Selasa, 25 Oktober 2016

Terluka Berguna

yang terlihat terluka
yang masih berguna
serupa waktu sia-sia
tapi tetap menghitung mundur usiamu
atau karet gelang mengikat sayuran layu
atau kaos kaki busuk yang meminta dicuci
bertahanlah!
setidaknya kau masih bisa murung
dan tentu saja menunggu

Agats, 21 Oktober 2016

Rabu, 19 Oktober 2016

Perayaan Pesona Budaya Asmat

Peserta Pawai Pesta Budaya Asmat 2016
Tidak mudah bagi Mama Mariana Kaisma dan rekan-rekannya untuk datang ke Agats. Dari tempat tinggalnya di Kampung Yefhu, Distrik Awyu, paling tidak Ia harus menghabiskan dua hari perjalanan dengan kapal viber untuk mencapai ibukota Kabupaten Asmat, Provinsi Papua Tersebut. Berangkat pagi dari Kampung Yefhu, sekitar pukul tiga sore mereka harus singgah bermalam di Kampung Atsj, sebelum melanjutkan perjalanan ke Agats keesokan paginya. Terlalu beresiko bagi kapal viber untuk menembus malam di laut dan kali-kali Asmat.

Resiko perjalanan dua hari ditambah ongkos kapal yang cukup mahal tidak menghalangi Mama Mariana untuk hadir di Pesta Budaya Asmat tahun 2016. Ia dan banyak masyarakat Kabupaten Asmat yang berasal dari berbagai kampung rela bersusah payah demi turut merasakan kemeriahan pesta tahunan ini. “Kami tetap harus datang ke sini (Pesta Budaya Asmat). Ini pesta kami juga. Kami juga masih bagian dari Kabupaten Asmat,” cerita Mama Mariana saat saya temui di lapak pasar seninya.

Setelah tertunda pada tahun 2015, Pesta Budaya Asmat edisi ke-31 sukses digelar pada tahun 2016 ini.  Berpusat di Lapangan Yos Sudarso Kota Agats, pesta ini dihelat selama seminggu penuh, mulai Kamis, 6 Oktober hingga Rabu, 12 Oktober. Keuskupan Agats dan Pemerintah Daerah Kabupaten Asmat selaku penyelanggara, merancang kegiatan ini dengan berbagai penampilan, mulai dari atraksi budaya, ritual adat dan keagamaan, perlombaan, hingga pasar seni bagi para pengunjung. Bagian yang paling mendapat perhatian adalah pameran ukiran dan anyaman dari para finalis yang telah lolos seleksi ketat oleh para kurator Museum Asmat.

Hari pertama Pesta Budaya Asmat 2016 digunakan oleh panitia untuk meregistrasi karya-karya para finalis. Tahun ini ada sebanyak 207 ukiran dan 60 produk anyaman yang lolos proses kurasi dan akan dipamerkan kemudian dilelang pada tiga hari terakhir pesta. Setelah proses registasi, karya kemudian dipajang di panggung utama. Para pengunjung yang berasal dari berbagai daerah hingga manca negara mulai dapat mengakses karya-karya terbaik tersebut. Untuk memudahkan para pengunjung, panitia menyediakan buku panduan yang memuat semua informasi tentang Pesta Budaya Asmat 2016, termasuk cerita di balik karya yang dipamerkan.

Panggung utama
Acara pembukaan baru dilakukan pada Jumat, 7 Oktober 2016. Dalam sambutannya, Bupati Kabupaten Asmat, Eliza Kambu, mengajak semua masyarakat untuk melestarikan dan menghargai warisan budaya Asmat.  menurutnya, salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah adalah mengembangkan pemasaran agar kerja-kerja kesenian ini tetap diminati. “Para pengukir dan mama-mama pembuat noken (anyaman) harus sejahtera, supaya mereka tetap semangat melestarikan budaya ini. Pemasaran produk seni Asmat perlu untuk kita kembangkan. Itu makanya tahun ini saya mengundang beberapa pengusaha, termasuk anggota DPR RI dan Provinsi agar mereka mendengar langsung aspirasi kita. Bandara baru harus sudah selesai dalam waktu dekat. Biar orang-orang (pembeli) gampang datang ke Asmat sini,” Jelas Bupati Asmat.

Pesta Budaya Asmat 2016 kemudian dibuka secara resmi oleh Uskup Keuskupan Agats, Aloysius Murwito. Kemeriahan pun dimulai. Pawai keliling Kota Agats oleh para peserta dan pengunjung menjadi sajian pembuka keramaian. Setelah iringan pawai kembali berkumpul di Lapangan Yos Sudarso, acara dilanjutkan dengan pesta goyang. Disinilah puncak kemeriahan Pesta Budaya Asmat. Semua yang berkumpul di lapangan larut dalam keriaan. Mama-mama dengan kostum dan aksesoris adat terus bergoyang indah seperti tanpa lelah. Pukulan tifa dari para lelaki Asmat menjadi penguasa irama. Mereka mengatur tempo dan jeda agar pesta goyang terus berlangsung dalam suasana gembira namun tetap sakral.

Pria Asmat dengan Hiasan kepala kulit kus kus dan ukiran tombaknya
Asmat cepes dengan kalung manik-manik biji buah hutan dan taring anjing
Fatcin (hiasan kepala) kulit kus kus dan bulu kasuari
Wowpits, ke pesta budaya gaya harus maksimal
Manuver perahu tradisional Asmat atau ci-mbi menjadi sajian paling menarik perhatian pada hari berikutnya. Sejak pagi para pengunjung telah memadati Pelabuhan Feri Kota Agats. Kali Aswet yang berada di depannya menjadi arena ci-mbi. Ada total tujuh belas perahu yang masing-masing dikendarai oleh lima orang pendayung. Mereka menunjukkan skil mendayung perahu melawan arus kali dan beradu cepat untuk sampai ke garis finish. Kostum adat dan seruan kepada leluhur yang didendangkan sepanjang perlombaan menambah eksotisme atraksi budaya ini.


Adu cepat Ci-mbi
Pertunjukan yang tidak kalah menarik pada hari ketiga adalah demonstrasi mengukir dari para wowpits (sebutan lokal bagi pengukir Asmat). Para peserta berkumpul di tengah lapangan, di bawah terik matahari siang, untuk mempertontonkan keahlian mengukir mereka. Yang istimewa adalah waktu yang diberikan untuk menyelesaikan sebuah ukiran sangatlah singkat. Di tangan para pengukir terbaik ini, kayu yang awalnya masih berbentuk batangan sudah mewujud patung manusia hanya dalam tempo tiga jam.

