Minggu, 26 Februari 2017

Sehari di Dusun Sagu

Mama Agustina Baspit berdiri di atas pohon sagu yang baru saja ditumbangkannya. 
Melihat aktifitas memangkur sagu di hutan adalah menyaksikan tradisi yang semakin tersisih. Monopoli beras sebagai komoditi utama program ketahanan pangan membuat makanan pokok orang timur ini kian dilupakan.  Di Asmat, Papua, potensi besar ini nyaris tidak dilirik sama sekali. Ia hanya dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat yang masih menjalankan ajaran leluhur.

Rabu pagi, 22 Februari, saya bersama dua orang teman, Regis dan Wawan, sudah berada di dermaga Kampung Kaye. Hari itu kami punya janji dengan Bapak Yanuarius Ombercem untuk berkunjung ke dusun (lahan hutan) sagu milik keluarganya.

Su siap ka?” Sapa pria yang akrab dipanggil Yance tersebut.

“Iya to,” jawab Regis.

Pak Yance kemudian bergegas memanggil semua anggota keluarganya yang akan ikut serta. Sekitar pukul delapan pagi kami semua sudah siap berangkat. Rombongan berjumlah total 16 orang masuk satu per satu ke dalam perahu viber bermesin. Perahu kami sarat penumpang betul waktu itu. Perjalanan ke dusun sagu Pak Yance akan melewati dua kali milik masyarakat Kampung Syuru-Aswet-Kaye, yaitu, Kali Fambret dan Kali Ba.

Tujuan kami ke dusun sagu hari itu adalah untuk memangkur sagu yang akan dijadikan seserahan perkawinan. Seorang keponakan Pak Yance, Daniel Eraman, baru saja mempersunting seorang perempuan yang juga bersuku Asmat. Dalam adat Suku Asmat, seorang laki-laki yang baru menikah harus memberikan persembahan kepada keluarga istrinya. Persembahan tersebut haruslah sesuatu yang berharga, yaitu kapak batu dan sagu. kedua benda tersebut tidak hanya berharga namun juga mempunyai arti simbolik dalam adat Asmat. Kapak batu adalah perkakas utama Orang Asmat dalam bekerja. Sedangkan sagu merupakan makanan utama yang dipercaya memberi kehidupan. Keduanya penting sebagai bekal dalam mengarungi rumah tangga.

Dalam perjalanan kali ini pula, saya kembali menyaksikan ketangguhan perempuan atau mama-mama Asmat dalam bekerja. Dari 16 orang yang turut serta hari itu, ada sembilan orang mama-mama yang membawa semua peralatan mereka sendiri, mulai dari alat pangkur, gagar, parang, serta beberapa peranti kecil untuk menyaring sari-sari sagu. Kesemua peralatan tersebut dijinjing di dalam sebuah tas noken berbahan karung plastik.

Mama Natalia Desnam dan Mama Agustina Baspit yang duduk di dekat kami bertiga di dalam perahu menjelaskan fungsi masing-masing peralatan yang mereka bawa tersebut. “Alat pangkur ini disebut om (dalam bahasa Asmat), dipakai untuk menghancurkan sagu. Kalau ini kam (gagar, semacam tombak yang terbuat dari kayu pohon pinang) dipakai untuk memeriksa pohon sagu itu ada isi atau tidak. Ujungnya ini tidak boleh basah sampai dipakai nanti di dusun sagu. itu pamali,” jelas Mama Natalia sambil menunjukkan satu per satu peralatannya.

Mama Natalia menjelaskan fungsi masing-masing peralatan memangkur sagu yang dibawanya.
Sekitar dua puluh menit menyusuri kali, kami tiba di tujuan. Perahu kami ditambatkan di tepi kali dengan diikat di sebuah pohon bakau. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju dusun sagu. Trek menuju dusun sagu keluarga Pak Yance cukup sulit, harus melalui belukar dan lahan rawa yang basah. Jalan setapak yang telah lebih dulu dibuat sama sekali tidak mulus. Masih banyak duri dari pohon sagu yang sudah tumbang. Kami yang memakai sepatu karet masih kesulitan melalui medan ini. Kaki saya bahkan beberapa kali terbenam di lumpur karena salah berpijak. Tapi, saat melihat mama-mama Asmat, hampir tidak terlihat sama sekali kesulitan bagi mereka melalui jalanan tersebut. Padahal mereka berjalan tanpa menggunakan alas kaki sambil membawa noken berisi peralatan sangkur. Kaki telanjang mereka seperti mengolok-ngolok kaki bersepatu karet kami yang berlangkah berat sekali.

Memasuki dusun sagu, kami diajak singgah terlebih dahulu di titik tempat sakral. Daniel memberi kami bibit buah manis yang baru saja ia cabut. Semua orang yang memasuki dusun sagu tersebut harus meminta izin dengan cara meletakkan bibit buah manis di titik tempat sakral tersebut.

“Dusun ini dusun keramat. Jadi kalau mau masuk kita harus permisi,” Kata Pak Yance.

“Ini tempat moyang. Jadi harus taruh anakan buah manis di sini. Itu tandanya kita permisi sama dorang,” Mama Natalia menimpali.

