Minggu, 21 Juni 2015

Ramadhan di Pulau Sebatik

Atri, Saya, Cheper, dan Tajrim di posko Kecamatan Sebatik Utara.

Marhaban Yaa Ramadhan. Selamat menjalankan ibadah puasa kepada teman-teman yang melaksanakan.

Mumpung lagi bulan Ramadhan, Saya ingin mengenang masa KKN (Kuliah Kerja Nyata) Saya yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan tiga tahun lalu di Pulau Sebatik. Ya sekalian berbagi pengalaman kepada teman-teman yang sebentar lagi akan menunaikan tugas KKN pada bulan Juni – Juli nanti lah.

Kami tiba di Pulau Sebatik pada bulan Juni, Saya lupa tanggal pastinya, setelah terombang-ambing di atas Kapal Tidar milik Pelni selama dua hari dan sempat singgah semalam di Nunukan. Saya baru tahu akan ditempatkan di Desa Sei Pancang bersama tiga teman lainnya pada saat bermalam di Nunukan. Jadi belum ada gambaran sama sekali dan serba menerka-nerka akan seperti apa daerah penempatan kami itu. Saya bernasib satu posko dengan tiga lelaki tangguh tapi tetap lucu-lucu; Tajrim dari Fakultas Ekonomi, Atri dari Fakultas Teknik, dan Rahmat Cheper (seharusnya “Ceper” tapi ditambah huruf “h” biar jadi keren katanya. Hehehe.) dari Fakultas Pertanian. Untuk angkatan pertama ini, jumlah peserta KKN Unhas di Pulau Sebatik berjumlah (hanya) dua puluh orang. Dua puluh orang ini dibagi dalam lima posko di lima Desa. Jadi masing-masing posko akan dihuni oleh empat orang peserta. Namanya juga angkatan pertama, semua serba meraba soal daerah penempatan masing-masing. Tapi malah itu yang membuat KKN ini menyenangkan karena semua hal yang dilakukan akan memberikan efek kejutan dan membawa pengalaman baru.

Kalau tidak salah ingat, kami mendapati bulan Ramadhan pada pertengahan masa KKN. Hal ini membuat persiapan berpuasa menjadi lebih enak karena kami sudah mengenal medan juga orang-orang di sekitar. Pulau Sebatik yang mayoritas penduduknya adalah pendatang yang  bersuku Bugis juga menjadi hal yang membuat proses adaptasi menjadi lebih mudah. Bahkan kami merasa seperti sedang tingal di salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan saja. Selain bahasa yang sudah berakulturasi dengan bahasa Melayu Serawak, hampir semua kebiasaan khas Bugis-Makassar masih akrab disana.

Seperti kebiasaan masyarakat Bugis-Makassar, sehari sebelum memasuki bulan Ramadhan masyarakat Pulau Sebatik juga mengadakan semacam syukuran yang biasa disebut sebagai Baca Doang (membaca doa). Berbagai makanan seperti sokko’ (nasi ketan), ayam kari, ayam goreng juga sup menjadi sajiannya. Kami mendapat beberapa undangan untuk singgah dari beberapa orang yang sudah kami kenal di Kantor Desa atau Kantor Kelurahan. Disini enaknya ber-KKN di desa. Masyarakat masih sangat ramah apalagi terhadap orang-orang pendatang. Kalau cuma ajakan singgah untuk makan hampir setiap hari didapat. Hehehe.

Sehari sebelum Ramadhan juga Tajrim dan Cheper mengajak untuk berbelanja kebutuhan untuk sahur. Saya dan Atri yang pengalaman dapurnya cuma sampai di sajian indomie goreng telur tentu mengiyakan saja. Beras, beberapa lauk-pauk juga sayuran menjadi pilihan. Cheper yang secara meyakinkan mengaku pandai memasak dilipih jadi tukang masak utama. Sialnya, makanan yang  biasa dibuat oleh cheff kami ini adalah masakan dengan cita rasa pedas. Sayur pedas, tempe goreng super pedas, telur dadar juga pedas. Tinggal nasi putihnya saja yang tidak pedas. Kami murka. Atri pun mengutuki Cheper subuh itu. Beruntung, lagi-lagi datang kiriman makanan dari tetangga. Yang paling rajin mengirimi kami makanan adalah Kak Badriah yang biasa dipanggil Kak Bade’. Baik pada saat sahur ataupun berbuka puasa, kami sangat sering dikirimi atau diajak makan di rumahnya yang terletak persis di depan posko kami.

