Baca disini
"These are the postcards from a young man. They may never be written or posted again." - Manic Street Preachers
Kamis, 07 Januari 2016
Selasa, 29 Desember 2015
Album Favorit 2015: Dosa Kota dan Kenangan
Bagi saya 2015 cukup memberi kabar yang cukup menggembirakan
bagi kancah musik Indonesia. Sepanjang tahun ramai musisi dari berbagai genre
menghasilkan karya. Tidak hanya dari muka lama, pendatang baru juga semakin
tidak malu-malu lagi untuk menunjukkan
aksi mereka. Produktifitas tersebut semakin istimewa karena diimbangi dengan
keberanian para musisi untuk bereksplorasi menciptakan musik yang terdengar
lebih segar. Kebaruan dalam berkarya menjadi nilai yang paling berharga saya
kira.
Dari sekian banyak karya tersebut, ada beberapa album yang
kemudian mencuri perhatian telinga saya. dimulai dengan hentakan dari Kelompok
Penerbang Roket. Trio asal Jakarta ini menjadi pendatang baru paling panas di
jagat musik rock Indonesia. Komposisi mereka banyak terinspirasi dari era
kejayaan musik keras Indonesia. Kelebihan lain dari Kelompok Penerbang Roket
adalah produktifitas tingkat tinggi yang mereka miliki. Hanya dalam hitungan
bulan mereka berhasil merilis dua buah album, Teriakan Bocah dan HAII
yang merupakan proyek remake karya band
legendaris Panbers.
Ada pula Stars and Rabbit yang akhirnya berhasil
merampungkan album mereka yang kemudian diberi judul Constellation. Album ini berisi sekumpulan lagu cinta berlirik unik
dan dibalut dengan musik folk dengan kualitas sound jempolan. Belum lagi artwork dengan tulisan tangannya yang
ciamik. Penantian lama untuk duo asal Jogja ini sangat “Worth It”.
Menjelang akhir tahun penikmat musik independen tanah air
dibuat terpikat oleh Barasuara, bahkan sebelum album mereka dirilis. Aksi
panggung memukau dan single yang
mereka bagikan cukup merebut perhatian banyak orang. Begitu keluar album mereka
segera menggulung, persis seperti judulnya, Taifun.
Album ini menjadi salah satu rilisan yang paling banyak dicari di tahun 2015.
Tepat di penghujung tahun ini Efek Rumah Kaca akhirnya
memastikan lahirnyanya album baru mereka. Album ketiga yang berjudul Sinestesia ini menjadi rilisan yang
paling diantipisasi dalam tiga tahun belakangan ini. lewat Sinestesia, Efek Rumah Kaca menapak ke level lebih lanjut dalam
karir bermusik mereka. Tema yang diangkat masih seputar isu sosial dan politik
keseharian. Namun kali Efek Rumah Kaca bermain dalam durasi yang tidak lazim.
Keenam lagu yang ada di album ini berdurasi di atas tujuh menit. Setiap lagu
adalah gabungan dari dua fragmen yang saling coba menggambarkan kontradiksi
dalam sebuah tema. Lagu kesukaan saya adalah “Kuning” yang bercerita tentang
ekstrimisme dalam beragama dan perdamaian dalam keragaman.
Namun album favorit saya di tahun 2015 ini adalah Dosa, Kota dan Kenangan milik grup folk
Silampukau. Bagi saya album ini memenuhi semua syarat untuk menjadi yang paling
sering diputar. Musik folk dengan keberanian memberi variasi di beberapa
bagian. Lirik yang bercerita tentang kehidupan kota Surabaya dari berbagai sudut
pandang menjadi poin paling penting dari album ini. Pada akun twitter-nya,
Silampukau memberikan deskripsi yang sangat pas untuk karya-karya mereka, “lagu-lagu sederhana
tentang orang-orang sederhana.”
Bagi saya, Dosa, Kota, dan Kenangan lebih dari sedekar album musik. Mendengarkannya juga seperti
membaca kumpulan cerita pendek yang begitu membangun imajinasi. Silampukau
sangat pintar merekam keseharian orang-orang Surabaya yang selama ini cenderung
diabaikan. Mulai dari potret keputusasaan anak muda dengan keadaan, hiruk pikuk
di berbagai sudut kota, sampai konflik lahan masyarakat perkotaan ditampilkan dengan
apik. Suara kedua personilnya yang saling mengisi menambah ramah lagu-lagu
mereka untuk diterima telinga.