Ada banyak tempat, terutama lahan hutan, yang dijadikan tempat keramat oleh Orang Asmat. tempat-tempat tersebut dipercaya sebagai lokasi yang dulunya ditempati oleh para leluhur mereka. Dalam kepercayaan Orang Asmat, lokasi keramat tidak boleh dimasuki tanpa izin pemiliknya. apalagi sampai dirusak. Melanggar aturan tersebut adalah sebuah teser, pelanggaran adat kategori berat. Hukumannya adalah kematian.

Tidak terlalu jauh dari tempat keramat, kami sudah sampai di dusun sagu yang menjadi tujuan hari itu. Sejauh mata memandang, pohon sagu mendominasi hutan tersebut. Mama Natalia, Mama Agustina, dan mama-mama yang lain mulai membagi diri menjadi tiga kelompok. Sedangkan Pak Yance bersama tiga mama-mama lainnya melanjutkan perjalanan menuju hutan yang lebih dalam. Kami tidak diizinkan ikut. Entah karena medan dianggap terlalu berat buat kami atau hutan tersebut memang terlarang untuk orang luar. “Kalian di sini saja bersama mama-mama dorang,” Kata Pak Yance sambil tersenyum kepada kami.

Mama-mama yang telah terbagi dalam tiga kelompok tadi kemudian mulai memilih pohon sagu yang dianggap sudah dapat menghasilkan tepung. Sebelum benar-benar ditebang, pohon pilihan mereka diperiksa terlebih dahulu untuk memastikan isinya. Caranya dengan menancapkan kapak dalam-dalam ke batang pohon sagu. setelah dicabut, mereka mengoles jari ke mata kapak. “Nah, pohon yang ini sudah ada isi (sagu). Ini sudah ada bekas (sari pati) sagu di kapak ni,” Mama Natalia menunjukkan kapaknya kepada kami.

Menebang pohon sagu
Setelah dipastikan berisi barulah pohon sagu benar-benar ditebang. Sekuat tenaga mama-mama Asmat mulai menancapkan kapak mereka di pohon yang bagian luarnya sangat keras tersebut. Pohon yang ditebang Mama Agustina tumbang duluan. Beberapa menit kemudian pohon sagu Mama Natalia dan mama di sebelahnya menyusul. Oleh Daniel, kami disuruh menjauh dari lokasi rebahnya pohon-pohon tersebut. Dari pola tebasan kapak, arah jatuhnya pohon sagu yang ditebang sudah bisa diperkiran.

Pohon sagu yang telah tumbang tidak lantas mempermudah pekerjaan. Proses produksi, menurut Mama Natalia, masih sangat panjang sampai dihasilkan tepung sagu. “Kalau cari sagu ini kerja banyak sekali. Kalau potong kayu bakar, kita potong, kita belah, itu gampang. Kalau namanya sagu ini, setengah mati. Untuk satu batang ini biasa kita kerja dari pagi sampai sore,” kata mama yang juga bekerja sebagai petani sayuran ini.

Gelondongan pohon sagu kemudian diidentifkasi isinya dengan menggunakan gagar. Hal ini dilakukan untuk mengetahui keberadaan tepung sagu terdapat di areal mana saja. Caranya mirip seperti saat pohon sagu akan ditebang: gagar ditancapkan dalam-dalam di batang pohon. Jika sari sagu nampak di mata gagar, daerah itulah yang nantinya akan dipangkur. Sebaliknya, jika sari sagu tidak terlihat, maka areal tersebut tidak akan digarap. Tentu hanya akan menghabiskan tenaga saja.

Areal di pohon sagu yang sudah diketahui mengandung tepung sagu kemudian dikuliti. Kulit pohon sagu yang sangat keras harus dibuka di salah satu sisi terlebih dahulu sebelum dipangkur. Mama Agustina langsung mengerjakan tahap ini. Sementara Mama Natalia yang lebih berumur terlihat duduk menarik napas sejenak. Bukan tanpa alasan, dua tahap dalam memproduksi sagu berikutnya, menguliti dan memangkur, adalah bagian paling berat dan memakan banyak waktu.

Mama Natalia terlihat mulai mengasah mata alat pangkurnya. Untuk mempermudah penggunaannya, piranti yang terbuat dari kayu tersebut disematkan besi pada bagian ujungnya. Besi yang melingkar dan tajam akan menghancurkan sagu lebih cepat dan halus. Setelah mata pangkur dirasa sudah cukup tajam, mama-mama mulai beraksi. Isi pohon sagu mulai dilepaskan dari batangnya kemudian dihancurkan. Untuk memangkur satu pohon sagu dibutuhkan waktu kurang lebih tiga sampai empat jam. Sungguh tahapan yang lama dan melelahkan.

Memangkur, melepaskan sari sagu dari batangnya (foto oleh Wawan)
Regis yang mencoba ikut memangkur merasakan langsung sensasi beratnya pekerjaan ini. Sari-sari sagu ternayata cukup keras untuk dilepaskan. Mama Natalia hanya tertawa melihanya. “Kalau keras itu bagus. Itu berarti tepungnya banyak.” Pantas saja mama-mama yang memangkur sagu tetap bersemangat bekerja. Ternyata semakin keras sari sagu, semakin banyak pula tepung yang akan dihasilkan.

