Senin, 17 April 2017

Buku untuk Kampung Yepem


Kampung Yepem terletak di Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Provinis Papua. Di sana hanya terdapat satu Sekolah Dasar (SD) dengan tujuh tenaga pengajar yang terdaftar, tapi hanya satu guru yang aktif mengajar. Untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi (SMP dan SMA), anak-anak harus ke Agats, ibukota Kabupaten Asmat. Belum ada fasilitas dan sarana pembelajaran yang sederhana di sana untuk menumbuhkan hobi membaca dan belajar berbagai macam hal.

Untuk itu, dengan dukungan masyarakat, Blue Forests dan Forum Komunikasi Pelajar Mahasiswa Tarakan - Tarakan Study Club (FKPMT-TSC) berinisiatif untuk membangun rumah baca pertama di Kampung Yepem. Rumah baca ini diharapkan membawa perubahan kecil bagi generasi muda dari Kampung Yepem.

Kita bisa sama-sama membuat perubahan tersebut dengan mendonasikan buku, majalah, alat tulis, seragam sekolah, atau uang.

Sekecil apapun itu.

Caranya:
Kirimkan donasi ke salah satu alamat berikut:

#BlueForests Home Office
Jl. Pengayoman Komp. Mawar A 17-18 Makassar 90222
atau
Asrama Mahasiswa Tarakan
Jl. Perintis Kemerdekaan VI No. 14 Makassar

Kami siap menjemput donasi Anda dengan menghubungi 0852-4244-7870 (WhatsApp a.n. Kiki) atau 0813-5494-9897 (a.n. Andrian).

Ayo menjadi bagian dari perubahan!

Ndormom!

Sabtu, 18 Maret 2017

Mencari Jernih Mata Air Kali Yomoth


''Yang harus kita wariskan kepada generasi penerus adalah mata air, bukanlah air mata.''

Sejarah Kampung Yepem di Kabupaten Asmat, Papua, adalah riwayat tentang penemuan sumber mata air. Saat masih menetap di tepi Kali Jindiw, masyarakat kampung ini mengalami krisis pangan dan air bersih. Untuk keluar dari pelik permasalahan tersebut, para Tetua Adat dan masyarakat bersepakat melakukan ekspedisi untuk menemukan wilayah dengan sumber daya yang lebih baik. Pencarian itu kemudian berakhir di kepala Kali Yomoth, lahan yang kaya akan sagu dan memiliki sumber mata air rawa yang dapat diminum.

Perkampungan pun mulai terbangun di Kali Yomoth. Sumber mata air yang memberi kehidupan bagi manusia dan makhluk sekitarnya tersebut dijaga agar terus mengalir. Pada “masa gelap” di Asmat, pendatang yang memasuki sebuah kampung akan dianggap sebagai musuh yang harus diperangi. Begitupun yang terjadi di Kampung Yepem kala itu. Untuk melindungi sumber daya air yang terbatas di wilayah pesisir selatan Papua tersebut, segalanya akan dilakukan, bahkan bila harus mengorbankan nyawa sekalipun.

Sumber air rawa Kali Yomoth kemudian ditetapkan sebagai “tempat keramat” yang tidak boleh diakses oleh orang luar. Konsep “tempat keramat” merupakan mekanisme konservasi tradisional yang dipakai Orang Asmat untuk menjaga kelestarian tempat-tempat tertentu yang dianggap penting. Mereka percaya, orang yang melanggar aturan adat tersebut bisa celaka, sakit bahkan mati. Kearifan tersebut masih bertahan dan dipegang teguh oleh masyarakat Asmat Kampung Yepem sampai sekarang.

“Masa terang” kemudian datang bersama masuknya misionaris agama dan pemerintah di wilayah Asmat. masyarakat di berbagai kampung mulai terbuka dengan peradaban pendatang. Tradisi perang dan pengayauan mulai ditinggalkan. Kampung Yepem yang terletak cukup dekat dengan Agats yang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Asmat, mendapat manfaat sekaligus tantangan dalam mempertahankan sumber daya alam sekaligus kearifan adatnya.