Tiga lagu di album ini yang paling sering saya putar adalah “Puan
Kelana”, “Lagu Rantau (Sambat Omah)”, dan “Doa 1”. “Puan Kelana” adalah nyanyian
perih seorang lelaki yang ditinggal kekasihnya menuju Paris, Prancis. Ia
menyayangkan mengapa sang pacar pergi, padahal “dunia punya luka yang sama”. “Lagu
Rantau (Sambat Omah)” kemudian mengingatkan saya bahwa sedang jauh dari rumah. Bercerita
tentang seorang perantau dengan harapan menjadi kaya di kota. Waktu kemudian
menyadarkannya bahwa Ia semakin jauh dari harapannya. “Oh demi Tuhan atau demi
Setan sumpah aku ingin rumah untuk pulang.” Lalu “Doa 1” semacam perpaduan
antara ratapan diri dan harapan anak
indie. Musiknya tidak dibuat balada tapi dengan country yang terdengar ceria. Lagu
ini juga semacam satire bagi industri televisi yang terasa semakin murahan.
Saya belum pernah mendengar sebuah album utuh dengan konsep
seperti Dosa, Kota, dan Kenangan. Sebuah
modal besar bagi Silampukau yang baru memperkenalkan diri ke kancah musik
Indonesia.
Jumat, 18 Desember 2015
Meresapi kehidupan Bahari di Tanakeke
“Setelah
salat subuh kita keliling ke Bangko Tappampang nah.”
Daeng Haris
hanya mengacungkan jempol tanda setuju dengan ajakan saya. Sesaat setelahnya
kami masuk ke rumah untuk beristirahat. Malam
tak pernah berumur tua di Tanakeke. Orang-orang selalu mengakhirinya dengan
tidur lelap sebelum larut datang. Ada banyak mimpi atau sekedar rutinitas yang
mesti ditunaikan keesokan harinya.
***
Tanakeke
adalah sebuah gugusan kepulauan yang terletak di sebelah barat Kabupaten
Takalar, Sulawesi Selatan. Wilayahnya yang didominasi oleh lanskap hutan
mangrove membuat kawasan ini sangat sehat bagi kehidupan beberapa biota laut. Sampai
tahun 1980-an luas hutan mangrove di Tanakeke mencapai 1.776 hektar. Namun pada
tahun tersebut terjadi pengalih-fungsian kawasan hutan menjadi lahan tambak secara besar-besaran.
Luasan hutan mangrove berkurang secara drastis hingga tersisa 500-an hektar
saja saat ini. Kini sebagian besar lahan tambak tersebut telah mati dan menyisakan
permasalahan lingkungan. Dengan luasan mangrove yang tersisa, kini Tanakeke
melanjutkan hidup. Alamnya masih cukup untuk memberikan penghidupan bagi
masyarakat.
Kepulauan
Tanakeke terdiri dari lima desa. Daratan beberapa desa akan terhubung pada saat
air sedang surut. Namun pada saat pasang sebagian daratan akan terendam air,
sehingga untuk berpindah dari satu desa ke desa yang lainnya harus menggunakan jalepa (kapal kecil bermotor). Hal ini
menjadikan aktifitas masyarakat sangat tergantung dengan transportasi air tersebut.
Setiap pagi dan sore hilir mudik nelayan, pegawai desa sampai anak sekolah
adalah pemandangan yang lazim kita jumpai di perairan Tanakeke.