Tepung sagu yang mulai mengendap. (Foto oleh: Regis)
Tepung sagu di dalam noken karung siap dibawa pulang. (Foto oleh: Regis)
Sementara proses memangkur sagu berlangsung, mama-mama yang lain membuat sumur kecil dan mempersiapkan peranti penyaring. air di dalam sumur tersebut kemudian didiamkan sesaat sampai menjernih. Sari sagu yang sudah hancur diletakkan di atas penyaring yang sudah dirancang sederhana dari pelepah pohon sagu. Sari sagu tersebut kemudian disiram kemudian diremas sampai menghsilkan cairan berwarna putih. Air perasan tadi mengalir menuju tempat penampungan dan dibiarkan mengendap. Tidak lama kemudian gumpalan tepung sagu mulai nampak. Voila.

Proses yang memakan waktu seharian ini tentu setimpal dengan yang dihasilkan. Satu pohon sagu dapat menghasilkan dua sampai tiga noken tepung sagu. Menurut Mama Natalia, jika dikonsumsi sendiri di dalam keluarga, hasil tersebut dapat bertahan sampai satu bulan lebih.

Sekitar pukul lima sore, terdengar suara dari arah rombongan Pak Yance. Itu tandanya aktifitas memangkur sagu hari itu harus disudahi, walaupun masih ada sari sagu yang belum disaring. Pekerjaan baru boleh dilanjutkan esok hari.

Melihat langsung proses memangkur sagu di hutan Orang Asmat adalah pengalaman yang sungguh luar biasa. Saya merasa beruntung sekali diajak untuk menyaksikan pekerjaan yang mulai ditinggalkan ini. Bisa saja tradisi turun-temurun ini akan semakin sulit ditemui pada tahun-tahun yang akan datang.


Semoga tidak demikian.

Kamis, 23 Februari 2017

Buku Inovasi Daerahku


Buku ini berisi cerita inovasi dari berbagai daerah di Indonesia, salah satunya dari Kampung Atsj, Kabupaten Asmat, yang saya tulis. Silakan menghubungi bitread_id untuk mendapatkannya. Jika ingin membaca tulisan saya di buku ini klik di "Berjalan Dalam Keseimbangan di Kampung Atsj."

Jumat, 17 Februari 2017

Pangan Hutan dan Resep Hidup Sehat Orang Asmat

Seorang perempuan Asmat sedang mencari bahan makanan di dalam hutan di sekitar kampungnya. Ketergantungan Orang Asmat terhadap pangan hutan masih cukup tinggi hingga saat ini. (Foto oleh: Regista)

Nene Yohana Bandep menyambut dengan senyum saat kami berkunjung ke rumahnya di Kampung Suwruw, Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Papua. Dengan ramah, perempuan berusia 107 tahun ini menyalami kami satu-persatu. Walau semua giginya telah tanggal dimakan umur, Ia masih mampu bercerita panjang lebar soal kehidupan leluhur di masa lampau. Tujuan kami mengunjungi rumahnya adalah untuk mendokumentasikan kearifan adat Suku Asmat, terutama dalam hal pengelolaan hutan. Adat istiadat Asmat yang dilestarikan lewat tradisi lisan sangat bergantung pada ingatan orang-orang tua seperti Nene Yohana ini.

Saat Nene Yohana mulai bercerita, kami mendapati fakta atas hubungan antara Orang Asmat yang daya tahan tubuhnya cenderung kuat dengan cara mereka memanfaatkan pangan dari hutan. Sebelum agama dan pemerintah masuk ke tanah Asmat, daerah ini adalah arena pengayauan. Orang-orang saling membunuh lantas membawa pulang kepala lawan ke dalam kampung. Cara ini dilakukan untuk menunjukkan kekuatan kepada lawan dan membuktikan kepemimpinan di dalam klan sendiri. Tradisi primitif ini berlangsung di antara kampung-kampung, baik yang berada di dalam maupun luar wilayah Asmat.

Untuk melaksankan tradisi mengayau, seorang Kepala Perang dan para prajuritnya haruslah memiliki tenaga yang kuat. Guna mendapatkan fisik yang prima tersebut Orang Asmat memanfaatkan makanan dari hutan yang tumbuh sehat di kampung-kampung mereka. Tidak asal makan, mereka memilih betul makanan yang mampu memenuhi nutrisi bagi barisan Penjaga Kampung tersebut. “Orang-orang dulu tidak makan sembarangan. Kami hanya makan makanan pilihan dari hutan, seperti sagu, babi hutan, kasuari. Kalau makan itu badan jadi kuat, tidak gampang sakit,” Kata Nene Yohana dalam Bahasa Asmat. sementara itu, ada pula makanan yang pantang dimakan oleh mereka yang bertugas di medan perang. Beberapa makanan yang dianggap karu (pamali) tersebut diantaranya, Ikan Sembilang, Pisang Doaka (Pisang Gepok), Ubi Hutan, dan Karaka Merah. “Kalau makan makanan itu badan bisa jadi lemas.”

