Sabtu, 10 Juni 2017

Tetanggaku Nusantara

Oscar, Boy, dan Yohanis (dari kiri ke kanan)



Sudah hampir dua tahun ini saya menetap di Agats. Mungkin tidak terlalu banyak yang mengenal ibu kota Kabupaten Asmat – Papua ini. Tapi siapa yang pernah menyangka, komposisi penduduk kota kecil ini ternyata sangat beragam. Di Agats, penduduk asli Suku Asmat hidup berdampingan dengan para pendatang dari berbagai daerah, mulai dari Sumatera sampai Merauke.

Hal paling menyenangkan dari kenyataan ini adalah saya jadi punya pengalaman bertetangga dengan orang-orang baru. Mereka datang dari berbagai daerah yang belum terlalu saya kenal sebelumnya. Di Agats, saya tinggal di sebuah rumah kontrakan milik pasangan yang berasal dari daerah yang berbeda, Mama Antoneta yang berasal dari Tanah Merah, Boven Digul dan suaminya yang bersuku Timor. Rumah mereka masih dalam satu kompleks dengan kontrakan yang saya tinggali.

Saya dan teman serumah lebih akrab dengan Mama Antoneta karena beliau lah yang aktif mengelola kontrakan yang kami tinggali. Pada awal-awal berkenalan dengan perempuan berbadan dan bersuara besar ini, saya agak segan untuk sering-sering berbicara denganya. Saya ingat, bahkan untuk bertanya soal keperluan di dalam kontrakan saja saya harus mengumpulkan keberanian terlebih dahulu. Saat Mama Antoneta berbicara, saya selalu mengira ia sedang marah. Suaranya selalu besar. Mimiknya jarang menunjukkan senyum. Pasti mama ini orangnya pemarah, deh, pikir saya waktu itu.

Tapi di sini lah pepatah “don’t judge book by its cover” bekerja. Setelah sekian lama kenal, ternyata Mama Antoneta ini baik sekali. Nada bicaranya masih selalu keras (ya karena dari sananya memang begitu). Tapi mama selalu membantu saat dibutuhkan. Bahkan mama selalu berinisiatif menanyakan kebutuhan kami di kontrakan, mulai dari masalah listrik, air, sampai layanan tivi kabel.

Pernah suatu malam, kompleks kontrakan kami gaduh karena ada seorang penghuni yang mabuk lantas mengomel tidak jelas. Tidak menunggu terlalu lama, mama keluar kemudian berteriak menyuruh si pemabuk untuk diam. Seketika malam kembali menjadi hening saat itu juga. Akhirnya suara keras mama ada manfaatnya juga.

Saking sudah akrabnya, saya bahkan pernah bercanda sambil bertanya kepada mama: “Kenapa mama kalau bicara suaranya keras sekali?” Mama dengan enteng menjawab, “biar sa tidak bicara dua kali to. Biar ko langsung dengar.” Baik lah, mama. Hormat!

Baru beberapa bulan ini saya mulai bertetangga dengan seorang Polisi yang berasal dari Sumatera (kalau tidak salah ingat). Jabatannya mentereng: Wakapolres Asmat. Ia tinggal tepat di sebelah kontrakan kami bersama istrinya yang Orang Sunda. Mereka berdua sangat ramah. Kami selalu bertukar sapaan tiap berpapasan di teras rumah atau di jalan.

Sebenarnya sapaan “selamat pagi-siang-sore-malam” adalah hal lumrah di Agats. Saya rasa keramahan orang-orang di sini sungguh di atas rata-rata. Kita bisa mendapat sapaan tersebut bahkan dari orang yang belum kita kenal sama sekali. Tapi bertegur sapa dengan Bapak Polisi ini tentu beda. Saya selalu memanfaatkan baku tegur itu untuk menanyakan informasi terbaru yang berkembang di Agats atau Asmat. Tetangga saya ini selalu senang hati membagi cerita. Tidak selalu soal peristiwa kriminal, tapi juga soal remeh temeh, misalnya penyebab listrik padam dalam waktu lama atau informasi tentang jadwal transportasi yang masuk-keluar Asmat. Saya menobatkan Bapak Polisi kita satu ini sebagai tentangga yang sangat berjasa, baik dalam mengamanakan keamanan lingkungan kontrakan, juga kebaikan hati berbagi informasinya. Tapi sayang, saya belum sempat menanyakan nama beliau. Tetangga durhaka.