Sebuah keluarga sedang memancing ikan di Kali Yomoth. Kali Yomoth sebagai sumber air bersih bagi Kota Agats dan Kampung Yepem juga dijadikan sebagai tempat mencari makan bagi masyarakat Asmat.
Kabupaten Asmat yang terletak di pesisir selatan Papua adalah daerah yang rentan terhadap bencana krisis air tawar. sebenarnya wilayah yang merupakan pecahan dari Kabupaten Merauke ini didonimasi oleh lahan gambut yang basah. Namun siklus air pasang laut yang kerap merendam daratan Asmat menjadikan air tanah di daerah ini tidak dapat dikonsumsi. Hanya beberapa kampung yang beruntung dianugerahi sumber mata air tawar, salah satunya Kampung Yepem dengan mata air rawa Kali Yomoth-nya. Sedangkan sebagian besar kawasan Asmat, termasuk Agats sebagai pusat kabupaten, hanya mengandalkan air tadah hujan sebagai sumber air yang dapat dikonsumsi.

Sebenarnya curah hujan Kabupaten Asmat tergolong tinggi, 3.000 sampai 4.000 mm per tahun. Namun tidak jarang terjadi musim kemarau panjang sampai berbulan-bulan. Fenomena kekeringan tersebut terakhir terjadi pada tahun 2015. Akibat pengaruh el nino, Kota Agats dan sekitarnya tidak diguyur hujan selama lebih dari lima bulan, antara Agustus hingga Desember. Akibatnya penduduk mengalami krisis air. Tidak sedikit masyarakat pendatang yang memilih meninggalkan Asmat untuk sementara menuju ke kota lain. Sedangkan bagi penduduk asli dengan kondisi perekonomian pas-pasan tidak ada pilihan lain selain bertahan dalam kekeringan.

Bencana kekeringan yang terus berulang tersebut kemudian mendorong pemerintah Kabupaten Asmat melirik Kali Yomoth sebagai sumber air tawar alternatif bagi Kota Agats dan kampung-kampung di sekitarnya. Sumber air rawa yang telah dimanfaatkan secara tradisional Orang Asmat di Kampung Yepem selama ratusan tahun tersebut memang punya potensi untuk itu. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Asmat dan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada pada tahun 2010, air rawa Kali Yomoth sebagai sumber air bersih mempunyai kapasitas daya dukung sebesar 2.302.140 mᶟ. Kualitas air baik untuk dikelola sebagai sumber cadangan air bersih, walaupun masih harus melalui proses penjernihan terlebih dahulu.

Rumah mesin air di tengah Kali Yomoth
Proses pemanfaatan air rawa Kali Yomoth oleh pemerintah Kabupaten Asmat sebenarnya telah dilakukan sejak tahun 2005. Masyarakat Kampung Yepem juga telah mempersilakan setelah pemerintah memberikan kompensasi kepada masyarakat. Namun karena tidak lancarnya komunikasi antara masyarakat adat sebagai pemilik hak ulayat dan pemerintah sebagai pengelola, menyebabkan tidak efektifnya pemanfaatan air rawa Kali Yomoth. Beberapa kali pemerintah kabupaten lewat Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Asmat membangun beberapa fasilitas pendukung untuk mengalirkan air ke Kota Agats. Namun karena dilakukan secara sepihak dan dianggap melanggar adat, masyarakat Kampung Yepem membongkar fasilitas tersebut tanpa sepengetahuan pemerintah. Tindakan itu mengakibatkan air tidak mengalir ke kota secara maksimal.

Untuk mengalirkan air dari Kali Yomoth ke Kota Agats, pemerintah membangun rumah mesin di atas badan kali. Hal ini mengakibatkan bahan bakar dari mesin menetes ke kali dan mencemari air di sekitar lahan tersebut. Masyarakat Kampung Yepem sudah melayangkan protes. Namun tanggapan pemerintah tidak kunjung menyelesaikan masalah. Pada akhir tahun 2016, Dinas PU membangun bendungan di bagian atas Kali Yomoth untuk meningkatkan debit air di sekitar rumah mesin. Karena hal itu, masyarakat dan para Tetua Adat Kampung Yepem kembali dibuat marah besar. Tanpa memberi tahu pihak pemerintah, mereka membongkar bendungan tersebut karena menghalangi air untuk sampai ke dalam kampung. 