Alternatif tempat sahur kami jika sedang malas memasak adalah Rumah Makan Nelayan yang sangat dekat dengan posko kami. Rumah makan ini ternyata buka sampai pagi. Menu yang disajikan serba seafood dan diolah menjadi berbagai jenis masakan; nasi goreng, mie goreng, sup, sampai tom yam. Harganya juga tidak terlalu mahal untuk ukuran mahasiswa seperti kami. Saya ingat hari terakhir di Desa Sei Pancang sebelum pemulangan kami sepakat untuk sahur di Rumah Makan Nelayan ini. mumpung waktu itu “uang hidup” yang diberikan oleh sponsor masih lumayan, subuh itu kami memesan makanan yang lebih banyak daripada sahur-sahur sebelumnya. ya semacam pesta perpisahan dengan posko lah ceritanya.

Setelah salat subuh biasanya Saya dan Tajrim tidak langsung kembali ke posko. Seperti kebiasaan sebelum masuk bulan Ramadhan, kami selalu menyempatkan ke Dermaga Sei Pancang. Kalau sedang cerah matahari terbit di dermaga ini sangat sayang untuk dilewatkan. Sebelum pukul enam pagi di ujung jembatan akan muncul sebulat kuning besar seperti ingin menghampiri kita. Pantulan cahayanya di laut membentuk segaris emas. Waktu pertama kali melihat sunrise di spot tersebut saya langsung takjub dan datang hampir setiap pagi disana. Momen ini bahkan lebih menarik daripada pemandangan Gunung Kinabalu di Tawau seberang.

Matahari terbit di Dermaga Sei Pancang, Pulau Sebatik.

Ketika matahari mulai merangkak naik, momen menarik lainnya juga penting. Sekitar pukul delapan pagi dermaga mulai ramai oleh tukang ojek yang mengantar orang-orang yang akan menyeberang ke Tawau Malaysia. Kebanyakan dari mereka pergi ke sana untuk berbelanja barang dagangan yang akan dijual kembali di Sebatik. Di dermaga ini pula saya berkenalan dengan beberapa orang yang kemudian menjadi informan kami dalam menyusun program kerja KKN. Bahkan beberapa dari mereka sudah menjadi teman akrab yang sesekali masih saya telepon untuk sekedar menanyakan kabar.

Kegiatan pada siang hari sudah kami alokasikan untuk menjalankan program kerja KKN atau membantu beberapa pekerjaan di Kantor Desa atau di Kantor Kecamatan Sebatik Utara. Kami sempat membantu orang-orang kecamatan untuk mempersiapkan Pasar Ramadhan. Selain akan digunakan sebagai tempat berjualan hidangan berbuka puasa, tempat ini juga rencananya akan dipakai sebagai tempat dilaksanakannya beberapa lomba Ramadhan. Sayang kami keburu pulang sebelum tempat tersebut benar-benar digunakan untuk kegiatan yang sudah disusun tersebut.

Masa menjelang berbuka puasa di Desa Sei Pancang adalah saat paling menyenangkan bagi saya. Apalagi kalau bukan karena hadirnya berbagai macam takjil dan hidangan berbuka puasa yang digelar di Pasar Sei Pancang. Di luar Ramadhan, pasar ini hanya buka pada pada hari Senin, Kamis dan Malam Minggu. Tapi selama Ramadhan pasar ini selalu ramai setiap harinya.

Penganan favorit saya adalah Roti Canai Pakcik. Secara penampilan, canai ini biasa saja sebenarnya. Hanya sebongkah roti tipis dengan siraman kari sapi. Sesimpel itu. Tapi soal rasa canai ini juara menurut saya. rotinya empuk dan lembut saat dikoyak. Gurihnya tipis. Ditambah kuah kari sapi, yang walaupun kaya akan bumbu tapi sangat pas di lidah. Canai yang baik bagi saya adalah perpaduan antara roti dan kuah kari yang rasanya sama-sama nyaman di lidah. Dan bagi saya Roti Canai Pakcik ini masih yang terbaik bagi saya. bonusnya adalah kita dapat melihat langsung atraksi si Pakcik saat membuat roti canainya. Bagaimana adonan roti mulai ditakar lalu dilempengkan kemudian digepengkan adalah hiburan tersendiri saat menanti pesanan kita. Harganya pun sangat murah. Sebuah roti canai dengan kuahnya dapat dibawa pulang dengan Rp. 3.000,- atau satu Ringgit saja.