Tetangga saya lainnya adalah dua bersaudara Anjel dan Boy. Kedua teman cilik saya ini merupakan anak dari buguru (panggilan akrab untuk ibu guru, yang sialnya saya lupa namanya. Baik lah saya perlu menabung untuk cangkok otak.) dan Om Jefri yang juga merupakan rekan sekantor saya. Mereka adalah pasangan Biak-Merauke yang sama-sama bertugas kerja di Agats.

Anjel dan Boy, bersama beberapa sepupunya yang juga sering berkunjung, merupakan kenalan pertama kami di awal-awal masa tinggal di rumah kontrakan Mama Antoneta tersebut. Kami berkenalan atas inisiatif mereka yang mulai rajin mengunjungi kontrakan saat melihat kami memiliki beberapa permainan. Yang paling menarik minat mereka adalah ular tangga. Tenaga mereka sungguh berlimpah saat memainkan papan permainan tersebut.

Sejauh ini rekor bermain ular tangga mereka adalah enam jam non stop. Ini cerita sungguh. Pada suatu minggu pagi Anjel, Boy, bersama Yohanis dan Oscar mengunjungi kontrakan kami mengajak bermain ular tangga. Kami ladeni dengan senang hati tentu saja. Sekitar pukul satu, saya dan teman sekontrakan, pamit kepada mereka untuk makan siang dan beristirahat. Beberapa jam kemudian, saat bangun tidur siang, ternyata mereka masih terlihat bergantian melempar dadu di depan pintu kami. Mereka baru bubar sekitar pukul tiga sore. Saya cuma geleng-geleng memaklumi. Namanya juga anak-anak ya kan.

Namun, dari semua, tetangga terbaik saya selama hidup di Agats adalah Paguru Kosmas. Lelaki paru baya ini adalah seorang guru yang telah mengajar di beberapa sekolah di Kabupaten Asmat. Ia lahir di Ambon namun menghabiskan sebagian besar umurnya di Asmat untuk mengajar di Yayasan Pendidikan Keuskupan Agats. Ia kenyang pengalaman mengajar di daerah pedalaman, kampung-kampung, sampai di Kota Agats. Menjadi Kepala Asrama bagi anak-anak asli Asmat di Agats juga pernah Ia kerjakan.

Saat pertama kali kami berkenalan, Paguru Kosmas sedang dalam masa cuti sakit. Ia punya masalah pada jantungnya dan menjadi semakin parah beberapa tahun ini. Selain rutin check up ke rumah sakit, selama cuti tersebut Ia hanya menghabiskan waktu beristirahat di rumah. Saat itu lah saya rutin mengunjunginya di waktu senggang.

Paguru Kosmas adalah teman cerita yang baik. Usianya yang jauh lebih tua dari saya tidak lantas membuatnya dominan dalam obrolan kami. Ia kadang cerewet namun bisa pula menjadi pendengar dan penanggap yang baik. Bahan obrolan favoritnya adalah pengalaman pada saat menjadi Kepala Asrama Siswa Asmat yang pertama. Bagaimana saat itu Ia mengendalikan berbagai macam perilaku anak-anak yang menurutnya “kalau tidak sabar bisa bikin gila.”

Bahan obrolan lainnya yang menjadi favorit kami adalah pengalaman jalan-jalan. Saat masih berkuliah di Jawa, Paguru Kosmas mengaku rutin berkunjung ke beberapa kota saat waktu libur. Ia mengaku sangat menikmati keramaian serta menyukai makanan khas tiap-tiap daerah. Namun saat saya menanyakan kota favorinya, Ia dengan sangat yakin memilih Makassar. “Makassar itu makanannya enak-enak. Tidak terlalu jauh juga dari Papua. Makassar itu timur juga. Kita sebagai orang timur harus bangga karena punya kota yang berkembang.”