Masih ada beberapa tindakan sepihak yang dilakukan oleh masing-masing pihak, termasuk pengerusakan jaringan pipa yang menyalurkan air ke rumah-rumah penduduk di Kota Agats. tindakan-tindakan sepihak tersebut bukannya menyelesaikan masalah, bahkan semakin memperumit kerja sama antara pemerintah dengan masyarakat Kampung Yepem.

Untuk meredam konflik ini, sudah seharusnya kedua belah pihak membangun sebuah forum dialog dalam bentuk kelembagaan bersama. Forum ini dapat digunakan sebagai wadah untuk saling berkomunikasi, menyampaikan pendapat masing-masing pihak, dan membangun sistem pengelolaan air lebih baik yang bisa diterima bersama. Niat baik pemerintah untuk menyediakan sumber air alternatif bagi masyarakat tidak sepantasnya melanggar kearifan tradisional masyarakat adat Asmat yang telah bertahan selama ratusan tahun. Lagi pula pemanfaatan secara adat tersebut sudah terbukti lestari dalam menjaga keberadaan sumber air rawa Kali Yomoth.

Jika ingin lebih serius dan berkekuatan hukum, kedua belah pihak dapat membangun sebuah kesepahaman kerja sama, misalnya dalam bentuk memorandum of understanding (MoU). Dalam MoU tersebut dapat disepakati hak dan tanggung jawab masing-masing pihak. Masyarakat adat Kampung Yepem sebagai pemilik hak ulayat harus memastikan kelestarian lokasi sumber air rawa Kali Yomoth. Tidak boleh ada pemanfaatan eksploitatif yang mengakibatkan rusaknya ekosistem di sekitar tempat tersebut. sedangkan untuk pemerintah selaku pengelola harus menghadirkan manfaat bagi semua pihak. Masyarakat di Kota Agats yang menikmati aliran air diwajibkan membayar retribusi yang akan digulirkan untuk berbagai hal. Retribusi ini dapat dijadikan sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan sebagian lagi juga dinikmati oleh masyarakat Kampung Yepem dalam bentuk subsidi di berbagai bidang, misalnya pendidikan, kesehatan, bahkan dalam hal pelestarian adat-budaya dan lingkungan. Dengan begitu semua merasakan manfaat dari anugerah bernama sumber air rawa Kali Yomoth ini.


Bukankah hal yang paling penting dari anugerah sumber daya alam adalah manfaat yang sebesar-besarnya dan kelestarian selama-lamanya. Kejernihan manfaat boleh dirasakan generasi hari ini, tapi tentu keruh kerusakan tidak boleh dirasakan generasi yang akan datang. Untuk sekedar mengingatkan, perkataan seorang bijak ini mungkin boleh kita kutip kembali, “yang harus kita wariskan kepada generasi penerus adalah mata air, bukanlah air mata.”

Minggu, 26 Februari 2017

Sehari di Dusun Sagu

Mama Agustina Baspit berdiri di atas pohon sagu yang baru saja ditumbangkannya. 
Melihat aktifitas memangkur sagu di hutan adalah menyaksikan tradisi yang semakin tersisih. Monopoli beras sebagai komoditi utama program ketahanan pangan membuat makanan pokok orang timur ini kian dilupakan.  Di Asmat, Papua, potensi besar ini nyaris tidak dilirik sama sekali. Ia hanya dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat yang masih menjalankan ajaran leluhur.

Rabu pagi, 22 Februari, saya bersama dua orang teman, Regis dan Wawan, sudah berada di dermaga Kampung Kaye. Hari itu kami punya janji dengan Bapak Yanuarius Ombercem untuk berkunjung ke dusun (lahan hutan) sagu milik keluarganya.

Su siap ka?” Sapa pria yang akrab dipanggil Yance tersebut.

“Iya to,” jawab Regis.

Pak Yance kemudian bergegas memanggil semua anggota keluarganya yang akan ikut serta. Sekitar pukul delapan pagi kami semua sudah siap berangkat. Rombongan berjumlah total 16 orang masuk satu per satu ke dalam perahu viber bermesin. Perahu kami sarat penumpang betul waktu itu. Perjalanan ke dusun sagu Pak Yance akan melewati dua kali milik masyarakat Kampung Syuru-Aswet-Kaye, yaitu, Kali Fambret dan Kali Ba.

