Minggu, 20 Januari 2013

Sedikit Racauan dan Playlist Januari


Awal tahun saya sudah dihampiri beberapa masalah. Diawali dengan mimpi kurang ajar beberapa hari lalu. Suatu malam yang dingin, saya didatangi sesosok makhluk misterius. Tanpa sapa yang sopan, ia langsung melontarkan kalimat horor: "Mana skripsimu?" Sial! mungkin ini mimpi terburuk yang pernah saya alami selama masa kuliah.

Selang sehari kemudian, langsung saja saya membongkar kembali berkas pengurusan Tugas Akhir yang sudah saya diami selama tiga bulan. Lalu saya masukkan ia ke dalam tas untuk kembali rutin diajak ke kampus. Tapi jalan saya ternyata tak mulus. Masalah-masalah lainnya segera muncul. Sepertinya semesta sedang membuat permufakatan jahat untuk membuat jera orang-orang yang terlalu banyak membuang waktu seperti saya.

Laptop yang terserang virus sehingga menjadi tidak berguna menjadi hukuman awal yang lumayan menggangu bagi saya. Memulai untuk menulis skripsi sih masih bisa, tapi tiba-tiba saja ia (si la[ptop) tak bisa terkoneksi dengan wifi. Selain itu virus kurang ajar itu membuat laptop saya jadi enggan menerima USB. Untuk mengobatinya saya berkonsunsultasi kepada seorang senior, Romy namanya. Katanya, satu-satunya jalan untuk masalah itu adalah, laptop saya harus di-install ulang. Terserahlah, Rom. Yang penting si laptop bisa kembali berfungsi dengan baik. Singkat cerita, laptop saya sudah kembali baik. Tinggal butuh di-install beberapa software yang dibutuhkan. Terimakasih kepada Romy untuk penyelesaian masalah ini. Semoga pahalanya semakin banyak.

Masalah lainnya adalah, salah seorang penguji saya ternyata sedang liburan ke Bali,  sehingga tak dapat dimintai tanda tangan berkas persetujuan penguji. Kabarnya beliau baru akan kembali ke kampus diawal Februari. Alamak! Okelah, saya maklumi saja. Toh saya yang salah, terlalu lama mengulur waktu.

Belum lagi hujan yang akhir-akhir ini terus mengguyur Makassar membuat mobilitas menjadi berkurang. Dengan cuaca seperti ini medan magnet kamar juga semakin menguat, terus menggoda saya untuk tidak beranjak. Padahal, selain ke kampus untuk mengurus Tugas Akhir, saya juga harus rutin bertemu dengan teman-teman KontraS Makassar. Sudah hampir sebulan ini saya sedang membantu urusan media disana. Harapannya sih, menambah pengalaman dan (ehem ehem) mereka dapat membantu saya dalam proses pengerjaan skripsi saya yang membahas tentang HAM. Hihihi modus banget ya.

Sudah ah. Saya sudah seperti SBY karena kebanyakan curhat ini. Untuk menemani saya menghadapi bulan Januari (yang penuh cobaan ini), berikut ada lima lagu yang sedang sering saya dengarkan. Ini ini, semoga kalian suka juga lah.