Roti Canai Pakcik dari Pasar Sei Pancang

Akhir Juli waktu pemulangan kami tiba. Di spanduk posko kami sempat menuliskan kalimat penolakan "Jangan Pulangkan Kami!". Walau terkesan klise di akhir tiap cerita KKN, namun memang ada rasa berat untuk meninggalkan Pulau di ujung utara Indonesia ini. Betul kata orang, "KKN itu momen menyenangkan tapi tidak untuk diulang". Tapi kalau ada kesempatan untuk kesana lagi pasti kami sulit untuk menolaknya. Saya pribadi berjanji untuk kembali berkunjung kesana untuk bertemu kembali dengan orang-orang yang sudah sangat baik kepada kami selama KKN.

Terimakasih Sebatik. Selamat Berpuasa.

Rabu, 01 April 2015

Mati Bahagia Cara Semakbelukar


Mungkin Semakbelukar serupa penggalan puisi Chairil Anwar, “Sekali berarti, sudah itu mati”. Grup folk melayu ini menempuh jalan bubar saat musik mereka ramai dibicarakan. Album terakhir mereka, semakbelukar, diapresiasi tinggi dan diakui sebagai salah satu rilisan terbaik tahun 2013 oleh banyak pengamat. Menyusul kemudian penghargaan album terbaik ICEMA 2014 dan album terbaik versi Majalah Tempo pada tahun berikutnya.

Album semakbelukar ini memang istimewa. Bernafaskan musik melayu tradisi dengan bebunyian akordeon, gendang melayu, mandolin dan jimbana. Ia menggebrak di tengah bergairahnya musik folk tanak air. Mengubah pandangan negatif terhadap musik “Metal, Melayu Total” yang ramai satu dekade belakangan ini. “Penuh keserhanaan tanpa berusaha menjadi avant garde”, mengutip Farid Amriansyah ((AUMAN)).

Saya sendiri mendengarkan Semakbelukar secara sepotong-sepotong sejak 2011. Saya baru sempat mendengarkan mereka secara utuh pada awal tahun ini lewat album Terlahir & Terasingkan: Antologi Semakbelukar 2009-2013. Jika album terakhir mereka sebelum bubar berlabel mengagumkan, saya merasa album antologi ini lebih dari itu. Entah apa namanya, yang jelas album yang terdiri dari dua keping CD ini lebih dari sekedar mengagumkan. Magis, emosional, entahlah.

Dibuka dengan lagu-lagu dari album era Belukaria Orkestar yang penuh aura positif. Ada “Salam” sebagai pembuka, seakan mengetuk pintu para pendengar. Lalu “Awal & Akhir” dan “Lebah” yang menunjukkan sisi keislaman dalam budaya Melayu. Juga “Sejuknya Matahari” yang sangat saya sukai liriknya.

CD pertama ini kemudian dilanjutkan dengan komposisi Semakbelukar yang berada di EP Drohaka. EP yang dirilis via netlabel Yes No Wave ini berisi tiga lagu yang menjadi cinta pertama saya pada Semakbelukar; Be(re)ncana, Gita Cempala, dan Malasmarah. Be(re)ncana tersusun dari musik melayu dengan bunyi akordeon yang mengiris dan lirik juara tentang ketidaksempurnaan. Karena sempurna itu hanya sebuah rencana // Karena sempurna itu hanya sebuah bencana. Gita Cempala adalah sebuah enigma yang mengasyikkan bagi saya. Berlirik sastra melayu lama saya rasa. Sedangkan Malasmarah adalah lagu favorit yang liriknya paling sering saya kutip. Rasa marah adalah anugerah untuk kita yang berfikir // Maka marahlah kepada semua hal yang rusak dan merusak // Rasa malas adalah anugerah untuk kita yang berfikir // Maka bermalaslah untuk lakukan semua hal yang tak berguna.

