Minggu, 13 Agustus 2017

Semalam di Asei


Selepas hingar bingar tiga hari Festival Lembah Baliem di Wamena, saya melanjutkan perjalanan ke Pulau Asei di Danau Sentani yang hening. Menyinggahi pulau ini sungguh sangat tidak terencana. Sebelum ke Wamena saya hanya berniat untuk melihat Danau Sentani dari dekat, setelah hanya menyaksikan keindahannya saat pesawat yang saya tumpangi mendarat atau lepas landas di Bandara Sentani.
Tidak ada petunjuk yang terlalu jelas dari teman-teman yang saya tanyai tentang kampung-kampung di sekitar Danau Sentani. Atau mungkin saja saya yang tidak terlalu fokus dengan penjelasan mereka. Informasi mereka selalu ditekankan pada legenda berbalut ngeri: "tapi ko hati-hati e. Disana banyak orang mabuk. Dong biasa minta uang atau pukul orang." Mamayo.
Tapi cerita itu sungguh tidak terbukti. Paling tidak sampai malam ini.
Selepas keluar dari Bandara Sentani pagi tadi, saya langsung bertanya kepada beberapa orang bagaimana caranya menjangkau kampung-kampung di tepian Danau Sentani. Oleh seorang ibu penjual nasi pecel, saya disarankan menuju Dermaga Khalkote dengan menumpangi angkot panjang. Di dalam angkot saya bertemu mama-mama yang akan ke pasar baru. Ia menyarankan saya untuk sekalian menyeberang ke pulau jika ingin melihat suasana perkampungan di Danau Sentani. "Lebih baik ke Ayako atau Asei Pulo. Di Khalkote tidak ada apa-apa. Waktu festival (maksudnya Festival Danau Sentani yang dihelat pada Juni lalu) boleh ramai. Kalo sekarang sepi."
Mama baik di dalam angkot (sungguh sial saya lupa menanyakan namanya) itu pula yang menjelaskan soal ongkos angkot dan ojek menuju Dermaga Khalkote. "Jangan mau ditipu e. (Bersikap) biasa saja. Jangan seperti orang baru."
Memang betul, google map terbaik adalah warga setempat.
Setelah melanjutkan perjalanan dengan ojek, saya pun sampai di Dermaga Khalkote atau sering juga masyarakat sebut sebagai Expo. Sebuah jembatan panjang dengan panorama jajaran bukit hijau terpampang di antara Danau Sentani yang tenang. Tidak terlalu jauh, nampak sebuah pulau kecil dengan jejeran rumah di tepi dan sebuah gereja di puncak bukitnya. "Itu sudah Pulau Asei," kata seorang pengunjung disitu. Baiklah, saya memilih menyeberang kesana saja.
Tidak lama kemudian ada sebuah kapal kecil bermotor yang akan menyeberang ke Pulau Ayako. Beruntunglah saya karena pengemudinya bersedia mengantar saya ke Pulau Asei terlebih dulu. Tidak terlalu merepotkan buat dia, karena Pulau Asei dan Pulau Ayako berada dalam satu lintasan perjalanan kapal tersebut.
Hanya sekitar lima menit saya sudah menginjakkan kaki di Pulau Asei. Saya langsung berkenalan dengan Rei, pemuda lokal yang sangat ramah. Bersama beberapa rekannya, ia sedang menikmati sopi, tuak tradisional orang timur. Tak lama berbincang saya pamit untuk melihat suasana kampung di pulau tersebut. Rei dan rekan mempersilakan sambil merekomendasikan Gereja Tua Asei yang terletak di atas bukit untuk saya kunjungi.
Dalam perjalanan menuju Gereja Tua Asei, saya menyaksikan mama-mama yang sedang membuat kerajinan kulit pohon. Menurut mereka, aktifitas tersebut merupakan salah satu mata pencaharian utama masyarakat Pulau Asei selain sebagai nelayan. Produk seni kulit kayu Pulau Asei sudah mendapat pasar di Sentani Kota sampai di Jayapura.
Sedikit mendaki ke atas bukit, saya sampai di Gereja Tua Asei. Situs cagar budaya ini sudah ada sejak tahun 1928 dan menjadi penanda sejarah masuknya Kristen yang dibawa oleh misionaris Belanda ke pulau kecil tersebut. Bangunan berbahan kayu tersebut masih difungsikan hingga saat ini. Ibadah misa rutin dilaksanakan saban minggu. "Kadang ada pastor dari Sentani yang datang kesini memimpin ibadah," kata seorang bapak yang saya temui tidak jauh dari tempat itu.
Puas berkeliling pulau dan mengambil foto, saya kembali ke bale-bale tempat nongkrong Rei dan rekan-rekannya di tepi dermaga tadi. Saya bertanya, apakah ada kapal yang bisa saya tumpangi untuk kembali ke Dermaga Khalkote sebelum malam. Tapi Rei memberikan penawaran yang terdengar lebih menarik. "Ah, mas bermalam di sa pu rumah sudah. Besok pagi sa antar ke sebelah."
Jadilah saya bermalam di Pulau Asei malam ini.
Rei (sampai sekarang dia enggan menyebut nama panjangnya) tinggal bersama orang tua dan dua adiknya. Mereka semua seperti Rei, sangat ramah. Sesaat setelah matahari tergelincir, kami makan malam. Santapannya adalah sagu dan ikan bakar segar yang saya beli dari nelayan di dermaga tadi sore. Sedap betul.
Saat menulis jurnal perjalanan ini, saya sedang di dermaga bersama Rei dan beberapa pemuda Pulau Asei. Malam ini langit sedang cerah. Hamparan Danau Sentani tampak tenang sekali. Sedangkan di hadapan kami ada sopi dan kopi yang menemani percakapan tak tentu tema. "Untuk kasi hangat badan, kawan." Semoga demikian.
Saya berharap besok pagi Rei tidak terlalu mabuk untuk mengantar saya menyeberang.


Danau Sentani, 12 Agustus 2017

1 komentar: