Selasa, 23 Agustus 2016

Phinisiq


    lahir di tana beru besar di samudra
    mengarung senyap rajut nusantara
    selama di lautan katakan saja kita kemana
    di buritan ku beri kau pertanda:
    tarik tujuh layar angin pun kan serta

    Agats, Mei 2016 

Minggu, 21 Agustus 2016

Berjalan Dalam Keseimbangan di Kampung Atsj

Plang selamat datang di Objek Wisata Kampung Atsj.
Ja asamanam apcamar, berjalan dalam keseimbangan. Begitulah bunyi semboyan resmi Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. Semboyan yang lahir dari kearifan turun-temurun dan telah menjadi etos hidup bagi masyarakat suku Asmat. Nilai ini menjadi pegangan dalam pembangunan kabupaten secara berkelanjutan juga menjaga lingkungan kampung agar tetap lestari.

Jika berkesempatan ke Asmat cobalah berkunjung ke Kampung Atsj (baca: atsi) untuk melihat bagaimana semboyan tersebut bekerja. Selama hampir setahun tinggal di Asmat, Kampung Atsj adalah favorit saya untuk dikunjungi. Di Kampung ini perkembangan dalam bingkai keseimbangan benar-benar terlihat. Gejala modernitas mulai nampak namun kearifan adat masih kuat bertahan. Pembangunan berlangsung tapi daya dukung lingkungan tetap diperhatikan.

Sebenarnya Kampung Atsj punya pengalaman buruk di masa lalu. Sekitar tahun 1990-an Kayu Gaharu yang melimpah di sekitar hutan kampung menjadi incaran para pendatang. Masyarakat Suku Asmat sebagai pemilik dusun, lokasi hutan yang terdapat banyak Pohon Gaharu, dibujuk rayu untuk menyewakan bahkan menjual lahan mereka kepada para pemodal dari luar daerah. Eksploitasi berlebihan pun terjadi. Dampak buruknya dirasakan kemudian oleh masyarakat kampung. Hutan gundul, abrasi pada beberapa kali atau sungai, dan bagi masyarakat yang masih hidup berburu, lokasi untuk menangkap hewan hutan dirasa semakin jauh. Rusaknya sistem ekologi adalah bencana besar bagi suku Asmat yang sebagian besar masih hidup berburu dan meramu bahan makanan dari hutan.

Keresahan akan rusaknya hutan di sekitar kampung kemudian mendorong para tetua adat dan tokoh masyarakat untuk berembuk. Menegakkan kembali kearifan lokal warisan leluhur yang mulai luntur menjadi pilihan. Himbauan disebarkan kepada masyarakat, baik suku Asmat maupun pendatang, untuk tidak berlebihan dalam memanfaatkan alam. Suku Asmat sebenarnya memiliki mekanisme adat tersendiri dalam berinteraksi dengan alam. Cara tersebut terbukti ampuh dalam menjaga kelestarian hutan yang menjadi pusat hidup mereka selama ratusan tahun.

“Kata kuncinya itu adalah keseimbangan. Dari dulu kami sudah mengambil kayu di hutan untuk bikin rumah, mengukir, memasak, tapi tidak pernah bikin hutan jadi rusak. Hutan itu sumber hidup kami. Kalau hutan rusak roh leluhur akan marah, dan hidup akan jadi susah. Itu yang banyak dilupa oleh generasi sekarang. Gara-gara satu amplop uang saja mereka rela jual sumber kehidupan.” Kata Laurensius Bumberew, Kepala Kampung yang juga salah satu tetua adat Kampung Atsj.

Diskusi para tetua adat di dalam Jew, rumah adat yang menjadi pusat interaksi sosial dan agenda ritual Suku Asmat, hampir selalu menyinggung soal kearifan leluhur dalam memperlakukan alam. Dusun-dusun yang dikelola oleh masing-masing keluarga tetap tidak boleh dirusak sesuka hati karena akan berdampak pula kepada orang lain juga kampung. Ajaran-ajaran ini kemudian disebarluaskan kepada anggota keluarga di rumah-rumah, terutama pada anak-anak dan orang-orang muda Asmat.

Suasana pertemuan di dalam Jew, pusat pertemuan sosial dan agenda ritual Suku Asmat dilaksanakan.
Status Kampung Atsj sebagai ibukota distrik memang membawa banyak keuntungan juga tantangan bagi kelestarian kampung dan hutan sekitar. Kedatangan para perantau dari Sulawesi, Ambon, dan Jawa dengan segala barang dagangan mereka membuat kehidupan masyarakat kampung jadi lebih mudah. Kebutuhan pokok tidak susah payah lagi dicari di dalam hutan. namun segala kemudahan tersebut membawa efek buruk dalam hal bergesernya budaya Suku Asmat. Generasi yang lahir kemudian adalah generasi yang serba instan dan melulu berpikir oportunis. Mereka tidak lagi menguasai cara-cara leluhur dalam memanfaatkan alam sekitar mereka. Mereka seperti kehilangan semangat untuk bekerja di hutan. Akibatnya ketika ada godaan untuk menjual lahan dusun, tanpa memikirkan akibat jangka panjangnya mereka langsung mengiyakan.

Beruntung Kampung Atsj masih memiliki orang-orang yang masih memegang teguh ajaran leluhur. Mereka lah yang kemudian menghidupkan kembali adat sebagai kontrol sosial. Selain bediskusi di dalam Jew, seperti yang sebelumnya saya katakan, para seniman di kampung menyebarkan pesan-pesan adat lewat kegiatan di sanggar seni. Adalah Yohanis Tuanban (51 tahun) beserta seniman ukir lainnya yang kemudian berinisiatif untuk membangun sebuah sanggar seni di Kampung Atsj. Sanggar ini kemudian menjadi pusat kegiatan para woupits (sebutan untuk seniman ukir Asmat) dalam memproduksi ukiran khas Asmat. Selain itu sanggar seni yang diberi nama Atsekap tersebut juga berfungsi sebagai lokasi transfer ilmu mengukir dan penyadaran akan pesan-pesan leluhur kepada anak-anak dan kawula muda.

