Jumat, 10 Oktober 2014

MTGF 2013: Lupakan Umur, Ayo Bermain!



Untuk merayakan kecerian masa kanak-kanak, Komunitas Jalan-Jalan Seru Makassar kembali menggelar Makassar Traditional Games Festival (MTGF) 2013.  Kegiatan yang telah memasuki tahun keduanya ini masih dilaksanakan di Benteng Somba Opu, Makassar pada Minggu, 27 Oktober 2013. Masih dengan semangat yang sama yaitu pelestarian budaya permainan tradisional dan tentu saja mengembalikan keceriaan masa kecil.

Tepat pukul dua belas siang kerumunan pengunjung telah memadati arena bermain yang berada di pusat Benteng Somba Opu. Terik matahari tak sedikitpun mengurangi animo peserta  untuk merasakan kembali sensasi permainan tradisional yang sudah sangat jarang dimainkan saat ini. Melalui press release-nya, panitia pelaksana telah menyiapkan dua belas jenis permainan: Maccukke, Ma’benteng, Ma’goli’, Ma’gebo’, mallogo, Massanto’, Lompat Karet, Mangasing, Lambasena, Ma’dende’, Beklan, Ma’getta, dan Mallongga’.

Semua terlihat bersemangat memainkan permainannya, dengan satu tujuan yang sama: mengembalikan kesenangan dan kegembiraan melalui permainan tradisional yang sudah sangat jarang dimainkan. Saat bermain, beberpa peserta terlihat seperti melupakan umur mereka yang sudah tidak anak-anak lagi. Berlari semangat, teriakan seru lalu ditimpali dengan tertawa lepas tak henti-hentinya hadir dari orang-orang yang hadir. Bahkan,  hujan yang sempat turun di tengah keasnyikan bermain tidak cukup untuk mengurangi antusias peserta.

 “Intinya sih kita ingin menggali kenangan masa kecilnya teman-teman lewat permainan yang mungkin sudah jarang ditemui lagi.” Jelas Asril, salah satu panitia, tentang tujuan diadakannya MTGF 2013 ini. “MTGF 2013 ini juga semacam pengenalan budaya permainan tradisional kepada adik-adik sekarang.” Lanjut Asril.

Memang MTGF tahun ini tidak hanya menjadi milik orang dewasa yang memutar memorinya ke masa lalu. Anak-anak yang datang bersama keluarga juga terlihat antusias di beberapa arena permainan. Dalam hal ini, MTGF menjadi semacam jembatan penghubung  pewarisan permainan tradisional di era maraknya permainan konsol yang serba instan dan cenderung individualistic saat ini.

Dari berbagai sisi, terlihat jelas MTGF tahun ini telah lebih baik dibanding pelaksanaannya di tahun lalu. Persiapan yang memakan waktu kurang lebih satu bulan dimaksimalkan panitia untuk mematangkan konsep dan teknis pelaksanaan. Penunjuk arah ke arena permainan, stan merchandise hingga pusat jajanan telah tampak tersedia. Diakui panitia, peserta tahun ini juga jauh lebih banyak dibanding tahun sebelumnya. “Kalau tahun lalu itu murni karena spontanitas. Tahun ini sudah ada cukup persiapan dan lebih terorganisir.” Kata Ipul Gassing dari Komunitas Blogger Makassar, salah satu komunitas pendukung kegiatan ini.

MTGF 2013 resmi berakhir setelah panitia membagikan hadiah undian yang berasal dari beberapa sponsor. Sekitar pukul 17:00 Wita para pengunjung mulai meninggalkan lokasi permainan. Tentu dengan membawa pulang keceriaan juga harapan yang sama; semoga festival seperti ini akan terus ada di masa yang akan datang.

Lupakan umur, ayo bermain! 

Minggu, 07 September 2014

Ibu Ani, Suaminya dan Sepuluh Tahun Wafatnya Munir

Hari ini Ibu Ani tampak sibuk sekali. Pada sebuah potret di media sosialnya, Ia ingin memberi tahu kita semua bahwa Ia sedang berkemas. Di dalam sebuah kamar yang tentunya istana, Ibu Negara ini menyusun beberapa box yang berisi barang-barang pribadinya. Sepertinya beliau dan keluarga sedang bersiap untuk pindah tempat tinggal. Ya, hampir sepuluh tahun ini Ibu Ani beserta keluarganya mendiami istana negara. Tentu saja itu berkat suaminya, Susilo Bambang Yudhoyono yang lebih gaul dipanggil SBY, terpilih dan terpilih lagi menjadi Presiden Republik Indonesia pada Pilpres 2004 dan 2009.

Seperti biasa beragam respon selalu hadir pada setiap foto yang Ibu Ani unggah di akun media sosialnya. Ada yang mengucapkan salam perpisahan, ada yang bersedih, ada pula yang menanggapi secara datar saja. Tapi mungkin banyak dari kita yang tidak menyadari bahwa foto tersebut bukan hanya sebuah persiapan salam perpisahan. Bagi saya foto tersebut juga pertanda bagi kita untuk segera melupakan sebuah harapan yang pernah kita titipkan pada SBY, suami tercinta sang empunya foto. Kita harus segera mencabut harapan bahwa presiden kita satu itu bisa mengungkapkan siapa pembunuh Munir sebenarnya.