Dalam usia tuanya, Paguru Kosmas masih berharap punya kesempatan untuk jalan-jalan ke berbagai daerah. Pernah suatu waktu, mungkin sambil bercanda, Ia berseloroh, “mungkin enak e kalau kita sarapan di Jakarta, makan siang di Makassar, makan malam di Jayapura, baru pulang tidur ke Agats sini.” Sayang pertemanan kami hanya sebentar. Awal tahun 2017 Paguru Kosmas meninggal dunia. Semangatnya untuk terus berjalan terganggu oleh penyakit jantung yang akhirnya membuatnya menyerah.

#15harimenulis

Senin, 17 April 2017

Buku untuk Kampung Yepem


Kampung Yepem terletak di Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Provinis Papua. Di sana hanya terdapat satu Sekolah Dasar (SD) dengan tujuh tenaga pengajar yang terdaftar, tapi hanya satu guru yang aktif mengajar. Untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi (SMP dan SMA), anak-anak harus ke Agats, ibukota Kabupaten Asmat. Belum ada fasilitas dan sarana pembelajaran yang sederhana di sana untuk menumbuhkan hobi membaca dan belajar berbagai macam hal.

Untuk itu, dengan dukungan masyarakat, Blue Forests dan Forum Komunikasi Pelajar Mahasiswa Tarakan - Tarakan Study Club (FKPMT-TSC) berinisiatif untuk membangun rumah baca pertama di Kampung Yepem. Rumah baca ini diharapkan membawa perubahan kecil bagi generasi muda dari Kampung Yepem.

Kita bisa sama-sama membuat perubahan tersebut dengan mendonasikan buku, majalah, alat tulis, seragam sekolah, atau uang.

Sekecil apapun itu.

Caranya:
Kirimkan donasi ke salah satu alamat berikut:

#BlueForests Home Office
Jl. Pengayoman Komp. Mawar A 17-18 Makassar 90222
atau
Asrama Mahasiswa Tarakan
Jl. Perintis Kemerdekaan VI No. 14 Makassar

Kami siap menjemput donasi Anda dengan menghubungi 0852-4244-7870 (WhatsApp a.n. Kiki) atau 0813-5494-9897 (a.n. Andrian).

Ayo menjadi bagian dari perubahan!

Ndormom!

Sabtu, 18 Maret 2017

Mencari Jernih Mata Air Kali Yomoth


''Yang harus kita wariskan kepada generasi penerus adalah mata air, bukanlah air mata.''

Sejarah Kampung Yepem di Kabupaten Asmat, Papua, adalah riwayat tentang penemuan sumber mata air. Saat masih menetap di tepi Kali Jindiw, masyarakat kampung ini mengalami krisis pangan dan air bersih. Untuk keluar dari pelik permasalahan tersebut, para Tetua Adat dan masyarakat bersepakat melakukan ekspedisi untuk menemukan wilayah dengan sumber daya yang lebih baik. Pencarian itu kemudian berakhir di kepala Kali Yomoth, lahan yang kaya akan sagu dan memiliki sumber mata air rawa yang dapat diminum.

Perkampungan pun mulai terbangun di Kali Yomoth. Sumber mata air yang memberi kehidupan bagi manusia dan makhluk sekitarnya tersebut dijaga agar terus mengalir. Pada “masa gelap” di Asmat, pendatang yang memasuki sebuah kampung akan dianggap sebagai musuh yang harus diperangi. Begitupun yang terjadi di Kampung Yepem kala itu. Untuk melindungi sumber daya air yang terbatas di wilayah pesisir selatan Papua tersebut, segalanya akan dilakukan, bahkan bila harus mengorbankan nyawa sekalipun.