Proyek solo sang vokalis David Hersya juga dimasukkan di album antologi ini. Pada bagian ini kita sangat bisa merasakan metamorfosis musikalitas seorang David Hersya yang kemudian berdampak pada Semakbelukar itu sendiri. Sempat bernuansa Jazz pada “#1” dan “Kemarin, Hari Ini dan Esok”. Lalu sound yang sangat Brit-Rock hadir pada “No Exit”. Dan yang paling mengejutkan adalah track “Out of My Face” yang terdengar punk rock liar. Kemudian hadirlah lagu cover “Renungkalah” yang teduh namun sangat emosional bagi saya. Saya sempat berkaca-kaca pada bagian ini. Lagu ini terasa seperti sebuah pengantar “pertobatan” David Hersya, paling tidak itu yang saya rasakan.

CD kedua album ini adalah rilis ulang EP self-titled yang membawa nama Semakbelukar semakin dikenal pada tahun 2013. Bagi saya bagian yang berisi delapan lagu ini memang dipersiapkan untuk sebuah kematian. Tema putus asa dan sindirin terasa pada lagu pembuka, “Seloka Beruk”. Adat diinjak budaya ternoda // Semenjak beruk menjadi pemimpin. Pada bagian lain, Halal dan haram pun dimakan // berurat berakar darah dicandu. Tema serupa juga terasa pada lagu “Celaka”.

Lain halnya dengan “Kalimat Satu”. Saya merasakan semangat perjuangan pada lirik nomor ini. Biarpun rebah tiada alasan untuk berubah // Biarpun terbuang tiada henti berjuang. Kemudian rasakan keteduhan musik Semakbelukar lewat lagu-lagu berikutnya; “Merujuk Damai”, “Berlayar di Daratan”, “Dendang Lalai”, dan “Pena Tak Bertinta”.

Album ini ditutup dengan lagi perpisahan yang menyenangkan. Lewat “Perlahan Tapi Pasti” Semakbelukar seperti ingin berkata tidak boleh ada kesedihan setelah grup ini tiada. Walaupun pada kenyataannya saya yakin banyak orang yang terharu dan merasa kehilangan. Belum berhenti // sampai saatnya nanti // ketika jiwa dan raga ini kembali pulang // takkan terulang. Lalu dilajutkan dengan Coba lakukan semua dengan ceria // coba lakukan dengan keikhlasan dan dengan rasa cinta // Perkara ini belum seberapa // perlahan kita pasti bisa. Pada bagian ini saya sangat yakin bahwa Semakbelukar mati dengan Bahagia.

Semakbelukar memang sudah tiada. Namun hikayat tentangnya pasti akan bertahan lama. Saya rasa tugas kita adalah terus merawat memori ini.

Minggu, 29 Maret 2015

Festival Anti Korupsi Makassar

Simponi di Festival Anti Korupsi MARS, berkampanye soal anti korupsi dan penghentian kekerasan terhadap perempuan lewat musik mereka

Ford Rotterdam tumpah ruah oleh manusia tadi malam. Festival Anti Korupsi penyebabnya. Festival ini diselenggarakan oleh Masyarakat Anti Korupsi Sulawesi Selatan (MARS). Hadir tokoh-tokoh yang selama ini getol menyuarakan pemberantasan korupsi seperti Qassim Mattar, Alwy Rachman, Dadang Trisasongko juga Ketua KPK non aktif, Abraham Samad. Mereka semua memberikan orasi, menyebarkan semangat anti korupsi kepada peserta festival yang didominasi oleh anak muda. Kampanye Anti Korupsi juga dilakukan oleh para pekerja seni. Teater, pembacaan puisi, pembacaan dongeng untuk anak-anak, juga pertunjukan musik. Penampil yang paling mengundang riuh tentu saja Simponi dan Robi, vokalis band Navicula, yang tampil dalam set akustik.

PANJANG UMUR PERLAWAN!


Minggu, 15 Maret 2015

Merayakan Makanan a la Laksmi Pamuntjak


“Kami tahu bagaimana harus hidup dalam kapsul masing-masing, dan karena kami bukan sepasang kekasih, kami jarang menggunakan keheningan sebagai alasan untuk memulai pertengkaran. Tapi begitu makanan mengejawantah di wajan, menghias piring, mengisi ruang, yang ada hanya percakapan.”

Tidak bisa terbantahkan bahwa budaya kuliner Indonesia sangatlah kaya. Khazanahnya terbentang dari Aceh sampai Papua, dengan ciri khas dan cita rasanya masing-masing. Beberapa diantaranya bahkan telah diakui sebagai makanan terenak di dunia.