Jika
berangkat dari Makassar, ada dua alternatif untuk mencapai Tanakeke. Pertama
dari Pelabuhan Kayu Bangkoa yang berada di depan Ford Rotterdam. Tapi kapal
yang berangkat dari pelabuhan ini tidak reguler sehingga kita harus memesan
terlebih dahulu kepada pemiliknya. Disarankan menggunakan jalur ini jika kita
berangka dalam jumlah banyak, sehingga harga sewa kapal tidak terlalu menjadi
masalah. Namun jika berangkat via Makassar dirasa terlalu berat, kita dapat lewat
jalur yang lebih ekonomis, yaitu Dermaga Takalar Lama di Takalar. Untuk
mencapainya kita dapat menggunakan kendaraan pribadi atau dengan pete’-pete’ (angkot). Ongkos pete’-pete’ dari Pasar Sentral sampai
Dermaga Takalar Lama sebesar Rp. 15.000,-. Di dermaga tersebut ada beberapa
kapal laut setiap hari siap mengantar ke Tanakeke. Ongkosnya
berkisar antara Rp. 10.000,- sampai Rp. 20.000,- per orang, tergantung desa
tujuan. Bagi yang pertama kali ke Tanakeke sebaiknya menuju Desa Tompo Tana
saja. selain desa ini yang paling mudah dicapai, dari titik ini kita akan lebih
mudah jika ingin berkunjung ke desa atau lainnya.
***
Tidak terlalu
lama setelah salat subuh Daeng Haris sudah turun ke laut untuk mempersiapkan jalepa-nya. Sebelum matahari bersinar
sempurna, saya dan beberapa orang teman sudah siap untuk mengelilingi Bangko
Tappampang. Bangko Tappampang adalah sebuah kawasan konservasi mangrove
seluas sekitar 40 hektar. Kawasan ini lahir dari kesepakatan lima
desa pada tahun 2013 atas dasar kearifan lokal yang sebenarnya telah mati. Oleh
para leluhur, kawasan Bangko Tappampang dijadikan tempat mencari makan
bersama (pangnganreang) oleh seluruh
masyarakat yang berada di Tanakeke.
Saya sengaja
merencanakan berkeliling Bangko Tappampang pada pagi hari agar bisa mendapatkan
udara segar dan air laut yang masih tenang. Matahari akan mulai terik jika kita
bergerak di atas pukul sembilan. Ada beberapa jalur yang bisa dilalui untuk
sampai ke Bangko Tappampang. Namun saya meminta kepada Daeng Haris untuk
melalui “terowongan mangrove.” Jalur ini adalah favorit saya. jajaran padat
mangrove yang didominasi oleh jenis Rizophora
membentuk lintasan panjang hingga terlihat seperti sebuah terowongan. Saat
melalui terowongan ini lebih baik kecepatan jalepa
diperlambat. Dengan begitu kita bisa merasakan kesejukannya atau lebih
memperhatikan biota yang hidup di tempat tersebut.
Keluar dari
Terowongan Mangrove kita langsung bisa melihat hamparan Bangko Tappampang.
Pohon-pohon mangrove tumbuh sehat dan rapat di tempat ini. Selain karena tidak dimiliki secara pribadi, penetapannya sebagai kawasan
konservasi semakin menegaskan Bangko Tappampang tidak bisa diganggu bahkan
harus dilindungi dari kerusakan. Lewatlah di sela-selanya untuk menikmati udara
segar pagi hari disana. Kita juga bisa melihat Burung Belibis dan Bangau Putih
yang banyak hidup dan mencari makan di dalam kawasan. Jika sedang beruntung,
kadang kala Burung Beo dan Raja Udang juga menampakkan diri.
| Terowongan Mangrove |
| Sela-sela Kawasan Konservasi Hutan Mangrove yang tenang dan sejuk di pagi hari |
Sebelum
matahari terlalu menyengat kulit, sebaiknya kegiatan berkeliling Bangko
Tappampang disudahi. Udara pukul sepuluh ke atas di Tanakeke sudah sangat
terik. Saya mengajak teman-teman untuk beristirahat di kolong rumah. Kita bisa
berinteraksi dengan masyarakat yang biasanya mengikat bibit rumput laut. Sudah
beberapa tahun ini budidaya rumput laut menjadi pekerjaan utama
masyarakat Tanakeke. Sejak saat itu perairan rendah disana menjadi lahan
untuk membentangkan ikatan rumput laut. Botol plastik yang dijadikan pelampung
menjadi pemandangan umum disana.
Sejak pagi
para lelaki sudah turun ke laut untuk mengambil bibit. Bibit-bibit tersebut dibawa
ke daratan untuk kemudian diikat dalam ukuran kecil oleh ibu-ibu.
Pekerjaan mengikat bibit rumput laut ini biasanya dikerjakan sampai siang.