Sumber air rawa Kali Yomoth kemudian ditetapkan sebagai “tempat keramat” yang tidak boleh diakses oleh orang luar. Konsep “tempat keramat” merupakan mekanisme konservasi tradisional yang dipakai Orang Asmat untuk menjaga kelestarian tempat-tempat tertentu yang dianggap penting. Mereka percaya, orang yang melanggar aturan adat tersebut bisa celaka, sakit bahkan mati. Kearifan tersebut masih bertahan dan dipegang teguh oleh masyarakat Asmat Kampung Yepem sampai sekarang.

“Masa terang” kemudian datang bersama masuknya misionaris agama dan pemerintah di wilayah Asmat. masyarakat di berbagai kampung mulai terbuka dengan peradaban pendatang. Tradisi perang dan pengayauan mulai ditinggalkan. Kampung Yepem yang terletak cukup dekat dengan Agats yang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Asmat, mendapat manfaat sekaligus tantangan dalam mempertahankan sumber daya alam sekaligus kearifan adatnya.

Sebuah keluarga sedang memancing ikan di Kali Yomoth. Kali Yomoth sebagai sumber air bersih bagi Kota Agats dan Kampung Yepem juga dijadikan sebagai tempat mencari makan bagi masyarakat Asmat.
Kabupaten Asmat yang terletak di pesisir selatan Papua adalah daerah yang rentan terhadap bencana krisis air tawar. sebenarnya wilayah yang merupakan pecahan dari Kabupaten Merauke ini didonimasi oleh lahan gambut yang basah. Namun siklus air pasang laut yang kerap merendam daratan Asmat menjadikan air tanah di daerah ini tidak dapat dikonsumsi. Hanya beberapa kampung yang beruntung dianugerahi sumber mata air tawar, salah satunya Kampung Yepem dengan mata air rawa Kali Yomoth-nya. Sedangkan sebagian besar kawasan Asmat, termasuk Agats sebagai pusat kabupaten, hanya mengandalkan air tadah hujan sebagai sumber air yang dapat dikonsumsi.

Sebenarnya curah hujan Kabupaten Asmat tergolong tinggi, 3.000 sampai 4.000 mm per tahun. Namun tidak jarang terjadi musim kemarau panjang sampai berbulan-bulan. Fenomena kekeringan tersebut terakhir terjadi pada tahun 2015. Akibat pengaruh el nino, Kota Agats dan sekitarnya tidak diguyur hujan selama lebih dari lima bulan, antara Agustus hingga Desember. Akibatnya penduduk mengalami krisis air. Tidak sedikit masyarakat pendatang yang memilih meninggalkan Asmat untuk sementara menuju ke kota lain. Sedangkan bagi penduduk asli dengan kondisi perekonomian pas-pasan tidak ada pilihan lain selain bertahan dalam kekeringan.

Bencana kekeringan yang terus berulang tersebut kemudian mendorong pemerintah Kabupaten Asmat melirik Kali Yomoth sebagai sumber air tawar alternatif bagi Kota Agats dan kampung-kampung di sekitarnya. Sumber air rawa yang telah dimanfaatkan secara tradisional Orang Asmat di Kampung Yepem selama ratusan tahun tersebut memang punya potensi untuk itu. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Asmat dan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada pada tahun 2010, air rawa Kali Yomoth sebagai sumber air bersih mempunyai kapasitas daya dukung sebesar 2.302.140 mᶟ. Kualitas air baik untuk dikelola sebagai sumber cadangan air bersih, walaupun masih harus melalui proses penjernihan terlebih dahulu.

Rumah mesin air di tengah Kali Yomoth
Proses pemanfaatan air rawa Kali Yomoth oleh pemerintah Kabupaten Asmat sebenarnya telah dilakukan sejak tahun 2005. Masyarakat Kampung Yepem juga telah mempersilakan setelah pemerintah memberikan kompensasi kepada masyarakat. Namun karena tidak lancarnya komunikasi antara masyarakat adat sebagai pemilik hak ulayat dan pemerintah sebagai pengelola, menyebabkan tidak efektifnya pemanfaatan air rawa Kali Yomoth. Beberapa kali pemerintah kabupaten lewat Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Asmat membangun beberapa fasilitas pendukung untuk mengalirkan air ke Kota Agats. Namun karena dilakukan secara sepihak dan dianggap melanggar adat, masyarakat Kampung Yepem membongkar fasilitas tersebut tanpa sepengetahuan pemerintah. Tindakan itu mengakibatkan air tidak mengalir ke kota secara maksimal.