Tapi sayangnya belum terlalu banyak yang membahas kekayaan kita yang satu ini. Belakangan memang muncul beberapa program televisi tentang ragam kuliner Indonesia. Tapi keseringannya penonton hanya dibuat terpana pada pembawa acaranya yang berbodi aduhai dan berpenampilan cool dengan tato di sekujur lengan. Ada pula acara jalan-jalan sambil makan-makan yang sayangnya hanya berakhir pada kata “maknyus” yang kemudian menjadi ikonis. Kesemuanya belum terfokus pada si makanan itu sendiri.

Angin segar baru muncul pada tahun 2014 lalu. Upaya mainstreaming makanan sebagai pusat pembahasan suatu topik mulai nampak.  Dimulai dengan film Tabula Rasa yang bercerita tentang kelezatan masakan Padang, Majalah Tempo yang membuat Edisi Khusus Antropologi Kuliner Indonesia, juga sebuah novel dari Laksmi Pamuntjak, Aruna dan Lidahnya. Judul buku yang terakhir yang kemudian akan diulas dalam tulisan ini.

Aruna dan Lidahnya berkisah tentang Aruna, seorang perempuan yang bekerja sebagai Epidemologist (namun ia lebih senang disebut sebagai “ahli wabah”). Ia memilki dua orang sahabat dengan status yang sama dengan dirinya: belum niat menikah di usia yang sudah kepala tiga. Bono sang chef dengan spesialisasi Nouvelle Cuisine serta Nadezhda, penulis perjalanan dan makanan yang namanya sudah sering muncul di majalah dan web ternama. Ketiganya dipersatukan dalam obsesi yang sama: makanan.

Saat Aruna diberi tugas untuk menyelidiki wabah penyakit di beberapa kota di Indonesia, Ia mengajak kedua temannya tersebut untuk sekalian mencicipi kuliner daerah yang dikunjungi. Bono dan Nadezhda yang lebih akrab dengan western food, sangat tertarik lantas mengiyakan ajakan tersebut. Banyak hal yang mereka temui di balik makanan yang mereka santap, mulai dari sejarah lokal, agama dan kepercayaan, sampai resep makanan baru yang benar-benar tidak terduga. Semuanya mengalir dalam balutan kisah yang manis sekaligus mengharukan.

Dibanding dengan novel sebelumnya, Amba, kisah yang dibangun oleh Laksmi Pamuntjak dalam novel ini terasa lebih mudah untuk diselami. Narasi dan dialognya sederhana walau dibumbui dengan istilah-istilah teknis yang perlu dipahami lebih lanjut. Laksmi sangat pandai merancang kisah dan membangun dialog yang begitu mengena kepada pembacanya. Setiap masakan diceritakan secara mendetail hingga kita seperti bisa merasakannya juga. Produksi air liur saya meningkat di beberapa bagian novel ini.

Bagi yang tidak akrab dengan dunia epidemologi seperti saya, novel ini mungkin akan sedikit membosankan di bagian awal. Namun setelah itu cerita mengalir begitu menyenangkan. Bukan hanya kisah percintaan dan pengkhianatan yang disajikan, kita juga disuguhi dengan berbagai pengetahuan yang sangat bernutrisi. Laksmi memperindah novel ini dengan kutipan dari beberapa penulis dunia, mulai dari Brillant-Savarin hingga Micheal Pollan.

Sungguh seperti ajakan untuk merayakan makanan yang lebih dari sekedar makan sampai perut terasa kenyang.

Senin, 09 Maret 2015

Beberapa Harapan di Hari Musik Nasional

Sejak 2013 setiap  tanggal 9 Maret diperingati sebagai Hari Musik Nasional. Dari berbagai media sosial terlihat topik yang hangat diperbincangkan adalah “masihkah musik nasional punya harapan?”. Pertanyaan seperti ini sudah sangat klise sebenarnya. Ia hadir setiap tahun mengisi ruang-ruang diskusi para pemerhati dan pelaku musik itu sendiri. Bagi sebagian pihak yang sudah mulai putus asa, harapan bagi musik Indonesia sudah sangat tipis. Di tengah momok utama bernama pembajakan, ruang gerak para musisi dianggap sudah semakin sempit. Musik Indonesia seperti tidak berdaya mengikuti era yang serba digital sekarang ini.

