Tampilkan postingan dengan label Kampung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kampung. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 November 2017

Menanam Sagu di Kepala

Foto oleh Regista

Malam baru saja dimulai di Kampung Yepem. Di rumah Mama Katarina dan Mama Fransina, kami sedang menunggu matangnya sagu bola dan ikan duri yang sedang dibakar di tungku api. Penganan sederhana yang dimasak dengan cara sangat sederhana tersebut menjadi pengisi perut kami malam itu.

“Ambas akat ooo, sagu enak.”

Jawaban Mama Katarina sesingkat itu saat saya tanya tentang makan malam kami yang baru saja meluncur ke lambung. Kami semua tertawa. Walaupun saya tahu persis alasannya lebih dari itu. Bagi masyarakat suku Asmat, sagu bukanlah sekedar makanan. Ia sudah menjadi bagian dari laku kebudayaan yang mengakar sejak masa leluhur.

Dalam banyak cerita leluhur atau mitologi orang Asmat, sagu sering disebut sebagai bagian dari sejarah pertumbuhan suku di pesisir selatan Papua ini. Misalnya saja Beworpit, leluhur yang paling sering disebut dalam cerita adat. Berworpit dikisahkan adalah penemu tanaman sagu di dalam rimba Asmat. Ia pula yang mengorbankan dirinya dengan berubah wujud menjadi pohon sagu agar tanaman rawa tersebut bisa terus ada bagi generasi penerusnya. Heroisme Beworpit itu terus hidup sebagai leluhur penyedia kehidupan bagi orang Asmat.

Dalam cerita lain, sagu merupakan makanan utama bagi kepala perang beserta prajuritnya pada masa pengayauan. Mereka percaya dengan memakan sagu badan bisa menjadi lebih kuat. Tenaga bertempur bisa tahan lama. “Kalau makan (makanan) yang lain, misalnya ikan sembilang, pisang doaka (pisang gepok), itu badan bisa jadi lemas. Tidak kuat ikut perang,” kata Felix Owom, Ketua Adat Asmat di Kampung Suwruw.

Dalam tatanan sosial, sagu sudah dianggap sebagai harta benda utama bagi masyarakat Asmat. Pada ritual pernikahan Asmat, sagu menjadi seserahan wajib bersama kapak batu. Kedua benda itu menjadi simbol perbekalan bagi sepasang mempelai yang baru akan mengarungi rumah tangga. Selain itu, ulat sagu menjadi penganan wajib dalam banyak ritual adat Asmat. Biasanya bakal kumbang sagu ini akan disantap bersama pada puncak helatan pesta.

Potensi sagu versus ambisi buta ketahanan pangan

Asmat bersama daerah di dataran rendah di Papua memang dikenal sebagai lumbung sagu sejak dahulu. Menurut penelitian Nadirman Haska, seorang profesor riset di bidang bioteknologi dan agroteknologi di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Papua tercatat memiliki 1,2 juta hetare lahan yang ditumbuhi pohon sagu. 95 persen diantaranya tumbuh alami di hutan dataran rendah dan belum dimanfaatkan.

“Papua berpotensi menghasilkan delapan juta ton sagu per tahun dari pohon yang tumbuh alami dan belum dimanfaatkan tersebut. Tapi karena kita tidak memanfaatkannya, potensi pangan tersebut hilang begitu saja,” Kata Nadirman.

Masih menurut Nadirman, sebagai sumber pangan potensial, sagu memiliki keunggulann tersendiri. Sagu dalam wujud tepung bisa diolah menjadi berbagai produk makanan. Karbohidrat yang terkandung di dalam sagu juga cukup tinggi dan mudah dicerna. “Sagu itu tidak memerlukan lahan yang luas dan mampu tumbuh tanpa perawatan intensif. Kalau mau serius, sagu bisa menjadi pendukung upaya Indonesia mewujudkan swasembada pangan,” jelasnya.

Sayangnya segala potensi itu masih kabur dari penglihatan pemerintah Indonesia. Program swasembada pangan yang dimulai sejak masa orde baru hanya mengandalkan beras semata. Pangan lokal yang tersebar di berbagai daerah dan menjadi bagian identitas keberagaman nusantara dilupakan begitu saja. Awalnya program ini terlihat gilang-gemilang mengantarkan Indonesia menyandang predikat sebagai salah satu negara yang mampu mencukupi pangan dalam negeri. Tapi tanpa upaya diversifikasi jenis pangan, swasembada pangan (lebih tepatnya swasembada beras) hanyalah program yang rapuh. Akibat korupsi besar-besaran, ia ikut runtuh bersamaan dengan berakhirnya orde baru.

Pemerintah penerus kemudian seolah gugup dan gagap dalam menyikapi masalah pangan ini. Mereka seperti tidak bisa berpikir banyak saat melihat masyarakat yang telah mengalami ketergantungan beras. Demi meneruskan program ketahanan pangan, ribuan lahan diubah menjadi sawah. Di Papua hutan dibuka untuk ditanami padi. Masyarakat pemburu peramu didorong (atau dipaksa) menjadi petani. Ya, tentu saja salah sasaran. Mana bisa orang-orang yang terbiasa hidup dengan memanfaatkan hutan seketika disuruh berbudi daya.

Tetangga Asmat yaitu Kabupaten Merauke kini sedang merasakan kegagapan pemerintah itu. Lewat proyek nasional bernama MIFEE (Merauke Integrated Food and Energy Estate), ratusan ribu hektare hutan masyarakat adat dibabat. Wilayah kelola masyarakat Marind yang biasa menjadi tempat mereka mengumpulkan sagu, buah-buahan, sampai daging disulap menjadi lahan persawahan raksasa. Tidak sampai di situ, oleh Presiden Jokowi, MIFEE diproyeksikan akan memanfaatkan lahan seluas 4,6 juta hektare. Bisa dibayangkan, betapa gilanya proyek ini.

Cilakanya, kebijakan buka-membuka sawah ini nyatanya salah kaprah. Masyarakat Papua yang butuh dikembangkan pangan lokalnya malah dihancurkan hutannya. Sementara itu sawah-sawah yang subur di Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah malah ingin dirusak sumber airnya. Petani-petani di banyak tempat dikriminalisasi. Lain lagi di Sumatera. Ada petani yang mempertahankan sawahnya dari jerat pembangunan malah ditangkap atas tuduhan menyebarkan paham komunisme. Kurang gila apa lagi pemikiran pengembang ketahanan pangan kita ini.

Sementara itu, di berbagai tempat, termasuk juga di Asmat, alam bawah sadar masyarakat terus dipengaruhi oleh kebijakan beras-isasi. Masyarakat yang dikategorikan tidak mampu disuplai beras miskin alis raskin oleh negara. Beras dengan kualitas rendah ini tidak pernah cukup menghidupi masyarakat dalam sebulan. Mereka harus tetap berusaha mencari tambahan makanan untuk menyambung hidup.

Menanam harapan pada yang lokal

Sudah saatnya pemerintah membuka mata untuk mulai memaksimalkan potensi pangan lokal kita, terutama sagu. Sudah terlalu lama potensi kita ini disia-siakan. Mimpi ketahanan pangan sangat riskan bila hanya dibebankan pada beras semata. Bukankah keragaman kita juga bersumber dari beranekanya pangan lokal kita?