“Setiap hari sanggar kami buka. Ada yang mengukir ada juga yang bertugas mengumpulkan pemuda untuk dilatih. Sambil berlatih mengukir kami sampaikan pesan-pesan leluhur tentang menjaga alam dan adat istiadat orang Asmat kepada mereka. Kami menganggap hal ini sangat penting untuk dilakukan.” Kata Yohanis Tuanban saat saya mengunjungi Sanggar Seni Atsekap.

Bagi orang Asmat nilai-nilai kearifan leluhur sangat kental tertanam dalam aktifitas mengukir. Konon proses penciptaan manusia pertama suku Asmat berasal dari kayu yang diukir hingga membentuk sesosok manusia. Ukiran tersebutlah yang kemudian menjelma menjadi leluhur pertama dan utama dalam alam kepercayaan orang Asmat. Itu sebabnya bagi orang Asmat mengukir selalu dianggap sebagai sesuatu yang sakral.

Banyak hal yang mesti diperhatikan sebelum memulai membuat sebuah ukiran. Mulai dari pemilihan bahan kayu hingga proses pemasarannya. Kayu yang digunakan adalah jenis kayu besi yang benar-benar sudah siap. Kesiapan pohon dari kayu tersebut ditandai dengan batang dan ranting yang sudah mengering dan kulitnya mulai mengelupas. Pohon yang telah tumbang lebih mereka utamakan untuk dibawa pulang kemudian diukir. “Kalau kayunya belum siap jangan ditebang dulu. Biasanya ukiran belum selesai kayunya sudah rusak atau terbelah. Itu tandanya leluhur tidak merestui.” Jelas Yohanis.

Dalam hal pemasaran, para woupits biasanya membawa ukiran mereka di Pesta Budaya Asmat dan Festival Beworpit-Tewerawut (Festival Seni Khusus untuk Pemuda Asmat) yang rutin dilaksanakan setiap tahun. Selebihnya mereka menunggu para turis yang datang untuk melihat hasil karya mereka. Diakui oleh Yohanis, pemasaran yang selama ini mereka usahakan dirasa belum maksimal. Oleh sebab itu Ia masih terus berusaha untuk melebarkan jaringan pasarnya dengan berbagai cara. Meminta bantuan kepada dinas terkait di kabupaten sampai menjalin kemitraan dengan pihak swasta. Kesempatan untuk ikut pameran seni pun selalu Ia sambut baik.

“Bulan depan (September) saya diajak untuk ikut pameran seni Festival Pesona di Jakarta. Saya akan memperkenalkan langsung budaya Asmat disana. Siapa tahu bisa tambah kenalan juga untuk menjual produk (ukiran dan anyaman) anggota sanggar.”

Rutinitas harian para Woupits atau pengukir di Sanggar Seni Atsekap Kampung Atsj. Selain workshop tempat ini juga difungsikan sebagai pusat pelatihan keterampilan mengukir bagi generasi muda.
Beberapa contoh ukiran tembus dua sisi khas Kampung Atsj yang banyak diminati oleh turis maupun kolekter seni.
Awalnya bangunan Sanggar Seni Atsekap sangat sederhana. Hanya bangunan berbentuk pondok kecil dengan luas tidak lebih dari 25 meter persegi. Namun sekitar awal tahun 2010, pengurus Sanggar Seni Atsekap mulai melakukan pengelolaan keuangan. Sebagian hasil penjualan ukiran para anggota disisihkan untuk kas sanggar. Pada tahun 2015 dana mereka sudah siap untuk mendirikan sanggar yang lebih besar dan nyaman untuk aktifitas kesenian masyarakat kampung. Sanggar juga dilengkapi dengan gudang untuk menyimpan ukiran yang telah selesai namun belum laku terjual.

Pengembangan produk juga terus dilakukan. Yang terbaru, para pengukir Kampung Atsj memperkenalkan ukiran akar pohon. Hal tersebut merupakan inovasi daerah yang benar-benar dikembangkan dari dalam kampung. Jika biasanya akar pohon hanya dibuang setelah batangnya dijadikan papan, kini sudah bisa dimanfaatkan menjadi kerajinan tangan yang cantik. Akar-akar pohon berukuran sedang hingga besar biasanya diukir bercerita lantas dijadikan kaki meja. Sejauh ini sambutan akan produk terbaru tersebut sangat baik. Menurut seorang pengukir, sudah ada orang dari Merauke dan Agats (Ibukota Kabupaten Asmat) yang memesan kerajinan tangannya. Bahkan kini Kampung Atsj telah ditetapkan sebagai Kampung Wisata oleh Pemerintah Kabupaten Asmat dengan ukiran akar pohon sebagai ciri khasnya.

Ukiran akar kayu, produk inovasi terbaru dari Kampung Atsj.
Tidak berhenti sampai disitu, Kampung Atsj kini juga memiliki sanggar khusus bagi kaum perempuan untuk membuat kerajinan rajutan. Kerajinan tangan seperti noken (tas rajut khas Papua), cawat, perhiasan, dan lain sebagainya diproduksi di tempat yang diberi nama Sanggar Semenawuts tersebut. sistem keuangan sanggar pun diatur seperti Sanggar Seni Atsekap. Dengan begitu kaum perempuan Kampung Atsj memiliki dana untuk mengembangkan sanggar dan membuat program lainnya, seperti pelatihan keterampilan bagi anak-anak dan remaja serta pemberian nutrisi tambahan bagi balita di dalam kampung.