Tapi benarkah sepenuhnya demikian?

Mari luangkan sedikit waktu untuk lebih jeli melihat kenyataan. Ada beberapa harapan yang perlu terus dipelihara agar musik Indonesia terus hidup dan berkembang. Yang pertama, dan mungkin ini yang paling menggembirakan, adalah produksi musik di Indonesia semakin merata. Musik Indonesia hari ini bukan hanya Pulau Jawa. Daerah lain yang dulu tidak pernah terdengar saat ini mulai menggeliat. Bali semakin memperlihatkan eksistensinya. Sumatra terus mengejutkan lewat (((AUMAN))), Semakbelukar, dan kawan-kawannya. Sulawesi kini tak hanya Makassar, ada Kota Palu yang skenanya sangat menjanjikan. Kalimantan terus berkembang lewat musik Metalnya. Benar-benar gugusan musik yang sangat layak untuk diperjuangkan.

Kabar baik lainnya, tren membeli rilisan fisik kembali bergairah. Bukan hanya dalam bentuk cakram CD, kini rilisan dalam bentuk kaset pita dan piringan hitam atau vinyl kembali dicari. Hal ini berdampak pada banyaknya pilihan bagi para musisi dalam menjual karyanya, tentu saja bukan hanya dalam bentuk digital. Belum lagi tren lahirnya penggemar garis keras yang rela mengeluarkan kocek lebih untuk mengoleksi berbagai macam merchandise idolanya. Jika hal ini dimanfaatkan oleh para musisi tentu akan mendatangkan keuntungan lebih yang sangat lumayan untuk terus menghidupi musik mereka. Seringai mungkin salah satu contoh terbaik dari suksesnya memaksimalkan semua potensi pendapatan yang ada.

Mulai meratanya sebaran musisi dan kembali bergairahnya rilisan fisik turut membawa angin segar bagi festival musik di berbagai daerah. Bak jamur di musim hujan pesta musik tahunan tumbuh beramai-ramai dan terus menyebar ke berbagai macam genre. Di ranah musik keras tak kurang dari Hammersonic, Bandung Berisik, Rock In Celebes, Rock In Solo, dan Kukar Rockin’ Fest terus menghajar telinga para metalhead tanah air. Lalu Jazz diwakili oleh Java Jazz Festival, Makassar Jazz Festival, Jazz Gunung, hingga Ngayogjazz. Belum lagi festival lintas aliran yang juga rutin digelar. Hal ini tentu saja ikut menggerakkan roda perekonomian, bukan hanya bagi musisi itu sendiri tapi juga bagi daerah yang menyelenggarakan festival-festival tersebut.

Lalu bagaimana mengatasi pembajakan? Bukankah permasalahan ini yang menjadi momok terbesar bagi perkembangan musik Indonesia? Memang harus diakui kejahatan kriminal bernama pembajakan menjadi musuh terbesar bagi para musisi Indonesia. Memang kita telah memiliki Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta. Namun penegakan hukum dari aparat harus diakui masih sangat lembek. Tapi apakah keadaan seperti  ini  akan terus didiamkan? Tentu saja tidak dong.

Perlawanan balik atas aksi pembajakan yang merugikan seharusnya menemui momentumnya saat ini. Presiden Jokowi yang dikenal sebagai penggemar musik baru-baru ini membentuk Badan Ekonomi Kreatif. Dalam sebuah wawancara, Triawan Munaf yang ditunjuk untuk mengepalai institusi ini mengatakan salah satu prioritas utama Badan Ekonomi Kreatif adalah memberantas tindak pembajakan. Tentu saja ini adalah sebuah kabar segar. Kampanye anti pembajakan yang dilakukan oleh pelaku musik tanah air akhirnya mendapat dukungan nyata dari Pemerintah. Kita tinggal menunggu efektifitas kerja dari Badan Ekonomi Kreatif ini.

Beberapa harapan untuk musik Indonesia diatas mungkin akan percuma bila tidak diiringi oleh niat dan dukungan dari para stake holder. Musisi tentu tak bisa berjuang sendiri. Ia butuh dukungan dari semua pihak, mulai dari pemerintah, pelaku bisnis, pemerhati sampai penikmat musik itu sendiri.