Untuk mengalirkan air dari Kali Yomoth ke Kota Agats, pemerintah membangun rumah mesin di atas badan kali. Hal ini mengakibatkan bahan bakar dari mesin menetes ke kali dan mencemari air di sekitar lahan tersebut. Masyarakat Kampung Yepem sudah melayangkan protes. Namun tanggapan pemerintah tidak kunjung menyelesaikan masalah. Pada akhir tahun 2016, Dinas PU membangun bendungan di bagian atas Kali Yomoth untuk meningkatkan debit air di sekitar rumah mesin. Karena hal itu, masyarakat dan para Tetua Adat Kampung Yepem kembali dibuat marah besar. Tanpa memberi tahu pihak pemerintah, mereka membongkar bendungan tersebut karena menghalangi air untuk sampai ke dalam kampung. 

Masih ada beberapa tindakan sepihak yang dilakukan oleh masing-masing pihak, termasuk pengerusakan jaringan pipa yang menyalurkan air ke rumah-rumah penduduk di Kota Agats. tindakan-tindakan sepihak tersebut bukannya menyelesaikan masalah, bahkan semakin memperumit kerja sama antara pemerintah dengan masyarakat Kampung Yepem.

Untuk meredam konflik ini, sudah seharusnya kedua belah pihak membangun sebuah forum dialog dalam bentuk kelembagaan bersama. Forum ini dapat digunakan sebagai wadah untuk saling berkomunikasi, menyampaikan pendapat masing-masing pihak, dan membangun sistem pengelolaan air lebih baik yang bisa diterima bersama. Niat baik pemerintah untuk menyediakan sumber air alternatif bagi masyarakat tidak sepantasnya melanggar kearifan tradisional masyarakat adat Asmat yang telah bertahan selama ratusan tahun. Lagi pula pemanfaatan secara adat tersebut sudah terbukti lestari dalam menjaga keberadaan sumber air rawa Kali Yomoth.

Jika ingin lebih serius dan berkekuatan hukum, kedua belah pihak dapat membangun sebuah kesepahaman kerja sama, misalnya dalam bentuk memorandum of understanding (MoU). Dalam MoU tersebut dapat disepakati hak dan tanggung jawab masing-masing pihak. Masyarakat adat Kampung Yepem sebagai pemilik hak ulayat harus memastikan kelestarian lokasi sumber air rawa Kali Yomoth. Tidak boleh ada pemanfaatan eksploitatif yang mengakibatkan rusaknya ekosistem di sekitar tempat tersebut. sedangkan untuk pemerintah selaku pengelola harus menghadirkan manfaat bagi semua pihak. Masyarakat di Kota Agats yang menikmati aliran air diwajibkan membayar retribusi yang akan digulirkan untuk berbagai hal. Retribusi ini dapat dijadikan sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan sebagian lagi juga dinikmati oleh masyarakat Kampung Yepem dalam bentuk subsidi di berbagai bidang, misalnya pendidikan, kesehatan, bahkan dalam hal pelestarian adat-budaya dan lingkungan. Dengan begitu semua merasakan manfaat dari anugerah bernama sumber air rawa Kali Yomoth ini.


Bukankah hal yang paling penting dari anugerah sumber daya alam adalah manfaat yang sebesar-besarnya dan kelestarian selama-lamanya. Kejernihan manfaat boleh dirasakan generasi hari ini, tapi tentu keruh kerusakan tidak boleh dirasakan generasi yang akan datang. Untuk sekedar mengingatkan, perkataan seorang bijak ini mungkin boleh kita kutip kembali, “yang harus kita wariskan kepada generasi penerus adalah mata air, bukanlah air mata.”

