"These are the postcards from a young man. They may never be written or posted again." - Manic Street Preachers
Kamis, 19 Maret 2015
Minggu, 15 Maret 2015
Merayakan Makanan a la Laksmi Pamuntjak
“Kami tahu bagaimana harus hidup dalam kapsul masing-masing, dan karena kami bukan sepasang kekasih, kami jarang menggunakan keheningan sebagai alasan untuk memulai pertengkaran. Tapi begitu makanan mengejawantah di wajan, menghias piring, mengisi ruang, yang ada hanya percakapan.”
Tidak bisa terbantahkan
bahwa budaya kuliner Indonesia sangatlah kaya. Khazanahnya terbentang dari Aceh
sampai Papua, dengan ciri khas dan cita rasanya masing-masing. Beberapa
diantaranya bahkan telah diakui sebagai makanan terenak di dunia.
Tapi sayangnya belum terlalu
banyak yang membahas kekayaan kita yang satu ini. Belakangan memang muncul
beberapa program televisi tentang ragam kuliner Indonesia. Tapi keseringannya penonton
hanya dibuat terpana pada pembawa acaranya yang berbodi aduhai dan
berpenampilan cool dengan tato di
sekujur lengan. Ada pula acara jalan-jalan sambil makan-makan yang sayangnya hanya
berakhir pada kata “maknyus” yang
kemudian menjadi ikonis. Kesemuanya belum terfokus pada si makanan itu sendiri.
Angin segar baru muncul pada
tahun 2014 lalu. Upaya mainstreaming makanan
sebagai pusat pembahasan suatu topik mulai nampak. Dimulai dengan film Tabula Rasa yang bercerita tentang kelezatan masakan Padang,
Majalah Tempo yang membuat Edisi Khusus Antropologi
Kuliner Indonesia, juga sebuah novel dari Laksmi Pamuntjak, Aruna dan Lidahnya. Judul buku yang
terakhir yang kemudian akan diulas dalam tulisan ini.
Aruna
dan Lidahnya berkisah tentang Aruna, seorang perempuan
yang bekerja sebagai Epidemologist (namun ia lebih senang disebut sebagai “ahli
wabah”). Ia memilki dua orang sahabat dengan status yang sama dengan dirinya:
belum niat menikah di usia yang sudah kepala tiga. Bono sang chef dengan
spesialisasi Nouvelle Cuisine serta Nadezhda,
penulis perjalanan dan makanan yang namanya sudah sering muncul di majalah dan
web ternama. Ketiganya dipersatukan dalam obsesi yang sama: makanan.
Saat Aruna diberi tugas
untuk menyelidiki wabah penyakit di beberapa kota di Indonesia, Ia mengajak
kedua temannya tersebut untuk sekalian mencicipi kuliner daerah yang
dikunjungi. Bono dan Nadezhda yang lebih akrab dengan western food, sangat tertarik lantas mengiyakan ajakan tersebut. Banyak
hal yang mereka temui di balik makanan yang mereka santap, mulai dari sejarah
lokal, agama dan kepercayaan, sampai resep makanan baru yang benar-benar tidak
terduga. Semuanya mengalir dalam balutan kisah yang manis sekaligus
mengharukan.
Dibanding dengan novel
sebelumnya, Amba, kisah yang dibangun
oleh Laksmi Pamuntjak dalam novel ini terasa lebih mudah untuk diselami. Narasi
dan dialognya sederhana walau dibumbui dengan istilah-istilah teknis yang perlu
dipahami lebih lanjut. Laksmi sangat pandai merancang kisah dan membangun
dialog yang begitu mengena kepada pembacanya. Setiap masakan diceritakan secara
mendetail hingga kita seperti bisa merasakannya juga. Produksi air liur saya
meningkat di beberapa bagian novel ini.
Bagi yang tidak akrab dengan
dunia epidemologi seperti saya, novel ini mungkin akan sedikit membosankan di
bagian awal. Namun setelah itu cerita mengalir begitu menyenangkan. Bukan hanya
kisah percintaan dan pengkhianatan yang disajikan, kita juga disuguhi dengan
berbagai pengetahuan yang sangat bernutrisi. Laksmi memperindah novel ini
dengan kutipan dari beberapa penulis dunia, mulai dari Brillant-Savarin hingga
Micheal Pollan.
Sungguh seperti ajakan untuk
merayakan makanan yang lebih dari sekedar makan sampai perut terasa kenyang.
Senin, 09 Maret 2015
Beberapa Harapan di Hari Musik Nasional
Sejak 2013 setiap
tanggal 9 Maret diperingati sebagai Hari Musik Nasional. Dari berbagai
media sosial terlihat topik yang hangat diperbincangkan adalah “masihkah musik
nasional punya harapan?”. Pertanyaan seperti ini sudah sangat klise sebenarnya.
Ia hadir setiap tahun mengisi ruang-ruang diskusi para pemerhati dan pelaku
musik itu sendiri. Bagi sebagian pihak yang sudah mulai putus asa, harapan bagi
musik Indonesia sudah sangat tipis. Di tengah momok utama bernama pembajakan,
ruang gerak para musisi dianggap sudah semakin sempit. Musik Indonesia seperti
tidak berdaya mengikuti era yang serba digital sekarang ini.
Tapi benarkah sepenuhnya demikian?
Mari luangkan sedikit waktu untuk lebih jeli melihat kenyataan.