Perkembangan sanggar Semenawuts dirasa cukup pesat oleh para anggotanya. Mereka dengan cepat memperkenalkan anyaman tas noken khas Asmat yang berbahan dasar pucuk daun sagu. Menurut Mama Helena yang menjabat sebagai Ketua sanggar, kini produksi noken buatan perempuan-perempuan Kampung Atsj lebih cepat terjual jika dibandingkan produk ukiran. “Noken buatan anggota saya tidak pernah bertahan lama di dalam sanggar. Kalau kami bawa ke pasar pasti ada yang membeli. Ada juga yang meminta untuk kami menjual di Agats,” kata Mama Helena.

Mama Helena saat melatih seorang remaja membuat anyaman noken di Sanggar Semenawuts Kampung Atsj.
Meningkatnya minat akan produk kesenian Suku Asmat, baik noken maunpun ukiran, tentu tidak lepas dari ditetapkannya Asmat sebagai Situs Warisan Dunia (World Heritage Sites) oleh Badan Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB, UNESCO. Kabar gembira tersebut datang pada tahun 2011 setelah proses pengusulan yang alot selama lebih dari setahun. Pesona Asmat dengan segala kekayaan intelektualnya di bidang budaya memang sejak lama telah menarik perhatian dunia. Dan pengakuan dari UNESCO tersebut semakin mempertegas kekaguman tersebut. Tentu prestasi membanggakan ini merupakan persembahan masyarakat Suku Asmat untuk Indonesia. Dan sudah semestinya menjadi tugas kita sebagai bangsa untuk terus merawat kebanggan tersebut.

Sumbangsih sanggar-sanggar seni di Kampung Atsj telah berkontribusi nyata dalam menghidupkan mata pencaharian yang lebih ramah pada lingkungan. Kampung ini membuktikan bahwa perkembangan dan pembangunan tidak mesti mengorbankan budaya dan lingkungan. Kesadaran adat turun-temurun dipadu dengan inovasi dalam berkarya adalah cara orang Asmat di Kampung Atsj dalam menghadapi tantangan zaman.


Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahku - https://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku

Jumat, 17 Juni 2016

Pjanic


Tidak banyak pemain AS Roma yang kepindahannya terlalu saya sesali. Dua diantara dari yang sedikit itu adalah  Alberto Aquilani yang hijrah ke Liverpool dan Marcos Assuncao yang melanjutkan karir ke Real Betis. Kepindahan Aquilani saya sesali karena ia adalah pemain muda potensial asli didikan Roma. Jika tetap di Roma Ia bisa menjadi penerus trah pangeran ibukota yang disandang oleh Francesco Totti dan Danielle De Rossi. Sedangkan untuk Assuncao, pemain ini punya keahlian eksekusi tendangan bebas yang sulit untuk tidak dicintai. Berteknik tinggi, magis dan nyaris selalu berhasil. Bagi saya, kemampuan freekick Assuncao hanya bisa disejajarkan dengan Juninho dan Andrea Pirlo. Alvaro Recoba juga mantap dalam hal ini, tapi saya punya dendam pribadi dengannya.

Sejak kepergian Assuncao praktis Roma tidak lagi memiliki eksekutor bola mati yang reguler. Kondisi ini bertahan selama beberapa tahun sampai Miralem Pjanic datang dari Lyon pada tahun 2011. Roma mendapatkannya setelah bersaing secara ketat dengan beberapa klub besar Eropa. Anak muda Bosnia ini memang istimewa. Walau terlihat ringkih secara fisik, tapi Pjanic punya kemampuan gocekan yang mumpuni dan insting mengumpan yang baik. Dan yang paling penting, hal yang kemudian membuat saya kagum berat padanya, Ia memiliki kemampuan eksekusi tendangan bebas yang mematikan.

Tapi kekaguman tersebut berubah menjadi kekecewaan. Awal pekan ini nyaring media memberitakan Pjanic telah resmi pindah ke Juventus. Semangat puasa jadi lesu rasanya saat melihat fotonya mengenakan polo shirt merah muda berlogo banteng belang hitam putih. Memegang pulpen menghadap lembar kontrak dengan tersenyum bahagia. Kenangan bermain di Olimpico dan dipuja ribuan Romanisti selama lima musim seperti tak bersisa sama sekali.

Kekecewaan atas kepindahan Pjanic memang menjadi berlipat ganda. Bukan hanya karena pemain ini berkualitas tinggi, tapi juga karena klub yang dipilihnya adalah Juventus. Iya Juventus, klub yang menjadi kompetitor utama dan selalu berhasil menghalangi Roma meraih juara Liga Italia dalam beberapa musim belakangan ini. Yang lebih menyakitkan lagi, kabarnya Pjanic sendiri yang meminta kepada manajemen Roma untuk melepasnya ke Juventus. Hamsyong benar.

Tapi tentu saya paham dengan pergulatan batin yang dirasakan Pjanic. Menjadi pemain muda berlabel bintang namun bermain di klub yang tidak menghasilkan gelar apapun adalah problem tersendiri. Apa yang bisa diharapkan dari klub seperti AS Roma? Suasana kekeluargaan? Lupakan! Sepakbola sudah berkembang jauh menjadi industri kok masih ada klub yang membanggakan kekeluargaan macam ini. Kebanggaan bermain bersama Totti? Ilusi sekali! Cuma orang gila macam De Rossi yang terus mempertahankan kebanggan seperti itu sampai akhir hayatnya. Bagaimana mau jadi tim besar tapi mental begitu-begitu aja. Dan kenapa pula saya masih bertahan mencintai klub macam ini. Alamak.

Pada awal masa menjalankan tugas kali kedua sebagai allenatore Roma, Luciano Spaletti sempat berujar kira-kira seperti ini: “pemain yang ingin keluar dari Roma, pergilah. Dan bagi mereka yang ingin terus bertahan, mari berjuang bersama membesarkan klub ini.” Perkataan itu sepertinya dimanfaatkan betul oleh Pjanic. Gelagat tidak betah di ibu kota sudah terlihat sejak awal musim yang lalu. Permainannya kurang maksimal dan sangat sering dicadangkan, walau masih memperlihatkan sentuhan ajaibnya. Pun Ia tidak pernah membantah saat dihubungkan dengan beberapa klub yang melamarnya untuk pindah. Semuanya baru terbukti saat pemberitaan itu beredar: Pjanic Resmi ke Juventus.