Minggu, 26 Februari 2017

Sehari di Dusun Sagu

Mama Agustina Baspit berdiri di atas pohon sagu yang baru saja ditumbangkannya. 
Melihat aktifitas memangkur sagu di hutan adalah menyaksikan tradisi yang semakin tersisih. Monopoli beras sebagai komoditi utama program ketahanan pangan membuat makanan pokok orang timur ini kian dilupakan.  Di Asmat, Papua, potensi besar ini nyaris tidak dilirik sama sekali. Ia hanya dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat yang masih menjalankan ajaran leluhur.

Rabu pagi, 22 Februari, saya bersama dua orang teman, Regis dan Wawan, sudah berada di dermaga Kampung Kaye. Hari itu kami punya janji dengan Bapak Yanuarius Ombercem untuk berkunjung ke dusun (lahan hutan) sagu milik keluarganya.

Su siap ka?” Sapa pria yang akrab dipanggil Yance tersebut.

“Iya to,” jawab Regis.

Pak Yance kemudian bergegas memanggil semua anggota keluarganya yang akan ikut serta. Sekitar pukul delapan pagi kami semua sudah siap berangkat. Rombongan berjumlah total 16 orang masuk satu per satu ke dalam perahu viber bermesin. Perahu kami sarat penumpang betul waktu itu. Perjalanan ke dusun sagu Pak Yance akan melewati dua kali milik masyarakat Kampung Syuru-Aswet-Kaye, yaitu, Kali Fambret dan Kali Ba.

Tujuan kami ke dusun sagu hari itu adalah untuk memangkur sagu yang akan dijadikan seserahan perkawinan. Seorang keponakan Pak Yance, Daniel Eraman, baru saja mempersunting seorang perempuan yang juga bersuku Asmat. Dalam adat Suku Asmat, seorang laki-laki yang baru menikah harus memberikan persembahan kepada keluarga istrinya. Persembahan tersebut haruslah sesuatu yang berharga, yaitu kapak batu dan sagu. kedua benda tersebut tidak hanya berharga namun juga mempunyai arti simbolik dalam adat Asmat. Kapak batu adalah perkakas utama Orang Asmat dalam bekerja. Sedangkan sagu merupakan makanan utama yang dipercaya memberi kehidupan. Keduanya penting sebagai bekal dalam mengarungi rumah tangga.

Dalam perjalanan kali ini pula, saya kembali menyaksikan ketangguhan perempuan atau mama-mama Asmat dalam bekerja. Dari 16 orang yang turut serta hari itu, ada sembilan orang mama-mama yang membawa semua peralatan mereka sendiri, mulai dari alat pangkur, gagar, parang, serta beberapa peranti kecil untuk menyaring sari-sari sagu. Kesemua peralatan tersebut dijinjing di dalam sebuah tas noken berbahan karung plastik.

Mama Natalia Desnam dan Mama Agustina Baspit yang duduk di dekat kami bertiga di dalam perahu menjelaskan fungsi masing-masing peralatan yang mereka bawa tersebut. “Alat pangkur ini disebut kam (dalam bahasa Asmat), dipakai untuk menghancurkan sagu. Kalau ini om (gagar, semacam tombak yang terbuat dari kayu pohon pinang) dipakai untuk memeriksa pohon sagu itu ada isi atau tidak. Ujungnya ini tidak boleh basah sampai dipakai nanti di dusun sagu. itu pamali,” jelas Mama Natalia sambil menunjukkan satu per satu peralatannya.

Mama Natalia menjelaskan fungsi masing-masing peralatan memangkur sagu yang dibawanya.
Sekitar dua puluh menit menyusuri kali, kami tiba di tujuan. Perahu kami ditambatkan di tepi kali dengan diikat di sebuah pohon bakau. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju dusun sagu. Trek menuju dusun sagu keluarga Pak Yance cukup sulit, harus melalui belukar dan lahan rawa yang basah. Jalan setapak yang telah lebih dulu dibuat sama sekali tidak mulus. Masih banyak duri dari pohon sagu yang sudah tumbang. Kami yang memakai sepatu karet masih kesulitan melalui medan ini. Kaki saya bahkan beberapa kali terbenam di lumpur karena salah berpijak. Tapi, saat melihat mama-mama Asmat, hampir tidak terlihat sama sekali kesulitan bagi mereka melalui jalanan tersebut. Padahal mereka berjalan tanpa menggunakan alas kaki sambil membawa noken berisi peralatan sangkur. Kaki telanjang mereka seperti mengolok-ngolok kaki bersepatu karet kami yang berlangkah berat sekali.