SBY dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia saat banyak orang masih berduka karena wafatnya Munir. Kematian yang sangat mendadak tersebut mendapat perhatian yang sangat besar kala itu. SBY pun gagap lalu berpidato: “kematian Munir adalah sebuah test of  our history”. Tentu banyak yang berbesar hati dengan pernyataan tersebut. Tidak sedikit yang berharap besar SBY akan mengungkap dan menangkap dalang pembunuhan Munir.

Tapi tentu saja waktu yang mengungkap ketidakbenaran SBY. Pernyataan menggetarkan itu ternyata hanyalah omong kosong belaka. SBY tak mampu bahkan tak punya keinginan serius untuk mengungkap dan menangkap dalang pembunuhan Munir!

proses penyelidikan hingga persidangan memang dilaksanakan, tapi itu semua jauh dari harapan kita yang mencari keadilan yang terang benderang. Polycarpus, satu-satunya pelaku yang dihukum hanyalah seorang eksekutor. Sedangkan intellectual dader dari kasus ini tidak pernah kita ketahui. Ia masih bebas di luar sana entah dimana.

Sepuluh tahun perjuangan dalam mencari kebenaran dalam kasus pembunuhan Munir ini tentu saja bukan waktu yag singkat. Berbagai cara telah dilakukan. Tapi apalah arti perjuangan tanpa henti jika tidak diikuti oleh keinginan yang baik dari aparat negara selaku penentu kebijakan. Dan selama menjabat sebagai Presiden sepuluh tahun ini SBY tidak punya keinginan yang baik untuk mengungkap kasus pembunuhan Munir ini.

SBY sangat benar saat menyatakan pembunuhan Munir adalah sebuah ujian bagi sejarah kita. Wafatnya Munir bukan hanya peristiwa matinya satu orang. Wafatnya Munir adalah sebuah kehilangan besar, terutama bagi mereka yang memimpikan perdamaian dan penegakan hak asasi manusia di negara ini. ketika kasus ini tidak menemukan keadilannya sejarah akan mencatatnya sebagai sebuah kegagalan negara untuk memenuhi harapan para pencari kebenaran.

Sekali lagi saya ingin meyakinkan orang-orang, foto Ibu Ani yang diunggah hari ini adalah sebuah pertanda. Foto berkemas tersebut menandakan kita juga harus segera menyimpun dan menarik kembali harapan untuk mengungkap dalang pembunuhan Munir yang pernah kita titipkan pada SBY. Untuk sementara biarlah harapan itu kita genggam untuk kemudian kita berikan pada Presiden berikutnya, Joko Widodo.

Jokowi sudah pernah berjanji untuk memberikan perhatian khusus pada masalah penegakan hak asasi manusia. Tapi kita tentu tak boleh percaya begitu saja. Kita sudah pernah dikecewakan oleh kata manis tanpa pembuktian. Malah kita harus terlebih dulu harus tidak percaya pada si ceking ini, sebelum ada tindak nyata yang Ia lakukan ketika menjabat nanti.

Saat SBY sedang bekerja lebih giat di sisa masa jabatannya, Ibu Ani memang sudah mulai berkemas. Banyak barang keluarga yang harus dipindahkan dari Istana Negara ke Cikeas yang tentram. Tapi saya yakin, semua hal tentang pembunuhan Munir tidak akan masuk di dalam box-box Ibu Ani. Bisa murka suaminya nanti kalau masih menemukan serpihan peristiwa tersebut.

Kamis, 17 April 2014

Wildhorse


Salah satu band yang tampil dalam “Solidarity Gigs Bebaskan Satinah!” adalah unit Rock and Roll Wildhorse. Dalam banyak kesempatan mereka sering membawakan lagu sendiri yang bernuansa keras dan liar, seperti nama mereka. Namun pada penampilan di Kedai Buku Jenny tersebut mereka bermain dalam set yang sedikit minimalis. Tanpa distorsi yang berlebihan mereka membawakan tiga lagu yang masih bernafaskan Rock. Salah satu lagu yang mereka mainkan adalah “White Sun”. Nomor berirama blues balada ini terdengar berbeda dari lagu-lagu mereka yang lainnya.

Setelah penampilan Wildhorse di aksi solidaritas musisi Makassar untuk Satinah tersebut, kami berkesempatan menemui mereka. Lewat interview yang akrab kami mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang akan lebih mengenalkan Wildhorse kepada pembaca OPIUM.
Berikut petikan wawancaranya. Selamat berkenalan dengan unit Rock and Roll yang cadas dan liar ini.

Bisa perkenalkan Wildhorse kepada pembaca OPIUM?

Hai, kami Wildhorse. Saya Remi Setiawan pada vokal sekaligus main gitar, terus dua teman saya, Azhary Salam pada gitar melodi dan Naldy Rachman sebagai bassist.

Bagaimana awalnya Wildhorse terbentuk?

Awalnya dari pertemanan ji. Saya sama teman-teman sekolah sering ngumpul-ngumpul terus kami main-main gitar. Pada tahun 2009 terpikir, “kenapa kita tidak bikin band saja?”. Nah dari situ kita mulai ngeband dan coba bikin lagu sendiri dalam bahasa Inggris. Sampai sekarang kita sudah punya beberapa lagu yang sering kita bawakan kalau ada yang mengundang untuk main.

