Rabu, 01 April 2015

Mati Bahagia Cara Semakbelukar


Mungkin Semakbelukar serupa penggalan puisi Chairil Anwar, “Sekali berarti, sudah itu mati”. Grup folk melayu ini menempuh jalan bubar saat musik mereka ramai dibicarakan. Album terakhir mereka, semakbelukar, diapresiasi tinggi dan diakui sebagai salah satu rilisan terbaik tahun 2013 oleh banyak pengamat. Menyusul kemudian penghargaan album terbaik ICEMA 2014 dan album terbaik versi Majalah Tempo pada tahun berikutnya.

Album semakbelukar ini memang istimewa. Bernafaskan musik melayu tradisi dengan bebunyian akordeon, gendang melayu, mandolin dan jimbana. Ia menggebrak di tengah bergairahnya musik folk tanak air. Mengubah pandangan negatif terhadap musik “Metal, Melayu Total” yang ramai satu dekade belakangan ini. “Penuh keserhanaan tanpa berusaha menjadi avant garde”, mengutip Farid Amriansyah ((AUMAN)).

Saya sendiri mendengarkan Semakbelukar secara sepotong-sepotong sejak 2011. Saya baru sempat mendengarkan mereka secara utuh pada awal tahun ini lewat album Terlahir & Terasingkan: Antologi Semakbelukar 2009-2013. Jika album terakhir mereka sebelum bubar berlabel mengagumkan, saya merasa album antologi ini lebih dari itu. Entah apa namanya, yang jelas album yang terdiri dari dua keping CD ini lebih dari sekedar mengagumkan. Magis, emosional, entahlah.

Dibuka dengan lagu-lagu dari album era Belukaria Orkestar yang penuh aura positif. Ada “Salam” sebagai pembuka, seakan mengetuk pintu para pendengar. Lalu “Awal & Akhir” dan “Lebah” yang menunjukkan sisi keislaman dalam budaya Melayu. Juga “Sejuknya Matahari” yang sangat saya sukai liriknya.

CD pertama ini kemudian dilanjutkan dengan komposisi Semakbelukar yang berada di EP Drohaka. EP yang dirilis via netlabel Yes No Wave ini berisi tiga lagu yang menjadi cinta pertama saya pada Semakbelukar; Be(re)ncana, Gita Cempala, dan Malasmarah. Be(re)ncana tersusun dari musik melayu dengan bunyi akordeon yang mengiris dan lirik juara tentang ketidaksempurnaan. Karena sempurna itu hanya sebuah rencana // Karena sempurna itu hanya sebuah bencana. Gita Cempala adalah sebuah enigma yang mengasyikkan bagi saya. Berlirik sastra melayu lama saya rasa. Sedangkan Malasmarah adalah lagu favorit yang liriknya paling sering saya kutip. Rasa marah adalah anugerah untuk kita yang berfikir // Maka marahlah kepada semua hal yang rusak dan merusak // Rasa malas adalah anugerah untuk kita yang berfikir // Maka bermalaslah untuk lakukan semua hal yang tak berguna.

Proyek solo sang vokalis David Hersya juga dimasukkan di album antologi ini. Pada bagian ini kita sangat bisa merasakan metamorfosis musikalitas seorang David Hersya yang kemudian berdampak pada Semakbelukar itu sendiri. Sempat bernuansa Jazz pada “#1” dan “Kemarin, Hari Ini dan Esok”. Lalu sound yang sangat Brit-Rock hadir pada “No Exit”. Dan yang paling mengejutkan adalah track “Out of My Face” yang terdengar punk rock liar. Kemudian hadirlah lagu cover “Renungkalah” yang teduh namun sangat emosional bagi saya. Saya sempat berkaca-kaca pada bagian ini. Lagu ini terasa seperti sebuah pengantar “pertobatan” David Hersya, paling tidak itu yang saya rasakan.

CD kedua album ini adalah rilis ulang EP self-titled yang membawa nama Semakbelukar semakin dikenal pada tahun 2013. Bagi saya bagian yang berisi delapan lagu ini memang dipersiapkan untuk sebuah kematian. Tema putus asa dan sindirin terasa pada lagu pembuka, “Seloka Beruk”. Adat diinjak budaya ternoda // Semenjak beruk menjadi pemimpin. Pada bagian lain, Halal dan haram pun dimakan // berurat berakar darah dicandu. Tema serupa juga terasa pada lagu “Celaka”.

Lain halnya dengan “Kalimat Satu”. Saya merasakan semangat perjuangan pada lirik nomor ini. Biarpun rebah tiada alasan untuk berubah // Biarpun terbuang tiada henti berjuang. Kemudian rasakan keteduhan musik Semakbelukar lewat lagu-lagu berikutnya; “Merujuk Damai”, “Berlayar di Daratan”, “Dendang Lalai”, dan “Pena Tak Bertinta”.