Lomba mengukir cepat
Demonstrasi mengukir
Bagi penyuka seni tari, setiap malam dipentaskan atraksi tarian Asmat yang dibawakan oleh grup budaya dari berbagai kampung. Tarian Asmat memadukan gerakan yang merupakan simbolisasi kisah-kisah leluhur dengan iringan tifa dan nyanyian adat. Hikayat perang antar suku ditampilkan oleh penari dari Kampung Waras, Distrik Fayit. Gerakan dan tempo yang meraka mainkan sangat dinamis. Cepat dan menegangkan di awal, kemudian berubah lambat dengan aura sedih menjelang akhir. Sebaliknya, pesan perdamaian disampaikan oleh para penari dari Kampung Yasiw, Distrik Atsj. Sepanjang gerakan tarian para pemukul tifa juga melantunkan kidung sendu. Terasa sakral namun tetap indah untuk dinikmati.

Hari kelima, Senin 10 Oktober, adalah hari yang paling ditunggu oleh para pengukir yang telah lolos seleksi. Ini waktunya pengumuman siapa yang berhak menyandang gelar sebagai wowpits terbaik pada enam kategori. Gelar ini selalu menjadi incaran. Selain memperebutkan hadiah sebesar dua puluh juta rupiah di masing-masing kategori, rasa bangga juga akan mengiringi karena karya terbaik akan terpajang abadi di Museum Asmat. setelah melalui penilaian selama tiga hari oleh tiga orang pakar, tiba saatnya panitia menyampaikan pengumuman.

Pada kategori patung kecil, Yakobus Kakewernam dari Kampung Youw, Distrik Betcbamu, berhasil mempertahankan statusnya sebagai yang terbaik pada Pesta Budaya Asmat edisi sebelumnya. Ia dengan sangat detail menampilkan ritual pesta ulang sagu lengkap dengan visualisasi para tetua adat dan jew, rumah adat Suku Asmat. Kategori patung sedang dimenangi oleh Sabinus Tambo dari Kampung Uwus, Distrik Agats dengan ukiran tetua adat yang yang memegang tifa. Sedangkan pemenang untuk kategori patung besar diraih oleh Benediktus Fokoyew dari Kampung Biwar Laut, Distrik Betcbamu. Ia menciptakan ukiran setinggi dua meter dengan desain tiga figur leluhur lengkap dengan hiasannya masing-masing.

Para pemenang dari tiga kategori spesial lainnya adalah Teodorus Kom dari Kampung Yow, Distrik Betcbamu untuk kategori patung cerita, Markus Mbes dari Kampung Er, Distrik Sawaerma, untuk kategori panel, dan Aloysius Ari Bainepe dari Kampung Kairin, Distrik Safan, untuk kategori ukiran tradisional. Jika tiga kategori awal adalah kategori yang mengandalkan inovasi dalam mengukir, maka tiga kategori berikutnya adalah penghargaan bagi para pengukir yang tetap setia dengan kekhasan dan cerita warisan leluhur. Keenam ukiran tersebut semakin istimewa karena merupakan enam koleksi pertama Museum Asmat yang baru. Pesta Budaya Asmat tahun ini juga menjadi penanda berpindahnya Museum Asmat ke gedung baru yang lebih besar dan modern.


Para pemenang
Para pengukir yang gagal menang juga mama-mama pembuat anyaman tidak lantas berkecil hati karena tidak memperoleh hadiah dari panitia. Selepas pengumuman pemenang, karya yang tidak masuk museum kemudian dilelang di hadapan para pengunjung. Dipandu langsung oleh Ketua Panitia, Erick Sarkol, sesi lelang ini berlangsung alot dan seru selama tiga hari. Ini waktunya ukiran-ukiran dan anyaman terbaik bertemu dengan para pembelinya yang kebanyakan adalah pengusaha dan pejabat. Harga terendah dalam sesi lelang ini adalah sebesar lima juta rupiah. Sedangkan untuk harga tertinggi tahun ini diberikan kepada ukiran karya Edoardus Jokpit dari Kampung Yepem, Distrik Agats. Patung yang bercerita tentang lima leluhur yang pergi berperang dengan mengendarai perahu tradisional tersebut laku terjual sebesar tiga puluh satu juta rupiah. Harga yang seragam dengan angka edisi Pesta Budaya Asmat tahun ini.

Penutupan Pesta Budaya Asmat tahun 2016 dirayakan dalam suasana meriah dengan pesta goyang bersama. Guyuran hujan yang turun tepat setelah pukulan tifa dari Bupati Asmat dan Uskup Agats, tidak dianggap sebagai penghalang, melainkan berkah atas kesuksesan penyelenggaran pesta tahunan masyarakat Asmat ini. Upaya bersama untuk terus mempertahankan eksistensi warisan leluhur ini juga menjadi ajang berkumpulnya masyarakat dari seluruh penjuru Kabupaten Asmat untuk merayakan pesona kekayaan budaya mereka.

*Semua foto oleh Regista

Senin, 17 Oktober 2016

Setahun di Papua


Tanggal 14 Oktober lalu menjadi penanda satu tahun sudah saya tinggal di Papua. Senang rasanya bisa sampai di tanah yang sejak masa awal kuliah ingin saya datangi. Dulu saya sangat berharap bisa mengunjungi Papua walau sehari saja. Tapi semesta mengatur lain. Saya harus tinggal dan bekerja disini dalam waktu yang lama. Dan sungguh sangat tidak terasa, ternyata sudah setahun saja.

Bagi saya, memilih hidup di Papua berarti harus meniggalkan segala kenyamanan yang telah saya temukan selama tinggal di Kota Makassar. Mei 2015 kuliah saya akhirnya selesai. Dua tahun sebelumnya saya malah sudah diterima bekerja di tempat yang sangat menyenangkan. Kak Rappung dan teman-teman di Yayasan Konservasi Laut Indonesia memberi saya kesempatan untuk bekerja sambil belajar langsung bersama komunitas masyarakat di Kepulauan Tanakeke, Kabupaten Takalar. Tanakeke sudah seperti sekolah yang mengajari saya banyak sekali hal; pertemanan, perjuangan, hingga perspektif baru dalam menjalani hidup.