Ada beberapa harapan yang perlu terus dipelihara agar musik Indonesia terus
hidup dan berkembang. Yang pertama, dan mungkin ini yang paling menggembirakan,
adalah produksi musik di Indonesia semakin merata. Musik Indonesia hari ini
bukan hanya Pulau Jawa. Daerah lain yang dulu tidak pernah terdengar saat ini
mulai menggeliat. Bali semakin memperlihatkan eksistensinya. Sumatra terus
mengejutkan lewat (((AUMAN))), Semakbelukar, dan kawan-kawannya. Sulawesi kini
tak hanya Makassar, ada Kota Palu yang skenanya sangat menjanjikan. Kalimantan
terus berkembang lewat musik Metalnya. Benar-benar gugusan musik yang sangat
layak untuk diperjuangkan.
Kabar baik lainnya, tren membeli rilisan fisik kembali
bergairah. Bukan hanya dalam bentuk cakram CD, kini rilisan dalam bentuk kaset
pita dan piringan hitam atau vinyl kembali
dicari. Hal ini berdampak pada banyaknya pilihan bagi para musisi dalam menjual
karyanya, tentu saja bukan hanya dalam bentuk digital. Belum lagi tren lahirnya
penggemar garis keras yang rela mengeluarkan kocek lebih untuk mengoleksi
berbagai macam merchandise idolanya.
Jika hal ini dimanfaatkan oleh para musisi tentu akan mendatangkan keuntungan
lebih yang sangat lumayan untuk terus menghidupi musik mereka. Seringai mungkin
salah satu contoh terbaik dari suksesnya memaksimalkan semua potensi pendapatan
yang ada.
Mulai meratanya sebaran musisi dan kembali bergairahnya
rilisan fisik turut membawa angin segar bagi festival musik di berbagai daerah.
Bak jamur di musim hujan pesta musik tahunan tumbuh beramai-ramai dan terus
menyebar ke berbagai macam genre. Di ranah musik keras tak kurang dari
Hammersonic, Bandung Berisik, Rock In Celebes, Rock In Solo, dan Kukar Rockin’
Fest terus menghajar telinga para metalhead tanah air. Lalu Jazz diwakili oleh
Java Jazz Festival, Makassar Jazz Festival, Jazz Gunung, hingga Ngayogjazz.
Belum lagi festival lintas aliran yang juga rutin digelar. Hal ini tentu saja
ikut menggerakkan roda perekonomian, bukan hanya bagi musisi itu sendiri tapi
juga bagi daerah yang menyelenggarakan festival-festival tersebut.
Lalu bagaimana mengatasi pembajakan? Bukankah permasalahan
ini yang menjadi momok terbesar bagi perkembangan musik Indonesia? Memang harus
diakui kejahatan kriminal bernama pembajakan menjadi musuh terbesar bagi para musisi
Indonesia. Memang kita telah memiliki Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang
Hak Cipta. Namun penegakan hukum dari aparat harus diakui masih sangat lembek.
Tapi apakah keadaan seperti ini akan terus didiamkan? Tentu saja tidak dong.
Perlawanan balik atas aksi pembajakan yang merugikan
seharusnya menemui momentumnya saat ini. Presiden Jokowi yang dikenal sebagai
penggemar musik baru-baru ini membentuk Badan Ekonomi Kreatif. Dalam sebuah
wawancara, Triawan Munaf yang ditunjuk untuk mengepalai institusi ini
mengatakan salah satu prioritas utama Badan Ekonomi Kreatif adalah memberantas
tindak pembajakan. Tentu saja ini adalah sebuah kabar segar. Kampanye anti
pembajakan yang dilakukan oleh pelaku musik tanah air akhirnya mendapat
dukungan nyata dari Pemerintah. Kita tinggal menunggu efektifitas kerja dari
Badan Ekonomi Kreatif ini.
Beberapa harapan untuk musik Indonesia diatas mungkin akan
percuma bila tidak diiringi oleh niat dan dukungan dari para stake holder. Musisi tentu tak bisa
berjuang sendiri. Ia butuh dukungan dari semua pihak, mulai dari pemerintah,
pelaku bisnis, pemerhati sampai penikmat musik itu sendiri.
Selamat Hari Musik Nasional. Semoga lekas berjaya. Kami menunggu dirimu untuk rayakan.
Kamis, 01 Januari 2015
Album Lokal Favorit 2014
Mungkin saja 2014 terbuat dari keadaan yang sangat
menjengkelkan. Mulai dari proses pemilu yang menguras emosi hampir sepanjang
tahun juga waktu yang tak juga berjodoh untuk mempertemukan saya dengan Dosen
Pembimbing Skripsi. Masya Allah, malah curhat. Untung saja masih ada musisi
kesayangan yang tahun lalu terus menghasilkan lagu-lagu yang enak didengar.
Untuk itu, saya pilihkan beberapa yang menjadi favorit saya.
Kalau sedang lowong
silahkan dibaca dan ikut mendengarkan. Tabe’
Tentang Rumahku – Dialog Dini Hari
Dialog Dini Hari adalah cinta pertama saya terhadap musik
folk Indonesia. Rasa suka itu semakin bertambah lewat Tentang Rumahku. masih dengan kekuatan yang sama, musik sederhana
nan menenangkan dan lirik puitis yang begitu menyenangkan. Yang berbeda adalah
album ini terasa lebih berenergi, baik dari beat
dan cerita yang diusung. “Gurat Asa” misalnya, selalu memberikan begitu
banyak semangat bagi saya. Sangat enak didengarkan di pagi hari menjelang
beraktifitas. “Hiduplah Hari Ini” lain lagi. Lagu ini adalah ajakan untuk
selalu bersyukur. Dengan segala tantangan hidup yang kita hadapi sudah
seharusnya kita selalu berusaha untuk “damaikan
diri…”. “Lahirkan keajaiban dari
tanganmu” pada penutup lagu ini adalah favorit saya. Coba pula dengarkan
“Tentang Rumahku” dan “Lagu Cinta” yang dinyanyikan bersama Kartika Tjahja,
maka album ini adalah teman yang ampuh untuk menghadapi hari.