Tujuan kami ke dusun sagu hari itu adalah untuk memangkur sagu yang akan dijadikan seserahan perkawinan. Seorang keponakan Pak Yance, Daniel Eraman, baru saja mempersunting seorang perempuan yang juga bersuku Asmat. Dalam adat Suku Asmat, seorang laki-laki yang baru menikah harus memberikan persembahan kepada keluarga istrinya. Persembahan tersebut haruslah sesuatu yang berharga, yaitu kapak batu dan sagu. kedua benda tersebut tidak hanya berharga namun juga mempunyai arti simbolik dalam adat Asmat. Kapak batu adalah perkakas utama Orang Asmat dalam bekerja. Sedangkan sagu merupakan makanan utama yang dipercaya memberi kehidupan. Keduanya penting sebagai bekal dalam mengarungi rumah tangga.

Dalam perjalanan kali ini pula, saya kembali menyaksikan ketangguhan perempuan atau mama-mama Asmat dalam bekerja. Dari 16 orang yang turut serta hari itu, ada sembilan orang mama-mama yang membawa semua peralatan mereka sendiri, mulai dari alat pangkur, gagar, parang, serta beberapa peranti kecil untuk menyaring sari-sari sagu. Kesemua peralatan tersebut dijinjing di dalam sebuah tas noken berbahan karung plastik.

Mama Natalia Desnam dan Mama Agustina Baspit yang duduk di dekat kami bertiga di dalam perahu menjelaskan fungsi masing-masing peralatan yang mereka bawa tersebut. “Alat pangkur ini disebut kam (dalam bahasa Asmat), dipakai untuk menghancurkan sagu. Kalau ini om (gagar, semacam tombak yang terbuat dari kayu pohon pinang) dipakai untuk memeriksa pohon sagu itu ada isi atau tidak. Ujungnya ini tidak boleh basah sampai dipakai nanti di dusun sagu. itu pamali,” jelas Mama Natalia sambil menunjukkan satu per satu peralatannya.

Mama Natalia menjelaskan fungsi masing-masing peralatan memangkur sagu yang dibawanya.
Sekitar dua puluh menit menyusuri kali, kami tiba di tujuan. Perahu kami ditambatkan di tepi kali dengan diikat di sebuah pohon bakau. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju dusun sagu. Trek menuju dusun sagu keluarga Pak Yance cukup sulit, harus melalui belukar dan lahan rawa yang basah. Jalan setapak yang telah lebih dulu dibuat sama sekali tidak mulus. Masih banyak duri dari pohon sagu yang sudah tumbang. Kami yang memakai sepatu karet masih kesulitan melalui medan ini. Kaki saya bahkan beberapa kali terbenam di lumpur karena salah berpijak. Tapi, saat melihat mama-mama Asmat, hampir tidak terlihat sama sekali kesulitan bagi mereka melalui jalanan tersebut. Padahal mereka berjalan tanpa menggunakan alas kaki sambil membawa noken berisi peralatan sangkur. Kaki telanjang mereka seperti mengolok-ngolok kaki bersepatu karet kami yang berlangkah berat sekali.

Memasuki dusun sagu, kami diajak singgah terlebih dahulu di titik tempat sakral. Daniel memberi kami bibit buah manis yang baru saja ia cabut. Semua orang yang memasuki dusun sagu tersebut harus meminta izin dengan cara meletakkan bibit buah manis di titik tempat sakral tersebut.

“Dusun ini dusun keramat. Jadi kalau mau masuk kita harus permisi,” Kata Pak Yance.

“Ini tempat moyang. Jadi harus taruh anakan buah manis di sini. Itu tandanya kita permisi sama dorang,” Mama Natalia menimpali.

Ada banyak tempat, terutama lahan hutan, yang dijadikan tempat keramat oleh Orang Asmat. tempat-tempat tersebut dipercaya sebagai lokasi yang dulunya ditempati oleh para leluhur mereka. Dalam kepercayaan Orang Asmat, lokasi keramat tidak boleh dimasuki tanpa izin pemiliknya. apalagi sampai dirusak. Melanggar aturan tersebut adalah sebuah teser, pelanggaran adat kategori berat. Hukumannya adalah kematian.