Kenyamanan lain yang mesti ditinggalkan untuk hidup di Papua adalah hobi-hobi dan rutinitas akhir pekan bersama teman-teman. Tinggal di Papua, apalagi di Kabupaten Asmat, berarti harus jauh dari toko buku. Kalau ada buku yang sangat ingin dibaca berarti harus memesan secara online dengan ongkos kirim ke Papua yang bisa setara dengan harga dua buku. Alternatif lainnya, menitip kepada teman yang sesekali datang ke Papua. Saat akhir pekan datang, saya menikmati waktu untuk bertemu dengan teman-teman kuliah atau mengunjungi kegiatan-kegiatan komunitas. Biasanya bermain futsal menjadi pilihan. Tapi tentu menghadiri acara musik menjadi kesukaan saya. Beberapa tahun belakangan, akhir pekan di Makassar semakin meriah dengan kegiatan semacam ini. Tidak selalu konser besar, micro gig dengan balutan kumpul-kumpul atau diskusi semakin aktif dilaksanakan. Anak muda Makassar dari berbagai komunitas seperti punya tenaga berlebih untuk saling bahu-membahu, bergantian menjadi penyelenggara. Menyenangkan sekali.

Rutinitas lain yang mesti ditinggalkan sejak pindah ke Papua adalah menonton pertandingan klub kesayangan, AS Roma. Jika dulu saya selalu rela menunggu hingga subuh untuk melihat aksi Francesco Totti dan kolega bertanding, kini, bisa mengakses hasil pertandingan semalam via youtube saja sudah bersyukur. Harga televisi dan ongkos memasang antena berlangganan sangat mahal di Kabupaten Asmat. Saya bersama teman rumah, Regis dan Wawan, sepakat untuk tidak membeli kotak ajaib itu karena tidak terlalu mendesak juga. Kami lebih sering menonton film bersama di laptop. Walau jika persedian film sudah habis jadi bingung juga mau lihat hiburan apa lagi sebelum tidur. Hehehe.

Tapi segala kenyamanan yang ditinggalkan tadi tentu tergantikan dengan pengalaman dan pelajaran-pelajaran baru selama setahun ini. Paling tidak itu yang saya rasakan saat ini. Kesempatan tinggal di Papua mengantarkan saya bertemu dengan orang-orang baru, rekan-rekan kerja, dan komunitas masyarakat yang semakin memperkaya pengalaman.

Setahun ini saya tinggal di Kabupaten Asmat dan bekerja bersama dengan masyarakat adat disini. Saya langsung dibuat takjub saat pertama kali menginjakkan kaki di daerah pesisir selatan Papua ini. Bagaimana bisa ada sebuah kabupaten yang sebagian besar wilayahnya tidak bisa dipijak. Seluruh jalanan di Agats, ibukota Kabupaten Asmat, terbuat dari jembatan kayu dan beton komposit karena daratan wilayah ini adalah lumpur dan rawa, habitat hutan mangrove. Maka lahir kemudian julukan “kota sejuta papan” atau “kota lumpur” bagi Asmat dari orang-orang yang pernah datang ke tempat ini. Waktu seperti berjalan mundur. Saya teringat masa kecil saat saya bersama keluarga masih tinggal di Karang Rejo, Kota Tarakan, Kalimantan Utara, yang seluruh jalannya juga terbuat dari jembatan papan.

Penyesuaian diri di tempat baru ini berjalan cukup cepat. Tidak terlalu lama saya sudah punya beberapa kenalan diluar teman-teman kantor. Tuntutan kerja juga mengarahkan saya untuk berkenalan dengan banyak orang, termasuk dengan pegawai dinas dan masyarakat dari beberapa kampung yang menjadi lokasi kerja kami.  Pada masa awal menetap di Agats, bertanya tentang apa saja kepada siapa saja terus saya lakukan. Dari para kenalan baru tersebut saya mulai mendapat gambaran tentang kondisi tempat ini. Informasi yang saya dapatkan dari berbagai sumber sebelum sampai ke Kabupaten Asmat mulai tergambar nyata.

Pengalaman paling menyenangkan selama setahun pertama tinggal di Papua adalah persentuhan saya dengan masyarakat adat Asmat. Selama di Papua saya berinteraksi langsung dengan mereka, baik dalam urusan pekerjaan maupun urusan hidup sehari-hari. Dari masyarakat adat Asmat saya lebih belajar lagi tentang kearifan dan kesederhanaan dalam menjalani hidup. Cara mereka memanfaatkan alam sangat mengagumkan. Kaya akan filosofi keberlanjutan. Karena menganggap alam raya adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan, mereka lebih menekankan cara-cara pemanfaatan dengan merawat. Mungkin itu sebabnya cara masyarakat adat dalam memanfaatkan alam tidak banyak dilirik oleh orang-orang yang begitu menggilai cara-cara instan yang eksploitatif.

Belum lagi budaya orang Asmat yang terus memesona saya sampai sekarang. Saya tidak menyangka karya-karya seni kelas tinggi lahir dari tempat yang terlanjur mendapat stigma sebagai daerah terbelakang dalam hal peradaban ini. Ukiran, anyaman, tarian, ritual, dan berbagai ragam kesenian Asmat lainnya ternyata telah bertahun-tahun lalu dilirik dan mengukir nama di dunia. Saya merasa bodoh sekali baru mengetahui informasi ini setelah sampai di tempat ini. Kita memang bangsa yang pemalas mencari tahu jati diri kita.

Lebih dari semua yang telah saya dapatkan selama setahun di Papua, saya ingin berterima kasih kepada semua yang telah memberi saya kesempatan untuk tinggal dan bekerja di tempat ini. Terima kasih kepada Kak Uccang dan rekan-rekan di Blue Forests yang telah percaya dan memberikan pengalaman yang sangat menyenangkan ini. Saya sungguh menikmati semua proses yang telah berjalan. Selama disini saya banyak belajar dan semakin meneguhkan prinsip tetap “berjalan perlahan” ketika kebanyakan orang sedang “berlari kencang” di luar sana. Saya akan bercerita lebih banyak tentang hal ini pada hari saya-sedang-tidak-malas.