Cobalah turun ke masyarakat untuk melihat (sekaligus belajar) betapa kearifan lokal yang selama ini diterapkan berhasil membuat masyarakat adat hidup selaras dengan alam. Saya rasa pemerintah lewat konsultan-konsultannya yang pandai-pandai itu harus melepaskan sedikit ego mereka. Nilai-nilai dalam kearifan lokal masyarakat adat perlu dihormati bahkan dirangkul dalam proses modernisasi sistem produksi pangan. Perpaduan antara yang modern dan yang lokal saya kira akan memberikan hasil maksimal sekaligus meningkatkan kepercayaan diri masyarakat tradisional.

Saya pernah beberapa kali mengikuti masyarakat Asmat memangkur sagu di dalam hutan keluarga mereka. Pekerjaan yang dijalankan dengan sangat tradisional ini menampilkan kekayaan tradisi yang erat dengan penghormatan pada alam. Tidak sembarangan pohon sagu yang boleh ditebang. Pada beberapa lokasi hutan, suku Asmat menerapkan metode konservasi tradisional bernama dusun keramat. Penetapan dusun keramat dilakukan untuk melindungi hutan yang menjadi bagian dari sejarah leluhur mereka. Tidak boleh ada yang merusak ekosistem di tempat keramat. Bagi yang berani melanggar, sanksinya tidak main-main: kematian.

“pelanggaran itu termasuk teser (jenis pamali paling berat dalam sistem hukum adat Asmat),” kata Walter Ewenmanam, salah satu Tetua Adat Asmat di Kampung Yepem.

Wilayah hutan yang bukan termasuk tempat keramat adalah tempat masyarakat Asmat mencari makan, mulai dari memangkur sagu sampai berburu binatang. Namun hanya hutan keluarga, atau yang biasa disebut dusun, yang boleh mereka garap. Selain itu mereka sangat memperhatikan keadaan dusun. Saat kondisi dusun dianggap mulai gundul, mereka akan menerapkan ritual pisis. Lokasi yang diberi pisis tidak boleh digarap dalam jangka waktu tertentu. Tujuannya untuk memberikan kesempatan kepada dusun yang gundul tadi untuk tumbuh kembali secara alami. Hal ini mirip dengan tradisi sasi di daerah Maluku.

Namun di balik kekayaan pengetahuan tradisional masyarakat Asmat dalam memanfaatkan hutan, teknik tradisional dalam memangkur sagu yang mereka terapkan sangatlah terasa berat. Mereka bisa menghabiskan tenaga sepanjang hari untuk menebang pohon sagu, menguliti, memangkur, sampai menyaring pati menjadi tepung sagu. Lagi pula dengan cara tersebut hasil yang didapatkan tidak terlalu maksimal. Dalam sehari dua orang hanya mampu menggarap satu buah pohon sagu. Hasil tepung sagu yang bisa dihasilkan dari satu pohon itu sekitar dua sampai tiga noken (seukuran karung beras 25 kilogram).

Di sinilah intervensi pemerintah lewat penerapan teknologi dibutuhkan. Sudah seharusnya sentra-sentra pengelolaan dibangun di lokasi yang memiliki potensi sagu yang besar. Bersamaan dengan itu pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan mereka dalam proses produksi juga harus berjalan. Dengan begitu kepercayaan diri masyarakat turut terbangun karena melihat potensi dan pengetahuan mereka ikut dilibatkan.

Pemerintah kita sudah harus mulai berpikir ulang tentang konsep “menanam” yang selama ini terus mereka paksakan dalam program ketahanan pangan. Jangan hanya membuka lahan raksasa tapi mengabaikan tata hidup yang selama ini masyarakat bangun. Kepala masyarakat perlu ditanamkan imajinasi tentang kesejahteraan lewat potensi mereka sendiri. Sumber daya alam kita sudah sangat melimpah. Hari ini waktunya menanam harapan, demi menuai kebaikan di masa depan.


*Tulisan ini terinspirasi oleh lagu Menanam milik band folk Makassar, Kapal UdaraSebelumnya dimuat di sini.


Rabu, 11 Oktober 2017

Saat Buku Bertemu Pembacanya



Perahu fiber bermesin 15PK berjalan pelan mengantar kami ke Kampung Yepem. Laut teduh, langit mendung dan hamparan hutan mangrove menjadi teman sepanjang perjalanan. Pak Paskalis, teman yang pagi itu menjemput kami, sengaja melambatkan laju perahunya yang bergerak di tepian pesisir. “Kita jalan di pinggir mangi-mangi (mangrove dalam Bahasa lokal di Papua) saja ya, pak. Saya mau mengambil video untuk dokumentasi perjalanan kita dari Agats ke Kampung Yepem,” instruksi Regis, salah satu fasilitator Buku untuk KampungYepem.

Kami berkunjung ke Kampung Yepem pada penghujung September tersebut untuk membawa donasi berupa buku, majalah, dan bahan bacaan lainnya yang dikirim dari berbagai tempat. Sudah sejak April 2017, kami, tim Blue Forests yang bertugas di Asmat, Papua, bersama masyarakat Kampung Yepem, sedang menginisiasi pembangunan sebuah rumah baca di kampung tersebut. Dan setelah melalui proses pengiriman donasi yang cukup rumit akhirnya buku-buku tersebut bisa sampai juga di Kampung Yepem untuk menemui para pembacanya.

Setelah prosesi penyerahan kepada Kepala Kampung Yepem, segera saja anak-anak mengerubuni boks-boks yang kami bawa. Mereka memilih bahan bacaan masing-masing kemudian tenggelam pada halaman demi halamannya. Tidak semua anak-anak Asmat di Kampung Yepem bisa membaca. Tapi hari itu semua tampak bersemangat memilih buku atau majalah. Mereka seperti bocah yang mendapatkan mainan baru.

Anak-anak di Kampung Yepem memiliki tenaga yang sangat melimpah untuk bermain sepanjang hari. Mereka seperti tidak pernah kehabisan daya untuk terus berlari, menyemplung ke kali, berenang, sampai mendayung ci (perahu tradisional Asmat). Bahkan pada saat ikut mencari makan bersama orang tua di laut atau di hutan, kreatifitas mereka untuk bermain tetap berlanjut. Di dalam hutan, anak-anak ini malah memperoleh bahan yang melimpah untuk mencipta peranti permainannya sendiri.

Energi yang melimpah dari anak-anak itulah yang mendorong kami untuk membuat semacam rumah baca atau perpustakaan di Kampung Yepem. Berawal dari obrolan santai saat saya menginap di rumah adat jew, gerakan ini kemudian menjadi sedikit lebih serius. Dari obrolan tersebut lahirlah kemudian gerakan bernama Buku untuk Kampung Yepem. Kiki, rekan kami di Makassar, membuat lalu menyebarkan poster daring untuk menggalang donasi berupa bahan bacaan dan keperluan rumah baca lainnya. Kiki juga yang mengkoordinasi pengiriman donasi yang berasal dari berbagai daerah tersebut. Titik kumpulnya di Makassar kemudian dikirimkan ke Asmat lewat rekan yang kebetulan berkunjung ke Papua. Cukup ribet, tapi tiap kali ada donasi yang masuk rasanya menyenangkan sekali.