Album ini ditutup dengan lagi perpisahan yang menyenangkan. Lewat “Perlahan Tapi Pasti” Semakbelukar seperti ingin berkata tidak boleh ada kesedihan setelah grup ini tiada. Walaupun pada kenyataannya saya yakin banyak orang yang terharu dan merasa kehilangan. Belum berhenti // sampai saatnya nanti // ketika jiwa dan raga ini kembali pulang // takkan terulang. Lalu dilajutkan dengan Coba lakukan semua dengan ceria // coba lakukan dengan keikhlasan dan dengan rasa cinta // Perkara ini belum seberapa // perlahan kita pasti bisa. Pada bagian ini saya sangat yakin bahwa Semakbelukar mati dengan Bahagia.

Semakbelukar memang sudah tiada. Namun hikayat tentangnya pasti akan bertahan lama. Saya rasa tugas kita adalah terus merawat memori ini.

Minggu, 29 Maret 2015

Festival Anti Korupsi Makassar

Simponi di Festival Anti Korupsi MARS, berkampanye soal anti korupsi dan penghentian kekerasan terhadap perempuan lewat musik mereka

Ford Rotterdam tumpah ruah oleh manusia tadi malam. Festival Anti Korupsi penyebabnya. Festival ini diselenggarakan oleh Masyarakat Anti Korupsi Sulawesi Selatan (MARS). Hadir tokoh-tokoh yang selama ini getol menyuarakan pemberantasan korupsi seperti Qassim Mattar, Alwy Rachman, Dadang Trisasongko juga Ketua KPK non aktif, Abraham Samad. Mereka semua memberikan orasi, menyebarkan semangat anti korupsi kepada peserta festival yang didominasi oleh anak muda. Kampanye Anti Korupsi juga dilakukan oleh para pekerja seni. Teater, pembacaan puisi, pembacaan dongeng untuk anak-anak, juga pertunjukan musik. Penampil yang paling mengundang riuh tentu saja Simponi dan Robi, vokalis band Navicula, yang tampil dalam set akustik.

PANJANG UMUR PERLAWAN!


Minggu, 15 Maret 2015

Merayakan Makanan a la Laksmi Pamuntjak


“Kami tahu bagaimana harus hidup dalam kapsul masing-masing, dan karena kami bukan sepasang kekasih, kami jarang menggunakan keheningan sebagai alasan untuk memulai pertengkaran. Tapi begitu makanan mengejawantah di wajan, menghias piring, mengisi ruang, yang ada hanya percakapan.”

Tidak bisa terbantahkan bahwa budaya kuliner Indonesia sangatlah kaya. Khazanahnya terbentang dari Aceh sampai Papua, dengan ciri khas dan cita rasanya masing-masing. Beberapa diantaranya bahkan telah diakui sebagai makanan terenak di dunia.

Tapi sayangnya belum terlalu banyak yang membahas kekayaan kita yang satu ini. Belakangan memang muncul beberapa program televisi tentang ragam kuliner Indonesia. Tapi keseringannya penonton hanya dibuat terpana pada pembawa acaranya yang berbodi aduhai dan berpenampilan cool dengan tato di sekujur lengan. Ada pula acara jalan-jalan sambil makan-makan yang sayangnya hanya berakhir pada kata “maknyus” yang kemudian menjadi ikonis. Kesemuanya belum terfokus pada si makanan itu sendiri.

Angin segar baru muncul pada tahun 2014 lalu. Upaya mainstreaming makanan sebagai pusat pembahasan suatu topik mulai nampak.  Dimulai dengan film Tabula Rasa yang bercerita tentang kelezatan masakan Padang, Majalah Tempo yang membuat Edisi Khusus Antropologi Kuliner Indonesia, juga sebuah novel dari Laksmi Pamuntjak, Aruna dan Lidahnya. Judul buku yang terakhir yang kemudian akan diulas dalam tulisan ini.

Aruna dan Lidahnya berkisah tentang Aruna, seorang perempuan yang bekerja sebagai Epidemologist (namun ia lebih senang disebut sebagai “ahli wabah”). Ia memilki dua orang sahabat dengan status yang sama dengan dirinya: belum niat menikah di usia yang sudah kepala tiga. Bono sang chef dengan spesialisasi Nouvelle Cuisine serta Nadezhda, penulis perjalanan dan makanan yang namanya sudah sering muncul di majalah dan web ternama. Ketiganya dipersatukan dalam obsesi yang sama: makanan.

Saat Aruna diberi tugas untuk menyelidiki wabah penyakit di beberapa kota di Indonesia, Ia mengajak kedua temannya tersebut untuk sekalian mencicipi kuliner daerah yang dikunjungi. Bono dan Nadezhda yang lebih akrab dengan western food, sangat tertarik lantas mengiyakan ajakan tersebut. Banyak hal yang mereka temui di balik makanan yang mereka santap, mulai dari sejarah lokal, agama dan kepercayaan, sampai resep makanan baru yang benar-benar tidak terduga. Semuanya mengalir dalam balutan kisah yang manis sekaligus mengharukan.