Setelah selesai, bentangan bibit rumput laut lalu diturunkan lagi
ke laut selama 30 sampai 45 hari. Sebelum dipanen, kebersihan bentangan tadi
harus dikontrol setiap hari. Jika ada lumut atau sampah yang tersangkut harus
disingkirkan dengan cara menggoyang-goyangkan tali bentangan tersebut.
Begitu seterusnya sampai rumput laut dirasa cukup besar untuk dipanen. Proses
selanjutnya adalah mengeringkan. Jika matahari sedang terik, dalam dua hari
rumput laut sudah kering dan siap untuk di-packing
di dalam karung kemudian dijual.
Sore hari di
Tanakeke adalah waktu paling menyenangkan. udara yang sudah kembali
sejuk memungkinkan kita untuk berkeliling desa. Dengan begitu kita bisa
bercengkrama akrab dengan masyarakat atau bermain di laut bersama dengan
anak-anak. Puncaknya adalah pemandangan maha menakjubkan dari proses
tenggelamnya matahari di sela-sela hutan mangrove. Cahaya dari bulatan kuning
besar akan memberikan efek dramatis di langit. Sedang di laut akan ramai siluet
nelayan yang pulang bersama dengan terbenamnya sang surya.
| Seorang petani rumput laut menurunkan bentangan bibit ke laut |
| Setelah diikat di tali bentangan, bibit rumput laut siap dibudidayakan |
| Sunset dan nelayan di Tanakeke pulang bersamaan saat petang tiba |
Malam hari
kami lalui dengan memancing di dermaga. Kegiatan ini menjadi salah satu
aktfitas favorit pendatang di Tanakeke. Ikan seperti Baronang atau
Kerapu cukup mudah didapatkan disini. hasil yang didapatkan bisa
langsung dibakar di rumah warga yang kita tumpangi. Di Tanakeke tidak ada
penginapan semacam resort atau vila.
Tapi warga disana cukup ramah untuk menyambut para pendatang. Kita juga bisa
menitipkan uang untuk dibuatkan makanan selama tinggal di sana.
***
Malam memang
tak pernah berumur tua di Tanakeke. Ada begitu banyak kegiatan menyenangkan
yang menanti untuk dilakukan di esok hari.
“Jadi mau
kemana ki lagi besok?”
Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog "Blog Competition #TravelNBlog 5: Jelajah Sulsel" yang diselenggarakan oleh @TravelNBlogID
Rabu, 09 Desember 2015
Mari Memasang Curiga
Ada dua peristiwa penting pada tanggal 9 Desember ini: Hari
Peringatan Anti Korupsi Internasional dan Pemilihan Kepala Daerah Langsung
(Pilkadal) yang dilaksanakan serentak. Saya kira dua momen dalam sehari ini
sangat berhubungan. Apa sebab? Mungkin data-data berikut ini bisa
menjelaskannya;
Menurut catatan Kemendagri, hingga 2014 tercatat 343 Kepala
Daerah terjerat kasus korupsi. Angka itu setara dengan 86 persen dari seluruh kepala
daerah yang ada di seluruh Indonesia. Angka yang sungguh fantastis. Kenyataan lainnya
adalah, ternyata Pilkadal 2015 ini menujukkan ada beberapa kontestan yang diduga
pernah terlibat kasus bahkan sempat menyandang status terpidana korupsi. Gila!
Memang kenyataan ini sungguh menyedihkan. Jalan reformasi
yang memberikan langkah bebas kepada masyarakat untuk memilih pemimpinnya
secara langsung malah melahirkan penjahat-penjahat yang semakin canggih.
Pilkadal hari ini adalah mesin yang terus memproduksi koruptor-koruptur baru
yang semakin keji dan tidak tahu malu.
Lalu apa yang bisa kita lakukan?
Kita masyarakat tentu tidak bisa terlalu jauh untuk
mengintervensi sistem Pilkadal atau cara
kerja politik. Hal minimal yang bisa kita lakukan adalah mengintervensi diri
kita masing-masing untuk sadar dengan konsekuensi pilihan. Saya salut dengan
orang-orang yang memilih menjadi golongan putih karena merasa tidak ada calon
yang sesuai denga hati nuraninya. Kita memang harus mendasarkan pilihan kita
pada keyakinan kan? Jangan pernah memilih jika tidak ada calon pemimpin yang
dirasa dapat mengemban tugas tersebut. Jangan sampai di hari perayaan anti
korupsi sedunia ini malah jadi momen lahirnya pemimpin korup.