Musik seperti apa yang kalian mainkan?

Pada dasarnya kami memainkan Rock and Roll, musik-musik yang berkembang pada 60-an, 70-an. Tapi pada perkembangannya kami juga sering memasukkan unsur lain pada musik kami, seperti Blues, Progresif. Musik-musik yang sesuai dengan semangat kami lah.

Apakah ada musisi yang menginspirasi kalian dalam bermusik?

Tentu saja ada. Kalau musisi, atau band yang meng-influnce kami itu ada beberapa. Kalau dari luar negeri itu ada Led Zeppelin dan sejenisnya. Kalau dalam negeri sendiri kami banyak mendengarkan dan terpengaruh dari The S.I.G.I.T.

Sejauh ini karya apa saja yang telah Wildhorse hasilkan?

Rencananya dalam waktu dekat ini kami akan merilis EP (Extended Play) perdana kami. Mungkin bulan April nanti. EP tersebut akan berisi empat lagu. Liriknya bahasa Inggris semua. Temanya sih beragam. Tentang lingkungan, sosial sampai cinta. Pokoknya isu-isu yang sehari-hari kami temui lah.

Bagaimana kalian melihat perkembangan musik Makassar saat ini?

Perkembangan industri musik Makassar, terutama scene indie sudah sangat bagus ya. Sudah banyak band yang terus menghasilkan karya. Genre yang dimainkan juga sangat beragam. Tapi yang kami rasa masih kurang itu malah label record-nya. Entah cuma saya saja yang kurang tahu, tapi masih sangat susah mencari tempat untuk memfasilitasi band-band yang ingin merekam karya mereka. Tentu akan sangat bagus lagi kalau ada orang, pengusaha yang mau membuat label record disini.

Terakhir, kenapa kalian tertarik untuk berpartisipasi dalam Solidarity Gigs ini?

Secara naluriah kami terpanggil ya. Naluri kami sebagai musisi tergerak ikut berpartisipasi ketika tahu dan diajak di kegiatan ini. Semoga dengan musik kami dan sedikit donasi yang kami berikan bisa membantu Satinah. Harapan kami sih semoga kasus seperti ini tidak terulag lagi.

*Wawancara ini dibuat untuk mengisi rubrik Music Innerview di Majalah OPIUM. Untuk membaca versi digital Majalah OPIUM bisa disini. Beberapa lagu dari Wildhorse bisa didengarkan disini.

Rabu, 26 Maret 2014

Kedai Buku Jenny: Menggiatkan Literasi Meragamkan Metodologi

Sawing (pertama dari kiri) dan Bobhy (keempat dari kiri) berfoto bersama personel Bangkutaman di Kedai Buku Jenny
pada salah satu edisi KBJamming.

Semua orang yang terlibat dalam aktifitas literasi di Kota Makassar pasti sepakat kalau dunia membaca-menulis-berdiskusi di kota ini sedang bergairah. Sudah beberapa tahun belakangan ini kegiatan tersebut sedang bergerak menuju ke arah yang positif. Mudahnya akses pada ilmu pengetahuan kemudian melahirkan semakin banyak ruang bersemainya ide-ide kreatif. Masyarakat kini disuguhkan pilihan tempat yang semakin bervariatif, tidak melulu tempat yang sudah terlalu umum dan menggunkana cara-cara yang sangat transaksional.

Salah satu geliat literasi tersebut datang dari Kedai Buku Jenny. Toko buku minimalis yang namanya sering disingkat menjadi KBJ ini tidak hanya menjadi tempat transaksi jual-beli. Lebih dari itu mereka juga menghadirkan cara-cara lain untuk lebih mendekatkan masyarakat pada dunia membaca-menulis-berdiskusi. Lewat beberapa event yang rutin mereka laksanakan kegiatan yang selama ini terkesan kaku tersebut dibuat menjadi lebih groovy. 

KBJamming misalnya. Event yang rutin dilaksanakan setiap bulan ini mengajak siapa saja untuk menikmati musik sambil turut serta dalam diskusi yang banyak membicarakan tentang problematika kota. Kegiatan semacam ini tentu masih sangat baru di Makassar. Bagaimana KBJ bisa mempertemukan orang-orang yang berkegiatan di bidang seni dengan mereka yang selama ini menggandrungi diskursus perkotaan. 

Pada suatu sore yang mendung, saya bertandang ke KBJ untuk bertemu kemudian mengobrol dengan kedua pendirinya, Bobhy dan Sawing. Dengan sangat ramah, mereka menjawab semua pertanyaan yang saya ajukan secara mendetail. 

Bisa ceritakan ide awal untuk membuat Kedai Buku Jenny (KBJ)? 

Bobhy: kita berdua ini sama-sama bermimpi untuk punya toko buku. Dulu, sekitar tahun 2005 saya sama beberapa teman pernah membuat tempat serupa KBJ ini. Dulu namanya Idefix. Tempatnya itu di depan UKIP (Universitas Kristen Indonesia Paulus). Itu dibangun bersama teman-teman aktivis kampus. Tapi Idefix itu tidak terlalu lama ji bertahan. Kemudian waktu 2011, saya cerita-cerita dengan Sawing, “ayo deh bikin toko buku.” Mumpung waktu itu kita lagi sekolah di Jogja, bisa dapat banyak buku. Kita wujudkan mi mimpi itu. Awalnya kita yang beli buku di Jogja terus dikirim ke Ridho, salah satu awak KBJ. Dia disini yang jalankan ini KBJ. 