Ya sudahlah. “Sakit memang tapi harus,” seperti kata seorang teman kuliah saya saat ditinggal kawin pacarnya. Selamat tinggal, Mire. Semoga tetap menjadi pemain yang hebat di tempat baru. Jadilah lawan yang tangguh saat tim kita bertemu. Walau jelas perburuan scudetto akan semakin berat tanpamu.

Dan selamat pula untuk Juventus. Tentu Gigi Buffon kini merasa lebih tenang di masa tua karirnya sebagai pemain sepakbola. Momoknya kini berkurang. Ia tidak perlu lagi merasa takut terlihat seperti kiper amatir saat harus menghalau tendangan bebas Pjanic, seperti yang dirasakannya pada bulan Agustus tahun lalu.

Sabtu, 11 Juni 2016

Kebudayaan untuk Kehidupan: Pesan Pelestarian Lingkungan di Festival Beworpit-Tewerawut


Terik matahari di Kota Agats, Kabupaten Asmat, tidak mengendurkan semangat sekelompok pelajar dari Sekolah Satu Atap Distrik Sawaerma. Siang itu mereka akan tampil dalam perlombaan sosio drama di Festival Beworpit-Tewerawut 2016. Saat giliran tampil, mereka memasuki arena pertunjukan dengan tenang. Tidak ada kesan kepanasan di kaki saat berjalan di atas lapangan yang terbuat dari papan tersebut. Setelah memberikan salam hormat kepada dewan juri dan penonton, para pemeran mulai mengambil posisinya masing-masing. Penampilan mereka dibuka dengan pembacaan prolog oleh seorang siswi:
“Asmat sekarang telah berubah. Sagu sebagai makanan pokok sejak leluhur kini sudah semakin sulit dicari. Pesta-pesta adat yang mengagungkan pohon sagu perlahan mulai ditinggalkan. Bahkan tidak ada niat untuk menanam kembali bibit sagu baru sebagai regenerasi pohon sagu. Lalu jika itu hilang dan musnah dari bumi Asmat, kepada apa kita akan menggantungkan hidup? Sudah lupakah kita terhadap pengorbanan Beworpit dalam menemukan sagu? Bahkan dia sendiri mengorbankan dirinya untuk menjadi pohon sagu yang tumbuh di tanah Asmat tercinta ini. Jika sudah lupa, marilah kita menyaksikan kembali kisahnya dalam sosio drama berikut yang berjudul ‘Asal-Usul Pohon Sagu.’”
Cerita pun bergulir. Dimulai dengan babak saat Beworpit bermimpi menemukan sebuah pohon yang memberikannya makanan. Ia lantas penasaran dan pergi mencari dimana keberadaan pohon yang dijumpainya dalam mimpi tersebut. Berhari-hari Ia berkelana namun belum berhasil menemukan keberadaan pohon impiannya itu. Sampai pada suatu hari, dalam kelelahan berjalan, kaki Beworpit tertusuk duri dari sebuah dahan yang terjatuh. Ia pun terkejut namun langsung takjub ketika melihat pohon dari dahan yang sudah berada di tanah tersebut. Pohon itu persis seperti yang muncul di mimpinya beberapa waktu lalu. Beworpit yang kegirangan berlari pulang ke kampungnya untuk menyampaikan kabar gembira tersebut kepada seluruh anggota keluarganya.

Sejak saat itu pohon berduri tersebut menjadi makanan kesukaan Beworpit dan keluarganya. Mereka tidak pernah lagi kekurangan bahan makanan. Saat merasa lapar, secara berkelompok mereka akan menuju pohon tersebut di dalam hutan. Mereka mengibaratkan pohon itu seperti orang tua yang terus menyediakan makanan bagi mereka anak-anaknya secara cuma-cuma.

Namun kemudian muncul kekhawatiran dari dalam diri Beworpit tentang masa depan ketersediaan pohon duri yang terus mereka tebang. Ia takut suatu saat pohon tersebut akan habis dan berdampak pada berkurangnya bahan makanan bagi keturunannya di masa yang akan datang. Dalam murung Beworpit terus berpikir mencari jalan keluar. Pada suatu malam Ia pun kabur dari kampungnya untuk menuju tengah hutan. Ia terus berjalan menuju lokasi pertama kali menemukan pohon duri yang pertama dilihatnya di dalam mimpi.

Sementara itu para anggota keluarga yang lainnya baru menyadari ketiadaan Beworpit beberapa hari kemudian. Semuanya gelisah karena sang pemimpin telah menghilang entah kemana. Mereka pun memutuskan untuk mencari Beworpit ke segala arah. Sesampainya di tengah hutan mereka menemukan sebuah pohon berduri. Mereka terkejut karena ternyata pohon tersebut dapat berbicara. Alangkah kagetnya mereka karena pohon berduri tersebut adalah Beworpit yang telah mengubah dirinya. Tangisan pun pecah di rimba tersebut. mereka sedih bukan hanya karena kehilangan seorang pemimpin, tapi juga karena kebesaran hati Beworpit dalam mengorbankan dirinya demi kelangsungan hidup anggota keluarga dan keturunannya.

Pohon berduri yang ada dalam cerita tersebut kemudian dikenal sebagai pohon sagu yang menjadi makanan pokok khas bagi orang Asmat juga masyarakat di seluruh tanah Papua. Sekolah Satu Atap Distrik Sawaerma mengangkat kembali cerita kepahlawanan Beworpit karena didorong oleh rasa khawatir atas pergeseran budaya yang terjadi saat ini. Mereka ingin berpesan untuk menghargai jasa Beworpit dengan terus melestarikan tanaman sagu agar dapat terus menjadi makanan pokok masyarakat di Kabupaten Asmat.

