Senin, 03 Februari 2014

RIP Philip Seymour Hoffman

Philip Seymour Hoffman (1967-2014)

"Dan bagi pemerintah, jangan bermimpi ini sudah berakhir. Tahun-tahun akan datang dan pergi, dan para politisi tak berusaha menjadikan dunia tempat yang lebih baik. Tapi di seluruh dunia, muda-mudi akan selalu bermimpi dan mewujudkan mimpinya dalam lagu. Tak ada yang penting yang akan mati malam ini. Hanya beberapa pria jelek di sebuah kapal rongsokan. Satu-satunya yang menyedihkan malam ini adalah beberapa tahun lagi ada banyak lagu indah yang tak bisa kami putar. Tapi, percayalah padaku, lagu-lagu itu akan tetap dibuat. Lagu-lagu itu akan tetap dinyanyikan dan menjadi inspirasi dunia."

- The Count (Philip Seymour Hoffman) dalam The Boat That Rocked (2009)

Minggu, 02 Februari 2014

Navicula: Grunge Memang Sudah Berlalu Tapi Spiritnya Tidak Akan Mati


Navicula untuk #ProtectParadise di Pantai Losari sesaat setelah sampai di Makassar, 15 Desember 2013

Baru saja tiba di Makassar, Navicula, unit Green Grunge Gentlemen asal Bali, langsung menuju Pantai Losari. Bukan sekedar mengunjungi lanskap kota, mereka punya misi tertentu disana. Sudah beberapa bulan belakangan ini mereka aktif untuk mengkampanyekan program bernama Protect Paradise yang bertujuan untuk menyelamatkan habitat Harimau Sumatera. Dengan menggunakan kostum harimau, mereka menghimbau masyarakat untuk ikut serta dalam menjaga lingkungan. Paling tidak dengan tidak merusaknya.

Sebenarnya tujuan utama Navicula datang ke Makassar adalah untuk jadi penampil pada helatan Rock In Celebes 2013 di hari terakhir, Minggu, 15 Desember 2013. Kunjungan kali ini adalah penampilan perdana mereka di depan penonton Kota Daeng. “Ini pertama kalinya kami tampil disini. Kalau sekedar singgah dan mencicipi Coto Makassar udah sering. Tapi malam ini kita berpesta bersama,” Sapa Roby, vokalis Navicula, kepada penonton Rock In Celebes 2013.

Sebelum tampil di panggung Rock In Celebes 2013, OPIUM menemui mereka untuk berbincang-bincang seputar kegiatan bermusik mereka. Dengan sangat ramah, Roby, Dankie, Made dan Gembul menjawab seluruh pertanyaan yang kami ajukan. Berikut hasil wawancaranya:

Kalian menyebut musik kalian sebagai “Green Grunge Gentlemen”, bisa jelaskan kepada pembaca OPIUM, musik seperti apa itu?

Sebenarnya yang membuat titel “Green Grunge Gentlemen” itu adalah media di Bali. Ada satu media, namanya Majalah The Beat, awalnya mereka yang menyebut istilah itu beberapa kali. Akhirnya kita pakai saja istilah yang sudah familiar di skena musik Bali waktu itu, untuk men-describe Navicula. Kalau “Green” karena isu yang kita sampaikan banyak mengenai lingkungan. Kalau “Grunge”, sebenarnya kita main musik apa aja sih. Basically Rock. Cuma kami tidak menampik bahwa musik alternatif rock 90-an atau grunge yang paling banyak memengaruhi kami. Jadi okelah pakai “grunge” karena influence terbesar. Habis itu, “Gentlemen” karena kita batangan semua. Ha-ha-ha.

Navicula sangat sering menyampaikan pesan sosial dan aktivisme pada setiap lagunya. Mengapa demikian?