Saya belum tahu pasti sampai kapan saya akan berada di Papua. Saya berharap diberi waktu yang cukup untuk lebih mengenal tempat ini. Tolong bantu saya untuk terus betah disini dengan tidak terlalu sering memposting foto nasi lalap atau sop sodara di sosial media kalian. Tolong jangan kabari saya kalau gigs di Makassar atau di Tarakan atau bahkan di Pinrang sedang ramai dan meriah. ditolong ya. Hehehe.


Itu sudah. Ndormom.

Selasa, 23 Agustus 2016

Phinisiq


    lahir di tana beru besar di samudra
    mengarung senyap rajut nusantara
    selama di lautan katakan saja kita kemana
    di buritan ku beri kau pertanda:
    tarik tujuh layar angin pun kan serta

    Agats, Mei 2016 

Minggu, 21 Agustus 2016

Berjalan Dalam Keseimbangan di Kampung Atsj

Plang selamat datang di Objek Wisata Kampung Atsj.
Ja asamanam apcamar, berjalan dalam keseimbangan. Begitulah bunyi semboyan resmi Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. Semboyan yang lahir dari kearifan turun-temurun dan telah menjadi etos hidup bagi masyarakat suku Asmat. Nilai ini menjadi pegangan dalam pembangunan kabupaten secara berkelanjutan juga menjaga lingkungan kampung agar tetap lestari.

Jika berkesempatan ke Asmat cobalah berkunjung ke Kampung Atsj (baca: atsi) untuk melihat bagaimana semboyan tersebut bekerja. Selama hampir setahun tinggal di Asmat, Kampung Atsj adalah favorit saya untuk dikunjungi. Di Kampung ini perkembangan dalam bingkai keseimbangan benar-benar terlihat. Gejala modernitas mulai nampak namun kearifan adat masih kuat bertahan. Pembangunan berlangsung tapi daya dukung lingkungan tetap diperhatikan.

Sebenarnya Kampung Atsj punya pengalaman buruk di masa lalu. Sekitar tahun 1990-an Kayu Gaharu yang melimpah di sekitar hutan kampung menjadi incaran para pendatang. Masyarakat Suku Asmat sebagai pemilik dusun, lokasi hutan yang terdapat banyak Pohon Gaharu, dibujuk rayu untuk menyewakan bahkan menjual lahan mereka kepada para pemodal dari luar daerah. Eksploitasi berlebihan pun terjadi. Dampak buruknya dirasakan kemudian oleh masyarakat kampung. Hutan gundul, abrasi pada beberapa kali atau sungai, dan bagi masyarakat yang masih hidup berburu, lokasi untuk menangkap hewan hutan dirasa semakin jauh. Rusaknya sistem ekologi adalah bencana besar bagi suku Asmat yang sebagian besar masih hidup berburu dan meramu bahan makanan dari hutan.

Keresahan akan rusaknya hutan di sekitar kampung kemudian mendorong para tetua adat dan tokoh masyarakat untuk berembuk. Menegakkan kembali kearifan lokal warisan leluhur yang mulai luntur menjadi pilihan. Himbauan disebarkan kepada masyarakat, baik suku Asmat maupun pendatang, untuk tidak berlebihan dalam memanfaatkan alam. Suku Asmat sebenarnya memiliki mekanisme adat tersendiri dalam berinteraksi dengan alam. Cara tersebut terbukti ampuh dalam menjaga kelestarian hutan yang menjadi pusat hidup mereka selama ratusan tahun.

“Kata kuncinya itu adalah keseimbangan. Dari dulu kami sudah mengambil kayu di hutan untuk bikin rumah, mengukir, memasak, tapi tidak pernah bikin hutan jadi rusak. Hutan itu sumber hidup kami. Kalau hutan rusak roh leluhur akan marah, dan hidup akan jadi susah. Itu yang banyak dilupa oleh generasi sekarang. Gara-gara satu amplop uang saja mereka rela jual sumber kehidupan.” Kata Laurensius Bumberew, Kepala Kampung yang juga salah satu tetua adat Kampung Atsj.

Diskusi para tetua adat di dalam Jew, rumah adat yang menjadi pusat interaksi sosial dan agenda ritual Suku Asmat, hampir selalu menyinggung soal kearifan leluhur dalam memperlakukan alam. Dusun-dusun yang dikelola oleh masing-masing keluarga tetap tidak boleh dirusak sesuka hati karena akan berdampak pula kepada orang lain juga kampung. Ajaran-ajaran ini kemudian disebarluaskan kepada anggota keluarga di rumah-rumah, terutama pada anak-anak dan orang-orang muda Asmat.

Suasana pertemuan di dalam Jew, pusat pertemuan sosial dan agenda ritual Suku Asmat dilaksanakan.
Status Kampung Atsj sebagai ibukota distrik memang membawa banyak keuntungan juga tantangan bagi kelestarian kampung dan hutan sekitar. Kedatangan para perantau dari Sulawesi, Ambon, dan Jawa dengan segala barang dagangan mereka membuat kehidupan masyarakat kampung jadi lebih mudah. Kebutuhan pokok tidak susah payah lagi dicari di dalam hutan. namun segala kemudahan tersebut membawa efek buruk dalam hal bergesernya budaya Suku Asmat. Generasi yang lahir kemudian adalah generasi yang serba instan dan melulu berpikir oportunis. Mereka tidak lagi menguasai cara-cara leluhur dalam memanfaatkan alam sekitar mereka. Mereka seperti kehilangan semangat untuk bekerja di hutan. Akibatnya ketika ada godaan untuk menjual lahan dusun, tanpa memikirkan akibat jangka panjangnya mereka langsung mengiyakan.

Beruntung Kampung Atsj masih memiliki orang-orang yang masih memegang teguh ajaran leluhur. Mereka lah yang kemudian menghidupkan kembali adat sebagai kontrol sosial. Selain bediskusi di dalam Jew, seperti yang sebelumnya saya katakan, para seniman di kampung menyebarkan pesan-pesan adat lewat kegiatan di sanggar seni. Adalah Yohanis Tuanban (51 tahun) beserta seniman ukir lainnya yang kemudian berinisiatif untuk membangun sebuah sanggar seni di Kampung Atsj. Sanggar ini kemudian menjadi pusat kegiatan para woupits (sebutan untuk seniman ukir Asmat) dalam memproduksi ukiran khas Asmat. Selain itu sanggar seni yang diberi nama Atsekap tersebut juga berfungsi sebagai lokasi transfer ilmu mengukir dan penyadaran akan pesan-pesan leluhur kepada anak-anak dan kawula muda.