“Jangan sampai hanya karena diberi mie instan dan kopi kita menjadi kelaparan karena lahan sagu kita sudah diambil orang,” pesan penutup dalam epilog sosio drama tersebut. Sebuah singgungan bagi anggota masyarakat yang rela menjual tanah adat mereka kepada pengusaha demi mendapatkan sejumlah uang. Fenomena ini sedang marak terjadi di beberapa kampung di Kabupaten Asmat.

Heroisme Beworpit adalah sebuah cerita tragis namun memiliki pesan yang sangat mendalam dalam menjaga lingkungan. Cerita leluhur Orang Asmat tersebut menjadi salah satu penampilan yang paling menarik perhatian pada Festival Beworpit-Tewerawut 2016. Festival seni ini sendiri merupakan agenda tahunan yang pada perhelatan kali ini telah memasuki edisi kedelapan. Diselenggerakan  sejak tanggal 6 hingga 10 Juni 2016 di Lapangan Yos Sudarso, Kota Agats. Pesertanya kebanyakan adalah pelajar dan pemuda yang terbagi dalam grup-grup yang berasal dari berbagai kampung. Dalam sambutannya, Bupati Kabupaten Asmat menjelaskan tujuan kegiatan ini adalah untuk lebih memperkenalkan budaya Asmat kepada kaum muda. “Agar kebudayaan Asmat yang sudah dikenal dunia tetap lestari dan akrab bagi generasi muda Asmat.”

Panitia festival tahun ini dengan sangat tepat memilih “Kebudayaan untuk Kehidupan” sebagai tema kegiatan. Tidak kebetulan tanggal pelaksanaan festival berdekatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup yang jatuh pada tanggal 5 Juni yang lalu. Dengan dipilihnya tema tersebut bukan hanya misi melestarikan budaya saja yang ditampilkan, namun juga pesan-pesan menjaga lingkungan sebagai sumber kehidupan banyak disampaikan pada festival tahun ini. Hal ini terbukti dari penampilan para peserta yang selalu ada unsur alam atau menyelipkan pesan pelestarian lingkungan pada berbagai macam lomba, mulai dari mengukir, menggambar, parade Burung Cendrawasih, tari kreasi, sosio drama, dan menyanyi.

Selain kisah Beworpit dari Sekolah Satu Atap Distrik Sawaerma, penampilan apik juga ditunjukkan Grup Asmat Aites dari Kampung Syuru pada cabang lomba tari kreasi. Kelompok seni yang dipimpin oleh Bernat Becimpari tersebut menampilkan sebuah sendra tari yang menyajikan cerita persentuhan masyarakat Asmat dengan lingkungannya. Dengan koreografi yang sangat dinamis Grup Asmat Aites menyajikan cerita yang mewakili berbagai macam kegiatan keseharian, mulai dari mendayung ci (perahu tradisional Suku Asmat), menjaring ikan, memangkur sagu, hingga berburu di hutan. Bahkan adegan berperang dengan musuh pun ditampilkan. Kesemuanya itu membuat kreasi tari yang mereka tampilkan menjadi sangat hidup.

Nilai tambah yang membuat Grup Asmat Aites meraih juara pertama pada cabang perlombaan ini adalah mereka membungkus koreografi mereka yang sudah apik dengan iringan musik tradisi Asmat. Tujuh orang pemusik dan penyanyi menyajikan alunan irama yang mengisi gerak kesepuluh orang penari. Mereka mengatur tempo, menciptakan nuansa gembira ataupun murung, dan menjadi penanda perpindahan gerakan. Belum lagi busana dan make up yang mereka gunakan sangat berwarna namun tetap pas. Kesemuanya klop dalam penampilan yang sangat berkesan, baik estetik tari maupun pesan yang disampaikan.

Sesaat setelah keluar dari arena perlombaan, saya menghampiri Bernat Becimpari untuk memberikan selamat dan mengobrol soal proses kreatif mereka. Sebelumnya saya memang sudah berkenalan dengannya dalam sebuah kegiatan penyadartahuan perlindungan sempadan sungai di kampungnya. Bernat adalah salah satu tokoh pemuda di Kampung Syuru yang aktif menggerakkan kegiatan kepemudaan lewat kegiatan seni di sanggar miliknya. Ia juga merupakan guru muatan lokal di salah satu Sekolah Dasar di Kota Agats. Oleh berbagai pihak, Ia sering diajak ke berbagai kota bahkan manca negara untuk memperkenalkan kekayaan budaya Asmat. “Bulan Juli nanti saya akan ke Amerika selama satu bulan untuk mempromosikan kebudayaan Asmat,” kata Bernat dengan semangat.

Untuk penampilan yang memukau di Festival Beworpit-Tewerawut tahun ini Bernat melatih anak asuhnya hanya dalam waktu dua minggu. Ia membagi pemainnya dalam beberapa cabang perlombaan dan mengawasinya masing-masing. Mata lomba yang paling Ia perhatikan adalah tari kreasi dan parade Burung Cendrawasih. “dua lomba itu yang paling bergengsi. Biasanyan kalau menang pada dua lomba itu kita akan diutus untuk mewakili Asmat di festival tingkat Provinsi.”

Wajah tegang peserta parade Burung Cendrawasih saat menunggu giliran tampil.

Unsur lingkungan kental dalam kostum para peserta festival.
Dan memang terbukti, Asmat Aites juga menjadi pemenang pertama dalam mata lomba parade Burung Cendrawasih. Sebenarnya dalam lomba ini koreografi dan pesan yang ingin disampaikan semua peserta hampir sama. Bagaimana Burung Cendrawasih yang sudah menjadi simbol tanah Papua terancam keberadaannya akibat perburuan liar. The bird of paradise ini ditampilkan sedang menari-nari dalam  kostum yang penuh warna. Datang kemudian seorang pemburu yang memanah kawanan burung tersebut. salah satu burung pun mati dan nuansa musik berubah menjadi murung.