Sebenarnya kalau kita melakukan kegiatan berkesenian itu artinya kan ada sesuatu yang diekspresikan, ada sesuatu yang ingin disampaikan. Entah itu perasaan cinta, senang, marah, sedih, semua lah. Itukan ekspresi perasaan. Kalau kami sih percaya setiap generasi itu pasti ada (tindakan) revolusinya. Kalau kami pikir sih revolusi yang ingin kami lakukan di generasi kami ya itu, banyak topik tentang sosial terutama lingkungan. Kami merasa topik pelestarian lingkungan itu adalah topik yang urgent dan sangat sentral saat ini. Dan bahayanya, kerusakan lingkungan itu sudah sangat masif di zaman kita ini.

Menurut Navicula sejauh mana musik bisa mengubah keadaan tersebut?

Kami tidak berambisi banyak bahwa kami akan melakukan banyak perubahan. Kami hanya ingin menjadi bagian dari sebuah perubahan dengan cara yang kami bisa. Dan kami tidak muluk-muluk. Kami bukan ilmuwan, bukan orang LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), bukan apa-apa. Kami hanya ingin terlibat dengan cara yang kami bisa yakni sebagai musisi. Apa yang musisi bisa lakukan? Ya bikin lagu, bikin konser, bikin merchandise, bikin video klip yang berkaitan dengan isu itu. Itu yang bisa kami lakukan.

Lalu apa tanggapan kalian atas anggapan kalau era grunge telah berlalu?

Ya memang. Musik memang sudah berlalu. Tapi namanya spirit-spirit itu kan nda bisa mati. Musik itu sama dengan fashion. Dia akan terus berputar. Jadinya zaman grunge, 90-an sudah lewat. Tapi style itu akan terus retro.

Sebelumnya penonton Rock In Celebes 2013 juga menyaksikan penampilan band grunge, ZORV yang sangat menarik. Menurut kalian bagaimana perkembangan musisi grunge Indonesia saat ini?

Ada buku tentang grunge di Indonesia yang ditulis sama Yoyon eks Klepto Opera, sekarang Balerina Killer. Tulisan Yoyon di buku itu menarik. Dan tulisannya itu banyak benarnya. Kalau kita lihat, grunge itu kan ada eranya. Ada beberapa masanya. Yang pertama waktu pertama kali Nirvana mem-booming di seluruh dunia. Kalau generasi kedua itu adalah generasi pasca meninggalnya Kurt Cobain. Nah itu generasi kedua. Foo Fighter, Stone Temple Pilot, Silver Chair, post-grunge lah. Generasi ketiga sekarang adalah generasi retro. Zamannya bangkit lagi. Itu menarik dan itulah yang terjadi saat ini. Kalau Navicula masuk kategori mana? Ya Navicula masuk generasi pertama. He-he-he.

Beberapa personel Navicula saat ini sedang terlibat side project. Bagaimana mengatur waktu sehingga Navicula bisa tetap berjalan?

Ya kalau kami memberikan kebebasan aja. Semua orang punya sisi yang mau diekspresikan dengan cara masing-masing. Navicula sangat membuka ruang ekspresi itu. Kita tidak pernah membatasi. Kalau untuk masalah waktu, ya waktu sangat terbatas kan. Semua orang cuma dikasi waktu 24 jam. Yang bisa kita lakukan ya manage.

Apakah tidak ada ketakutan suatu saat akan ada tabrakan jadwal?

Kalau tabrakan jadwal sudah sering. Tapi so far so good, semua itu aman-aman aja. He-he-he.

Navicula sudah sempat dikontrak label besar (Sony BMG), mengapa lebih memilih kembali ke label independen?

Ya iyalah. Major label udah enggak zaman. Udah runtuh. He-he-he. Zaman major label dan indie label itu kan udah lewat sepuluh tahun yang lalu. Kalau sekarang kan udah enggak ada lagi zaman-zaman kayak begitu. Sekarang udah mencair kan. Sekarang itu yang ada adalah real-deal. Kamu dari label manapun, sepanjang kamu bisa dapat produser, tentu masih bisa produksi musik. Malah sekarang band bisa melakukan crowd funding. Industri udah berubah. Terutama dengan adanya internet saat ini.

Bagaimana prosesnya hingga bisa main di Rock In Celebes 2013?