Memasuki dusun sagu, kami diajak singgah terlebih dahulu di titik tempat sakral. Daniel memberi kami bibit buah manis yang baru saja ia cabut. Semua orang yang memasuki dusun sagu tersebut harus meminta izin dengan cara meletakkan bibit buah manis di titik tempat sakral tersebut.

“Dusun ini dusun keramat. Jadi kalau mau masuk kita harus permisi,” Kata Pak Yance.

“Ini tempat moyang. Jadi harus taruh anakan buah manis di sini. Itu tandanya kita permisi sama dorang,” Mama Natalia menimpali.

Ada banyak tempat, terutama lahan hutan, yang dijadikan tempat keramat oleh Orang Asmat. tempat-tempat tersebut dipercaya sebagai lokasi yang dulunya ditempati oleh para leluhur mereka. Dalam kepercayaan Orang Asmat, lokasi keramat tidak boleh dimasuki tanpa izin pemiliknya. apalagi sampai dirusak. Melanggar aturan tersebut adalah sebuah teser, pelanggaran adat kategori berat. Hukumannya adalah kematian.

Tidak terlalu jauh dari tempat keramat, kami sudah sampai di dusun sagu yang menjadi tujuan hari itu. Sejauh mata memandang, pohon sagu mendominasi hutan tersebut. Mama Natalia, Mama Agustina, dan mama-mama yang lain mulai membagi diri menjadi tiga kelompok. Sedangkan Pak Yance bersama tiga mama-mama lainnya melanjutkan perjalanan menuju hutan yang lebih dalam. Kami tidak diizinkan ikut. Entah karena medan dianggap terlalu berat buat kami atau hutan tersebut memang terlarang untuk orang luar. “Kalian di sini saja bersama mama-mama dorang,” Kata Pak Yance sambil tersenyum kepada kami.

Mama-mama yang telah terbagi dalam tiga kelompok tadi kemudian mulai memilih pohon sagu yang dianggap sudah dapat menghasilkan tepung. Sebelum benar-benar ditebang, pohon pilihan mereka diperiksa terlebih dahulu untuk memastikan isinya. Caranya dengan menancapkan kapak dalam-dalam ke batang pohon sagu. setelah dicabut, mereka mengoles jari ke mata kapak. “Nah, pohon yang ini sudah ada isi (sagu). Ini sudah ada bekas (sari pati) sagu di kapak ni,” Mama Natalia menunjukkan kapaknya kepada kami.

Menebang pohon sagu
Setelah dipastikan berisi barulah pohon sagu benar-benar ditebang. Sekuat tenaga mama-mama Asmat mulai menancapkan kapak mereka di pohon yang bagian luarnya sangat keras tersebut. Pohon yang ditebang Mama Agustina tumbang duluan. Beberapa menit kemudian pohon sagu Mama Natalia dan mama di sebelahnya menyusul. Oleh Daniel, kami disuruh menjauh dari lokasi rebahnya pohon-pohon tersebut. Dari pola tebasan kapak, arah jatuhnya pohon sagu yang ditebang sudah bisa diperkiran.

Pohon sagu yang telah tumbang tidak lantas mempermudah pekerjaan. Proses produksi, menurut Mama Natalia, masih sangat panjang sampai dihasilkan tepung sagu. “Kalau cari sagu ini kerja banyak sekali. Kalau potong kayu bakar, kita potong, kita belah, itu gampang. Kalau namanya sagu ini, setengah mati. Untuk satu batang ini biasa kita kerja dari pagi sampai sore,” kata mama yang juga bekerja sebagai petani sayuran ini.

