolah Raisa, jangan bikin aku serba salah dong. tahun ini kita harus bertemu!
Itu saja mungkin ya. Diaminin dong pemirsa!
Sabtu, 03 Desember 2011
Lagu Kala Hujan
Akhir tahun bukan hanya soal persiapan Natal dan Tahun Baru. Bagi masyarakat Indonesia, akhir tahun adalah juga soal akhir dari penantian panjang. Ada yang baru datang di akhir tahun setelah dinanti berbulan-bulan, yaitu hujan. Banyak hal yang datang bersama dengan datangnya hujan: Kesejukan, ketentraman, juga terkadang kegelisahan. Sebaliknya pasti akan ada yang pergi seiring dengan berjatuhannya titik-titik air hujan tersebut.
Ini hasil pengamatan pribadi saya terhadap orang-orang sekitar, baik melalui jejaring sosial maupun kehidupan sesungguhnya. Ada yang begitu bahagia dengan datangnya hujan, karena musim panas telah berlalu. Ada yang mulai (kalau kata anak muda jaman sekarang) meng-galau kala hujan. Bahkan ada seorang teman yang menjadikan momen musim hujan untuk balikan dengan pacarnya. Macam-macam saja ya.
Bagi saya sendiri tidak ada hal spesial di musim hujan. Kegiatan yang saya lakukan pun sama saja dengan kegiatan di musim panas. Di waktu weekday, saya tetap harus bangun pagi, pergi kuliah dan mengerjakan tugas-tugas. Weekend tiba giliran nyuci dan bersih-bersih kamar yang menjadi kewajiban.
Hal yang berbeda mungkin hanya soal musik yang akan rutin didengar. Jika di luar musim hujan, genre musik yang saya dengar lebih bervariatif, nah, di musim hujan ini akan lebih asyik kalau mendengarkan musik yang bertempo lambat. Musik jenis ini sangat mendukung suasana menurut saya. Tapi jangan sampai terbawa suasana dalam beraktifitas. Bisa-bisa semua pekerjaan ikut terganggu.
Berikut ini lima buah lagu kesukaan saya kala hujan tahun ini. Kesemuanya adalah lagu-lagu dari para musisi tanah air. Memang akhir-akhir ini saya lebih suka mendengarkan musik-musik dalam negeri. Empat diantaranya memakai kata "hujan" sebagai judul. Tapi tidak berarti semua lagu yang berjudul menggunakan kata "hujan" saya sukai. Tentu lagi-lagi karena perbedaan selera ya. Tidak perlu diperdebatkan. Karena memang, "Selera tidak dapat diperdebatkan."
Ini dia lima lagu kala hujan favorit saya:
Quasi - Pelangi Selepas Hujan
Bulan lalu, bertepatan dengan awal musim hujan 2011 grup post-rock asal Yogyakarta merilis single baru bebas unduh berjudul "Pelangi Selepas Hujan." Quasi memperhitungkan betul momen untuk membagi secara gratis lagu mereka. Lagu ini langsung klop dengan momen. Jka musim hujan ini adalah sebuah film maka lagu ini sangat cocok untuk menjadi sound track-nya
Bercerita tentang kebahagiaan dengan datangnya musim hujan yang telah begitu lama dinanti. Suara Iwan Aryanto sang vokalis memang selalu memberikan warna tersendiri pada tiap-tiap lagu Quasi. Pun pada lagu ini, Iwan melaksanakan isian vocal dengan sangat baik. Suaranya cempreng namun sangat enak didengar karena begitu menyatu dengan musik.
Yang saya sukai dari lagu ini adalah, lagu ini tidak terlalu mendayu. Juga musik mengawang khas Quasi masih terasa di lagu ini. Sangat bisa memberikan semangat kala hujan turun.
Telah lama ku nanti musim-mu kan berganti
Memecah rindu membasahi ruang hijau berseri
Seketika indah warnamu membentang sempurna
Frau - Mesin Penenun Hujan
Jika ada wanita yang bisa menghibur saya saat berhadapan dengan hujan yang begitu menjengkelkan, Frau lah orangnya. "Mesin Penenun Hujan" sebenarnya sudah saya nikmati sejak pertama kali dirilis di pertengahan 2010 yang lalu. Lagu ini kembali intens saya dengar setiap waktu senyap termasuk ketika hujan. Lagunya begitu menentramkan.