Dibanding dengan novel sebelumnya, Amba, kisah yang dibangun oleh Laksmi Pamuntjak dalam novel ini terasa lebih mudah untuk diselami. Narasi dan dialognya sederhana walau dibumbui dengan istilah-istilah teknis yang perlu dipahami lebih lanjut. Laksmi sangat pandai merancang kisah dan membangun dialog yang begitu mengena kepada pembacanya. Setiap masakan diceritakan secara mendetail hingga kita seperti bisa merasakannya juga. Produksi air liur saya meningkat di beberapa bagian novel ini.

Bagi yang tidak akrab dengan dunia epidemologi seperti saya, novel ini mungkin akan sedikit membosankan di bagian awal. Namun setelah itu cerita mengalir begitu menyenangkan. Bukan hanya kisah percintaan dan pengkhianatan yang disajikan, kita juga disuguhi dengan berbagai pengetahuan yang sangat bernutrisi. Laksmi memperindah novel ini dengan kutipan dari beberapa penulis dunia, mulai dari Brillant-Savarin hingga Micheal Pollan.

Sungguh seperti ajakan untuk merayakan makanan yang lebih dari sekedar makan sampai perut terasa kenyang.

Senin, 09 Maret 2015

Beberapa Harapan di Hari Musik Nasional

Sejak 2013 setiap  tanggal 9 Maret diperingati sebagai Hari Musik Nasional. Dari berbagai media sosial terlihat topik yang hangat diperbincangkan adalah “masihkah musik nasional punya harapan?”. Pertanyaan seperti ini sudah sangat klise sebenarnya. Ia hadir setiap tahun mengisi ruang-ruang diskusi para pemerhati dan pelaku musik itu sendiri. Bagi sebagian pihak yang sudah mulai putus asa, harapan bagi musik Indonesia sudah sangat tipis. Di tengah momok utama bernama pembajakan, ruang gerak para musisi dianggap sudah semakin sempit. Musik Indonesia seperti tidak berdaya mengikuti era yang serba digital sekarang ini.

Tapi benarkah sepenuhnya demikian?

Mari luangkan sedikit waktu untuk lebih jeli melihat kenyataan. Ada beberapa harapan yang perlu terus dipelihara agar musik Indonesia terus hidup dan berkembang. Yang pertama, dan mungkin ini yang paling menggembirakan, adalah produksi musik di Indonesia semakin merata. Musik Indonesia hari ini bukan hanya Pulau Jawa. Daerah lain yang dulu tidak pernah terdengar saat ini mulai menggeliat. Bali semakin memperlihatkan eksistensinya. Sumatra terus mengejutkan lewat (((AUMAN))), Semakbelukar, dan kawan-kawannya. Sulawesi kini tak hanya Makassar, ada Kota Palu yang skenanya sangat menjanjikan. Kalimantan terus berkembang lewat musik Metalnya. Benar-benar gugusan musik yang sangat layak untuk diperjuangkan.

Kabar baik lainnya, tren membeli rilisan fisik kembali bergairah. Bukan hanya dalam bentuk cakram CD, kini rilisan dalam bentuk kaset pita dan piringan hitam atau vinyl kembali dicari. Hal ini berdampak pada banyaknya pilihan bagi para musisi dalam menjual karyanya, tentu saja bukan hanya dalam bentuk digital. Belum lagi tren lahirnya penggemar garis keras yang rela mengeluarkan kocek lebih untuk mengoleksi berbagai macam merchandise idolanya. Jika hal ini dimanfaatkan oleh para musisi tentu akan mendatangkan keuntungan lebih yang sangat lumayan untuk terus menghidupi musik mereka. Seringai mungkin salah satu contoh terbaik dari suksesnya memaksimalkan semua potensi pendapatan yang ada.

Mulai meratanya sebaran musisi dan kembali bergairahnya rilisan fisik turut membawa angin segar bagi festival musik di berbagai daerah. Bak jamur di musim hujan pesta musik tahunan tumbuh beramai-ramai dan terus menyebar ke berbagai macam genre. Di ranah musik keras tak kurang dari Hammersonic, Bandung Berisik, Rock In Celebes, Rock In Solo, dan Kukar Rockin’ Fest terus menghajar telinga para metalhead tanah air. Lalu Jazz diwakili oleh Java Jazz Festival, Makassar Jazz Festival, Jazz Gunung, hingga Ngayogjazz. Belum lagi festival lintas aliran yang juga rutin digelar. Hal ini tentu saja ikut menggerakkan roda perekonomian, bukan hanya bagi musisi itu sendiri tapi juga bagi daerah yang menyelenggarakan festival-festival tersebut.