Hal lainnya saya kira adalah kita harus mulai mengubah cara
memperlakukan kepala daerah yang terpilih nantinya. Jika selama ini kita selalu
menggantungkan harapan kepada para pemimpin baru, sudah saatnya kita harus
memasang rasa curiga kepada mereka. Menggantungkan harapan adalah cara usang
untuk berinteraksi dengan dengan para pemimpin. Cara itu terlalu melenakan,
baik bagi masyarakat untuk mengawasi juga bagi pemimpin dalam bekerja. Sebaliknya,
rasa curiga akan membuat kita selalu mawas diri akan tindak tanduk para
pemimpin. Pemimpin akan merasa selalu diawasi. Dengan begitu mereka akan terus
berupaya untuk berbuat terbaik dan terus meningkatkan kinerjanya.
Kita tentu sudah muak dengan para Pemberi Harapan Palsu (PHP).
Mari mawas diri dengan mulai memasang rasa curiga. Jadi ucapan selamat nanti
juga harus berubah. Kalau dulu “Selamat datang pemimpin baru, harapan kami ada
padamu” nantinya harus menjadi “Selamat datang para pemimpin baru, awas kami
curiga padamu!”
Selamat Hari Anti Korupsi Internasional. Mari menghadang
niat jahat koruptor.
Kamis, 26 November 2015
Papua
Tentu kita tak akan pernah tahu bagaimana harapan lama
akhirnya bisa terjadi saat ini.
Awal-awal SMA dulu saya terkagum dengan Papua saat menonton
film Denias. Saya suka film ini bukan
hanya karena bercerita tentang perjuangan tokoh utamanya untuk merasakan
pendidikan formal. Lebih dari itu Denias
menampilkan penampakan lansekap Papua yang sungguh cantik. Mulai dari
pegunungan, hutan, sungai, semuanya sangat memanjakan mata. Oh ya satu lagi,
logat Papua yang kental ditampilkan dan terdengar lucu di film ini menjadi
pelengkap keinginan untuk berkunjung ke Tanah Cenderawasih ini.
Saat kuliah ketertarikan saya akan Papua semakin bertambah
dan dalam pembahasan yang semakin luas. Saya mulai membaca Papua dari sisi yang
sedikit berbeda dari sekedar kecantikan alamnya. Saya kemudian mendapati luka
kemanusiaan yang sudah terjadi sejak lama. Bagaimana Papua menjadi bahan
eksploitasi yang bahkan masih terjadi hingga saat ini, setelah rejim pemerintah
berganti beberapa kali dan otonomi khusus telah diberikan. Di sana saya semakin
ingin ke Papua, menyaksikan secara langsung apa sebenarnya yang terjadi. Bahkan
saya menyempatkan membahas kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Papua di dalam tugas
akhir kuliah saya.
Namun kesempatan itu tidak juga datang, bahkan saat saya
sudah tujuh tahun hidup di kampus. Pernah di tahun 2012 kalau tidak salah
ingat, saat menerima honor yang cukup besar dari beberapa pekerjaan, saya
berniat berkunjung ke Jayapura. Apalagi sudah ada kenalan disana yang bisa
ditumpangi barang beberapa hari. Tapi niat itu urung terwujud. Saya malah memakai
uang itu untuk solo trip ke beberapa tempat di Pulau Jawa. Niat awal hanya
mengikuti sebuah konferensi mahasiswa selama tiga hari, saya malah terhasut
untuk berkeliling di sekitar Jawa Timur dan Jawa Tengah selama dua minggu lebih.
Uang yang awalnya untuk mendatangi Papua tersebut pun habis.
Tapi siapa sangka saat ini saya di Papua!
Semuanya seperti serba mendadak. Kontrak kerja saya di
sebuah program berakhir pada bulan Agustus tahun ini. sebulan kemudian semua
urusan kampus yang bagi saya serba ribet itu akhirnya selesai (emoticon bernafas
lega). Tiba-tiba datang tawaran dari seorang teman yang juga senior untuk kerja
di Papua. Sebenarnya peluang ini sudah saya dengar dari beberapa bulan sebelumnya.
tapi saat itu saya sedang fokus dengan pekerjaan yang sedang berjalan. Menjelang
deadline pendaftaran, saya dikabari
lagi. Saya berpikir dengan sedikit panik. Saya sangat ingin ke Papua tapi masih
bertanya pada diri sendiri apakah siap untuk hidup dalam waktu yang lama
disana. Tapi akhirnya saya mengirim surat lamaran tersebut di hari yang sama
dengan datangnya pemberitahuan yang mengagetkan itu. Dan di sinilah saya
sekarang, Papua, tepatnya di sekitar Kabupaten Mimika dan Kabupaten Asmat.