Alkisah – Theory Of Discoustic
Sungguh bukan karena band ini berasal dari Makassar hingga
saya memasukkannya di daftar ini. Saya mendengarkan mereka pertama kali pada
akhir 2010 saat menjadi band pembuka The Trees and The Wild di Unifa. Lama tak
terdengar, mereka muncul kembali dengan membawa Dialog di Ujung Suar, mini album yang begitu matang. Belum terlalu
bosan dengan Dialog di Ujung Suar, mereka
kembali merilis EP Alkisah. Masih
dengan interpretasi atas budaya Bugis-Makassar, namun mini album ini terasa
lebih serius, baik dari segi musikalitas juga proses penggarapannya. Jika Dialog di Ujung Suar hanya disebarkan
via internet, Alkisah dirilis dalam
bentuk fisik, walau sangat sederhana.
Lagu favorit saya di album ini adalah “Satu Haluan” dan
“Lengkara”. “Satu Haluan” bercerita
tentang para pelaut ulung yang katanya nenek moyang orang Indonesia. Lagu ini
jelas adalah bentuk lain dari semboyan kuno pelaut Bugis-Makassar: Le’ba kusoronna biseangku, kucampa’na
sombalakku, tammamelokka punna teai labuang (telah ku kembangkan layarku,
telah ku pasang kemudiku, lebih baik tenggelam daripada melangkah surut). Sedangkan
“Lengkara” adalah penerjemahan atas tradisi Mappalili,
ritual kepercayaan yang dilaksanakan setiap awal masuk musim tanam. “Seruan awal hari bernyanyi merasuk
pusaka/Sambut awal masa berganti merayu musim kesuburan”, Lirik lagu ini
sangat menggambarkan bagaimana semangat masyarakat petani dalam menyambut
ritual tersebut.
Tak pernah mudah menulis lirik berbahasa Indonesia. Tapi
Theory of Discoustik kembali membuat lagu berlirik Bahasa Indonesia yang
menyenangkan. Lewat EP Alkisah ini
mereka membuktikan bahwa paduan musik dan lirik yang menarik bukanlah hal yang
mustahil. Keduanya tentu harus digarap serius untuk menghasilkan lagu yang
baik. Saya sepakat dengan seorang teman, album ini sangat enak didengarkan
dalam sebuah perjalanan jauh. Musik dan liriknya akan menyatu dengan
pemandangan alam yang kita lewati.
Gajah – Tulus
Karir Tulus begitu mulus sebagai solois pendatang baru di
jagat musik Indonesia. Tentu saja bukan sebuah keberuntungan, karena memang
Tulus sangat bertalenta di bidang ini. mendapat begitu banyak perhatian di
album perdan, Tulus memantapkan posisinya sebagai salah satu solois sekaligus
singer-song writer terbaik di negeri ini lewat album Gajah. Dibuka dengan ”Sepatu” yang lansung menjadi hits sejak
diputar serentak di radio seluruh Indonesia. Lagu ini memberikan perumpamaan
yang begitu pas pada cerita cinta yang tidak bisa bertemu. “Kita adalah sepasang sepatu selalu bersama
tak bisa bersatu.” Sadis! Lalu ada “Gajah”, lagu yang terinspirasi dari
masa kecil Tulus. Tema cinta yang berbeda hadir dari “Jangan Cintai Aku Apa
Adanya”. Lagu ini semacam bantahan atas gombal murahan “cintai aku apa adanya”.
“Jangan cintai aku apa adanya. Jangan/Tuntutlah
sesuatu biar kita jalan kedepan.”
Album pertama adalah pembuktian, album kedua adalah ujian
atas eksistensi. Tulus melaluinya dengan mulus dalam waktu singkat.
Fateh – Morgue Vanguard x Still
Rapper paling berbahaya di Indonesia kembali! Pasca bubarnya
Homicide pada tahun 2007, Herry Sutresna a.k.a Morgue Vanguard begitu
dirindukan. Setelah hanya menjadi “tamu” di lagu “Abrasi” milik BRNDLS dan berkolaborasi dengan EyeFeelSix di lagu “Mimpi
Basah Pembangkang Sipil”, Morgue Vanguard akhirnya kembali dalam sebuah album utuh.
Bersama Still Ia melontarkan kemuakannya (tentu juga kemuakan banyak orang)
lewat sebuah Collabo EP, Fateh.
Secara garis besar album ini bercerita tentang permasalahan
akut yang masih terjadi hingga saat ini: konflik agraria dan penindasan oleh aparat.
Dibuka dengan “Volume 1, Bagian 8, Bab 32” yang menampilkan beberapa aksi
demonstrasi sebagai latarnya. Lalu disusul kemudian oleh “Fateh” dan “Kondor Terjaga”
yang melontarkan bait yang begitu panas secara bertubi-tubi. Favorit saya di
album ini adalah “Dol Goldur”. Tak seperti biasanya, Morgue Vanguard terdengar
lebih birirama di bagian ini.