Tidak terlalu jauh dari tempat keramat, kami sudah sampai di dusun sagu yang menjadi tujuan hari itu. Sejauh mata memandang, pohon sagu mendominasi hutan tersebut. Mama Natalia, Mama Agustina, dan mama-mama yang lain mulai membagi diri menjadi tiga kelompok. Sedangkan Pak Yance bersama tiga mama-mama lainnya melanjutkan perjalanan menuju hutan yang lebih dalam. Kami tidak diizinkan ikut. Entah karena medan dianggap terlalu berat buat kami atau hutan tersebut memang terlarang untuk orang luar. “Kalian di sini saja bersama mama-mama dorang,” Kata Pak Yance sambil tersenyum kepada kami.

Mama-mama yang telah terbagi dalam tiga kelompok tadi kemudian mulai memilih pohon sagu yang dianggap sudah dapat menghasilkan tepung. Sebelum benar-benar ditebang, pohon pilihan mereka diperiksa terlebih dahulu untuk memastikan isinya. Caranya dengan menancapkan kapak dalam-dalam ke batang pohon sagu. setelah dicabut, mereka mengoles jari ke mata kapak. “Nah, pohon yang ini sudah ada isi (sagu). Ini sudah ada bekas (sari pati) sagu di kapak ni,” Mama Natalia menunjukkan kapaknya kepada kami.

Menebang pohon sagu
Setelah dipastikan berisi barulah pohon sagu benar-benar ditebang. Sekuat tenaga mama-mama Asmat mulai menancapkan kapak mereka di pohon yang bagian luarnya sangat keras tersebut. Pohon yang ditebang Mama Agustina tumbang duluan. Beberapa menit kemudian pohon sagu Mama Natalia dan mama di sebelahnya menyusul. Oleh Daniel, kami disuruh menjauh dari lokasi rebahnya pohon-pohon tersebut. Dari pola tebasan kapak, arah jatuhnya pohon sagu yang ditebang sudah bisa diperkiran.

Pohon sagu yang telah tumbang tidak lantas mempermudah pekerjaan. Proses produksi, menurut Mama Natalia, masih sangat panjang sampai dihasilkan tepung sagu. “Kalau cari sagu ini kerja banyak sekali. Kalau potong kayu bakar, kita potong, kita belah, itu gampang. Kalau namanya sagu ini, setengah mati. Untuk satu batang ini biasa kita kerja dari pagi sampai sore,” kata mama yang juga bekerja sebagai petani sayuran ini.

Gelondongan pohon sagu kemudian diidentifkasi isinya dengan menggunakan gagar. Hal ini dilakukan untuk mengetahui keberadaan tepung sagu terdapat di areal mana saja. Caranya mirip seperti saat pohon sagu akan ditebang: gagar ditancapkan dalam-dalam di batang pohon. Jika sari sagu nampak di mata gagar, daerah itulah yang nantinya akan dipangkur. Sebaliknya, jika sari sagu tidak terlihat, maka areal tersebut tidak akan digarap. Tentu hanya akan menghabiskan tenaga saja.

Areal di pohon sagu yang sudah diketahui mengandung tepung sagu kemudian dikuliti. Kulit pohon sagu yang sangat keras harus dibuka di salah satu sisi terlebih dahulu sebelum dipangkur. Mama Agustina langsung mengerjakan tahap ini. Sementara Mama Natalia yang lebih berumur terlihat duduk menarik napas sejenak. Bukan tanpa alasan, dua tahap dalam memproduksi sagu berikutnya, menguliti dan memangkur, adalah bagian paling berat dan memakan banyak waktu.

Mama Natalia terlihat mulai mengasah mata alat pangkurnya. Untuk mempermudah penggunaannya, piranti yang terbuat dari kayu tersebut disematkan besi pada bagian ujungnya. Besi yang melingkar dan tajam akan menghancurkan sagu lebih cepat dan halus. Setelah mata pangkur dirasa sudah cukup tajam, mama-mama mulai beraksi. Isi pohon sagu mulai dilepaskan dari batangnya kemudian dihancurkan. Untuk memangkur satu pohon sagu dibutuhkan waktu kurang lebih tiga sampai empat jam. Sungguh tahapan yang lama dan melelahkan.