Tanggapan atas ajakan berdonasi lewat dunia maya tersebut cukup ramai. Tidak hanya dari Makassar dan sekitarnya, donasi berupa buku, majalah, sampai seragam sekolah berdatangan dari berbagai daerah di Jawa. Adapula yang mentransfer dana dengan amanah dibelanjakan bahan bacaan dan keperluan lainnya. Sumber dana yang masuk bahkan ada yang berasal dari luar negeri. Kalau saya tidak salah ingat, dari teman-teman PPI Utrech di Belanda dan PPI Inggris. Sungguh ajaib rasanya upaya kecil ini direspon begitu luas. Tentu kami berterima kasih sekaligus merasa bertanggung jawa untuk melaporkan kegiatan Buku untuk Kampung Yepem secara regular. Kami pun kemudian membuat akun media sosial untuk melaporkan jumlah donasi dan perkembangan kegiatan. Dengan begitu kami juga bisa terus berinteraksi dengan para donatur.

Respon yang tidak kalah serius juga datang dari masyarakat Kampung Yepem itu sendiri. Lewat Leonardus Jiwem, Kepala Kampung yang sudah menjadi rekan kami sejak pertama kali berkegiatan di kampung tersebut, menjanjikan pembangunan fisik rumah baca dengan menggunakan dana desa. Sedangka  untuk proses pengerjaannya dilakukan secara swadaya oleh penduduk kampung.

“pembangunan rumah baca ini su jadi sa pu cita-cita sejak sebelum jadi Kepala Kampung. Jadi rumah baca ini harus jadi sebelum Desember (tahun 2017). Biar sudah, pakai dana pembangunan sa pu rumah saja dulu. Sa pu rumah bisa bangun nanti saja,” kata Pak Leo, sapaan akrab pria yang juga mahir mengukir ukiran Asmat ini.

Tentu tanggapan dari Kepala Kampung dan masyarakat Kampung Yepem tersebut adalah kabar baik, bukan hanya untuk kami tapi juga untuk Kampung Yepem itu sendiri. Keswadayaan masyarakat dalam turut aktif pada sebuah program adalah bukti sebuah penerimaan. Keterlibatan langsung mereka menjadi pertanda bahwa program pembangunan rumah baca di Kampung Yepem adalah kerja bersama. Saat ini tiang pancang rumah baca sudah berdiri. Setelah Pesta Budaya Asmat akhir Oktober nanti, masyarakat sudah akan menyelesaikan perpusatakaan berbentuk rumah tradisional Asmat tersebut. Kami juga sudah mempersiapkan beberapa nama yang nantinya akan dipajang di plang rumah baca. Kesepakatan kami, nama rumah baca Kampung Yepem nantinya sebaiknya dalam Bahasa Asmat. Semoga segera rampung dan kami bisa membagikan kabar-kabar menyenangkan selanjutnya.

suasana belajar bersama di teras yang berhadapan langsung dengan kali (foto oleh Regista)

Sembari menunggu rumah baca Kampung Yepem tersebut rampung, saat ini kami melakukan proses belajar bersama di rumah rekan kami lainnya, yaitu Mama Fransina dan Mama Katarina. Mama berdua mempersilakan teras belakang rumahnya untuk dipakai sebagai tempat berkumpul kami. Posisi teras yang dipinjamkan sangat menyenangkan karena berhadapan langsung dengan Kali Jomboth dan diteduhi oleh pohon kelapa. Tempat yang sangat nyaman untuk menghabiskan halaman-halaman bacaan.

Pada pengiriman donasi tahap pertama ke Kampung Yepem, kami sekalian menggelar beberapa buku bacaan anak-anak di teras rumah mama tersebut. Kemudian kami memanggil beberapa anak yang terlihat sedang bermain. Awalnya malu-malu, lapakan berubah menjadi riuh beberapa saat kemudian. Anak-anak lain yang sebelumnya tidak kami lihat juga turut datang. Rumah Mama Fransina ramai betul sore itu. Tapi saat buku dan beberapa majalah sudah di tangan, suasana berubah menjadi hening seketika. Semua menjadi asyik sendiri dengan bahan bacaan masing-masing.

Ada anak yang terlihat memegang buku bercerita “Mangrove Si Pohon yang Menakjubkan” dan mengamatinya dengan serius. Entah membaca atau sekedar memperhatikan gambarnya, tapi sepertinya buku tersebut begitu menarik baginya karena cerita dan gambar yang disajikan sangat akrab dengannya. Kampung Yepem yang terletak di pesisir selatan Papua adalah ekosistem hutan mangrove yang sangat sehat. Anak-anak sudah terbiasa berinteraksi dengan tanaman yang biasa mereka sebut dengan pohon-pohon mangi-mangi tersebut.

Di sudut lain ada yang sedang sibuk membuka halaman demi halaman Majalah Bobo. Walaupun hanya majalah bekas, informasi dan cerita yang ia dapatkan sore itu saya kira sangat berkesan. Pada beberapa halaman majalah, anak tersebut sesekali mengajak temannya untuk turut melihat apa yang ia temukan. Seperti tidak rela untuk melihat sendiri sesuatu yang baru pertama kali ia lihat.

Buku cerita bergambar seperti seri menjelajah samudra atau tentang sejarah manusia purba menjadi bacaan paling laris pada hari itu. Tentu saja karena buku-buku jenis tersebut bisa diterima oleh banyak anak, bahkan bagi mereka yang masih terbata-bata atau tidak bisa membaca sama sekali. Tapi bagi anak yang sudah lancar membaca, ada pula yang memilih buku dongeng yang berasal dari berbagai daerah. Cerita-cerita rakyat semacam itu, terutama yang berkaitan dengan asal-usul leluhur, sering mereka dengarkan di dalam rumah. Tradisi Orang Asmat yang masih bertahan di Kampung Yepem adalah proses pengajaran adat yang berlangsung di masing-masing keluarga.

Belajar bersama sore itu berakhir bersamaan dengan terbenamnya matahari. Sebelum pulang ke rumah masing-masing beberapa anak berinisiatif untuk merapikan kembali posisi buku yang telah ditinggal pembacanya. Pemandangan sepanjang sore tersebut tentu membuat kami bahagia. Teman-teman bisa turut merasakan kebahagian yang kami rasakan lewat video berikut:

Video oleh Regista

Sekian dulu cerita perdana dari kegiatan Buku untuk Kampung Yepem ini. Semoga cerita menyenangkan selanjutnya akan datang dalam waktu dekat.

Ndormom.

Selasa, 26 September 2017

Bertemu Pater Vins


Minggu lalu saya bersama teman berkunjung ke Distrik Sawaerma, Asmat. Di sana kami bertemu Pater Vincent Cole. Sudah hampir 40 tahun Pastor yang akrab disapa Pater Vins ini mengabdi melayani umat Katolik di distrik tersebut. Ia menyiarkan agama lewat cara menyatu dengan masyarakat adat Asmat. Lebih dari 20 tahun lalu Ia mulai menekuni seni ukir Asmat. Kemampuannya tersebut membuatnya mendapat pengakuan sebagai laki-laki Asmat. Selain itu pria asal Amerika ini juga menginisiasi pembangunan Gereja Kristus Amore. Gereja ini unik sekali. Desainnya dibuat semirip mungkin dengan je, rumah adat suku Asmat. Di dalamnya dibangun tungku-tungku yang mewakili fam-fam yang hidup di Kampung Sa dan Kampung Er, dua kampung tempat gereja berdiri. Beberapa ukiran dan benda-benda adat juga dipajang sebagai ornamen. Orang-orang biasa menyebut gereja ini sebagai gereje, gabungan dari kata gereja dan je.