Saat mengirimkan surat lamaran hingga akhirnya berangkat ke
Papua saya masih terus meyakinkan diri untuk terus mengembangkan diri di jalan
pekerjaan sosial ini. mungkin terdengar berlebihan ya. Tapi itulah
kenyataannya. Pada saat mudik lebaran yang lalu, Mamak lagi-lagi mengingatkan saya untuk
kerja di Tarakan saja. Katanya saya sudah terlalu lama meninggalkan rumah. Mendaftar
sebagai pegawai negeri atau menerima tawaran pekerjaan di sebuah perusahaan
kelapa sawit milik seorang kenalan keluarga jadi beberapa alternatif pilihan
dari beliau. Tapi nyatanya saya memilih semakin jauh dari rumah. Tapi saya
bersyukur dipilihkan Mamak yang selalu pengertian atas pilihan anak-anaknya. Ah
jadi kangen Mamak kan.
Mari fokus kembali lalu mengakhiri kabar ini. Hehehe.
Saya tidak berharap
banyak dengan kedatangan saya di Papua. Apalah saya ini. Niat saya menjelang
berangkat adalah untuk belajar lebih banyak lagi, terutama tentang masyarakat,
budaya, dan alam Papua. Tentu sambil menikmati segala keunikan dan keindahannya
dong. Kalau ternyata kehadiran saya dinilai membawa manfaat (amin), itu sudah lebih
dari cukup untuk bikin saya sangat bahagia dan bersyukur.
Begitulah. Sudah sebulan lebih ini saya menetap di Papua dan
masih terus beradaptasi dengan kehidupan disini. Seperti bayangan saya, disini
sangat menarik. Saking tertariknya saya jadi banyak bertanya selama sebulan
ini. Doakan saya tidak terlalu malas untuk lebih sering memberi kabar lewat
blog ini.
Sekian dulu. Nimao.
Sabtu, 26 September 2015
Humor yang Tidak Lucu di Kampus Merah
Sulit menjelaskan selera humor pejabat Fakultas Teknik Unhas
akhir-akhir ini. Pada acara penyambutan mahasiswa baru lalu, sebuah spanduk
berukuran besar terpajang di gedung Fakultas Teknik. Bukannya ucapan selamat datang,
tapi adik-adik maba disambut dengan hasil scan
pemberitaan sebuah harian lokal yang bertuliskan “Ngospek, 88 Mahasiwa
Teknik Unhas Diskorsing.” Apa maksud dari spanduk tersebut? Saya mencoba sekuat
tenaga untuk tidak berburuk sangka dalam menilai. Tapi tetap saja pemikiran
yang muncul selalu itu-itu juga, spanduk ini bertujuan untuk mengancam! Tidak
mungkin spanduk ini hanya pemberitahuan biasa.
Saya merasa lucu sekaligus terheran-heran saat mengetahui
hal ini. Saya kira teknik propaganda seperti ini sudah menghilang sejak rezim
orde baru runtuh. Ternyata cara Suharto untuk menakut-nakuti lawannya masih
hidup lestari, bahkan masuk sampai ke kampus, kantong utama pendorong
reformasi. Saya berpikir, tidak adakah cara lain yang lebih indah selain cara kekanak-kanakan
tersebut. Bukannya lebih baik duduk bersama, ngopi atau ngeteh, lantas
membicarakan titik temu. Saya kira teman-teman mahasiswa lama cuma ingin
mengakrabkan diri dengan adik-adik angkatan mereka. Dapat gebetan dari situ,
itu bonus lah. Terlepas dari caranya yang dianggap masih kurang pas, itu yang
perlu dipikirkan bersama.
Tapi pihak Dekanat Teknik memilih berpikiran pendek:
mengancam!