Diantara keseragaman pempilan para peserta, Grup Asmat Aites kembali menunjukkan nilai lebihnya. Penampilan mereka persis seperti nama yang dipakai, Aites, yang berarti kaum muda yang tangguh dan berbakat. Tidak hanya gerakan dalam parade yang dibuat menarik tapi juga kostum dan musik yang mereka tampilkan sangat menyatu padu dengan keseluruhan unsur dalam parade. Saat musik mengalun cepat, semua penari bergerak lincah. Begitupun sebaliknya. Saat musik berubah pelan penari pun bergerak anggun, sambil memanfaatkan momen tersebut untuk meghimpun panas.

Walau bukan festival terakbar, Bernat dan beberapa pelatih dari berbagai grup cukup serius dalam menghadapi event ini. Bukan hanya soal hadiah dan gengsi, lebih dari itu mereka ingin agar ragam kesenian Suku Asmat menjadi semakin akrab di kalangan anak muda. “Hal ini (kesenian Asmat) penting untuk diperkenalkan kepada anak-anak muda. Jangan sampai budaya kita jadi mati karena cuma tua-tua saja yang menguasai. Anak-anak Asmat harus meneruskan warisan leluhur ini,” kata Bernat dalam obrolan kami. “Bukan cuma peserta yang saya ajak saja yang masih muda-muda, penonton yang datang kesini juga banyak anak-anak Asmat. Semoga mereka terhiubur dan tertarik untuk melestarikan kesenian ini.”


Pada festival ini pula saya kembali menyaksikan korelasi antara pelestarian budaya dan pentingnya menjaga alam raya. Sudah jelas bagi orang Asmat, cara terbaik untuk tetap menghidupkan adat dan budaya mereka adalah dengan cara menjaga bumi dari tangan-tangan serakah. Kesadaran tersebut yang kini diupayakan agar juga tertanam pada diri kaum muda Asmat.

Sabtu, 12 Maret 2016

Menjaga Hutan Menghidupkan Adat

Sebuah keluarga mendayung ci menuju hutan untuk mencari bahan makanan dan kebutuhan sehari-hari
Pagi di Kampung Yepem diawali dengan kokok ayam dan suara burung-burung dari hutan sekitar. Bunyi-bunyian itu menjadi semacam alarm yang membangunkan penduduk. Sebelum fajar benar-benar terbit, aktifitas sudah mulai terlihat di sekeliling kampung; anak-anak mandi di sungai, nelayan mendayung atau menyalakan mesin perahunya, dan atap-atap rumah yang terbuat dari daun sagu mulai mengepulkan asap dari dapur.
 
Yepem adalah sebuah kampung yang terletak di Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. Jaraknya sekitar dua puluh menit perjalanan dengan menggunakan perahu bermotor dari Kota Agats, ibukota Kabupaten Asmat. Akses yang cukup dekat dengan pusat kabupaten memberi keuntungan sekaligus tantangan tersendiri bagi Kampung Yepem dalam mempertahankan adat juga hutan mereka. Dalam lansekap yang lebih luas, Suku Asmat yang tersebar di 221 kampung menghadapi tantangan serupa dengan dinamikanya masing-masing. Bagaimana mempertahankan dua unsur paling penting dalam hidup Orang Asmat di tengah pesatnya pembangunan dan semakin terbatasnya sumber daya.
 
Adat dan hutan menjadi dua hal vital dan saling bergantung dalam kehidupan Orang Asmat. Tanpa kedua unsur ini Suku Asmat tidak akan pernah ada. Atau jika keduanya rusak, tentu “Asmat” hanya akan menjadi nama mati yang kehilangan maknanya. Adat Suku Asmat tumbuh dan berkembang di hutan. Sebaliknya, kelestarian hutan terus terjaga lewat praktik ataupun ritual dalam kepercayaan Orang Asmat.
 
Dalam alam kepercayaan Orang Asmat, pohon merupakan materi pembentuk orang pertama atau leluhur mereka. Para leluhur inilah yang kemudian menghidupkan adat Suku Asmat yang bertempat di sebagian pesisir selatan Papua. Hikayat ini terus hidup dan termanisfestasi dalam kegiatan keseharian yaitu mengukir. Lewat seni ukir masyarakat Asmat terus menjaga adat yang menjadi warisan leluhur. Sebuah ukiran Asmat bukan hanya benda mati yang tanpa arti. Setiap ukiran diciptakan untuk menceritakan sebuah peristiwa atau keseharian Orang Asmat.
 
Paskalis Wakat, seorang seniman ukir dari Kampung Yepem, mengatakan kalau mengukir merupakan jalan baginya dan Orang  Asmat untuk menghormati leluhur juga alam. “hutan ini sudah sangat banyak memberi manfaat bagi kehidupan kami sejak jaman leluhur. Mengukir adalah cara kami menghormati leluhur dan hutan. Jadi kalau mengambil kayu untuk mengukir tidak boleh sembarangan. Untuk bahan baku kami memilih kayu besi dari hutan yang benar-benar sudah layak untuk diukir, agar roh-roh leluhur memberikan keberuntungan kepada kami,” ujarnya dalam sebuah diskusi yang kami lakukan beberapa waktu lalu.
 
Seorang teman penasaran lantas bertanya bagaimana masyarakat menjaga ketersedian bahan untuk mengukir jika hampir setiap hari mereka mengambilnya dari hutan. “pohon besi itu sebenarnya tumbuh alami di hutan. Asalkan tidak ditebang habis mereka akan terus ada,” terang Paskalis yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Woupits (pengukir) Kabupaten Asmat.
 