I Know What Love Isn't - Jens Lekman
Ravando, seorang teman yang sedang melanjutkan kuliah di Leiden, Belanda yang pertama kali memperkenalkannya kepada saya. Pertama kali mendengarnya, beberapa waktu lalu, saya langsung jatuh hati. Lagu-lagu musisi asal Swedia ini terdengar tenang dan halus tapi juga tidak terlalu slow. Cocok untuk suasana penghujan seperti sekarang ini. Dan lagu yang membuat saya jatuh hati adalah track I Know What Love Isn't. Jens Lekman yang memainkan gitar membawakan lagu ini dalam format band, yang membuat lagu ini terdengar semakin menarik. Untuk mendengarkannya bisa mulai dengan mengunjunginya disini.
Seni yang Rapuh - Sind3ntosca
Band ini terkenal sebagai salah satu one hit wonders lewat lagunya yang berjudul Kepompong. Tapi ternyata mereka juga mempunyai lagu-lagu yang cukup lumayan, yang mungkin belum sempat beredar luas. Seni yang Rapuh adalah salah satunya yang sedang sering saya dengarkan. Bercerita tentang betapa rapuhnya diri kita saat ditinggal orang yang kita sayangi. Musiknya juga pelan, sama dengan suasana iklim sekarang. Cocok sebagai pengantar tidur. Lagu menarik dari Sind3ntosca ini bisa didengarkan disini.
Shadow Days - John Mayer
Lagu ini paling tepat untuk menggambarkan nasib saya sekarang. Mungkin saya tergolong bebal dalam hal mengakui kesalah pada beberapa keputusan salah yang pernah saya ambil. Saya kurang bisa menyesali sesuatu yang telah saya lewatkan begitu saja. Padahal kalau dipikir lebih seksama hal itu terlalu merugikan. Mungkin saya perlu berdamai dengan diri sendiri untuk memperbaiki hal ini. Ah ngomong apaan sih ini. Langsung saja nikmati Shadow Days dari John Mayer disini.
Sunday Sunday - Blur
Lagu lama sebenarnya, salah satu lagu yang menemani saya melalui masa transisi dari anak-anak menuju usia sekarang. Tapi hari-hari belakangan ini saya kembali rajin mendengarkannya.  Sunday Sunday adalah lagu pengantar untuk bermalas-malasan di hari minggu. Tapi musik yang mengiringinya malah tetap semangat ala Blur yang mewakili generasi 90-an. Kalau kamu kamu generasi indie 90-an seperti saya langsung sedot saja lagu ini disini. Sumpah, kalimat terakhir itu norak sekali.
I Do - Colbie Caillat
Bagi saya kata seksi yang sebenarnya bersinonim dengan Colbie Caillat. Cantik, bermain gitar dan bernyanyi di tepi pantai yang indah adalah pemandangan yang sangat merugikan apabila dihindari. Lihat saja bibirnya ketika melantunkan syair "I do I do I do do do do do do do do...." Di bagian itu keseksian solois Amerika ini bertambah beberapa derajat. Aduh, udah ah, ampuuun... Langsung aja ni dinikmati disini.

Senin, 24 Desember 2012

Terjebak di Pulau Cangke'


Lupakan kiamat yang benar-benar tidak-benar-terjadi. Tanggal 21 Desember yang lalu, saya bersama teman-teman asrama mengunjungi sebuah pulau cantik bernama Cangke’. Kalau Ray D’ Sky begitu bersyukur karena pernah terjebak di pulau yang indah, saya rasa sayapun telah merasakannya ketika berada tiga hari disana.



Pulau Cangke' terletak di gugusan pulau-pulau kecil Sulawesi Selatan. Daerahnya masih termasuk wilayah administrasi Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep). Demi efisiensi waktu dan ongkos kami memulai perjalanan melalui Pelabuhan Paotere Makassar. (Mungkin) satu-satunya moda transportasi yang dapat digunakan untuk mencapainya hanya dengan kapal penumpang tradisional. Belum ada jadwal transportasi reguler kesana. Jadi jika ingin berkunjung kita harus menyewa kapal beberapa hari sebelum keberangkatan. Itupun harus dalam rombongan berjumlah minimal lima orang, kalau saya tidak salah.

Langit sudah gelap ketika kami tiba di Pulau Cangke'. Namun, dari atas dermaga kami masih dapat melihat dasar laut yang tidak seberapa dalam. Bulan memang bersinar cemerlang malam itu. Kami langsung saja menyambangi rumah sang penjaga pulau, Daeng Abu namanya. Pulau ini hanya dihuni oleh empat orang yang sudah cukup berumur. Selain Daeng Abu dan istrinya, masih ada sepasang suami istri lainnya yang masih keluarga dekat Daeng Abu. Kesemua mereka bertugas secara sukarela untuk menjaga dan merawat pulau kecil tanpa tenaga listrik ini.

Hanya sebentar kami berbincang sebelum Daeng Abu menginzinkan kami mencari tempat untuk membangun tenda penginapan. Sisa malam kami lalui dengan menikmati kopi hangat sambil berbincang tentang keindahan pulau yang akan kami lihat esok pagi. Bahkan ada beberapa teman yang mengaku tak bisa tidur saking penasarannya.

Akhirnya pagi benar-benar datang. Langit tak begitu cerah, namun tak menghalangi kami untuk segera masuk ke dalam air. Hari Sabtu itu sungguh menjadi hari yang mewah. Kami serasa memiliki pulau pribadi. Tak ada pengunjung lain. Tak ada ribut ataupun polusi khas kota. Yang ada hanya pantai, matahari dan bersenang-senang.