Tidak berapa lama kemudian, di media sosial muncul sebuah
foto yang menujukkan sebuah pemberitahuan yang tidak kalah
lucu-tapi-membuat-heran, kalau tidak boleh disebut absurd. Masih dari Fakultas
Teknik namun kali ini tidak sebesar spanduk sebelumnya. Pengumuman tersebut
hanya seukuran kertas A4, tapi dengan tujuan yang sama. Isinya, larangan masuk
perpustakaan bagi mahasiswa yang berambut panjang alias gondrong. Lalu di
bagian bawah tulisan tersebut ada himbaun tambahan: “KECUALI ADA IZIN DARI
PIMPINAN FAKULTAS.” Alamak, orde baru nyata masih hidup di Fakultas Teknik
Unhas. Tentu saya tidak perlu menjelaskan bagaimana Suharto begitu membenci
manusia yang gondrong pada eranya.
Sebesar apa sih salahnya mahasiswa gondrong sampai mereka
dilarang masuk perpustakaan? Apakah mereka pernah membuat kekacauang di
dalamnya? Ataukah penampilan mereka mengusik konsentrasi pengunjung lain yang
sedang asyik membaca? Sepertinya saya belum pernah mendengar berita semacam
itu. Lantas apa? Mahasiswa gondrong itu bermoral buruk? Wah gawat sekali kalau
sampai si penempel pemberitahuan tersebut sampai berpikiran seperti itu. Dimana
korelasi antara rambut gondrong dan moral yang tidak baik. Munkin ada pelaku
kriminal yang kebetulan berambut gondrong. Tapi kan tidak semua. Kalau mau
sesat pikir ini dilanjutkan boleh dong si gondrong bilang, “pejabat koruptor
yang hari ini jadi pesakitan semua rambutnya pendek dan rapi, bro.” Nah
bagaimana kalau begitu?
Kalau mau mencari murid yang rambutnya seragam pendek semua,
saya sarankan, mending bapak/ibu ngajar
di Wirabuana saja lah.
Kita semua tentu tahu bagaimana manusia gondrong distigma
begitu liar di masyarakat sejak dulu. Tapi yang saya sayangkan adalah stigma
itu ikut tumbuh subur di ruang-ruang akademis. Seharusnya kampus menjadi tempat
yang bebas bagi bersemainya ilmu pengetahuan. Kampus haruslah menjadi jalan
raya tempat ide dan pemikiran-pemikiran berlalu lalang. Bukannya menjadi ruang
ketakutan akibat ulah penguasa bermental kerdil yang kerjanya hanya mengamcam!
Mungkin Bapak/Ibu di Dekanat Teknik Unhas perlu diingatkan.
Nama kampus kita ini diambil dari seorang pahlawan terbesar di Sulawesi
Selatan, Sultan Hasanuddin. Iya Sultan Hasanuddin yang gagah perkasa namun arif
bijaksana itu. Dan yang paling perlu diingat, Sultan Hasanuddin itu gondrong!
Jumat, 25 September 2015
Mengerti untuk Melawan: Upaya Masyarakat Kepulauan Tanakeke Mencegah Korupsi
Banyak
kasus tindak pidana korupsi yang terjadi karena ketidaktahuan, baik
ketidaktahuan masyarakat tentang proses penganggaran yang dilakukan oleh
pemerintah, juga ketidaktahuan aparat dalam menggunakan anggaran negara. Lemahnya
kapasitas pengetahuan kedua unsur ini kemungkinan disebabkan oleh rasa apatisme
yang lahir dari buruknya sistem yang selama ini berjalan. Hal tersebutlah yang
selama lima tahun belakangan ini ingin diubah oleh masyarakat dan aparat
pemerintah desa di Kepulauan Tanakeke, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.
Pulau
Tanakeke terdiri dari lima desa dengan sumber daya alam yang sangat cukup untuk
memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Pulau ini juga dikenal sebagai penopang
keseimbangan lingkungan pesisir Sulawesi Selatan karena memiliki kawasan bakau
(mangrove) yang sangat luas. Sampai tahun 1980-an luas hutan bakau di Pulau
Tanakeke mencapai 1.776 hektar. Namun pada tahun tersebut terjadi pengalih-fungsian
hutan bakau menjadi lahan tambak atau empang secara besar-besaran. Luasan hutan
bakau Kepulauan Tanakeke berkurang secara drastis hingga tersisa 500-an hektar
saja saat ini. Setelah sekitar 30 tahun berlalu, tambak-tambak yang tadinya
berjaya kini menjadi lahan-lahan mati karena perubahan ekosistem dan
terdegradasinya kualitas lahan. Keuntungan hanya dirasakan segelintir orang
saja. Kebanyakan masyarakat Kepulauan Tanakeke masih hidup dalam kerentanan
ekonomi, bahkan semakin sulit karena lingkungan mulai terganganggu.