Memangkur, melepaskan sari sagu dari batangnya (foto oleh Wawan)
Regis yang mencoba ikut memangkur merasakan langsung sensasi beratnya pekerjaan ini. Sari-sari sagu ternayata cukup keras untuk dilepaskan. Mama Natalia hanya tertawa melihanya. “Kalau keras itu bagus. Itu berarti tepungnya banyak.” Pantas saja mama-mama yang memangkur sagu tetap bersemangat bekerja. Ternyata semakin keras sari sagu, semakin banyak pula tepung yang akan dihasilkan.

Tepung sagu yang mulai mengendap. (Foto oleh: Regis)
Tepung sagu di dalam noken karung siap dibawa pulang. (Foto oleh: Regis)
Sementara proses memangkur sagu berlangsung, mama-mama yang lain membuat sumur kecil dan mempersiapkan peranti penyaring. air di dalam sumur tersebut kemudian didiamkan sesaat sampai menjernih. Sari sagu yang sudah hancur diletakkan di atas penyaring yang sudah dirancang sederhana dari pelepah pohon sagu. Sari sagu tersebut kemudian disiram kemudian diremas sampai menghsilkan cairan berwarna putih. Air perasan tadi mengalir menuju tempat penampungan dan dibiarkan mengendap. Tidak lama kemudian gumpalan tepung sagu mulai nampak. Voila.

Proses yang memakan waktu seharian ini tentu setimpal dengan yang dihasilkan. Satu pohon sagu dapat menghasilkan dua sampai tiga noken tepung sagu. Menurut Mama Natalia, jika dikonsumsi sendiri di dalam keluarga, hasil tersebut dapat bertahan sampai satu bulan lebih.

Sekitar pukul lima sore, terdengar suara dari arah rombongan Pak Yance. Itu tandanya aktifitas memangkur sagu hari itu harus disudahi, walaupun masih ada sari sagu yang belum disaring. Pekerjaan baru boleh dilanjutkan esok hari.

Melihat langsung proses memangkur sagu di hutan Orang Asmat adalah pengalaman yang sungguh luar biasa. Saya merasa beruntung sekali diajak untuk menyaksikan pekerjaan yang mulai ditinggalkan ini. Bisa saja tradisi turun-temurun ini akan semakin sulit ditemui pada tahun-tahun yang akan datang.


Semoga tidak demikian.

Kamis, 23 Februari 2017

Buku Inovasi Daerahku


Buku ini berisi cerita inovasi dari berbagai daerah di Indonesia, salah satunya dari Kampung Atsj, Kabupaten Asmat, yang saya tulis. Silakan menghubungi bitread_id untuk mendapatkannya. Jika ingin membaca tulisan saya di buku ini klik di "Berjalan Dalam Keseimbangan di Kampung Atsj."

Jumat, 17 Februari 2017

Pangan Hutan dan Resep Hidup Sehat Orang Asmat

Seorang perempuan Asmat sedang mencari bahan makanan di dalam hutan di sekitar kampungnya. Ketergantungan Orang Asmat terhadap pangan hutan masih cukup tinggi hingga saat ini. (Foto oleh: Regista)

Nene Yohana Bandep menyambut dengan senyum saat kami berkunjung ke rumahnya di Kampung Suwruw, Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Papua. Dengan ramah, perempuan berusia 107 tahun ini menyalami kami satu-persatu. Walau semua giginya telah tanggal dimakan umur, Ia masih mampu bercerita panjang lebar soal kehidupan leluhur di masa lampau. Tujuan kami mengunjungi rumahnya adalah untuk mendokumentasikan kearifan adat Suku Asmat, terutama dalam hal pengelolaan hutan. Adat istiadat Asmat yang dilestarikan lewat tradisi lisan sangat bergantung pada ingatan orang-orang tua seperti Nene Yohana ini.

Saat Nene Yohana mulai bercerita, kami mendapati fakta atas hubungan antara Orang Asmat yang daya tahan tubuhnya cenderung kuat dengan cara mereka memanfaatkan pangan dari hutan. Sebelum agama dan pemerintah masuk ke tanah Asmat, daerah ini adalah arena pengayauan. Orang-orang saling membunuh lantas membawa pulang kepala lawan ke dalam kampung. Cara ini dilakukan untuk menunjukkan kekuatan kepada lawan dan membuktikan kepemimpinan di dalam klan sendiri. Tradisi primitif ini berlangsung di antara kampung-kampung, baik yang berada di dalam maupun luar wilayah Asmat.