Fateh adalah
sebuah comeback yang cukup menendang. Semoga berlanjut, Bung Ucok.
Sneakerfuzz – Morfem
Tentu menyenangkan mendapati band kesukaan sangat produktif
menghasilkan karya-karya berkualitas. Itulah yang terjadi pada Morfem. Tak berjarak
begitu jauh dari album Hey, Makan Tuh
Gitar!, unit fuzz-rock ibukota ini kembali merilis Sneakerfuzz, sebuah mini album berisi enam lagu. Hal ini terjadi
setelah Morfem memenangi sebuah kompetisi yang diadakan oleh Converse. Hadiah
dari kompetisi tersebut ya pembiayaan penuh atas pembuatan EP Sneakerfuzz ini.
Kesemua lagu di album ini begitu menyenangkan. Perpaduan musik
90-an kesukaan Pandu fuzztoni dan 70-an andalan Jimi Multazham berpadu
menghantam telinga yang mendengarkannya. “Kubikal Rock” adalah pembukaan yang
langsung mengajak untuk berjingkrak. Disusul dengan “Planet Berbeda” yang
liriknya membuat saya berdecak kagum. Lirik story-telling
yang dibangun oleh Jimi adalah kekuatan lagu ini. “Kami dari planet berbeda/Berjumpa di tengah samudra/Aku memilih Bob
Dylan/Sedang dia Mumford and Son/Namun kita tak terpisahkaní”.
Favorit lainnya adalah “Tak Punya Rasa Ketakutan” dengan
sound yang terpapar punk 70-an. Kemudian ditutup oleh nomor anthemic “Rayakan
Pemenang”, sebuah lagu yang didedikasikan untuk para pejuang hidup, siapapun
dia saya rasa.
Panjang umur, Morfem.
***
Selamat tahun baru. Semoga musik Indonesia tetap keren tahun
ini!
Rabu, 17 Desember 2014
Tamasya Musik Keras di Rock In Celebes 2013
Setelah diserbu oleh gigs jazz di bulan November, giliran
musik keras yang menutup akhir tahun Kota Makassar. Rock In Celebes (RIC),
pesta rock tahunan yang telah mendapat pengakuan sebagai festival rock terbesar
di Indonesia Timur kembali dihelat. Selama empat hari, 12-15 Desember 2013,
festival ini sungguh memanjakan para penikmat musik berisik Kota Daeng.
Ada beberapa perbedaan yang ditampilkan Chambers
Entertainment selaku penyelenggara pada RIC 2013 ini. jika biasanya digelar
pada pertengahan tahun, tahun ini RIC sengaja diadakan pada bulan Desember,
bersamaan dengan helatan Celebes Clothing Fest. Kedua kegiatan besar ini
disatukan waktu pelaksanaannya dan dibungkus dalam satu perayaan bernama
Chambers 10Th Festival. Kegiatan ini sekaligus untuk merayakan ulang
tahun ke-10 unit usaha Chambers.
Bersamaan dengan waktu pelaksanaan yang diperpanjang menjadi
empat hari, RIC 2013 juga menghadirkan lebih banyak penampil. Setidaknya ada
40-an band yang hadir memanaskan moshpit, baik yang bertaraf lokal, nasional
sampai Internasional.
Setiap hari, waktu main para penampil dibagi menjadi dua
sesi. Siang untuk band voting dan band lokal. Sedangkan untuk malam hari
giliran headliner dan co-headliner yang memanaskan stage. Hal ini membuat
distribusi penonton untuk setiap penampilan tidak merata. Penonton sangat
sedikit pada sesi siang dan baru mulai ramai ketika malam hari yang diisi oleh
band-band yang memang sudah punya nama.
Di hari pertama, Kamis, 12 Desember 2013, gemuruh musik
mulai terdengar sejak pukul dua siang. Beberapa band lokal dipercaya menjadi
pembuka di hari itu. Bonzai yang biasanya memainkan pop manis, kali ini
membawakan set rock mereka. Lagu-lagu seperti “Kawan Lama” dan “OMG” dimainkan
dengan sedikit lebih keras. Mereka juga sempat meng-cover hits “Still In To You” milik Paramore.
Selain itu ada juga band rock progresif The Finalist yang
tetap bersemangat memainkan setlist mereka walau penonton belum terlalu banyak.
Empat karya sendiri, “Taklukkan Dunia”, “Bila”, “Malaikat Cinta” dan “Berhasil”
cukup memanaskan pembukaan RIC 2013. Setelahnya ada Paniki Hate Light, unit
post-hardcore yang sudah cukup punya nama di skena metal Makassar. Band ini
cukup ditunggu oleh beberapa penonton yang langsung merapat ketika nama mereka
dipanggilkan. Sayang, karena kesalahan teknikal di bagian bass, mereka hanya
sempat memainkan dua lagu, “Survival” dan “Time Travel”.
Sebelum rehat maghrib, ada Galarasta yang memberikan warna
yang berbeda di RIC 2013 ini. Tetap konsisten dengan musik Raggae, band ini
berhasil mengajak penonton untuk bergoyang santai. Nomor “Woyyo” serta dua lagu
cover, “Beautiful Disaster” milik 311
dan “Anak Pantai” dari Imanez sukses membuat enjoy penonton sebelum istirahat.