“Setiap hari sanggar kami buka. Ada yang mengukir ada juga yang bertugas mengumpulkan pemuda untuk dilatih. Sambil berlatih mengukir kami sampaikan pesan-pesan leluhur tentang menjaga alam dan adat istiadat orang Asmat kepada mereka. Kami menganggap hal ini sangat penting untuk dilakukan.” Kata Yohanis Tuanban saat saya mengunjungi Sanggar Seni Atsekap.

Bagi orang Asmat nilai-nilai kearifan leluhur sangat kental tertanam dalam aktifitas mengukir. Konon proses penciptaan manusia pertama suku Asmat berasal dari kayu yang diukir hingga membentuk sesosok manusia. Ukiran tersebutlah yang kemudian menjelma menjadi leluhur pertama dan utama dalam alam kepercayaan orang Asmat. Itu sebabnya bagi orang Asmat mengukir selalu dianggap sebagai sesuatu yang sakral.

Banyak hal yang mesti diperhatikan sebelum memulai membuat sebuah ukiran. Mulai dari pemilihan bahan kayu hingga proses pemasarannya. Kayu yang digunakan adalah jenis kayu besi yang benar-benar sudah siap. Kesiapan pohon dari kayu tersebut ditandai dengan batang dan ranting yang sudah mengering dan kulitnya mulai mengelupas. Pohon yang telah tumbang lebih mereka utamakan untuk dibawa pulang kemudian diukir. “Kalau kayunya belum siap jangan ditebang dulu. Biasanya ukiran belum selesai kayunya sudah rusak atau terbelah. Itu tandanya leluhur tidak merestui.” Jelas Yohanis.

Dalam hal pemasaran, para woupits biasanya membawa ukiran mereka di Pesta Budaya Asmat dan Festival Beworpit-Tewerawut (Festival Seni Khusus untuk Pemuda Asmat) yang rutin dilaksanakan setiap tahun. Selebihnya mereka menunggu para turis yang datang untuk melihat hasil karya mereka. Diakui oleh Yohanis, pemasaran yang selama ini mereka usahakan dirasa belum maksimal. Oleh sebab itu Ia masih terus berusaha untuk melebarkan jaringan pasarnya dengan berbagai cara. Meminta bantuan kepada dinas terkait di kabupaten sampai menjalin kemitraan dengan pihak swasta. Kesempatan untuk ikut pameran seni pun selalu Ia sambut baik.

“Bulan depan (September) saya diajak untuk ikut pameran seni Festival Pesona di Jakarta. Saya akan memperkenalkan langsung budaya Asmat disana. Siapa tahu bisa tambah kenalan juga untuk menjual produk (ukiran dan anyaman) anggota sanggar.”

Rutinitas harian para Woupits atau pengukir di Sanggar Seni Atsekap Kampung Atsj. Selain workshop tempat ini juga difungsikan sebagai pusat pelatihan keterampilan mengukir bagi generasi muda.
Beberapa contoh ukiran tembus dua sisi khas Kampung Atsj yang banyak diminati oleh turis maupun kolekter seni.
Awalnya bangunan Sanggar Seni Atsekap sangat sederhana. Hanya bangunan berbentuk pondok kecil dengan luas tidak lebih dari 25 meter persegi. Namun sekitar awal tahun 2010, pengurus Sanggar Seni Atsekap mulai melakukan pengelolaan keuangan. Sebagian hasil penjualan ukiran para anggota disisihkan untuk kas sanggar. Pada tahun 2015 dana mereka sudah siap untuk mendirikan sanggar yang lebih besar dan nyaman untuk aktifitas kesenian masyarakat kampung. Sanggar juga dilengkapi dengan gudang untuk menyimpan ukiran yang telah selesai namun belum laku terjual.

Pengembangan produk juga terus dilakukan. Yang terbaru, para pengukir Kampung Atsj memperkenalkan ukiran akar pohon. Hal tersebut merupakan inovasi daerah yang benar-benar dikembangkan dari dalam kampung. Jika biasanya akar pohon hanya dibuang setelah batangnya dijadikan papan, kini sudah bisa dimanfaatkan menjadi kerajinan tangan yang cantik. Akar-akar pohon berukuran sedang hingga besar biasanya diukir bercerita lantas dijadikan kaki meja. Sejauh ini sambutan akan produk terbaru tersebut sangat baik. Menurut seorang pengukir, sudah ada orang dari Merauke dan Agats (Ibukota Kabupaten Asmat) yang memesan kerajinan tangannya. Bahkan kini Kampung Atsj telah ditetapkan sebagai Kampung Wisata oleh Pemerintah Kabupaten Asmat dengan ukiran akar pohon sebagai ciri khasnya.

Ukiran akar kayu, produk inovasi terbaru dari Kampung Atsj.
Tidak berhenti sampai disitu, Kampung Atsj kini juga memiliki sanggar khusus bagi kaum perempuan untuk membuat kerajinan rajutan. Kerajinan tangan seperti noken (tas rajut khas Papua), cawat, perhiasan, dan lain sebagainya diproduksi di tempat yang diberi nama Sanggar Semenawuts tersebut. sistem keuangan sanggar pun diatur seperti Sanggar Seni Atsekap. Dengan begitu kaum perempuan Kampung Atsj memiliki dana untuk mengembangkan sanggar dan membuat program lainnya, seperti pelatihan keterampilan bagi anak-anak dan remaja serta pemberian nutrisi tambahan bagi balita di dalam kampung.

Perkembangan sanggar Semenawuts dirasa cukup pesat oleh para anggotanya. Mereka dengan cepat memperkenalkan anyaman tas noken khas Asmat yang berbahan dasar pucuk daun sagu. Menurut Mama Helena yang menjabat sebagai Ketua sanggar, kini produksi noken buatan perempuan-perempuan Kampung Atsj lebih cepat terjual jika dibandingkan produk ukiran. “Noken buatan anggota saya tidak pernah bertahan lama di dalam sanggar. Kalau kami bawa ke pasar pasti ada yang membeli. Ada juga yang meminta untuk kami menjual di Agats,” kata Mama Helena.