Untuk melaksankan tradisi mengayau, seorang Kepala Perang dan para prajuritnya haruslah memiliki tenaga yang kuat. Guna mendapatkan fisik yang prima tersebut Orang Asmat memanfaatkan makanan dari hutan yang tumbuh sehat di kampung-kampung mereka. Tidak asal makan, mereka memilih betul makanan yang mampu memenuhi nutrisi bagi barisan Penjaga Kampung tersebut. “Orang-orang dulu tidak makan sembarangan. Kami hanya makan makanan pilihan dari hutan, seperti sagu, babi hutan, kasuari. Kalau makan itu badan jadi kuat, tidak gampang sakit,” Kata Nene Yohana dalam Bahasa Asmat. sementara itu, ada pula makanan yang pantang dimakan oleh mereka yang bertugas di medan perang. Beberapa makanan yang dianggap karu (pamali) tersebut diantaranya, Ikan Sembilang, Pisang Doaka (Pisang Gepok), Ubi Hutan, dan Karaka Merah. “Kalau makan makanan itu badan bisa jadi lemas.”

Cara pengolahan makanan yang masih sangat sederhana juga menjadi faktor terjaganya nutrisi pada pangan Orang Asmat. selain dimakan langsung, kehidupan tradisional Orang Asmat hanya mengenal dua jenis cara pengolahanan makanan, yaitu, rebus dan bakar. Tentu saat itu mereka belum mengenal bumbu-bumbu masakan yang sarat akan bahan pengawet kimia. Namun saat ini cara pengelohanan makanan sederhana tersebut masih banyak ditemui pada rumah tangga yang hidup di kampung-kampung.

Seiring masuknya para misionaris agama dan pemerintah, masa gelap di Asmat mulai berubah. Perang antar kampung dan praktik mengayau perlahan mulai ditinggalkan. Peradaban luar menyentuh, termasuk pada pola konsumsi akibat masuknya bahan makanan yang dibawa oleh pendatang. Namun ketergantungan Orang Asmat akan pangan hutan masih tetap bertahan. Walau, diakui oleh Orang Asmat sendiri, jumlah mereka yang masih bertahan dengan mencari makanan di alam sudah semakin berkurang. Kemampuan untuk mencari makan di dusun (lokasi hutan yang ditumbuhi sagu) dan sungai-sungai dirasa semakin terbatas hanya pada orang-orang tua saja. Sedangkan kaum muda yang lahir setelah masa terang datang semakin sedikit yang mewarisi kemampuan tersebut.

Berubahnya pola konsumsi pangan ini berdampak pada menurunnya kualitas kesehatan Orang Asmat. Menurut Simon Bakpe, tokoh masyarakat Kampung Suwruw, jika dibandingkan dengan zaman dulu, kini Orang Asmat di kampunnya lebih mudah sakit. Penyakit yang menyerang mereka pun semakin beragam. “Dulu penyakit itu cuma sedikit, tidak banyak macam. Kita cuma kenal sakit panas, sakit kepala, sakit perut, sama bisul. Kalau sakit, kita biasa cari obat di hutan. Di sana banyak tanaman yang bisa dipakai jadi obat,” ungkap pria paruh baya tersebut.

Sebuah keluarga sedang menjaring udang di wilayah pesisir Asmat. Hutan yang masih terjaga menyediakan bahan makanan melimpah bagi rumah tangga yang hidup di sekitar hutan Asmat. (Foto oleh: Regista)
Korelasi antara pangan hutan dan tingkat daya tahan tubuh Orang Asmat ini mungkin kurang masuk akal bagi kita. Namun penelitian ilmiah yang yang baru-baru ini dilakukan oleh CIFOR tentu dapat membantu kita dalam memahami ini. Penelitian yang dipimpin oleh ilmuan doktoral Dominic Rowland tersebut menghasilkan fakta bahwa hutan berperan penting bagi diet keluarga dan masyarakat yang tinggal di dekat hutan tropis. Fakta tersebut dihasilkan CIFOR setelah mendata konsumsi pangan masyarakat yang hidup di sekitar hutan di 37 lokasi di 24 negara tropis. Tidak main-main, riset tersebut diklaim sebagai yang pertama menggunakan metode survei terstandarisasi yang menerapkan kriteria seragam untuk mendapatkan perspektif komparatif global.