Lagu ini tercipta dari imajinasi Leilani Hermiasih alias Frau yang membayangkan rintikan hujan sebagai mesin penenun. Lirik lagunya begitu puitis yang memang menjadi ciri khas pada tiap lagu Frau. Ditambah dengan permainan piano yang begitu ciamik membuat lagu ini salah satu lagu kala hujan terbaik bagi saya.
Kau sakiti aku, kau gerami aku
Kau sakiti, gerami, kau benci aku
Tetapi esok nanti kau akan tersadar
Kau temukan seorang lain yang lebih baik
Dan aku kan hilang. Ku kan jadi hujan
Tapi takkan lama, ku kan jadi awan
Koil - Lagu Hujan
Band keras Koil tenyata juga mendapatkan inspirasi untuk membuat lagu tentang hujan. Jika pada lagu-lagu Koil yang lainnya selalu penuh emosi dan bertenaga, lagu ini terdengar berbeda. Dibuka dengan permainan gitar yang menarik. Lalu mulai muncul suara-suara instrumen elektronik yang semakin menambah kaya lagu ini.
"Lagu Hujan" menarik karena bercerita tentang hujan yang menjadi tempat perhentian. Dalam hidup ada kala dimana kita harus berhenti sejenak dari segala rutinitas. Untuk selanjutnya berpindah kepada rutinitas yang lainnya.
belum berhenti…
begitu derasnya hujan ini
mulai terangkai angan
menyusun beling beling kenangan
banyak ilusi...
banyak yang sudah teralami
begitu banyak gembira
hanya kecewa tertanam di hati
Efek Rumah Kaca - Desember
Tiap tahunnya, "Desember" saya nobatkan sebagai anthem of end year. Lagu ini sangat berkesan sejak pertama saya mendengarkannya ketika SMA. Seperti biasa, Efek Rumah Kaca tidak pernah membuat lagu yang mengecewakan. Cholil, Adrian dan Akbar selalu dapat merangkai musik dan syair menjadi lagu yang enak didengar.
Desember adalah lagu hujan terbaik menurut saya. Juga bagi banyak orang tentunya. Karena memang lagu ini menampilkan perpaduan yang begitu mantap. Antara musik minimalis yang begitu menawan dan syair lagu yang sangat dalam. Lagu ini semacam ode untuk suasana selepas hujan. Hujan memang selalu dinanti. Tetapi klimaks akan selalu terjadi saat setelah hujan.
Aku selalu suka sehabis hujan di Bulan Desember.
Seperti pelangi setia menunggu hujan reda.
Efek Rumah Kaca - Hujan Jangan Marah
Lagu "Desember" memang lagu hujan terbaik. Tapi "Hujan Jangan Marah" memiliki sesuatu yang membuatnya istimewa. Kalau Desember terkesan datar, lagu ini lebih variatif. Pelan di awal namun sangat bertenaga di bagian akhir. Liriknya juga sangat ciamik. Dari segi inilah lagu yang terdapat pada album "Kamar Gelap" ini tidak kalah dengan lagu-lagu Efek Rumah Kaca yang lainnya seperti "Desember" dan "Melankolia." Lagu ini adalah doa. Menurut sumber yang saya baca, lagu ini memang dibuat ditengah bencana banjir besar yang melanda Jakarta ketika itu. Teriakan "Hujan Jangan Marah" pada lagu ini mengambarkan dengan jelas keadaan waktu itu.
Bagian yang paling saya suka dari lagu ini adalah liriknya yang begitu puitis. Tentu tidak mudah membuat lirik lagu seperti ini. Tapi Cholil dkk selalu bisa menciptakan lagu yang keren tanpa kesan sok pintar atau pun sok menggurui.
Lihatkah? aku pucat pasi, sembilu hisapi jemari
Setiap ku peluk dan menangisi hijau pucatnya cemara
Yang sedih aku letih
Dengarkah? Jantungku menyerah, terbelah di tanah yang merah
Gelisah dan hanya suka bertanya pada musim kering
Melemah dan melemah
Hujan, hujan jangan marah...
Langganan:
Postingan (Atom)