Selain untuk pelaksanaan misa, gereje biasa juga dipakai oleh masyarakat untuk membicarakan urusan adat. "Kalau bisa masyarakat mengenal agama dengan mudah tanpa melupakan adat mereka," kata Pater Vins.

Kamis, 17 Agustus 2017

Menjaga Sang Pelindung Taman Nasional Lorentz

Paulus Animamea (8 tahun) sedang menyelam mencari ikan di Kali Muanapea, Kampung Nayaro. Kampung Nayaro yang didiami masyarakat Kamoro berperan penting sebagai daerah penyangga bagi Taman Nasional Lorentz dari ancaman tailing atau sisa tambang PT. Freeport.
Salah satu kampung yang menjadi daerah dampingan Lorentz Lowland Landscape LESTARI saat ini adalah Kampung Nayaro yang terletak di Distrik Mimika Baru, kabupaten Mimika, Papua. Kampung ini merupakan salah satu kampung yang masuk dalam wilayah konsesi PT. Freeport Indonesia (PTFI). Jaraknya cukup dekat dari Kota Timika. Namun dibutuhkan waktu sekitar satu setengah hingga dua jam perjalanan dengan bus untuk sampai kampung ini. Dari Kota Timika, kita harus menuju arah utara kemudian menyeberangi Sungai Otomona yang dijadikan daerah aliran tailing atau material sisa pasir tambang PTFI, lalu memutar kembali ke arah selatan, sebelum sampai di daerah pemukiman Kampung Nayaro. Untuk memudahkan akses masyarakat, PTFI menyediakan dua buah bus yang setiap hari mengantar masyarakat keluar masuk kampung.

Wilayah Kampung Nayaro yang dimilki secara adat oleh masyarakat Suku Kamoro membentang mulai dari pesisir selatan Papua sampai daerah dataran tinggi di Mile 50 PTFI. Letaknya sangat penting karena berbatasan langsung dengan Sungai Otomona yang menjadi daerah aliran tailing PTFI juga dengan Taman Nasional Lorentz di sebelah timur. Jadi, walaupun belum ditetapkan, Kampung Nayaro dapat dikatakan merupakan daerah penyangga (buffer zone) bagi Taman Nasional Lorentz di bagian dataran rendah hingga pesisir. Terjaganya kualitas alam Kampung Nayaro berarti kabar baik bagi kelestarian Taman Nasional Lorentz. Sebaliknya, degradasi kawasan yang terjadi di Kampung Nayaro merupakan ancaman bagi keberlangsungan taman nasional terluas di Asia Tenggara tersebut.

Letaknya yang strategis dan kualitas alam yang masih baik membuat program LESTARI memilih Kampung Nayaro menjadi salah satu daerah dampingan. Menurut hasil kajian resilian (resilience assessment) yang LESTARI lakukan pada tahun 2016, sistem ekologi Kampung Nayaro masih dalam fase konservatif. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi alam di kampung ini masih terjaga dengan baik. Hutannya yang masih alami dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat untuk pemenuhan pangan dan ekonomi keluarga.

Dengan kondisi alam Kampung Nayaro yang masih konservatif, kajian resilian kemudian merekomendasikan intervensi yang sifatnya membangun atau mempertahankan ketahanan. Dirancang kemudian dua kegiatan aksi, yaitu, Fasilitasi dan Pendampingan Masyarakat untuk Pengelolaan Hutan dan Lahan Secara Berkelanjutan serta Penguatan dan Inventarisasi Masyarakat Hukum Adat. Kedua kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam. selain itu, melalui proses inventarisasi masyarakat hukum adat, diidentifikasi pula kelembagaan adat serta nilai-nilai kearifan masyarakat dalam memanfaatkan alam secara turun-temurun.

Pemetaan partisipatif dengan melibatkan seluruh unsur masyarakat Kampung Nayaro juga dilakukan dalam rangkaian dua kegiatan tersebut. Lokasi-lokasi penting masyarakat dimasukkan di dalam sketsa peta wilayah kampung, mulai dari dusun sagu (wilayah hutan tempat mencari makan), tempat berburu, lokasi pemukiman, sampai yang paling penting, tempat-tempat keramat. Tempat keramat adalah suatu wilayah yang dilindungi secara khusus oleh masyarakat adat di Kampung Nayaro. Menurut Kepala Suku Kampung Nayaro, Paulinus Yamiro, lokasi yang ditetapkan sebagai tempat keramat merupakan lokasi-lokasi yang menjadi bagian dari sejarah leluhur mereka di masa lalu, seperti kampung lama dan pemakaman. “Tempat keramat ini tidak boleh diganggu. Ini bagian dari sejarah kami. Kalau tempat keramat rusak leluhur bisa marah, kita bisa celaka,” kata Paulus Yamiro dalam pertemuan yang dilakukan di Kampung Nayaro.

Dalam peta partisipatif Kampung Nayaro, masyarakat juga membagi wilayah mereka dalam beberapa zonasi tradisional. Dari penyusunan tersebut dihasilkan enam wilayah zonasi tradisional Kampung Nayaro: Zonasi Lindung Kaki Gunung, Zonasi Lindung Keramat Sejarah, Zonasi Pemanfaatan Kayu, Zonasi Pemanfaatn Pemukiman, Zonasi Pemanfaatan Perikanan, Zonasi Pemanfaatan Sagu dan Berburu. Penyusunan zonasi tradisional ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat Kampung Nayaro dalam mengelola sumber daya alam sesuai dengan peruntukannya.

“Peta dan zonasi (tradisional) ini sangat membantu kami di dalam kampung. Ini bisa dipakai untuk menyatukan pemahaman masyarakat dalam mengelola alam dengan lestari. Orang-orang tidak boleh lagi melepas tanah sembarangan,” kata Samuel Betaubun, tokoh pemuda Kampung Nayaro.

Pada bulan Mei 2017, kedua kegiatan pendampingan di Kampung Nayaro tersebut telah memasuki proses akhir. Dalam pertemuan yang berjalan beberapa bulan dihasilkan dokumen Rencana Pengelolaan Sumber Daya Alam (RPSDA) serta profil masyarakat hukum adat Kampung Nayaro. Dokumen RPSDA berisi gambaran situasi kampung (sejarah dan wilayah kampung), potensi, serta kelembagaan dan peluang kemitraan. Sementara profil masyarakat hukum adat menyediakan informasi tentang kelembagaan adat serta nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Kampung Nayaro dalam memanfaatkan alam. Kedua dokumen ini nantinya dapat dipakai oleh Kampung Nayaro sebagai bahan advokasi dalam menyusun program lanjutan di dalam kampung.

Dari lima kampung yang LESTARI dampingi di Mimika dan Asmat, saat ini Kampung Nayaro menjadi prioritas dalam program collaborative management. Konsep co-management merupakan suatu proses yang bertujuan mendorong para pemangku kepentingan untuk bekerja sama dalam merencanakan, melaksanakan, hingga mengevalusi program di suatu wilayah. Selain masyarakat kampung, pihak pemerintah dan swasta sebagai stakeholder utama di Kampung Nayaro juga diharapkan pro aktif dalam menjaga kelestarian sumber daya alam sekaligus menjamin kesejahteraan masyarakat. Tentu saja dibutuhkan keinginan untuk saling berkolaborasi dalam kedudukan yang setara untuk mewujudkan hal tersebut.