Lalu bagaimana mengatasi pembajakan? Bukankah permasalahan ini yang menjadi momok terbesar bagi perkembangan musik Indonesia? Memang harus diakui kejahatan kriminal bernama pembajakan menjadi musuh terbesar bagi para musisi Indonesia. Memang kita telah memiliki Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta. Namun penegakan hukum dari aparat harus diakui masih sangat lembek. Tapi apakah keadaan seperti  ini  akan terus didiamkan? Tentu saja tidak dong.

Perlawanan balik atas aksi pembajakan yang merugikan seharusnya menemui momentumnya saat ini. Presiden Jokowi yang dikenal sebagai penggemar musik baru-baru ini membentuk Badan Ekonomi Kreatif. Dalam sebuah wawancara, Triawan Munaf yang ditunjuk untuk mengepalai institusi ini mengatakan salah satu prioritas utama Badan Ekonomi Kreatif adalah memberantas tindak pembajakan. Tentu saja ini adalah sebuah kabar segar. Kampanye anti pembajakan yang dilakukan oleh pelaku musik tanah air akhirnya mendapat dukungan nyata dari Pemerintah. Kita tinggal menunggu efektifitas kerja dari Badan Ekonomi Kreatif ini.

Beberapa harapan untuk musik Indonesia diatas mungkin akan percuma bila tidak diiringi oleh niat dan dukungan dari para stake holder. Musisi tentu tak bisa berjuang sendiri. Ia butuh dukungan dari semua pihak, mulai dari pemerintah, pelaku bisnis, pemerhati sampai penikmat musik itu sendiri.

Selamat Hari Musik Nasional. Semoga lekas berjaya. Kami menunggu dirimu untuk rayakan.

Kamis, 01 Januari 2015

Album Lokal Favorit 2014



Mungkin saja 2014 terbuat dari keadaan yang sangat menjengkelkan. Mulai dari proses pemilu yang menguras emosi hampir sepanjang tahun juga waktu yang tak juga berjodoh untuk mempertemukan saya dengan Dosen Pembimbing Skripsi. Masya Allah, malah curhat. Untung saja masih ada musisi kesayangan yang tahun lalu terus menghasilkan lagu-lagu yang enak didengar. Untuk itu, saya pilihkan beberapa yang menjadi favorit saya.

 Kalau sedang lowong silahkan dibaca dan ikut mendengarkan. Tabe’

Tentang Rumahku – Dialog Dini Hari

Dialog Dini Hari adalah cinta pertama saya terhadap musik folk Indonesia. Rasa suka itu semakin bertambah lewat Tentang Rumahku. masih dengan kekuatan yang sama, musik sederhana nan menenangkan dan lirik puitis yang begitu menyenangkan. Yang berbeda adalah album ini terasa lebih berenergi, baik dari beat dan cerita yang diusung. “Gurat Asa” misalnya, selalu memberikan begitu banyak semangat bagi saya. Sangat enak didengarkan di pagi hari menjelang beraktifitas. “Hiduplah Hari Ini” lain lagi. Lagu ini adalah ajakan untuk selalu bersyukur. Dengan segala tantangan hidup yang kita hadapi sudah seharusnya kita selalu berusaha untuk “damaikan diri…”. Lahirkan keajaiban dari tanganmu” pada penutup lagu ini adalah favorit saya. Coba pula dengarkan “Tentang Rumahku” dan “Lagu Cinta” yang dinyanyikan bersama Kartika Tjahja, maka album ini adalah teman yang ampuh untuk menghadapi hari.

Alkisah – Theory Of Discoustic

Sungguh bukan karena band ini berasal dari Makassar hingga saya memasukkannya di daftar ini. Saya mendengarkan mereka pertama kali pada akhir 2010 saat menjadi band pembuka The Trees and The Wild di Unifa. Lama tak terdengar, mereka muncul kembali dengan membawa Dialog di Ujung Suar, mini album yang begitu matang. Belum terlalu bosan dengan Dialog di Ujung Suar, mereka kembali merilis EP Alkisah. Masih dengan interpretasi atas budaya Bugis-Makassar, namun mini album ini terasa lebih serius, baik dari segi musikalitas juga proses penggarapannya. Jika Dialog di Ujung Suar hanya disebarkan via internet, Alkisah dirilis dalam bentuk fisik, walau sangat sederhana.