Bahan baku yang dipakai untuk mengukir memang tidak boleh sembarangan. Masih menurut Paskalis, jenisnya harus kayu besi. Jenis kayu ini dianggap yang paling kuat dan akan tahan lama setelah ukiran selesai dibuat. Usia tumbuhnya pun harus yang dirasa sudah cukup. “Ciri-cirinya itu dahan dan rantinnya sudah mulai mengering atau patah.” Jika mengambil kayu yang belum cukup umur maka akan percuma. Hasil ukiran tidak akan bertahan lama, mudah patah. “bisa-bisa ukiran itu belum selesai dikerjakan sudah rusak. Itu tandanya roh leluhur tidak senang,” katanya sambil tertawa.
 
Mengukir di Jew menjadi aktiftas harian beberapa lelaki di kampung-kampong Asmat
Selain dalam hal mengukir, persentuhan adat Orang Asmat dengan Hutan jelas terlihat dalam pembangunan sebuah Jew, rumah tradisional Suku Asmat. Bagi Orang Asmat, adanya bangunan Jew di dalam kampung adalah sebuah keharusan. “Berdiri tegaknya Jew adalah pertanda masih hidupnya adat istiadat di dalam kampung itu,” Kata Felix Owom, Kepala Kampung sekaligus Ketua Adat Kampung Syuru. Jew merupakan pusat segala kegiatan yang berkenaan dengan kehidupan sosial maupun religius Orang Asmat. Di tempat inilah berbagai permasalahan dibicarakan, mulai dari pengambilan keputusan sampai penyelesaian konflik. Semua pesta dan ritual adat Asmat juga dilaksanakan di Jew yang hampir selalu dibangun di tepi sungai.
 
Secara fisik Jew merupakan bangunan yang berbentuk persegi panjang dengan panjang sekitar 50 hingga 80 meter. Bahan untuk membangunnya seratus persen diambil dari alam. Walau berbeda di masing-masing rumpun, pembangunan Jew sangat bergantung pada ketersedian kayu dari dalam hutan. di Kampung Yepem misalnya. Adat turunan dari leluhur mensyaratkan Jew harus terbuat dari Pow (kayu Mangrove jenis Bruguiera), Juam (Kayu Putih) dan Kayu Pit. Kayu Pit yang memiliki diameter cukup besar dipakai sebagai umpak atau tiang penyanggah. Sedangkan Pow yang merupakan bahan utama digunakan untuk menyusun rangka Jew, mulai dari lantai, dinding, sampai atap. Untuk memperkokoh bangunan, Juam dipakai sebagai rangka tengah yang melintang dari ujung kiri sampai kanan. Kesemua bahan bangunan tersebut diikat dengan menggunakan rotan, tanpa paku sama sekali. Dengan segala pengalaman dan teknik turun-temurun yang dipakai Orang Asmat, seluruh rangkaian kerangka Jew tadi akan berdiri dengan kokoh.
 
Setelah seluruh rangka Jew terbentuk, giliran lantai, dinding, dan atap yang dikerjakan. Lantai Jew memanfaatkan kulit kayu Juam yang telah dikupas sebelumnya. Konsep menggunakan semaksimal mungkin apapun yang diambil dari alam diterapkan disini. Sementara untuk dinding dan atap harus menggunakan daun sagu atau biasa disebut daun rumbia. Setelah semua proses pengerjaan tersebut selesai Jew pun siap digunakan.
 
Peresmian sebuah Jew dilaksanakan dalam sebuah ritual yang sakral sekaligus meriah. Bukan hanya masyarakat kampung yang hadir, rekan dan tamu dari luar kampung pun akan berdatangan dalam pesta tersebut. Ketua adat akan menaiki Jew baru pertama kali. Setelahnya akan ada Pesta Goyang bagi perempuan atau mama-mama. Tapi tentu laki-laki juga anak-anak pun boleh ikut bergoyang. Pesta Goyang ini adalah puncak kemeriahan peresmian Jew baru. Sebagai pelengkapnya disediakan ulat sagu sebagai penganannya. Hmm…
 
Suasana perayaan adat di depan Jew Kampung Syuru, Asmat
Dengan segala keunikannya tersebut, Asmat, baik sebagai suku juga sebagai nama sebuah wilayah, telah memesona mata dunia. Pada Februari 2011 badan pendidikan, keilmuan, dan kebudayaan PBB, UNESCO, menetapkan Kabupaten Asmat sebagai salah satu situs warisan dunia. Seni mengukir Orang Asmat diakui sebagai kekayaan intelektual yang begitu unik sekaligus kaya. Harapan untuk menjadikan Asmat dikenal secara global tanpa kehilangan jati dirinya tentu telah terwujud. Hal ini pernah diungkapkan oleh Paskalis Wakat dalam sebuah wawancara dengan WWF Program Papua. “Harapan terbesar kami, Asmat menjadi internasional tanpa kehilangan kelokalannya.”
 
Namun capaian tinggi tersebut tentu bukan akhir dari upaya pelestarian budaya dan lingkungan Asmat. Keresahan kini dirasakan para tetua Orang Asmat di beberapa kampung. Diakui oleh mereka, generasi masa kini sudah mulai lupa cara leluhur memperlakukan alam. Eksploitasi hutan mulai terjadi di beberapa titik di Kabupaten Asmat. Dengan alasan mendapatkan uang, mereka rela menyewakan bahkan menjual hutan keluarga untuk ditebang secara massal oleh para pedagang dari luar daerah.
 
“Generasi sekarang sudah tidak tahu cara memanfaatkan hutan. mereka seenaknya saja merusak. Padahal rusaknya hutan adalah ancaman bagi kehidupan adat,” suara Primus Osci bergetar saat menyampaikannya dalam sebuah forum diskusi di Kampung Atsj. Primus adalah salah satu tetua adat di kampung yang kini hutannya banyak dibabat tersebut. Bukti pembalakan liar di Kampung Atsj sangat mudah dilihat. Tidak perlu masuk jauh ke dalam hutan. Cukup berdiri di tepi Kali Bets kita akan melihat sisa batangan-batangan kayu yang hanyut dibawa arus. Sungguh miris melihat kesia-siaan tersebut.
 