Kayaknya kami udah tiga kali mau main di Rock Celebes ini. Tapi enggak jadi terus. Terus kenapa tahun ini bisa, ya mungkin pas. Yang mentok itu selalu antara jadwal tabrakan dengan acara lain dan budget. Jadi sekarang jadwal oke, budget oke, ya udah jalan.

Terakhir, bagaimana tanggapan kalian tentang kota Makassar?

Ya, Makassar adalah kota terbesar di Indonesia Timur dan kami excited sekali untuk main disini. Karena Rock In Celebes ini udah tahun keempat. Kami pikir itu adalah acara sangat konsisten. Dan kami sangat respek sekali dengan konsistensi. Sama kayak kami dengan musik. He-he-he.

*Hasil wawancara ini juga dimuat di Opium Magazine #46



Rabu, 29 Januari 2014

Untuk Kandi yang Sedang Berulang Tahun

“Ikan apa yang kuat makan?”
“Ikandi!”

***

Hari itu, suatu siang di medio 2000-an, Kandi memasuki rumah dengan sangat tergesa-gesa. Tanpa memedulikan kakinya yang masih kotor, Ia langsung menuju ke dapur untuk bersembunyi sejenak. Saya sudah paham betul dengan situasi ini. Pasti Kandi baru saja menjahili teman bermainnya. Benar saja. Suara tangisan anak kecil tiba-tiba nyaring terdengar dari rumah tetangga yang berada tepat di sebelah kediaman kami. Ia melapor kepada ibunya kalau baru saja dicubit oleh seorang penjahat berbadan jauh lebih besar darinya bernama Kandi.

Keesokan harinya anak tetangga tersebut datang ke rumah untuk kembali mengajak Kandi bermain. Tak ada dendam. Sakit hati dijahili di hari sebelumnya lenyap tak bersisa. Dasar anak-anak.

Seperti anak kebanyakan, Kandi sangat suka bermain. Yang tak biasa adalah Ia tidak suka bermain dengan teman sebaya atau anak-anak yang lebih tua darinya. Ia lebih senang bermain denga anak kecil yang berumur tiga sampai lima tahun di bawahnya. Yang Kandi dan teman-temannya mainkan pun lebih sering permainan khas anak perempuan seperti masak-masakan atau dokter-dokteran. Saya sangat jarang, bahkan mungkin tak pernah melihat Ia bermain sepakbola atau “polisi-penjahat” di lapangan dekat rumah.

Agar bisa lebih superior mungkin menjadi alasan bagi Kandi untuk memilih bermain dengan anak-anak yang lebih muda. Yang saya lihat, Ia sangat menikmati statusnya sebagai “anak paling besar” di dalam kelompok bermainnya. Dengan begitu tak ada yang bisa menjahilinya. Sebaliknya, Ia bisa dengan sesuka hati mengerjai teman-temannya sampai menangis.

Tak terhitung kejahilan yang telah dilakukan oleh Kandi. Mulai dari yang umum seperti mengolok, mencubit, melempar pasir, sampai yang paling terkenal karena sangat sering Ia lakukan; menakut-nakuti teman bermain dengan suara anehnya yang Ia sebut sebagai “Suara Hantu”. “Suara Hantu” adalah teriakan mirip growl yang biasa dikeluarkan oleh vokalis band metal namun dalam bentuk yang lebih tebal. Hanya Kandi yang bisa mengeluarkan “Suara Hantu” tersebut. Saya sempat penasaran ingin mencoba menirukannya. Tapi saya tak pernah berhasil. Bukannya suara menyeramkan yang keluar, saya malah batuk-batuk dibuatnya.

“Suara Hantu” adalah senjata andalan Kandi untuk membuat menangis teman bermainnya. Hampir semua anak kecil yang ikut bermain dengannya takut mendengar suara tersebut. Kala Kandi mulai beraksi, bisa dipastikan teman-temannya akan menangis lantas pulang ke rumah untuk melapor kepada ibu mereka. Tapi anehnya, esok hari bisa dipastikan anak-anak kecil tersebut kembali mendatangi rumah kami untuk mengajak Kandi bermain lagi. Memang dasar, anak-anak.