Pada sesi malam penonton mulai terlihat ramai. Mulai pukul tujuh
malam, arena konser langsung dipanaskan oleh unit metal kebanggaan Kota Solo,
Down For Life. “Prosa Kesetaraan” dipilih menjadi lagu pembuka. Langsung saja moshing dan head-banging terjadi di muka stage. Nomor-nomor andalan seperti “Kami
Adalah Api”, “Pesta Partai Bar-Bar” dan “Menuju Matahari” sukses memanaskan
arena moshpit. Hits “Pasukan Babi Neraka” sukses menutup penampilan Down For Life
yang total membawakan sembilan lagu malam itu.
Selanjutnya ada C.U.T.S, band elektro rock asal Kota
Kembang, Bandung. Minus salah satu vokalisnya, penampilan C.U.T.S tetap
beringas malam itu. Ykha Amelz, sang vokalis utama tampil casual dengan kemeja putih dan celana panjang hitam. Tapi jangan
salah, penampilan perempuan berambut panjang ini tidak sesantai dandanannya.
Aksi panggungnya sangat atraktif. Ia berhasil memimpin penonton berjingkrak dan
bernyanyi bersama. Lagu yang paling banyak perhatian, apalagi kalau bukan hits “Beringas”.
Malah, lagu ini sempat dimainkan dua kali. Kendala teknis di bagian instrumen
elektro membuat penonton meminta “Beringas” kembali dimainkan. Kali ini dalam
set yang lebih sempurna. Penampilan menawan C.U.T.S ditutup dengan hits pertama
di album terbaru mereka, “Teriak Gila”. Penonton betul-betul berteriak gila di
bagian ini.
RIC 2013 hari pertama ditutup oleh headliner utama, Chris Carrabba.
Diluar dugaan penonton, Dashboar Confessional yang dikonfirmasi sebagai
penampil internasional batal datang dengan full tim. Chris Carrabba, vokalis
band rock emo tersebut terpaksa tampil solo dengan set akustik. Lagu hits
seperti “Vendicated” dan “Stolen” tetap dibawakan, namun tentu dengan rasa yang
berbeda. Beberapa penonton terlihat tidak bersemangat. Namun beberapa tetap
bertahan di depan panggung. Mungkin mereka adalah penggemar berat Dashboard
Confessional atau malah pemuja Chris Caraba yang tampil sangat klimis malam itu.
Di hari kedua, konser dibuka oleh beberapa band lokal
potensial seperti Wild Horse, Kemenyan, Pop Is Dead, juga Unremains. Wild Horse
yang mengusung Rock and Roll seperti melakukan warming up kepada penonton yang menunggu penampil utama malam itu,
The SIGIT. Sedangkan penampilan Kemenyan mengingatkan penonton kepada band
Black Metal legendaris, Kiss. Semua personel mereka juga mengecat wajah menjadi
putih dengan pola hitam.
Setelah itu giliran gerombolan Punk Rock, Pop Is Dead yang memanaskan
panggung. Band ini tampil unik dengan memasukkan unsur instrumen tradisi
Sulawesi Selatan ke dalam musik mereka. Suling Bugis-Makassar dan Gandrang Bulo
menyatu dengan raungan musik keras yang menjadi akar bermusik Pop Is Dead. Athem penyemangat “My Father Punk Rock”
menjadi pembuka. Sing along massal terjadi ketika mereka membawakan “Enter
Sadman” milik Metallica. “Angin Mammiri” dalam tempo yang sangat cepat menjadi
penutup istimewa band yang akan melakukan tur lima kota pada Februari tahun depan
ini.
Selepas break maghrib,
kebisingan dibuka oleh band mengejutkan asal Kota Palu, The Box. Mengejutkan
karena penonton tidak pernah menyangka ada band sematang mereka yang berasal
dari kota seperti Palu. Sebenarnya mereka memainkan modern rock yang besar di
awal tahun 2000-an. Yang menarik dari The Box adalah mereka memadukan dasar
musikal mereka tersebut dengan alat musik tradisional Palu. Tidak terkesan
dipaksakan, bunyian alat musik tiup dan jejeran gamelan menyatu pas dalam musik
keras yang mereka mainkan. “melihat penampilan mereka, seperti menemukan harta
karun musik di pulau Sulawesi,” kata Wendi Putranto, wartawan majalah Rolling
Stone Indonesia.
Lagu yang paling menarik perhatian adalah “Sampai Mati” dan “Tadulako”.
“Sampai Mati” dibuka dengan teriakan etnik yang sangat magis lalu disusul oleh
music rock yang sangat apik. Sementara itu “Tadulako” dipilih menjadi lagu
penutup. Hits yang bercerita tentang pahlawan lokal Kota Palu ini menggunakan
bahasa daerah pada bagian lirik.
Berikutnya ada duo The Experience Brother yang siap
melanjutkan kebisingan RIC 2013 hari kedua. Hanya memainkan gitar dan drum
sudah cukup bagi mereka untuk menampilkan musik ciamik yang sangat berisik.
Nomor andalan seperti “Young Man”, “Little Pony” dan “She’s Allright” sukses
membuat penonton bersenang-senang lalu bertepuk tangan di akhir lagu.
The SIGIT tampil sebagai penutup RIC 2013 hari kedua.
Gerombolan Rock and Roll dari Bandung ini memainkan dua belas lagu, termasuk
yang diambil dari album teranyar mereka, Detourn. Hits “Detourne” sendiri
dimainkan sebagai lagu pembuka. Langsung saja gerombolan pemuda ugal-ugalan
mendominasi muka panggung. Penampilan prima The SIGIT malam itu ditutup dengan anthem pengundang sing along, “Black
Amplifier”.