Cara pengolahan makanan yang masih sangat sederhana juga menjadi faktor terjaganya nutrisi pada pangan Orang Asmat. selain dimakan langsung, kehidupan tradisional Orang Asmat hanya mengenal dua jenis cara pengolahanan makanan, yaitu, rebus dan bakar. Tentu saat itu mereka belum mengenal bumbu-bumbu masakan yang sarat akan bahan pengawet kimia. Namun saat ini cara pengelohanan makanan sederhana tersebut masih banyak ditemui pada rumah tangga yang hidup di kampung-kampung.

Seiring masuknya para misionaris agama dan pemerintah, masa gelap di Asmat mulai berubah. Perang antar kampung dan praktik mengayau perlahan mulai ditinggalkan. Peradaban luar menyentuh, termasuk pada pola konsumsi akibat masuknya bahan makanan yang dibawa oleh pendatang. Namun ketergantungan Orang Asmat akan pangan hutan masih tetap bertahan. Walau, diakui oleh Orang Asmat sendiri, jumlah mereka yang masih bertahan dengan mencari makanan di alam sudah semakin berkurang. Kemampuan untuk mencari makan di dusun (lokasi hutan yang ditumbuhi sagu) dan sungai-sungai dirasa semakin terbatas hanya pada orang-orang tua saja. Sedangkan kaum muda yang lahir setelah masa terang datang semakin sedikit yang mewarisi kemampuan tersebut.

Berubahnya pola konsumsi pangan ini berdampak pada menurunnya kualitas kesehatan Orang Asmat. Menurut Simon Bakpe, tokoh masyarakat Kampung Suwruw, jika dibandingkan dengan zaman dulu, kini Orang Asmat di kampunnya lebih mudah sakit. Penyakit yang menyerang mereka pun semakin beragam. “Dulu penyakit itu cuma sedikit, tidak banyak macam. Kita cuma kenal sakit panas, sakit kepala, sakit perut, sama bisul. Kalau sakit, kita biasa cari obat di hutan. Di sana banyak tanaman yang bisa dipakai jadi obat,” ungkap pria paruh baya tersebut.

Sebuah keluarga sedang menjaring udang di wilayah pesisir Asmat. Hutan yang masih terjaga menyediakan bahan makanan melimpah bagi rumah tangga yang hidup di sekitar hutan Asmat. (Foto oleh: Regista)
Korelasi antara pangan hutan dan tingkat daya tahan tubuh Orang Asmat ini mungkin kurang masuk akal bagi kita. Namun penelitian ilmiah yang yang baru-baru ini dilakukan oleh CIFOR tentu dapat membantu kita dalam memahami ini. Penelitian yang dipimpin oleh ilmuan doktoral Dominic Rowland tersebut menghasilkan fakta bahwa hutan berperan penting bagi diet keluarga dan masyarakat yang tinggal di dekat hutan tropis. Fakta tersebut dihasilkan CIFOR setelah mendata konsumsi pangan masyarakat yang hidup di sekitar hutan di 37 lokasi di 24 negara tropis. Tidak main-main, riset tersebut diklaim sebagai yang pertama menggunakan metode survei terstandarisasi yang menerapkan kriteria seragam untuk mendapatkan perspektif komparatif global.

“Hutan menghasilkan seluruh jenis makanan, mulai dari siput darat hingga buah liar dan primata. Kami berfokus pada kelompok pangan bernutrisi penting yang sering kurang dalam rata-rata kandungan diet di negara-negara tersebut. Dalam kelompok pangan ini, daging, ikan, buah-buahan, dan sayuran sangat bergantung pada hutan.” Ungkap Rowland.

Hasil penelitian CIFOR ini identik dengan apa yang diungkapkan oleh Nene Yohana Bandep dan Bapak Simon Bakpe di atas. Sejarah panjang pemanfaatan pangan hutan oleh Orang Asmat membawa mereka pada generasi yang berkecukupan nutrisi dan berumur panjang. Perubahan yang kurang arif kemudian menggeser tatanan ini. Orang-orang seperti lupa untuk menghargai jasa hutan dalam menyediakan kehidupan. Demi memenuhi kebutuhan yang dirasa serba mendesak, hutan dieksploitasi tanpa memperhatikan keseimbangannya. Hutan dianggap benda mati yang tidak memberi dampak apa-apa saat diganggu.

Soal menghargai jasa hutan ini, kenangan Bernat Bicimpari (45 tahun), salah satu Wair, Tetua Adat di Jew Dendew Kampung Suwruw, mungkin dapat menjadi ilustrasi bagi kita. Menurut Bernat, saat ayahnya meninggal, Ia hanya meninggalkan satu wasiat: “Jaga hutan kita.” “Waktu bapak mati dia tidak meninggalkan warisan apa-apa untuk kami. Dia cuma berpesan kepada kami untuk menjaga hutan. katanya, hutan ini sudah berjasa besar. Hutan sudah membesarkan kita. Dusun menyediakan makanan untuk kita.”

Minggu, 12 Februari 2017

Cita-Cita


Katanya cita-cita adalah zat yang membuat kita ingin terus hidup.