***

Malam itu tak seperti biasanya. Kandi menjadi sangat pendiam. Di waktu makan pun Ia tak tambah. Padahal biasanya, pantang baginya hanya menghabiskan sepiring dalam satu kali waktu makan.
Malam itu Kandi sedang kecewa. Ia yang baru saja lulus SD tak berhasil masuk ke SMP negeri yang diidamkan karena nilai Ujian Nasional-nya sangat pas-pasan. Dengan sangat terpaksa ia masuk di sekolah pilihan Mamak, yaitu SMP Muhammadiyah yang letaknya lumayan jauh dari rumah. Kandi mulai menjadi agak pendiam sejak itu.

Disinilah jahatnya stigma. Anggapan bahwan sekolah negeri itu jauh lebih baik dari sekolah swasta dan SMP Muhammadiyah adalah sekolah buangan bagi anak-anak bodoh telah menjatuhkan mental Kandi. Beban itu mungkin biasa menurut kita, tapi pasti tidak bagi anak-anak berumur belasan awal seperti Kandi dan kawan-kawan sebayanya.

Sejak saat itu, dalam sisa waktu libur kuliah saya waktu itu, saya terus meneguhkan hati Kandi. Saya memberikan semangat dan motivasi yang bersifat standar seperti, “Ini bukan masalah dimana kita sekolah, tapi soal bagaimana semangat kita ingin belajar. Bla bla bla…”. Di lain waktu saya mencoba menghiburnya dengan berkata “Kau harusnya bangga karena bisa duluan pakai celana panjang ke sekolah dibanding teman-temanmu di SMP negeri”, atau “di Muhammaadiyah itu lebih enak, karena lebarannya bisa duluan daripada yang lain”. Perkataan yang terakhir itu lebih kepada menggoda sebenarnya. Hehehe.

Hanya soal waktu, Kandi sudah bisa menerima dirinya bersekolah di sekolah swasta. Dari kabar yang saya terima dari Mamak dan Uli, Ia sangat rajin pergi sekolah. Semangat bermain dan makannya yang sempat menurun pun sudah kembali. Syukur lah.

***

Pada pertengahan tahun 2013 Mamak menelpon saya dalam tempo yang cukup lama. Beliau mengabarkan semua orang rumah di Tarakan dalam keadaan sangat sehat. Semua sedang senang. Hal itu dikarenakan Kandi diterima di sekolah idamannya, yaitu SMK Negeri 2 alias STM. Ya, STM. Sampai saat ini saya belum tahu pasti alasan Kandi lebih memilih STM dibanding SMA favorit lainnya. Dugaan awal saya Kandi tak ingin lagi terlalu kecewa seperti saat memilih SMP tiga tahun lalu. Sepertinya Ia memiliki perhitungan tersendiri atas pilihannya tersebut.

Beruntung bagi kami memiliki orang tua, terutama Mamak yang tidak terlalu menuntut. Mamak sangat jarang mengintervensi pilihan anak-anaknya, termasuk dalam hal pendidikan. Kami dibiasakan mandiri lantas bertanggung jawab atas semua pilihan-pilihan kami. Hal serupa sepertinya diberlakukan juga kepada Kandi. Mamak terdengar cukup senang dengan pilihan Kandi yang memilih sekolah kejuruan, tanpa terpengaruh stigma tentunya.

Sekarang Kandi benar-benar bersemangat pergi ke sekolah yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah kami. Semoga terus seperti itu sampai Ia lulus nanti.

***

Hari ini, 29 Januari, Kandi, adik bungsu saya sedang berulang tahun yang ke-17. Walau tak ada tradisi merayakan hari kelahiran dalam keluarga kami, saya ingin menuliskan sesuatu untuknya. Semoga ini bisa dianggap sebagai sebuah kado dari kakak yang sedang rindu berat.

Selamat ulang tahun, adik Kandi. Semoga sehat selalu. Dan terus ceria tentunya. Hehehe.