Tapi awalnya kita belum punya nama. Kita belum pakai nama “Kedai Buku Jenny” saat itu. Sampai kemudian saya sama Sawing datang ke sebuah event di Jogja, namanya itu Rock Siang Bolong. Itu event tahunan yang dibuat sama anak-anak ISI (Institut Seni Indonesia) Jogja. Sebenarnya datang karena penasaran ji, karena temanya itu “Fuck Nineties!”. “wis event apa ini, provokatif sekali.” Terus lihat line up-nya, nda ada yang betul-betul kita kenal. Nah disitu kita bertemu pertama kali dengan band yang namanya Jenny itu. Kemudian kita tertarik dengan lagunya: Mati Muda, Maha Oke, dan sebagainya. Terus bertemu di beberapa gig dan akhirnya kita memperkenalkan diri. Sampai suatu waktu pulang liburan kesini, tiba-tiba saja telintas: “kayaknya ini mi nama kedai buku ta!” Dan Sawing juga mengiyakan. 

Walau akhirnya band Jenny berganti nama menjadi Festivalist, kita tetap pakai nama itu. Kenapa kemudia nama Jenny yang kita pakai? Karena dari materi lagu mereka kita mendapatkan tema-tema kesetaraan, tema “bahagia itu sederhana”. Itu semua sangat dieksplorasi di lagu-lagu mereka. Jadi awalnya mungkin Jenny itu bagi kita hanya sebagai band, tapi kemudian dia menjadi sebuah gagasan yang kita rasa cocok untuk kedai buku ini. seperti itu. 

Mengapa berani membuat toko buku minimalis di tengah dominasi toko buku besar saat ini? Bagaimana bisa bertahan sampai sejauh ini? 

Sawing: Jadi KBJ ini tidak pernah diniatkan untuk menyaingi toko buku besar atau yang lain. Konsepnya itu sendiri masih terinspirasi dari Jenny. Jadi Jenny itu kan konsepnya “Almost rock barely art”, hampir rock nyaris seni. Jadi “hampir” dan “nyaris”-nya itu yang kita adaptasi lagi dalam mendesain kedai buku ini. Ya konsepnya KBJ ini “hampir toko buku” dan “nyaris galeri seni”. “Hampir toko buku” berarti KBJ ini tidak seperti kedai buku pada umumnya: anda datang sebagai pembeli, kami layani seadanya, silahkan ambil, kita bertransaksi, yang hubungannya sangat transaksional. Tidak seperti itu. Tapi kita ingin ada interaksi yang lebih berkualitas di dalamnya. Kita ingin berbagi ide atau pun tukar gagasan di dalam hubungan tersebut. Terus “barely art gallery”, Seni itu kan tidak selalu dekat dengan kata “megah”, toh. Jadi seni yang kita maksud adalah setiap sudut itu bisa di-create Menjadi galeri seni tersendiri. Kita ingin ruang-ruang yang nda tampak seperti galeri bisa kita desain sedemikian rupa hingga punya nilai seni. Sehingga bisa membuat orang tertarik.

Kalau bagaimana bisa bertahan? Nah, ini pertanyaan penting ini. Jadi cara yang kita tempuh adalah menjalankan konsep “Jenny” tadi. Terus memang kita berada di lingkungan yang cukup mendukung tempat-tempat seperti ini. perlahan akhirnya kita bertemu dengan Vonis Media, Kampung Buku, ya teman-teman yang memang concern  dengan isu literasi. Selain itu, manajemen harus tertata dengan baik pembagian tugasnya. 

Bobhy: sebenarnya kegagalan tempat-tempat seperti ini kan karena lemahnya manajemen kedai bukunya. Jadi makanya sejak awal kita bilang, ini bisnis. Bahwa dia punya semangat yang coba kita sampaikan lewat banyak media yang kita gagas disini. Tapi untuk menghidupi ini kita harus bingkai dia dalam kerangka bisnis. Agak susah kalau tidak begitu. Karena pelajaran dari sebelumnya itu begitu. Konsepnya pertemanan. Semuanya tidak tercatat dengan baik. Selalu “pakai mi dulu”. Akhirnya ya begitu. Tidak bertahan. Nah, itu yang sejak awal coba kita tata dengan baik. Okelah, dari toko buku kecil apa sih yang bisa diharapkan. Tapi dari hasil yang sedikit itu coba kita catat dengan baik, khususnya di masalah keuangan. Karena kita percaya sekali, agak susah kita mengevaluasi sejauh mana capaiannya kalau hal-hal yang sifatnya manajerial seperti itu juga tidak terurus dengan baik. Makanya hal itu juga menjadi penting. Kita sih optimis saja bahwa manajemen yang relatif bagus yang kita tempuh selama ini bisa menjadi modal untuk membuat KBJ bertahan. Itu obsesi kita. Karena terlalu banyak kebahagian yang kita dapat dari sini, toh. 