Semua asyik dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang berenang, ada yang sibuk mengambil gambar dengan kameranya, sedang yang lain bersenang-senang di tengah laut sambil memancing ikan menggunakan perahu kecil. Semua akan kembali berkumpul pada waktu makan. Setelah itu, ya kembali bersenng-senang lagi dengan segala hal yang bisa dilakukan. Begitulah siklus kegiatan kami sampai begitu tak terasa langit berganti gelap.

Malam terakhir tak begitu menyenangkan. Langit mendung, angin kencang dan hujan datang menggangu. Beberapa teman mulai mengungsi ke rumah kosong yang dipinjamkan secara cuma-cuma oleh Daeng Abu. Sedang saya dan beberapa teman yang lainnya tetap kekeuh untuk tidur di dalam tenda. Pukul sepuluh malam kami sudah tertidur. Mungkin karena kecapaian karena aktifitas sepanjang siang sebelumnya.

Tapi sial bagi saya karena terbangun di tengah malam dalam keadaan kelaparan. Kacaunya tak banyak makanan yang tersisa. Ya sudalah, untuk membuang kebosanan karena belum bisa kembali tidur, saya memutuskan untuk berkeliling pulau sendirian. Agak takut juga sebenarnya. Tapi saya penasaran dengan cerita Daeng Abu yang mengatakan bahwa sekarang ini adalah musim bertelur bagi penyu sisik di pulau itu. Tapi setelah berkeliling pulau, yang hanya membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit, saya tak mendapatkan penyu tersebut. Mungkin karena langit sedang tidak cerah.

Karena benar-benar telah kecapaian, saya kembali ke dalam tenda. Kali ini tidur saya pulas sampai pagi.


Bonus hari terakhir di Pulau Cangke’ adalah langit cerah yang menampakkan matahari yang begitu jingga. Sayang, kami harus berkemas karena kapal akan segera datang menjemput pagi itu juga. Kurang lebih pukul sembilan kapal tampak datang. Setelah berpamitan dengan Daeng Abu dan koleganya, kami pun menuju dermaga. Tak beberapa lama kemudian kapal mulai bergerak meninggalkan Pulau Cangke’. Lambaian perpisahan mengiringi kepulangan kami, tentu dengan harapan suatu saat kami akan kembali bertemu dengan keindahan pulau dan kebaikan hati orang-orang disana.

Tulisan ini juga dapat dibaca di Detik Travel

Selasa, 18 Desember 2012

Pusat Gema Unhas


Mungkin belum banyak yang tahu. Sebenarnya saya pun baru mengetahuinya, bahwa ada pusat gema di kampus Unhas. Letaknya tepat di tengah-tengah dermaga danau yang terdapat di depan Gedung Ipteks Unhas. Jika biasanya gema akan terjadi bila sedang berada di dalam gedung tertutup, tapi suara kita akan terdengar terpantul apabila berteriak tepat di titik tengah dermaga danau Unhas tersebut.

Penasaran? Sila coba sendiri. Saya, sejak mengetahuinya, sudah sangat sering singgah dan berteriak-teriak disana.

Kamis, 18 Oktober 2012

Akhirnya Soundrenaline

Panggung utama Road To Soundrenaline di Makassar

Yak, walaupun hanya sebuah rangkaian 'road to', akhirnya saya berhasil menyaksikan salah satu konser impian saya: Soundrenaline. Saya sudah memimpikannya sejak SMA, sekitar tahun 2005 lalu. Saya kira, semua pecinta dan penikmat musik bagus di Indonesia juga berhasrat untuk hadir pada pagelaran musik populer terbesar yang telah dilaksanakan sejak tahun 2002 ini.

Soundrenaline tahun ini mengusung tema Rhythm Revival. Sebelum big bang puncak dilaksanakan di Jakarta November nanti, lebih dulu diadakan rangkaian 'road to' ke tiga kota: Palembang, Surabaya dan Makassar. Untuk Makassar, panitia menghadirkan enam unit rock untuk memuaskan rasa penasaran jamaah musik keras kota Makassar. Mereka adalah Koil, Deadsquad, Seringai, Netral, Andra and The Backbone dan Slank.