Hari ketiga RIC 2013 menghadirkan ZORV, grup grunge dari
Surabaya yang juga mengejutkan. Kwartet pemuda ini memainkan musik alternatif
rock 90-an dengan sangat baik. Lagu-lagu dari album pertama mereka seperti
“Believe”, “Wealth”, “Lore” dan “Mud” cukup untuk memanaskan festival di sore
hari. Tepat sebelum rehat maghrib band yang akan vakum dalam waktu dekat ini
mengakhiri pertunjukannya.
Sesi malam hari ketiga dibuka oleh Inlander. Band ibukota
ini sangat menarik perhatian dengan sound punk rock yang mereka mainkan.
Lagu-lagu sosial-politis seperti “Bombardir”, “Bangkit Melawan” dan “Ekstrimis”
dibawakan dengan tempo yang sangat cepat. Total dua belas lagu dimainkan oleh
Inlander sebelum menutup penampilan perdana mereka di Makassar.
Setelahnya, kita diajak untuk sedikit menurunkan tempo oleh
Suri. Tetap keras, namun musik stoner rock yang mereka mainkan seolah ingin
terlihat lain dari beberapa penampil sebelumnya. lagu-lagu seperti “Sjahwat”,
“Journey”, “Gendats”, dan “Imago” dibawakan sebagai pengantar sebelum penonton
menyaksikan penampil utama malam itu.
Band penutup di hari ketiga adalah unit rock oktan tinggi,
Seringai. Para Serigala Militia (sebutan untuk basis penggemar mereka) sudah
terlihat berkumpul sesaat sebelum mereka naik panggung. “Dilarang di Bandung”
menjadi pembuka kemudian disusul dengan “Kilometer Terakhir” serta hits pertama
dari album Taring, “Tragedi”. Langsung saja para begundal-begundal mendominasi
moshpit. Lagu-lagu dari album Serigala Militia, seperti “Citra Natural”,
“Serigala Militia” dan “Amplifier” juga dibawakan. Sebagai penutup, lagu
pengundang sing along massal, “Mengadili Persepsi” yang dimainkan. Kepalan
tangan di udara dan teriakan “Individu Merdeka…” langsung riuh sebelum akhirnya
Seringai meninggalkan panggung.
Hari terakhir, Minggu, 15 Desember, menjadi puncak keramaian
RIC 2013. Di sore hari tampil duta Blues Makassar, The Blues Fresh. Mereka
tampil sangat prima dalam tempo tampil lebih dari satu jam. Masih dengan gaya
yang sangat genit, vokalis mereka terus menggoda penonton untuk ikut menikmati
musik The Blues Fresh yang memang sangat menarik.
Setelah rehat maghrib, malam terakhir RIC 2013 dibuka oleh
Kapital, metalhead dari tanah Kalimantan. Mereka mengawali penampilan mereka
dengan rekaman lagu “Indonesia Tanah Air Beta”. Cara yang sangat ampuh untuk
memancing semangat penonton. Langsung saja “Konsepsi Imajinasi” dimuntahkan
sebagai pembuka. Menyusul kemudian “Sistem Munafik”, “Melawan Setan Kesedihan”
dan “Restorasi Dua Sisi” dimainkan. Band ini ternyata sudah punya cukup banyak
penggemar di Makassar. Riuh crowd tak pernah berhenti di sepanjang penampilan
mereka.
Selanjutnya giliran grup Green Grunge Getlemen yang membuat
kebisingan. Ini adalah penampilan pertama untuk Roby, Dangkie, Made dan Gembul
di Makassar. “Hitung Mundur” dimainkan sebagai pembuka. Selanjutnya, lagu-lagu
dengan tema lingkungan seperti “Orang Utan”, “Bubur Kayu” dan “Metropolutan”
turut dibawakan. Yang paling menarik perhatian adalah “I Refuse To Ferget” yang
didedikasikan khusus untuk pejuang HAM Munir.
Dan tibalah bagi Burgerkill untuk menutup festival RIC 2013
yang tidak terlalu terasa sudah berjalan selama empat hari. Sama seperti
Kapital, mereka juga membuka penampilan dengan cara yang sangat nasionalis. Hits
legendaris milik Puppen, “Atur Aku” dimainkan sebagai pembuka. Selanjutnya
lagu-lagu dari album Venomous seperti “Under The Scars” dan “Only The Strong”
juga sukses memanaskan crowd. Meski sempat terjadi sedikit insiden kericuhan
antara penonton dan polisi, Burgerkill tetap melanjutkan konser dan menutup RIC
2013 dengan sangat mengesankan.
Sekitar pukul dua belas malam seluruh rangkaian RIC 2013
resmi berakhir. Seiring dengan itu, hadir kebanggaan bagi metalhead Kota
Makassar bisa memiliki festival rock sebesar RIC 2013. Sampai jumpa di Rock In
Celebes 2014. Tabik!
*Ditulis untuk Majalah Opium Edisi Februari 2014. Diposting kembali di blog ini demi dokumentasi.
Rabu, 05 November 2014
Tujuh untuk Jokowi
Saya selalu bersikap apatis bahkan skeptikal tiap kali
menjelang Pemilu. Bagaimana tidak, nuansa pesta demokrasi di negara ini sungguh
tidak menyenangkan. Mulai dari proses pemilihan calon yang tidak jelas, sampai
penempatan kita sebagai penentu yang hanya dijadikan objek dari dari Pemilu
tersebut. Sikap feodal partai politik yang terus dipelihara, bahkan setelah
lima belas tahun sesudah reformasi, melanggengkan proses-proses kotor tersebut.