Dengan segala upaya dan kesadaran adat yang masih dimilikinya, para tokoh dan tetua adat Orang Asmat terus berupaya menjaga hutan. Cara mereka beragam. Selain lewat aktifitas mengukir dan pelaksanaan ritual adat di Jew, mereka memberikan pemahaman kepada anak-anak dengan bercerita tentang kearifan para leluhur. Keyakinan Orang Asmat masih sangat kuat. Tidak ada cara lain untuk tetap menghidupkan adat selain dengan menjaga hutan dari sentuhan tangan-tangan orang serakah.

Jumat, 19 Februari 2016

Jendela


kita mungkin jendela tak berengsel
di antara indahmu dan kagumku
ada pemisah yang tak terelakkan
tapi apa yang bisa menghalangi renjana?
tembok mengecil di hadapnya

Selasa, 09 Februari 2016

Pindah ke Asmat

Tugu Tangan yang menjadi pusat penanda Kota Agats, KabupatenAsmat.


Penghujung Januari lalu akhirnya saya pindah ke Asmat, setelah sebelumnya hanya berkunjung selama sepuluh hari. Pindah ke Asmat seperti membawa saya pulang ke Tarakan pada pertengahan 1990-an. Saat pertama kali datang ke Tarakan, keluarga saya memilih tinggal di sebuah kelurahan bernama Karang Rejo. Karena berada di daerah pasang surut, hampir seluruh bangunan di Karang Rejo berdiri di atas tiang-tiang pancang, termasuk juga jalan-jalan penghubungnya yang berbentuk jembatan. Memori inilah yang menjadi kesan pertama saat pertama kali sampai di Asmat.

Sampai menjelang berangkat ke Papua, Asmat masih menjadi semacam teka-teki bagi saya. Informasi tentangnya yang saya dapat masih sangat terbatas. Saya hanya tahu Asmat adalah nama salah satu suku di Papua. Saya bahkan tidak tahu ia adalah nama sebuah kabupaten. Baru saat masuk masa persiapan di Makassar dan Timika kabar tentang Asmat saya terima sedikit demi sedikit. Bahan bacaan mulai terkumpul, mulai dari artikel online sampai rancangan rencana pembangunan, dari data statistik sampai buku seperti Traveling the Asmat karya Marc Argeloo.

Kunjungan pertama ke Asmat memberikan kesan yang dalam bagi saya. Selain karena menghidupkan lagi memori masa kecil di Tarakan, saya dibuat terkagum dengan ukiran khas suku Asmat yang terdapat hampir di semua tempat. Di Agats yang merupakan ibukota kabupaten, semua gedung memasang ukiran sebagai ornament. Gedung pemerintahan, penginapan, gereja, sekolah, bahkan rumah-rumah warga pasti ada ukiran kayu. 

Saya, bersama dua teman lainnya, semakin terpesona dengan Asmat saat mengunjungi Museum Budaya dan Kemajuan Asmat. Di tempat ini pengunjung tidak hanya dapat melihat ukiran biasa, tapi semua karya terbaik maestro pengukir dari dua belas Forum Adat Rumput (FAR) Asmat. Karya-karya tersebut bisa dipajang di museum setelah meraih titel juara pada Pesta Budaya Asmat yang diselenggaran setiap tahun sejak 1981. Suasana semakin menyenangkan karena kami disambut dengan ramah sekali oleh Pak Erick Sarkol, Kepala sekaligus kurator utama museum. Karena tidak ada pengunjung lain, kami seperti mendapat pendampingan eksklusif. Pak Erick Sarkol sangat bersemangat menjelaskan semua hal tentang museum tersebut kepada kami, juga sejarah budaya mengukir suku Asmat. 

Tapi perjalanan tentu tak melulu menyenangkan. Saat akan berlayar dari Pelabuhan Poumako, Mimika menuju Agats, Asmat, dompet saya dicopet orang! Uang di dalamnya sih tidak seberapa, yang bikin celaka adalah semua dokumen penting, KTP, ATM, kartu asuransi, foto gebetan, semuanya ikut raib. Lagipula dompet tersebut adalah pemberian seorang teman akrab waktu SMA, dan belum pernah saya ganti lebih dari sepuluh tahun karena belum juga rusak. Maafkan saya, Chipa, eh Andry.

Akibat kehilangan dompet beserta isi-isinya, kehidupan dan pekerjaan jadi sedikit terganggu. Saya beruntung punya teman-teman dan rekan kerja yang sangat pengertian. Dan yang paling penting masih ada yang mau meminjamkan uang karena rekening tidak bisa diakses sama sekali di Agats ini. Terima kasih kepada Regis, Wawan, dan semua teman-teman kantor atas segala bantuannya.

Kalau ditotal, hampir sebulan sudah saya tinggal di Asmat. Selama itu saya masih terus beradaptasi, entah berapa lama sampai betul-betul membaur dengan segala kebiasaan yang ada disini. Kegiatan yang paling sering saya lakukan adalah menyapa dan bertanya kepala sebanyak-banyaknya orang. Untung di dalam Kota Agats ini saling menyapa sudah menjadi rutinitas. Paling tidak saya sudah memiliki beberapa teman akrab, selain rekan-rekan kerja tentunya.

Di kontrakan, anak-anak tetangga selalu kami ajak bermain dengan beberapa permainan yang Regis bawa dari Makassar. Permainan favorit mereka adalah ular tangga. Mungkin saking bersemangatnya, pernah mereka bermain permainan ular tangga lebih dari enam jam, dari siang sampai menjelang maghrib. Saat malam sebelum tidur kami dihibur dengan cerita mop (lelucon khas orang Papua) oleh anak-anak tersebut. Kami selalu ikut tertawa lepas, walau harus sabar mendengarkan cara berbicara mereka yang sangat cepat. Aih.
Sepertinya saya harus belajar mop untuk lebih mengakrabkan diri dengan orang-orang sekitar dan masyarakat di kampung-kampung nantinya. Hehehe.

Itu sudah. Ndormom.