Tentang konsep, kan toko buku atau rumah baca seperti ini banyak sekali. Tapi menurut saya tidak banyak yang mengkombinasikannya denga musik, misalnya. Jadi kira-kira segmen yang juga coba kita dekati adalah orang yang bukan pecinta buku dan kita mau bilang ke orang-orang bahwa urusan membaca, urusan literasi sebenarnya bukan pekerjaan yang serius-serius amat. Bukan pekerjaan yang perlu mengernyitkan dahi. Tapi bukan berarti menurunkan kadar bacaan itu sendiri. Misalkan saja KBJamming, jamming  yang kemudian dikolaborasikan dengan diskusi  itu menurutku capaian bagi kita di KBJ. Jadi kita mau kehidupan berliterasi, membaca dan segala macam itu bisa menyentuh segmentasi mana saja. Khususnya mereka yang dianggap tidak dekat dengan buku. 

KBJ ini kan tidak hanya sekedar tempat jual-beli buku, apa sebenarnya tujuan KBJ? 

Sawing: Tujuannya? Masuk surga. Ha-ha-ha. Sebenarnya tujuan KBJ itu, ya yang tadi. Kami mengafirmasi spirit yang dibawa sama Jenny, spirit kesetaraan. Yang kedua, KBJ ingin turut aktif dalam budaya literasi di Kota Makassar ini. Ketiga, kita mencoba terus memperbaharui metodologi. Tujuan-tujuan yang tadi itu kita sampaikan lewat beragam media. Lewat musik, diskusi, tulisan, atau event-event yang kita bikin. Semua itu kan ada gagasannya. Cuma cara menyampaikannya yang berbeda. Saya kira itu penting untuk terus di-explore. Karena kalau monoton, pesan yang baik itu bisa mentok dan menabrak tembok di mana saja. Mentul kesana-kemari dan kembali ke yang ngasi. 

Bobhy: Jadi yang kita lakukan ini ada turunannya. Misalnya kembali menggiatkan sastra, ikut terlibat dalam geliat dunia literasi yang mulai berkembang lagi di kota ini. Dan tentunya juga menggairahkan skena lokal. Itu semua turunan-turunan dari yang disebutkan Sawing tadi. Bagaimana memperbanyak variasi media untuk menyampaikan gagasan-gagasan. Selain itu, kita juga ingin menjadi teman bagi siapa saja yang punya aktifitas. Tidak harus mengeksekusi karyanya disini. Tapi menjadi ruang untuk berbagi dan bertukar pikiran. Itu yang menurut kita penting. 

Apakah tempat-tempat seperti ini di kota lain (Kineruku dan Omuniuum di Bandung, C2O di Surabaya, misalnya) menjadi acuan dalam membangun KBJ? 

Bobhy: Kalau acuan itu berarti refrensi, tentu saja ya. Jogja tentu mi iya, toh. Karena kita sekolah dua tahun disana dan kita bertemu Jenny. Ada temanku bilang kalau Jogja itu setiap sudutnya adalah tempat belajar. Dan itu benar-benar kita rasakan. Disana saya banyak mendapat inspirasi. Kemudian Bandung. Saya itu sama Sawing, pas pertama kali bentuk KBJ diniatkan memang untuk ke Bandung. Kita datangi beberapa tempat. Kita ke Tobucil, ke Kineruku, Omuniuum. Ada juga IMBooks, kemudian datangi Ultimus. Banyak lah pokoknya. Dan semua mereka itu punya polesan yang tidak melulu tentang buku tapi bervariasi. Saya kira itu sedang marak di beberapa kota. Ada juga C2O di Surabaya, apalagi di Jakarta. Di Tobucil misalnya yang memperkaya kegiatannya dengan membuka banyak kelas, mulai dari kelas filsafat, kelas biola, merajut atau kerajinan-kerajinan. Di tempat lain juga seperti itu, bervariasi. Dan hampir semua itu sangat dekat dengan musik. Makanya itu menjadi inspirasi kita. Kemudian packaging tempat itu penting. Menarik orang dengan mendesain tempatnya menjadi senyaman mungkin. 

Apakah KBJ memanfaatkan hubungan dengan komunitas lain atau tempat serupa seperti ini? kalau ya, seberapa besar manfaatnya? 

Sawing: Ya, tentu saja. Sedari pertama kita lakukan itu. Sekarang itu komunitas susah kalau mau sendiri-sendiri. Pasti (butuh) dapat dukungan atau sokongan dari komunitas lain. Kalau di Makassar kita bekerja sama dengan banyak komunitas. Di awal kita dapat banyak bantuan dari Kampung Buku, jadi distributornya Ininnawa. Terus yang paling sering itu Vonis Media lah. Kalau Vonis bikin event pasti KBJ ikut terlibat dan sebaliknya juga seperti itu. Banyak lagi komunitas yang lain, baik di kampus atau tempat lain. Dan biasanya kita dipertemukan dengan cara-cara yang unik. Misalnya bertemu dengan Vonis Media sebelum Malino Land dan disana kita diperkenalkan secara luas sama teman-teman di skena musik lokal di Makassar yang membuka peluang kita untuk segera menggelar KBJamming. Padahal KBJamming itu dulu masih angan-angan. 