Namun ada yang berbeda pada Pemilu 2014 yang baru saja
berlalu. Sosok Jokowi datang membawa jawaban atas kemuakan kita terhadap
kebanyakan pemimpin saat ini. Kebaruan adalah kata kunci disini. Bagaimana
metode dan sikap yang diterapkannya adalah perlawanan dari apa yang terlanjur
melembaga: elitis, berjarak, serba tertutup.
Jokowi adalah tokoh protagonis di dunia politik beberapa
tahun ini hingga Pemilu 2014 yang lalu. Sejak kinerjanya sebagai Walikota
Surakarta terendus, langkahnya seakan mulus menuju istana. Dengan etos satu
katanya, “kerja!”, Ia memenangkan hati rakyat, yang mayoritas masih berkategori
wong cilik.
20 Oktober yang lalu menjadi salah satu batu penanda dalam
perjalanan sejarah Indonesia. Setelah Sukarno, kita kembali memiliki Presiden
yang “diangkat” dan “diantar” oleh rakyat. Harapan juga optimisme tentu kita
titipkan. Dan semoga amanah tersebut dijawab dengan baik oleh Bapak Presiden
Jokowi.
Sebagai pengantar Jokowi dalam mengarungi lima tahun
pertamanya sebagai Presiden, saya ingin membuat daftar lagu khusus untuknya.
Daftar ini berisi tujuh lagu dari musisi yang sangat bersemangat dan tentu saja
saya sukai. Tak ada lagu metal, musik kesukaan Jokowi, tapi ketujuh lagu ini tentu
sangat bisa menumbuhkan harapan dan optimisme Jokowi juga kita semua. Ini dia,
Tujuh untuk Jokowi.
Juara Dunia – Sir
Dandy
Lagu ini sebenarnya dibuat Sir Dandy khusus untuk petinju
kebanggaan Indonesia, Chris John. Tapi saat mendengarkannya kala kontestasi
pilpres yang lalu saya jadi teringat sosok Jokowi. “Berbadan kecil seperti
Maradona//Menari lincah seperti balerina.” Sangat Jokowi bukan lirik ini?
ceking namun lincah kesana kemari.
Jadi, untuk Indonesia yang lebih baik, ayo, Sikat, Jok!
Nyala – Pure Saturday
“Percayalah terang akan datang di saat yang tidak terduga.”
Lirik pembuka lagu ini langsung membawa sebuah optimisme yang manis. Siapa
sangka harapan bernama Jokowi itu datang begitu cepat. Hanya dalam waktu tiga
tahun, sejak kinerjanya mulai terpantau, Ia sekarang jadi pemimpin kita.
Semoga kinerja Jokowi kedepan akan mengagumkan seperti vokal
Iyo di lagu ini: tinggi tapi tetap lembut, tanpa harus berteriak-teriak.
Langkah Baru –
Bangkutaman
Jokowi adalah sebuah penanda bahwa kita semua akan mengambil
langkah baru dalam membangun Indonesia. Lupakan cara-cara elitis yang
diterapkan Presiden terdahulu. Jokowi datang dengan janji akan lebih dekat
kepada rakyat. Saya rasa tak sulit bagi Jokowi merealisasikan itu. Dan lagu
folk rock dinamis dari Bangkutaman ini siap menemani Bapak Presiden memulai
hari untuk kerja kerja kerja. Hehehe.
Berjalan Lebih Jauh –
Banda Neira
Lagu ini dapat mewakili ajakan Jokowi kepada masyarakat
untuk tidak tinggal diam. Setiap kita harus mengambil peran, sekecil apapun
itu, dalam proses pembangunan. “Bangun//Sebab pagi terlalu berharga ‘tuk kita
lewati dengan tertidur//Bangun//Sebab hari terlalu berharga ‘tuk kita lalui
dengan bersungut-sungut.”
Lagi-lagi harapannya kita bisa “berjalan lebih
jauh//menyelam lebih dalam//jelajah semua warna//bersama.” Ya, Bersama. Bukan
sekelompok orang saja tapi semua elemen masyarakat, pemilik sah negara ini.
Rayakan Pemenang –
Morfem
“Lagu ini Jokowi sekali.” Saya mengamini perkataan seorang
kawan saat pertama mendengar lagu ini. Kita patut mencurigai bahwa Morfem
menciptakan lagu ini khusus untuk kemenangan Jokowi pada Pemilu lalu. Lagu ini
sebenarnya bertema “from zero to hero” yang sangat umum. Tapi Jimi Multhazam,
seperti biasa, bisa menyusun lirik yang sanga memesona. Dengan balutan fuzz
rock membuatnya klop menjadi anthem bagi kemenangan Jokowi, Kemenangan rakyat,
kemenangan kita semua.
Menjadi Indonesia –
Efek Rumah Kaca
Jokowi sudah sempat mendengarkan lagu ini belum ya? Kalau ia
cuma sibuk mendengarkan lagu-lagu metal, saya sarankan padanya untuk rehat
sejenak kemudian mendengarkan lagu ini. Menjadi Indonesia adalah lagu nasionalisme
yang sangat mengena dengan keadaan negara kita saat ini. Tidak ada penjelasan
historis-filosofis ala Parakitri Simbolon atau kata indah selangit khas
Goenawan Mohamad. Hanya ajakan sederhana “lekas bangun dari tidur
berkepanjangan” kemudian “menjelma dan menjadi Indonesia”. Hanya seperti itu.