Koil yang menjadi band pembuka sempat kecewa karena manusia di arena konser belum seberapa. "Sabar saja. ada kalanya kita menjadi band pembuka dan ada kalanya kita menjadi band pembuka untuk selamanya." dengan nada sedikit bercanda, Otong sang vokalis melontarkan kalimat pembukanya, setelah membawakan sebuah lagu. Kepuasan dari penonton juga kurang maksimal karena suara Otong "agak serak-serak drama". Penampilan mereka ditutup setelah Otong sukses menghacurkan gitarnya di penghujung lagu Kenyataan Dalam Dunia Fantasi.
Setelah Koil, konser break sholat maghrib-isya.

Soundrenaline "baru benar-benar dimulai" setelah rehat sholat. Venue langsung terisi padat ketika Deadsquad terlihat di panggung. Moshing sudah terjadi saat "Pasukan Mati" diteriakkan. Saya pun mulai terpancing. Hasrat hati ingin bergabung di moshpit, apa daya tenaga tak sampai. Siang sebelum menuju ke tempat acara, energi sudah terporsir untuk bermain futsal bersama teman-teman. Deadsquad menutup penampilan mereka dengan "Manufaktur Replika Baptis".

Setelah itu, giliran Seringai yang menggempur Makassar. Band ini adalah alasan utama saya menghadiri Road To Soundrenaline Makassar. Setelah batal menonton mereka di Malang bulan Juni lalu, kali ini rasa rindu saya terobati. "Dilarang di Bandung" menjadi pembuka. Moshpit semakin memanas. Saya semakin menyesal karena kurang bertenaga untuk bergabung. Hanya singing-along dan jejingkrakan kecil yang bisa dilakukan. Lagu-lagu kesayangan pun sukses dibawakan. "Berhenti di 15", "Mengadili Persepsi", "Citra Natural" dan juga hits dari album Taring, "Tragedi. Tenaga benar-benar saya habiskan dibagian Seringai ini.

Setelah itu saya sudah kurang bersemangat. Walau venue semakin ramai, namun penampil berikutnya sudah tidak terlalu menarik perhatian saya. Netral, Andra and The Backbone lalu Slank berlalu begitu saja. Saya dan teman-teman sempat dipersilahkan masuk ke snake pit pada sesi Andra and The Backbone. Saya berdiri tepat dihadapan Andra sang gitaris. Lumayan lah buat ambil gambar :)

Road To Soundrenaline di Makassar ditutup oleh penampilan band yang paling banyak ditunggu, Slank. Tak kurang dari dua puluh lagu dibawakan untuk memuaskan hati para Slanker yang datang dari berbagai daerah pada event tersebut. Saya sendiri sudah kurang memperhatikan. Saya sudah berada di booth makanan untuk menunggu teman-teman yang lain. Mereka mendadak jadi Slanker malam itu dengan ikut berbasah-basahan ria.

Selesai sudah. Saya dan Asdi beranjak pulang dengan vespa. Walau helm sempat dicuri dan dalam perjalanan tali gas sang vespa terputus, hati kami tetap bahagia karena konser impian sejak SMA akhirnya terwujud.



Jumat, 05 Oktober 2012

Tanggung Jawab

Sederhana saja sebenarnya. Saya adalah tipe orang yang akan akan sangat sulit untuk berkonsentrasi apabila sudah diperhadapkan pada banyak permasalahan ataupun tanggung jawab.

Mungkin sudah menjadi takdir bagi seorang mahasiswa semester tujuh yang baru saja pulang KKN, ia akan dicecar pertanyaan yang akan selalu mendebarkan: Kapan Sarjana? Kalau sudah begitu, dunia kampus pun segera berubah menjadi tempat yang sangat menakutkan. Seakan-akan ada ribuan zombie yang siap mencekik apabila kita tak segera menemukan pintu keluar. Sungguh mengerikan.

Sudah sebulanan ini saya melihat pemandangan itu. Beberapa teman seangkatan mulai sibuk menenteng map besar nan tebal berisi berkas-berkas persiapan proposal skripsi. Dari langkah mereka, sungguh terlihat perasaan yang tidak santai lagi. Semua serba dipercepat. Seakan-akan mereka memiliki tenaga ekstra untuk terus berjalan. Semua itu demi satu tujuan: Sesegera mungkin keluar dari arus menakutkan tersebut alias lulus.