Bobhy: Dari luar itu ada beberapa yang coba kita ajak bekerja sama. Mungkin kerja samanya tidak (selalu) konkrit dalam bentuk take and give begitu, tapi dalam bentuk gagasan. Misalnya, beberapa bulan kemarin kita ketemu di twitter dengan komunitas Kecil Bergerak yang ada di Jogja. Mereka itu koor-nya seni dan kebudayaan. Salah satu kelasnya itu namanya Kelas Melamun. Jadi Kelas Melamun itu ada peserta kelas mendatangi satu orang yang punya karya atau gagasan penting yang ada hubungannya dengan seni dan kebudayaan. Kita tertarik untuk mengadopsi itu, cuma belum sempat dieksekusi saja.  Kemudian beberapa hari yang lalu C2O di Surabaya berencana menitip produk. Pokoknya kita terus mencari siapa saja yang bisa diajak bekerja sama. Dan juga konsepnya tempat ini kan siapa saja bisa pakai. 

Program reguler KBJ, KBJamming banyak mendiskusikan tentang problematika kota. mengapa tema itu yang diangkat? 

Bobhy: Seja awal itu niatannya kita mau menjadi bagian dari upaya membuat kota ini menjadi, seperti yang dikatakan David Harvey, space of hope. Kita mau ada kabar-kabar baik yang muncul, selain menciptakan ruang-ruang alternatif, ruang-ruang bersama yang menjadi suguhan yang lain di tengah hiruk pikuk kota yang serba tidak pasti ini. kalau kata Ucok Homicide, membangun “kewarasan massal”. Kan di kota ini ada dominasi tema. Semuanya tentang politik. Sementara wacana-wacana yang sebenarnya penting hanya bisa kita dapatkan di ruang-ruang marjinal. Kita sih bermimpi tema seni, tema kebudayaan itu bisa menjadi wacana yang sama, yang bisa dikonsumsi oleh siapa saja. Caranya ya hidupkan ruang-ruangnya itu. Dan KBJ ingin sekali menjadi bagian dari itu. 

Sawing: Jadi waktu "Space of Hope" itu ditulis sama David Harvey, idenya ada dalam arena perdebatan, khususnya di kalangan intelektual. Nah, Space of Hope itu menyajikan sebuah mimpi. Jadi optimisme itu bisa lahir dari ruang-ruang terkecil sekalipun. Bisa ruangnya, bisa orangnya. Kalau di Makassar ini ruang itu, baik secara fisik maupun non fisik atau gagasan kan dikelola secara teknokrat. Tidak dikelola secara, sebutlah berbudaya. Alhasil tata kota ini menggerusi ruang bersama. Jalan raya kan tidak perlu selebar itu kalau kita mau silaturahmi seperti biasa. Cuma karena ada kebutuhan ekonomi yang lebih besar, makanya jalan raya itu dibikin jadi sangat lebar biar mobil-mobil bisa berjalan. Kemudia orang-orang terima saja dengan itu. Tapi kemudian muncul Kampung Buku, muncul Filosofia, muncul Kedai Buku Jenny dan tempat-tempat lain yang mencoba menegasikan itu dengan caranya masing-masing. 

Setelah seperti sekarang, apa rencana KBJ yang lain? 

Bobhy: Kalau secara bisnis, kita ingin terus berkembang. Kalau ada orang yang mau jadi investor kita sangat terbuka untuk itu. Koleksi kita tentunya masih sangat terbatas. Makanya kita ingin terus ekspansi disitu. Terus seperti yang saya bilang tadi, kita mau tempat ini semakin menghasilkan banyak karya. Semakin banyak orang kesini untuk berkarya atau menikmati karya. Kita ingin terus mereproduksi banyak ruang, semakin memperbanyak event-event. Tidak perlu event yang besar tapi lebih bervariasi dan segmen yang bisa terlibat juga semakin banyak. Dan hampir setiap hari kita memikirkan itu. Ketemu, duduk terus ngobrol, “aih bagus kayaknya kalau bikin ki begini”. Hampir tiap hari kita begitu. He-he-he. 

Sawing: Kalau bagi saya yang belum kesampaian sampai sekarang itu, KBJ harus punya terbitan. Mudah-mudahan bisa kesampaian dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi. Terbitannya itu bisa dalam bentuk apa saja, majalah atau website. Intinya kita masih jarang nulis. Reportase event-nya KBJ saja lebih banyak ditulis sama Vonis atau Opium. He-he-he. Terus melanjutkan event-event yang sudah berjalan dengan harapan semakin ramai. sebenarnya kita juga mau punya acara tahunan. Ini yang sedang kita bahas. Acara tahunan ini sekaligus sebagai perayaan ulang tahun KBJ. 

Apa saran kalian untuk teman-teman yang ingin membuat tempat seperti ini? 

Sawing: Bikin saja! Ha-ha-ha. 