Lagu favorit saya di album ini adalah “Satu Haluan” dan “Lengkara”.  “Satu Haluan” bercerita tentang para pelaut ulung yang katanya nenek moyang orang Indonesia. Lagu ini jelas adalah bentuk lain dari semboyan kuno pelaut Bugis-Makassar: Le’ba kusoronna biseangku, kucampa’na sombalakku, tammamelokka punna teai labuang (telah ku kembangkan layarku, telah ku pasang kemudiku, lebih baik tenggelam daripada melangkah surut). Sedangkan “Lengkara” adalah penerjemahan atas tradisi Mappalili, ritual kepercayaan yang dilaksanakan setiap awal masuk musim tanam. “Seruan awal hari bernyanyi merasuk pusaka/Sambut awal masa berganti merayu musim kesuburan”, Lirik lagu ini sangat menggambarkan bagaimana semangat masyarakat petani dalam menyambut ritual tersebut.

Tak pernah mudah menulis lirik berbahasa Indonesia. Tapi Theory of Discoustik kembali membuat lagu berlirik Bahasa Indonesia yang menyenangkan. Lewat EP Alkisah ini mereka membuktikan bahwa paduan musik dan lirik yang menarik bukanlah hal yang mustahil. Keduanya tentu harus digarap serius untuk menghasilkan lagu yang baik. Saya sepakat dengan seorang teman, album ini sangat enak didengarkan dalam sebuah perjalanan jauh. Musik dan liriknya akan menyatu dengan pemandangan alam yang kita lewati.

Gajah – Tulus

Karir Tulus begitu mulus sebagai solois pendatang baru di jagat musik Indonesia. Tentu saja bukan sebuah keberuntungan, karena memang Tulus sangat bertalenta di bidang ini. mendapat begitu banyak perhatian di album perdan, Tulus memantapkan posisinya sebagai salah satu solois sekaligus singer-song writer terbaik di negeri ini lewat album Gajah. Dibuka dengan ”Sepatu” yang lansung menjadi hits sejak diputar serentak di radio seluruh Indonesia. Lagu ini memberikan perumpamaan yang begitu pas pada cerita cinta yang tidak bisa bertemu. “Kita adalah sepasang sepatu selalu bersama tak bisa bersatu.” Sadis! Lalu ada “Gajah”, lagu yang terinspirasi dari masa kecil Tulus. Tema cinta yang berbeda hadir dari “Jangan Cintai Aku Apa Adanya”. Lagu ini semacam bantahan atas gombal murahan “cintai aku apa adanya”. “Jangan cintai aku apa adanya. Jangan/Tuntutlah sesuatu biar kita jalan kedepan.”

Album pertama adalah pembuktian, album kedua adalah ujian atas eksistensi. Tulus melaluinya dengan mulus dalam waktu singkat.

Fateh – Morgue Vanguard x Still

Rapper paling berbahaya di Indonesia kembali! Pasca bubarnya Homicide pada tahun 2007, Herry Sutresna a.k.a Morgue Vanguard begitu dirindukan. Setelah hanya menjadi “tamu” di lagu “Abrasi” milik BRNDLS dan  berkolaborasi dengan EyeFeelSix di lagu “Mimpi Basah Pembangkang Sipil”, Morgue Vanguard akhirnya kembali dalam sebuah album utuh. Bersama Still Ia melontarkan kemuakannya (tentu juga kemuakan banyak orang) lewat sebuah Collabo EP, Fateh.

Secara garis besar album ini bercerita tentang permasalahan akut yang masih terjadi hingga saat ini: konflik agraria dan penindasan oleh aparat. Dibuka dengan “Volume 1, Bagian 8, Bab 32” yang menampilkan beberapa aksi demonstrasi sebagai latarnya. Lalu disusul kemudian oleh “Fateh” dan “Kondor Terjaga” yang melontarkan bait yang begitu panas secara bertubi-tubi. Favorit saya di album ini adalah “Dol Goldur”. Tak seperti biasanya, Morgue Vanguard terdengar lebih birirama di bagian ini.

Fateh adalah sebuah comeback yang cukup menendang. Semoga berlanjut, Bung Ucok.

Sneakerfuzz – Morfem

Tentu menyenangkan mendapati band kesukaan sangat produktif menghasilkan karya-karya berkualitas. Itulah yang terjadi pada Morfem. Tak berjarak begitu jauh dari album Hey, Makan Tuh Gitar!, unit fuzz-rock ibukota ini kembali merilis Sneakerfuzz, sebuah mini album berisi enam lagu. Hal ini terjadi setelah Morfem memenangi sebuah kompetisi yang diadakan oleh Converse. Hadiah dari kompetisi tersebut ya pembiayaan penuh atas pembuatan EP Sneakerfuzz ini.

Kesemua lagu di album ini begitu menyenangkan. Perpaduan musik 90-an kesukaan Pandu fuzztoni dan 70-an andalan Jimi Multazham berpadu menghantam telinga yang mendengarkannya. “Kubikal Rock” adalah pembukaan yang langsung mengajak untuk berjingkrak. Disusul dengan “Planet Berbeda” yang liriknya membuat saya berdecak kagum. Lirik story-telling yang dibangun oleh Jimi adalah kekuatan lagu ini. “Kami dari planet berbeda/Berjumpa di tengah samudra/Aku memilih Bob Dylan/Sedang dia Mumford and Son/Namun kita tak terpisahkaní”.