Sederhana dan, ya itu tadi, sangat mengena.
Tolong, seperti itu lah, Pak. Kami tahu kok, anda sudah tahu
caranya.
Bangunlah Putra-Putri
Pertiwi – Iwan Fals
Yang mengagumkan dari Iwan Fals (sebelum Ia menjadi duta produk
kopi tentunya) adalah Ia memilih jalan kritik untuk mencintai negaranya. Tak
terhitung lagu berlirik pedas yang Bang Iwan ciptakan untuk menegur rezim yang
tidak berpihak pada rakyat. Namun pada lagu Bangunlah Putra-Putra Pertiwi Iwan
memilih jalan lain. Jelas Ia menghembuskan semangat positif di dalam liriknya.
“Terbanglah garudaku//singkirkan kutu-kutu di
sayapmu//berkibarlah benderaku//singkirkan benalu di tiangmu//jangan ragu dan
jangan malu//tunjukkan pada dunia bahwa sebenarnya kita mampu.”
Saat menciptakan lagu ini mungkin Iwan Fals hanya berseru
pada rakyat, tidak pada pemerintah yang selama ini selalu menjadi oposisinya.
Tapi kali ini Iwan, juga tentu saja kita semua, dapat menyerukannya juga pada
Jokowi, Presiden yang saat ini menjadi tumpuan harapan kita dalam bernegara.
Jumat, 10 Oktober 2014
MTGF 2013: Lupakan Umur, Ayo Bermain!
Untuk merayakan kecerian masa kanak-kanak, Komunitas
Jalan-Jalan Seru Makassar kembali menggelar Makassar Traditional Games Festival
(MTGF) 2013. Kegiatan yang telah
memasuki tahun keduanya ini masih dilaksanakan di Benteng Somba Opu, Makassar
pada Minggu, 27 Oktober 2013. Masih dengan semangat yang sama yaitu pelestarian
budaya permainan tradisional dan tentu saja mengembalikan keceriaan masa kecil.
Tepat pukul dua belas siang kerumunan pengunjung telah
memadati arena bermain yang berada di pusat Benteng Somba Opu. Terik matahari
tak sedikitpun mengurangi animo peserta untuk
merasakan kembali sensasi permainan tradisional yang sudah sangat jarang dimainkan
saat ini. Melalui press release-nya,
panitia pelaksana telah menyiapkan dua belas jenis permainan: Maccukke, Ma’benteng, Ma’goli’, Ma’gebo’,
mallogo, Massanto’, Lompat Karet,
Mangasing, Lambasena, Ma’dende’, Beklan, Ma’getta, dan Mallongga’.
Semua terlihat bersemangat memainkan permainannya, dengan
satu tujuan yang sama: mengembalikan kesenangan dan kegembiraan melalui
permainan tradisional yang sudah sangat jarang dimainkan. Saat bermain, beberpa
peserta terlihat seperti melupakan umur mereka yang sudah tidak anak-anak lagi.
Berlari semangat, teriakan seru lalu ditimpali dengan tertawa lepas tak henti-hentinya
hadir dari orang-orang yang hadir. Bahkan, hujan yang sempat turun di tengah keasnyikan
bermain tidak cukup untuk mengurangi antusias peserta.
“Intinya sih kita ingin menggali kenangan masa
kecilnya teman-teman lewat permainan yang mungkin sudah jarang ditemui lagi.”
Jelas Asril, salah satu panitia, tentang tujuan diadakannya MTGF 2013 ini.
“MTGF 2013 ini juga semacam pengenalan budaya permainan tradisional kepada
adik-adik sekarang.” Lanjut Asril.
Memang MTGF tahun ini tidak hanya menjadi milik orang dewasa
yang memutar memorinya ke masa lalu. Anak-anak yang datang bersama keluarga
juga terlihat antusias di beberapa arena permainan. Dalam hal ini, MTGF menjadi
semacam jembatan penghubung pewarisan
permainan tradisional di era maraknya permainan konsol yang serba instan dan
cenderung individualistic saat ini.
Dari berbagai sisi, terlihat jelas MTGF tahun ini telah
lebih baik dibanding pelaksanaannya di tahun lalu. Persiapan yang memakan waktu
kurang lebih satu bulan dimaksimalkan panitia untuk mematangkan konsep dan
teknis pelaksanaan. Penunjuk arah ke arena permainan, stan merchandise hingga pusat jajanan telah tampak tersedia. Diakui
panitia, peserta tahun ini juga jauh lebih banyak dibanding tahun sebelumnya.
“Kalau tahun lalu itu murni karena spontanitas. Tahun ini sudah ada cukup
persiapan dan lebih terorganisir.” Kata Ipul Gassing dari Komunitas Blogger
Makassar, salah satu komunitas pendukung kegiatan ini.
MTGF 2013 resmi berakhir setelah panitia membagikan hadiah
undian yang berasal dari beberapa sponsor. Sekitar pukul 17:00 Wita para
pengunjung mulai meninggalkan lokasi permainan. Tentu dengan membawa pulang
keceriaan juga harapan yang sama; semoga festival seperti ini akan terus ada di
masa yang akan datang.
Lupakan umur, ayo bermain!
Langganan:
Komentar (Atom)