Jumat, 17 Januari 2014

Dari Pers Room Rock In Celebes 2013

Salah satu fasilitas khusus yang disediakan oleh panitia Rock In Celebes 2013 bagi wartawan adalah Pers Room. Ruangan ini menjadi pusat kegiatan semua peliput festival rock terbesar di Indonesia Timur ini. Mulai dari membuat berita, mengobrol dengan sesama wartawan atau sekedar beristirahat di waktu jeda konser, semua dilakukan di ruangan ini. Agenda yang juga dilakukan di Pers Room, yang akan membuat ruangan ini sangat penuh adalah Press Conference para penampil. Hal ini dilakukan sebelum atau susudah band tampil. Momen ini sangat ditunggu oleh semua wartawan yang bertugas untuk menggali bahan berita dan berfoto bersama dan meminta tanda tangan para idola. Hehehe...

Berikut beberapa foto band yang sempat saya kutip di Pers Room Rock In Celebes 2013. Gambar terakhir adalah sesi foto bersama seluruh wartawan dari berbagai daerah yang bertugas di Rock In Celebes 2013 dengan The Box dari Palu yang penampilannya sangat mengejutkan malam itu.


Jumat, 10 Januari 2014

Merayakan Kesunyian


"Silence gives answers." - Rumi

Waktu itu, almanak 2013 telah berada di ujung senjakalanya. Beberapa saat lagi 2014 akan datang. Orang-orang telah memegang trompetnya masing. Sedang yang lain menyiapkan kembang api termahalnya. Atau mungkin juga ada yang telah menyiapkan suara untuk berteriak sekeras-kerasnya di detik pertama tahun baru. Semuanya telah menjadi kebiasaan yang akan terasa ganjil bila tidak dilakukan di malam pergantian tahun.

Tapi kali ini terasa berbeda bagi saya. Bersama beberapa teman, saya menuju sebuah tempat yang sangat tenang: Danau Tanralili di salah satu sudut anak Gunung Bawakaraeng. Bukan untuk menghindari keramaian yang biasa, tapi kami, saya khususnya, mencari suasana baru di malam diantara dua tahun tersebut. Keadaan sunyi senyap mungkin bisa menjadi teman pengantar untuk melalui malam itu.

Perjalanan kali ini sangat menyenangkan bagi saya. bukan hanya karena penampakan alam yang kami lalui sangat memanjakan mata, tapi juga karena dilakukan bersama orang-orang yang sungguh menyenangkan. Ada yang memang sudah akrab karena sudah lama tinggal serumah, ada pula kenalan baru yang datang dari teman yang telah lebih dulu saya akrabi. Ini menjadi hal yang paling menyenangkan; lingkaran pertemanan saya menjadi bertambah besar.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan di Danau Tanralili. Berenang di air dingin, memancing atau menjelajah bukit-bukit yang mengelilingi danau. Daerah ini serasa milik kami saja. Tidak ada pegunjung lain di sekitar tempat kami berkemah. Sempat ada tiga atau empat warga setempat yang datang memancing. Tapi mereka memilih tempat di seberang tempat kami. Keheningan yang betul-betul menyenangkan.

Pada malam pergantian tahun sebagian besar tim memilih berbaring di dalam tenda masing-masing. Mungkin sudah tertidur lelap atau sekedar termenung memikirkan sesuatu yang entah apa. Saya dan beberapa yang lain memilih bertahan di tenda terbuka. Mengobrol tentang apa saja lalu menyeruput kopi hangat yang kenikmatannya bertambah malam itu. Sesaat sebelum pukul dua belas tengah malam, langit di sebelah gunung mulai bercahaya. Pasti itu kembang api di kota, penanda perginya 2013. Sejenak kami terfokus ke kilatan-kilatan itu.

Beberapa jam kemudian kantuk saya tak tertahan lagi. Saya meninggalkan yang lain untuk tidur di dalam hammock dan berselimutkan sleeping bag yang hangat. Selamat datang tahun baru. Selamat datang tantangan-tantangan baru. Kau atau aku yang takluk!