Favorit lainnya adalah “Tak Punya Rasa Ketakutan” dengan sound yang terpapar punk 70-an. Kemudian ditutup oleh nomor anthemic “Rayakan Pemenang”, sebuah lagu yang didedikasikan untuk para pejuang hidup, siapapun dia saya rasa.

Panjang umur, Morfem.

***


Selamat tahun baru. Semoga musik Indonesia tetap keren tahun ini!

Rabu, 17 Desember 2014

Tamasya Musik Keras di Rock In Celebes 2013


Setelah diserbu oleh gigs jazz di bulan November, giliran musik keras yang menutup akhir tahun Kota Makassar. Rock In Celebes (RIC), pesta rock tahunan yang telah mendapat pengakuan sebagai festival rock terbesar di Indonesia Timur kembali dihelat. Selama empat hari, 12-15 Desember 2013, festival ini sungguh memanjakan para penikmat musik berisik Kota Daeng.

Ada beberapa perbedaan yang ditampilkan Chambers Entertainment selaku penyelenggara pada RIC 2013 ini. jika biasanya digelar pada pertengahan tahun, tahun ini RIC sengaja diadakan pada bulan Desember, bersamaan dengan helatan Celebes Clothing Fest. Kedua kegiatan besar ini disatukan waktu pelaksanaannya dan dibungkus dalam satu perayaan bernama Chambers 10Th Festival. Kegiatan ini sekaligus untuk merayakan ulang tahun ke-10 unit usaha Chambers.

Bersamaan dengan waktu pelaksanaan yang diperpanjang menjadi empat hari, RIC 2013 juga menghadirkan lebih banyak penampil. Setidaknya ada 40-an band yang hadir memanaskan moshpit, baik yang bertaraf lokal, nasional sampai Internasional.

Setiap hari, waktu main para penampil dibagi menjadi dua sesi. Siang untuk band voting dan band lokal. Sedangkan untuk malam hari giliran headliner dan co-headliner yang memanaskan stage. Hal ini membuat distribusi penonton untuk setiap penampilan tidak merata. Penonton sangat sedikit pada sesi siang dan baru mulai ramai ketika malam hari yang diisi oleh band-band yang memang sudah punya nama.

Di hari pertama, Kamis, 12 Desember 2013, gemuruh musik mulai terdengar sejak pukul dua siang. Beberapa band lokal dipercaya menjadi pembuka di hari itu. Bonzai yang biasanya memainkan pop manis, kali ini membawakan set rock mereka. Lagu-lagu seperti “Kawan Lama” dan “OMG” dimainkan dengan sedikit lebih keras. Mereka juga sempat meng-cover hits “Still In To You” milik Paramore.

Selain itu ada juga band rock progresif The Finalist yang tetap bersemangat memainkan setlist mereka walau penonton belum terlalu banyak. Empat karya sendiri, “Taklukkan Dunia”, “Bila”, “Malaikat Cinta” dan “Berhasil” cukup memanaskan pembukaan RIC 2013. Setelahnya ada Paniki Hate Light, unit post-hardcore yang sudah cukup punya nama di skena metal Makassar. Band ini cukup ditunggu oleh beberapa penonton yang langsung merapat ketika nama mereka dipanggilkan. Sayang, karena kesalahan teknikal di bagian bass, mereka hanya sempat memainkan dua lagu, “Survival” dan “Time Travel”.

Sebelum rehat maghrib, ada Galarasta yang memberikan warna yang berbeda di RIC 2013 ini. Tetap konsisten dengan musik Raggae, band ini berhasil mengajak penonton untuk bergoyang santai. Nomor “Woyyo” serta dua lagu cover, “Beautiful Disaster” milik 311 dan “Anak Pantai” dari Imanez sukses membuat enjoy penonton sebelum istirahat.

Pada sesi malam penonton mulai terlihat ramai. Mulai pukul tujuh malam, arena konser langsung dipanaskan oleh unit metal kebanggaan Kota Solo, Down For Life. “Prosa Kesetaraan” dipilih menjadi lagu pembuka. Langsung saja moshing dan head-banging terjadi di muka stage. Nomor-nomor andalan seperti “Kami Adalah Api”, “Pesta Partai Bar-Bar” dan “Menuju Matahari” sukses memanaskan arena moshpit. Hits “Pasukan Babi Neraka” sukses menutup penampilan Down For Life yang total membawakan sembilan lagu malam itu.