Kalau begitu, bagaimana jika kugambarkan cita-cita itu seperti ini? Kita tinggal di sebuah rumah sederhana yang berdiri di sebuah kampung permai tak jauh dari tepi sungai. Saat pagi menjelang, udara segar teman kita. Suara burung-burung dan daun yang digoyang angin setia bernada untuk kita. Mungkin sesekali hujan badai akan menerjang. Saat itu kita masih boleh bahagia. Api di tungku, teh panas dan percakapan tidak penting masih bisa menghangatkan.

Sesekali kita akan ke kota. Membeli buku atau berkunjung ke toko musik langganan. Lalu menderu di antara debu jalan dan angkutan kota. Kita singgah di fasilitas yang serba dibayar. Sebelum akhirnya pulang dengan langkah pelan.

Saat tua kita tenang. Suara adzan mengajak ke surau tiap petang. Habis itu makan malam. Bahannya tentu dari kebun sendiri. Menggarapnya selalu menjadi salah satu aktifitas kesukaan. Saban minggu kita mengunjunginya. Rutin tapi tidak pernah membosankan.

Di seberang sungai ada tanah harapan. Tidak luas tapi cukup untuk bersama. Jika mati nanti kita dimakamkan di sana. Sesekali tataplah tanah itu sembari bertanya: siapa kelak yang duluan berakhir? Kita sepakat menjawabnya; kalau boleh jangan terlalu berbeda waktu. Kita tak ingin menunggu terlalu lama untuk bertemu di kehidupan selanjutnya.

Selasa, 25 Oktober 2016

Terluka Berguna

yang terlihat terluka
yang masih berguna
serupa waktu sia-sia
tapi tetap menghitung mundur usiamu
atau karet gelang mengikat sayuran layu
atau kaos kaki busuk yang meminta dicuci
bertahanlah!
setidaknya kau masih bisa murung
dan tentu saja menunggu

Agats, 21 Oktober 2016

Rabu, 19 Oktober 2016

Perayaan Pesona Budaya Asmat

Peserta Pawai Pesta Budaya Asmat 2016
Tidak mudah bagi Mama Mariana Kaisma dan rekan-rekannya untuk datang ke Agats. Dari tempat tinggalnya di Kampung Yefhu, Distrik Awyu, paling tidak Ia harus menghabiskan dua hari perjalanan dengan kapal viber untuk mencapai ibukota Kabupaten Asmat, Provinsi Papua Tersebut. Berangkat pagi dari Kampung Yefhu, sekitar pukul tiga sore mereka harus singgah bermalam di Kampung Atsj, sebelum melanjutkan perjalanan ke Agats keesokan paginya. Terlalu beresiko bagi kapal viber untuk menembus malam di laut dan kali-kali Asmat.

Resiko perjalanan dua hari ditambah ongkos kapal yang cukup mahal tidak menghalangi Mama Mariana untuk hadir di Pesta Budaya Asmat tahun 2016. Ia dan banyak masyarakat Kabupaten Asmat yang berasal dari berbagai kampung rela bersusah payah demi turut merasakan kemeriahan pesta tahunan ini. “Kami tetap harus datang ke sini (Pesta Budaya Asmat). Ini pesta kami juga. Kami juga masih bagian dari Kabupaten Asmat,” cerita Mama Mariana saat saya temui di lapak pasar seninya.

Setelah tertunda pada tahun 2015, Pesta Budaya Asmat edisi ke-31 sukses digelar pada tahun 2016 ini.  Berpusat di Lapangan Yos Sudarso Kota Agats, pesta ini dihelat selama seminggu penuh, mulai Kamis, 6 Oktober hingga Rabu, 12 Oktober. Keuskupan Agats dan Pemerintah Daerah Kabupaten Asmat selaku penyelanggara, merancang kegiatan ini dengan berbagai penampilan, mulai dari atraksi budaya, ritual adat dan keagamaan, perlombaan, hingga pasar seni bagi para pengunjung. Bagian yang paling mendapat perhatian adalah pameran ukiran dan anyaman dari para finalis yang telah lolos seleksi ketat oleh para kurator Museum Asmat.

Hari pertama Pesta Budaya Asmat 2016 digunakan oleh panitia untuk meregistrasi karya-karya para finalis. Tahun ini ada sebanyak 207 ukiran dan 60 produk anyaman yang lolos proses kurasi dan akan dipamerkan kemudian dilelang pada tiga hari terakhir pesta. Setelah proses registasi, karya kemudian dipajang di panggung utama. Para pengunjung yang berasal dari berbagai daerah hingga manca negara mulai dapat mengakses karya-karya terbaik tersebut. Untuk memudahkan para pengunjung, panitia menyediakan buku panduan yang memuat semua informasi tentang Pesta Budaya Asmat 2016, termasuk cerita di balik karya yang dipamerkan.

Panggung utama
Acara pembukaan baru dilakukan pada Jumat, 7 Oktober 2016. Dalam sambutannya, Bupati Kabupaten Asmat, Eliza Kambu, mengajak semua masyarakat untuk melestarikan dan menghargai warisan budaya Asmat.  menurutnya, salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah adalah mengembangkan pemasaran agar kerja-kerja kesenian ini tetap diminati. “Para pengukir dan mama-mama pembuat noken (anyaman) harus sejahtera, supaya mereka tetap semangat melestarikan budaya ini. Pemasaran produk seni Asmat perlu untuk kita kembangkan. Itu makanya tahun ini saya mengundang beberapa pengusaha, termasuk anggota DPR RI dan Provinsi agar mereka mendengar langsung aspirasi kita. Bandara baru harus sudah selesai dalam waktu dekat. Biar orang-orang (pembeli) gampang datang ke Asmat sini,” Jelas Bupati Asmat.