Dengan peran penting yang diemban Kampung Nayaro sebagai benteng pertahanan Taman Nasional Lorentz, sudah seharusnya semua pihak mengambil peran dalam menjaga kelestariannya. Segala potensi juga ancaman bagi keberlangsungan hutan di wilayah kampung ini haruslah dikelola bersama. Alam dan masyarakat dengan segala kearifannya tentu tidak bisa bertahan sendirian dari bahaya kerusakan. Dibutuhkan dukungan dari para pemangku kepentingan lainnya untuk memastikan ruang hidup masyarakat Nayaro ini tetap lestari.

Minggu, 13 Agustus 2017

Semalam di Asei


Selepas hingar bingar tiga hari Festival Lembah Baliem di Wamena, saya melanjutkan perjalanan ke Pulau Asei di Danau Sentani yang hening. Menyinggahi pulau ini sungguh sangat tidak terencana. Sebelum ke Wamena saya hanya berniat untuk melihat Danau Sentani dari dekat, setelah hanya menyaksikan keindahannya saat pesawat yang saya tumpangi mendarat atau lepas landas di Bandara Sentani.
Tidak ada petunjuk yang terlalu jelas dari teman-teman yang saya tanyai tentang kampung-kampung di sekitar Danau Sentani. Atau mungkin saja saya yang tidak terlalu fokus dengan penjelasan mereka. Informasi mereka selalu ditekankan pada legenda berbalut ngeri: "tapi ko hati-hati e. Disana banyak orang mabuk. Dong biasa minta uang atau pukul orang." Mamayo.
Tapi cerita itu sungguh tidak terbukti. Paling tidak sampai malam ini.
Selepas keluar dari Bandara Sentani pagi tadi, saya langsung bertanya kepada beberapa orang bagaimana caranya menjangkau kampung-kampung di tepian Danau Sentani. Oleh seorang ibu penjual nasi pecel, saya disarankan menuju Dermaga Khalkote dengan menumpangi angkot panjang. Di dalam angkot saya bertemu mama-mama yang akan ke pasar baru. Ia menyarankan saya untuk sekalian menyeberang ke pulau jika ingin melihat suasana perkampungan di Danau Sentani. "Lebih baik ke Ayapo atau Asei Pulo. Di Khalkote tidak ada apa-apa. Waktu festival (maksudnya Festival Danau Sentani yang dihelat pada Juni lalu) boleh ramai. Kalo sekarang sepi."
Mama baik di dalam angkot (sungguh sial saya lupa menanyakan namanya) itu pula yang menjelaskan soal ongkos angkot dan ojek menuju Dermaga Khalkote. "Jangan mau ditipu e. (Bersikap) biasa saja. Jangan seperti orang baru."
Memang betul, google map terbaik adalah warga setempat.
Setelah melanjutkan perjalanan dengan ojek, saya pun sampai di Dermaga Khalkote atau sering juga masyarakat sebut sebagai Expo. Sebuah jembatan panjang dengan panorama jajaran bukit hijau terpampang di antara Danau Sentani yang tenang. Tidak terlalu jauh, nampak sebuah pulau kecil dengan jejeran rumah di tepi dan sebuah gereja di puncak bukitnya. "Itu sudah Pulau Asei," kata seorang pengunjung disitu. Baiklah, saya memilih menyeberang kesana saja.
Tidak lama kemudian ada sebuah kapal kecil bermotor yang akan menyeberang ke Pulau Ayapo. Beruntunglah saya karena pengemudinya bersedia mengantar saya ke Pulau Asei terlebih dulu. Tidak terlalu merepotkan buat dia, karena Pulau Asei dan Pulau Ayapo berada dalam satu lintasan perjalanan kapal tersebut.
Hanya sekitar lima menit saya sudah menginjakkan kaki di Pulau Asei. Saya langsung berkenalan dengan Rei, pemuda lokal yang sangat ramah. Bersama beberapa rekannya, ia sedang menikmati sopi, tuak tradisional orang timur. Tak lama berbincang saya pamit untuk melihat suasana kampung di pulau tersebut. Rei dan rekan mempersilakan sambil merekomendasikan Gereja Tua Asei yang terletak di atas bukit untuk saya kunjungi.
Dalam perjalanan menuju Gereja Tua Asei, saya menyaksikan mama-mama yang sedang membuat kerajinan kulit pohon. Menurut mereka, aktifitas tersebut merupakan salah satu mata pencaharian utama masyarakat Pulau Asei selain sebagai nelayan. Produk seni kulit kayu Pulau Asei sudah mendapat pasar di Sentani Kota sampai di Jayapura.
Sedikit mendaki ke atas bukit, saya sampai di Gereja Tua Asei. Situs cagar budaya ini sudah ada sejak tahun 1928 dan menjadi penanda sejarah masuknya Kristen yang dibawa oleh misionaris Belanda ke pulau kecil tersebut. Bangunan berbahan kayu tersebut masih difungsikan hingga saat ini. Ibadah misa rutin dilaksanakan saban minggu. "Kadang ada pastor dari Sentani yang datang kesini memimpin ibadah," kata seorang bapak yang saya temui tidak jauh dari tempat itu.
Puas berkeliling pulau dan mengambil foto, saya kembali ke bale-bale tempat nongkrong Rei dan rekan-rekannya di tepi dermaga tadi. Saya bertanya, apakah ada kapal yang bisa saya tumpangi untuk kembali ke Dermaga Khalkote sebelum malam. Tapi Rei memberikan penawaran yang terdengar lebih menarik. "Ah, mas bermalam di sa pu rumah sudah. Besok pagi sa antar ke sebelah."
Jadilah saya bermalam di Pulau Asei malam ini.
Rei (sampai sekarang dia enggan menyebut nama panjangnya) tinggal bersama orang tua dan dua adiknya. Mereka semua seperti Rei, sangat ramah. Sesaat setelah matahari tergelincir, kami makan malam. Santapannya adalah sagu dan ikan bakar segar yang saya beli dari nelayan di dermaga tadi sore. Sedap betul.
Saat menulis jurnal perjalanan ini, saya sedang di dermaga bersama Rei dan beberapa pemuda Pulau Asei. Malam ini langit sedang cerah. Hamparan Danau Sentani tampak tenang sekali. Sedangkan di hadapan kami ada sopi dan kopi yang menemani percakapan tak tentu tema. "Untuk kasi hangat badan, kawan." Semoga demikian.
Saya berharap besok pagi Rei tidak terlalu mabuk untuk mengantar saya menyeberang.


Danau Sentani, 12 Agustus 2017

Senin, 17 April 2017

Buku untuk Kampung Yepem


Kampung Yepem terletak di Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Provinis Papua. Di sana hanya terdapat satu Sekolah Dasar (SD) dengan tujuh tenaga pengajar yang terdaftar, tapi hanya satu guru yang aktif mengajar. Untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi (SMP dan SMA), anak-anak harus ke Agats, ibukota Kabupaten Asmat. Belum ada fasilitas dan sarana pembelajaran yang sederhana di sana untuk menumbuhkan hobi membaca dan belajar berbagai macam hal.

Untuk itu, dengan dukungan masyarakat, Blue Forests dan Forum Komunikasi Pelajar Mahasiswa Tarakan - Tarakan Study Club (FKPMT-TSC) berinisiatif untuk membangun rumah baca pertama di Kampung Yepem. Rumah baca ini diharapkan membawa perubahan kecil bagi generasi muda dari Kampung Yepem.