Selanjutnya ada C.U.T.S, band elektro rock asal Kota Kembang, Bandung. Minus salah satu vokalisnya, penampilan C.U.T.S tetap beringas malam itu. Ykha Amelz, sang vokalis utama tampil casual dengan kemeja putih dan celana panjang hitam. Tapi jangan salah, penampilan perempuan berambut panjang ini tidak sesantai dandanannya. Aksi panggungnya sangat atraktif. Ia berhasil memimpin penonton berjingkrak dan bernyanyi bersama. Lagu yang paling banyak perhatian, apalagi kalau bukan hits “Beringas”. Malah, lagu ini sempat dimainkan dua kali. Kendala teknis di bagian instrumen elektro membuat penonton meminta “Beringas” kembali dimainkan. Kali ini dalam set yang lebih sempurna. Penampilan menawan C.U.T.S ditutup dengan hits pertama di album terbaru mereka, “Teriak Gila”. Penonton betul-betul berteriak gila di bagian ini.

RIC 2013 hari pertama ditutup oleh headliner utama, Chris Carrabba. Diluar dugaan penonton, Dashboar Confessional yang dikonfirmasi sebagai penampil internasional batal datang dengan full tim. Chris Carrabba, vokalis band rock emo tersebut terpaksa tampil solo dengan set akustik. Lagu hits seperti “Vendicated” dan “Stolen” tetap dibawakan, namun tentu dengan rasa yang berbeda. Beberapa penonton terlihat tidak bersemangat. Namun beberapa tetap bertahan di depan panggung. Mungkin mereka adalah penggemar berat Dashboard Confessional atau malah pemuja Chris Caraba yang tampil sangat klimis malam itu.

Di hari kedua, konser dibuka oleh beberapa band lokal potensial seperti Wild Horse, Kemenyan, Pop Is Dead, juga Unremains. Wild Horse yang mengusung Rock and Roll seperti melakukan warming up kepada penonton yang menunggu penampil utama malam itu, The SIGIT. Sedangkan penampilan Kemenyan mengingatkan penonton kepada band Black Metal legendaris, Kiss. Semua personel mereka juga mengecat wajah menjadi putih dengan pola hitam.

Setelah itu giliran gerombolan Punk Rock, Pop Is Dead yang memanaskan panggung. Band ini tampil unik dengan memasukkan unsur instrumen tradisi Sulawesi Selatan ke dalam musik mereka. Suling Bugis-Makassar dan Gandrang Bulo menyatu dengan raungan musik keras yang menjadi akar bermusik Pop Is Dead. Athem penyemangat “My Father Punk Rock” menjadi pembuka. Sing along massal terjadi ketika mereka membawakan “Enter Sadman” milik Metallica. “Angin Mammiri” dalam tempo yang sangat cepat menjadi penutup istimewa band yang akan melakukan tur lima kota pada Februari tahun depan ini.

Selepas break maghrib, kebisingan dibuka oleh band mengejutkan asal Kota Palu, The Box. Mengejutkan karena penonton tidak pernah menyangka ada band sematang mereka yang berasal dari kota seperti Palu. Sebenarnya mereka memainkan modern rock yang besar di awal tahun 2000-an. Yang menarik dari The Box adalah mereka memadukan dasar musikal mereka tersebut dengan alat musik tradisional Palu. Tidak terkesan dipaksakan, bunyian alat musik tiup dan jejeran gamelan menyatu pas dalam musik keras yang mereka mainkan. “melihat penampilan mereka, seperti menemukan harta karun musik di pulau Sulawesi,” kata Wendi Putranto, wartawan majalah Rolling Stone Indonesia.

Lagu yang paling menarik perhatian adalah “Sampai Mati” dan “Tadulako”. “Sampai Mati” dibuka dengan teriakan etnik yang sangat magis lalu disusul oleh music rock yang sangat apik. Sementara itu “Tadulako” dipilih menjadi lagu penutup. Hits yang bercerita tentang pahlawan lokal Kota Palu ini menggunakan bahasa daerah pada bagian lirik.

Berikutnya ada duo The Experience Brother yang siap melanjutkan kebisingan RIC 2013 hari kedua. Hanya memainkan gitar dan drum sudah cukup bagi mereka untuk menampilkan musik ciamik yang sangat berisik. Nomor andalan seperti “Young Man”, “Little Pony” dan “She’s Allright” sukses membuat penonton bersenang-senang lalu bertepuk tangan di akhir lagu.

The SIGIT tampil sebagai penutup RIC 2013 hari kedua. Gerombolan Rock and Roll dari Bandung ini memainkan dua belas lagu, termasuk yang diambil dari album teranyar mereka, Detourn. Hits “Detourne” sendiri dimainkan sebagai lagu pembuka. Langsung saja gerombolan pemuda ugal-ugalan mendominasi muka panggung. Penampilan prima The SIGIT malam itu ditutup dengan anthem pengundang sing along, “Black Amplifier”.

