Kamis, 06 September 2012

Keadilan

- Terbuka untuk para pembunuh Munir, siapapun kalian, dimanapun berada.
Sewindu sudah berlalu, selama itupun kami tak tahu. Entah sekarang sedang tertawa lepas atau kalian masih saja cemas. Tentang peristiwa peracunan di udara itu. Sungguh kami tak tahu.

Yang kami tahu adalah, kalian telah melenyapkan apa yang bermakna kekuatan dan keberanian bagi kami: Munir!

Ia tak pernah salah. Bahkan ia membela mereka yang terpaksa pasrah. Tapi ternyata, tindakan itu sungguh menakutkan. Semua tindak pembebasan adalah gelap di mata kalian.

Kemudian kalian atur sebuah konspirasi besar. Permufakatan jahat bersenjatakan beberapa tetes arsenik.

Tapi niat melumpuhkanlah yang sungguh beracun. Ia datang dari hati, lalu naik ke ubun-ubun. Meruntuhkan semua rasa kemanusiaan yang tersisa.

Apa mau dikata, jihad bernama Munir harus berhenti. Semua juga tahu, seorang pahlawan haruslah mati. Tentu di medan perjuangannya sendiri.

Beberapa waktu berlalu, keadilan sebenarnya tak juga datang. Kalian tetap bernapas lega di balik jubah hitam kebencian.

Kami pun mafhum, keadilan itu sungguh rumit. Kami sadar betul, kami berada di sebuah negara yang menampakkan keadilan seperti rembulan: indah terlihat namun sungguh jauh untuk diraih.

Tapi semangat sang pahlawan haruslah tetap menyala. Agar kebencian dan kemunafikan tak akan lama bertahta. Dengan begitu kengerian yang kalian sebar akan segera menemui ajalnya. Kami yakin, ia telah berada di ujung senjakalanya.

Dan ingatlah, sesungguhnya Munir tak pernah benar-benar mati. Ia tetap hidup, berlipat beribu-ribu kali, dalam tiap diri kami.

1 komentar:

  1. Di negeri ini, Kawan. Aku tidak heran dengan matinya munir.
    Tapi di negeri ini, Kawan. Peribahasa Mati Satu Tumbuh Seribu masih aku percaya.

    BalasHapus