Selamat Hari Musik Nasional. Semoga lekas berjaya. Kami menunggu dirimu untuk rayakan.

Kamis, 01 Januari 2015

Album Lokal Favorit 2014



Mungkin saja 2014 terbuat dari keadaan yang sangat menjengkelkan. Mulai dari proses pemilu yang menguras emosi hampir sepanjang tahun juga waktu yang tak juga berjodoh untuk mempertemukan saya dengan Dosen Pembimbing Skripsi. Masya Allah, malah curhat. Untung saja masih ada musisi kesayangan yang tahun lalu terus menghasilkan lagu-lagu yang enak didengar. Untuk itu, saya pilihkan beberapa yang menjadi favorit saya.

 Kalau sedang lowong silahkan dibaca dan ikut mendengarkan. Tabe’

Tentang Rumahku – Dialog Dini Hari

Dialog Dini Hari adalah cinta pertama saya terhadap musik folk Indonesia. Rasa suka itu semakin bertambah lewat Tentang Rumahku. masih dengan kekuatan yang sama, musik sederhana nan menenangkan dan lirik puitis yang begitu menyenangkan. Yang berbeda adalah album ini terasa lebih berenergi, baik dari beat dan cerita yang diusung. “Gurat Asa” misalnya, selalu memberikan begitu banyak semangat bagi saya. Sangat enak didengarkan di pagi hari menjelang beraktifitas. “Hiduplah Hari Ini” lain lagi. Lagu ini adalah ajakan untuk selalu bersyukur. Dengan segala tantangan hidup yang kita hadapi sudah seharusnya kita selalu berusaha untuk “damaikan diri…”. Lahirkan keajaiban dari tanganmu” pada penutup lagu ini adalah favorit saya. Coba pula dengarkan “Tentang Rumahku” dan “Lagu Cinta” yang dinyanyikan bersama Kartika Tjahja, maka album ini adalah teman yang ampuh untuk menghadapi hari.

Alkisah – Theory Of Discoustic

Sungguh bukan karena band ini berasal dari Makassar hingga saya memasukkannya di daftar ini. Saya mendengarkan mereka pertama kali pada akhir 2010 saat menjadi band pembuka The Trees and The Wild di Unifa. Lama tak terdengar, mereka muncul kembali dengan membawa Dialog di Ujung Suar, mini album yang begitu matang. Belum terlalu bosan dengan Dialog di Ujung Suar, mereka kembali merilis EP Alkisah. Masih dengan interpretasi atas budaya Bugis-Makassar, namun mini album ini terasa lebih serius, baik dari segi musikalitas juga proses penggarapannya. Jika Dialog di Ujung Suar hanya disebarkan via internet, Alkisah dirilis dalam bentuk fisik, walau sangat sederhana.

Lagu favorit saya di album ini adalah “Satu Haluan” dan “Lengkara”.  “Satu Haluan” bercerita tentang para pelaut ulung yang katanya nenek moyang orang Indonesia. Lagu ini jelas adalah bentuk lain dari semboyan kuno pelaut Bugis-Makassar: Le’ba kusoronna biseangku, kucampa’na sombalakku, tammamelokka punna teai labuang (telah ku kembangkan layarku, telah ku pasang kemudiku, lebih baik tenggelam daripada melangkah surut). Sedangkan “Lengkara” adalah penerjemahan atas tradisi Mappalili, ritual kepercayaan yang dilaksanakan setiap awal masuk musim tanam. “Seruan awal hari bernyanyi merasuk pusaka/Sambut awal masa berganti merayu musim kesuburan”, Lirik lagu ini sangat menggambarkan bagaimana semangat masyarakat petani dalam menyambut ritual tersebut.

Tak pernah mudah menulis lirik berbahasa Indonesia. Tapi Theory of Discoustik kembali membuat lagu berlirik Bahasa Indonesia yang menyenangkan. Lewat EP Alkisah ini mereka membuktikan bahwa paduan musik dan lirik yang menarik bukanlah hal yang mustahil. Keduanya tentu harus digarap serius untuk menghasilkan lagu yang baik. Saya sepakat dengan seorang teman, album ini sangat enak didengarkan dalam sebuah perjalanan jauh. Musik dan liriknya akan menyatu dengan pemandangan alam yang kita lewati.