Mama Helena saat melatih seorang remaja membuat anyaman noken di Sanggar Semenawuts Kampung Atsj.
Meningkatnya minat akan produk kesenian Suku Asmat, baik noken maunpun ukiran, tentu tidak lepas dari ditetapkannya Asmat sebagai Situs Warisan Dunia (World Heritage Sites) oleh Badan Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB, UNESCO. Kabar gembira tersebut datang pada tahun 2011 setelah proses pengusulan yang alot selama lebih dari setahun. Pesona Asmat dengan segala kekayaan intelektualnya di bidang budaya memang sejak lama telah menarik perhatian dunia. Dan pengakuan dari UNESCO tersebut semakin mempertegas kekaguman tersebut. Tentu prestasi membanggakan ini merupakan persembahan masyarakat Suku Asmat untuk Indonesia. Dan sudah semestinya menjadi tugas kita sebagai bangsa untuk terus merawat kebanggan tersebut.

Sumbangsih sanggar-sanggar seni di Kampung Atsj telah berkontribusi nyata dalam menghidupkan mata pencaharian yang lebih ramah pada lingkungan. Kampung ini membuktikan bahwa perkembangan dan pembangunan tidak mesti mengorbankan budaya dan lingkungan. Kesadaran adat turun-temurun dipadu dengan inovasi dalam berkarya adalah cara orang Asmat di Kampung Atsj dalam menghadapi tantangan zaman.


Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahku - https://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku

Jumat, 17 Juni 2016

Pjanic


Tidak banyak pemain AS Roma yang kepindahannya terlalu saya sesali. Dua diantara dari yang sedikit itu adalah  Alberto Aquilani yang hijrah ke Liverpool dan Marcos Assuncao yang melanjutkan karir ke Real Betis. Kepindahan Aquilani saya sesali karena ia adalah pemain muda potensial asli didikan Roma. Jika tetap di Roma Ia bisa menjadi penerus trah pangeran ibukota yang disandang oleh Francesco Totti dan Danielle De Rossi. Sedangkan untuk Assuncao, pemain ini punya keahlian eksekusi tendangan bebas yang sulit untuk tidak dicintai. Berteknik tinggi, magis dan nyaris selalu berhasil. Bagi saya, kemampuan freekick Assuncao hanya bisa disejajarkan dengan Juninho dan Andrea Pirlo. Alvaro Recoba juga mantap dalam hal ini, tapi saya punya dendam pribadi dengannya.

Sejak kepergian Assuncao praktis Roma tidak lagi memiliki eksekutor bola mati yang reguler. Kondisi ini bertahan selama beberapa tahun sampai Miralem Pjanic datang dari Lyon pada tahun 2011. Roma mendapatkannya setelah bersaing secara ketat dengan beberapa klub besar Eropa. Anak muda Bosnia ini memang istimewa. Walau terlihat ringkih secara fisik, tapi Pjanic punya kemampuan gocekan yang mumpuni dan insting mengumpan yang baik. Dan yang paling penting, hal yang kemudian membuat saya kagum berat padanya, Ia memiliki kemampuan eksekusi tendangan bebas yang mematikan.

Tapi kekaguman tersebut berubah menjadi kekecewaan. Awal pekan ini nyaring media memberitakan Pjanic telah resmi pindah ke Juventus. Semangat puasa jadi lesu rasanya saat melihat fotonya mengenakan polo shirt merah muda berlogo banteng belang hitam putih. Memegang pulpen menghadap lembar kontrak dengan tersenyum bahagia. Kenangan bermain di Olimpico dan dipuja ribuan Romanisti selama lima musim seperti tak bersisa sama sekali.

Kekecewaan atas kepindahan Pjanic memang menjadi berlipat ganda. Bukan hanya karena pemain ini berkualitas tinggi, tapi juga karena klub yang dipilihnya adalah Juventus. Iya Juventus, klub yang menjadi kompetitor utama dan selalu berhasil menghalangi Roma meraih juara Liga Italia dalam beberapa musim belakangan ini. Yang lebih menyakitkan lagi, kabarnya Pjanic sendiri yang meminta kepada manajemen Roma untuk melepasnya ke Juventus. Hamsyong benar.

Tapi tentu saya paham dengan pergulatan batin yang dirasakan Pjanic. Menjadi pemain muda berlabel bintang namun bermain di klub yang tidak menghasilkan gelar apapun adalah problem tersendiri. Apa yang bisa diharapkan dari klub seperti AS Roma? Suasana kekeluargaan? Lupakan! Sepakbola sudah berkembang jauh menjadi industri kok masih ada klub yang membanggakan kekeluargaan macam ini. Kebanggaan bermain bersama Totti? Ilusi sekali! Cuma orang gila macam De Rossi yang terus mempertahankan kebanggan seperti itu sampai akhir hayatnya. Bagaimana mau jadi tim besar tapi mental begitu-begitu aja. Dan kenapa pula saya masih bertahan mencintai klub macam ini. Alamak.

Pada awal masa menjalankan tugas kali kedua sebagai allenatore Roma, Luciano Spaletti sempat berujar kira-kira seperti ini: “pemain yang ingin keluar dari Roma, pergilah. Dan bagi mereka yang ingin terus bertahan, mari berjuang bersama membesarkan klub ini.” Perkataan itu sepertinya dimanfaatkan betul oleh Pjanic. Gelagat tidak betah di ibu kota sudah terlihat sejak awal musim yang lalu. Permainannya kurang maksimal dan sangat sering dicadangkan, walau masih memperlihatkan sentuhan ajaibnya. Pun Ia tidak pernah membantah saat dihubungkan dengan beberapa klub yang melamarnya untuk pindah. Semuanya baru terbukti saat pemberitaan itu beredar: Pjanic Resmi ke Juventus.

Ya sudahlah. “Sakit memang tapi harus,” seperti kata seorang teman kuliah saya saat ditinggal kawin pacarnya. Selamat tinggal, Mire. Semoga tetap menjadi pemain yang hebat di tempat baru. Jadilah lawan yang tangguh saat tim kita bertemu. Walau jelas perburuan scudetto akan semakin berat tanpamu.

Dan selamat pula untuk Juventus. Tentu Gigi Buffon kini merasa lebih tenang di masa tua karirnya sebagai pemain sepakbola. Momoknya kini berkurang. Ia tidak perlu lagi merasa takut terlihat seperti kiper amatir saat harus menghalau tendangan bebas Pjanic, seperti yang dirasakannya pada bulan Agustus tahun lalu.