Pesta Budaya Asmat 2016 kemudian dibuka secara resmi oleh Uskup Keuskupan Agats, Aloysius Murwito. Kemeriahan pun dimulai. Pawai keliling Kota Agats oleh para peserta dan pengunjung menjadi sajian pembuka keramaian. Setelah iringan pawai kembali berkumpul di Lapangan Yos Sudarso, acara dilanjutkan dengan pesta goyang. Disinilah puncak kemeriahan Pesta Budaya Asmat. Semua yang berkumpul di lapangan larut dalam keriaan. Mama-mama dengan kostum dan aksesoris adat terus bergoyang indah seperti tanpa lelah. Pukulan tifa dari para lelaki Asmat menjadi penguasa irama. Mereka mengatur tempo dan jeda agar pesta goyang terus berlangsung dalam suasana gembira namun tetap sakral.

Pria Asmat dengan Hiasan kepala kulit kus kus dan ukiran tombaknya
Asmat cepes dengan kalung manik-manik biji buah hutan dan taring anjing
Fatcin (hiasan kepala) kulit kus kus dan bulu kasuari
Wowpits, ke pesta budaya gaya harus maksimal
Manuver perahu tradisional Asmat atau ci-mbi menjadi sajian paling menarik perhatian pada hari berikutnya. Sejak pagi para pengunjung telah memadati Pelabuhan Feri Kota Agats. Kali Aswet yang berada di depannya menjadi arena ci-mbi. Ada total tujuh belas perahu yang masing-masing dikendarai oleh lima orang pendayung. Mereka menunjukkan skil mendayung perahu melawan arus kali dan beradu cepat untuk sampai ke garis finish. Kostum adat dan seruan kepada leluhur yang didendangkan sepanjang perlombaan menambah eksotisme atraksi budaya ini.


Adu cepat Ci-mbi
Pertunjukan yang tidak kalah menarik pada hari ketiga adalah demonstrasi mengukir dari para wowpits (sebutan lokal bagi pengukir Asmat). Para peserta berkumpul di tengah lapangan, di bawah terik matahari siang, untuk mempertontonkan keahlian mengukir mereka. Yang istimewa adalah waktu yang diberikan untuk menyelesaikan sebuah ukiran sangatlah singkat. Di tangan para pengukir terbaik ini, kayu yang awalnya masih berbentuk batangan sudah mewujud patung manusia hanya dalam tempo tiga jam.

Lomba mengukir cepat
Demonstrasi mengukir
Bagi penyuka seni tari, setiap malam dipentaskan atraksi tarian Asmat yang dibawakan oleh grup budaya dari berbagai kampung. Tarian Asmat memadukan gerakan yang merupakan simbolisasi kisah-kisah leluhur dengan iringan tifa dan nyanyian adat. Hikayat perang antar suku ditampilkan oleh penari dari Kampung Waras, Distrik Fayit. Gerakan dan tempo yang meraka mainkan sangat dinamis. Cepat dan menegangkan di awal, kemudian berubah lambat dengan aura sedih menjelang akhir. Sebaliknya, pesan perdamaian disampaikan oleh para penari dari Kampung Yasiw, Distrik Atsj. Sepanjang gerakan tarian para pemukul tifa juga melantunkan kidung sendu. Terasa sakral namun tetap indah untuk dinikmati.

Hari kelima, Senin 10 Oktober, adalah hari yang paling ditunggu oleh para pengukir yang telah lolos seleksi. Ini waktunya pengumuman siapa yang berhak menyandang gelar sebagai wowpits terbaik pada enam kategori. Gelar ini selalu menjadi incaran. Selain memperebutkan hadiah sebesar dua puluh juta rupiah di masing-masing kategori, rasa bangga juga akan mengiringi karena karya terbaik akan terpajang abadi di Museum Asmat. setelah melalui penilaian selama tiga hari oleh tiga orang pakar, tiba saatnya panitia menyampaikan pengumuman.

Pada kategori patung kecil, Yakobus Kakewernam dari Kampung Youw, Distrik Betcbamu, berhasil mempertahankan statusnya sebagai yang terbaik pada Pesta Budaya Asmat edisi sebelumnya. Ia dengan sangat detail menampilkan ritual pesta ulang sagu lengkap dengan visualisasi para tetua adat dan jew, rumah adat Suku Asmat. Kategori patung sedang dimenangi oleh Sabinus Tambo dari Kampung Uwus, Distrik Agats dengan ukiran tetua adat yang yang memegang tifa. Sedangkan pemenang untuk kategori patung besar diraih oleh Benediktus Fokoyew dari Kampung Biwar Laut, Distrik Betcbamu. Ia menciptakan ukiran setinggi dua meter dengan desain tiga figur leluhur lengkap dengan hiasannya masing-masing.