Hari ketiga RIC 2013 menghadirkan ZORV, grup grunge dari Surabaya yang juga mengejutkan. Kwartet pemuda ini memainkan musik alternatif rock 90-an dengan sangat baik. Lagu-lagu dari album pertama mereka seperti “Believe”, “Wealth”, “Lore” dan “Mud” cukup untuk memanaskan festival di sore hari. Tepat sebelum rehat maghrib band yang akan vakum dalam waktu dekat ini mengakhiri pertunjukannya.

Sesi malam hari ketiga dibuka oleh Inlander. Band ibukota ini sangat menarik perhatian dengan sound punk rock yang mereka mainkan. Lagu-lagu sosial-politis seperti “Bombardir”, “Bangkit Melawan” dan “Ekstrimis” dibawakan dengan tempo yang sangat cepat. Total dua belas lagu dimainkan oleh Inlander sebelum menutup penampilan perdana mereka di Makassar.

Setelahnya, kita diajak untuk sedikit menurunkan tempo oleh Suri. Tetap keras, namun musik stoner rock yang mereka mainkan seolah ingin terlihat lain dari beberapa penampil sebelumnya. lagu-lagu seperti “Sjahwat”, “Journey”, “Gendats”, dan “Imago” dibawakan sebagai pengantar sebelum penonton menyaksikan penampil utama malam itu.

Band penutup di hari ketiga adalah unit rock oktan tinggi, Seringai. Para Serigala Militia (sebutan untuk basis penggemar mereka) sudah terlihat berkumpul sesaat sebelum mereka naik panggung. “Dilarang di Bandung” menjadi pembuka kemudian disusul dengan “Kilometer Terakhir” serta hits pertama dari album Taring, “Tragedi”. Langsung saja para begundal-begundal mendominasi moshpit. Lagu-lagu dari album Serigala Militia, seperti “Citra Natural”, “Serigala Militia” dan “Amplifier” juga dibawakan. Sebagai penutup, lagu pengundang sing along massal, “Mengadili Persepsi” yang dimainkan. Kepalan tangan di udara dan teriakan “Individu Merdeka…” langsung riuh sebelum akhirnya Seringai meninggalkan panggung.

Hari terakhir, Minggu, 15 Desember, menjadi puncak keramaian RIC 2013. Di sore hari tampil duta Blues Makassar, The Blues Fresh. Mereka tampil sangat prima dalam tempo tampil lebih dari satu jam. Masih dengan gaya yang sangat genit, vokalis mereka terus menggoda penonton untuk ikut menikmati musik The Blues Fresh yang memang sangat menarik.

Setelah rehat maghrib, malam terakhir RIC 2013 dibuka oleh Kapital, metalhead dari tanah Kalimantan. Mereka mengawali penampilan mereka dengan rekaman lagu “Indonesia Tanah Air Beta”. Cara yang sangat ampuh untuk memancing semangat penonton. Langsung saja “Konsepsi Imajinasi” dimuntahkan sebagai pembuka. Menyusul kemudian “Sistem Munafik”, “Melawan Setan Kesedihan” dan “Restorasi Dua Sisi” dimainkan. Band ini ternyata sudah punya cukup banyak penggemar di Makassar. Riuh crowd tak pernah berhenti di sepanjang penampilan mereka.

Selanjutnya giliran grup Green Grunge Getlemen yang membuat kebisingan. Ini adalah penampilan pertama untuk Roby, Dangkie, Made dan Gembul di Makassar. “Hitung Mundur” dimainkan sebagai pembuka. Selanjutnya, lagu-lagu dengan tema lingkungan seperti “Orang Utan”, “Bubur Kayu” dan “Metropolutan” turut dibawakan. Yang paling menarik perhatian adalah “I Refuse To Ferget” yang didedikasikan khusus untuk pejuang HAM Munir.

Dan tibalah bagi Burgerkill untuk menutup festival RIC 2013 yang tidak terlalu terasa sudah berjalan selama empat hari. Sama seperti Kapital, mereka juga membuka penampilan dengan cara yang sangat nasionalis. Hits legendaris milik Puppen, “Atur Aku” dimainkan sebagai pembuka. Selanjutnya lagu-lagu dari album Venomous seperti “Under The Scars” dan “Only The Strong” juga sukses memanaskan crowd. Meski sempat terjadi sedikit insiden kericuhan antara penonton dan polisi, Burgerkill tetap melanjutkan konser dan menutup RIC 2013 dengan sangat mengesankan.


Sekitar pukul dua belas malam seluruh rangkaian RIC 2013 resmi berakhir. Seiring dengan itu, hadir kebanggaan bagi metalhead Kota Makassar bisa memiliki festival rock sebesar RIC 2013. Sampai jumpa di Rock In Celebes 2014. Tabik!

*Ditulis untuk Majalah Opium Edisi Februari 2014. Diposting kembali di blog ini demi dokumentasi.