Ketidaktahuan menjauhkan masyarakat dari kesejahteraan!
Belajar
dari kejadian masa lalu tersebut, masyarakat juga aparat pemerintah desa di
Kepulauan Tanakeke kini berbenah. Sejak tahun 2010, dengan didampingi oleh
Yayasan Konservasi Laut (YKL) dan Oxfam Indonesia Tmur, mereka mulai membangun
kembali tata kelola kehidupan masyarakat dan pemerintahan yang lebih baik. “Baik”
dalam artian pengelolaan desa yang partisipatif, responsif gender dan pro pada
masyarakat yang rentan secara ekonomi.
Pengelolaan
desa yang partisipatif penting diwujudkan agar pembangunan desa tidak
dimonopoli oleh segelintir orang saja. Semua harus terlibat agar proses sumbang
saran bisa berjalan efektif dan nantinya manfaat pembangunan dapat dirasakan
oleh seluruh lapisan masyarakat. Penyadaran itulah yang mula-mula diberikan
kepada masyarakat serta aparat pemerintah desa di Kepulauan Tanakeke. Aparat
pemerintah desa dilatih tentang manajemen pengelolaan desa yang baik,
masyarakat didorong untuk lebih aktif terlibat dalam pengawasan. Dalam tiga
tahun belakangan ini hal tersebut sudah bisa berjalan, walaupun masih perlu
terus ditingkatkan.
Kini
Musrenbangdes (Musyawarah Rencana Pembangunan Desa) di lima desa di Kepulauan
Tanakeke tidak sepi lagi seperti dulu. Masyarakat diizinkan, bahkan diundang
untuk datang memberikan masukan dalam pengelolaan dana desa. Apalagi saat ini
desa mengelola dana yang cukup besar setelah Undang-Undang Desa mulai berlaku.
Masyarakat dan aparat pemerintah desa harus menyadari bahwa pengelolaan dan
pengawasan penggunaan dana desa haruslah berjalan dengan baik. Jika tidak
begitu, manfaat tidak akan didapatkan dan bisa saja akan terjadi penyalahgunaan
anggaran.
Selain
itu perspektif pembangunan desa yang lebih peka gender juga sudah mulai
terlihat. Misalnya pembangunan beberapa fasilitas umum diharuskan memenuhi
kebutuhan yang setara antara perempuan dan laki-laki. Dorongan untuk
menyekolahkan anak minimal hingga SMA terus dilakukan di semua desa. Bahkan di
Desa Maccini Baji dan Desa Tompo Tana, aparat pemerintah desa melarang
perkawinan di bawah umur untuk menghindarkan anak-anak pada dampak buruk di
usia dini.
Alokasi
Dana Desa yang cukup besar tidak hanya diperuntukan untuk pembangunan fisik
saja, tetapi juga untuk pembangunan kapasitas masyarakat. Masyarakat yang rentan
secara ekonomi diberikan pelatihan berwirausaha dengan jalan memanfaatkan
potensi lokal Kepulauan Tanakeke. Hal ini dilakukan untuk melepaskan masyarakat
dari praktek Punggawa-Sawi (semacam
praktek rentenir yang berlaku di wilayah pesisir Sulawesi Selatan) yang sangat
memberatkan masyarakat. Kesemua hal tersebut dilakukan semata untuk
mendistribusikan manfaat pembangunan yang lebih adil.
Secara
perlahan kini masyarakat Kepulauan Tanakeke terus membangun kapasitas pengetahuan
tentang pengelolaan desa mereka. Karena pengetahuan adalah gerbang menuju
kesejahteraan dan portal penghalang bagi terjadinya penyalahgunaan dan tindak
pidana korupsi.
Langganan:
Komentar (Atom)