Gajah – Tulus

Karir Tulus begitu mulus sebagai solois pendatang baru di jagat musik Indonesia. Tentu saja bukan sebuah keberuntungan, karena memang Tulus sangat bertalenta di bidang ini. mendapat begitu banyak perhatian di album perdan, Tulus memantapkan posisinya sebagai salah satu solois sekaligus singer-song writer terbaik di negeri ini lewat album Gajah. Dibuka dengan ”Sepatu” yang lansung menjadi hits sejak diputar serentak di radio seluruh Indonesia. Lagu ini memberikan perumpamaan yang begitu pas pada cerita cinta yang tidak bisa bertemu. “Kita adalah sepasang sepatu selalu bersama tak bisa bersatu.” Sadis! Lalu ada “Gajah”, lagu yang terinspirasi dari masa kecil Tulus. Tema cinta yang berbeda hadir dari “Jangan Cintai Aku Apa Adanya”. Lagu ini semacam bantahan atas gombal murahan “cintai aku apa adanya”. “Jangan cintai aku apa adanya. Jangan/Tuntutlah sesuatu biar kita jalan kedepan.”

Album pertama adalah pembuktian, album kedua adalah ujian atas eksistensi. Tulus melaluinya dengan mulus dalam waktu singkat.

Fateh – Morgue Vanguard x Still

Rapper paling berbahaya di Indonesia kembali! Pasca bubarnya Homicide pada tahun 2007, Herry Sutresna a.k.a Morgue Vanguard begitu dirindukan. Setelah hanya menjadi “tamu” di lagu “Abrasi” milik BRNDLS dan  berkolaborasi dengan EyeFeelSix di lagu “Mimpi Basah Pembangkang Sipil”, Morgue Vanguard akhirnya kembali dalam sebuah album utuh. Bersama Still Ia melontarkan kemuakannya (tentu juga kemuakan banyak orang) lewat sebuah Collabo EP, Fateh.

Secara garis besar album ini bercerita tentang permasalahan akut yang masih terjadi hingga saat ini: konflik agraria dan penindasan oleh aparat. Dibuka dengan “Volume 1, Bagian 8, Bab 32” yang menampilkan beberapa aksi demonstrasi sebagai latarnya. Lalu disusul kemudian oleh “Fateh” dan “Kondor Terjaga” yang melontarkan bait yang begitu panas secara bertubi-tubi. Favorit saya di album ini adalah “Dol Goldur”. Tak seperti biasanya, Morgue Vanguard terdengar lebih birirama di bagian ini.

Fateh adalah sebuah comeback yang cukup menendang. Semoga berlanjut, Bung Ucok.

Sneakerfuzz – Morfem

Tentu menyenangkan mendapati band kesukaan sangat produktif menghasilkan karya-karya berkualitas. Itulah yang terjadi pada Morfem. Tak berjarak begitu jauh dari album Hey, Makan Tuh Gitar!, unit fuzz-rock ibukota ini kembali merilis Sneakerfuzz, sebuah mini album berisi enam lagu. Hal ini terjadi setelah Morfem memenangi sebuah kompetisi yang diadakan oleh Converse. Hadiah dari kompetisi tersebut ya pembiayaan penuh atas pembuatan EP Sneakerfuzz ini.

Kesemua lagu di album ini begitu menyenangkan. Perpaduan musik 90-an kesukaan Pandu fuzztoni dan 70-an andalan Jimi Multazham berpadu menghantam telinga yang mendengarkannya. “Kubikal Rock” adalah pembukaan yang langsung mengajak untuk berjingkrak. Disusul dengan “Planet Berbeda” yang liriknya membuat saya berdecak kagum. Lirik story-telling yang dibangun oleh Jimi adalah kekuatan lagu ini. “Kami dari planet berbeda/Berjumpa di tengah samudra/Aku memilih Bob Dylan/Sedang dia Mumford and Son/Namun kita tak terpisahkaní”.

Favorit lainnya adalah “Tak Punya Rasa Ketakutan” dengan sound yang terpapar punk 70-an. Kemudian ditutup oleh nomor anthemic “Rayakan Pemenang”, sebuah lagu yang didedikasikan untuk para pejuang hidup, siapapun dia saya rasa.

Panjang umur, Morfem.

***


Selamat tahun baru. Semoga musik Indonesia tetap keren tahun ini!