“Hutan menghasilkan seluruh jenis makanan, mulai dari siput darat hingga buah liar dan primata. Kami berfokus pada kelompok pangan bernutrisi penting yang sering kurang dalam rata-rata kandungan diet di negara-negara tersebut. Dalam kelompok pangan ini, daging, ikan, buah-buahan, dan sayuran sangat bergantung pada hutan.” Ungkap Rowland.

Hasil penelitian CIFOR ini identik dengan apa yang diungkapkan oleh Nene Yohana Bandep dan Bapak Simon Bakpe di atas. Sejarah panjang pemanfaatan pangan hutan oleh Orang Asmat membawa mereka pada generasi yang berkecukupan nutrisi dan berumur panjang. Perubahan yang kurang arif kemudian menggeser tatanan ini. Orang-orang seperti lupa untuk menghargai jasa hutan dalam menyediakan kehidupan. Demi memenuhi kebutuhan yang dirasa serba mendesak, hutan dieksploitasi tanpa memperhatikan keseimbangannya. Hutan dianggap benda mati yang tidak memberi dampak apa-apa saat diganggu.

Soal menghargai jasa hutan ini, kenangan Bernat Bicimpari (45 tahun), salah satu Wair, Tetua Adat di Jew Dendew Kampung Suwruw, mungkin dapat menjadi ilustrasi bagi kita. Menurut Bernat, saat ayahnya meninggal, Ia hanya meninggalkan satu wasiat: “Jaga hutan kita.” “Waktu bapak mati dia tidak meninggalkan warisan apa-apa untuk kami. Dia cuma berpesan kepada kami untuk menjaga hutan. katanya, hutan ini sudah berjasa besar. Hutan sudah membesarkan kita. Dusun menyediakan makanan untuk kita.”

Minggu, 12 Februari 2017

Cita-Cita


Katanya cita-cita adalah zat yang membuat kita ingin terus hidup.

Kalau begitu, bagaimana jika kugambarkan cita-cita itu seperti ini? Kita tinggal di sebuah rumah sederhana yang berdiri di sebuah kampung permai tak jauh dari tepi sungai. Saat pagi menjelang, udara segar teman kita. Suara burung-burung dan daun yang digoyang angin setia bernada untuk kita. Mungkin sesekali hujan badai akan menerjang. Saat itu kita masih boleh bahagia. Api di tungku, teh panas dan percakapan tidak penting masih bisa menghangatkan.

Sesekali kita akan ke kota. Membeli buku atau berkunjung ke toko musik langganan. Lalu menderu di antara debu jalan dan angkutan kota. Kita singgah di fasilitas yang serba dibayar. Sebelum akhirnya pulang dengan langkah pelan.

Saat tua kita tenang. Suara adzan mengajak ke surau tiap petang. Habis itu makan malam. Bahannya tentu dari kebun sendiri. Menggarapnya selalu menjadi salah satu aktifitas kesukaan. Saban minggu kita mengunjunginya. Rutin tapi tidak pernah membosankan.

Di seberang sungai ada tanah harapan. Tidak luas tapi cukup untuk bersama. Jika mati nanti kita dimakamkan di sana. Sesekali tataplah tanah itu sembari bertanya: siapa kelak yang duluan berakhir? Kita sepakat menjawabnya; kalau boleh jangan terlalu berbeda waktu. Kita tak ingin menunggu terlalu lama untuk bertemu di kehidupan selanjutnya.

Selasa, 25 Oktober 2016

Terluka Berguna

yang terlihat terluka
yang masih berguna
serupa waktu sia-sia
tapi tetap menghitung mundur usiamu
atau karet gelang mengikat sayuran layu
atau kaos kaki busuk yang meminta dicuci
bertahanlah!
setidaknya kau masih bisa murung
dan tentu saja menunggu

Agats, 21 Oktober 2016