Kita bisa sama-sama membuat perubahan tersebut dengan mendonasikan buku, majalah, alat tulis, seragam sekolah, atau uang.

Sekecil apapun itu.

Caranya:
Kirimkan donasi ke salah satu alamat berikut:

#BlueForests Home Office
Jl. Pengayoman Komp. Mawar A 17-18 Makassar 90222
atau
Asrama Mahasiswa Tarakan
Jl. Perintis Kemerdekaan VI No. 14 Makassar

Kami siap menjemput donasi Anda dengan menghubungi 0852-4244-7870 (WhatsApp a.n. Kiki) atau 0853-961-20602 (a.n. Opu).

Ayo menjadi bagian dari perubahan!

Ndormom!

Sabtu, 18 Maret 2017

Mencari Jernih Mata Air Kali Yomoth


''Yang harus kita wariskan kepada generasi penerus adalah mata air, bukanlah air mata.''

Sejarah Kampung Yepem di Kabupaten Asmat, Papua, adalah riwayat tentang penemuan sumber mata air. Saat masih menetap di tepi Kali Jindiw, masyarakat kampung ini mengalami krisis pangan dan air bersih. Untuk keluar dari pelik permasalahan tersebut, para Tetua Adat dan masyarakat bersepakat melakukan ekspedisi untuk menemukan wilayah dengan sumber daya yang lebih baik. Pencarian itu kemudian berakhir di kepala Kali Yomoth, lahan yang kaya akan sagu dan memiliki sumber mata air rawa yang dapat diminum.

Perkampungan pun mulai terbangun di Kali Yomoth. Sumber mata air yang memberi kehidupan bagi manusia dan makhluk sekitarnya tersebut dijaga agar terus mengalir. Pada “masa gelap” di Asmat, pendatang yang memasuki sebuah kampung akan dianggap sebagai musuh yang harus diperangi. Begitupun yang terjadi di Kampung Yepem kala itu. Untuk melindungi sumber daya air yang terbatas di wilayah pesisir selatan Papua tersebut, segalanya akan dilakukan, bahkan bila harus mengorbankan nyawa sekalipun.

Sumber air rawa Kali Yomoth kemudian ditetapkan sebagai “tempat keramat” yang tidak boleh diakses oleh orang luar. Konsep “tempat keramat” merupakan mekanisme konservasi tradisional yang dipakai Orang Asmat untuk menjaga kelestarian tempat-tempat tertentu yang dianggap penting. Mereka percaya, orang yang melanggar aturan adat tersebut bisa celaka, sakit bahkan mati. Kearifan tersebut masih bertahan dan dipegang teguh oleh masyarakat Asmat Kampung Yepem sampai sekarang.

“Masa terang” kemudian datang bersama masuknya misionaris agama dan pemerintah di wilayah Asmat. masyarakat di berbagai kampung mulai terbuka dengan peradaban pendatang. Tradisi perang dan pengayauan mulai ditinggalkan. Kampung Yepem yang terletak cukup dekat dengan Agats yang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Asmat, mendapat manfaat sekaligus tantangan dalam mempertahankan sumber daya alam sekaligus kearifan adatnya.

Sebuah keluarga sedang memancing ikan di Kali Yomoth. Kali Yomoth sebagai sumber air bersih bagi Kota Agats dan Kampung Yepem juga dijadikan sebagai tempat mencari makan bagi masyarakat Asmat.
Kabupaten Asmat yang terletak di pesisir selatan Papua adalah daerah yang rentan terhadap bencana krisis air tawar. sebenarnya wilayah yang merupakan pecahan dari Kabupaten Merauke ini didonimasi oleh lahan gambut yang basah. Namun siklus air pasang laut yang kerap merendam daratan Asmat menjadikan air tanah di daerah ini tidak dapat dikonsumsi. Hanya beberapa kampung yang beruntung dianugerahi sumber mata air tawar, salah satunya Kampung Yepem dengan mata air rawa Kali Yomoth-nya. Sedangkan sebagian besar kawasan Asmat, termasuk Agats sebagai pusat kabupaten, hanya mengandalkan air tadah hujan sebagai sumber air yang dapat dikonsumsi.

Sebenarnya curah hujan Kabupaten Asmat tergolong tinggi, 3.000 sampai 4.000 mm per tahun. Namun tidak jarang terjadi musim kemarau panjang sampai berbulan-bulan. Fenomena kekeringan tersebut terakhir terjadi pada tahun 2015. Akibat pengaruh el nino, Kota Agats dan sekitarnya tidak diguyur hujan selama lebih dari lima bulan, antara Agustus hingga Desember. Akibatnya penduduk mengalami krisis air. Tidak sedikit masyarakat pendatang yang memilih meninggalkan Asmat untuk sementara menuju ke kota lain. Sedangkan bagi penduduk asli dengan kondisi perekonomian pas-pasan tidak ada pilihan lain selain bertahan dalam kekeringan.

Bencana kekeringan yang terus berulang tersebut kemudian mendorong pemerintah Kabupaten Asmat melirik Kali Yomoth sebagai sumber air tawar alternatif bagi Kota Agats dan kampung-kampung di sekitarnya. Sumber air rawa yang telah dimanfaatkan secara tradisional Orang Asmat di Kampung Yepem selama ratusan tahun tersebut memang punya potensi untuk itu. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Asmat dan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada pada tahun 2010, air rawa Kali Yomoth sebagai sumber air bersih mempunyai kapasitas daya dukung sebesar 2.302.140 mแถŸ. Kualitas air baik untuk dikelola sebagai sumber cadangan air bersih, walaupun masih harus melalui proses penjernihan terlebih dahulu.

Rumah mesin air di tengah Kali Yomoth
Proses pemanfaatan air rawa Kali Yomoth oleh pemerintah Kabupaten Asmat sebenarnya telah dilakukan sejak tahun 2005. Masyarakat Kampung Yepem juga telah mempersilakan setelah pemerintah memberikan kompensasi kepada masyarakat. Namun karena tidak lancarnya komunikasi antara masyarakat adat sebagai pemilik hak ulayat dan pemerintah sebagai pengelola, menyebabkan tidak efektifnya pemanfaatan air rawa Kali Yomoth. Beberapa kali pemerintah kabupaten lewat Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Asmat membangun beberapa fasilitas pendukung untuk mengalirkan air ke Kota Agats. Namun karena dilakukan secara sepihak dan dianggap melanggar adat, masyarakat Kampung Yepem membongkar fasilitas tersebut tanpa sepengetahuan pemerintah. Tindakan itu mengakibatkan air tidak mengalir ke kota secara maksimal.

Untuk mengalirkan air dari Kali Yomoth ke Kota Agats, pemerintah membangun rumah mesin di atas badan kali. Hal ini mengakibatkan bahan bakar dari mesin menetes ke kali dan mencemari air di sekitar lahan tersebut. Masyarakat Kampung Yepem sudah melayangkan protes. Namun tanggapan pemerintah tidak kunjung menyelesaikan masalah. Pada akhir tahun 2016, Dinas PU membangun bendungan di bagian atas Kali Yomoth untuk meningkatkan debit air di sekitar rumah mesin. Karena hal itu, masyarakat dan para Tetua Adat Kampung Yepem kembali dibuat marah besar. Tanpa memberi tahu pihak pemerintah, mereka membongkar bendungan tersebut karena menghalangi air untuk sampai ke dalam kampung. 