Sabtu, 11 Juni 2016

Kebudayaan untuk Kehidupan: Pesan Pelestarian Lingkungan di Festival Beworpit-Tewerawut


Terik matahari di Kota Agats, Kabupaten Asmat, tidak mengendurkan semangat sekelompok pelajar dari Sekolah Satu Atap Distrik Sawaerma. Siang itu mereka akan tampil dalam perlombaan sosio drama di Festival Beworpit-Tewerawut 2016. Saat giliran tampil, mereka memasuki arena pertunjukan dengan tenang. Tidak ada kesan kepanasan di kaki saat berjalan di atas lapangan yang terbuat dari papan tersebut. Setelah memberikan salam hormat kepada dewan juri dan penonton, para pemeran mulai mengambil posisinya masing-masing. Penampilan mereka dibuka dengan pembacaan prolog oleh seorang siswi:
“Asmat sekarang telah berubah. Sagu sebagai makanan pokok sejak leluhur kini sudah semakin sulit dicari. Pesta-pesta adat yang mengagungkan pohon sagu perlahan mulai ditinggalkan. Bahkan tidak ada niat untuk menanam kembali bibit sagu baru sebagai regenerasi pohon sagu. Lalu jika itu hilang dan musnah dari bumi Asmat, kepada apa kita akan menggantungkan hidup? Sudah lupakah kita terhadap pengorbanan Beworpit dalam menemukan sagu? Bahkan dia sendiri mengorbankan dirinya untuk menjadi pohon sagu yang tumbuh di tanah Asmat tercinta ini. Jika sudah lupa, marilah kita menyaksikan kembali kisahnya dalam sosio drama berikut yang berjudul ‘Asal-Usul Pohon Sagu.’”
Cerita pun bergulir. Dimulai dengan babak saat Beworpit bermimpi menemukan sebuah pohon yang memberikannya makanan. Ia lantas penasaran dan pergi mencari dimana keberadaan pohon yang dijumpainya dalam mimpi tersebut. Berhari-hari Ia berkelana namun belum berhasil menemukan keberadaan pohon impiannya itu. Sampai pada suatu hari, dalam kelelahan berjalan, kaki Beworpit tertusuk duri dari sebuah dahan yang terjatuh. Ia pun terkejut namun langsung takjub ketika melihat pohon dari dahan yang sudah berada di tanah tersebut. Pohon itu persis seperti yang muncul di mimpinya beberapa waktu lalu. Beworpit yang kegirangan berlari pulang ke kampungnya untuk menyampaikan kabar gembira tersebut kepada seluruh anggota keluarganya.

Sejak saat itu pohon berduri tersebut menjadi makanan kesukaan Beworpit dan keluarganya. Mereka tidak pernah lagi kekurangan bahan makanan. Saat merasa lapar, secara berkelompok mereka akan menuju pohon tersebut di dalam hutan. Mereka mengibaratkan pohon itu seperti orang tua yang terus menyediakan makanan bagi mereka anak-anaknya secara cuma-cuma.

Namun kemudian muncul kekhawatiran dari dalam diri Beworpit tentang masa depan ketersediaan pohon duri yang terus mereka tebang. Ia takut suatu saat pohon tersebut akan habis dan berdampak pada berkurangnya bahan makanan bagi keturunannya di masa yang akan datang. Dalam murung Beworpit terus berpikir mencari jalan keluar. Pada suatu malam Ia pun kabur dari kampungnya untuk menuju tengah hutan. Ia terus berjalan menuju lokasi pertama kali menemukan pohon duri yang pertama dilihatnya di dalam mimpi.

Sementara itu para anggota keluarga yang lainnya baru menyadari ketiadaan Beworpit beberapa hari kemudian. Semuanya gelisah karena sang pemimpin telah menghilang entah kemana. Mereka pun memutuskan untuk mencari Beworpit ke segala arah. Sesampainya di tengah hutan mereka menemukan sebuah pohon berduri. Mereka terkejut karena ternyata pohon tersebut dapat berbicara. Alangkah kagetnya mereka karena pohon berduri tersebut adalah Beworpit yang telah mengubah dirinya. Tangisan pun pecah di rimba tersebut. mereka sedih bukan hanya karena kehilangan seorang pemimpin, tapi juga karena kebesaran hati Beworpit dalam mengorbankan dirinya demi kelangsungan hidup anggota keluarga dan keturunannya.

Pohon berduri yang ada dalam cerita tersebut kemudian dikenal sebagai pohon sagu yang menjadi makanan pokok khas bagi orang Asmat juga masyarakat di seluruh tanah Papua. Sekolah Satu Atap Distrik Sawaerma mengangkat kembali cerita kepahlawanan Beworpit karena didorong oleh rasa khawatir atas pergeseran budaya yang terjadi saat ini. Mereka ingin berpesan untuk menghargai jasa Beworpit dengan terus melestarikan tanaman sagu agar dapat terus menjadi makanan pokok masyarakat di Kabupaten Asmat.

“Jangan sampai hanya karena diberi mie instan dan kopi kita menjadi kelaparan karena lahan sagu kita sudah diambil orang,” pesan penutup dalam epilog sosio drama tersebut. Sebuah singgungan bagi anggota masyarakat yang rela menjual tanah adat mereka kepada pengusaha demi mendapatkan sejumlah uang. Fenomena ini sedang marak terjadi di beberapa kampung di Kabupaten Asmat.

Heroisme Beworpit adalah sebuah cerita tragis namun memiliki pesan yang sangat mendalam dalam menjaga lingkungan. Cerita leluhur Orang Asmat tersebut menjadi salah satu penampilan yang paling menarik perhatian pada Festival Beworpit-Tewerawut 2016. Festival seni ini sendiri merupakan agenda tahunan yang pada perhelatan kali ini telah memasuki edisi kedelapan. Diselenggerakan  sejak tanggal 6 hingga 10 Juni 2016 di Lapangan Yos Sudarso, Kota Agats. Pesertanya kebanyakan adalah pelajar dan pemuda yang terbagi dalam grup-grup yang berasal dari berbagai kampung. Dalam sambutannya, Bupati Kabupaten Asmat menjelaskan tujuan kegiatan ini adalah untuk lebih memperkenalkan budaya Asmat kepada kaum muda. “Agar kebudayaan Asmat yang sudah dikenal dunia tetap lestari dan akrab bagi generasi muda Asmat.”