Bobhy: kalau menurut saya, kalau ada ide langsung eksekusi saja. Pokoknya kalau ada ruangnya, eksekusi, walaupun pelan-pelan. Itu yang paling penting: ada ruangnya. Di awal itu kita tidak punya banyak modal. Sawing punya duit lebih, sama beberapa orang yang menghargai niatan kita terus membantu. Bayangkan, kan kita di Jogja. Siapa yang ngurus? Ada teman tapi nda bisa juga 100 persen. Tapi kita berpikir, kalau belum ada ruangnya ya susah. Tapi kalau sudah ada ruangnya, kita sudah bisa ukur, apa yang perlu kita tambah, apa yang perlu kita kurangi dan segala macam. Kemudian refrensi juga menjadi penting. Soal selera itu kan sering kali bukan hanya sekedar yang ada di kita, tapi apa yang kita dengar, apa yang kita lihat. Itu akan sangat membantu. Selain itu juga harus punya visi besar. Karena kalau tidak punya visi, kegiatan sudah jalan, so what. Biasanya yang seperti ini umurnya akan pendek. 

Sawing: Berani saja meng-explore metodologi. Kalau belum ada yang berani bikin, coba saja bikin. Karena metodologi itu penting. Kita mau bilang apa tapi kalau caranya itu-itu saja, ceramah terus, ya susah, toh. Kalau misalnya ceramah itu betul-betul berhasil, dari dulu mi tidak ada peperangan. Selesai di Sholat Jum’at, coy. Saya kira metodologi harus diperkaya. Dan yang paling penting, memperlakukan tempatnya itu secara selayaknya. Dikelola secara serius. Manajemennya harus rapi, seperti yang terus kita coba, mudah-mudahan semakin rapi. Kalau hanya terus mengandalkan inisiatif-inisiatif yang tidak terstruktur itu takutnya, lagi-lagi nafasnya tidak panjang. Yang seharusnya bisa lama tapi karena pengelolaannya suka-suka jadi, begitu mi. cepat tutup.

Senin, 03 Februari 2014

RIP Philip Seymour Hoffman

Philip Seymour Hoffman (1967-2014)

"Dan bagi pemerintah, jangan bermimpi ini sudah berakhir. Tahun-tahun akan datang dan pergi, dan para politisi tak berusaha menjadikan dunia tempat yang lebih baik. Tapi di seluruh dunia, muda-mudi akan selalu bermimpi dan mewujudkan mimpinya dalam lagu. Tak ada yang penting yang akan mati malam ini. Hanya beberapa pria jelek di sebuah kapal rongsokan. Satu-satunya yang menyedihkan malam ini adalah beberapa tahun lagi ada banyak lagu indah yang tak bisa kami putar. Tapi, percayalah padaku, lagu-lagu itu akan tetap dibuat. Lagu-lagu itu akan tetap dinyanyikan dan menjadi inspirasi dunia."

- The Count (Philip Seymour Hoffman) dalam The Boat That Rocked (2009)

Minggu, 02 Februari 2014

Navicula: Grunge Memang Sudah Berlalu Tapi Spiritnya Tidak Akan Mati


Navicula untuk #ProtectParadise di Pantai Losari sesaat setelah sampai di Makassar, 15 Desember 2013

Baru saja tiba di Makassar, Navicula, unit Green Grunge Gentlemen asal Bali, langsung menuju Pantai Losari. Bukan sekedar mengunjungi lanskap kota, mereka punya misi tertentu disana. Sudah beberapa bulan belakangan ini mereka aktif untuk mengkampanyekan program bernama Protect Paradise yang bertujuan untuk menyelamatkan habitat Harimau Sumatera. Dengan menggunakan kostum harimau, mereka menghimbau masyarakat untuk ikut serta dalam menjaga lingkungan. Paling tidak dengan tidak merusaknya.

Sebenarnya tujuan utama Navicula datang ke Makassar adalah untuk jadi penampil pada helatan Rock In Celebes 2013 di hari terakhir, Minggu, 15 Desember 2013. Kunjungan kali ini adalah penampilan perdana mereka di depan penonton Kota Daeng. “Ini pertama kalinya kami tampil disini. Kalau sekedar singgah dan mencicipi Coto Makassar udah sering. Tapi malam ini kita berpesta bersama,” Sapa Roby, vokalis Navicula, kepada penonton Rock In Celebes 2013.

Sebelum tampil di panggung Rock In Celebes 2013, OPIUM menemui mereka untuk berbincang-bincang seputar kegiatan bermusik mereka. Dengan sangat ramah, Roby, Dankie, Made dan Gembul menjawab seluruh pertanyaan yang kami ajukan. Berikut hasil wawancaranya:

Kalian menyebut musik kalian sebagai “Green Grunge Gentlemen”, bisa jelaskan kepada pembaca OPIUM, musik seperti apa itu?

Sebenarnya yang membuat titel “Green Grunge Gentlemen” itu adalah media di Bali. Ada satu media, namanya Majalah The Beat, awalnya mereka yang menyebut istilah itu beberapa kali. Akhirnya kita pakai saja istilah yang sudah familiar di skena musik Bali waktu itu, untuk men-describe Navicula. Kalau “Green” karena isu yang kita sampaikan banyak mengenai lingkungan. Kalau “Grunge”, sebenarnya kita main musik apa aja sih. Basically Rock. Cuma kami tidak menampik bahwa musik alternatif rock 90-an atau grunge yang paling banyak memengaruhi kami. Jadi okelah pakai “grunge” karena influence terbesar. Habis itu, “Gentlemen” karena kita batangan semua. Ha-ha-ha.