Masih ada beberapa tindakan sepihak yang dilakukan oleh masing-masing pihak, termasuk pengerusakan jaringan pipa yang menyalurkan air ke rumah-rumah penduduk di Kota Agats. tindakan-tindakan sepihak tersebut bukannya menyelesaikan masalah, bahkan semakin memperumit kerja sama antara pemerintah dengan masyarakat Kampung Yepem.

Untuk meredam konflik ini, sudah seharusnya kedua belah pihak membangun sebuah forum dialog dalam bentuk kelembagaan bersama. Forum ini dapat digunakan sebagai wadah untuk saling berkomunikasi, menyampaikan pendapat masing-masing pihak, dan membangun sistem pengelolaan air lebih baik yang bisa diterima bersama. Niat baik pemerintah untuk menyediakan sumber air alternatif bagi masyarakat tidak sepantasnya melanggar kearifan tradisional masyarakat adat Asmat yang telah bertahan selama ratusan tahun. Lagi pula pemanfaatan secara adat tersebut sudah terbukti lestari dalam menjaga keberadaan sumber air rawa Kali Yomoth.

Jika ingin lebih serius dan berkekuatan hukum, kedua belah pihak dapat membangun sebuah kesepahaman kerja sama, misalnya dalam bentuk memorandum of understanding (MoU). Dalam MoU tersebut dapat disepakati hak dan tanggung jawab masing-masing pihak. Masyarakat adat Kampung Yepem sebagai pemilik hak ulayat harus memastikan kelestarian lokasi sumber air rawa Kali Yomoth. Tidak boleh ada pemanfaatan eksploitatif yang mengakibatkan rusaknya ekosistem di sekitar tempat tersebut. sedangkan untuk pemerintah selaku pengelola harus menghadirkan manfaat bagi semua pihak. Masyarakat di Kota Agats yang menikmati aliran air diwajibkan membayar retribusi yang akan digulirkan untuk berbagai hal. Retribusi ini dapat dijadikan sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan sebagian lagi juga dinikmati oleh masyarakat Kampung Yepem dalam bentuk subsidi di berbagai bidang, misalnya pendidikan, kesehatan, bahkan dalam hal pelestarian adat-budaya dan lingkungan. Dengan begitu semua merasakan manfaat dari anugerah bernama sumber air rawa Kali Yomoth ini.


Bukankah hal yang paling penting dari anugerah sumber daya alam adalah manfaat yang sebesar-besarnya dan kelestarian selama-lamanya. Kejernihan manfaat boleh dirasakan generasi hari ini, tapi tentu keruh kerusakan tidak boleh dirasakan generasi yang akan datang. Untuk sekedar mengingatkan, perkataan seorang bijak ini mungkin boleh kita kutip kembali, “yang harus kita wariskan kepada generasi penerus adalah mata air, bukanlah air mata.”

Minggu, 26 Februari 2017

Sehari di Dusun Sagu

Mama Agustina Baspit berdiri di atas pohon sagu yang baru saja ditumbangkannya. 
Melihat aktifitas memangkur sagu di hutan adalah menyaksikan tradisi yang semakin tersisih. Monopoli beras sebagai komoditi utama program ketahanan pangan membuat makanan pokok orang timur ini kian dilupakan.  Di Asmat, Papua, potensi besar ini nyaris tidak dilirik sama sekali. Ia hanya dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat yang masih menjalankan ajaran leluhur.

Rabu pagi, 22 Februari, saya bersama dua orang teman, Regis dan Wawan, sudah berada di dermaga Kampung Kaye. Hari itu kami punya janji dengan Bapak Yanuarius Ombercem untuk berkunjung ke dusun (lahan hutan) sagu milik keluarganya.

Su siap ka?” Sapa pria yang akrab dipanggil Yance tersebut.

“Iya to,” jawab Regis.

Pak Yance kemudian bergegas memanggil semua anggota keluarganya yang akan ikut serta. Sekitar pukul delapan pagi kami semua sudah siap berangkat. Rombongan berjumlah total 16 orang masuk satu per satu ke dalam perahu viber bermesin. Perahu kami sarat penumpang betul waktu itu. Perjalanan ke dusun sagu Pak Yance akan melewati dua kali milik masyarakat Kampung Syuru-Aswet-Kaye, yaitu, Kali Fambret dan Kali Ba.

Tujuan kami ke dusun sagu hari itu adalah untuk memangkur sagu yang akan dijadikan seserahan perkawinan. Seorang keponakan Pak Yance, Daniel Eraman, baru saja mempersunting seorang perempuan yang juga bersuku Asmat. Dalam adat Suku Asmat, seorang laki-laki yang baru menikah harus memberikan persembahan kepada keluarga istrinya. Persembahan tersebut haruslah sesuatu yang berharga, yaitu kapak batu dan sagu. kedua benda tersebut tidak hanya berharga namun juga mempunyai arti simbolik dalam adat Asmat. Kapak batu adalah perkakas utama Orang Asmat dalam bekerja. Sedangkan sagu merupakan makanan utama yang dipercaya memberi kehidupan. Keduanya penting sebagai bekal dalam mengarungi rumah tangga.

Dalam perjalanan kali ini pula, saya kembali menyaksikan ketangguhan perempuan atau mama-mama Asmat dalam bekerja. Dari 16 orang yang turut serta hari itu, ada sembilan orang mama-mama yang membawa semua peralatan mereka sendiri, mulai dari alat pangkur, gagar, parang, serta beberapa peranti kecil untuk menyaring sari-sari sagu. Kesemua peralatan tersebut dijinjing di dalam sebuah tas noken berbahan karung plastik.

Mama Natalia Desnam dan Mama Agustina Baspit yang duduk di dekat kami bertiga di dalam perahu menjelaskan fungsi masing-masing peralatan yang mereka bawa tersebut. “Alat pangkur ini disebut kam (dalam bahasa Asmat), dipakai untuk menghancurkan sagu. Kalau ini om (gagar, semacam tombak yang terbuat dari kayu pohon pinang) dipakai untuk memeriksa pohon sagu itu ada isi atau tidak. Ujungnya ini tidak boleh basah sampai dipakai nanti di dusun sagu. itu pamali,” jelas Mama Natalia sambil menunjukkan satu per satu peralatannya.

Mama Natalia menjelaskan fungsi masing-masing peralatan memangkur sagu yang dibawanya.
Sekitar dua puluh menit menyusuri kali, kami tiba di tujuan. Perahu kami ditambatkan di tepi kali dengan diikat di sebuah pohon bakau. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju dusun sagu. Trek menuju dusun sagu keluarga Pak Yance cukup sulit, harus melalui belukar dan lahan rawa yang basah. Jalan setapak yang telah lebih dulu dibuat sama sekali tidak mulus. Masih banyak duri dari pohon sagu yang sudah tumbang. Kami yang memakai sepatu karet masih kesulitan melalui medan ini. Kaki saya bahkan beberapa kali terbenam di lumpur karena salah berpijak. Tapi, saat melihat mama-mama Asmat, hampir tidak terlihat sama sekali kesulitan bagi mereka melalui jalanan tersebut. Padahal mereka berjalan tanpa menggunakan alas kaki sambil membawa noken berisi peralatan sangkur. Kaki telanjang mereka seperti mengolok-ngolok kaki bersepatu karet kami yang berlangkah berat sekali.

Memasuki dusun sagu, kami diajak singgah terlebih dahulu di titik tempat sakral. Daniel memberi kami bibit buah manis yang baru saja ia cabut. Semua orang yang memasuki dusun sagu tersebut harus meminta izin dengan cara meletakkan bibit buah manis di titik tempat sakral tersebut.