Panitia festival tahun ini dengan sangat tepat memilih “Kebudayaan untuk Kehidupan” sebagai tema kegiatan. Tidak kebetulan tanggal pelaksanaan festival berdekatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup yang jatuh pada tanggal 5 Juni yang lalu. Dengan dipilihnya tema tersebut bukan hanya misi melestarikan budaya saja yang ditampilkan, namun juga pesan-pesan menjaga lingkungan sebagai sumber kehidupan banyak disampaikan pada festival tahun ini. Hal ini terbukti dari penampilan para peserta yang selalu ada unsur alam atau menyelipkan pesan pelestarian lingkungan pada berbagai macam lomba, mulai dari mengukir, menggambar, parade Burung Cendrawasih, tari kreasi, sosio drama, dan menyanyi.

Selain kisah Beworpit dari Sekolah Satu Atap Distrik Sawaerma, penampilan apik juga ditunjukkan Grup Asmat Aites dari Kampung Syuru pada cabang lomba tari kreasi. Kelompok seni yang dipimpin oleh Bernat Becimpari tersebut menampilkan sebuah sendra tari yang menyajikan cerita persentuhan masyarakat Asmat dengan lingkungannya. Dengan koreografi yang sangat dinamis Grup Asmat Aites menyajikan cerita yang mewakili berbagai macam kegiatan keseharian, mulai dari mendayung ci (perahu tradisional Suku Asmat), menjaring ikan, memangkur sagu, hingga berburu di hutan. Bahkan adegan berperang dengan musuh pun ditampilkan. Kesemuanya itu membuat kreasi tari yang mereka tampilkan menjadi sangat hidup.

Nilai tambah yang membuat Grup Asmat Aites meraih juara pertama pada cabang perlombaan ini adalah mereka membungkus koreografi mereka yang sudah apik dengan iringan musik tradisi Asmat. Tujuh orang pemusik dan penyanyi menyajikan alunan irama yang mengisi gerak kesepuluh orang penari. Mereka mengatur tempo, menciptakan nuansa gembira ataupun murung, dan menjadi penanda perpindahan gerakan. Belum lagi busana dan make up yang mereka gunakan sangat berwarna namun tetap pas. Kesemuanya klop dalam penampilan yang sangat berkesan, baik estetik tari maupun pesan yang disampaikan.

Sesaat setelah keluar dari arena perlombaan, saya menghampiri Bernat Becimpari untuk memberikan selamat dan mengobrol soal proses kreatif mereka. Sebelumnya saya memang sudah berkenalan dengannya dalam sebuah kegiatan penyadartahuan perlindungan sempadan sungai di kampungnya. Bernat adalah salah satu tokoh pemuda di Kampung Syuru yang aktif menggerakkan kegiatan kepemudaan lewat kegiatan seni di sanggar miliknya. Ia juga merupakan guru muatan lokal di salah satu Sekolah Dasar di Kota Agats. Oleh berbagai pihak, Ia sering diajak ke berbagai kota bahkan manca negara untuk memperkenalkan kekayaan budaya Asmat. “Bulan Juli nanti saya akan ke Amerika selama satu bulan untuk mempromosikan kebudayaan Asmat,” kata Bernat dengan semangat.

Untuk penampilan yang memukau di Festival Beworpit-Tewerawut tahun ini Bernat melatih anak asuhnya hanya dalam waktu dua minggu. Ia membagi pemainnya dalam beberapa cabang perlombaan dan mengawasinya masing-masing. Mata lomba yang paling Ia perhatikan adalah tari kreasi dan parade Burung Cendrawasih. “dua lomba itu yang paling bergengsi. Biasanyan kalau menang pada dua lomba itu kita akan diutus untuk mewakili Asmat di festival tingkat Provinsi.”

Wajah tegang peserta parade Burung Cendrawasih saat menunggu giliran tampil.

Unsur lingkungan kental dalam kostum para peserta festival.
Dan memang terbukti, Asmat Aites juga menjadi pemenang pertama dalam mata lomba parade Burung Cendrawasih. Sebenarnya dalam lomba ini koreografi dan pesan yang ingin disampaikan semua peserta hampir sama. Bagaimana Burung Cendrawasih yang sudah menjadi simbol tanah Papua terancam keberadaannya akibat perburuan liar. The bird of paradise ini ditampilkan sedang menari-nari dalam  kostum yang penuh warna. Datang kemudian seorang pemburu yang memanah kawanan burung tersebut. salah satu burung pun mati dan nuansa musik berubah menjadi murung.

Diantara keseragaman pempilan para peserta, Grup Asmat Aites kembali menunjukkan nilai lebihnya. Penampilan mereka persis seperti nama yang dipakai, Aites, yang berarti kaum muda yang tangguh dan berbakat. Tidak hanya gerakan dalam parade yang dibuat menarik tapi juga kostum dan musik yang mereka tampilkan sangat menyatu padu dengan keseluruhan unsur dalam parade. Saat musik mengalun cepat, semua penari bergerak lincah. Begitupun sebaliknya. Saat musik berubah pelan penari pun bergerak anggun, sambil memanfaatkan momen tersebut untuk meghimpun panas.

Walau bukan festival terakbar, Bernat dan beberapa pelatih dari berbagai grup cukup serius dalam menghadapi event ini. Bukan hanya soal hadiah dan gengsi, lebih dari itu mereka ingin agar ragam kesenian Suku Asmat menjadi semakin akrab di kalangan anak muda. “Hal ini (kesenian Asmat) penting untuk diperkenalkan kepada anak-anak muda. Jangan sampai budaya kita jadi mati karena cuma tua-tua saja yang menguasai. Anak-anak Asmat harus meneruskan warisan leluhur ini,” kata Bernat dalam obrolan kami. “Bukan cuma peserta yang saya ajak saja yang masih muda-muda, penonton yang datang kesini juga banyak anak-anak Asmat. Semoga mereka terhiubur dan tertarik untuk melestarikan kesenian ini.”


Pada festival ini pula saya kembali menyaksikan korelasi antara pelestarian budaya dan pentingnya menjaga alam raya. Sudah jelas bagi orang Asmat, cara terbaik untuk tetap menghidupkan adat dan budaya mereka adalah dengan cara menjaga bumi dari tangan-tangan serakah. Kesadaran tersebut yang kini diupayakan agar juga tertanam pada diri kaum muda Asmat.