Navicula sangat sering menyampaikan pesan sosial dan aktivisme pada setiap lagunya. Mengapa demikian?

Sebenarnya kalau kita melakukan kegiatan berkesenian itu artinya kan ada sesuatu yang diekspresikan, ada sesuatu yang ingin disampaikan. Entah itu perasaan cinta, senang, marah, sedih, semua lah. Itukan ekspresi perasaan. Kalau kami sih percaya setiap generasi itu pasti ada (tindakan) revolusinya. Kalau kami pikir sih revolusi yang ingin kami lakukan di generasi kami ya itu, banyak topik tentang sosial terutama lingkungan. Kami merasa topik pelestarian lingkungan itu adalah topik yang urgent dan sangat sentral saat ini. Dan bahayanya, kerusakan lingkungan itu sudah sangat masif di zaman kita ini.

Menurut Navicula sejauh mana musik bisa mengubah keadaan tersebut?

Kami tidak berambisi banyak bahwa kami akan melakukan banyak perubahan. Kami hanya ingin menjadi bagian dari sebuah perubahan dengan cara yang kami bisa. Dan kami tidak muluk-muluk. Kami bukan ilmuwan, bukan orang LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), bukan apa-apa. Kami hanya ingin terlibat dengan cara yang kami bisa yakni sebagai musisi. Apa yang musisi bisa lakukan? Ya bikin lagu, bikin konser, bikin merchandise, bikin video klip yang berkaitan dengan isu itu. Itu yang bisa kami lakukan.

Lalu apa tanggapan kalian atas anggapan kalau era grunge telah berlalu?

Ya memang. Musik memang sudah berlalu. Tapi namanya spirit-spirit itu kan nda bisa mati. Musik itu sama dengan fashion. Dia akan terus berputar. Jadinya zaman grunge, 90-an sudah lewat. Tapi style itu akan terus retro.

Sebelumnya penonton Rock In Celebes 2013 juga menyaksikan penampilan band grunge, ZORV yang sangat menarik. Menurut kalian bagaimana perkembangan musisi grunge Indonesia saat ini?

Ada buku tentang grunge di Indonesia yang ditulis sama Yoyon eks Klepto Opera, sekarang Balerina Killer. Tulisan Yoyon di buku itu menarik. Dan tulisannya itu banyak benarnya. Kalau kita lihat, grunge itu kan ada eranya. Ada beberapa masanya. Yang pertama waktu pertama kali Nirvana mem-booming di seluruh dunia. Kalau generasi kedua itu adalah generasi pasca meninggalnya Kurt Cobain. Nah itu generasi kedua. Foo Fighter, Stone Temple Pilot, Silver Chair, post-grunge lah. Generasi ketiga sekarang adalah generasi retro. Zamannya bangkit lagi. Itu menarik dan itulah yang terjadi saat ini. Kalau Navicula masuk kategori mana? Ya Navicula masuk generasi pertama. He-he-he.

Beberapa personel Navicula saat ini sedang terlibat side project. Bagaimana mengatur waktu sehingga Navicula bisa tetap berjalan?

Ya kalau kami memberikan kebebasan aja. Semua orang punya sisi yang mau diekspresikan dengan cara masing-masing. Navicula sangat membuka ruang ekspresi itu. Kita tidak pernah membatasi. Kalau untuk masalah waktu, ya waktu sangat terbatas kan. Semua orang cuma dikasi waktu 24 jam. Yang bisa kita lakukan ya manage.

Apakah tidak ada ketakutan suatu saat akan ada tabrakan jadwal?

Kalau tabrakan jadwal sudah sering. Tapi so far so good, semua itu aman-aman aja. He-he-he.

Navicula sudah sempat dikontrak label besar (Sony BMG), mengapa lebih memilih kembali ke label independen?

Ya iyalah. Major label udah enggak zaman. Udah runtuh. He-he-he. Zaman major label dan indie label itu kan udah lewat sepuluh tahun yang lalu. Kalau sekarang kan udah enggak ada lagi zaman-zaman kayak begitu. Sekarang udah mencair kan. Sekarang itu yang ada adalah real-deal. Kamu dari label manapun, sepanjang kamu bisa dapat produser, tentu masih bisa produksi musik. Malah sekarang band bisa melakukan crowd funding. Industri udah berubah. Terutama dengan adanya internet saat ini.

Bagaimana prosesnya hingga bisa main di Rock In Celebes 2013?

Kayaknya kami udah tiga kali mau main di Rock Celebes ini. Tapi enggak jadi terus. Terus kenapa tahun ini bisa, ya mungkin pas. Yang mentok itu selalu antara jadwal tabrakan dengan acara lain dan budget. Jadi sekarang jadwal oke, budget oke, ya udah jalan.

Terakhir, bagaimana tanggapan kalian tentang kota Makassar?

Ya, Makassar adalah kota terbesar di Indonesia Timur dan kami excited sekali untuk main disini. Karena Rock In Celebes ini udah tahun keempat. Kami pikir itu adalah acara sangat konsisten. Dan kami sangat respek sekali dengan konsistensi. Sama kayak kami dengan musik. He-he-he.

*Hasil wawancara ini juga dimuat di Opium Magazine #46