Gelondongan pohon sagu kemudian diidentifkasi isinya dengan menggunakan gagar. Hal ini dilakukan untuk mengetahui keberadaan tepung sagu terdapat di areal mana saja. Caranya mirip seperti saat pohon sagu akan ditebang: gagar ditancapkan dalam-dalam di batang pohon. Jika sari sagu nampak di mata gagar, daerah itulah yang nantinya akan dipangkur. Sebaliknya, jika sari sagu tidak terlihat, maka areal tersebut tidak akan digarap. Tentu hanya akan menghabiskan tenaga saja.

Areal di pohon sagu yang sudah diketahui mengandung tepung sagu kemudian dikuliti. Kulit pohon sagu yang sangat keras harus dibuka di salah satu sisi terlebih dahulu sebelum dipangkur. Mama Agustina langsung mengerjakan tahap ini. Sementara Mama Natalia yang lebih berumur terlihat duduk menarik napas sejenak. Bukan tanpa alasan, dua tahap dalam memproduksi sagu berikutnya, menguliti dan memangkur, adalah bagian paling berat dan memakan banyak waktu.

Mama Natalia terlihat mulai mengasah mata alat pangkurnya. Untuk mempermudah penggunaannya, piranti yang terbuat dari kayu tersebut disematkan besi pada bagian ujungnya. Besi yang melingkar dan tajam akan menghancurkan sagu lebih cepat dan halus. Setelah mata pangkur dirasa sudah cukup tajam, mama-mama mulai beraksi. Isi pohon sagu mulai dilepaskan dari batangnya kemudian dihancurkan. Untuk memangkur satu pohon sagu dibutuhkan waktu kurang lebih tiga sampai empat jam. Sungguh tahapan yang lama dan melelahkan.

Memangkur, melepaskan sari sagu dari batangnya (foto oleh Wawan)
Regis yang mencoba ikut memangkur merasakan langsung sensasi beratnya pekerjaan ini. Sari-sari sagu ternayata cukup keras untuk dilepaskan. Mama Natalia hanya tertawa melihanya. “Kalau keras itu bagus. Itu berarti tepungnya banyak.” Pantas saja mama-mama yang memangkur sagu tetap bersemangat bekerja. Ternyata semakin keras sari sagu, semakin banyak pula tepung yang akan dihasilkan.

Tepung sagu yang mulai mengendap. (Foto oleh: Regis)
Tepung sagu di dalam noken karung siap dibawa pulang. (Foto oleh: Regis)
Sementara proses memangkur sagu berlangsung, mama-mama yang lain membuat sumur kecil dan mempersiapkan peranti penyaring. air di dalam sumur tersebut kemudian didiamkan sesaat sampai menjernih. Sari sagu yang sudah hancur diletakkan di atas penyaring yang sudah dirancang sederhana dari pelepah pohon sagu. Sari sagu tersebut kemudian disiram kemudian diremas sampai menghsilkan cairan berwarna putih. Air perasan tadi mengalir menuju tempat penampungan dan dibiarkan mengendap. Tidak lama kemudian gumpalan tepung sagu mulai nampak. Voila.

Proses yang memakan waktu seharian ini tentu setimpal dengan yang dihasilkan. Satu pohon sagu dapat menghasilkan dua sampai tiga noken tepung sagu. Menurut Mama Natalia, jika dikonsumsi sendiri di dalam keluarga, hasil tersebut dapat bertahan sampai satu bulan lebih.

Sekitar pukul lima sore, terdengar suara dari arah rombongan Pak Yance. Itu tandanya aktifitas memangkur sagu hari itu harus disudahi, walaupun masih ada sari sagu yang belum disaring. Pekerjaan baru boleh dilanjutkan esok hari.

Melihat langsung proses memangkur sagu di hutan Orang Asmat adalah pengalaman yang sungguh luar biasa. Saya merasa beruntung sekali diajak untuk menyaksikan pekerjaan yang mulai ditinggalkan ini. Bisa saja tradisi turun-temurun ini akan semakin sulit ditemui pada tahun-tahun yang akan datang.


Semoga tidak demikian.