Sungguh sial, saya pun sempat tertular sindrom itu. Jujur saja, saya juga sempat panik melihat perubahan tersebut. Beberapa langkah persiapan yang tentu saja menguras tenaga dan waktu tersebut sudah sempat saya lakoni. Larut dalam perlombaan Mengejar-Wisuda-Secepat-Mungkin tanpa sadar bahwa ada beberapa tanggung jawab yang telah diambil dan tentu saja perlu untuk ditunaikan.

Dari situ saya tersadar. Seperti bangun dari mimpi buruk, saya segera mencuci muka lalu memantapkan hati untuk menepikan dulu segala tetek-bengek tugas akhir. Judul skripsi yang sudah terlanjur diterima saya endapkan sementara di map besar dan tebal yang juga sudah terlanjur terbeli. Ada hal besar dan tak kalah penting yang harus diselesaikan. Organisasi masih membutuhkan saya.

Tanggung jawab yang pertama dan tentu saja yang paling utama terdapat di LP2KI. Organisasi ini sudah menjadi semacam rumah bagi saya selama masa kuliah tiga tahun di Fakultas Hukum Unhas. Dan setahun belakangan ini saya dipercayakan untuk memimpin rumah ini. walau pada awalnya tanggung jawab ini saya terima dengan berat hati, tapi dalam perjalanan saya terus berusaha seikhlas mungkin mengemban kepercayaan tersebut. Dan itu semua akan selesai di bulan November nanti, pada Musyawarah Besar LP2KI.

Sementara itu, saya juga masih punya pekerjaan dari ILSA Unhas. Olehnya saya dipercayakan untuk memimpin persiapan sebuah seminar yang bekerjasama dengan perwakilan PBB di Indonesia. Seminar tentang ‘Refugees’ ini akan kami laksanakan pada 17 Oktober nanti. Saya menerima tanggung jawab ini karena suka dengan tema kegiatannya. Selain juga sebagai bentuk terimakasih kepada lembaga ini karena mengajarkan banyak hal dan mempertemukan saya dengan orang-orang baik di dalamnya.

Yang lainnya, saya juga sedang terlibat pada sebuah penelitian beberapa dosen. Berdua dengan Chua, kami membantu mengumpulkan beberapa data penelitian yang dibutuhkan. Tapi sepertinya tanggung jawab saya di sektor ini sudah rampung. Penelitian tersebut sudah masuk pada tahap penyelesaian. Tentu saja ini kabar melegakan.

Ya, begitulah. Semua yang telah dimulai sudah semestinya diakhiri bukan.

Kamis, 06 September 2012

Keadilan

- Terbuka untuk para pembunuh Munir, siapapun kalian, dimanapun berada.
Sewindu sudah berlalu, selama itupun kami tak tahu. Entah sekarang sedang tertawa lepas atau kalian masih saja cemas. Tentang peristiwa peracunan di udara itu. Sungguh kami tak tahu.

Yang kami tahu adalah, kalian telah melenyapkan apa yang bermakna kekuatan dan keberanian bagi kami: Munir!

Ia tak pernah salah. Bahkan ia membela mereka yang terpaksa pasrah. Tapi ternyata, tindakan itu sungguh menakutkan. Semua tindak pembebasan adalah gelap di mata kalian.

Kemudian kalian atur sebuah konspirasi besar. Permufakatan jahat bersenjatakan beberapa tetes arsenik.

Tapi niat melumpuhkanlah yang sungguh beracun. Ia datang dari hati, lalu naik ke ubun-ubun. Meruntuhkan semua rasa kemanusiaan yang tersisa.

Apa mau dikata, jihad bernama Munir harus berhenti. Semua juga tahu, seorang pahlawan haruslah mati. Tentu di medan perjuangannya sendiri.

Beberapa waktu berlalu, keadilan sebenarnya tak juga datang. Kalian tetap bernapas lega di balik jubah hitam kebencian.

Kami pun mafhum, keadilan itu sungguh rumit. Kami sadar betul, kami berada di sebuah negara yang menampakkan keadilan seperti rembulan: indah terlihat namun sungguh jauh untuk diraih.

Tapi semangat sang pahlawan haruslah tetap menyala. Agar kebencian dan kemunafikan tak akan lama bertahta. Dengan begitu kengerian yang kalian sebar akan segera menemui ajalnya. Kami yakin, ia telah berada di ujung senjakalanya.

Dan ingatlah, sesungguhnya Munir tak pernah benar-benar mati. Ia tetap hidup, berlipat beribu-ribu kali, dalam tiap diri kami.