“Dusun ini dusun keramat. Jadi kalau mau masuk kita harus permisi,” Kata Pak Yance.

“Ini tempat moyang. Jadi harus taruh anakan buah manis di sini. Itu tandanya kita permisi sama dorang,” Mama Natalia menimpali.

Ada banyak tempat, terutama lahan hutan, yang dijadikan tempat keramat oleh Orang Asmat. tempat-tempat tersebut dipercaya sebagai lokasi yang dulunya ditempati oleh para leluhur mereka. Dalam kepercayaan Orang Asmat, lokasi keramat tidak boleh dimasuki tanpa izin pemiliknya. apalagi sampai dirusak. Melanggar aturan tersebut adalah sebuah teser, pelanggaran adat kategori berat. Hukumannya adalah kematian.

Tidak terlalu jauh dari tempat keramat, kami sudah sampai di dusun sagu yang menjadi tujuan hari itu. Sejauh mata memandang, pohon sagu mendominasi hutan tersebut. Mama Natalia, Mama Agustina, dan mama-mama yang lain mulai membagi diri menjadi tiga kelompok. Sedangkan Pak Yance bersama tiga mama-mama lainnya melanjutkan perjalanan menuju hutan yang lebih dalam. Kami tidak diizinkan ikut. Entah karena medan dianggap terlalu berat buat kami atau hutan tersebut memang terlarang untuk orang luar. “Kalian di sini saja bersama mama-mama dorang,” Kata Pak Yance sambil tersenyum kepada kami.

Mama-mama yang telah terbagi dalam tiga kelompok tadi kemudian mulai memilih pohon sagu yang dianggap sudah dapat menghasilkan tepung. Sebelum benar-benar ditebang, pohon pilihan mereka diperiksa terlebih dahulu untuk memastikan isinya. Caranya dengan menancapkan kapak dalam-dalam ke batang pohon sagu. setelah dicabut, mereka mengoles jari ke mata kapak. “Nah, pohon yang ini sudah ada isi (sagu). Ini sudah ada bekas (sari pati) sagu di kapak ni,” Mama Natalia menunjukkan kapaknya kepada kami.

Menebang pohon sagu
Setelah dipastikan berisi barulah pohon sagu benar-benar ditebang. Sekuat tenaga mama-mama Asmat mulai menancapkan kapak mereka di pohon yang bagian luarnya sangat keras tersebut. Pohon yang ditebang Mama Agustina tumbang duluan. Beberapa menit kemudian pohon sagu Mama Natalia dan mama di sebelahnya menyusul. Oleh Daniel, kami disuruh menjauh dari lokasi rebahnya pohon-pohon tersebut. Dari pola tebasan kapak, arah jatuhnya pohon sagu yang ditebang sudah bisa diperkiran.

Pohon sagu yang telah tumbang tidak lantas mempermudah pekerjaan. Proses produksi, menurut Mama Natalia, masih sangat panjang sampai dihasilkan tepung sagu. “Kalau cari sagu ini kerja banyak sekali. Kalau potong kayu bakar, kita potong, kita belah, itu gampang. Kalau namanya sagu ini, setengah mati. Untuk satu batang ini biasa kita kerja dari pagi sampai sore,” kata mama yang juga bekerja sebagai petani sayuran ini.

Gelondongan pohon sagu kemudian diidentifkasi isinya dengan menggunakan gagar. Hal ini dilakukan untuk mengetahui keberadaan tepung sagu terdapat di areal mana saja. Caranya mirip seperti saat pohon sagu akan ditebang: gagar ditancapkan dalam-dalam di batang pohon. Jika sari sagu nampak di mata gagar, daerah itulah yang nantinya akan dipangkur. Sebaliknya, jika sari sagu tidak terlihat, maka areal tersebut tidak akan digarap. Tentu hanya akan menghabiskan tenaga saja.

Areal di pohon sagu yang sudah diketahui mengandung tepung sagu kemudian dikuliti. Kulit pohon sagu yang sangat keras harus dibuka di salah satu sisi terlebih dahulu sebelum dipangkur. Mama Agustina langsung mengerjakan tahap ini. Sementara Mama Natalia yang lebih berumur terlihat duduk menarik napas sejenak. Bukan tanpa alasan, dua tahap dalam memproduksi sagu berikutnya, menguliti dan memangkur, adalah bagian paling berat dan memakan banyak waktu.

Mama Natalia terlihat mulai mengasah mata alat pangkurnya. Untuk mempermudah penggunaannya, piranti yang terbuat dari kayu tersebut disematkan besi pada bagian ujungnya. Besi yang melingkar dan tajam akan menghancurkan sagu lebih cepat dan halus. Setelah mata pangkur dirasa sudah cukup tajam, mama-mama mulai beraksi. Isi pohon sagu mulai dilepaskan dari batangnya kemudian dihancurkan. Untuk memangkur satu pohon sagu dibutuhkan waktu kurang lebih tiga sampai empat jam. Sungguh tahapan yang lama dan melelahkan.

Memangkur, melepaskan sari sagu dari batangnya (foto oleh Wawan)
Regis yang mencoba ikut memangkur merasakan langsung sensasi beratnya pekerjaan ini. Sari-sari sagu ternayata cukup keras untuk dilepaskan. Mama Natalia hanya tertawa melihanya. “Kalau keras itu bagus. Itu berarti tepungnya banyak.” Pantas saja mama-mama yang memangkur sagu tetap bersemangat bekerja. Ternyata semakin keras sari sagu, semakin banyak pula tepung yang akan dihasilkan.

Tepung sagu yang mulai mengendap. (Foto oleh: Regis)
Tepung sagu di dalam noken karung siap dibawa pulang. (Foto oleh: Regis)
Sementara proses memangkur sagu berlangsung, mama-mama yang lain membuat sumur kecil dan mempersiapkan peranti penyaring. air di dalam sumur tersebut kemudian didiamkan sesaat sampai menjernih. Sari sagu yang sudah hancur diletakkan di atas penyaring yang sudah dirancang sederhana dari pelepah pohon sagu. Sari sagu tersebut kemudian disiram kemudian diremas sampai menghsilkan cairan berwarna putih. Air perasan tadi mengalir menuju tempat penampungan dan dibiarkan mengendap. Tidak lama kemudian gumpalan tepung sagu mulai nampak. Voila.

Proses yang memakan waktu seharian ini tentu setimpal dengan yang dihasilkan. Satu pohon sagu dapat menghasilkan dua sampai tiga noken tepung sagu. Menurut Mama Natalia, jika dikonsumsi sendiri di dalam keluarga, hasil tersebut dapat bertahan sampai satu bulan lebih.

Sekitar pukul lima sore, terdengar suara dari arah rombongan Pak Yance. Itu tandanya aktifitas memangkur sagu hari itu harus disudahi, walaupun masih ada sari sagu yang belum disaring. Pekerjaan baru boleh dilanjutkan esok hari.

Melihat langsung proses memangkur sagu di hutan Orang Asmat adalah pengalaman yang sungguh luar biasa. Saya merasa beruntung sekali diajak untuk menyaksikan pekerjaan yang mulai ditinggalkan ini. Bisa saja tradisi turun-temurun ini akan semakin sulit ditemui pada tahun-tahun yang akan datang.


Semoga tidak demikian.