Para pemenang dari tiga kategori spesial lainnya adalah Teodorus Kom dari Kampung Yow, Distrik Betcbamu untuk kategori patung cerita, Markus Mbes dari Kampung Er, Distrik Sawaerma, untuk kategori panel, dan Aloysius Ari Bainepe dari Kampung Kairin, Distrik Safan, untuk kategori ukiran tradisional. Jika tiga kategori awal adalah kategori yang mengandalkan inovasi dalam mengukir, maka tiga kategori berikutnya adalah penghargaan bagi para pengukir yang tetap setia dengan kekhasan dan cerita warisan leluhur. Keenam ukiran tersebut semakin istimewa karena merupakan enam koleksi pertama Museum Asmat yang baru. Pesta Budaya Asmat tahun ini juga menjadi penanda berpindahnya Museum Asmat ke gedung baru yang lebih besar dan modern.


Para pemenang
Para pengukir yang gagal menang juga mama-mama pembuat anyaman tidak lantas berkecil hati karena tidak memperoleh hadiah dari panitia. Selepas pengumuman pemenang, karya yang tidak masuk museum kemudian dilelang di hadapan para pengunjung. Dipandu langsung oleh Ketua Panitia, Erick Sarkol, sesi lelang ini berlangsung alot dan seru selama tiga hari. Ini waktunya ukiran-ukiran dan anyaman terbaik bertemu dengan para pembelinya yang kebanyakan adalah pengusaha dan pejabat. Harga terendah dalam sesi lelang ini adalah sebesar lima juta rupiah. Sedangkan untuk harga tertinggi tahun ini diberikan kepada ukiran karya Edoardus Jokpit dari Kampung Yepem, Distrik Agats. Patung yang bercerita tentang lima leluhur yang pergi berperang dengan mengendarai perahu tradisional tersebut laku terjual sebesar tiga puluh satu juta rupiah. Harga yang seragam dengan angka edisi Pesta Budaya Asmat tahun ini.

Penutupan Pesta Budaya Asmat tahun 2016 dirayakan dalam suasana meriah dengan pesta goyang bersama. Guyuran hujan yang turun tepat setelah pukulan tifa dari Bupati Asmat dan Uskup Agats, tidak dianggap sebagai penghalang, melainkan berkah atas kesuksesan penyelenggaran pesta tahunan masyarakat Asmat ini. Upaya bersama untuk terus mempertahankan eksistensi warisan leluhur ini juga menjadi ajang berkumpulnya masyarakat dari seluruh penjuru Kabupaten Asmat untuk merayakan pesona kekayaan budaya mereka.

*Semua foto oleh Regista

Senin, 17 Oktober 2016

Setahun di Papua


Tanggal 14 Oktober lalu menjadi penanda satu tahun sudah saya tinggal di Papua. Senang rasanya bisa sampai di tanah yang sejak masa awal kuliah ingin saya datangi. Dulu saya sangat berharap bisa mengunjungi Papua walau sehari saja. Tapi semesta mengatur lain. Saya harus tinggal dan bekerja disini dalam waktu yang lama. Dan sungguh sangat tidak terasa, ternyata sudah setahun saja.

Bagi saya, memilih hidup di Papua berarti harus meniggalkan segala kenyamanan yang telah saya temukan selama tinggal di Kota Makassar. Mei 2015 kuliah saya akhirnya selesai. Dua tahun sebelumnya saya malah sudah diterima bekerja di tempat yang sangat menyenangkan. Kak Rappung dan teman-teman di Yayasan Konservasi Laut Indonesia memberi saya kesempatan untuk bekerja sambil belajar langsung bersama komunitas masyarakat di Kepulauan Tanakeke, Kabupaten Takalar. Tanakeke sudah seperti sekolah yang mengajari saya banyak sekali hal; pertemanan, perjuangan, hingga perspektif baru dalam menjalani hidup.

Kenyamanan lain yang mesti ditinggalkan untuk hidup di Papua adalah hobi-hobi dan rutinitas akhir pekan bersama teman-teman. Tinggal di Papua, apalagi di Kabupaten Asmat, berarti harus jauh dari toko buku. Kalau ada buku yang sangat ingin dibaca berarti harus memesan secara online dengan ongkos kirim ke Papua yang bisa setara dengan harga dua buku. Alternatif lainnya, menitip kepada teman yang sesekali datang ke Papua. Saat akhir pekan datang, saya menikmati waktu untuk bertemu dengan teman-teman kuliah atau mengunjungi kegiatan-kegiatan komunitas. Biasanya bermain futsal menjadi pilihan. Tapi tentu menghadiri acara musik menjadi kesukaan saya. Beberapa tahun belakangan, akhir pekan di Makassar semakin meriah dengan kegiatan semacam ini. Tidak selalu konser besar, micro gig dengan balutan kumpul-kumpul atau diskusi semakin aktif dilaksanakan. Anak muda Makassar dari berbagai komunitas seperti punya tenaga berlebih untuk saling bahu-membahu, bergantian menjadi penyelenggara. Menyenangkan sekali.

Rutinitas lain yang mesti ditinggalkan sejak pindah ke Papua adalah menonton pertandingan klub kesayangan, AS Roma. Jika dulu saya selalu rela menunggu hingga subuh untuk melihat aksi Francesco Totti dan kolega bertanding, kini, bisa mengakses hasil pertandingan semalam via youtube saja sudah bersyukur. Harga televisi dan ongkos memasang antena berlangganan sangat mahal di Kabupaten Asmat. Saya bersama teman rumah, Regis dan Wawan, sepakat untuk tidak membeli kotak ajaib itu karena tidak terlalu mendesak juga. Kami lebih sering menonton film bersama di laptop. Walau jika persedian film sudah habis jadi bingung juga mau lihat hiburan apa lagi sebelum tidur. Hehehe.

Tapi segala kenyamanan yang ditinggalkan tadi tentu tergantikan dengan pengalaman dan pelajaran-pelajaran baru selama setahun ini. Paling tidak itu yang saya rasakan saat ini. Kesempatan tinggal di Papua mengantarkan saya bertemu dengan orang-orang baru, rekan-rekan kerja, dan komunitas masyarakat yang semakin memperkaya pengalaman.

Setahun ini saya tinggal di Kabupaten Asmat dan bekerja bersama dengan masyarakat adat disini. Saya langsung dibuat takjub saat pertama kali menginjakkan kaki di daerah pesisir selatan Papua ini. Bagaimana bisa ada sebuah kabupaten yang sebagian besar wilayahnya tidak bisa dipijak. Seluruh jalanan di Agats, ibukota Kabupaten Asmat, terbuat dari jembatan kayu dan beton komposit karena daratan wilayah ini adalah lumpur dan rawa, habitat hutan mangrove. Maka lahir kemudian julukan “kota sejuta papan” atau “kota lumpur” bagi Asmat dari orang-orang yang pernah datang ke tempat ini. Waktu seperti berjalan mundur. Saya teringat masa kecil saat saya bersama keluarga masih tinggal di Karang Rejo, Kota Tarakan, Kalimantan Utara, yang seluruh jalannya juga terbuat dari jembatan papan.

Penyesuaian diri di tempat baru ini berjalan cukup cepat. Tidak terlalu lama saya sudah punya beberapa kenalan diluar teman-teman kantor. Tuntutan kerja juga mengarahkan saya untuk berkenalan dengan banyak orang, termasuk dengan pegawai dinas dan masyarakat dari beberapa kampung yang menjadi lokasi kerja kami.  Pada masa awal menetap di Agats, bertanya tentang apa saja kepada siapa saja terus saya lakukan. Dari para kenalan baru tersebut saya mulai mendapat gambaran tentang kondisi tempat ini. Informasi yang saya dapatkan dari berbagai sumber sebelum sampai ke Kabupaten Asmat mulai tergambar nyata.

Pengalaman paling menyenangkan selama setahun pertama tinggal di Papua adalah persentuhan saya dengan masyarakat adat Asmat. Selama di Papua saya berinteraksi langsung dengan mereka, baik dalam urusan pekerjaan maupun urusan hidup sehari-hari. Dari masyarakat adat Asmat saya lebih belajar lagi tentang kearifan dan kesederhanaan dalam menjalani hidup. Cara mereka memanfaatkan alam sangat mengagumkan. Kaya akan filosofi keberlanjutan. Karena menganggap alam raya adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan, mereka lebih menekankan cara-cara pemanfaatan dengan merawat. Mungkin itu sebabnya cara masyarakat adat dalam memanfaatkan alam tidak banyak dilirik oleh orang-orang yang begitu menggilai cara-cara instan yang eksploitatif.

Belum lagi budaya orang Asmat yang terus memesona saya sampai sekarang. Saya tidak menyangka karya-karya seni kelas tinggi lahir dari tempat yang terlanjur mendapat stigma sebagai daerah terbelakang dalam hal peradaban ini. Ukiran, anyaman, tarian, ritual, dan berbagai ragam kesenian Asmat lainnya ternyata telah bertahun-tahun lalu dilirik dan mengukir nama di dunia. Saya merasa bodoh sekali baru mengetahui informasi ini setelah sampai di tempat ini. Kita memang bangsa yang pemalas mencari tahu jati diri kita.

Lebih dari semua yang telah saya dapatkan selama setahun di Papua, saya ingin berterima kasih kepada semua yang telah memberi saya kesempatan untuk tinggal dan bekerja di tempat ini. Terima kasih kepada Kak Uccang dan rekan-rekan di Blue Forests yang telah percaya dan memberikan pengalaman yang sangat menyenangkan ini. Saya sungguh menikmati semua proses yang telah berjalan. Selama disini saya banyak belajar dan semakin meneguhkan prinsip tetap “berjalan perlahan” ketika kebanyakan orang sedang “berlari kencang” di luar sana. Saya akan bercerita lebih banyak tentang hal ini pada hari saya-sedang-tidak-malas.

Saya belum tahu pasti sampai kapan saya akan berada di Papua. Saya berharap diberi waktu yang cukup untuk lebih mengenal tempat ini. Tolong bantu saya untuk terus betah disini dengan tidak terlalu sering memposting foto nasi lalap atau sop sodara di sosial media kalian. Tolong jangan kabari saya kalau gigs di Makassar atau di Tarakan atau bahkan di Pinrang sedang ramai dan meriah. ditolong ya. Hehehe.


Itu sudah. Ndormom.